saya cuma pinjam karakternya, tidak ada keuntungan materiil dari pembuatan fanfiksi ini, dan selamat membaca juga bersenang senang!
"Permisi." Go Nam-soon mengetuk pintu ruangan pak Kang Se-chan, dan mendapati seorang cewek sedang duduk didepan gurunya. Ya, siapa lagi sih kalau bukan Song Ha-kyung?
"Bapak memanggil saya?"
"Nah, Go Nam-soon, kemari." Kang Se-chan mempersilakan cowok dengan kulit putih―yang seperti penderita albino, karena putih banget njirr―itu duduk disebelah perempuan jutek yang terlebih dulu duduk disitu.
"Kenapa bapak memanggil saya bersama dia segala, sih, pak?" Oke, Ha-kyung memang tipe blak-blakan, Nam-soon sudah paham yang begituan. Paham banget.
Kang Se-chan menatap bergantian wajah kedua anak muridnya yang kini lagi-lagi menjadi anak didiknya. Iya, pak Kang ini kembali mendapat kehormatan menjadi wali kelas. Dan sekarang, ia menemui anak-anak yang sama, si pembuat kekacauan, mantan anak kelas 2-2.
Yang sekarang sudah menjadi anak kelas 3-2.
"Kalian sudah kelas berapa sekarang?"
"Tiga." Jawab keduanya ogah-ogahan.
"Berarti waktu kalian di sekolah menengah tidak banyak, kan?"
"Ya." Jawab keduanya lagi.
Please deh, ini seperti menanyakan sesuatu ke anak SD. Langsung ke intinya aja sih!
"Begini," Kang Se-chan seperti bisa mendengar keluhan Ha-kyung dalam hati, mengambil jeda beberapa tarikan nafas, "Song Ha-kyung, bapak ingin meminta tolong padamu."
"Bapak memintamu untuk mengajari Go Nam-soon beberapa mata pelajaran sampai Ujian Tengah Semester."
"APAA?" kedua mata anak muridnya langsung membulat dan tak dapat berkata-kata.
"Sederhananya, bapak ingin kau membantunya. Setidaknya sampai dia berhasil melewati awal kelas 3. Sisanya, tinggal bagaimana dia berusaha belajar."
Ha-kyung menggeleng tegas, "Tidak mau."
Eh?
Dengan postur duduk angkuhnya, Ha-kyung berdehem terlebih dahulu sebelum membeberkan beberapa alasannya, "Pertama, saya punya jadwal les yang cukup padat. Saya tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain. Karena duduk di bangku kelas 3 adalah hal yang penting juga buat saya."
Kang Se-chan mengangguk, sementara Nam-soon mendengarnya seperti orang mengantuk. Cepet bener dah ngomongnya nih cewek.
"Kedua, karena anak yang saya akan ajari adalah dia―Go Nam-soon―yang sangat bodoh. Maka waktu yang akan terbuang menjadi 3 kali lipat, karena kadar kecepatan menyerap ilmunya dibawah rata-rata."
Go Nam-soon melongo, "Eh?" Ia menunjuk dirinya sendiri dan berkedip tiga kali, "Aku bodoh?"
"Ketiga," Ha-kyung menatap Kang Se-chan tajam, "Mengajarinya sampai ujian tengah semester berarti saya harus menghabiskan waktu lebih sering dengannya. Ini bisa menjadi gosip yang tidak benar pak!"
Ruangan itu hening beberapa jeda.
Hanya deru pendingin udara yang mampu mengeluarkan suara.
"Bagaimana dengan semua nilai yang kau punya akan menjadi A jika Go Nam-soon―setidaknya―masuk 20 besar setelah hasil Ujian Tengah Semester dibagikan, dan itu berkat pengajaranmu?" Kang Se-chan membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum menang. Dasar serigala.
Ha-kyung melongo. Kenapa tawarannya mengiurkan sekali?
"Bapak mencoba menyogok saya?"
Si guru menggeleng dengan senyum, "Hanya menawarkan kesepakatan." Lalu dengan cepat menoleh kearah Nam-soon, "Habis bodohnya sudah tidak tertolong lagi."
Cowok itu menelan ludahnya, parah. Dia dikatai bodoh berkali-kali diruangan ini. Tega banget sih T.T
A pasti ia dapatkan hanya dengan mendorong anak ini dari peringkat 34, menjadi peringkat 20 bukanlah sesuatu yang sulit. Dengan A ia bisa memasuki universitas yang dia mau, tentu saja ia bisa mendapatkan nilai itu, tapi kalau sudah dijanjikan begini, masa mau nolak?
"A disemua mata pelajaran diujikan?"
"Ya."
Ha-kyung mengangguk. "Baiklah."
Kang Se-chan tersenyum, "bukan masalah."
Akhirnya kesepakatan bisa dicapai dan semua murid didikan nya paling tidak bisa lulus tanpa membuat malu.
"Anu..." Nam-soon mengangkat tangan takut-takut, "sepertinya kalian melupakan pendapatku."
Lalu cowok itu tersenyum lima jari yang tertahan.
.
.
.
.
.
"Kenapa tado sepertinya kau menolak sekali untuk mengajari ku, Ha-kyung?" Nam-soon melipat kedua tangannya kebelakang kepala, melirik Ha-kyung yang masih menatap lurus ke depan.
Mereka baru saja keluar dari ruangan Kang Se-chan dan harus melewati lorong panjang ini berdua, mau tak mau untuk mengusir keheningan, Nam-soon harus mengatakan sesuatu kan?
Apa perlu nge-gombal soal buku lagi seperti waktu pembagian raport kemarin?
"Aku benci menghabiskan waktu denganmu." Jawab Ha-kyung, to the point.
"Eh?"
Cewek itu masih lurus menatap kedepan.
"Kau membenciku, Ha-kyung-sshi?" Go Nam-soon menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.
"Tidak." Ha-kyung menggeleng, "Aku membenci menghabiskan waktu denganmu."
Nam-soon terhenti langkahnya, membiarkan Ha-kyung berjalan beberapa langkah didepan. Sebuah senyum tercipta lebar dari wajahnya yang tertunduk.
Lama-lama menjadi senyum manis.
Ia mengejar Ha-kyung, ia harus mengejarnya.
"Hei," Nam-soon menunduk di sebelah Ha-kyung, yang membuat perempuan itu kaget bukan main.
Dengan suara parau pelan khas Go Nam-soon yang baru bangun tidur, cowok itu membisikan sesuatu tepat di telinga Ha-kyung. Ya, dengan suara seksi itu.
"Itu artinya kau takut suka padaku, kan?"
Lelaki itu lalu tersenyum manis sekali, hampir jantung Ha-kyung meledak karena kejahilan itu.
Nam-soon lantas berjalan mendahului Ha-kyung.
Jatuh cinta padaku itu, tidak ada salahnya kan?
Eh, sebentar.
Bukannya mereka memang saling jatuh cinta sejak lama?
.
.
.
.
.
Note:
HAHAHAHAHAHA INI OOC PARAH SIH. udah kebayang lanjutannya sih, kira kira aku lanjutin nggak nih? Hehehe.Terima kasih sekali sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampah seperti ku ini :')
