.
.
.
.
.
.
.
One On The Way part 2
.
"When our path of love takes a long time,"
.
.
- YoonMin – TaeKook – NamJin -
.
.
.
.
.
.
.
Bukankah dia sudah berada di dekatku? Sejak dulu? Tapi, kenapa aku merasa sangat jauh untuk menggapainya?
.
.
.
Previously…
…
"Siap untuk bekerja, Park Jimin?" tawar Sungjae. Jimin tersenyum kecil.
"Apa ini caramu menyambutku?" tanya Jimin yang dibalas gelak tawa dari Sungjae.
"oh-tidak, aku ketahuan~" cengir Sungjae yang membuat Jimin membulat tak percaya.
"Yook Sungjae~" desisnya tertahan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rasanya, Jimin benar-benar ingin menenggelamkan dirinya di perut bumi detik ini juga. Ini benar-benar memalukan. Bagaimana tidak? Saat ini, tepatnya di jam istirahat pertama seluruh siswa maupun siswi terlihat menahan tawa mereka karena melihat adegan yang selalu menjadi hiburan jika mereka berada di sekolah. Hal itu, membuat Jimin mendengus dengan seluruh pasang mata yang terus memandangnya seolah ia adalah tontonan gratis.
"Puas sekarang?" desis Jimin menatap Sungjae kesal bukan main. Sungjae terkekeh.
"hey, Park. Kau 'kan sudah biasa mengalami situasi seperti ini? Jadi, seharusnya kau bersyukur karena kau tidak sendiri kali ini."
Pletak!
"Berhenti mengejekku Yook-ssi!" desis Jimin kesal bukan main yang kemudian dibalas cengiran tanpa dosa dari teman sekelasnya itu.
"Serius, Jim… kau sedang dihukum?" Jimin memejamkan kedua matanya kala mendengar nada mencemooh yang ia hafal betul milik siapa. Dengan terpaksa Jimin berbalik badan dan mendapati Kim Taehyung yang mengejeknya, yang sayangnya tidak datang seorang diri. Ada Namjoon dan Hoseok yang juga tampak tengah menahan tawa mereka membuat Jimin melepar lap yang ia pegang tepat ke wajah Sungjae.
"YAK! Park Jimin!" seru Sungjae benar-benar kesal namun sayangnya kali ini benar-benar diabaikan oleh Jimin.
"wae?! Apa ada masalah?!" sarkas Jimin tak bisa lagi menahan kekesalannya di hari pertama ia masuk sekolah akibat ulah Sungjae. Maka dari itu, jangan salahkan Jimin jika ia melampiaskan kekesalannya pada Taehyung, Namjoon, dan Hoseok.
"yaampun, Park—apa kau sedang PMS?"
Tuk!
Kali ini, tangan ajaib Jimin mendarat mulus dikepala Taehyung yang membuat Namjoon dan Hoseok tak bisa lagi menahan tawa mereka lagi. Jimin dan Taehyung tidak pernah berubah, mereka memang tidak pernah akur sejak kecil.
"yak! Kenapa kau memukulku?!" seru Taehyung tak terima. "Bagaimana jika aku bodoh?"
"Kau memang sudah bodoh Kim!" desis Jimin sementara Taehyung hanya mencibir.
"woah~ siapa kali ini yang memberimu hukuman?" tanya Namjoon takjub. Jimin mencebikkan bibirnya kesal.
"Kang ssaem. Ini semua karena Yook sialan ini."
"yak! Siapa yang kau sebut sialan?" tanya Sungjae tak terima.
"Kau tentu saja, siapa lagi?"
"woah~ Park, mulutmu benar-benar setajam pisau!" cibir Sungjae. Jimin memeletkan lidahnya tak peduli seraya berjalan meninggalkan keempat siswa yang tak menyadari langkah menjauhnya.
"Selesaikan hukumanku jika kau masih mau melihat hari esok!" dan ketika Jimin berseru di tengah-tengah keramaian kantin, maka disaat itulah keempatnya menyadari jika Jimin baru saja meninggalkan mereka.
"Semangat untuk hukumanmu, Sungjae-ssi!" semangat Hoseok menepuk pundak Sungjae sekali sebelum menyusul langkah Namjoon yang hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Cepat selesaikan semuanya, kau tidak mau 'kan hukumanmu diperpanjang?" pesan Taehyung yang kemudian menyusul kedua hyung-nya meninggalkan teman sekelas Jimin yang memasang wajah bodohnya saat ini.
"wah~ aku benar-benar salah berurusan dengan penjajah."
.
.
.
.
.
.
.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara peraduan bola basket dengan lantai begitu memenuhi setiap sisi lapangan basket yang ada di gedung dua. Derapan langkah kaki menggiring bola yang ia drible ditangannya untuk masuk ke dalam ring dan—shoot! Lemparannya memang tak pernah meleset. Jika ditanya, apakah dia adalah salah satu pemain tim basket RC jawabannya tentu saja bukan. Ia tidak mendaftarkan diri untuk bergabung dengan club tersebut, namun hobi dan keahliannya dalam bermain basket sudah tertanam sejak ia kecil.
Entah sudah berapa lama ia berada disana seorang diri. Melampiaskan seluruh kegundahannya pada benda bola yang tak berdosa itu. ya, memang hanya ini satu-satunya yang bisa ia lakukan, hanya dengan ini setidaknya ia merasa lega dan hanya dengan ini setidaknya ada sedikit beban yang ia keluarkan tanpa berniat untuk berbagi pada siapapun.
Untuk kesekian kalinya, bola berwarna orange itu kembali masuk ke dalam ring dan langsung menggelinding ke pinggir lapangan. Siswa tampan yang menyandang title 'cold prince' itu menarik nafas sebelum menyadari ada sepasang kaki yang lebih dulu mengambil bola itu dan melempar bola itu ke ranjang penyimpanan bola tak jauh darinya.
Setelah memastikan bola yang ia lempar tepat sasaran, ia pun meraih sebuah handuk kecil dan botol mineral sebelum memutuskan untuk berjalan mendekati Min Yoongi, si cold prince yang sialnya saat ini terlihat sangat sexy dengan keringat yang membanjiri rambut, wajah dan tubuhnya.
Dengan telaten, sosok yang tak Yoongi harapkan untuk muncul dihadapannya sekarang ini, menghapus bulir-bulir keringat di wajah tampannya sementara si pemilik wajah tampan itu hanya mampu memandangi wajah manis bak malaikat yang saat ini berdiri di depannya dengan jarak yang terlampau dekat.
"Minumlah," ujarnya setelah selesai menghapus keringat Yoongi dan menyodorkan sebotol mineral padanya. Yoongi menerimanya tanpa banyak bicara dan meminum air itu sampai setengah botol.
"Kenapa kau disini?" tanya Yoongi akhirnya membuka suara.
"Kenapa? Kau tidak suka melihatku disini?" sosok manis di depannya ini justru balik bertanya.
"Jimin~" Yoongi memperingati yang hanya dibalas senyuman teramat manis dari seorang yang memang adalah Park Jimin.
"Aku hanya mengatakan jujur, hyung." lanjut Jimin beralih duduk di tempatnya berdiri disusul oleh Yoongi yang turut duduk disampingnya. Dengan berani, Jimin meletakkan kepalanya pada bahu Yoongi yang membuat Yoongi seketika menoleh kearah si manis namun tetap hanya diam dan membiarkan segala yang ingin dilakukan Jimin kepadanya. "Kau tidak mengatakan apa-apa setelah melihatku kembali." tutur Jimin membuat Yoongi mengulas senyum kecil.
"Salahmu sendiri juga tidak mengatakan apa-apa padaku," balas Yoongi membela diri.
"Kau menyalahkanku?" lirih Jimin.
"Aku tidak. Aku hanya kesal padamu." Jimin terdiam. Justru ia semakin menyamankan kepalanya yang bersender pada bahu Yoongi. "Dan lagi—kenapa kau ada disini? Kau bolos?"
"Dan, kenapa kau juga disini, hyung? Kau sudah kelas tiga. Tidak baik membolos pelajaran." pesan Jimin menjawab pertanyaan Yoongi yang ketara sekali sedang mengalihkan pembicaraan.
"Salahkan dirimu kalau begitu." Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi yang juga tengah menatapnya.
"Kenapa aku lagi?"
"Karena memang—kau yang menjadi alasanku kenapa aku berada disini, Park Jimin."
"hyung—"
"Aku benar-benar penasaran padamu, kenapa kau selalu berhasil memporak-porandakan hatiku?" tanya Yoongi memandangi wajah Jimin lamat-lamat. Sementara yang dipandang melempar jauh tatapannya asal tidak jatuh pada kedua mata tajam Yoongi.
"Jimin." panggil Yoongi. Jimin hanya berdehem namun tak membuatnya untuk mengalihkan pandangannya pada Yoongi sampai membuat Yoongi sedikit gemas untuk meraih dagu Jimin dan membuat kedua mata mereka bertemu dan saling bertatapan dalam.
"Ijinkan aku untuk memastikan satu hal padamu," izin Yoongi mendekatkan wajahnya pada wajah Jimin hingga Jimin sendiri bisa merasakan aroma tubuh Yoongi yang begitu memabukannya. Perlahan, Jimin menutup kedua matanya ketika bibir keduanya nyaris bersentuhan dan nyaris menempel satu sama lain jika saja keduanya tidak mendengar deheman keras yang membuat Jimin menyadarkan kembali akal sehatnya dan mendorong tubuh Yoongi secara refleks.
"Aku tidak ingat sejak kapan tempat ini dijadikan tempat mesum, Yoongi-ssi!" sindir sosok yang sangat Yoongi ketahui siapa pemilik suara orang ketiga itu. Yoongi berdecak, ia berdiri di samping Jimin dan dengan sekali gerakan menarik pinggang Jimin intim seolah tengah menunjukkan pada pria di depannya jika Jimin adalah miliknya. Sementara, Jimin hanya dibuat salah tingkah karena sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan Yoongi. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk merasa bersenang hati mengingat si ketua dewan siswa tengah menatap penuh intimidasi kearah Yoongi dan ia yakin, ini bukanlah pertanda baik.
"Dan aku tidak ingat jika telah mengundangmu kemari, Doojoon-ssi?" remeh Yoongi sengaja meremat pinggang ramping Jimin di depan Doojoon yang hal itu tentu saja membuat Jimin sedikit merasa risih. Sesungguhnya, ia risih bukan karena Yoongi yang merengkuhnya intim melainkan tatapan Doojoon yang seolah akan menelanjanginya detik ini juga.
"hyung, aku rasa—aku harus kembali ke kelas." bisik Jimin tak enak hati.
"waeyo?" tanya Yoongi berpura-pura tak mengerti dengan sikap Jimin. "ah~ apa karena ada pengganggu ini?" sindir Yoongi.
"Min Yoongi!" geram Doojoon kesal bukan main. Yoongi mendecih, ia melepas rengkuhan Jimin dan menyempatkan untuk mencium pipi gembil lelaki manisnya di depan Doojoon yang saat ini seluruh wajahnya memerah entah karena amarah atau cemburu. Yang jelas, ia benar-benar membenci Min Yoongi detik ini juga.
"Pergilah. Aku akan menemuimu nanti." lirih Yoongi yang entah kenapa diangguki Jimin.
Jimin berjalan melewati Doojoon dan menyempatkan diri untuk mengatakan,
"Maaf atas ketidak-nyamanannya, sunbaenim." sesal Jimin menunduk yang sayangnya hanya diabaikan oleh Doojoon yang masih menatap tajam kearah Yoongi. Jimin menggigit bibir bawahnya dan segera bergegas meninggalkan lapangan basket yang entah kenapa terasa mencekam sejak kedatangan sang ketua dewan siswa.
Sepergian Jimin, Yoongi melangkah mendekati Doojoon dan menyeringai penuh kemenangan.
"See! Kau lihat, sehebat apapun dirimu, sepintar apapun seorang Yoon Doojoon, pada akhirnya Park Jimin akan tetap memilih diriku. Bahkan, sejauh apapun dia pergi, dia juga akan tetap kembali padaku. Jadi, jangan berharap kau bisa memilikinya dan mendapatkannya!" tutur Yoongi percaya diri yang justru dibalas senyum miring menyebalkan dari Doojoon.
"Kalau begitu—bagaimana jika begini?" balas Doojoon yang kali ini penuh keyakinan untuk mengatakan, "Ia memang selalu memilih dirimu dan kembali padamu… tapi, hanya sebatas sebagai teman kecil. Jadi, aku katakan untuk pertama dan terakhir kalinya padamu, Yoongi-ssi. Jangan terlalu percaya diri jika kau sendiri tidak tahu hati siapa yang akan Jimin labuhi." Yoongi mengepalkan kedua tangannya, tergoda untuk membuat lebam pada wajah tampan Doojoon.
"Aku sarankan padamu untuk tidak terlalu menyukainya atau jatuh lebih dalam pada pesonanya jika kau tidak ingin menyakiti hatimu sendiri!" ancam Yoongi. Doojoon tersenyum miring.
"Kalau begitu aku juga sarankan untuk tidak terlalu percaya diri jika pada akhirnya nanti Jimin justru tidak akan memilihmu. Kau tahu? Itu akan lebih menyakitkan dibandingkan apa yang aku rasakan jika nantinya Jimin memilihmu." pesan Doojoon yang kali ini senyum kemenangan tercetak jelas di wajah tampannya saat melihat wajah Yoongi yang mengeras dan memerah menahan amarah. Doojoon menepuk pundak Yoongi sekali sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan si cold prince seorang diri di lapangan basket itu.
Yoongi menghela nafas. Warna kulitnya yang putih pucat semakin memucat hanya karena memikirkan segala kemungkinan jika pada akhirnya nanti Jimin memang tidak ditakdirkan untuknya. Atau bahkan hanya menyukainya sebatas seorang teman kecil.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau yakin, akan menerima tawaran itu?" tanya Baekhyun, salah satu anggota club vocal pada Jungkook yang tetap mengangguk untuk kesekian kalinya atas pertanyaan yang sama. Saat ini, Jungkook berada di studio club vocal bersama keempat kakak kelasnya yang mana memiliki posisi sebagai main vocal seperti dirinya.
"nde, sunbae." balas Jungkook sopan, membuat ketiga main vocal menghembuskan nafas berat mereka bersamaan. Sementara, si ketua club hanya menggeleng jengah melihat kelakuan absurd ketiga rekannya yang selalu menanyakan pertanyaan yang jelas-jelas dijawab kalimat yang sama dari si narasumber.
"Tapi, kenapa?" kali ini pertanyaan keluar dari Woohyun.
"Aku hanya ingin mengasah kemampuan vocalku disana, sunbaenim. Lagipula, ini adalah kesempatan emas untukku." jelas Jungkook akhirnya mengutarakan alasannya, berharap dengan itu para sunbae-nya berhenti bertanya.
"Tapi, apa benar itu alasan utamamu? Bukan karena—keenam hyung-mu?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. Wajah Jungkook mengeras kala Kyungsoo yang sedari tadi hanya diam namun sekarang ini menyerukan hal sensitif yang menjadi alasan kenapa ia menjauhi keenam hyung-nya.
"t-tidak tentu saja—"
"Atau jangan bilang… ternyata kau belum mengatakan apa-apa pada mereka?" tuduh Baekhyun melihat wajah Jungkook yang berubah memucat. Oh-tidak, bisa gawat jika seluruh hyung-nya tahu jika ia memutuskan sepihak untuk menerima pertukaran pelajar selama satu tahun di New York.
"a-aku…"
Sret!
Jungkook tersentak kala sebuah tangan menarik tangannya agak kasar. Bahkan, tak hanya Jungkook yang terkejut dengan kedatangan sosok yang mereka ketahui dengan benar, bahwa sosok itu tak berada di area studio club vocal sebelumnya.
"hyung—"
"Maaf sunbaenim, tapi aku pinjam Jungkook sebentar." potong seseorang yang tiba-tiba muncul dan menarik tangan Jungkook kasar tanpa berniat untuk menunggu jawaban dari keempat sunbae-nya.
"Tae hyung, aku—" seseorang yang tak lain adalah Taehyung itu seakan tuli dan tak memperdulikan segala ringisan yang keluar dari belah bibir Jungkook akibat tarikan tangannya yang tak bisa di bilang lembut.
"hyung, aku—"
Mengabaikan tatapan heran dari para siswa-siswi yang tak sengaja berpapasan dengannya, Taehyung tetap menarik kasar Jungkook dan membawanya menuju gedung asrama hingga keduanya sampai di ruang rekreasi dimana ketiga hyung Jungkook berada.
Taehyung menghempaskan tubuh Jungkook kasar yang hal itu membuat Seokjin, Jimin serta Hoseok langsung berdiri dan membantu Jungkook berdiri, bersamaan dengan datangnya Yoongi dan Namjoon yang juga menyaksikan bagaimana kasarnya Taehyung memperlakukan Jungkook tanpa alasan-menurut mereka tentu saja.
"Tae, apa yang kau lakukan?!" seru Jimin menatap tajam Taehyung.
"Seharusnya kau tanya padanya!" Taehyung meninggikan suaranya dengan pandangannya yang tak lepas dari Jungkook, sementara yang ditatap hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Apa yang Jungkook lakukan sehingga membuatmu bersikap kasar padanya?" tanya Jimin, Taehyung mengalihkan pandangannya pada Jimin dan berjalan mendekati pemuda manis itu.
"Kau tahu—adik kesayanganmu ini memutuskan untuk menerima pertukaran pelajar di New York satu tahun tanpa merundingkannya pada kita." desis Taehyung yang mendapat respon kejut dari kelima hyungnya yang lain.
"Apa itu benar Jeon Jungkook?!" tanya Seokjin menatap Jungkook yang kedua bahunya bergetar, terisak.
"Jungkook, jawab pertanyaanku!" seru Seokjin tak sabar dan samar-samar dapat mereka lihat Jungkook mengangguk kaku.
Seokjin menggeleng tak percaya, Namjoon dan Hoseok yang menatap Jungkook tak habis pikir, Jimin yang mendengus kecewa, serta Yoongi yang diam saja.
"Kenapa kau melakukan ini?! Apa kau tidak menganggap kami?" seru Hoseok yang kali ini tak bisa lagi menahan emosinya yang biasanya paling terkontrol diantara mereka semua.
Jungkook tetap diam dengan bahunya yang bergetar.
"Jawab jika kami bertanya Jeon Jungkook!" paksa Hoseok yang membuat Jungkook berjengit takut.
"hyung, jangan membentaknya! Kau membuatnya takut." bela Jimin yang justru membuat Jungkook menggigit bibir bawahnya kencang.
"ya! Terus saja bela dia Park Jimin! Kami membiarkannya menjauhi kami, bersikap dingin pada kami. Tapi, tidak dengan keputusan sepihaknya ini." Jimin memijat pelipisnya sabar.
"ya, kau benar—kita memang sudah sepantasnya marah. Dan, orang yang paling marah diantara kita seharusnya AKU! Aku yang seharusnya paling marah pada bedebah kecil ini, hyung!" keenam orang itu terdiam kala untuk pertama kalinya mereka melihat bagaimana mengerikannya Park Jimin yang dikuasai emosi.
"Dan, kau Jeon Jungkook! Apa keputusanmu ini karena aku yang tiba-tiba muncul disini? Kau tidak menyukai kehadiranku? Maka dari itu kau pergi?" Jungkook seketika mendongak dan menggeleng cepat.
"Tidak hyung, tidak! Sungguh, bukan itu maksudku!" sela Jungkook diiringi isakan dengan kedua matanya yang memerah sembab. Jimin menyeringai, pancingannya tepat sasaran.
"Lalu, apa maksudmu?!" kali ini Seokjin yang bersuara. "Sebegitu inginnya kah kau menjauhi kami?" Jungkok menggeleng lagi.
"Aku mohon jangan salah paham padaku hyung—"
"Bagaimana kami tidak salah paham padamu, jika kau berniat pergi tanpa merundingkannya dengan kami?!" potong Taehyung menatap Jungkook tajam. Jungkook memberanikan diri untuk membalas tatapan Taehyung, bermaksud untuk melunakkannya namun sayang, Taehyung terlalu kuat untuk Jungkook tembus.
Jungkook menunduk, mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin sekali menyerukan keluh-kesahnya pada keenam hyungnya, mengatakan segala hal yang mengganggunya.
"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?" Yoongi yang berujar yang membuat lainnya kecuali Jungkook menoleh kearahnya.
"Selesaikan masalah kalian, dan jangan bersikap kekanakan!" sindir Seokjin yang menjadi orang pertama yang pergi meninggalkan ruang rekreasi.
Hoseok menarik nafas berat, ia melangkah mendekati Taehyung dan menarik tangan pemuda itu kasar untuk meninggalkan ruang rekreasi seperti apa yang diminta Yoongi dari mereka.
"Aku pergi, hyung." Namjoon berpamitan pada Yoongi yang hanya diangguki kecil olehnya. Hingga tinggallah Jimin satu-satunya orang yang belum meninggalkan ruang rekreasi dan hanya memandangi Yoongi dan Jungkook bergantian.
"Jika kau masih memutuskan untuk pergi, jangan harap kita bisa bertemu lagi, Jeon Jungkook." lirih Jimin datar yang membuat Jungkook meremang. Nada bicara Jimin persis seperti ketika Jimin masih mengalami amnesia, dan itu tandanya Jungkook hanyalah orang asing bagi Jimin. Jimin berlalu meninggalkan kedua sepupu yang tak pernah lagi dekat setelah mengetahui kebenaran yang mereka cari selama ini.
.
.
.
Sret!
"ehh!" Jimin memekik kala sebuah tangan menarik tangannya cepat dan menjongkokkan tubuhnya di balik dinding koridor menuju ruang rekreasi.
"ssst~ jangan berisik!" Seokjin, si penarik tangan mendesis memperingati membuat Jimin seketika mendongak dan mendapati tak hanya Seokjin yang ada disana, melainkan Hoseok yang berdiri di samping Seokjin serta Namjoon dan Taehyung yang berdiri di belakang. Namjoon yang hanya memasang wajah biasa-biasa-sajanya, sementara Taehyung yang masih memancarkan aura peperangan yang tampaknya belum susut sedikitpun.
"Kenapa kalian masih disini?" tanya Jimin berbisik.
"Menguping tentu saja." jawab Seokjin antusias.
"huh?!" Jimin mengerjapkan kedua matanya tak mengerti yang membuat Seokjin menghela nafas.
"Dengar Jimin sayang, bukankah kau juga ingin tahu apa yang akan Yoongi bicarakan dengan bocah labil itu?" Jimin mengangguk polos. "Dan apa kau mengharapkan mereka mengatakan pada kita terus terang nantinya?" Jimin berfikir sejenak dan menggeleng lugu. "Maka dari itu, jika kita tidak mendengarnya sendiri, kita tidak akan tahu apa yang akan mereka bicara. Dan astaga~ kenapa kau sangat menyeramkan tadi?" Jimin mengerut.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Jimin polos yang seketika tak hanya Seokjin yang dibuat terkejut, tetapi juga Hoseok, Namjoon, dan Taehyung yang menatap Jimin tak percaya.
"yaampun~ apa kau punya kepribadian ganda?" tuding Seokjin.
"mwo?" Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu seolah-olah tak menyadari jika beberapa menit lalu ia berubah menjadi manusia tergarang yang patut dihindari.
.
.
.
Yoongi berjalan mendekati Jungkook, tangannya terulur untuk mengangkat dagu Jungkook serta menghabus bulir-bulir air mata yang keluar dari ekor mata indah sang adik.
"Bukankah sebelumnya aku berjanji akan melindungimu?" tanya Yoongi. Takut-takut Jungkook membalas tatapan Yoongi. "Dan, kenapa kau memutuskan untuk pergi? Kau marah padaku? Pada ayahmu—atau pada takdir?" Jungkook menggigit bibir bawahnya dan dengan suara bergetar ia mengatakan,
"Aku hanya marah pada diriku sendiri." jawab Jungkook akhirnya.
"wae?" tanya Yoongi lembut dengan tatapannya penuh kasih seorang kakak kepada adiknya.
"Aku hanya berfikir, ini semua tidak adil untukku. Untuk kalian semua." Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Maksudku, kenapa kalian semua harus merasakan apa yang seharusnya aku rasakan? Kalian harus kehilangan orang yang kalian sayangi karena aku."
"hey~" panggil Yoongi memegang kedua bahu Jungkook dan sedikit meremasnya pelan. "Semua terjadi bukan karenamu. Apa kau ingat jika kau juga kehilangan seseorang yang amat kau butuhkan dan amat kau rindukan hingga sekarang?" tanya Yoongi. "Jadi, anggap saja kau sedang sial karena hartamu dicuri oleh bandit itu. Tapi, kau juga harus tahu ketika hartamu hilang, akan ada banyak pengganti yang datang secara tak terduga. Tapi, apa kau juga tahu—jika kau tidak menjaga harta itu, harta itu juga akan hilang tapi bukan karena bandit yang mengambilnya tapi karena kelalaianmu sendiri." Jungkook memejamkan kedua matanya mendengar kiasan Yoongi yang tepat sasaran.
Jungkook menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Menenangkan diri.
"Kau boleh melampiaskan marahmu pada kami, bersikap dingin pada kami, dan melakukan apapun yang kau inginkan pada kami. Tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan. Tidak boleh kami lakukan. Pergi—kau tidak boleh pergi dari kami."
"Kau benar hyung, aku sudah kehilangan hartaku sebelumnya. Dan aku tidak mau kehilangan hartaku kali ini." Yoongi tersenyum tipis dan mengusak surai Jungkook gemas.
"Jika tahu, kenapa berniat pergi?!" dan Yoongi tetaplah Yoongi bermulut tajam yang membuat Jungkook berjengit kaget karena berubah nada suara sang hyung.
"Aku terlalu kalut, hyung. Lagi pula aku malu bertemu dengan kalian, terutama denganmu." Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Aku belum terbiasa menganggapmu sebagai sepupuku."
Pletak!
Jungkook meringis kala dengan tidak berprikemanusiaannya Yoongi menjitak kepala Jungkook sadis.
"Aku benar-benar ingin mengirimmu ke Antartika, Jeon!" desis Yoongi kesal bukan main dan Jungkook hanya menujukkan cengirannya. Yoongi terkekeh kecil, sudah lama rasanya tidak melihat wajah bersinar dari adik kecilnya itu.
"aigoo~ kalian manis sekali." kagum Seokjin yang membuat kedua sepupu itu menoleh. Jungkook mengerjapkan kedua matanya terkejut sementara Yoongi berdecak.
"Dasar tukang nguping!" sindir Yoongi pada kelima temannya yang entah sejak kapan sudah berada di ruang rekreasi.
"eyy~ kami tidak menguping tuan Min, kami hanya memastikan jika bocah labil itu berubah pikiran." lanjut Seokjin membela diri.
Jungkook berjalan mendekati kelima hyungnya yang lain.
"hyung, maafkan aku…" sesal Jungkook menatap kelima hyungnya takut-takut.
"Kau benar-benar menyesal?" tanya Namjoon. Jungkook mengangguk. "Dan, kau tidak akan pergi?" Jungkook menggeleng. "Baguslah kalau begitu." Namjoon menepuk kepala Jungkook dan memberikan senyum tampannya sebelum berlalu menuju sofa yang ada di ruang rekreasi dengan langkah ringan.
"hyung—"
Grep!
Jungkook terperanjat ketika Seokjin berhambur dan memeluknya erat.
"Jangan memutuskan hal-hal bodoh lagi adik kecil, kau tahu kami selalu ada disini untukmu." Jungkook mengangguk paham dan membalas pelukan Seokjin. Seokjin melepas pelukan Jungkook dan menatap sang adik dengan senyum cantiknya. "Dan, berhenti menjauhi kami. Itu keputusan mutlak dariku, mengerti?!" Jungkook mengangguk.
"Terima kasih, hyung."
"aigoo~ Jungkookie, aku akan membantumu packing-packing dan menyiapkan segala keperluanmu di New York nanti. Oh, jika perlu aku akan mengantarmu sampai sana dengan selamat." sindir Hoseok yang membuat Jungkook mempoutkan bibirnya kesal.
"hyung, jangan mengejekku." Hoseok terkekeh.
"Aku sungguh-sungguh akan membantumu jika kau masih ingin pergi." Jungkook menggeleng.
"Maafkan aku." sesal Jungkook. Hoseok tersenyum tampan.
"Entahlah, aku rasa sulit untuk memaafkanmu." canda Hoseok.
"hyung~" rengek Jungkook yang membuat Hoseok tergelak.
"arra arra… aku hanya bercanda, lain kali jika ingin kabur jangan diam-diam, ajak aku jika perlu."
"Itu namanya bukan kabur, hyung!" gemas Jungkook kesal. Hoseok terkekeh dan mengusak surai Jungkook gemas.
"arra arra, aku hanya berdoa semoga kau bisa melewati dua orang dibelakangku." kode Hoseok yang membuat Jungkook semakin merengut.
"hyu—"
Bahkan, belum sempat Jungkook bicara, Taehyung sudah memutuskan untuk berbalik badan dan meninggalkan ruang rekreasi yang hal itu tentu saja membuat kedua mata Jungkook membulat kecewa sementara Yoongi, Seokjin, Namjoon, Hoseok serta Jimin tak bisa menyalahkan atas sikap dingin Taehyung pada Jungkook.
Jungkook menunduk dan Jimin yang berjalan mendekat. Diangkatnya dagu Jungkook dan ditatapnya kedua manik sendu sang adik.
"Aku tidak tahu, jika keadaannya akan separah ini. Aku kira, semuanya sudah baik-baik saja. Tapi tidak—seharusnya aku tahu, jika tidak mudah bagimu untuk menerima semua kenyataan ini. Maafkan aku, Jungkook-ah~" sesal Jimin, Jungkook menggeleng cepat dengan kedua matanya yang kembali mengeluarkan air mata saat melihat sorot mata kecewa muncul diantara manik sipit sang hyung.
"Tidak hyung, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Kau adalah korban sesungguhnya dari semua ini melebihi aku, Yoongi hyung bahkan Namjoon hyung. Maafkan aku, karena kau kehilangan keluargamu dan mengalami hal menyakitkan selama ini. Maafkan aku, hyung. Maafkan aku…" sesal Jungkook. Jimin mengulas senyum manis seraya mengusak surai Jungkook yang berwarna cokelat madu.
"Semuanya sudah selesai Jungkook-ah. Dan tak sepatutnya kau menyesali semua itu. Mereka semua sudah tenang di alam sana. Jadi, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Maka dari itu, bisakah kau berhenti berfikir kekanakan dan memutuskan sesuatu yang membuat kami semua naik pitam?" sindir Jimin dan Jungkook tersenyum malu.
"hm, tapi—kau memaafkanku 'kan hyung?" Jimin tampak berfikir sejenak.
"Apa boleh buat."
"Kau terpaksa, hyung?" Jimin menarik nafas, adik kecilnya ini sedang merajuk.
"tidak-tidak. Tidak tentu saja. Hanya saja—aku masih sedikit kesal. sedikit, hanya sedikit." Jimin menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang terbenggang sedikit dihadapan Jungkook yang membuat si kelinci terkekeh, terhibur.
"Terima kasih, hyung." Jungkook menghambur memeluk Jimin membuat para hyung yang melihatnya turut senang dan tersenyum kecil. "Aku takut, jika kau marah lagi padaku."
"yah~ setidaknya tinggal satu bocah lagi yang tampaknya sulit untuk kau taklukan." bisik Jimin. Jungkook menghela nafas.
"Kau benar, hyung. Dan, aku sangat merasa bersalah padanya."
.
.
.
.
.
.
.
Langit mulai senja, menandakan matahari perlahan tenggelam dan bergilir untuk menyinari belahan bumi yang lain. Jimin, berdiri manis dipinggir pagar pembatas yang mengelilingi rooftop gedung asramanya. Tersenyum kagum melihat keindahan alam yang terpampang nyata di depannya hingga tak menyadari jika ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati segala gerak-geriknya.
"Apa perlu kita mengklaim tempat ini menjadi tempat privasi kita?" tanya Yoongi yang memang sudah disana sekitar 10 menit yang lalu dan hanya sibuk mematai Jimin dari belakang. Jimin menoleh dan tersenyum amat manis melihat Yoongi yang datang dan berdiri di sampingnya.
"Melihat matahari terbenam, bukankah itu romantis, hyung?" tanya Jimin girang. Yoongi tersenyum kecil dan berniat untuk menggoda si manis.
"tidak! Biasa saja menurutku." Jimin mempoutkan bibirnya kesal dengan respon Yoongi yang tak sesuai harapannya.
"Kau memang tidak romantis, hyung." celutuk Jimin, Yoongi terkekeh kecil.
"Apa kau sangat menyukai pria romantis?"
"Tentu saja. Orang mana yang tidak menyukai pria romantis. Pria romantis itu idaman semua orang."
"Jadi, menurutmu apakah ada pria romantis di sekolah ini?" tanya Yoongi menatap Jimin intens. Jimin menoleh dan membalas tatapan dari kedua mata tajam Yoongi seraya tersenyum manis.
"Tentu saja ada."
"Siapa?" tanya Yoongi penasaran tanpa sedikitpun berkedip menatap Jimin. Jimin mengulas senyum manis yang membuat Yoongi merasa akan mengidap diabetes detik itu juga.
"Bang Sihyuk ssaem." jawab Jimin yang kemudian membuat Yoongi tergelak bersama Jimin yang juga merasa jika jawabannya sangat lucu. Dan bagi Jimin, ia seolah terhipnotis dengan tawa Yoongi yang membuatnya terlihat semakin tampan berkali-kali lipat hingga tanpa sadar membuatnya jatuh ke dalam pesona misterius si cold prince tersebut.
"Apakah tipe idealmu adalah Bang ssaem?" tanya Yoongi masih tertawa. Jimin memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa, kedua matanya juga tak mau terbuka.
"oh, apa kau tahu hyung, Bang ssaem adalah idaman semua orang…" dan lelucon Jimin ini lagi-lagi membuat Yoongi tertawa lantang dan merasa puas karena telah menistakan kepala sekolah mereka.
"oh, dia memang idaman semua orang. Tidak ada seorang pun yang tidak jatuh pada pesonanya." Jimin mengangguk setuju.
"Bahkan kau tahu, hyung? Bibi Kim, chef kita juga penggemar nomor satunya. Semua orang mengidolakannya." Yoongi terkekeh.
"Kau benar. Bahkan aku yakin, jika Bang ssaem adalah siswa maka popularitasnya pasti melebihi si perusuh sekolah ini." Jimin menghentikan tawanya dan menoleh tajam kearah Yoongi.
"Kau menyindirku, hyung?" Yoongi mengangkat sebelah alisnya.
"Kau merasa tersindir, sayang?" dan sialnya nada menggoda itu membuat kedua pipi Jimin merah merona sempurna. Oh-sial, ini memalukan. Jimin membuang muka sementara Yoongi tertawa puas tanpa tahu jika saat ini jantung Jimin berdetak maraton karena panggilan sayang yang Yoongi sematkan untuknya.
"Jimin…" panggil Yoongi setelah keheningan menyelimuti mereka dan setelah tak ada lelucon yang mereka lontarkan satu sama lain. Jimin menoleh dan menatap wajah tampan Yoongi yang terdapat bekas luka samar di dekat alis kirinya.
"nde hyung?" sahut Jimin penuh perhatian.
"Apa arti aku bagimu?" tanya Yoongi menatap Jimin intens. Jimin terdiam, merangkai puluhan kata untuk menjadi kalimat yang setidaknya adalah jawaban yang Yoongi inginkan.
Jimin kemudian tersenyum, ia memberanikan diri masuk ke dalam kontak mata Yoongi dan memandangnya lembut.
"Kau teman kecilku." Jimin bersuara dan entah kenapa Yoongi merasakan hatinya mencelos. Apa yang dikhawatirkannya selama ini telah menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Yoongi tersenyum kecil. Sudah cukup untuknya atas jawaban yang Jimin berikan.
"Begitu…" respon Yoongi sekenanya. Yoongi tersenyum singkat. Ia mendongak kearah langit, melihat langit yang mulai menggelap.
"Sudah mulai malam. Udara malam tidak baik untukmu." Yoongi berbalik tanpa mengetahui jika Jimin tersenyum kecil atas sikapnya itu.
"Yoongi hyung!" panggil Jimin yang membuat langkah Yoongi terhenti namun tak membuatnya untuk berbalik badan.
"Kau memang teman kecilku." dan dengan teganya, Jimin mengulang kata laknat yang selamanya akan selalu tersemat diantara hubungan ia dan Yoongi.
"Kemudian kau menjadi hyungku." kali ini, ucapan Jimin bahkan lebih menyakitkan dari jawaban pertamanya.
"Tapi, aku menyadari jika kau berbeda dengan hyungku yang lain." tubuh Yoongi menegang, ia tidak ingin berharap tapi jauh dilubuk hatinya ia sangat berharap hal yang ia inginkan terucap dari belah bibir Jimin.
"Kau pangeran kecilku yang selalu menolongku dan menjagaku." dan ketika harapan Yoongi dihempaskan begitu saja oleh Jimin membuat pemuda tampan itu memejamkan kedua matanya merasakan bagaimana nyerinya hatinya saat ini.
"Dan, aku sangat berharap jika teman kecilku, hyungku serta pangeran kecilku juga bisa menjadi teman hidupku—selamanya." Yoongi terkekeh dan Jimin tersenyum manis. Yoongi menyisir rambutnya ke belakang dengan jantungnya yang berpacu semaunya. Dengan segera, Yoongi berbalik dan berjalan cepat kearah Jimin. merengkuh tubuh mungil pujaan hatinya dan—
Cup~
Mencium bibir tebal itu lembut dan penuh kehati-hatian. Jimin yang mendapat kejutan tak terduga dari Yoongi hanya bisa mengerjapkan kedua matanya lucu. Ia melihat kedua mata Yoongi yang terpejam dan bibirnya yang menyesap bibirnya atas bawah bergantian. Melihat Jimin tak merespon, membuat Yoongi berinisiatif untuk menyudahi ciuman singkat mereka. Yoongi menjauhkan bibirnya dari bibir Jimin namun tanpa di duganya, Jimin mengalungkan kedua tangannya pada leher Yoongi dan mengejar bibir Yoongi dan melumatnya berantakan.
Yoongi tersenyum dalam ciumannya dan mengambil alih untuk mendominasi dalam ciuman mereka petang itu. Ciuman kedua mereka dengan perasaan berbeda. Ciuman yang menyalurkan perasaan yang mereka berdua rasakan selama ini tanpa kebimbangan, tanpa keraguan yang ada hanya keyakinan untuk bersama setelah sebelumnya keduanya berhasil melewati berbagai peliknya masalah yang sempat merenggangkan hubungan keduanya.
Hampir sepuluh menit lumatan penuh kasih itu berjalan dibawah langit jingga. Jimin yang menunduk malu dengan seluruh wajah manisnya yang memerah sempurna sementara Yoongi yang tak hentinya menebar senyum tampannya.
Yoongi menarik tangan Jimin lembut dan membawa lelaki mungilnya ke dalam pelukannya seraya sesekali mengecup pucuk kepala Jimin.
"Mulai sekarang, jangan pernah dekat dengan lelaki ataupun gadis manapun, mengerti?" titah Yoongi. Jimin mendongak dengan kedua eye smile yang terlihat sangat menggemaskan di mata Yoongi. Yoongi mengecup bibir Jimin singkat sebelum Jimin bertanya,
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku tidak mau berbagi milikku dengan orang lain!" Jimin terkekeh.
"Memangnya aku siapamu? Kita hanya teman kecil, hyung." Yoongi mengerang frustasi.
"Dengar, Park Jimin, sayang…" Jimin menahan senyum malunya kala Yoongi menyebut panggilan 'sayang' padanya. Yoongi menatapi Jimin intens yang membuat Jimin salah tingkah. "Asal kau tahu saja, aku sudah mengklaimmu sejak kecil. Jadi, mulai sekarang biar kuperjelas bahwa kau adalah milikku dan aku adalah milikmu."
"Itu artinya?" tanya Jimin polos. Yoongi menggeram gemas.
"Kau masih tidak mengerti?" Jimin mengedikkan bahunya dan menatap Yoongi penuh tanya.
"Kau terlalu berbelit, hyung." Yoongi menghela nafas lelah.
"Bukankah yang aku katakan adalah kalimat sederhana yang dapat dengan mudah dicerna oleh otak pintarmu?" sarkas Yoongi. Jimin tertawa lantang.
"eoh! Kau benar-benar lucu, hyung."
"Jimin~" desis Yoongi. Jimin masih terkekeh. Dengan mesra, ia merangkul lengan Yoongi dan menyandarkan pundaknya di bahu lelaki tampan itu.
"Berjanjilah untuk tidak pernah melepas tanganku." pinta Jimin yang membuat Yoongi mengulas senyum tampan. Dengan sayang, ia merangkul pundak Jimin agar lelaki manisnya lebih merapat kepadanya.
"Tidak dan tidak akan pernah. Bahkan, jika kau berniat lari dariku sekalipun, aku tetap akan menahan tangan mungil ini untuk berada disampingku. Sampai kapan pun." Jimin mendongak, dikecupnya bibir Yoongi singkat.
"Saranghae hyung." bisiknya yang dibalas kecupan singkat di bibir Jimin serta Yoongi yang berbisik, "Nado, Jiminie…."
.
.
.
.
.
.
.
"hyung…" Jungkook berjalan cepat menyusul langkah besar Taehyung.
"Tae hyung!" panggil Jungkook lebih keras yang sayangnya tidak diindahkan sama sekali oleh lelaki tampan itu.
"Taehyungie hyung~" rengek Jungkook kesal bukan main. Dengan sisa tenaganya, ia berlari secepat kilat untuk menarik tangan Taehyung paksa.
Taehyung menarik nafas tanpa minat sementara Jungkook yang membungkuk untuk menetralkan nafasnya yang memburu. Dengan lembut, Taehyung melepaskan tangan Jungkook yang berada di pergelangan tangannya namun dengan secepat itu pula Jungkook menahannya lebih keras.
"Apa maumu?!" Taehyung menatap Jungkook tajam.
"Maafkan aku," sesal Jungkook menunduk, nyalinya menciut kala melihat tatapan tajam Taehyung yang ditujukan untuknya pertama kali.
"Untuk?" Jungkook mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata Taehyung dalam.
"Atas keputusan sepihakku." Taehyung tertawa sinis.
"Bukankah kau sudah mendapat maaf dari semuanya? Apa lagi yang kurang?"
"hyung~" lirih Jungkook sedih. "Jangan marah padaku."
"Marah? Aku tidak punya hak untuk marah padamu." Jungkook tertegun saat melihat bukan lagi tatapan tajam yang ditujukan Taehyung padanya, melainkan sorot penuh kekecewaan yang membuat Jungkook benar-benar menyesal telah melukai hati sang hyung kesayangannya.
"Lebih dari itu, aku lebih marah pada diriku sendiri." Jungkook terdiam dan Taehyung yang melepas pegangan tangan Jungkook di pergelangan tangannya. Jungkook kira, Taehyung akan pergi meninggalkannya tapi tidak, Taehyung justru meraih kembali tangannya dan menggenggamnya lembut.
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku harus memarahi diriku sendiri atas keputusanmu, yang seharusnya aku marah padamu. Tapi, tidak! Aku tidak bisa marah padamu. Aku hanya—kecewa," lirih Taehyung dengan nada suara rendah. Jungkook menatap Taehyung penuh memohon maaf.
"hyung, sungguh—maafkan aku." Taehyung menggeleng.
"Bisakah aku bertanya satu hal padamu?" pinta Taehyung. Jungkook mengangguk ringan. "Apa sebegitu beratnya beban yang kau tanggung saat ini? Apa sebegitu beratnya sampai tak bisa kau bagi bersama kami lagi? Apa sebegitu beratnya hingga kau memutuskan untuk pergi?" tuntut Taehyung beruntun. Jungkook menggeleng kacau dengan kedua matanya yang berkaca, menahan air mata.
"Tidak, hyung. Tidak!" seru Jungkook frustasi. "Aku hanya—" Jungkook menyelami kedua mata tajam Taehyung "Aku tidak ingin membebani kalian lagi." Taehyung menarik nafas, ditangkupnya wajah manis Jungkook dengan kedua tangan besarnya.
"Apa kau termakan omongan Joohyun dan siswa lainnya?"
"Tidak, hyung. Aku tidak—"
"Kau iya!" sela Taehyung tak sadar meninggikan suaranya. "Berhenti bersikap naïf, Jeon!"
Tes!
Taehyung tersentak. Ia melunakkan ekspresi wajahnya kala melihat air mata Jungkook yang turun begitu saja dari ekor matanya. Jungkook menatap Taehyung tegas, tak memperdulikan air matanya yang terus keluar tanpa bisa ia hentikan.
"Jungkook-ah…"
"Rasakan jika kau menjadi aku, hyung! Bayangkan jika kau berada di posisiku! Sungguh, hyung—jika kau tahu aku sama sekali tak keberatan mendapat cemooh dari semua orang. Sama sekali tidak! Tapi aku—apa kau lupa siapa yang menjadi penyebab Yoongi hyung kehilangan ibunya? Jimin hyung kehilangan keluarganya? Dan Namjoon hyung yang harus mengalami hal mengerikan selama beberapa tahun silam? Karena siapa? Karena aku, hyung!"
"Tidakkah kau juga melihat dirimu sendiri?"
"huh?"
"Kau kehilangan ibumu tepat di hari kelahiranmu. Karena siapa? Karena bajingan itu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu, Jeon Jungkook! Sadarlah jika kau juga korban disini. Dan, tidak ada yang menginginkan semua hal ini terjadi!" Jungkook terdiam, ia menundukkan kepalanya dengan bahunya yang bergetar membuat Taehyung menarik tubuh Jungkook ke dalam dekapan hangatnya.
"Mulai sekarang, katakan segala keluh kesahmu kepada kami, kepadaku. Bahkan, jika ada yang menggunjingmu, aku akan berada di barisan pertama untuk menghajarnya!" bisik Taehyung menyeramkan.
"Aku bukan anak kecil lagi, hyung." lirih Jungkook. Taehyung mengangkat sebelah alisnya terkejut.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Taehyung. Jungkook yang sudah mulai tenang mengeratkan pelukannya pada tubuh besar Taehyung dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang lelaki tampan itu.
"Jangan marah lagi, hyung. Aku janji, aku tidak akan berulah." Taehyung terkekeh. Dikecupnya pucuk kepala Jungkook penuh sayang.
"Kau sudah janji, dan baiknya kau tepati!" Jungkook tersenyum dalam pelukannya dan mengangguk samar.
"Aku janji."
"Dan, bolehkah aku meminta satu janji lagi darimu?" Jungkook mengangkat wajahnya untuk melihat wajah tampan Taehyung.
"Katakan, hyung."
"Mulai sekarang—berjanjilah untuk bergantung padaku. Apapun itu. Aku hanya ini kau percaya padaku, bahwa apapun yang terjadi—aku akan selalu bersamamu, disampingmu, menemanimu. Jadi bisakah?" Jungkook tersenyum manis.
"Aku harap, kau tidak menyesal dengan permintaanmu, hyung." balas Jungkook yang direspon dengan kecupan ringan di dahinya oleh Taehyung.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana cafeteria malam itu, ramai seperti biasanya. Para siswa-siswi yang menghabiskan makan malam mereka dengan berbagai menu lezat yang disajikan bibi Kim yang rasanya sekalipun tak pernah mengecewakan lidah. Selalu membuat mereka ketagihan lagi dan lagi. Termasuk, empat orang siswa yang kini sedang menikmati hidangan makan malam mereka, mengabaikan berbagai bisikan serta lirikan yang terus tertuju pada keempatnya.
"Apa ada yang aneh dari kita?" tanya Seokjin pada ketiga teannya yang berkumpul bersamanya malam ini, Namjoon, Taehyung dan Jungkook.
"Mereka hanya iri, hyung!" sahut Taehyung acuh.
"Tapi, itu sungguh mengganggu." tutur Jungkook risih.
"Kau tidak nyaman?" tanya Taehyung perhatian membuat tatapan selidik kini muncul dari Seokjin maupun Namjoon.
"Tentu saja, hyung. Aku merasa seperti baru keluar dari penjara dan—" Jungkook beralih menatap Seokjin dan Namjoon yang duduk dihadapannya bergantian. "Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Bagaimana cara kalian berdamai?"
"huh?" Jungkook mengerjapkan kedua matanya tak mengerti dengan pertanyaan Namjoon. Sementara, Seokjin dan Taehyung terkekeh melihat wajah blank Jungkook yang sangat menggemaskan.
"Siapa yang berdamai? Kami bahkan tidak bertengkar. Iya 'kan, Jungkookie?" Jungkook mengangguk polos.
"Ck! Dasar bocah labil!" cibir Namjoon yang diacuhkan Taehyung begitu saja.
"Oh! Dimana Yoongi, Jimin dan Hobi hyung?" tanya Jungkook kemudian.
"Hobi mungkin sedang perjalanan kemari. Kau tahu? Dia sangat sibuk mengurus segala sesuatu untuk liburan club dance. Ah, aku iri sekali mereka bisa menang." tutur Seokjin merengek.
"Kalau Yoongi hyung dan Jimin, mungkin mereka sedang di atap. Bicara serius dan melontarkan rasa rindu." sambung Taehyung diiringi tawa ejek dari Namjoon.
"oh, Yoongi hyung itu mellow sekali." Taehyung mengangguk setuju.
"Kita hanya menunggu waktu, sampai kapan Jimin akan betah bersama dengan manusia es itu apalagi Yoongi hyung belum juga melakukan confess pada Jimin." ujar Taehyung heran yang sedetik kemudian ia menarik sudut bibirnya membentuk seringai tampan. "Mau taruhan, hyungie?" tawar Taehyung pada Namjoon yang seketika mengangkat sebelah alisnya yang disusul kekehan tak percaya sementara Seokjin dan Jungkook yang menatap keduanya bingung.
"Satu minggu." tutur Namjoon kemudian. Taehyung menggeleng tak setuju.
"Satu minggu? Itu terlalu lama. Aku bertaruh, satu hari kemudian Jimin akan langsung berpaling." balas Taehyung diiringi tawa renyah dari Namjoon.
Plak!
Plak!
Kedua lelaki tampan itu terhenyak dengan geplakan yang mereka terima secara tiba-tiba membuat Seokjin dan Jungkook terkekeh setelah melihat siapa pelaku penggeplakan kepala tak berdosa dua lelaki tampan itu.
Taehyung dan Namjoon sama-sama membulat horror, kala melihat siapa orang yang menjitak kepala mereka masing-masing. Taehyung yang melihat Yoongi-si pelaku- penggeplakan Namjoon sedangkan Namjoon yang melihat Jimin-si pelaku- penggeplakan Taehyung.
Kedua orang yang sedang mereka bicarakan sedari tadi, mengambil tempat duduk dengan Yoongi yang memilih untuk duduk di samping Namjoon dan Jimin di samping Taehyung.
"Apakah aku baru saja mendengar kau menyebut namaku, Taehyung-ssi?" tanya Jimin menoleh kearah Taehyung yang menggaruk tengkuknya salah tingkah. "hy Kook, hy Jin hyung…" sapa Jimin tersenyum manis.
"Kenapa kau tidak menyapaku?" Namjoon tak terima. Jimin mencebikkan bibirnya lucu.
"Apa aku harus menyapa orang yang membicarakanku di belakangku?" sarkas Jimin yang membuat mau tak mau Taehyung dan Namjoon tertawa kecil.
"Jadi, apa kalian baru saja membuat lelucon tentangku dan Jimin?" tanya Yoongi penuh intimidasi.
Taehyung dan Namjoon menggeleng tapi tidak dengan Seokjin dan Jungkook yang tampaknya tidak berniat untuk melakukan apa yang kedua lelaki tampan itu lakukan.
"eoh, mereka tadi membicarakan kalian." sahut Seokjin yang membuat Taehyung dan Namjoon membulat horror belum lagi ketika Jungkook dengan polosnya mengatakan,
"Bahkan mereka membuat taruhan."
"mwo?!" Jimin yang memekik sedangkan Yoongi menyipitkan kedua matanya menatap Namjoon serta Taehyung dingin.
"Taruhan apa?" tanya Jimin ribut mengabaikan Taehyung dan Namjoon yang berkeringat dingin, oh-ayolah… bagaimanapun juga mereka tidak berniat untuk mati muda. Terlebih, itu di tangan Min Yoongi.
"Taruhan tentang—"
"YAK! YAK! YAK!" diam-diam, kedua lelaki tampan yang sedang menjadi terdakwa hari ini menghela nafas lega sekaligus berterima kasih saat mendengar suara heboh Hoseok yang berlari terburu kearah meja mereka.
"wae-wae-wae?" tanya Seokjin merespon cepat sementara Hoseok yang terengah dengan wajah tampannya yang berpeluh.
"Kalian tahu? Kalian tahu?" sergah Hoseok antusias.
"Ck! Apa kau pikir, kami cenayang?" decak Yoongi kesal. Hoseok nyengir tanpa merasa bersalah.
"Aku membawa berita baik untuk kalian!" Hoseok memekik seraya menarik kursi dari meja lain agar ia bisa bergabung bersama keenam teman kecilnya. "Kalian tahu?" tanya Hoseok lagi yang kali ini tidak hanya Yoongi yang menatapnya tajam melainkan kelima lainnya yang mulai menatap Hoseok jengah. Hoseok tersenyum kecil. Ditatapnya keenam sahabat kecilnya satu per satu sebelum mengatakan sesuatu yang membuat mood keenamnya berangsur membaik dengan perasaan lega teramat.
"Nam Goong Won dan antek-nya sudah dijatuhi vonis hukuman." tutur Hoseok yang direspon mimik keterkejutan dari keenamnya.
"Kau tahu darimana?" tanya Seokjin. Hoseok tersenyum bangga.
"Minseok hyung. Dia baru saja mengabariku. Dan kalian tahu?"
"Bisakah kau langsung mengatakannya tanpa bertanya kami tahu atau tidak?!" kesal Namjoon. Hoseok terkekeh ringan.
"mian-mian…, tapi yang lebih penting adalah bajingan Nam itu dijatuhi hukuman 25 tahun penjara plus denda sebesar 500juta won. Sementara, anteknya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara."
"Hanya 25 tahun?" tanya Taehyung tidak puas.
"hey man~ kau tahu berapa umur bajingan tua itu?" tanya Hoseok.
"Berapa memangnya?" tanya Seokjin.
"65," sahut Namjoon pelan.
"jinjja?" pekik Taehyung heboh.
"oh-belum tentu 'kan dia bertahan hidup selama 25 tahun dengan umurnya sekarang ini?" ujar Hoseok yang hanya diangguki oleh Seokjin dan Taehyung.
"Dan, kenapa kalian hanya diam saja?" tanya Seokjin yang menyadari kebungkaman Yoongi, Jimin dan Jungkook sejak mendengar berita yang Hoseok bawa. Ketiganya sama-sama diam dengan ekspresi tak terbaca, Jungkook terutama.
"Jujur saja, aku sedikit kurang puas dengan hukuman yang bajingan itu dapatkan. Aku berharap dia mendapat hukuman mati dan kurungan seumur hidup. Tapi, jika dipikir lebih lanjut lagi—aku rasa itu tidak adil karena dia mati tanpa merasakan penyesalan atas perbuatannya. Setidaknya, dengan adanya hukuman batasan ini—dia menyadari bahwa dia adalah iblis menjijikkan yang tak pantas untuk hidup." tutur Namjoon yang setidaknya ucapannya sedikit mempengaruhi Yoongi, Jungkook, dan Jimin. Terbukti, dengan ketiganya yang menatap kearahnya dengan wajah yang setidaknya sedikit berekspresi dibandingkan sebelumnya. Yoongi yang tersenyum miring, Jimin yang mengedikkan bahunya tak peduli serta Jungkook yang tersenyum lega.
"hyungdeul, bagaimana jika makan diluar?" ajak Jungkook tiba-tiba tanpa memperdulikan tatapan horror dari Seokjin, Namjoon, Hoseok, Yoongi dan Taehyung sedangkan Jimin yang tersenyum senang mendengar usul Jungkook barusan.
"oh! Aku setuju! Lagipula, sudah lama rasanya tidak mengadakan pesta kecil-kecilan. Bukankah kita harus merayakan hari ini?" sahut Jimin setuju dan Jungkook yang mengangguk antusias.
"Kau benar, hyung. Kita bisa minum soju diam-diam." bisik Jungkook yang dibalas tos kepalan tangan dari Jimin yang tentu saja disambut Jungkook dengan senang hati. "kajja, hyung… kita bersiap!" ajak Jungkook ia berdiri paling awal diikuti Jimin yang tak kalah antusias, meninggalkan kelima hyung mereka yang memasang wajah blank di tempat duduk mereka masing-masing.
"yak! Ingatkan aku, jika dua perusuh itu belum juga musnah dari sekolah ini." tutur Seokjin geram bukan main.
tbc
ALOHAAA...
Ada yang kangen ff ini kah? Atau ada yang udah bosen? Maap banget banget banget baru up. Hm, aku tahu pasti mulai boring ya karna gak end-end. Apalagi aku-nya juga udah lama update. Maafkan diriku ya reader-deul, :(
Hm, tapi bagi yang masih pengen baca sebagai penghibur lara, eaaaa... ini OOTW enggak panjang-panjang kok. Mungkin sekitar 5/6-an chapter. Yah... walaupun emang lama up-nya tapi tenang aja aku tetep bakal lanjut kok. Makasih yang udah suport, dan selalu ngingetin lewat PM, wah... aku terharu masih ada yang nungguin ff ini. Kamsahamnida yeorobeon...
.
.
p.s : buat kemarin yang request OS, YoonMin, NamJin, sama VKook lewat review atau PM, sabar ya... lagi otw, kkkk. Aku usahain, aku post dalam waktu dekat. Doain aja semoga enggak ada deadline lagi, huhuhu... akhir tahun malah padet. Terima kasih atas antisipasinya dan kesabarannya selalu...
.
See you in next chapter,
Kamsahamnida,...
