.
Bahkan sampai sekarang aku hanya bisa melihatmu.
.
Drabble MinYoon.
Just enjoy everyone.
..
..
Jimin termenung dan terduduk lesu di dalam ruang latihan mereka. Hari ini hanya Jimin yang menguasai ruang latihan dan Jimin menggunakan seluruh waktu luang yang dimilikinya untuk berlatih seharian. Jimin memang seperti itu, saat pemikiran kalut bersarang di kepalanya maka ia akan seperti ini, ia akan berlatih seharian dan memaksakan tubuhnya sehingga membuat tubuhnya lelah sehingga ia bisa mengakhiri harinya di atas ranjangnya tanpa harus memikirkan apapun lagi.
Namun, sepertinya kali ini tidak. Sudah seminggu ia seperti ini, sudah seminggu semenjak Yoongi hyungnya mendengarkan seluruh track mixtapenya kepada seluruh member dan semenjak saat itu pula Jimin seperti ini. Dan malam ini semakin parah saat ia melihat laman blog grupnya. "Sudah keluar ya…"
Jimin tertunduk memandangi layar ponselnya yang telah menghitam menandakan telah matinya layar ponselnya. "Arrgh! Apa aku juga termasuk orang yang tak bisa memahaminya?!" keluh Jimin.
Mengingat seluruh lirik hyung kesayangannya itu membuat Jimin frustasi selama seminggu ini. Jika reaksi para member mengatakan jika lagu yang ditulis oleh hyung kesayangannya itu keren, bagus, swag atau bahkan seperti Jungkook yang menangis sesaat setelah mendengar mixtape hyungnya itu… Jimin hanya bisa menghela nafas lelah dan berdiri bangkit dari studio hyungnya dan berkata pelan jika ia akan kembali melanjutkan latihannya.
Pikiran Jimin penuh… lirik Yoongi hyungnya membuatnya ketakutan. Ia takut… ia takut ia tak pantas berada di samping hyungnya itu. Ia takut… ia takut bahkan sampai sekarang kemungkinan Yoongi hyungnya tak menganggapnya itu tetap ada. Toh nyatanya Yoongi hyungnya tak pernah melepaskan topengnya, dan itu membuat Jimin takut… takut setelah berkoar-koar jika ia mengerti dan memahami Yoongi hyungnya dan kenyataan menamparnya bahwa ia tak bisa sedikitpun memahami Min Yoongi.
..
.
.
Jimin melangkahkan kakinya ke ruang tamu dorm mereka. Mengabaikan tatapan seseorang yang menunggunya di ruang tamu dan melanjutkan langkah lelahnya menuju kamarnya dan segera berbaring ke atas ranjangnya untuk tertidur tanpa mengetahui bahwa yang menunggunya hanya bisa menghela nafas frustasi melihat kelakuan Jimin.
"Apa yang salah sebenarnya?" gumam pemuda bersurai pirang itu. Sesungguhnya Yoongi ingin menyelesaikan apapun masalah yang sedang ia dan Jimin alami secepatnya, namun Jimin yang terus menghindar dan juga kesibukkannya dengan mixtapenya membuatnya tak punya waktu untuk menyelesaikan masalah itu, lalu begitu ia memiliki waktu luang dan lihatlah apa yang terjadi. Jimin pulang larut dan bahkan terlalu lelah untuk menatapnya. Hal ini membuat Yoongi melangkah kesal ke kamarnya dengan muka tertekuk.
"Sudah bicara dengan Jimin?" ujar Seokjin begitu melihat Yoongi masuk ke kamar mereka.
"Belum, begitu pulang ia malah langsung bercumbu dengan ranjangnya." Balas Yoongi gusar dengan kenyataan bahwa Jimin langsung terlelap begitu menyentuh ranjangnya.
"Ia terlalu memaksakan dirinya, coba bicara besok pagi saja Yoongi."
Yoongi hanya bergumam pertanda ia mengiyakan dan mulai berbaring di ranjangnya dengan pikiran yang terus berputar memikirkan kekasihnya, Park Jimin.
..
.
.
Pagi-pagi sekali Jimin sudah berada di ruang latihan dan menari hingga berjam-jam. Memaksakan tubuhnya lagi dan lagi. Dan berbaring kelelahan di lantai ruangan dengan nafas yang terengah-engah. Sebelum…
Sebelum bunyi pintu ruang latihan yang terbuka dengan kasar dan langkah kaki menghentak kesal datang dan menuju ke arah Jimin yang seketika terduduk karena terkejut.
"Katakan apa masalahmu!" todong Yoongi setelah berdiri tepat di hadapan Jimin. "Laguku buruk?! Kau tak menyukainya?! Bukannya seharusnya kau mendukungku?!" bentak Yoongi.
"Ya aku tak menyukainya…" jawab Jimin dengan suara lirih yang seketika membuat Yoongi membelalak tak percaya.
"Katakan alasan mengapa kau tak menyukainya…" tuntut Yoongi setelah ia berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
Jimin mengangkat pandangannya ke arah Yoongi, memandangi mata Yoongi yang berkilat kecewa… "Aku tak menyukainya… karena di lagumu… kau mengatakan tak ada yang mengerti dirimu. Lalu aku? Apa aku juga? Lalu apa artinya diriku untukmu? Aku takut pada kenyataan, bahkan akupun tak memiliki arti di kehidupanmu…"
Yoongi menatap datar kedua mata kekasihnya itu, menghela nafas pelan dan bertanya pada Jimin. "Sudah? Sudah pemikiran bodohmu itu?" Tanya Yoongi dan terduduk antara lemas dan lega karena masalah mereka tak sebesar yang ia bayangkan. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Saat kau menyatakan cinta padaku… dan saat aku menerima dirimu… itu adalah saat dimana aku membuka diriku untukmu. Seorang Min Yoongi yang akhirnya bisa kembali menerima seseorang di kehidupannya. Seorang Min Yoongi yang akhirnya merasakan kembali kehangatan cinta. Dan kau bertanya artimu untukku?"
Perlahan Yoongi meraih tangan Jimin dan meletakkan telapak tangan itu di dadanya, tepat di bagian di mana jantungnya berdetak…
"Ini arti dirimu… kau yang membuat detakan jantungku menggila seperti ini karena mencintaimu…"
Jimin memandangi Yoongi dengan sendu sebelum tersenyum tipis, "Maafkan pemikiran bodohku. Aku hanya takut, bahkan sampai sekarang aku masih takut. Tapi detakan ini…" Jimin meraih tangan Yoongi dan meletakkannya di dadanya. "…bersahutan dan bertautan dengan detak jantungmu. Aku sangat mencintaimu, hyung. Sehingga aku merasa takut jika aku akan kehilanganmu…"
Jemari Jimin meraih wajah manis kekasihnya yang nampak lelah itu, merengkuh wajah itu untuk mendekat dan meraup bibir merah Yoongi selembut mungkin.
Menyampaikan getaran cinta yang ia miliki untuk Yoongi.
Membuat Yoongi memahami seberapa besar cintanya.
Yoongi yang mengerti itu semua mengalungkan lengannya di leher kekasihnya itu, meremas pelan rambut pirang sang kekasih, memberi tanda jika ia mengerti dan menyahuti lumatan lembut Jimin untuk memberitahukan Jimin jika perasaan mereka sama. Mereka sepasang kekasih yang saling mencinta dan mereka takut kehilangan, namun mereka akan selalu bertaut oleh perasaan murni mereka. Dan mereka akan melangkah bersama sembari bergandengan tangan menikmati percintaan mereka.
..
..
END
..
..
Drabble lainnya, bedasarkan khayalanku tentang keabsenan Jimin yang selalu men-support membernya namun tak ada berita apapun darinya saat AgustD keluar, dan baru mulai mengoceh di twt lagi saat mv Give it to me keluar…
Jja, eotte?
