Dia menggelayut gorden jendela.
Bosan berputar-putar di galeri penjara.
Kadang ia rindu gereja.
Sebab Akashi Seijuurou tak pernah lagi bertamu padanya.
Ibarat dongeng Rapunzel, biru muda kini merana.
.
.
.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
You're Sold © moronsfr
[chapter 2—end]
.
.
.
[Western, Drama, Mystery, Hurt/Comfort]
[AU, AkaKuro, Artist!Akashi, Monk!Kuroko, unsignificant settings, era 1960-an]
P.S : storyline mengalir murni imajinatif, tidak bermaksud menyinggung SARA atau menjurus kepada recount tertentu
Secuil inspirasi datang dari Monalisa, selebihnya fiksi belaka
.
.
.
Adu ketukan sepatu dengan marmer lantai begitu kentara. Bertahun-tahun tak disambang suara, Kuroko Tetsuya langsung bersiap menyambut siapapun yang memutar gagang kunci di depan pintu.
"Seijuurou." Ia tidak tahu harus menampar atau memeluk, atau kabur terbirit-birit lewat celah pintu. Tapi sangat kurang ajar rasanya bila orang yang sempat kau kecewakan, kau sarangkan selubung dendam, muncul dihadapanmu. Melantunkan namamu, lancang menyemat jemari di cepitan telinga.
Kuroko Tetsuya memangnya bisa apa?
Tangan saja gemetar, malah alih-alih memilin punggung tangan Seijuurou. Mengendus, menghisap epidermis manisnya. Sesekali melenguh, mengelu-elukan namanya.
"Ada apa denganmu, Tetsuya?" pinggang ramping ditarik mendekat. Pucuk kepala dijadikan tumpuan dagu.
Perca dada diremas, menengadah melas. "Gores aku, Seijuurou. Lukis lagi, pahat lagi, poles lagi." Tenggak ludah. "Malam ini saja, temani aku."—tidak tahukah kau, aku hampir gila setiap hari bercengkrama dengan arwana.
"Aku harus kembali ke museum malam ini." Hidung Tetsuya dipetik. "Tapi aku ada sedikit hadiah untukmu."
Kalimat terakhirnya jadi center of interest. "Hadiah?"
Pita kain merah pekat setengah meter. Dibentangkan Seijuurou melewati kedua kelopak matanya. Diikat simpul ke belakang.
"Ini hadiahnya?"
"Ya." Tetsuya didudukkan di kekang lengan. Kedua tangan dituntun menumpu pundak. "Ini hadiahnya." Seijuurou mengambil bibir, memagut. Merobek belahan untuk berlalu lintas pada deretan gigi. Papilla lidah dikecap, mengaduk senyawa sampai mabuk.
Tetsuya tersedak, meraup oksigen kepayahan. Segel yang membungkam indera penglihatannya berniat ia tarik.
"Jangan lepas, Tetsuya." Seijuurou membawanya dalam langkah-langkah kecil, sesekali diputar seperti dansa. "Hadiah ini hanya untuk dirasa; bukan dilihat."
Punggungnya ditabrakkan pada dinding. Tetsuya mendesis. Cengkraman pada pundak Seijuurou dipererat. Pangkal leher dijadikan sasaran, dilumat sampai luka. Tetsuya menengadah tinggi-tinggi, mengerang serak. Ujung-ujung tumit dililit pada punggung Seijuurou; risih akan udara panas yang ikut sirkulasi.
"Haa—akh,"
"Hei," Seijuurou cuti dari ceruk leher, mendongak sampai lawannya menunduk—menatap balik dirinya. "Aku suka yang tadi, lakukan lagi."
"…Makdudmu 'ha-akh'?"
Rongsok barang pada permukaan meja kayu didepak, diganti dengan taplak dakimakura—Kuroko Tetsuya. "Ya, aku jadi ingat suara petik double bass yang kumainkan saat kecil."
Oh, tidak semua rongsok barang dibanting ke lantai. Perkakas pemotong kertas malah tersemat di tiga jari. Seijuurou gunakan untuk merobek kain perut—terus diurut sampai memecah kerah. Dada Tetsuya naik turun dibuatnya; takut-takut Seijuurou salah menggunting kulit.
"Ah—hhakkh," selain main kuas, Seijuurou ternyata pandai bermain patitur musik. Ia bahkan tak perlu tongkat konduktor, pilinan dua jari dan juluran kecap lidah saja cukup untuk mengalunkan yang punya desah irama.
Tidak berani menjambak kepala delima—walau ia tidak yakin dimana, Tetsuya memilih mencakar pinggiran meja kayu.
Seijuurou selesai dengan desain pakaian—robek sana-sini, kembali memangku Tetsuya di kekang lengan. Kembali disudutkan ke dinding terdekat. Batang lelehan lilin dioleskannya pada bagian tubuh yang tereskpos.
Tetsuya berjengit, "apa ini, Seijuurou? Panas sekali."
"Aku ingin tahu apa kau bisa jadi patung yang manis." Lumuran pada ceruk leher malah disesap habis. "Setelah sebuah karya dua dimensi; lukisan, apa objek sepertimu juga bisa dimuat apik jadi tiga dimensi; patung, dan tetap menjadi pusat perhatian bila dipajang di museum?"
"Kau melumuriku dengan lilin untuk menjadikanku sebuah patung?" rasanya mual sampai ingin muntah. "Hentikan, tubuhku terbakar—"
Saku kiri bergetar. Ponsel jadul terima telfon masuk. Seijuurou mengintip lewat celah bahu, kepalanya enggan cuti bersandar dari leher Tetsuya. Tangan kiri menerima panggilan.
"Aku sibuk, Shin."
"Ini penting. Dengar, ke museum sekarang juga."
Seijuurou berdecak, menekan Tetsuya ke dinding kencang-kencang. "Aku tidak suka orang plin-plan yang seenaknya mengganti jadwalku. Aku kesana nanti malam, titik."
"Sei, Kau harus ke sini sekarang! Lukisanmu hilang; habis dicuri!"
Tetsuya dijatuhkan, bedebum keras ke lantai. "Seijuurou?" Pita kain ia sibak, di balik merah pekat yang sejak tadi menghalangi pandangan, dia kembali menemukan dirinya sendiri lagi di sana. Bedanya, daun pintu besar menjeblak lebar, mengundangnya keluar.
.
.
.
.
Galeri istimewa dalam museum seni, seratus meter dari pintu masuk, dua kali belok kanan, temukan tiang-tiang besar sebagai tengadah. Di area dinding yang digarisi batas wilayah turis, potret lukis Tetsuya—memang diberi tajuk begitu—raib dari tempatnya bertengger. Pukul sepuluh begini, biasanya museum sedang padat oleh turis dan warga lokal—paling lama dua jam bersemedi di depan mahakarya Seijuurou. Sekarang malah penuh jepret, digaris kuning polisi. Ribuan pengacara tawar diri, detektif andil mondar-mandir.
"Bekas yang ditinggalkan kelewat rapi." Shigehiro mengantongi hasil telitian. "Pencurinya pasti cukup pro."
"Tidak peduli bagaimana bentuk pencuri itu. Carikan pasal yang sesuai, Shigehiro." Seijuurrou membunuh pandang pada kumpulan organisasi yang intip-intip ingin dijadikan sekutu kerjasama. "Kali ini aku mau kau berperan ganda; pengacara sekaligus polisi penyidik. Aku tidak butuh tumpukan kartu nama dari orang-orang itu."
Shintarou mendengus, mengganggu gugat. "Shigehiro cuma punya dua tangan, Sei."
"Ya, tangan kanan sebagai pengacara. Tangan satunya sebagai polisi penyidik. Cukup, kan?"
Shigehiro mengulum senyum. "Sudah, Shintarou. Aku tidak keberatan."
"Dasar."
"Sebelumnya, aku sudah menguliti data dari gerombolan informan penting. Mereka mengantongi masing-masing kepingan lukisan yang kalau disatukan pasti kasus ini cepat selesai."
Seijuurou dikawal, menerobos kerumunan wartawan yang haus informasi. Menjauhi lokasi museum.
"Kita kemana sekarang?"
"Panggung orkestra. Lokasinya dua kereta dari sini. Akhir-akhir ini pihak pengisi acara sering mendekorasi ruangannya pakai lukisan seniman terkenal."
"Ah, bicara soal aplikasi lukisan." Kereta uap berdengung, memanggil pemilik karcis untuk segera memenuhi muatan. "Sei, tidakkah kau kepikiran untuk menduplikat dan menjual lukisanmu dengan harga mahal?"
Menjual 'Tetsuya'? Membiarkan si pembeli bersitatap dengannya dua puluh empat jam dan memajangnya di kamar pribadi? Mimpi saja.
"Tidak, tidak pernah terpikir. Tidak ada minatan."
Mata Seijuurou terpejam, relaksasi dalam kereta. Rel yang menderit sayup-sayup ia dengarkan, hembusan tekanan angin ikut menunjang kecepatan. Benar, kalau dengan kereta begini, jarak jauh sekalipun akan terasa terangkum kilat.
Gerbong kereta berhenti total, Seijuurou mengerjap. Shigehiro sampai perlu menuntunnya turun dari gerbong seperti kakek-kakek. Rupanya tertidur kala bertransportasi itu banyak efeknya. Seijuurou mengangkat lengannya tinggi-tinggi, mengusir pegal.
Sampai gedung lebar mirip stadion yang arsitekturnya cukup rumit sekali pandang ditapaki ketiganya. "Permisi, tolong tiketnya."
Shintarou berjengit. "Apa sedang ada resital?"
"Setengah jam lagi selesai, kok. Kalian punya tiket?" Di pintu masuk utama, mereka sudah ditodong; dimintai macam-macam.
"Kami tim penyidik khusus." Shigehiro menuding pakai tanda pengenal. "Kami akan bertanggung jawab bila ada yang tidak beres dengan resital ini."—dengan kata lain, biarkan kami masuk secara gratis.
"Silahkan, lewat sini." Ogiwara Shigehiro. Siapa yang tidak tunduk kalau kartu nama itu sudah keluar dari sakunya.
Mereka mengendap, mengamati kerumuman alat musik yang bernada tangga rapi lewat satu tongkat komando dari kursi audience paling belakang.
"Kau lihat?"
"Ya, aku lihat. Pertunjukannya lumayan."
Shigehiro berdecak, dua jari dipetik membuyarkan konsentrasi Seijuurou. "Lihat ke sepanjang dinding. Bukankah lukisan-lukisan itu tergolong cukup modern."
"Tidak ada lukisanku di sini." kalimat itu keluar selesai observasi cepat. "Mungkinkah disembunyikan?"
"Hanya orang yang ingin cepat-cepat berurusan dengan hakim kalau habis mencuri lalu dipajang di tempat umum begini." Shintarou angkat kaki. "Kita ke backstage."
Merangkak di antara kursi, berpencar mencari celah sempit tanpa pengawasan. Seijuurou sampai di balik tirai staff. Daripada disebut backstagae, mungkin ia tersasar ke tempat sempit berlabel gudang rongsok. Debunya tipis-tipis menggelayut dinding. Beruntung belum tercemar kelas anthropoda yang biasa merajut benang sampai jadi sweater. Lantai kayu berdecit tiap kali Seijuurou pindah pijakan. Tangan kanan sudah disarung tangankan. Menggosok setiap benda yang terlewat.
"Apa ini, Sayang?"
Double bass usang. Senarnya kering sampai keriting. Tapi masih ada yang bisa dipetik. Seijuurou menarik garis bibir. Double bass mengingatkannya akan kado ulang tahun yang diberikan ayah sehabis pulang dari gereja saat natal. Alat musik itu diangkat, diayun-ayun ke langit.
Siapapun yang membuangnya pasti tidak suka pada benda ini. Bicara soal ketidaksukaan, dia jadi ingat seseorang. "Chihiro… dia pasti dibalik semua ini."
"Sei, ah, di sini kau rupanya." Shintarou terengah-engah, memperlebar akses keluar. "Gerakan kita dicurigai, kita harus pergi."
"Mana Shigehiro?" Sepertinya banyak sekali skenario yang harus membuat keduanya lari-larian.
"Aku tidak tahu." Mereka turun lewat tangga darurat, membongkar pintu belakang. "Ambil sandera, entahlah. Tidak bisa ditebak."
Cahaya langit Eropa terbias lewat celah pintu. Seijuurou menyipit, langkahnya mengikuti Shintarou keluar dari gedung orkestra. Shigehiro bersedekap di ujung, seperti habis dipanggang berdiri kelewat berjam-jam lalu.
"Kalian lama sekali." Catatan kecil diintip sebentar. "Di sini bersih. Kita ke distrik sebelah, gereja dekat panti asuhan."
Seijuurou berjengit. "Jadi benar Chihiro pelakunya?"
"Chihiro?" Shigehiro melambai, beruntung bus masih butuh asupan penumpang. "Siapa dia?"
"Biarawan gereja. Dia selalu memandangku sebelah mata."
"Itu bisa jadi pertimbangan." Shintarou menyambar cepat-cepat. "Baguslah, jadi kasus ini bisa cepat selesai."
Shigehiro melirik notes kecil sekali lagi. "Salah satu musisi dalam resital tadi kebetulan menyalin peran sebagai pemimpin doa. Dia bilang di gereja itu sering terjadi serah terima lukisan klasik, terutama saat natal."
Teritori ketiganya berikut, Seijuurou disambut beberapa anak panti yang kebetulan saat itu sedang mampir di gereja. Dirinya balas tersenyum. Mengucek sayang pada kepala-kepala haus belaian ayah.
"Paman Baju Manis!"; "Itu Paman Baju Manis!"; "Buatkan aku baju yang manis-manis lagi, Paman."—Shigehiro heran mendengarnya.
"Apa yang manis dari Akashi Seijuurou?" Yang ditanyai begitu malah terkekeh.
"Di dalam banyak orang dewasa berdoa ramai-ramai, Paman juga ingin ikut, ya?"
Seijuurou meminjam bahu, berbisik pada Shigehiro. "Masuk atau mengendap?"
"Kita observasi dari atas, Shintarou yang akan masuk dengan normal."
Pagar pembatas lantai dua. Seijuurou di sisi kanan, Shigehiro di sisi satunya. Keduanya mengamati jemaat yang duduk rapi di lantai bawah dari atas. Bergerak menyusuri langit-langit. Melumat pandang pada tiap lukisan yang dibingkai rapi berjejer memenuhi dinding.
"Sedang apa di sini?" Seijuurou mengedik, bahunya ditepuk suara alto.
"Halo, Chihiro." Kilatan mata tidak bisa sembunyi. "Merindukanku?"
"Kau bisa berdoa di mana saja, tapi jangan di sini. Aku tidak mau lantainya jadi kotor habis diinjak-injak mahluk tabu." Tidak ada ekspresi diantara keapikan cakap. "Dan sedang apa kau di lantai dua?"
"Aku di sini mencari 'Tetsuya'. Aku tahu kau mencurinya."
Chihiro menyipit. "Hei, aku baru ingat lagi. Kukira dia sudah angkat kaki dari sini. Dan kau datang kemari tiba-tiba menuduhku mencuri? Inilah sebabnya aku tidak suka padamu."
"Aku kesini untuk menjemput 'Tetsuya'-ku, bukan memasok pulang ceramah soremu."
"Tetsuya tidak ada di sini. Dia hilang? Selamat, karma memang selalu mampir suatu saat."
Seijuurou gemas, mengikis beberapa lantai untuk mendekat. "Tetsuya ada dalam sangkarku, yang kucemaskan adalah potret lukisnya yang susah payah kubuat; dia hilang. Dan kau pasti pencurinya."
Perlu beberapa menit untuk Chihiro menafsir ulang, merangkumnya dalam satu jawaban klimaks. "Dengar, Seijuurou. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan; aku sudah memutuskan untuk terisolasi dari perkembangan dunia. Tapi yang bisa kupahami,"
Sengaja dipenggal.
"Kau lebih mengagungkan bentuk dua dimensi ketimbang Tetsuya yang asli. Kau memajang yang palsu dan mengurung yang orisinal. Tetsuya pernah bilang padaku kau seniman, benar?"
Chihiro memasung lewat senyum. "Oh, jadi begini, seniman itu. Hebat."
Bibirnya membeku, caci maki bergumul tapi tidak mau terjun, emosional naik ke ubun-ubun. Seijuurou sampai tidak berkedip menghadap lantai.
"Seijuurou." Tepukan Shigehiro yang sudah menapaki lokasi bahkan tidak terasa. "Di sini bersih. Kita bergegas." Pria kepercayaan sang seniman itu mengangguk sopan ke arah Chihiro. "Permisi, Tuan. Maaf mengganggu."
.
.
.
.
Selimut empuk disibak. Gerah habis serasa diikat mati. Padahal materialnya dari benang sutra, tapi dirasa hujaman jarum pentul. Seijuurou terengah. Keringatnya dipantulkan bulan dari balik jendela begitu bersinar menguliti tubuh. Yang berceceran di wajah ia seka. Rambut diacak spiral. Malam itu dirinya tidak bisa tidur—padahal fasilitasnya hotel bintang lima.
"Chihiro sialan."
Handuk hotel disampir, membungkam kunci kamar mandi. Kepala berkubang di wastafel. Dibasuh pakai sabun muka esens lemon. Poni rambut ia japit lilitan cravat. Seiijuurou becermin.
"Bingkainya bagus." Tangannya meraba-raba desain pinggiran kaca.
'Kau lebih mengagungkan bentuk dua dimensi ketimbang yang asli'
"Properti hotel boleh dibawa pulang tidak, ya? Kuganti dengan bingkaiku yang lain."
'Kau memajang yang palsu dan mengurung yang orisinal'
Pertanyaannya dijawab sendiri lewat suara pecahan beling. Kepalan tangan berdarah disela-sela hantaman cermin. Seijuurou terengah-engah, ritme nafasnya kurang bagus.
"Aku harus keluar dari zona mematikan ini." Mulai bermonolog sendiri tanpa diminta. "Chihiro pasti sengaja memberi kutukan doa di dalam kalimat itu; dia sengaja meracuniku."
Piyama tipis disambar, Seijuurou terbirit-birit keluar dari kamarnya. Menyusuri koridor. Bertunggang lift. Bertolak ke ballroom restoran. Dari sekian deret meja bertaplak bak gaun pengantin, ia lebih memilih corner air putih. Bagus untuk keseimbangan otak. Menjernihkan pikiran. Ditenggak habis-habisan. Meminum air putih saja sampai terlihat seperti menyedot alkohol.
Alunan musik jazz dari arah panggung ballroom mendramatisir suasana. Mendukung peran Seijuurou sebagai pria dengan segala kekurangan yang haus kekapokan. Dirinya sampai sujud ke taplak meja, berdengung tidak jelas.
Ponsel yang ia taruh di meja berdering canggung, takut mengganggu yang punya. Seijuurou menengadah, menempelkannya ke telinga.
"Ya, Shigehiro?"
"Kau sudah bangun? Ada yang ingin kusampaikan—kau baik?
"Kepalaku sedikit pusing, ada apa?"
"Langsung saja, aku sudah menemukan 'Tetsuya'." Satu kalimat, tapi berhasil menjadi labuh anti klimaks kegalauan Seijuurou.
"Dimana?!"
"Belum ada di tanganku; tapi ada di depan mataku. Aku menunggu saat yang pas untuk merebutnya."
Merebut?
"Dimana kau? Apa di sana banyak sekali orang? Berisik sekali kedengarannya. Tunggu dulu, kau tidak berniat memicu tawuran, kan?"
Tersambung dengan baik suara tawa tenang Shigehiro. "Aku orangnya sangat rapi, Seijuurou. Jangan khawatir, aku pandai membungkam massa dan lebih memilih adu tembak dalam kotak."
"Kau sudah bawa personil?"
"Beberapa. Mereka handal, tidak akan ada peluru nyasar ke atas kanvasmu. Aku jamin."
Seijuurou mengetuk-ketuk alas karpet tidak sabaran. "Jadi.. dimana kau; dimana lukisanku?"
"Aku di basement tertutup, lantai paling bawah hotel ini. Lukisanmu sedang dilelang secara ilegal. Dan kau tahu siapa otak dibalik semua ini?"
Rahangnya mengeras. "Siapa?"
"Coba tebak, Tuan Ilustrator. Rambut hijau, berkacamata. Siapa dia?"
"Shintarou?" Habis dibawa ke anti klimaks, tiba-tiba plot berputar haluan. Seijuurou sampai harus merasa kembali ke halaman awal untuk merubah pemikiran watak pada tokoh yang bersangkutan. Jarak antara protagonis dan antagonis ternyata sedekat realita dan ilusi.
"Kau ingin kemari?"
"Aku ke sana, nanti kutelfon kalau sudah dekat."
Sambungan diputus.
Selesai dengan sudut pandang Seijuurou, kini Shigehiro menghempas punggung pada deret kursi paling belakang. Matanya awas akan kehadiran Shintarou yang bersandar di dinding samping panggung. Bergaya murahan sebagai dalang amatiran.
"Seratus pounds! Ada yang menawar lebih dari seratus pounds?"
Dengungan nominal uang berkelebat di udara pengap basement. Tak tanggung-tanggung, yang berpakaian bangsawan duduk berdempetan dengan yang bersanggul topi badut. Teruntuk satu tontonan, lukis berobjek manis. 'Tetsuya' disandarkan pada punggung kursi. Duduk sebagai pusat perhatian panggung. Yang berbekal palu, pemimpin pasar lelang, sesekali mengelap keringat disampingnya.
"Lima ratus pounds!" acungan tangan paling tinggi, yang lain mendorong rakus tidak terima.
"Aku sepuluh ribu pounds!"
"Dua puluh! Dua puluh ribu pounds!"
"Lima puluh ribu pounds, tutup di harga itu!"
Kadang menghentak-hentak sambil menawar dipraktekkan di luar nalar. Shigehiro sampai harus mendekap kedua kaki di bangku duduk. Takut dilindas pantofel. Pembawa acara mengulur waktu lagi, baginya angka tinggi adalah rezeki.
"Lima puluh ribu, yang lain?"
"Seratus! Seratus ribu pounds, aku beli lukisan itu!"
"Aku beli lima ratus ribu! Tawaran selesai!" Kali ini Shigehiro tutup kuping, pria keling hoodie gelap menekan pita suaranya terlampau keras.
"Hei, Bung, aku satu juta pounds!" Deret kursi paling depan menghadang pemilik saham. Mendengus sombong ke arah kerumunan pembeli. "Tak ada nyali menawar lebih tinggi."
Seisi ruangan kalap, melirik dompet di bawah kursi. Ada yang gigit jari masturbasi. Palu diangkat tinggi-tinggi setelah Shintarou mengangguk memberi izin.
"Tidak ada penawaran lebih tinggi? Seharga satu juta pounds, lukisan ini terju—"
"Sepuluh juta."
Shigehiro melirik. Acungan tangan pemotong kalimat itu berhasil menyedot semua sudut bergerak ke arah busur yang sama. Penawaran harganya kelewat tidak masuk akal. Shintarou sampai perlu menginjak anak tangga panggung, berbisik lagi pada pemegang kuasa acara.
"Sepuluh juta." Melantunkan nominal uang saja, air liur terlewat dari kedipan bibir. "Tidak ada penawaran leibih tinggi?"
Diberi durasi sekian detik. Barangkali acungan mendadak seperti tadi kembali terulang.
"Ya, Seijuurou?" getaran ponsel ia sambit, berkomunikasi volume minimum.
Terengah-engahnya Seijuurou tersalur ke gendang Shigehiro. "Aku hampir dekat. Bagaimana di sana?"
"Sepertinya akan tutup di harga sepuluh juta pounds."
"Sepuluh juta?" Suara dibalik ponsel dikeraskan. "Pembelinya pasti maniak."
"Sepuluh juta pounds, lukisan ini dinyatakan terjual." Palu diketuk tiga kali. Seijuurou bisa mendengarnya lewat sambungan pesawat telfon.
Kepemilikan lukisan cepat berpindah tangan. Setelahnya sang pembeli naik ke atas panggung, berjabat dengan pembawa lelang dan Shintarou, dirinya mendapat tepukan keras. Ucapan selamat. Gerutuan keluh kesah bagi mereka yang kalah berdagang.
"Seijuurou, aku akan gertak sekarang."
Kepala Shigehiro mendongak di tengah-tengah kerumunan. Ditemani kepala-kepala lain yang tegak terpencar dari penjuru berbeda. "Merunduk! Angkat tangan kalian! Kalian sudah dikepung!"
Langit-langit basement memantulkan semua perintah satu pihak Ogiwara Shigehiro. Warna wajah yang bangsawan, yang kelas pemilik perusahaan, sampai pelayan restoran, pucat pasi sekejap.
"Midorima Shintarou, aku akan sampai hati memenjarakanmu. Terimakasih banyak, kau membantuku menyelasikan kasus ini dengan adukan ending yang unik."
'Tetsuya' sudah digendong erat-erat pemilik barunya. Dibawa lari keluar area intimidasi. Menolak untuk bertekuk lutut pada lubang sempit senjata yang telah ditodongkan ke berbagai arah.
"Hei!" Shigehiro lantas bertolak. Mengejar. Personil sekutu otomatis terbagi dua kubu. Satunya menjaga operasi lelang; membentrok Shintarou, satunya lagi mengawal Shigehiro menghambur yang membawa kabur lukisan.
"Shigehiro?! Apa yang terjadi?"
Sambungan telfon belum sempat terputus. Shigehiro berdecak, gawat kalau sampai ketahuan tidak profesional.
"Kami berusaha menyudutkan pembeli maniak yang menggotong lukisanmu."
"Tembak saja yang begitu, apa susah?"
"Kau yang minta." Game over. Sebuah lift yang belum mau terbuka menjadi jalan buntu bagi mereka. Tanpa bekal pistol asli, Shigehiro mencoba mengimitasi. Tangannya dibentuk serupa senjata api, ditodongkan pada yang tersudut. Diterjemahkan sebagai aba-aba implisit oleh sepuluh personil. Masing-masing ikut memasang kuda-kuda, menodongkan pistol asli.
"Bang."(*)
Garis tengah lift terpecah, membuka akses diantara dua dimensi berbeda. Seijuurou mengerjap, ponsel masih tertempel di telinga. Dihadang langsung oleh lukisan tangannya sendiri yang selama ini ia cari-cari. Wajah dan lengan Tetsuya diatas kanvas diikat kencang oleh kain merah pekat, dililit ke badan depan seseorang yang memunggunginya. Lukisan bergerak memutar. Yang tadi dipunggungi, sekarang coba dihadapi. Yang tadi dua dimensi, sekarang tiga dimensi.
Bohong kalau Seijuurou tidak gemetar menyebut judul dari sosok keduanya. "Tetsuya?"
Ponsel terbuang ke dasar lift, seirama dengan peluru-peluru yang terbuang keluar dari sarangnya.
Seijuurou sudah sering mengajaknya bermain dalam langkah-langkah kecil, memutar badan, seperti dansa. Barangkali Seijuurou sedang ingin melakukannya lagi, sekarang. Jadi Tetsuya diputar, ditabrakkan punggung lift. Sementara dirinya menghimpit. Mengekang badan mungil dari invasi kecil sampai pintu lift kembali tersibak menutup.
Remasan Tetsuya pada piyama satin Seijuurou mengerat. Kepalanya mendongak mendapati hembusan nafas berat menerpa dahi. "Seijuurou?"
"Sedang apa kau di sini?" Intonasinya menekan. Didukung ekspresi yang berkerut-kerut, bisa dikecap bahwa Akashi Seijuurou dalam amarah besar. "Bagaimana kau bisa di sini?"
"Aku mendengar soal kasus lukisan ini, dan…"
"Bagaimana kalau orang-orang melihatmu? Bagaimana kalau mereka melihatmu, mengagumimu, mengurungmu di galeri mereka—kau mau?!" Tidak ada aturan dalam ritme nafas, hanya suara yang dikeras-keraskan.
Masih saja alasan begitu yang dikoar-koarkan. Tetsuya bergeming. Berniat membuka jarak menghindar.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Tapi kenapa cengkramannya pada Seijuurou makin erat saat pria itu bertanya dengan intonasi lebih lembut. "Kau tidak terluka? Tidak tergores?"
"…Tidak."
Seutas senyum Tetsuya tangkap sebelum Seijuurou limbung. Tidak sampai menyentuh dasar karena ditadahi uluran tangan. "Seijuurou?"
Matanya terpejam. Apa yang salah dengannya. "Seijuurou?"
Tengkuk belakang yang Tetsuya tadahi telapak tangan, ditarik lagi. Merah pekat tercetak membasahi garis tangan. Tubuhnya diguncang, hebat. Dipanggil berulang. Dipeluk erat. Sampai ditetesi aliran asin. "Seijuurou!"
.
.
.
.
Butuh sumber yang akurat untuk bisa menyelesaikan sebuah biografi orang tersohor. Ada beberapa versi berbeda untuk menggarap kalimat penutup yang pantas dijadikan sebuah buku hingga laris ke tangan pembaca. Tidak butuh banyak halaman untuk mengisahkan sebuah epilog. Editor bukannya mau menghadiahi banyak tinta, tapi penafsir butuh logika akhir yang dapat meruntutkan alur cerita.
Terakhir, ditulis; lukisan bertajuk 'Tetsuya' sebagai ilustrasi yang ikut menghebohkan pernak-pernik dunia kembali ditidurkan di museumnya. Kali ini dilindungi garis berlapis, kaca berlapis, pasal berlapis.
Shintarou dibekuk dalam penjara. Shigehiro sampai pergi ke gereja membersihkan dosa atas kecelakaan kerja yang mengkritiskan seniman terkenal dunia. Akashi Seijuurou masih diberkati Tuhan untuk melukis. Mungkin diam-diam Chihiro berdoa untuk keselamatannya. Setelah melewati perawatan rumah sakit, dirinya dinyatakan telah boleh dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Tapi bagi Tetsuya, Seijuurou masih sakit. Selamanya sakit karena dia tak pernah lagi bisa mendengar suaranya. Sebuah saraf yang dimatikan peluru nyasar membuatnya harus menjadi seniman tuna wicara.
Daun pintu galeri kerja yang kelewat besar dibuka lebar-lebar. Tetsuya memberi tadahan tangan. "Kemari, Seijuurou."
Matanya terlalu lelah untuk sekedar mengerling. Maka Seijuurou menuruti insting. Ada yang menadah, ada yang menggantung. Tetsuya membimbing, Seijuurou digiring. Keduanya berjalan melewati lilin-lilin sebagai pagar pembatas disamping kanan-kiri. Tetsuya melepas tautan, berjalan mendahului kearah jejeran kain merah—menutupi satu-satu benda yang tercetak persegi panjang dengan jelas dibaliknya. Benda-benda itu berjajar melingkar memenuhi galeri kerja Seijuurou. Semakin ke kiri, semakin besar ukuran cetak persegi panjangnya.
"Aku punya hadiah untukmu."
Satu per satu kain disibak. Mulai dari yang persegi panjangnya paling kecil sampai terbesar. Setiap sibakannya mempertontonkan hal serupa. Kanvas yang telah dilukis. Setiap sibakannya melebarkan pupil Seijuurou. Karena lukisan pada tiap kanvas serupa.
Tetsuya.
'Tetsuya'-nya.
Seijuurou sampai berputar sendiri mengikuti ukuran urut tiap lukisan. Ia jatuh terduduk di hadapan kanvas yang paling raksasa. Mulutnya dibungkam sendiri, pandangannya mengembun.
"Aku pikir Seijuurou terobsesi sekali dengan gambar lukisku, jadi aku lukiskan ini untukmu. Sayangnya, aku tidak kesampaian menghadiahkan lukisan aslinya yang sudah mahal-mahal kubeli."
Dada diurut, pedih.
"Aku masih belum terlalu paham kenapa kau begitu mengagumi sebuah ilusi, sedangkan relitanya ada di hadapanmu begini." Tetsuya ikut berlutut di depannya. Memperparah ungkapan kata.
"Apa aku ilustrasi yang buruk, Seijuurou?"
Yang ditanya mengerang tak jelas. Verbanya sama sekali tidak mau keluar, protesan tidak mau mengalun, keluh kesah penyesalan tidak mau terlantun. Hanya jerit-jerit sesenggukan yang mengisi ruang galeri. Sesekali Seijuurou mengurut ubin, mencakarnya kesetanan.
Tetsuya mengelus punggung, membawanya kembali terduduk. Membantunya memijak lantai. Pipinya ditangkup, diseka dari basah. "Aku hanya bertanya. Kenapa kau menangis?"
Seijuurou menggeleng, dahinya mendekam manja pada dahi lawan. Pinggang ramping dirangkul mendekat. Kaki dibuat melangkah berirama. Ah, Seijuurou hobi sekali berdansa. Kanvas lukisan paling besar yang bersandar pada dinding ditabrak. Tetsuya tidak keberatan dihimpit diantaranya sekalipun.
"Seijuurou?" kedua tangan masih belum mau absen mengangkup pipi. Belum mau bosan dihadapkan warna monoton merah delima dalam hidupnya. Belum mau lari dari sosok Akashi Seijuurou.
'Kau ilusi yang nyata sekarang.' Jemarinya mengimplikasi huruf Braille pada kain diatas dada Tetsuya. 'Dan aku menginginkan kenyataan itu.'
Kedua iris bersibobok. Perpaduan warna yang kala dicampur akan menghasilkan kaum sekunder.
'Bolehkah aku?'
Ia sudah cukup hangat sekarang, mungkin malam ini dirinya bisa terbakar hangus di atas kanvas. "Aku bukan lagi ilustrasimu—tapi realitas?"
Kapan Tetsuya harus pergi ke gereja lagi untuk membersihkan diri.
"Kalau begitu realisasikan aku, Seijuurou. Jangan dilukis, jangan dipahat, jangan digores, jangan dipoles—jangan jadikan aku fiksi, tapi realisasikan."
.
.
.
.
"Jangan torehkan perasaanmu di atas kanvas,
.
.
…tapi torehkanlah pada hatiku yang sebagai alas."
.
.
.
.
fin
(*) Dor! [dialognya Shige]
A/N : kayanya ada backsound Take Me To Church-nya Hozier mulai mengalun, aish…
overall, semoga endingnya memuaskan:D
Thanks buat,
Orzz, Oost Indie, Kiria-Akai11, Sparkle Thanato, Kitty-Boem98, shota nogami, BeliefinFlower, Akashi Sorata, macaroon waffle, aoyours, urvirtualdelight, luhansgirlorz, norfatimah96, , Akashi Seiyuuki, , UraHime Hikaru, shizu, Bona Nano, KazukiNatsu, ichigoStrawberry-nyan,
dan semua yang mampir mengisi angka viewers (sumpah nominalnya bikin saya terharu) :D
Dengan resmi cerita ini ditutup; selesai,
mor.
