Mungkin Jimin kerasukan setan pemuja Yoongi hingga ia sendiri tak percaya kalau ia benar-benar menunggu kedatangan Yoongi. Percaya bahwa Yoongi akan membawanya. Jimin tak peduli Yoongi kemarin malam bersungguh-sungguh atau hanya memberikan harapan palsu padanya. Jimin bahkan mengabaikan rasa lapar yang dikarenakan tidak menerima asupan makanan apapun sejak diculik. Begitu antusias.
Memakai kaus biru polos dan celana denim selutut, sesimpel itu. Jimin berharap-harap cemas dan dengan gelisah mengitari kamarnya.
Nampan berisi makanan dan minuman terabaikan begitu saja di depan kamarnya. Mungkin Jimin akan merasa lapar hanya jika sang perebut keperjakaannya datang.
Jam weker di atas nakas telah menunjukkan pukul empat lewat lima puluh, tetapi tidak ada tanda-tanda jika Yoongi akan menjemputnya. Setidaknya pengawal suruhan Yoongi saja yang nongol, Jimin sudah amat senang. Namun ternyata tidak ada sama sekali. Yoongi mungkin mengigau saat mengatakannya.
Harapan Jimin mulai terkikis.
Happy reading and sorry for typos!
.
.
.
"Bukan begitu, Yoongi-ya. Bukankah ada gadis-gadis yang lain? Aku juga sudah membeli perawan muda pagi tadi." Bujuk Hoseok untuk tidak membawa anak emasnya, Park Jimin.
"Haruskah aku memanggil polisi untuk membongkar isi klubmu ini?"
Yoongi duduk di kursi putar dengan menyilangkan kedua kakinya di atas meja kerja Hoseok. Sekali-sekali memainkan ponselnya dan melirik sinis Hoseok.
"Yak, yak! Tapi, kau pasti tahu mengapa. Astaga, kepalaku mendadak pusing."
Tentu saja. Sekali bermain dengan Jimin juga Yoongi sudah tahu. Jimin itu tidak bisa diprediksi. Bahkan Yoongi berpikir bahwa Jimin sama gila seperti dirinya. Saling memuaskan dengan cara tak biasa. Jimin akan berubah seperti anak kucing saat Yoongi menyentuhnya dengan lembut, namun di saat-saat tertentu, Jimin akan memberontak seperti macan tanpa bisa Yoongi jinakkan.
Seks yang tak terkendalikan, Yoongi menyukainya.
Semua pria yang mendapat servis luar biasa dari Jimin pasti akan seposesif dirinya.
Yoongi hanya tidak ingin pria lain merasakan hal yang sama seperti yang ia alami bersama Jimin. Tapi Hoseok dengan tampang kelewat ceria dan berotak jenius, sebenarnya sangat licik. Yoongi tahu setelah Jimin dibeli sekali, maka uang tersebut juga akan raib dalam sekali pakai. Berbeda dengan ketika Yoongi melepaskan Jimin untuk pria lain, maka uang yang Hoseok terima juga berkali-kali.
"Pengkhianat yang setiakawan," Ucap Yoongi dengan senyumnya yang kelewat manis. Memencet angka-angka di layar ponselnya dan tak lama kemudian, telepon pun tersambung. "Tolong bongkar sebuah klub jualbeli manusia sekaligus bandar narkoba di tempatku berada." Dan telepon tersebut diputuskan secara sepihak oleh Yoongi.
Kurang dari lima detik, suara riuh pengunjung dari klub yang tadinya kencang, lenyap begitu saja diganti dengan suara bentakan para polisi.
"Bawa Jimin padaku, tapi matanya harus ditutupi oleh kain yang sama. Katakan itu padanya." Perintah Yoongi kepada bawahannya.
"Kau menikmatinya, bukan? Harusnya kau berterimakasih pada orang yang telah mendongkrakmu sampai sesukses ini."
Yoongi berlalu dari Hoseok yang mematung sejak tadi.
.
.
.
"Tuan Min mengatakan, ia ingin kau memakai kain yang sama pada matamu." Ujar salah satu bawahan Yoongi setelah berhasil membuka kunci kamar Jimin.
Apa-apaan, apakah Jimin harus selalu buta sementara setiap saat bersama dengan Yoongi?
"Tuan kalian aneh sekali," Gumam Jimin tapi tetap mengambil kain yang dimaksud dari atas tempat tidur. "Pakaikan. Aku tahu kalian akan ditebas begitu tuan kalian menyadari bahwa aku bisa mengintipnya dari balik kain ini."
Dengan bergetar bawahan Yoongi menuruti perintah Jimin. Setelah dirasa ketat dan tak akan melorot, kedua bawahan Yoongi pun menuntun Jimin untuk sampai pada tuan mereka.
"Kita berjumpa lagi, Park." Sapa Yoongi begitu Jimin berdiri dengan kaku di depannya.
"Aku tak bisa melihat apapun karena perintah bodohmu, kau tahu." Sarkas Jimin.
Yoongi mengecup singkat bibir Jimin sebelum menuntunnya keluar dari klub. "Agar aku bisa menyentuhmu."
"Tak waras." Gumam Jimin. "Kenapa begitu sepi?"
Tanpa menjawab apapun Yoongi kembali menuntun langkah Jimin menuju mobilnya, mencegah pemudanya untuk bertanya lebih jauh.
.
.
.
Sesampainya di mobil, sepasang adam itu tak lagi membicarakan apapun. Banyak pertanyaan yang tertahan dalam pikiran Jimin. Apa jam di rumah Yoongi rusak? Tak tahukah Yoongi bahwa Jimin berharap padanya? Kenapa Yoongi begitu lama?
Dan pertanyaan yang sejak awal terlintas di pikirannya sejak semalam, untuk apa Yoongi membawanya?
Jimin tersenyum miris saat menarik benang merah dari kejadian yang ia alami sejauh ini.
Yoongi tuanmu, sedangkan kau adalah budaknya.
"Jiminie, kita sudah sampai." Suara Yoongi menginterupsinya saat Jimin rasakan mobil Yoongi tak lagi melaju.
"Ba−baik, Tuan... Min."
Yoongi kebingungan. Tuan siapa?
.
.
.
Sejuk. Itu yang Jimin rasakan ketika menginjakkan kakinya.
Sebenarnya Jimin penasaran dimana ia sekarang. Tapi perintah tuanmu tak boleh dilanggar, bukan? Jimin takut Yoongi akan menyiksa hormonnya seperti semalam.
"Tuan? Kita dimana?"
"Jimin, kenapa kau tiba-tiba memanggilku seperti itu?" Yoongi merasa tak nyaman akan panggilan tersebut.
"Kau membeliku, dan aku adalah budakmu, Tuan Min," Jimin menghela nafasnya panjang, "Maafkan aku yang tak tahu terimakasih. Aku akan melayanimu dengan sege−"
Dapat Jimin rasakan pinggangnya ditarik kasar dan hal itu terjadi lagi. Yoongi tidak menahan dirinya untuk mencium bibir Jimin yang merah dan merekah indah itu. Intens dan berantakan. Ketika lidah mereka tertaut dan tarik ulur di dalam sana, Jimin meremat kemeja Yoongi dan melemas dalam pelukannya.
Yoongi melepaskan pagutannya dan menarik kain yang menghalangi pandangan Jimin. "Tatap aku, Jimin."
Jimin melepas rematan pada kemeja Yoongi, kemudian menggosok berulang netranya sebelum membukanya.
Ya Tuhan, aku bisa mati. Tatapannya tajam sekali.
Jemari Jimin menelusuri pahatan wajah Yoongi. Manly sekali. Batin Jimin.
Ketika telunjuk Jimin menyentuh ujung bibir Yoongi, begitu perlahan, Yoongi mengangkat Jimin ala koala dan memasuki bangunan di dekat mereka dengan tak sabaran.
Jimin sedikit terpental saat Yoongi membantingnya ke atas sofa. Jimin dikungkung dan Yoongi menatap kedalam matanya. Dengan sedikit keberanian Jimin menatapnya balik.
"Katakan sekali lagi, Jiminie. Kau siapaku?"
Jimin memutuskan kontak mata dan bergerak dengan gelisah, "Uh, aku budakmu."
"Sialan!"
Yoongi berdiri dan mengacak surainya kasar. Sebegitu tak peka-kah anak itu? Mungkin mereka harus bercinta sekali lagi agar Jimin tahu, apa arti dirinya untuk Yoongi.
"Kim Seokjin!" Yoongi memanggil nama tersebut dengan penuh emosi.
Kim Seokjin, butler apartemen baru Yoongi, berjalan terseok dan menghadap Yoongi dengan membungkuk hormat.
"Urus dia," Yoongi menunjuk Jimin yang masih menatapnya dengan pandangan bodoh. "Berikan pakaian terbaik untuknya. Dan kalian berdua, kita akan makan bersama setelah kau mengurus Jimin sampai selesai."
"Baik, Tuan Min." Seokjin menuntun Jimin ke kamar di lantai dua. Jimin terperangah begitu berada di depan sebuah pintu kamar.
Bahkan ada ukiran namanya yang berwarna emas bercampur hitam di pintu kamar itu.
"Ayo, Jimin. Kita masuk." Seokjin membukakan pintu kamar tersebut dan mendorong Jimin untuk masuk, kemudian menutupnya.
"Anda harus tampil maksimal." Peringat Seokjin.
.
.
.
Jimin tidak bisa untuk tidak mengagumi aset Yoongi sedari tadi.
Kamar tidurnya bisa dibilang sangat-sangat luas dan mewah. Bahkan terdapat walk in closet tepat di sebelah kamar mandinya. Jimin ragu itu kamarnya atau kamar Yoongi. Sementara Seokjin memilah dan menyiapkan pakaian Jimin, Jimin masuk ke kamar mandi dan kembali ber'wah' ria.
Sebuah bathub berukuran sedang terpampang jelas dan botol sabun cair dalam berbagai ukuran berjejer di atas meja lipat sebelah bathub tersebut. Terdapat kloset duduk di ujung, dan sebuah kursi dari keramik sebagai pemanis di dekat pintu kamar mandi.
"Mandilah, Jimin. Aku akan menunggumu di depan sini. Disitu handuknya, dan disitu…" Seokjin memberikan instruksi pada Jimin mengenai letak perlengkapan mandinya.
"Seokjin-nim, jangan menungguku disini. Duduk saja di tempat tidur. Toh aku tidak apa-apa." Cicit Jimin segan. Dari wajah Seokjin, sudah pasti pria cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya.
"Apa saya tidak terlalu lancang?" Tanya Seokjin heran.
"Tidak-tidak. Seokjin-nim, duduk saja disana."
"Saya butler pribadi Anda," Tegas Seokjin. "Dan saya harus ada disini setiap saat Anda membutuhkan saya."
Jimin tak bisa lagi meredam rasa kagetnya. Apa? Butler pribadi untukku? Jimin benar-benar kalap. Apa yang sedang terjadi padanya?
Aku siapamu, Min Yoongi?
.
.
.
Yoongi merindukan Jimin, dengan tak sabaran Yoongi keluar dari ruang makan dan berjalan cepat menuju kamar pemuda itu.
"Seokjin-ah," Bisik Yoongi begitu membuka perlahan pintu kamar. "Jimin masih di dalam?"
"Ya," Singkat Seokjin. "Tenang saja, dia akan menjadi pangeran kecil begitu dirias olehku. Kau pergi saja sana." Usir Seokjin.
"Teganya kau, hyung." Ujar Yoongi dengan wajah sedih.
"Menggelikan. Pergi sana!" Pekik Seokjin.
Yoongi menarik tangan Seokjin dan mendorongnya keluar, "Yah, aku yang akan menunggu Jimin. Bisa kau siapkan makan malam untuk kita bertiga?"
"Bilang saja kau sudah terpikat dengannya." Seokjin mendengus sebelum pergi, "Jangan terlalu lama. Aku tak mau mati kelaparan. Itu konyol."
Yoongi mengedipkan matanya dan menutup pintu kamar.
.
.
.
"Seokjin-nim?" Jimin sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana cara mematikan keran airnya? Airnya tak bisa berhenti!" Pekik Jimin gusar sembari memutar-mutar kerannya, tapi tidak bisa mati.
"Seokjin-nim!" Jimin membuka pintu dan tidak mendapati Seokjin di depan, "−ah, Tuan Min." Cicit Jimin.
"Hm, sudah selesai?" Tanya Yoongi dari atas ranjang.
"Keran air itu sepertinya rusak." Jimin menggaruk kepalanya, "Padahal aku tidak membukanya terlalu kasar."
"Coba kulihat." Jawab Yoongi dan beranjak dari kasur.
"Tapi aku masih−"
Yoongi melewati Jimin dan memutar kerannya, "Lihat? Menutup keran saja tidak bisa." Ejek Yoongi sesaat sebelum membolakan matanya.
"Yak, Tuan, bisakah kau keluar sebentar? Aku tidak bisa berganti pakaian di depanmu."
Jimin menutupi tubuh telanjangnya dengan sebuah handuk besar berwarna krem. Tubuh Jimin tenggelam di dalamnya. Jimin mengerjapkan matanya bingung begitu melihat ekspresi Yoongi.
Ah, imut sekali, ngomong-ngomong.
Tapi kenapa aku bisa setegang ini?
Jimin refleks melangkah mundur begitu Yoongi berjalan ke arahnya.
"Jiminie, aku merindukanmu."
Birahi Yoongi melonjak drastis, Jimin tahu dari suara Yoongi yang memberat.
Ya Tuhan, ampuni aku.
.
.
.
Jimin menggenggam erat handuknya. Astaga, Yoongi ada di atasnya. Posisinya terlalu intim. Tapi Jimin tak bisa kabur kemanapun.
Bagaimana dengan makan malamnya?
Ketika Yoongi mengecup basah adam's apple miliknya, Jimin tertawa kegelian dan handuknya dirampas begitu saja.
"Tu−ahn." Jimin kelepasan mendesah begitu Yoongi menekankan lututnya pada selangkangan Jimin.
"Kau juga menginginkannya." Yoongi menatap mata sayu milik Jimin dan mengelus sensual pusarnya.
"Kau menginginkanku, Jiminie." Yoongi mengerang begitu Jimin meremas miliknya yang masih berbalut jeans.
Jimin meraih tengkuk Yoongi dan melumat bibirnya. Kakinya meraba-raba punggung Yoongi dan melingkarkannya dengan erat disana.
"Iya. Aku menginginkanmu." Bisik Jimin yang menarik kemeja Yoongi, kemudian melepas kancingnya satu persatu.
.
.
.
"Yoongie." Rengek Jimin sambil menangis.
Seperti yang telah Yoongi simpulkan, Jimin itu tidak bisa diprediksi. Tadinya Jimin merengek agar merasakan posisi berada di atas. Uke on top, istilahnya.
Sekarang apalagi? Yoongi ingin memperkosanya saja sekarang.
"Yoongie, penismu terlalu besar, tidak bisa masuk.." Jimin menangis lebih kencang dan kembali meraih penis Yoongi, berusaha memasukkannya ke dalam lubang miliknya.
"Hiks.. Yoongie, dia meleset.."
Yoongi gemas sendiri, "Jiminie, sini. Peluk aku." Ucap Yoongi dan melebarkan tangannya.
Jimin meraih tangan Yoongi dan menenggelamkan diri dalam pelukan Yoongi. Jimin merasakan jantung mereka yang berpacu bersama.
Nyaman.
"Biar aku mengendalikan semuanya malam ini. Nikmati saja, Jiminie. Mendesah dan teriaklah sepuasnya." Bisik Yoongi tepat di daun telinga Jimin, mengecupnya penuh kasih, dan menenangkan Jimin dengan menepuk pelan punggungnya beberapa kali.
"Heum,Tu−"
"No." Sanggah Yoongi. "Say my name, and scream it out, sweetie."
Yoongi meraih bokong Jimin dan meremas bongkahan kenyal itu.
Jimin mencengkram erat lengan Yoongi dan segera melesakkan kepalanya pada bahu pria itu begitu merasakan ujung penis Yoongi membelah perlahan lubang sempitnya. Tanpa aba-aba Yoongi menyentak lubang itu dan Jimin meronta agar terlepas darinya.
"Jiminie, akan lebih sakit kalau aku melakukannya dengan pelan." Jelas Yoongi, "As I said, scream my name out."
Jimin memekik begitu merasakan penis Yoongi menumbuk prostatnya. Posisinya di atas membuat penis Yoongi lebih leluasa dalam menginvasi lubang Jimin.
Dalam dan panas.
Jimin meneriakkan nama Yoongi begitu Yoongi mempercepat temponya.
"Do you like it, Jiminie?" Bisik Yoongi begitu parau, terbakar akan gairahnya.
Jimin mengangguk dan mencecap leher Yoongi, ingin memberi sedikit tanda disana, "It feels nice while you're in me."
Sekali-sekali Yoongi memperlambat temponya, ia tertawa penuh kemenangan begitu Jimin merengek dan menaik turunkan badannya dengan tak sabaran.
Jimin terengah dan mencium bibir Yoongi, sedikit berantakan karena ia telah mencapai puncaknya.
Tak lama kemudian Yoongi menyusul Jimin, menekan bokong Jimin agar cairannya masuk sedalam mungkin.
Berharap akan membentuk kehidupan baru didalam sana.
.
.
.
Yoongi terkekeh gemas ketika melihat Jimin meringkuk di atasnya seperti bayi.
"Yak, kau berat, Jiminie."
Jimin mendengus kesal dan melirik Yoongi sambil melotot, "Begitu? Jiminie tak mau di atas Yoongie lagi!"
Yoongi mengeratkan pelukan begitu Jimin akan beranjak dari atasnya, "Yoongie, katanya Jiminie berat!" Rajuk Jimin.
"Hmm.. Jiminie, panggil namaku sekali lagi. Kau menjadi seksi dan ringan sekali saat mengatakannya." Goda Yoongi.
"Eoh? Itu aneh," Jawab Jimin malu-malu, "Yoon−"
"MIN YOONGI! SUDAH KUBILANG JANGAN LAMA-LAMA!" Amuk Seokjin dari luar kamar.
.
.
.
TBC
Titiw~ balik lg dengan nchu nyehehe xD gimana chapter 2nya? Kok nchu sendiri ngerasa ga puas, ada ganjel2nya gitu ya :( plotnya kecepatan atau kelambatan ya :( dimohon kritik dan saran agar nchu bisa bangun cerita yg lebih baik lg hehehe~ uda gitu aja.
See ya!
Regards, nchu
