Story by Adam Ridhatullah
Naruto by Masashi Kishimoto
One Piece by Eichiiro Oda
Highschool DxD by Ichie Isibumi
Genre : Friendship, Slice of life, Drama, Family, Coming-of age, Romance
(Cerita ini terinspirasi setelah melihat Violet Evergarden)
Summary : Dia yang dibesarkan sebagai alat untuk membunuh dan dikenal sebagai iblis dari padang pasir, dan dia yang tumbuh di daerah konflik dan besar di bawah salah satu mafia di Prancis kini mencoba untuk memulai kehidupan barunya. Mampukah dia beradaptasi di dunia yang benar-benar berbeda dengan dunianya dahulu?
Chapter 2 : Keluarga
XxxxX
Tokyo, Japan
"Tokyo, siapa yang tidak kenal tempat ini? Kota megapolitan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta jiwa lebih sekaligus kota tersibuk ke dua setelah New York ini mempunyai berbagai macam daya tarik yang membuat kota ini begitu terkenal. Tokyo adalah adalah kota megapolitan yang memiliki tingkat ekonomi terbesar di dunia. Puluhan atau bahkan ratusan perusahaan yang terdaftar sebagai perusahaan global di dunia ini mempunyai basis di Tokyo, hampir dua kali lipat dari kota Paris. Tokyo juga digambarkan sebagai salah satu dari pusat komando perekonomian di dunia, bersama dengan New York dan London.
Selain dari ekonomi, Tokyo juga terkenal dengan fashion, budaya, dan teknologi mereka. Shibuya, Shinjuku, Akihabara, Roppongi, Odaiba, Kabukichou dan masih banyak lagi, semua itu adalah distrik-distrik besar dan ptempat-tempat terkenal yang melambangkan fashion dan budaya di Tokyo," jelas ketua Azazel panjang lebar.
Ya, itu tadi adalah monolog ketua Azazel setelah kami keluar dari bandara Narita. Saat ini kami sudah tiba di Jepang, atau lebih tepatnya Tokyo, setelah sebelumnya kami melakukan penerbangan dari Shanghai. Saat ini kami sedang berdiri di belakang garis kuning sambil menunggu sebuah kereta listrik untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya.
"Jadi, selanjutnya saya akan tinggal di Tokyo?" tanyaku kepada ketua Azazel.
"Tinggal di Tokyo? Hahahaa" ketua Azazel tertawa dengan keras setelah mendengar pertanyaanku "tentu saja tidak Sasuke. Jika aku memintamu untuk tinggal di Tokyo, itu terdengar seperti aku menyeruhmu untuk menggapai sebuah cita-cita yang besar,"
"Lalu, kenapa anda menjelaskan tentang Tokyo? Selain itu, Kabukichou bukanlah sebuah distrik yang pantas untuk mewakili Tokyo, Kabukichou hanya tempat prostitusi, dunia malam, dan sarang yakuza di Jepang," balasku.
Sejujurnya, aku benar-benar jengkel saat ketua Azazel mengatakan aku tidak akan tinggal di Tokyo setelah dia menjelaskan panjang lebar tentang Tokyo, itu terasa seperti aku sudah mendapat info yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku.
"Tentu saja itu mewakili, hiburan malam di Jepang merupakan salah satu penyumbang ekonomi terbesar di negara ini. selain itu, jika kau sudah menaiki tangga kedewasaan, informasi ini akan menjadi sangat berguna. Hahahaha," kelakar ketua Azazel dengan bangganya.
Aku tidak menggubris ucapan ketua Azazel, sudah dua tahun aku bekerja bersama ketua Azazel dan dari situ aku paham betul kalau ketua Azazel adalah tipe orang yang suka bercanda. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, lagi pula ketua Azazel adalah orang yang profesional, dia akan menjadi seseorang yang sangat serius dan menakutkan jika sudah berhadapan dengan sebuah misi. Tapi apa-apaan itu? berkata tentang Kabukuichou dengan nada yang bangga, seakan-akan dia kesini hanya untuk pergi bermain dengan para wanita jalang di sana.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk untuk tidak mempertanyakan lagi kemana aku akan dikirim atau pekerjaan apa yang akan diberikan kepadaku, tidak ada gunanya menanyakan hal itu, karena ketua Azazel pasti akan menjelaskan semuanya saat sudah sampai di tempat tujuan.
Aku memperhatikan keadaan sekitar di stasiun bandara Narita, meskipun saati ini aku sedang berada di negara yang diklaim sebagai negara teraman di dunia, bukan berarti tidak akan ada sekolompok orang yang akan menyerang kami tiba-tiba. tidak ada pilihan lain selain tetap menjaga mempertahankan kewaspadaan akan keadaan di sini.
Stasiun bandara Narita, di sini terlihat benar-benar ramai, banyak orang yang sedang mengantre dengan sangat tertib, bahkan ada yang terlihat tertidur di kursi yang disediakan seakan mereka tidak takut jika ada yang tiba-tiba menikam atau mengambil barang-barang berharaga mereka.
Ini adalah kali pertama bagiku pergi ke Jepang meskipun nyonya Sora, nyonya yang dia layani di keluarga Vinsmoke, berasal dari Jepang. Aku tidak pernah mendapat misi ke Jepang karena tugas utamaku adalah menjaga tuan Sanji, dan tuan Sanji sendiri adalah pewaris utama keluarga Vinsmoke sehingga dia tetap akan di Eropa untuk mengurus berbagai keperluan yang bersangkutan dengan relasi keluarga Vinsmoke, sekligus mempersiapkan dirinya sebagai calon pemimpin selanjutnya.
"Sasuke," ketua Azazel memanggilku tiba-tiba.
"Ya, ada apa ketua Azazel?" aku dengan cepat membalas panggilan ketua.
"Kau bisa bahasa Jepang kan?" tanyanya padaku.
"Iya, tuan muda Sanji mengajari saya,"
"Bagus, semua anggota memang diwajibkan menguasai bahasa Jepang untuk mengawal nyonya Sora dan nona Reiju yang sering berkunjung ke kampung halamannya. Kalau begitu, mulai saat ini biasakanlah untuk menggunakan bahasa Jepang. Lalu, jangan panggil aku ketua lagi, cukup panggil Azazel saja atau Azazel-san,"
"Wakarimashita, Azazel-san,"
Tidak perlu penjelasan lebih lanjut tentang ini, aku sudah mengerti alasan kenapa ketua Azazel memerintahkanku seperti itu. Bagaimanapun, kami sekarang berada di Jepang, bahasa Inggris tidak akan banyak berguna di sini, apalagi bahasa Prancis.
Aku harus bersikap normal agar pekerjaanku berjalan dengan lancar, aku sudah paham betul apa yang harus kulakukan, aku sudah berkali-kali mengerjakan yang mengharuskanku untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Meskipun begitu, aku merasa misi kali ini berbeda dengan misi-misi yang sebelumnya pernah kulakukan tapi, aku tidak yakin dengan pemikiranku saat ini. Bagaimanapun juga, aku harus benar-benar serius dan selalu waspada agar tidak menimbulkan kesalahan sekecil apapun. Aku tidak boleh melakukan kesalahan agar bisa mendapat kepercayaan lagi dari pimpinan, tuan Vinsmoke Judge, agar aku diizinkan kembali ke Paris dan berada di sisi tuan muda.
XxxxX
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan menggunakan kereta listrik, kini kami sudah tiba di stasiun yang menurut Azazel-san menjadi stasiun tujuan kami. Meskipun terhitung cepat, kereta listrik ini sebenarnya juga berhenti di stasiun-stasiun lain karena bagaimanapun yang kami naiki adalah kereta ekonomi, bukan kereta express.
Jika aku memperhatikan lebih rinci lagi, stasiun ini lebih kecil dan orang yang berlalu lalang juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan stasiun bandara Narita. Meskipun tidak sebesar stasiun bandara Narita, stasiun ini masihlah tetap terlihat sangat bersih dan tertata, perilaku dan budaya penduduk Jepang memang berbeda dengan Prancis, aku benar-benar kagum pada bagian yang satu ini.
Setibanya di stasiun, Azazel-san tidak berkomentar apapun kali ini. Itu mungkin karena dia sudah lelah dan malas untuk berbicara denganku karena aku sama sekali tidak menanggapi ocehannya, aku hanya menanggapi dengan gumamman atau jawaban singkat seperlunya. Jangan salahkan aku, karena menurutku ocehan Azazel-san sama sekali tidak penting dan tidak membicarakan informasi tentang pekerjaan yang akan aku lakukan kali ini.
Saat berjalan keluar dari bangunan Stasiun, aku sempat berbalik dan melihat ke atas bangunan stasiun itu untuk memastikan tempat aku berada sekarang ini, dan di sana tertulis.
'Chiba Station'
Chiba, ya? Waktu tempuh untuk sampai ke sini sekitar 45 menit perjalanan dari bandara Narita menggunakan kereta listrik. Itu berarti tempat ini tidak begitu jauh dengan Tokyo, tapi kurasa tempat ini bukan kota yang besar seperti Tokyo.
"Ini bukanlah prefektur yang besar, tapi prefektur ini mempunyai lokasi yang cukup strategis karena lokasinya yang bersebelahan dengan Tokyo," Seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan, Azazel-san mulai membuka pembicaraan dengan penjelasan singkat tempat mereka berada saat ini.
Serius, apa orang ini benar-benar bisa membaca pikiranku?
"Hn," akhirnya aku memutuskan untuk membalasnya seperti biasa.
"Dengan populasi yang hanya sekitar enam juta jiwa, berbatasan langsung dengan Tokyo melalui teluk Tokyo, serta akses yang mudah menuju ke Tokyo, tempat ini menjadi tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali," lanjut Azazel-san dengan tatapan mata yang seakan sedang menerawang jauh ke belakang.
Aku hanya melirik sebentar ke arah Azazel-san sebagai respon dari penjelasan pria dengan poni emas itu. Aku sempat berpikir kalau tidak biasanya Azazel-san menampakkan senyum seperti itu. Azazel-san memang suka bercanda, tapi dia sangat-sangat jarang menampakkan senyum damai. Hal itu semakin memperkuat opiniku bahwa misi kali ini berbeda dengan misi-misi sebelumnya
"Nah Sasuke, selamat datang di prefektur Chiba. Tempat ini akan menjadi awal dari kehidupan barumu," ucap Azazel-san lembut dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Berhentilah tersenyum seperti itu! Kau terlihat semakin menakutkan, Azazel-san.
omong-omong, kehidupan baru? Misi seperti apa yang akan kukerjakan kali ini? aku memikirkan hal itu, itu bisa menjadi petunjuk tentang apa yang akan aku kerjakan. Sekeras apapun aku berpikir, aku masih tidak sepenuhnya mengerti dengan situasi ini karena ini adalah pertama kalinya bagiku yang akan mengerjakan suatu misi yang berhubungan dengan kehidupan baru.
"Saya mengerti, Azazel-san," balasku sambil terus memutar otakku tentang kemungkinan-kemungkinan misi yang akan kudapatkan.
Beberapa detik setelah mengatakan itu, datanglah sebuah taksi yang menghampiri kami untuk mengantarkan ke tempat yang akan kami tuju selanjutnya.
XxxxX
Taksi yang kami tumpangi kini sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah, kamipun turun dari taksi tersebut, tentu saja Azazel-san membayar ongkos terlebih dahulu sebelum turun dari taksi.
Saat ini aku sedang memperhatikan rumah itu, banyak pikiran-pikiran yang masuk dalam otakku, salah satunya adalah tentang model rumah yang ada di depanku kini. Rumah yang ada di depanku saat ini hanyalah sebuah rumah biasa, Ini bukanlah rumah seperti yang aku bayangkan selama perjalanan, rumah besar seperti milik keluarga Vinsmoke dengan pemiliknya yang merupakan bos mafia atau yakuza. Lingkungan di sekitar rumah itu juga tampak biasa, sangat tenang, dan tidak mencurigakan sama sekali.
Rumah ini hanya rumah biasa, hanya rumah biasa dengan dua lantai, pagar yang tidak terlalu tinggi, dan halaman depan yang relatif biasa-biasa saja.
"Biar kutebak, kau pasti bingung dengan rumah yang kita datangi bukan?" ucap Azazel-san tiba-tiba.
"Hn," balasku.
Sudah kubilang, apa kau bisa membaca pikiranku, Azazel-san?
"Kau pasti salah menangkap apa yang sudah aku jelaskan selama ini," ucap Azazel-san sambil menghela napas lelah.
Salah menangkap? Aku tidak mengerti, aku hanya menangkap apa yang Azazel-san katakan. Jika memang dia berpikir kalau aku salah tangkap, bukankah harusnya dia menjelaskan dengan lebih rinci lagi?
"Maafkan saya," balasku lirih.
"Tak apa, aku sudah menduganya dari awal. Aku akan menjelaskan semuanya secara detail di dalam," balas Azazel-san.
Menduga dari awal? Sebenarnya sampai sejauh mana kau bisa membaca pikiranku, Azazel-san?
Setelah mengatakan itu, Azazel-san menekan bel yang menempel di tembok sebelah pintu dari rumah itu. Tidak berselang lama, pintu terbuka dan muncullah seorang wanita dewasa yang masih tampak cantik meski sudah berusia sekitar awal 40-an dengan rambut hitam sepunggung dari dalam rumah.
"Azazel-san, kaukah itu?" tanya wanita itu.
"Ya, sudah lama tidak bertemu," balas Azazel-san.
"Masuklah, suamiku sudah menunggu kedatangan kalian. Di dalam juga ada putraku," ajak wanita tersebut.
Setelah mendengar ajakan itu, Aku dan Azazel-san masuk ke dalam rumah mengikuti sang wanita dari belakang. Bagian dalam dari rumah itu tampak biasa saja, seperti rumah pada umumnya, tidak ada yang spesial maupun mencurigakan dari rumah ini. ruang tamunya menjadi satu dengan dapur dan ruang makan, hanya dipisahkan dengan sebuah meja panjang. Ada dua rak dan sebuah lemari yang menghiasi ruang tamu, dan di rak tersebut banyak terdapat buku-buku bacaan, mulai dari pengetahuan umum hingga sekedar novel biasa. Penghuni rumah ini kurasa gemar membaca buku.
"Silahkan duduk, Azazel-san, dan Sasuke-... kun? Kau benar Sasuke-kun yang diceritakan Azazel-san kan?" Wanita itu mempersilahkan kami berdua untuk duduk di ruang makan.
Di ruang makan terlihat ada dua orang yang sudah berada di sana duluan, tentu saja mereka adalah tuan rumah dari rumah ini. Di sana terlihat seorang pria dewasa yang mungkin seumuran dengan Azazel-san dan seorang remaja yang mungkin beberapa tahun lebih tua dariku, meskipun aku tidak yakin dengan usiaku, tapi aku yakin kalau pemuda itu lebih tua dariku. Mereka tampak duduk dengan tenang sambil menyeruput teh yang ada di gelas mereka.
"Yo, sudah lama tidak bertemu, Fugaku," sapa Azazel-san ke sang tuan rumah.
"Ya, senang melihatmu masih sehat, Azazel-san," balas pria dewasa yang akhirnya kuketahui bernama Fugaku tersebut.
"Sasuke, kuperkenalkan kau pada mereka. Pria dewasa ini bernama Uchiha Fugaku, dia adalah kenalanku yang bisa aku percaya di Jepang, lalu di sebelahnya adalah istrinya, Uchiha Mikoto, dan yang itu adalah putranya, Uchiha Itachi, dia sekarang berusia sekitar 21 tahun kalau aku tidak salah ingat," ucap Azazel-san yang sambil menunjuk satu persatu anggota keluarga itu.
"Saya adalah Sasuke, senang bertemu dengan anda semuanya," balasku sambil berdiri dan melakukan ojigi
Keluarga Uchiha? Aku tidak pernah mendengar nama itu, nama mereka tidak ada dalam daftar relasi keluarga Vinsomke di Jepang. Baik relasi bisnis, teman, atau bahkan musuh, aku benar-benar yakin kalau nama mereka tidak ada dalam semua daftar. Aku tidak mungkin salah ingat.
"Dan keluarga Uchiha sekalian, anak ini adalah anak yang sebelumnya sudah kuceritakan pada kalian, dia adalah Sasuke," lanjut Azazel-san yang memperkenalkan Sasuke di hadapan keluarga Uchiha.
Seluruh keluarga Uchiha pun mengamatiku dengan seksama, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku memutuskan kembali ber-ojigi sekali lagi dan kemudian duduk di sebelah Azazel-san.
"Sasuke, tidak usah berpikir terlalu keras. Mereka tidak ada hubungan sama sekali dengan keluarga Vinsmoke," ucap Azazel-san sambil menatap mataku.
Lihat bukan? Sudah berapa kali kau membaca pikirkanku, Azazel-san? Selain itu, kenapa kau membawaku ke mereka kalau tidak ada hubungannya dengan keluarga Vinsmoke? Tentu saja aku tidak bisa mengatakan protesku, bagaiamanapun juga dia adalah atasanku.
"Aku akan menjelaskan semuanya dari awal tapi, sebelum itu aku ingin memastikan padamu, Fugaku. Apa kau benar-benar tidak keberatan dengan permintaanku?" tanya Azazel-san kepada Uchiha Fugaku-san.
"Tentu saja, keluargaku berhutang nyawa padamu, Azazel-san. Jika dengan merawat anak ini bisa membantuku membayar hutangku, maka akan aku lakukan!" tegasnya.
"Terimakasih, Fugaku. Sekarang Sasuke," Azazel-san kembali menatapku "mulai sekarang kau akan tinggal di sini. belajarlah menjadi remaja normal, dan nikmatilah hidupmu. Kau tidak lagi terikat deangan keluarga Vinsmoke, mafia, atau dunia militer lagi.
Hidupmu adalah milikmu sendiri, kau bebas menentukan mau jadi apa dirimu selama kau bisa mempertanggung jawabkannya. Kebebasanmu adalah keinginan terakhir dari tuan muda," ucap Azazel-san menjelaskan situasinya
Jantungku sempat terhenti saat mendengarnya, napasku terasa menjadi lebih berat dari biasanya.
Apa-apaan ini? apa aku dibuang? Tidak, Azazel-san pernah berkata padaku saat di Shanghai kalau aku tidak dibuang. lalu, apa? Aku tidak mengerti sama sekali, keinginan terakhir tuan muda?
Ingatanku kembali melayang pada hari itu, hari di mana aku kehilangan mata kiriku, hari di mana aku terakhir kali bertemu dengan tuan muda.
XxxxX
"Larilah Sasuke, kau harus menyelamatkan dirimu!" ucap tuan muda Sanji padaku.
"Tidak, prioritas saya adalah keselamatan anda, tuan muda,"
"aku baik-baik saja bodoh, aku pasti akan menyusulmu," ucapnya sambil tersenyum.
Saat ini, kondisi kami berdua benar-benar jauh dari kata baik. Timah panas bersarang ditubuhku sebanyak tiga kali, satu di tangan kanan, satu di punggung, dan satu lagi di paha kanan. Bukan hanya itu, kapalaku mengalami pendarahan cukup banyak karena berbenturan dengan benda tumpul,, dan mataku benar-benar terasa sakit setelah terkena pecahan kaca yang sengaja ditusukkan oleh musuh. Sedangkan tuan muda, dia mengalami 5 luka tembak, masing-masing ada di badannya, kepalanya juga mengalami pendarahan hebat akibat pukulan dari sebuah batangan besi, aku juga yakin dia sedang mengalami patah kaki sekarang.
Lalu dia berkata dengan seenaknya kalau dia akan menyusulku? Jangan bercanda!
Saat ini kami sedang bersembunyi di belakang bangunan tua yang berada di pelabuhan Port de Solferino, Paris. Langit malam tanpa bulan dan bintang menambah suasana tegang dalam persembunyian kami. Misi yang seharusnya sudah selesai kini menjadi berantakan karena sabotase dari keluarga Charlotte.
"Bau ini," aku bergumam.
Aku mencium bau bubuk mesiu yang terbakar. Ini tidak bagus, tempat ini sudah benar-benar disabotase dari awal.
"tuan muda, kita harus segera pergi,"
Aku berusaha membopong tuan muda dengan sekuat tenaga tapi, dia justru menendangku dengan sekuat tenaga sehingga aku terjatuh ke dalam sebuah gorong-gorong besar.
Sebelum menendang, tuan muda sempat berkata.
"Kau sudah seperti adikku sendiri, Sasuke. Maka dari itu, hiduplah dengan bebas,"
Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dari tuan muda Sanji. Tuan muda berkata seperti itu sambil tersenyum ke arahku tapi, aku tidak mengerti tentang hidup bebas yang tuan muda maksud.
'Booooommmm'
Suara ledakan yang keras terdengar di telingaku, dan bersamaan dengan itu, kesadarankupun mulai meninggalkanku.
XxxxX
"Sehari sebelum kalian pergi menjalankan misi, tuan muda Sanji mengajakku ke dalam ruangan pimpinan. Tuan muda membicarakan masa depanmu bersama denganku dan pimpinan. Dia meminta kebebasanmu pada pimpinan, dan memintaku untuk merawatmu setelahnya.
Pimpinan awalnya menolaknya tapi, nyonya Sora yang mengetahui pembicaraan kamipun ikut mendesak pimpinan agar mau membebaskanmu. Pimpinan akhirnya menyetujui pembebasanmu setelah kau melaksananakan misimu bersama tuan Sanji," Azazel-san menjelaskan alasan kenapa dia membawaku ke sini.
Semua orang dalam ruangan ini diam memperhatikanku. Mereka menunggu reaksiku, sedangkan aku sendiri tidak tahu harus beraksi seperti apa.
Aku masih mencerna apa yang sedang terjadi, dan aku juga berusaha mengingat ingatan saat aku masih bersama tuan muda.
"kami semua di sini sudah mengetahui situasimu, Sasuke-san. Kami tahu kau pasti terguncang karena sudah tidak bersama dengan orang yang penting bagimu tapi, ini juga demi kebaikanmu. Aku rasa, Sanji-san benar-benar peduli padamu," nyonya Uchiha berkata dengan lembut.
"Sehari sebelum kalian pergi menjalankan misi, tuan muda Sanji mengajakku ke dalam ruangan pimpinan. Tuan muda membicarakan masa depanmu bersama denganku dan pimpinan. Dia meminta kebebasanmu pada pimpinan, dan memintaku untuk merawatmu setelahnya.
Tuan muda peduli? Kebaikanku? Memangnya, apa yang terbaik untukku itu?
"Maafkan saya, saya benar-benar tidak menyangka dengan hal ini. selain itu, saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan," ucapku dengan kepala menunduk.
"Singkatnya, kau sekarang menjadi keluarga kami. Kau akan mulai hidup barumu bersama kami, mempelajari banyak hal, dan melakukan sesuatu yang remaja normal lain lakukan," kali ini sang kepala keluarga yang berbicara.
"..."
Keluarga baru? kehidupan baru? Apa itu berarti tidak akan ada lagi misi pembunuhan? Tidak ada lagi hari tanpa senapan? Tidak akan ada lagi darah yang berceceran di lantai? Aku baru menyadari arti kehidupan baru yang diucapkan Azazel-san kepadaku. Entah kenapa bagian lain dalam diriku merasa bahagia saat mendengarnya.
"Saya masih belum sepenuhnya mengerti tapi, saya mohon kerja samanya," ucapku sambil berdiri dan melakukan ojigi.
Suasananya menjadi lebih ringan dari sebelumnya, semua orang mengehembuskan napas lega setelah mendengar aku berkata seperti itu. Sejujurnya, aku memang belum mengerti sepenuhnya tapi, aku akan mencari arti kehidupanku dan mencari sesuatu yang aku inginkan seperti yang tuan muda Sanji katakan.
"Tidak usah seformal itu Sasuke-kun. Lagi pula, aku juga cukup senang karena mempunyai seorang adik," sang putra berujar sambil tersenyum. Matanya menyipit saat tersenyum, auranya benar-benar mirip dengan nyonya Uchiha.
"Itu benar, mulai saat ini kau adalah putraku dan aku adalah ibumu. Fugaku-kun mungkin agak menakutkan, tapi sebenarnya dia sangat perhatian jadi, tidak perlu sungkan dengan kami," lagi, nyonya Uchiha berkata dengan senyuman yang masih menghias wajahnya.
"Kazoku? Haha-ue? Chichi-ue? Aniki?" aku berkata seperti itu tanpa sadar.
Semua yang mendengar ucapanku juga tersenyum dengan hangat.
"Ya, kau bisa memanggil kami seperti itu," ucap sang kepala keluarga " tidak, kau harus membiasakan memanggil kami seperti itu mulai sekarang!"
Uchiha Fugaku-san, atau mungkin sekarang aku harus membiasakannya memanggil chichi-ue, dia tersenyum tipis kearahku.
Aku mengalihkan pandanganku ke Azazel-san, dia juga tersenyum lembut ke arahku. Lalu dia mengarahkan tangannya ke kepalaku dan mengacak-acak pelan rambutku, ini adalah sesuatu yang tidak pernah Azazel-san lakukan sebelumnya.
"Azazel-san, apa suatu hari aku bisa bertemu dengan tuan muda?" aku bertanya dengan lirih.
Saat aku bertanya seperti itu, senyum di wajah Azazel-san pun menghilang. Aku merasakan kalau suasananya berubah menjadi tidak nyaman. Meski begitu, aku sudah tidak bisa menahan pertanyaan ini lebih lama, tujuan awalku datang kemari adalah karena aku berpikir kalau aku masih mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan tuan muda.
"Aku tidak bisa menjamin tapi, yang pasti kau harus melakukan ini semua dengan sungguh-sungguh. Aku yakin dengan begitu tuan muda pasti senang," balas Azazel-san sambil tersenyum.
Jika aku melakukannya dengan sungguh-sungguh maka tuan muda akan senang? Jika tuan muda senang bukankah itu berarti aku bisa punya kesempatan untuk bertemu dengannyakan?
"ah, ini sudah larut, aku akan pergi ke hotel yang sudah aku pesan," ucap Azazel-san tiba-tiba
"Kau tidak bermalam di sini? Kami sudah menyiapkan kamar untukmu juga," sahut Uchiha Fugaku atau Chichi-ue.
"Tidak, aku mengambil penerbangan pertama ke Paris. Aku tidak ingin merepotkan kalian"
Setelah mengatakan hal itu, Azazel-san bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Kami, aku, chichi-ue, haha-ue, dan aniki, mengantar Azazel-san sampai ke pagar.
Azazel-san memperhatikan kami satu-persatu sebelum dia pergi, lalu dia berkata.
"Aku akan mengirim uang bulanan untuk keperluan Sasuke bersekolah, makan, dan lain-lain. Semoga itu bisa membantu kalian semua,"
"Kau tidak perlu sampai seperti itu Azazel-san," balas chichi-ue.
"Tidak, aku sudah merepotkan kalian dengan meminta merawat Sasuke. lagi pula, Sasuke juga tetap menjadi tanggung jawabku bagaimanapun juga,"
Setelah mengatakan itu, Azazel-san mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia memandang jauh ke dalam mataku seakan benar-benar ingin memastikan keadaanku sebelum dia pergi.
"Jangan terlalu merepotkan mereka. Di dalam kopermu ada buku rekening, sekaligus ATM yang sudah kupersiapkan. Di dalam tabungan itu ada uang yang sudah kau hasilkan selama 2 tahun kau bekerja di bawah keluarga Vinsomke. Pergunakanlah uang itu dengan bijak" Azazel-san berkata padaku.
"Saya mengerti dan, terimakasih atas semuanya, Azazel-san,"
Aku membungkuk sedalam-dalamnya yang aku bisa di hadapan Azazel-san. Dia, Azazel-san sudah sangat berarti bagiku, dia sudah dengan sabar membimbingku selama aku bekerja di keluarga Vinsomke, dia tidak kalah berarti dari tuan muda.
Aku tidak pernah menyangka kalau perpisahan secara langsung akan sangat berat seperti ini. aku tidak tahu tapi, di dalam diriku ada gejolak yang mengatakan tidak ingin berpisah dari orang yang berarti bagiku.
Azazel-san menempatkan tangannya di atas kepalaku dan mengacak kepalaku dengan sedikit keras, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Keluarga Uchiha yang melihat adegan inipun tersenyum dengan hangat, aku tidak bisa melihatnya, tapi aku merasakan demikian.
"Jaga dirimu baik-baik, Uchiha Sasuke," ucap Azazel-san dengan suara yang lembut.
Setelah mengatakan itu, Azazel-san pergi meninggalkan kami. Aku masih berada di posisi yang sama dengan sebelumnya, yaitu membungkuk. Tidak terasa, ada sesuatu yang mengalir dari mata kananku, air mata? Ini pertama kalinya aku menangis. Apa perpisahan memang seperti ini? Bahkan bisa sampai membuatku mengeluarkan air mata.
Setelah kepergian Azazel-san, kami masuk ke dalam dan aku meminta izin untuk menata barang-barangku ke dalam ruangan yang sudah disiapkan
Hari ini, aku mendapatkan sesuatu yang tidak terduga dalam hidupku, mulai dari keluarga, kehidupan normal, dan beratnya sebuah perpisahan. Aku masih belum mengerti sepenuhnya tapi, dengan nama baru ini, Uchiha Sasuke, aku akan memulai kehidupan baruku dan mencari arti dari kehidupanku mulai saat ini.
Bersambung
Author Note : Chapter 2 update dengan tema yang masih membahas perkembangan mental Sasuke. Saya juga mengucapkan terimakasih untuk yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan review fanfic saya ini.
terimakasih atas waktunya dan mohon review, kritik, saran untuk membantu author mengkoreksi kesalahan cerita ini.
