DISCLAIMER
Naruto dan semua karakter selain Ooc bukan kepunyaan saya
.
WARNING
Terlalu bagus untuk di lewatkan! Hehehe...
.
PAIR...
Naruto x ?
.
Just enjoy...
.
.
Dunia Shinobi ... merupakan dunia yang penuh akan keanehan bernama Cakra, jenis energi yang dapat membuat hal tak lazim menjadi nyata. Sebut saja dengan mengeluarkan api dari mulut, membuat bayangan nyata, hingga berjalan di atas bidang miring adalah sedikit dari banyaknya tekhnik yang bisa dilakukam oleh manusia pengguna cakra.
Tapi apakah kalian tau..., bagi diriku semua hal tak lazim yang ada di dunia ini hanyalah sampah yang tidak pantas untuk mendapatkan penghargaan. Ayolahhh... jika di dunia ini bisa mengeluarkan api dari mulutnya, maka di duniaku bisa mengeluarkan laser penghancur dari satu jari telunjuknya. Jika di dunia ini bisa menghancurkan bongkahan batu hanya dengan satu pukulan, maka di duniaku bisa menghancurkan sebuah gunung hanya dengan satu pukulannya. Dan jika di dunia ini memiliki monster berekor sembilan yang dapat menghancurkan gunung dengan sekali kibasan ekornya, maka di duniaku memiliki monster berkepala sepuluh yang mampu meratakan dunia hanya dengan raungannya. Yahhh... setidaknya itulah sebahagian kecil tentang seberapa mengerikannya dunia yang perna aku taklukan dulu!
Oke... cukup basa basinya! Saat ini aku sedang berada disebuah perkampungan yang terletak di bahagian timur laut Negara api. Soal pakaian, aku lebih memilih memakai pakaian khas Anbu Konoha yang menurutku cukup keren, hanya saja bagian lengannya jauh lebih panjang hingga ke pangkal tangan. Selain itu aku juga memakai jubah hitam dengan motif awan merah yang mejadi simbol bagi organisasi yang aku tempati. Ohhh iya... aku juga sudah memotong rambut panjang menggangu itu hingga menyerupai kembaranku yang ada di Naruto Shipuden.
Dengan santai aku menyeruput teh pagi miliku sambil menyantap sepiring kue dango yang begitu mirip dengan makanan bernama sate yang ada di duniaku dulu. sungguh kedamaian yang tidak bisa aku gambarkan. Jujur saja... walaupun dunia ini jauh dari kata moderen, tapi nuansa kedamaiannya sungguh luar biasa terasa. Memang sih kejahatan tentu masih merajalela, Tapi jika dibandingkan dengan duniaku dulu, mungkin ini hanyalah 10 persen dari tingkat kejahatan yang ada di sana. Atau mungkin hanya 5 persen? Entalah, aku malas memperhitungkannya.
Tengg
Telingaku mendengar bunyi lonceng yang menandakan adanya tamu yang datang kemari. Tanpa menoleh, tiba-tiba seorang Wanita duduk tepat dihadapanku.
"Maaf aku terlambat!"
Dia berucap dengan nafas yang cukup terengah-engah. Tanpa menghiraukannya, aku kembali meminum teh miliku sambil terus memakan dango. Ahhh.. sebelumnya perkenalkan, dia adalah salah satu anggotaku yang ikut terlempar ke dunia ini. Ohhh.. aku sampai lupa untuk menceritakannya!
Ada sekitar sepuluh orang yang ikut terlempar kedunia ini bersamaku, dan tentu saja mereka semua adalah anggota kelompok yang aku buat saat berhasil menaklulan dunia lamaku, Dan perempuan ini adalah salah satunya.
Berbicara soal perempuan, sepertinya tidak lengkap jika kita tidak membicarakan soal penampilannya. Bisa dibilang dia ini perempuan yang cukup cantik, memiliki tubuh yang lumayan putih dan badan yang tinggi. dengan Rambut pirang sepanjang bahu, rompi tipis berlengan pendek, dalamam kaos berjaring, dan sepasang bra sebagai pelapis payudara besarnya itu.. semua hal itu sudah cukup membuat kejantanan lelaki manapun akan meradang karenanya.
Belum cukup? rok yang hanya menutupi paha atasnya berwarna hitam, sarung tangan berwarna hitam membalut jari lentik indahnya, dan sepatu boot dengan stoking jaring hingga kepaha sebagai pelapisnya. [What the F**k Bitch]! Oke... ingatkan aku untuk membuat 100 Goal dalam kewanitaannya. -_-!
Lupakan yang terakhir!... Soal nama, kalian bisa memanggilnya Samui... ohhhh, ada satu hal lagi yang lupa aku beri tau. Saat terlempar ke dunia ini, kami semua terlahir kembali sebagai seorang bayi dengan ingatan baru, Namun saat berumur sekitar 10 tahun, tiba-tiba saja ingatanku kembali tanpa penyebab yang jelas. Karena itulah, aku sudah mencari mereka selama 5 bulan terakhir, dan hanya satu orang yang dapat aku temukan. Itupun karena suatu kejadian yang tidak disengaja saat sedang mampir ke Kumogakure. Sudalah, aku tidak mau membahasnya!
"Heyy... mengabaikan wanita tidak baik tau!" Ucap Samui dengan sedikit nada manja.
Apa-apaan nada manja itu? Padahal saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia hanya menampilkan wajah datar dan sangat irit untuk berbicara. Tapi sekarang lihatlah,... semua sifat datar bak tembok itu hilang dan malah tergantikan oleh sifat menggodanya. Hahhhh... jujur saja, aku lebih suka sifat datar dan irit bicaranya, karena hal itu bisa membuat suasana lebih tenang.
"Diamlah dan cepat makan. Kita harus menjalankan tugas dari Ketua sebelum esok hari, dan perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk sampai ke Sunagakure"
"Huhhh... bukankah jauh lebih cepat menggunakan tekhnik terbangmu itu? Jadi kita tidak perlu berjalan jauh hanya untuk menyelesaikan tugas membosankan ini!"
Ya ... ya ... ya... teruslah mengeluh dan akan aku sumbatkan bibir manismu itu dengan 'Timun Cina' miliku.
"Menggunakan hal seperti itu hanya akan membuatku terbebani dengan berat badan~"
Ucapanku terhenti saat tiba-tiba sebuah cawan kosong melayang dan tepat mengenai kepalaku.
"Lanjutkan ucapanmu dan aku jamin kau tidak akan bernafas lagi!" Dia berucap dengan aura menyaramkan di seluruh tubuhnya. Bahkan para pelanggan lelaki yang sedari tadi terus memperhatikannya, langsung merinding ngeri saat merasakan aura menakutkan dari dirinya.
Ayolahh... apakah kau pikir aku akan takut dengan aura mainstreammu itu?! Jangan bercanda... aku bukanlah Pria banci yang takut pada perempuan. Menghargai perempuan mungkin bisa kuterima, tapi untuk takut pada mereka..,.. itu tidak akan pernah terjadi!
"Berhentilah bermain-main, kau tau hal seperti itu tidak bisa mempengaruhiku!"
Mendengar perkataanku, ekspresinya langsung berubah menjadi lesu dan cemberut.
"Huhhh... baiklah" ucapnya dengan kedua pipi yang dikembungkan bertanda dia sedang cemberut.
Setelah semua itu, kesunyian kembali melanda suasana pagi yang damai ini. Namun...,,,...
Brakkkk...
..,.. pintu kedai ini dibuka secara paksa hingga menimbulkan kekagetan pada seluruh pelanggan kecuali aku dan Samui. Melirik sedikit, dapat kulihat gerombolan sapi berotot dengan kepala botak dan muka garang berjalan masuk kedalam kedai. Salah satu dari mereka yang dapat kusimpulkan sebagai pemimpinnya, terlihat sedang menggoda seorang wanita yang sepertinya tidak menyukai tindakannya.
"Heyy... lepaskan Istriku!" Seorang peria dengan postur tubuh yang terbilang biasa saja mencoba untuk melawan pria yang berani menganggu Istrinya.
"Khekhke...,.. memangnya kenapa!"
Brakkll
Grebb
Tapi sayang..., dengan sekali hentakan, meja yang menjadi tempat mereka untuk makan langsung hancur tidak karuan. Lalu dengan cepat pria botak itu mencengkram kuat leher baju sang pria.
"Memangnya kenapa hahhhh! Lihatlah dirimu... pecundang sepertimu mana bisa melindungi wanita secantik dia" dia berucap sambil mengelus dagu wanita tersebut yang terlihat begitu ketakutan.
"G-gha... le-lepaskan!" dia masih mencoba untuk berbicara walau sangat susah untuk dilakukan.
"berisik!" Lalu tanpa belas kasihan, dia melempar orang itu tepat kearahku.
"Aaaaaaa~"
Tap...
Namun sebelum menghancurkan teh dan dango terakhirku, aku lebih dulu menahan pungungnya dengan tangan kananku.
Brukkk...
Diapun terjatuh cukup keras di lantai dan meringis kesakitan.
"U-ughhh!" Menoleh kebelakang, dia terlihat sedikit terkejut saat melihat siapa yang menghentikannya.
"Hohohoho... lihatlah, siapa yang kita dapat disini?"
Hahh... si bodoh malah datang kemari. Lihatlah, dengan bodohnya dia mencoba untuk menggoda Samui yang saat ini sedang asik menikmati teh miliknya. Biar kutebak...,.. mingkin dadanya akan berlubang...
Crashhhh
Ohhh ralat! Ternyata dia mengibcar kepalanya. Semua mata membulat (kecuali aku tentunya) saat melihat sebuah tanto sudah bersarang di kepala sibotak hingga tembus ke belakang. Dan yang melakukan semua itu tidak lain-dan tidak bukan adalah Samui sendiri... hohoho... ekspresi yang bagus! Melancarkan serangan tanpa melihat lawan dan hanya terfokus pada teh miliknya. Hmmm.,.. harus kuakui, itu cukup keren!
"BOOSSSSS!"
Para preman yang tersisa berteriak memanggil bos mereka yang sudah tergeletak tidak benyawa di lantai dengan kepala berlubang.
"Dua pilihan... mati atau per~"
Crashhhh
Brukkk
"..."
Hmmmm ... entah kenapa hatiku terasa begitu sakit. Bukan... tentu saja bukan karena adanya sebuah kampak yang berhasil memotong tangan kananku dan menancap di dadaku, Akan sangat lucu jika aku merasa sakit karena hal seperti itu. Namun mataku lebih terfokus pada satu tusuk Dango yang saat ini telah hancur tak tersisa saat tanganku yang memegangnya telah terpotong dan jatuh di lantai.
Crashhhhhh
"Kyaaaaaaaaa" "uuwwwwaaaaa"
Semua pelanggan dalam kedai itu hanya berteriak dan berhamburan keluar saat melihat kampak yang menancap didadaku dilepas dengan paksa hingga membuat darahku menyembur keluar dan membasahi seluruh tubuh Samui yang terlihat hanya memandangku datar.
Brukkkk
Aku tertunduk dan wajahku menempel di atas meja... ughh... tidak bisakah dia menampilkan ekspresi lain selain wajah datar nan bodohnya itu.
"Hahahahahahah... itulah akibat dari orang yang berani melawan ka~"
Crashhhh crashhhh crashhhh. ..
Tanpa basa basi aku langsung memotong mereka semua dengan darah yang telah berubah menjadi cambuk. Huhhh... akhirnya suasana bisa kembali tenang. Mengangkat wajahku hingga kembali tegak, lalu aku menatap mereka semua dengan pandangan datar tentunya.
"Dan itulah akibat dari orang bodoh yang berani menghancurkan dango terakhir miliku!" Ucapku dengan datar.
Secara perlahan, semua darah yang berceceran di atas lantai mapun di tubuh samui, mulai bergerak dan masuk kembali kedalam dadaku yang masih memiliki tebasan menganga dari kampak yang tadi sempat menancap di sana. Dan tidak lama kemudian, luka itupun sembuh sempurna tanpa bekas. Tidak hanya itu, bahkan pakaian yang sempat tertebas juga ikut beregenerasi, dan tangan yang sempat terpotong sudah kembali seperti semula.
Mataku lalu melihat Samui yang kembali menyeruput tehnya dengan santai.
"Shurrppp, ahhhh... " meneruh kembali cangkir tehnya diapun melihatku. "...walau aku sudah melihatnya, tapi aku masih cukup kagum dengan kekuatan barumu itu. Yahhh, walaupun harus kuakui... kekuatanmu yang dulu masih jutaan kali lebih mengerikan dari itu!" Ucapnya datar.
"Huhhhh... sudahlah. Kalau kau sudah selesai, ayo kita pergi dari tempat menyedihkan ini" beranjak dari tempat duduku, akupun berjalan menghampiri sang pemilik toko dan menaruh uang di atas mejanya.
"Ambil saja kembaliannya!"
"Te-terima kasih!" Perempuan ini berucap dengan nada terbata dan tubuh yang sedikit bergetar. Hhmmmm... mungkin dia sedikit trauma karena melihat semua kejadian ini. Ya sudalah... sebaiknya kita cepat menyelesaikan misi dari ketua. Aku dan Samuipun berjalan keluar meninggalkan sang penjaga toko yang sudah ambruk pingsan entah karena apa. Mungkin karena tidak kuat menahan aura ketampananku?! Entalah...wanita memang tidak bisa ditebak! -_-!
.
~Change Scene~ [Amegakure]
.
Amegakure... merupakan satu dari banyaknya desa kecil yang ada di dunia Shinobi. Selama bertahun-tahun, Desa ini mengalami peperangan hebat karena terletak di pertengahan 5 desa besar lainnya sehingga Desa tersebut menjadi arena perang bagi keserahkahan kelima desa besar.
Selain itu desa ini juga selalu diguyur hujan tanpa henti seakan mencerminkan kesedihan yang begitu menyiksa bagi para penduduk Amegakure.
Tapi itu dulu... untuk pertama kalinya desa Amegakure dilanda kebahagiaan yang begitu besar saat perdamaian telah mereka raih. Benar... saat ini desa tersebut telah mendapat kedamaian berkat seorang tokoh yang dianggap sebagai Tuhan bagi para penduduk desa. Mungkin julukan itu sedikit berlebihan bagi orang awam yang tidak tau apa-apa. Namun untuk Seorang tokoh yang berhasil membawa perdamaian kepada desa yang selama ini selalu berperang hanya dalam waktu satu malam,... sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai berlebihan.
sejak kemunculannya saat dia berhasil menggulingkan Rezim Hanzo yang dulu pernah menjadi pemimpin desa tersebut hanya dalam waktu satu malam, desa ini telah menjadi salah satu desa paling damai dari semua desa yang ada. Segala macam gangguan dan konflik internal maupun ekspternal, tidak ada di desa ini. Kuncinya hanya satu, yaitu seluruh aksesnya tertutup dari dunia luar. Bahkan tidak ada satupun desa yang mengetahui bagaimanakah perkembangan dari desa ini. Semua mata-mata yang mencoba masuk kedalammya, selalu saja tidak perna kembali. Mereka mengira bahwa Hanzolah yang melakukan semua itu. Tapi kenyataannya Hanzo telah mati dan digantikan oleh pemimpin yang baru.
Terlihat saat ini seorang pria dengan kisaran umur 25 tahunan sedang berdiri diam tepat diujung lidah dari gedung tertinggi yang ada di desa tersebut. Mata pola riak airnya menatap datar kedepan menghiraukan guyuran hujan yang saat ini terus membasahinya. Inilah dia, seseorang yang dijuluki sebagai Tuhan oleh penduduk Amegakure...,.. Pain!
Seperti yang kalian semua ketahui, Pain memiliki penampilan yang cukup unik dengan banyaknya tindikan yang ada diseluruh tubuhnya. Jubah hitam berpola awan merahnya berkibar pelan menandakan bahwa dia adalah salah satu dari anggota organisasi yang sama dengan Naruto yaitu..., Akatsuki.
Shurrrrr
Sedikit melirik kebelakang untuk melihat siapa gerangan yang berani menganggu kedamaiannya.
"Hmmm... ternyata kau berada disini!" Ucap seorang pria bertopeng yang keluar dari pusaran dimensi yang muncul dibelakanh Pain.
Jika Dilihat dari penampilannya, dapat kita ketahui bahwa dia juga merupakan anggota Akatsuki.
"Ada apa?" Tanya Pain tanpa melihat kearahnya.
"Tidak ada apa-apa" berjalan pelan menuju sebuah pipa, diapun menduduki pipa tersebut dengan santai. "Hanya saja... aku masih penasaran dengan anggota barumu itu"
"Tidak usah bertele-tele dan katakan apa maumu!"
"Yare..yare... kau tidak sabaran rupanya. Seperti yang aku katakan tadi, aku masih penasaran dengan anggota baru itu. Sebenarnya siapa dia dan bangaimana bisa kau mendapatkanya? Selain itu, apakah dia bisa dipercaya?" Tanya pria bertopeng yang kita ketahui sendiri bernama Madara (Obito).
Mata Dewa itu sedikit mengkerut saat mendengar pertanyaan Obito.
"Apa maksudmu? Aku sendiri yang merekrutnya dan tentu saja dia bisa dipercaya!"
"Aku tau itu. Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh dari dirinya! Yahhh... aku harap dia tidak mengganggu rencana yang kita buat!"
"Kau tenang saja, jika dia berbuat macam-macam aku sendiri yang akan membunuhnya. Selain itu, saat ini dia sedang menjalankan misi untuk menangkap Shukaku"
"Menangkap Shukaku? Bukankah anggota Deidara yang sedang melakukannya?!"
"Tidak. Keberhasilan misi harus dipastikan, dan dia adalah orang yang tepat untuk melakukan itu"
"Baiklah kalau begitu..."menatap keatas, mata Sharingan itu menyala terang di balik topeng tersebut. "... apapun yang terjadi, rencana ini pasti akan berhasil!"
Shuuuuu
Ucapan itu menutup pembicaraan mereka saat sebuah pusaran dimensi kembali menghisap Madara dan meninggalkan Pain yang masih setia menatap datar Kota tercintanya itu.
.
.
.
Disebuah gurun pasir yang begitu luas dan panas, terlihat Naruto yang sedang berjalan pelan diikuti oleh seorang wanita super seksi bernama Samui. Tujuan mereka saat ini adalah Desa pasir Sunagakure.
"Huhhh... kulitku pasti akan menghitam jika terlalu lama ditempat menyebalkan ini" gerutu Samui.
Tanpa merespon, Naruto menatap keatas tanpa memutuskan jalannya.
"Sepertinya hari sudah mau gelap. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu lagi" ucap datar Naruto.
"Hey... bukankah kau yang membuang-buang waktu! Seandainya kau menggunakan kekuatanmu untuk terbang, sudah dari tadi kita sampai!" Jawab Samui kesal. Namun seperti biasa, Naruto sama skali tidak menghiraukannya.
Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya Naruto dan Samui telah sampai di depan benteng besar desa Sunagakure. Dari kejauhan, mereka bisa melihat adanya seseorang yang sedang berdiam diri tepat dihadapan gerbang masuk Desa. Beberapa shinobi yang dapat diasumsikan sebagai shinobi dari desa Suna, telah tergeletak tidak berdaya di hadapannya.
Menyadari ada yang mendekatinya, sosok itupun berbalik ke arah mereka.
"Hmmm... ternyata kalian" ucapnya datar dengan suara beratnya.
Berhenti tepat di samping orang tersebut, Narutopun berbicara.
"Kenapa anda berdiam disini? Bukankah kalian ditugaskan untuk menangkap Sukaku?"
"Saat ini Deidara yang melakukannya. Dia menyuruhku untuk menunggu disini tanpa harus ikut campur dalam menangkap Ichibi"
"Oowww... sombong skali simanusia peledak itu" ejek Samui.
"Lebih dari itu, kenapa kalian berdua bisa ada di tempat ini?"
"Ketua menyuruh kami untuk membantu kalian, karena dia mendapat informasi bahwa ada kelompok dari Konoha yang datang untuk membantu Ichibi"
"Kelompok dari Konoha? Bagaimana mungkin mereka bisa sampai secepat itu?"
"Berdasarkan informasi yang ada, sepertinya pihak Konoha sudah mengetahui tujuan kita untuk menangkap para biju. Jadi mereka melakukan pencegahan dengan mengirim kelompok untuk menangkap kita!" Jelas Naruto.
"Hohh.. aku tidak menyangka akan secepat ini mereka mengetahui tujuan kita. Jadi apakah kita akan membantu Deidara?"
"Biar aku yang membantunya, aku juga punya sedikit urusan dengan kelompok Konoha itu" Ucap Naruto.
"Aku juga ikut!" Ucap Samui semangat.
"Huhhhh... cepatlah, aku tidak suka menunggu"
Mengangguk paham, Narutopun melompat tinggi keatas benteng diikuti oleh Samui.
TAP TAP
Hal yang pertama mereka lihat adalah banyaknya tangan raksasa yang terbuat dari pasir sedang mencoba untuk menangkap seekor burung raksasa berwarna putih. Burung itu terus meliuk-liuk tajam untuk menghindari semua tangan pasir itu.
"Hmmm... sepertinya Deidara sedang kesulitan" ucap Naruto.
"Hey, lihat itu!" Ucap Samui sambil menunjuk kearah gedung yang berada tepat di bawah tangan-tangan raksasa itu.
Sedikit menajamkan matanya, Naruto lalu tersenyum kecil saat melihat adanya seorang wanita yang sedang menatap pertarungan antara Deidara melawan Kazekage.
'Sudah kuduga,... sepertinya ikatan saudara kembar masih melekat pada diriku' pikir Naruto.
"Biar aku yang membantunya, dan kau jalankanlah misi berikutnya!" Ucap Naruto dan langsung melompati bangunan-bangunan menuju arena pertarungan.
"Cihh.. selalu saja seperti itu!" Setelah mengatakan itu, Samuipun ikut melompat dan menuju sisi lain desa untuk menjalankan misi lain.
.
.
.
Shutttt shutt shuttt...
Tangan raksasa milik Gara terus mencoba untuk menangkap musuhnya yang saat ini sedang terbang di angkasa dengan menaiki seekor burung raksasa berwarna putih.
"Cihhh.. dia selalu menghindari semua seranganmu! Kalau begini terus, kau akan kehabisan tenaga" ucap seorang wanita berambut pirang panjang yang saat ini berdiri disamping Gara
"Aku tau... karena itulah aku membutuhkan bantuan kalian!" Ucap Gara.
Mengerti maksud gara, wanita itupun menyentuh telinganya dan menekan sesuatu yang ada disana.
"Kakashi sensei, apakah belum selesai?"
'Sedikit lagi!'
"Baiklah, aku dan gara akan mengulur waktu sampai Kakashi sensei siap!"
'Dimengerti!'
Memutuskan pembicaraan, wanita itu kembali menatap kesal kearah burung tersebut.
"Ckkk... aku tidak bisa menyerangnya jika dia ada jauh di atas sana" kesal wanita tersebut.
Slashhjh slashhh slashhh...
Deidara hanya tersenyum kecil saat melihat tidak ada satupun serangan yang mengenainya.
"Baiklah... saatnya beraksi!" Gumamnya sambil Memasukan tangannya kedalam tas kecil yang ada di pinggangnya.
Terlihat sebuah tanah liat sudah berada dalam genggamannya. Diapun mengepal tanah liat itu dengan kedua tangannya lalu sebuah patung kecil berbentuk burung gendutpun tercipta.
"Rasakan ini!" Setelah mengatakan itu, Deidara menjatuhkan tanah liatnya.
Boftttt
Semua mata melebar saat melihat patung kecil tersebut telah berubah menjadi patung raksasa.
"Gawat!" Gumam Gara.
Deidara tersenyum senang.
"Terlambat... seni itu adalah...,.. ledakan!"
[Kat~]
Bofttttt
"TIDAK AKAN KUBIARKAN!"
Suara keras seorang wanita yang tiba-tiba meluncur kearah patung Deidara mengagetkan mereka semua. Terlihat ditangan kanannya terdapat sebuah pusaran energi yang cukup besar.
"RASAKAN INI!..."
[RASENGAN]
BLARRRRRR
Ledakan besar langsung mengguncang seluruh daratan Suna saat serangan dari si wanita berhasil meledakan patung Deidara sebelum memasuki area Desa. Seluruh ninja termasuk Gara menutup mata saat asap ledakan memenuhi hampir seluruh desa. Jika saja ledakan sebesar itu sampai mengenai daratan, mungkin saja saat ini Sunagakure hanya tinggal nama.
Setelah asap menghilang, Garapun membuka matanya.
"Terima kasih! Kalau tidak ada kau, mungkin saja saat ini aku dan desa ini telah musnah" ucap Gara kepada wanita yang ternyata masih berada di sampingnya.
"Tidak masalah!" Ucap gadis itu.
"Ckkk!" Deidara mendecih kesal saat Melihat hasil karyanya gagal untuk mengalahkam sang Uzukage.
'Mencitpakan bunshin dan melemparnya kearah karya seniku dan menghancurkannya dengan satu serangan. Cihhh... harus kuakui, Jincuriki memang hebat!' Pikir Deidara.
Memeriksa kantungnya, diapun menyadari kalau persediaan tanah liat miliknya mulai menipis.
'Seandainya aku tau akan serumit ini, aku pasti akan membawa lebih banyak tanah liat'
Slashhhh Grebbbb
Matanya melebar sempurna saat sebuah tangan pasir raksasa berhasil menangkap burungnya dan meremasnya dengan kuat. Untung saja dia sempat melompat untuk menyelamatkan diri dari tangan raksasa itu.
Dengan cepat dia mengambil tanah liat dan membentuknya menjadi burung raksasa agar dirinya tidak mati konyol karena jatuh dari ketinggian.
[Katsu]
Blarrrr
Tangan pasir Gara hancur seketika saat burung yang dia tangkap tiba-tiba meledak saat Deidara mengaktifkan jurusnya.
"Huhh... hampir sa~"
Matanya kembali melebar saat dirinya menyadari sesuatu. Dengan cepat dia melihat kebawah untuk melihat apa yang hendak dilakukan oleh Gara. Dan saat dia melihat hal apakah itu,... shok adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
'A-apa itu?'
Tidak hanya dia. Namun semua orang yang berada dalam desa tersebut, juga sama terkejutnya saat melihat adanya kepala monster rakun raksasa yang terbuat dari pasir muncul dan wajahnya menghadap keatas atau lebih tepatnya kearah Deidara. Kepala rakun itu sangatlah besar hingga sanggup menutupi stengah dari desa, bahkan Deidara yang masih asik melayang tepat di atasnya terlihat begitu kecil.
"A-ahahaha... " si wanita berambut pirang tertawa kikuk sambil terus melihat ke atas. "...,... ba-bagaimama bisa kau menciptakan hal seperti itu?" Lanjutnya dengan sebulir keringat yang turun dari pelipisnya.
Sang pelaku yang ternyata adalah Gara sang Godaime Kazekage, hanya diam dan merentangkan kedua tangannya sambil menatap datar keatas.
"Ini adalah tekhnik terkuat yang aku miliki saat ini..,... "
[Sukaku : Suna no kokatsu]
Bowssshhhh
Sebuah tembakan beam berwarna kuning dengan cepat melesat menuju Deidara. Melihat serangan secepat dan sebesaf itu, Deidara hanya bisa diam dengan mata melebar.
'Sial!'
BLARRRRRRRR
Ledakan maha dahsyat sekali lagi mengguncang daratan desa Suna. Asap mengepul dengan lebatnya hingga menutup cahaya bulan yang menerangi Desa tersebut.
Melihat hal seperti itu, tentu saja sangat mengejutkan bagi mereka.
"Wowwww... aku tidak bisa membayangkan jika hal seperti itu mengenai daratan!" Kagum wanita berambut kuninh tersebut.
Brukkk
"Hahh...hahh...hahh."
"Gara!" Dengan cepat si gadis berlari kearah Gara yang sedang berlutut akibat kelelahan dan kehabisan cakra.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya sambil membantu Gara untuk berdiri.
"T-tidak apa-apa! Aku hanya kehabisan cakra dan mungkin tidak akan bisa bergerak untuk beberapa hari"
Melihat itu si gadispun menyadari bahwa kekuatan yang besar, membutuhkan pengorbaban yang besar pula.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau Is~"
"HEYY LIHAT ITU!"
Teriakan seorang Shinobi mengagetkan si gadis dan Gara. Dengan cepat mereka melihatkeatas untuk memaatikan sesuatu.
"A-apa itu?" Gumam Gara saat melihat adanya sebuah bulatan besar berwarna merah darah melayang tepat di tempat Deidara tadi berada.
Secara perlahan, bulatan itu mulai bergerak dan memisahkan diri dari satu dengan yang lainnya lalu membentuk bulatan yang lebih kecil. Dan setelah selesai, maka terlihatlah seorang pria berambut putih jabrik yang saat ini sedang melayang di udara dengan adanya sepasang sayap merah di punggungnya sambil menatap datar mereka semua.
Bulatan kecil berwarna merah itu melayang pelan menuju sayap sang pemuda dan menyatu dengan sayap tersebut.
"Siapa itu? Dan bagaimana bisa dia melayang dia udara seperti itu?!" Tanya si gadis entah kepada siapa.
"Cihhh... sepertinya seranganku gagal!" Ucap Gara saat melihat Deidara yang masih hidup dengan burung putih raksasanya di belakang pemuda yang baru muncul itu.
"A-aku masih hidup!" Gumam Deidara tidak percaya.
"Kau berutang nyawa padaku"
Deidara menatap kedepan saat mendapati sebuah suara yang menyahuti dirinya. Setelah melihat siapa yang ada di depannya, Deidara hanya bisa terkejut dengan mata yang sedikit mengkerut.
"Cihhh... kenapa kau bisa ada disini? Lagi pula aku sama skali tidak membutuhkan bantuanmu!"
"Ya..ya..ya. katakanlah itu setelah kau melihat ekspresi memalukanmu tadi. Kau tau..,.. ekspresimu itu mengingatkanku kepada seekor monyet yang sedang ketakutan saat dirinya hendak dimakan"
Cetakk.
"Apa katamu!" Kesal Deidara dengan perempatan urat di dahinya.
"Yaa... sama-sama"
"Ckk.. aku tidak sedang berterima kasih!"
"Baiklah kalau kau memaksa... jatah Dangomu akan aku ambil sepulang nanti"
"Gahhh... berhentilah mempermainkanku! Dan heyy... jangan mengambil Dangoku!" Teriak Deidara kesal.
Menghiraukan Deidara, pemuda yang ternyata Naruto itu lebih memilih menatap si gadis berambut pirang yang berada cukup jauh dari tenpatnya berada. Si gadispun sama, dia juga menatap Naruto dengan lekat.
Dua pasang mata sebiru samudra saling bertemu untuk beberapa saat.
'Siapa pemuda ini? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya!' Pikir si gadis sambil terus menatap lekat Naruto.
Dan saat kepulan asap telah menghilang secara keseluruhan dan membuat sinar rembulan kembali menerangi Desa, maka terlihatlah dengan jelas sosok Naruto yang membuat kedua bola mata sang gadis membulat dengan sempurna.
"Na-naruto!" Ucapnya dengan nada sedikit terbata.
Tentu saja hal itu mendapat perhatian dari sang Kazekage.
'Naruto? Bukankah itu nama dari adik laki-lakinya?!' Pikir Gara.
"Naruto... kamu Naruto kan!" Tanya si Gadis dengan suara yang sedikit keras agar terdengar oleh Naruto.
Melihat hal itu, Deidara sedikit mengkerutkan keningnya.
"Hey uban... kau mengenalnya?" Tanya Deidara.
Naruto tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari si gadis yang terlihat mulai bergetar pelan menahan tangis.
"Lama tidak berjumpa..,... "
.
.
.
.
.
"..,... Tatsumi onisan!"
.
.
.
~And Cut~
.
Halooo mina-san... saya kembali dengan fic Monsta part Two... bagaimana? Aku harap kalian menyukainya.
Yahh pertama-tama saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya karena terlah mendukung fanfic The Big Zero. Jujur saja, saya tertarik melanjutkan fic tersebut karena banyaknya para reader sekalian yang memberikan respon positive nya. Namun kali ini saya lebih dulu mengupdate fic Monsta Part One karena saya rasa fic ini mungkin bisa menjadi salah satu Fic andalan saya. Karena dalam pembuatan fic ini Imajinasi saya bergerak liar untuk menciptakan sesuatu yang belum perna ada sebelumnya. Dan saya harp fic ini juga dapat membuat reader sekalian memberikan respon yang sama dengan fanfic The Big Zero...
Itu saja...
Byyyy
