a/n: Assalamu'alaykum, vea mau update~! Boleh ngga? Boleh ya? Daripada keburu writters block. Hehe, sebenarnya asa aneh dengan chapter yang kedua ini, kurang puas, pendeskripsiannya masih kurang, hiks (ada yang mau ngajarin?). Tapi, vea harap kalian akan tetap menyukainya...^^
Vea mau bales review dulu ya, boleh ngga? boleh ya^^
ScopioxSpica : Boleh, silahkan saja^^ Makasih ya, silahkan menikmati chapter 2 ini^^
Hikari : Iya, ini bahasa Pranciss, artinya Melodi Cinta. Yup, di sini berkisah di zaman modern hehe, terima kasih ya^^
Kuro : Ah, terima kasih banyak atas koreksinya, akan coba vea minimalisir di chapter-chapter selanjutnya^^
Evelyn : Hehe, iya, terima kasih. Ini kelanjutannya^^
Kemudian, vea juga mau mengucapkan terima kasih nih untuk para readers yang udah mau membaca karya amatiran vea ini^^
Mélodie de L'amour
Vocaloid © Yamaha Corp dkk
Mélodie de L'amour © Invea
Warning : GaJe! OOC! Aneh! Ngga Rame! Typo! Miss-typo! Kurang Pendeskripsian! Kependekan! De eL eL
.
.
Seekor putri duyung berusia sekitar 15 tahun terus menyelam, menuju dasar laut tempat di mana ia tinggal. Ada sedikit kerisauan di hatinya. Bagaimana tidak? Sosoknya telah diketahui oleh seorang manusia. Itu melanggar perjanjian! Ia bisa dihukum mati karenanya. Bagaimanapun juga, seekor putri duyung tidak boleh memperlihatkan wujudnya di hadapan manusia. Itu karena dapat menimbulkan bencana dan malapetaka bagi dirinya sendiri, bahkan bagi semua bangsanya.
Gadis itu menelan ludah, membayangkan hukuman yang akan diberikan kedua orang tuanya kalau mereka tahu masalah ini. Sebenarnya, puncak dari permasalahannya adalah karena gadis itu merupakan penerus satu-satunya dari kerajaan Siréne.
"A─aku pulang," ujar putri duyung berambut blonde tersebut. Sesosok putri duyung lainnya yang berambut hijau tosca panjang dan diikat dua kemudian memeluknya.
"Selamat datang, sayang. Kau bermain ke mana saja? Kenapa baru pulang? Ibu sangat khawatir," sahut putri duyung berambut hijau tosca yang ternyata adalah ibu dari putri duyung berambut blonde tersebut.
"Kau sudah pulang rupanya, Rin. Kalau begitu kita bisa makan malam sekarang," ujar seorang putra duyung dengan rambut biru.
"Ba─baik ayah," Putri duyung berambut blonde─yang ternyata bernama Rin itu─kemudian menuju ruang makan. Kelihatannya makan malam keluarga kerajaan tersebut diadakan sedikit terlambat karena menanti kehadiran sang putri.
.
.
"Sayang, tadi kau bermain ke mana saja? Cerita dong sama ibu," tanya ibu Rin. Ia memang berjiwa muda dan berpetualang. Wajahnya saja masih terlihat seperti seorang remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Padahal, umurnya saat ini hampir mencapai usia 35 tahun.
"Ekhem, bukankah dilarang berbicara saat sedang makan, Miku-chan," sahut ayah Rin. Putri duyung berambut hijau tosca itu hanya sedikit mengembungkan pipinya. Ia ingin menciptakan suasana yang hangat saat mereka tengah makan malam.
"Ayolah, Kaito-kun! Aku hanya ingin membuat suasana hangat saat makan malam," ujar Miku seraya sedikit merajuk. Suaminya memang sangat taat akan hukum pemerintahan. Itulah yang membuat anaknya a.k.a Rin sangat takut apabila ketahuan bahwa dia menampakkan dirinya─secara tidak sengaja dan tanpa diharapkannya─pada manusia.
"Setidaknya kau bisa melakukannya setelah kau menghabiskan makananmu," Miku kemudian menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya dengan sedikit kasar. Ia merasa kesal pada suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan. Memang, ia akui, suaminya yang bernama Kaito itu sangat baik dan romantis. Sebenarnya dia pandai mencairkan suasana dan ramah. Namun, itu hanya akan terjadi pada saat tidak ada hukum pemerintahan di sana.
"Rin-chan, kau sudah pulang?" sambut seorang pria dengan rambut hijau tosca seperti ibunya. Ya, dia adalah Mikuo Hatsune, paman Rin yang paling akrab dengan Rin.
"Bisakah kau datang dengan mengetuk pintu?" tanya Kaito. Ia kemudian memasukkan sesendok makanan ke mulutnya. Mikuo hanya terkekeh sendiri.
"Maaf, paduka Raja. Habisnya aku sangat ingin bertemu dengan keponakanku yang sangat menggemaskan ini," sahutnya seraya terkekeh-kekeh. Diacak-acaknya rambut keponakan satu-satunya itu. Membuat gadis itu menggembungkan pipinya, namun sebenarnya ia merasa senang atas perlakuan pamannya.
"Rin-chan, habiskan dulu makananmu!" perintah Kaito. Rin hanya mengangguk kesal. Ia kemudian dengan lahap memakan makanan yang ada di hadapannya dengan cepat. Ia ingin segera berbincang-bincang dengan pamannya itu.
"Otou-san, aku sudah selesai makan," Rin kemudian menggeser kursinya dan lantas berlari menuju ruang santai di mana paman kesayangannya tengah menunggunya.
"Hei, Rin, kau tidak boleh keluar sebelum orang tuamu selesai makan. Itu tidak sopan! Kembali kau!" bentak Kaito. Miku kemudian membela putrinya,"Sayang, jangan terlalu keras padanya! Toh, selama ini ia selalu mematuhimu bukan? Biarkanlah dia untuk kali ini saja. Kau tahu sendiri kan betapa dekatnya Rin dan Mikuo? Mereka sudah hampir sebulan tidak bertemu,"
Kaito hanya menghela nafas seraya berkata,"Baiklah, baiklah. Up to you, honey."
.
.
"Paman, paman, paman," panggil Rin pada Mikuo. Mikuo menoleh. Sebenarnya hatinya tertawa, gemas rasanya mendengar nada panggilan Rin padanya.
"Apa? Apa? Apa?" tanya Mikuo kemudian dengan nada yang sama saat Rin memanggilnya. Rin tertawa lepas mendengarnya.
"Bagaimana petualangan paman selama sebulan ini? Apa paman menemukan hal baru?" tanya Rin penasaran. Mikuo hanya tersenyum menatap keponakannya.
"Yah, seperti biasa. Namun, kali ini di tengah jalan aku bertemu dengan seekor ikan paus besar," jawab Mikuo. Mata Rin berbinar mendengarnya. Wajahnya seakan-akan mengekspresikan agar pamannya itu mau menceritakan secara lebih mendetail.
"Dia paus biru yang baik. Namanya Azur. Dia memberiku tumpangan sampai pertengahan jalan. Dan dia menitipkan salam untuk keponakanku yang baru menginjak usia remaja ini," lanjut Mikuo seraya mencubit gemas pipi Rin yang memang sedikit chubby. Rin hanya terkekeh mendengarnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal remaja, selama sebulan ini, Rin udah punya pacar belum?" tanya Mikuo seraya menggoda keponakannya itu. Wajah Rin tiba-tiba memerah. Ia langsung teringat akan sesosok pemuda tampan yang ditemuinya di pantai. Sesosok manusia yang memang tidak ditakdirkan untuk menjalin hubungan dengan seekor putri duyung.
"Hoi, Rin.. Rin... Rin!"
Rin kemudian tersadar dari lamunannya akan pemuda itu. Mikuo pun lantas menggodanya.
"Cie, lagi mikirin pacarnya ya?"
"Ng─ngga kok! Siapa bilang?" bantah Rin dengan wajah merona kemerahan. Mikuo semakin senang menjahilinya.
"Wah, jangan-jangan lagi mikirin orang yang disukainya ya? Cie, Rin mulai dewasa nih! Ada yang jatuh cinta nih!" goda Mikuo. Wajah Rin semakin memanas.
"Rin, sudah waktunya kau tidur," ujar Kaito yang tiba-tiba memasuki ruang tersebut. Rin cemberut.
"Ayah, aku masih ingin berbincang-bincang dengan paman Mikuo," pinta Rin. Ia sedikit merajuk manja.
"Sudahlah putri kecil, lekaslah tidur. Kita bisa lanjutkan perbincangan ini besok. Paman juga masih lelah, ingin istirahat," seru Mikuo. Ia kemudian kembali mengacak-acak rambut keponakannya itu. Rin hanya menggembungkan pipinya seraya mengeluh dalam hati,'Huh, semua ini gara-gara otou-san,'
.
.
Rin menatap langit-langit kamarnya. Ia masih tidak tenang. Tidak─! Bukan hukuman yang saat ini ada dalam pikirannya. Sosok pemuda dengan blonde hair dan blue sapphire yang baru saja ditemuinya yang membuatnya tidak tenang. Ada sedikit debaran yang dirasakannya saat memikirkan pemuda itu. Pemuda itu memang keren. Dia sangat tampan. Sosoknya saat itu terlihat seperti seorang pangeran.
Rin menghela nafas. Ditepisnya jauh-jauh pikiran mengenai pemuda itu. Ia tahu bahwa manusia dan putri duyung tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Bisa kalian bayangkan sendiri kan? Putri duyung hidup di dasar samudera, sementara manusia tinggal di daratan. Bisakah kalian pikirkan bagaiamana cara putri duyung berjalan di daratan menggunakan ekornya? Mustahil! Atau manusia yang harus hidup di dasar samudera? Itu jauh lebih mustahil! Manusia tersebut bisa mati karena kehabisan oksigen.
Rin mencoba untuk tidur. Namun, tidak bisa. Ia sama sekali tidak mengantuk. Otaknya saat ini dipenuhi oleh pemuda itu. Ditatapnya jam dinding kamarnya yang berbentuk buah jeruk. Waktu menunjukkan pukul 11 malam.
'Apa pemuda itu juga memikirkanku ya?' tanya Rin dalam hati. Ia kemudian membuang jauh-jauh akan pikiran pemuda itu. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa semakin ia menepis pikiran itu, semakin melekatlah pikiran itu pada otaknya.
.
.
Kilauan sinar mentari menyilaukan mata Len yang masih terpejam. Hal itu membuat pemuda yang satu itu mau tak mau membuka kedua matanya. Dia kemudian membuka tirai kamarnya dan menatap pantai yang terbentang di depan rumahnya.
Ombak masih bergulung─saling berkejar-kejaran menuju pantai. Sesekali ombak itu menghantam batu-batu karang yang terdapat di sana─membasahi pasir-pasir dan juga mengikis batuan karang tersebut. Pepohonan mangrove terlihat menyejukkan suasana pantai itu. Belum lagi burung-burung camar yang berterbangan─menghiasi langit biru yang terbentang indah.
'Sepertinya menghabiskan hari minggu di pantai bukanlah hal yang buruk. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan putri duyung yang kemarin,' gumam pemuda dengan iris mata seindah permata biru safir itu. Matanya masih terus menerawang ke arah pantai─sesekali menatap batu karang─berharap bisa mendapati tanda-tanda akan keberadaan putri duyung yang kemarin.
Ia kemudian merapikan tempat tidurnya. Kemudian, ia lantas berganti pakaian, mengambil seporsi roti bakar dan langsung berlari ke pantai.
.
.
Di pantai, Len celingukan─mencari sosok sang putri duyung. Namun tak ditemukannya. Akhirnya ia pun kebingungan sendiri memutuskan apa yang akan dilakukannya di sana. Bermain pasir? Menurutnya itu suatu hal yang bodoh, hanya anak kecil yang melakukannya. Berenang? Bukan hal yang menarik baginya melakukan itu di pantai─kecuali jika bersama dengan putri duyung itu. Surfing? Well, menurutnya itu ide bagus. Ia langsung menuju kios tempat penyewaan papan selancar dan langsung menyewa sebuah papan selancar.
Tanpa basa-basi dan banyak cingcong, ia langsung berganti pakaian dan menuju ke laut. Ia lumayan senang berselancar. Selama 15 tahun hidup di dekat pantai? Bukan hal aneh jika dia memang sudah terlatih. Sebenarnya, ia pernah mengalahkan salah satu peselancar terkenal di Jepang. Hanya saja, ia tidak begitu tertarik mengikuti pertandingan-pertandingan seperti itu. Ia hanya menganggap berselancar sebagai sesuatu yang menyenangkan dan untuk dinikmati, bukan dipersaingkan. Menurutnya, jika dipertandingkan, ada kalanya rasa kesenangan itu akan menghilang karena kita akan terobsesi untuk menang. Bukankah begitu?
.
.
Sudah hampir 3 jam Len asyik berselancar di sana. Namun, tak ditemuinya putri duyung berambut blonde itu. Tapi, ia mencoba untuk tetap menikmati permainannya melawan ombak arus yang ganas. Ia kesampingkan pikirannya mengenai putri duyung kemarin.
Tiba-tiba, ombak yang ganas itu semakin ganas menyerangnya. Hembusan angin besar yang tidak terduga membuat ombak itu menggulung. Len terkejut melihatnya. Ia berusaha untuk tetap tenang, namun terlambat, ombak itu sudah lebih dulu menenggelamkannya.
.
.
"Ibu, bolehkah aku pergi bermain?" tanya putri duyung bernama Rin setelah ia menghabiskan sarapan paginya.
"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh! Pulanglah sebelum makan malam. Jika tidak, ayah akan marah seperti kemarin malam," ujar sang ibu a.k.a Miku.
"Baik, okaa-san,"
"Dan, jangan kau perlihatkan wujudmu pada manusia! Kalau bisa, jangan dekati pantai dan daratan!" nasihat putri duyung berambut hijau tosca itu. Rin hanya menganggukan kepalanya dengan sedikit ragu. Ia merasa tak yakin dapat melaksanakan nasihat ibunya─karena sebelumnya wujudnya telah diketahui manusia.
Rin kemudian mulai mengibaskan ekornya keluar dari kerajaan. Ia kemudian menuju pantai tempat kemarin dia bertemu dengan seorang manusia bermata biru safir seperti dirinya. Tidak─! Ia melakukannya bukan untuk menemui pemuda itu, tapi untuk menikmati pemandangan indah di sana.
Namun, di tengah perjalanan, ia menemui sesosok pemuda kemarin yang tengah tenggelam. Ia ingin menolongnya. Sangat ingin menolongnya. Tapi, tiba-tiba teringat perkataan ibunya barusan.
'Jangan kau perlihatkan wujudmu pada manusia!'
'Apa yang harus ku lakukan? Menolongnya? Tapi aku tidak boleh memperlihatkan wujudku. Tapi, kalau dibiarkan, dia bisa meninggal. Okaa-san, maafkan aku!' Rin kemudian menguatkan tekadnya untuk menolong pemuda itu. Ia kemudian menarik lengan pemuda itu dan langsung membawanya ke tepian.
.
.
Sesampainya di pantai, Rin membaringkan pemuda itu di balik batu karang besar yang berada sedikit jauh dari keramaian─agar tidak terlalu banyak manusia yang melihat mereka. Digoyang-goyangkannya tubuh pemuda itu.
"Hei, bangunlah! Kau tidak apa-apa?"
Pemuda blonde hair itu masih belum terbangun juga. Rin kemudian mengeluarkan suara emasnya. Nada-nada yang indah mengalun dengan harmoni keluar dari mulut mungilnya.
"~Hanarete itemo sousa bokura wa, ama kakeru seiza no ura omote, sazameku hirumo setsunai yorumo, sora o koe hikare au gemini sa~"
Perlahan pemuda itu mulai membuka kedua matanya yang tadi masih terpejam. Biru safir kembali bertemu dengan biru safir. Air mata mengumpul di pelupuk mata sang putri duyung. Pemuda itu kemudian menghapus perlahan air mata tersebut.
"Jangan menangis," ujarnya pelan. Ia kemudian merubah posisinya dengan duduk berhadapan dengan sang putri duyung.
"Akhirnya aku bertemu denganmu lagi. Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"Ri─Rin," jawab putri duyung itu sedikit terbata-bata karena malu-malu kucing. Pemuda itu tersenyum manis menatapnya.
"Nama yang bagus. Aku Len Kagamine," ujar pemuda itu. Rin masih malu-malu dan sedikit takut.
"A─aku pergi dulu," seru Rin kemudian. Ia sudah bersiap-siap untuk melompat turun ke pantai. Len berlari hendak mengejarnya, namun, Rin sama sekali tak dapat dikejarnya.
"Hei! Lain kali ke sini lagi ya! Aku ingin bertemu denganmu lagi!" seru Len. Meski sudah masuk ke air, Rin masih dapat mendengar jelas perkataan Len barusan. Dikibaskannya ekornya, dan Len mengartikan kibasan itu sebagai kata,'ya,'.
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
