Bleach©Tite Kubo

Naruto©Masashi Kishimoto

Sen no Yoru wo Koete©Aqua Timez

Pairing : Hatake Kakashi x Kuchiki Rukia

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Crossover

Warning : AU, Gaje, Typo(s), Don't Like Don't Read


Chapter 2

Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaerunda
(I want to be loved, but you don't seem to love me
I wander within that repetition
I found one answer: that even if I'm scared, even if I'm hurt
I can say "I love you" to the person who I love
)

Rukia berdiri tidak jauh dari Kakashi yang sedang bernyanyi di taman dengan diiringi gitar Naruto, pemuda berusia lima belas tahun, tetangga Kakashi yang kebetulan mereka temui sewaktu Kakashi mengajak, tepatnya memaksa Rukia untuk jalan-jalan sebentar dengan alasan sebagai 'penyegar' agar tidak jenuh dengan rutinitas latihan. Tuhan, gurunya yang satu ini memang tidak bisa ditebak.

Sen no yoru wo koete anata ni tsutaetai
Tsutaenakya naranai koto ga aru
Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da
Kimochi wo kotoba ni suru no wa kowai yo demo
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da

(I want to overcome the thousands of nights and tell it to you
There's something that I must tell you
I want to be loved, but you don't seem to love me
I wander within that repetition
I found one answer; that even if I'm scared
Even if I'm hurt, I can say "I love you" to the person who I love
It's scary to turn my feelings into words
But I can say "I love you" to the person who I love)

Bait-bait lagu 'Sen no Yoru wo Koete' meluncur mulus dari bibir pemuda itu, membuat beberapa orang yang kebetulan lewat rela berhenti sebentar, sekedar menikmati suara Kakashi dan permainan gitar Naruto dengan jelas. Sedangkan Rukia? Mata violetnya seakan tidak mau lepas sedikit pun dari sosok Kakashi.

# # #

"Wah!Lihat Kakashi-san, Kita dapat uang banyak hari ini!" Naruto berseru gembira sambil menghitung lembaran-lembaran uang yang mereka dapat dari hasil 'ngamen' hari itu. Kakashi tersenyum samar dan mengacak rambut pirang Naruto pelan, "sebaiknya kau pulang, sudah hampir gelap. Kau tidak mau Iruka-san menghukummu lagi 'kan?"

Ucapan Kakashi tidak digubris sama sekali oleh Naruto. Ia masih sibuk menghitung uang yang ada ditangannya saat ini. Kakashi mendengus kesal, "Naruto!"

Tiba-tiba Naruto menyodorkan kira-kira setengah dari uang itu kehadapan Kakashi, membuat pemuda berambut perak itu menaikkan sebelah alisnya, heran.

"Ini untuk Kakashi-san."

"Eh?"

Naruto mengannguk, "ayo ambil, Kakashi-san!" katanya setengah memaksa.

Sekali lagi Kakashi mengacak rambut Naruto, kali ini lebih keras, membuat helaian pirang itu semakin berantakan.

"Tidak usah, lebih baik kau simpan saja."

Naruto diam. Dalam hatinya ia merasa tidak enak karena Kakashi telah merelakan semua uang itu untuknya tapi jujur, ia juga sedang perlu uang lebih untuk membayar uang sekolahnya. Ia merasa harus ikut meringankan beban ayah angkatnya, Umino Iruka.

"Tapi Kakashi-san…"

Kakashi segera memotong ucapan Naruto, "Sudah! Cepat sana pulang! Aku tidak mau disalahkan Iruka-san Karena membiarkanmu pulang malam."

"Ya sudah, Aku pulang Kakashi-san, sampai besok!" Naruto hampir menjauh ketika tiba-tiba ia berbalik ketempat Kakashi.

"Senang bertemu denganmu Nee-chan!" Kata Naruto dengan cengiran lebar di wajahnya. Rukia hanya tersenyum.

"Maaf, kalau aku sudah mengganggu kencan kalian," pemuda berisik itu rupanya masih sempat mengucapkan kalimat yang sukses membuat muka Kakashi, terutama Rukia, memerah.

"Naruto!"

Sebelum Kakashi sempat menghadiahkan sebuah jitakan dikepala pirang Naruto, anak itu sudah berlari pulang dan masih sempat untuk tertawa keras, membuat emosi Kakashi semakin memuncak.

Kakashi hanya bisa menghembuskan napas berat dan menggumam,"dasar bocah!"

Sepeninggal Naruto, Rukia semakin merasa salah tingkah. Apalagi mengingat perkataan Naruto tadi. Apa sekedar jalan-jalan bisa disebut kencan? Rukia menggeleng kuat-kuat berusaha mengusir kata 'kencan' yang entah kenapa terus berputar dikepalanya.

"Rukia, kau kenapa?" Kakashi bertanya dengan nada cemas yang kentara.

Rukia tergagap. Ia mengeleng tanda kalau ia baik-baik saja.

'Kenapa Aku bisa terlihat bodoh di depan orang ini?' Rukia merutuk kesal dalam hati.

"Baiklah kalau begitu. Bisa kita pulang sekarang? Aku rasa Unohana-san dan yang lainnya pasti sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun Byakuya-sama," Kakashi sedikit melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.

Mendengar kata 'ulang tahun', membuat Rukia seketika ingat kalau dia belum menyiapkan kado untuk ayahnya. Sama sekali belum.

'Bagaimana ini? Aku belum menyiapkan kado untuk Tou-san!'

Tanpa sadar, Rukia menarik tangan Kakashi, bermaksud untuk mengajak gurunya ini pulang. Secepatnya.

"Hei! Hei! Rukia kita mau kemana? Jangan tarik tanganku!"

Rukia tidak menghiraukan teriakan panik Kakashi. Ia terus berjalan dengan langkah lebar menuju ke rumah keluarga Kuchiki.

# # #

"Selamat datang Rukia-sama, Kakashi-san." Unohana menyambut mereka ketika mereka berdua sampai dan mendapati rumah itu sudah penuh oleh kesibukan untuk menyiapkan ulang tahun Kuchiki Byakuya, Orang nomor satu di rumah itu.

Rukia hanya mengangguk singkat, tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Kakashi, gadis itu berjalan melewati Unohana dan menuju kearah ruang latihan.

Unohana dan beberapa pelayan yang melihat itu hanya bisa memandang mereka heran.

Sesampainya diruang latihan, Rukia akhirnya melepaskan tangan Kakashi. Membuat pemuda itu menghela napas lega. Bukan apa-apa, tapi yang dilakukan Rukia tadi sungguh tidak baik untuk jantungnya. Sekarang saja ia belum yakin kalau warna merah diwajahnya bisa hilang dengan cepat. 'Anak ini kenapa sih?' Kakashi hanya bisa bertanya dalam hati.

Ketika Kakashi sibuk menenangkan degup jantungnya yang semakin tidak karuan, ia mendengar gadis itu memainkan sebuah lagu. Jari lentiknya tampak lincah bermain di atas tuts hitam putih Grand Piano hitam itu. Tapi sesekali Rukia berhenti, sepertinya ada beberapa bagian yang ia lupa.

Kakashi mendekat ketika ia melihat Rukia terdiam agak lama.

Menyadari keberadaan Kakashi, Rukia segera berdiri dan mengambil selembar kertas dan pensil yang kebetulan ada di ruangan itu. Tangannya menulis beberapa kalimat dengan sedikit terburu-buru. Setelah selesai, Gadis bertubuh mungil itu menyodorkan kertas yang ia pegang kehadapan Kakashi, meski ia harus sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi mereka yang cukup mencolok.

Sensei tahu lagu ini 'kan? Aku mohon ajari Aku, Sensei…Aku mohon.

Setelah selesai membaca isi kertas itu, Kakashi memandang lurus kearah mata violet Rukia dan ia menemukan satu kesungguhan di sana.

"Baiklah, kita mulai latihannya sekarang."

Tbc

AN : Akhirnya saya bisa update juga ! Sepertinya chap ini tidak kalah gajenya dengan chap satu (^_^)" Mohon ripiunya…..^^