..~*~Black Rosette~*~…..

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Scene 1 : Adrenaline Rush

POV : Rukia

(..)

(..)

(..)

Tokyo. September. 2012

"Jadilah pacarku."

Ah, jantung yang langsung berdetak cepat, perasaan gelisah tidak menenangkan, gugup dan canggung, bahkan wajah yang memerah. Seharusnya itu yang kurasakan sekarang. Merasakan reaksi akibat pernyataan cinta seseorang yang ditujukan langsung padaku, di taman belakang sekolah. Begitukah? Sayangnya, aku tidak bisa merasakan perasaan menggebu-gebu seperti yang ada di dalam khayalanku semata. Sama sekali. Nihil. Dan malah sebaliknya, entah mengapa aku benar-benar merasa kesal dan muak begitu melihat laki-laki aneh ini yang berdiri tegap di depanku. Bukan, bukan berarti dia…jelek atau terlihat buruk. Dia…tampan? Mungkin begitu. Tubuhnya yang tinggi tegap dan atletis, tatapan tajam, warna rambut yang tidak biasa, dan sikapnya yang sama sekali tidak serius. Terlihat bodoh tapi memukau. Dan tanganku tidak bisa bersabar lagi untuk menonjok wajahnya itu.

"Hei, kau dengar tidak?" ucapnya lagi, melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Apa-apaan sikapnya itu? Dia sama sekali tidak serius! Apa jangan-jangan dia mempermainkanku? Hah?!

Aku mengernyit kesal dan langsung menepis tangannya kuat-kuat. "Kau! Kau bertaruh berapa banyak dengan temanmu, hah?!"

"Bertaruh? Apa?!"

"Jangan bohong padaku, baka! Aku bisa melihatnya dengan jelas! Kau…kau sama sekali tidak serius mengatakan hal itu, bukan? Kau sama sekali tidak menyukaiku," balasku sengit, memelototinya.

Laki-laki itu balas memelototiku, terlihat kesal. Sikapnya benar-benar di luar dugaanku.

"Apa katamu? Aku serius, pendek! Kau tidak bisa melihat kalau wajahku sudah serius seperti ini?!"

"Serius darimananya," gumamku berbisik. Hah….ini benar-benar melelahkan. Baru kali ini aku menemukan orang seperti dirinya. Menyatakan cinta pada seorang gadis tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu! Dasar bodoh!

Aku berbalik dan berniat meninggalkannya, secepat mungkin. Sulit sekali untuk mengatasi orang semacam dirinya, terlalu keras kepala dan bodoh. Entah apa maksud dan rencananya mendekatiku, tapi aku sama sekali tidak suka. Lalu, tiba-tiba tangannya menarik tangannku kuat—menahanku pergi. Aku kembali berbalik padanya dan menatapnya tajam. "Lepaskan aku!"

"Kau belum menjawab pertanyaanku!"

"Kurasa tidak perlu, bodoh!"

"Hei! Aku kan bertanya baik-baik!"

Aku mendesah kesal dan menghentakkan tanganku kuat-kuat, sehingga terlepas darinya. "Kau bahkan tidak mengatakan namamu! Bagaimana mungkin aku bisa berpacaran dengan seseorang yang tidak kuketahui namanya!"

Dia terdiam sebentar, seperti sedang berpikir keras. Ah…akhirnya dia menyadarinya, ya? Reaksinya berubah seketika. Alisnya yang berkerut dalam perlahan berubah lebih rileks. "Ah..namaku Ichigo."

"Hanya itu?" Tidak ada nama keluarga?

"Ya..kau bisa memanggilku Ichigo. Kuchiki Rukia."
Aku melotot kaget. "Ba..bagaimana kau tahu namaku?"
Dia sama sekali tidak terlihat terusik, malah semakin berubah santai. "Loh? Kita kan satu sekolah?"

"Aku bahkan tidak pernah melihatmu berkeliaran di sekolah ini!"

"Benarkah? Mungkin kau tidak memperhatikan," ucapnya sambil nyengir lebar.

Tidak mungkin aku tidak memperhatikan, mengingat warna rambutnya berbeda daripada yang lain. Coklat-orange menyala, seperti matahari.

(..)

(..)

(..)

"Tunggu, Rukia!" panggil Ichigo yang sudah kutinggal di belakangku.

Aku masih memegang pendirianku teguh, tidak melirik ke belakang dan tetap melangkahkan kakiku—pulang. Dan orang keras kepala itu sama sekali tidak mau menyerah. Dia bersikeras mengikutiku, kemanapun aku pergi. Bahkan, setelah jam pulang sekolah berbunyi.

"Bisakah kau pulang saja, Ichigo?" teriakku membalasnya, tanpa menoleh.

"Aku akan mengantarmu!"

Perlukah dia mengantarku? Memangnya…dia itu siapa?!

"Aku bisa pulang sendiri, tawake!"

"Tidak, aku tetap akan mengantarmu!" Suaranya semakin terdengar dekat. Dan beberapa detik kemudian, dia sudah berhasil menyusulku—berjalan berdampingan denganku. "Kau kan pacarku."

Aku menghentikan langkahku paksa, sedikit terkejut mendengar kata-katanya. "Da..darimana kau berpikir kau ini pacarku?!" Bahkan aku sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan cintanya tadi!

Ichigo terdiam sambil mengerutkan alisnya lagi, kembali berpikir keras. Aku berusaha menunggunya dengan sabar, sebelum tas di genggamanku melayang menuju kepala terangnya. "Itu…ya, pokoknya kau pacarku!"

Dan…bingo! Langsung saja kuhempaskan tasku menuju kepala bodohnya dan reaksinya membuatku tersentak kaget. Dengan cepat dia mundur beberapa langkah untuk menghindari seranganku. Ba..bagaimana bisa?!

Aku menggerutu kesal sebagai pelampiasan dan kembali menghentakkan kakiku cepat, meninggalkan Ichigo yang masih terpaku di belakangku. Dia kembali memanggilku, berharap aku menoleh padanya. "Kubilang jangan mengikutiku!"

Dan kali ini Ichigo terdiam, membuatku bertanya-tanya, apakah dia sudah menyerah untuk mengikutiku. Tapi, tiba-tiba dia sudah muncul di sebelahku dan hampir membuatku terkena serangan jantung. Langkahnya sama sekali tidak terdengar mendekat, bahkan mengikutiku. Sikap tubuhnya berubah menegang, membuatku bergidik ngeri entah karena alasan apa. Tatapannya menatapku lembut terkesan aneh. Dia sama sekali tidak tersenyum, tapi matanya itu seperti berkata lain. Mata hangatnya itu, membuatku yakin kalau tidak selicik yang kukira. Yah…mungkin dia tidak bertaruh dengan teman-temannya untuk menyatakan cinta padaku. Tapi…alasan apa yang membuatnya ingin mendekatiku begitu saja? Tanpa persiapan?

"Kau tidak akan menyerah," ucapku, memecah keheningan. Kutatap lagi jalan di depanku, memperhatikan bayangan diriku yang terpantul pada aspal hitam. Rumah-rumah di sekeliling kami seakan-akan melindungi dari matahari sore dan angin musim gugur yang berhembus dingin. Dunia seakan berhenti, meninggalkanku disini berdua dengan orang aneh berambut menyala. Ichigo.

"Tidak," balasnya, terdengar lebih lembut. Aku terkejut begitu mendengarnya. Ternyata, dia bisa juga berubah lebih baik dan tidak terlihat sangar. Tidak seperti seorang yakuza muda.

"Apa yang membuatmu tertarik padaku?" tanyaku lagi, menghiraukan kecanggungan yang siap menelanku hidup-hidup.

Ichigo terdiam, terlihat sedang berpikir. Matanya kembali menatapku, seperti sedang meneliti. Dan ini membuatku canggung, sungguh tidak enak untuk ditatap dengan tatapan seperti itu. Tatapan menilai yang hanya melihat dari segi fisik. "Entahlah…sama sekali tidak ada hal yang menarik dari dirimu..." balasnya santai.

Oke…ini sudah keterlaluan! "Kau mengejekku?!" kutendang kaki si bodoh itu dan kali ini berhasil mengenainya. Dia mengernyit nyeri, begitu tulang keringnya kutendang cukup keras. Cukup untuk menaklukannya.

Aku tersenyum puas dengan hasil kerja kerasku dan kembali berjalan pulang, meninggalkannya. "Kau! Kau menendangku! Sakit, pendek!"

"Kau mengejekku!"

"Tapi, memang kau pendek! Bahkan tubuh ratamu itu sama sekali tidak mendukung," balasnya cuek, membuatku benar-benar marah.

Kupukul kepala bodohnya itu keras, membuatnya kembali mengernyit sakit. "Berhentilah mengikutiku kalau kau tidak punya alasan! Dasar penguntit aneh!"

Ichigo melotot kaget melihatku, masih dalam posisi berjongkok. Sungguh terlihat bodoh. "Pe..penguntit? Aku bukan penguntit! Mana ada penguntit yang berjalan berdampingan dan mengobrol dengan orang yang dikuntitnya?"

Baiklah…terserah padamu! Karena tidak bisa lagi memendam amarahku, aku berbalik dan segera mengambil seribu langkah meninggalkannya. Kupacu kakiku lebih cepat berjalan daripada yang sebelumnya, menghiraukan Ichigo yang terus memanggil-manggil namaku. Aku tidak punya urusan dengan dirinya dan tidak mau terlibat lebih jauh lagi. Dia adalah tipe orang yang tidak bisa kujadikan teman, bahkan kekasih sekalipun! Ini seperti mimpi buruk bagiku. Kuharap aku bisa cepat terbangun dan kembali ke dalam duniaku sendiri. Dimana tidak ada orang bodoh seperti dirinya yang terus menerus mengusikku seperti lebah berdengung.

Kulangkahkan kakiku lebih cepat—hampir berlari— begitu melihat bangunan yang kukenal menjulang tinggi di depan. Ya, apartemenku. Sebaiknya aku buru-buru masuk ke dalam dan tidak memberikan si bodoh itu petunjuk dimana aku tinggal. Yah, itu lebih baik! Dan kudapati suasana apartemen yang lebih sepi daripada hari-hari sebelumnya. Tanpa pikir panjang aku mengambil jalur tangga daripada lift, yang ketimbang lebih cepat daripada harus menunggu lift terbuka. Lantai 4, itu bukan jarak yang jauh dari sini.

"Larimu cepat sekali!" suara Ichigo yang tiba-tiba muncul di belakangku, membuatku tersentak kaget. Hampir saja aku kehilangan langkah dan salah menginjak anak tangga di bawahku.

"Ka..kau!" kataku kesal sambil memelototinya tajam. Ichigo sama sekali tidak terkejut melihatku begitu marah menatapnya. Bahkan, reaksinya terkesan biasa saja. Dan nafasnya terlihat stabil, tidak terlihat habis berlari kemari. Aneh.

"Jadi kau tinggal disini?" tanyanya, berusaha mengambil topik pembicaraan yang sama sekali tidak kuhiraukan. Aku melanjutkan langkahku menuju lantai 4, tinggal dua lantai lagi. Sebelum aku menendangnya ke bawah tangga dan mengirimnya langsung ke lantai 1!

"Kau tinggal sendirian, atau bersama keluargamu?" tanyanya lagi, berusaha mengambil perhatianku. Tentu saja tidak akan berhasil. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menganggapnya sebagai angin lewat saja. Tenang, Rukia…dia hanya angin…atau bahkan mungkin udara kosong!

"Kau tinggal di lantai 4?" tanyanya lagi begitu aku berbelok ke arah lorong apartemen. Yah..mau dipikir bagaimanapun, dia bukanlah angin ataupun udara kosong. Angin tidak bisa berbicara. Dan tidak bodoh.

Aku kembali berjalan dalam diam dan berhenti begitu melihat pintu apartemenku yang tidak begitu jauh jaraknya dari tangga. 406. Segera kurogoh tas sekolahku, mengambil kunci dan memasukkannya ke lubang pintu. Kuhela nafas sesaat, begitu menyadari kalau Ichigo masih berdiri di sebelahku, tidak berniat pergi. Apakah dia berharap akan kuundang masuk begitu saja? Sama sekali tidak! "Sebaiknya kau pulang, Ichigo. Aku tidak akan mengundangmu masuk," ucapku malas tanpa menoleh untuk sekedar meliriknya.

"Aku tahu itu," jawabnya santai, masih tidak bergerak dari tempatnya.

Dengan terpaksa aku menoleh ke arahnya, melakukan apapun untuk segera mengusirnya dari sini. Harapan awal untuk mendapati matanya menatapku kaget, berubah seketika. Ichigo terlihat terkejut, melihat lorong apartemen yang aku yakin kosong—tidak ada apapun disana. Suasana aneh yang membuat bulu kudukku berdiri entah kenapa, ditambah Ichigo yang merubah sikapnya menjadi lebih serius.

"I..Ichigo?" panggilku ragu, berusaha mengartikan raut wajahnya yang menegang.

Tiba-tiba dia mendorongku masuk ke dalam apartemenku, diikuti dirinya yang langsung menutup pintu dan menguncinya sehening mungkin—tanpa suara. Aku berniat memprotes kelakuan anehnya itu, namun berhasil ditepis oleh tangannya yang menutup mulutku rapat-rapat. Sekarang aku mulai panik, melihatnya menarikku masuk dan bergerak ke arah meja dapur. Sebisa mungkin aku memberontak untuk segera lepas darinya. Mu..mungkin dia berniat jahat? Pencuri? Penculik? Atau dia…orang mesum?!

"Berhentilah memberontak," bisikknya sinis dan menarikku untuk berjongkok di balik meja dapur. Aku berusaha untuk menggerakkan kakiku yang bebas, menendang kaki atau apapun bagian tubuhnya. Yang penting aku bisa lepas dari tangan dan cengkramannya. Dan, Ichigo bisa membaca gerakanku. Dia mendorongku ke punggung meja, mengunci gerakanku. Wajahnya mendekat ke arah wajahku, menatapku tajam dan mengancam. Sebelah tanganku tidak berdaya mencengkram tangannya yang menutup mulutku dan sebelah lagi terkepal erat di sisi tubuhku—bergetar hebat. Aku benar-benar takut dan panik. Tenanglah Rukia…kau tidak boleh terlihat lemah di depannya! Dia…mungkin akan menggunakan kesempatan itu untuk berbuat lebih jauh lagi. Dia pikir dirinyalah yang menang dan berhasil menjatuhkanmu! Tenanglah..berpikir..berpikir….

Suara gebrakan pintu membuatku tersentak kaget. Sesuatu menghantam pintu depan begitu keras, seperti suara orang yang berusaha untuk mendobrak pintu. Kulirik wajah Ichigo yang berubah panik, memperhatikan pintu depan dan ruangan di sekelilingnya. Ah, mungkin itu polisi atau orang yang berniat menolongku. Mungkin mereka melihat Ichigo yang membekap dan menyeretku paksa kemari.

"Diam dan ikuti aku," perintah Ichigo. Dia menarikku untuk berdiri dan membawaku ke dalam..kamarku? Begitu kami tiba di dalam, dia melirikku bingung, memperhatikanku yang terdiam di dalam ancamannya. Aku tidak bisa menyerangnya begitu saja. Dia sudah tahu gerakanku dan kemungkinan besar akan dengan mudah menaklukkanku lagi. Aku harus menunggu saat yang tepat, sebelum menjambak dan meninju wajahnya hingga terjatuh. Belum saatnya.

"Bisakah kau berjanji untuk tidak berteriak, begitu kulepaskan tanganku?" tanyanya terlihat ragu. Aku hanya harus mengikuti kata-katanya sekarang, membuatnya percaya kepadaku.

Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda setuju. Perlahan dia menjauhkan tangannya dari mulutku, memperhatikan reaksiku yang masih terdiam. Sebelum dia sempat menghela nafas, kuraih rambutnya dan berusaha menjambaknya kuat-kuat, sementara kakiku bergerak liar untuk menendang tubuhnya.

"Rukia! Tunggu dulu!" Ichigo berusaha kembali menjatuhkanku. Tangannya mencengkram pundakku dan kakinya mengkait kaki belakangku. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai kayu kamarku. Pasti kepalaku akan terbentur.

Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu rasa sakit yang akan menjalar cepat di kepalaku. Tapi, ini sama sekali tidak sakit. Kepalaku membentur sesuatu yang tidak sekeras lantai kayu, malah terasa lebih lembut. Perlahan kubuka mataku, mendapati tubuh Ichigo yang hampir menindih tubuhku. Tangannya terulur ke belakang kepalaku, menahannya untuk tidak terbentur. Benarkah?

"Nyaris saja," ucapnya, terlihat lega.

"Tolonggggg!" teriakku melengking keras, menggunakan kesempatan kecil itu untuk meminta bantuan. Sikapnya yang berusaha untuk menolongku, sama sekali tidak membuatku luluh padanya. Tetap saja dia orang jahat, bukan orang baik.

Ichigo kembali membekap mulutku dengan tangannya. Tubuhku yang memberontak tidak berdaya, ditindihnya dengan tubuh besarnya. Membuatku mengernyit ngeri. Kini, kedua tanganku terkunci di depan tubuhku, tertindih olehnya. Sama sekali tidak bisa kugerakkan.

"Sudah kukatakan jangan berisik!" desisnya, membuatku semakin memberontak hebat. "Rukia..hei…Rukia, dengarkan aku."

Tidak! Aku sama sekali tidak mau menuruti apa maumu!

"RUKIA!" teriaknya, membuatku terdiam kaget. Separuhya karena telingaku yang berdengung hebat. Ichigo menghela nafas sesaat dan raut wajahnya kembali terlihat tegang—lebih serius. Alisnya berkerut begitu dalam, namun matanya menatapku simpati. "Rukia, dengarkan aku. Aku tidak akan mengatakannya dua kali. Beberapa orang sedang mengincar dirimu dan sekarang sedang berusaha untuk mendobrak pintu depanmu. Aku kemari untuk melindungimu dan sebaiknya kau mendengar kata-kataku."

Hah? Apa..maksudnya?

"Kau sebaiknya bersembunyi disini, aku tidak punya waktu banyak. Sementara aku membereskan orang-orang di luar sana, kau berhitunglah sampai dua puluh detik."

Be..berhitung?!

"Bila sampai dua puluh detik aku tidak kembali lagi kemari, kau harus segera kabur melalui jendela kamarmu. Disana ada balkon yang menghubungkan tempat ini dengan tetangga sebelahmu, bukan?"

Ah…ya..itu memang ada akses untuk menjangkau apartemen sebelah. Tapi..apa maksudnya?

Sebelum aku bertanya lebih jauh, dia segera melepaskan tangannya dan kembali berdiri. Dengan cepat dan pasti, Ichigo melangkah keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Meninggalkanku sendirian disini, masih dalam keadaan bingung.

Nafasku mulai tidak teratur, sebagian karena tegang dan sebagian lagi karena kehabisan nafas. Tangan si bodoh itu benar-benar membuatku kesulitan bernafas. Ditambah wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku. Tubuhnya yang hampir menindihku sepenuhnya, membuatku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Tunggu dulu…aku tidak boleh berpikiran jauh sampai ke sana! Dia tetap orang jahat! Aku tidak boleh terpengaruh hanya karena perlakuan baiknya.

Segera aku bergegas menuju jendela kamar, membukanya perlahan dan berjalan ke arah balkon. Kulirik arah kiri dan kananku, berusaha berpikir untuk memilih balkon siapa yang harus kulewati. Tiba-tiba aku teringat dengan tetangga cerobohku, yang tinggal dua kamar di samping kananku. Tepat menuju tangga keluar. Dia seringkali meninggalkan pintu apartemennya tidak terkunci dan hampir membuat rumahnya dimasuki perampok. Semoga saja kali ini dia melupakan hal penting itu. Semoga saja pintunya tidak terkunci.

Aku menaiki balkon kamarku dan mengambil ancang-ancang untuk melompat ke seberang. Hup! Balkon pertama. Ini bukan hal yang sulit, melewati dua balkon tanpa perlu terjatuh ataupun terpeleset ke bawah. Begitu sampai di balkon ke dua, segera saja aku menggeser jendela kamar dan berlari menuju pintu keluar. Jantungku mulai bertalu cepat karena panik. Tidak terkunci…tidak terkunci…

Kuputar kenop pintunya dan mendapati pintu yang tidak terkunci! Hari ini adalah hari keberuntunganku. Dan, tanpa menoleh ke belakang, aku berlari menuruni anak tangga—langsung melompati dua anak tangga sekaligus. Yang harus kulakukan sekarang adalah berlari! Sejauh mungkin…secepat mungkin. Jangan menoleh ke belakang, Rukia! Jangan ragu akan diri si bodoh itu…

(..)

(..)

(..)

Normal's POV…

Ichigo segera melangkah perlahan menuju pintu depan yang masih terus berusaha didobrak. Dia tidak sembarangan mengambil langkah, berusaha meredam suara sepatunya yang mungkin bisa berdecit seketika. Matanya melirik dan meneliti ruangan di sekitarnya, ruangan kecil yang terdiri dari dapur kecil, meja makan, sofa, dan tivi. Sama sekali tidak menguntungkan bila musuhnya membawa senjata. Apalagi senapan. Itu membuat dirinya benar-benar terpojok.

Ichigo mengambil langkah cepat, bersembunyi di balik tembok, di dekat pintu keluar. Dia bisa menyergap musuhnya dari sana diam-diam. Dan, semoga saja musuhnya tidak dalam jumlah banyak. Dua sudah lebih dari cukup. Suara pintu didobrak keras membuat Ichigo kembali harus menahan nafas, berusaha menetralkan debaran jantungnya. Langkah seseorang, bukan, dua orang mulai memasuki koridor ruang utama. Ichigo memasang posisi siaga, mengambil kuda-kuda sebelum musuhnya lewat di depannya.

Begitu dia melihat orang pertama lewat, Ichigo langsung menyerangnya dari samping—tempat persembunyiannya. Dengan cepat dia mengincar lehernya, mencekik dan memelintir. Orang kedua didapatinya sedang membawa pistol di tangan kanannya. Musuhnya mulai mengarahkan pistol ke arah Ichigo, tepat ke arah wajahnya. Namun, karena jaraknya yang terlalu dekat, dengan mudah Ichigo mencengkram tangan lawannya dan memelintirnya. Pistol itu terjatuh ke lantai dengan suara berdebam, tanpa sempat tertarik pelatuknya. Ichigo memukul lawannya di daerah vitalnya—leher dan pelipis. Begitu lawannya limbung, Ichigo menekan lehernya dengan menggunakan tangannya dan menekannya ke arah dinding. Situasi yang tidak menguntungkan bagi si korban. Tidak bisa memberontak dan dalam keadaan pusing, ditambah saluran nafasnya yang tertekan hebat. Ichigo berhasil menumbangkan lawannya dengan mudah, tanpa terluka.

"Ginjou," gumam Ichigo, memperhatikan kedua orang yang sudah tumbang itu, sambil berusaha mengatur nafas lelahnya. Tiba-tiba dia kembali teringat dengan keberadaan Rukia, gadis keras kepala dan pemarah yang hampir membuatnya mundur dari tugasnya. Tugas melindungi seorang gadis, bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi itu bukanlah hal yang diinginkannya.

Panik dan takut, Ichigo membuka pintu kamar Rukia dan mendapati kamar yang kosong. Jendela gesernya sudah terbuka lebar, meninggalkan jejak Rukia yang ditakutkan oleh Ichigo sejak tadi. Dia kabur. Tanpa perlindungan darinya.

"Sial! Dasar gadis bodoh!"

Ichigo segera berlari ke pintu keluar, melewati dua orang yang sudah tidak bernyawa itu. Dia mengambil pistol yang tergeletak di lantai dan memasukkannya ke dalam saku celananya, sebelum menutup pintu depan yang sudah tidak bisa terkunci rapat lagi karena didobrak paksa. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mengejar Rukia dan mendapatkannya kembali. Apapun caranya.

~*~(to be continued…)~*~

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Chapter 1 finish! Sebagian besar memang memberikan kesan action, karena itu adalah genre nya..hihihh Semoga kalian suka ya..XD

Apakah sudah mendapatkan ketegangannya? Aku sudah berusaha sebaik mungkin, karena ini pertama kalinya aku menulis adegan pertaruangan untuk fandom Bleach..hihihhi Coba berikan saran, kritik, kesan kalian lewat review ya! Boleh juga lewat PM…^^

Karena sebagian besar adalah POV dari Rukia, jadi penataran ceritanya tidak bisa dijelaskan secara langsung, seperti siapa Ichigo sebenarnya, tugas apa yang membuatnya bisa bertemu dengan Rukia? Hal-hal tersebut perlahan bisa terungkap di penjelasan chapter-chapter berikutnya, walaupun terkesan lebih lambat jadinya..hihihi

Terima kasih bagi para readers! Hihhi.. Juga bagi para reviewers, bagi yang sudah me follow dan fave! Arigatou gozaimasu! Sampai bertemu di chapter berikutnya ! ^^

Balasan untuk anonymous and no-login reviewers :

tamagochi : Makasih sudah review ya! XDb Dan sebelumnya makasih banyak atas koreksimu, aku salah menulis prolog, malah jadi epilog TAT… Sudah aku ganti kok..hihhhii Iya, ini lebih ke genre action, jadi pasti menegangkan..hehe.. tapi romance nya masih ada kok, walaupun belum bisa keluar di chapter-chapter awal..sabar ya ^^ Oke, sudah aku update!

Thanks for my playlist (jika mau mendengarkan selama membaca fic ini ^^;) :

Florence and the Machine : Breath of Life, No Light No Light

Anggun : Snow of the Sahara

ONE OK ROCK : Clock Strikes, The Beginning

Enrique Iglesias : Finally Found You (feat/ Sammy Adams)

David Guetta : Where Them Girls At (feat/ Nicki Minaj and Flo Rida)

Of course these songs not belong to me! XD