.
.
.
"Hah? Ada orang yang tinggal flat di sebelah kamarmu?"
Ryeowook, teman sekampus Sungmin, menatapnya heran. Mereka sedang berada di fakultas INU yang ramai dengan mahasiswa yang sedang asyik sarapan sambil bercengkerama. Sungmin mengangguk menyambut pertanyaan Ryeowook.
"Lelaki aneh yang asalnya dari Mars," jawab Sungmin sambil menusuk tteokbokki dan memasukkannya ke mulut.
"Hah? Dari Mars?" tanya Ryeowook bingung.
"Dia yang bilang sendiri. Memang sih, dia seperti alien," Sungmin berkata dengan mulut penuh tteokbokki.
"Tapi, pasti seru punya tetangga lelaki. Tampan tidak?" Ryeowook terus bertanya, membuat Sungmin melotot.
"Wook, intinya adalah: dia lelaki! Artinya, aku tidak akan punya privasi lagi!" sahut Sungmin.
"Iya, iya, tapi tampan tidak?" Ryeowook tak mau kalah.
"Oke. Jelas-jelas kau tidak mendapat poinnya di sini," kata Sungmin sebal. "Tampan sih, tampan..."
"Tampan, kan? Serius? Aku boleh kan dikenalin?" Ryeowook tiba-tiba histeris.
Sungmin mengernyit. "Wook, sepertinya kau harus belajar membiarkan orang lain menyelesaikan
kalimatnya. Tadi aku ingin bilang, tampan sih, tampan, tapi tetap saja dia alien!"
"Tidak apa-apa alien, yang penting tampan." balas Ryeowook, sudah tenggelam dalam imajinasinya.
"Makan tuh tampan." Sungmin berubah sebal. "Dia membuatku malas melihat wajah sombong dan sok misteriusnya itu."
"Lelaki misterius tuh justru lebih menarik, Min." kata Ryeowook. "Mereka punya aura yang menjadi magnet untuk para perempuan."
Sungmin menatap jijik temannya yang satu ini, dalam hati mengiyakan kata-katanya. Kyuhyun sepertinya punya aura seperti yang dikatakan Ryeowook. Rambutmya yang ikal dan hampir menutupi matanya yang tajam dan gelap membuatnya semakin misterius.
"Namanya siapa, Min?" Ryeowook masih penasaran.
"Kata Imo sih, Kyuhyun," jawab Sungmin yang langsung disambut teriakan histeris Ryeowook. Sungmin hampir tersedak dibuatnya.
"Sungmin! Namanya saja sangat keren!" seru Ryeowook, membuat Sungmin menyesal sudah memberitahunya.
Temannya satu ini kadang memang bisa jadi sangat norak.
.
.
.
.
Kyuhyun merasa sudah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya sampai akhirnya menemukan salah satu kampus di INU terdekat, yaitu kampus fakultas Kedokteran. Kyuhyun duduk di bangku taman, memperhatikan dengan cermat orang-orang yang melewatinya.
Kyuhyun harus menemukan orang itu, bagaimanapun caranya. Info yang dia dapat dari temannya sangat dikit. Donghae, temannya itu, mengatakan kalau orang yang sekarang sedang dicari Kyuhyun pernah terlihat di sekitar kampus INU. Donghae tidak tahu kampus yang mana, tetapi Kyuhyun tetap pergi. Tak masalah jika Kyuhyun harus mendatangi setiap kampus dan mencari orang itu dibanding hanya duduk diam dan menyesali nasib. Kyuhyun harus bertemu dengannya.
Kyuhyun memasang headphone besarnya, dan lagu "Hold On" milik Good Cahrlotte mengalun dari iPod-nya. Pikiran Kyuhyun melayang ke masa-masa SMA, dan tanpa disadarinya, dia mencengkeram lengan kirinya kuat-kuat.
.
.
.
.
Kyuhyun melangkah ke flat-nya yang terlihat gelap. Lampu depan flat itu sudah berpendar dan hampir mati, membuat flat itu tampak jauh lebih horor dibandingkan saat siang hari. Saat menaiki tangga, Kyuhyun mendapati Sungmin sedang menyapu gang depan kamarnya.
Sungmin menoleh dan menatap Kyuhyun yang tampak lelah.
"Pulang kuliah?" tanya Sungmin, mencoba ramah.
"Tidak." jawab Kyuhyun pendek, tak ingin membuat percakapan apa pun.
"Oh... pulang kerja?" tanya Sungmin lagi, membuat Kyuhyun meliriknya sebal.
"Tidak juga." Kyuhyun menjawab sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci.
"Lalu ingin apa kau disini" kejar Sungmin. Sebelum Kyuhyun sempat menjawab, Sungmin sudah berkata lagi. "Hm, aku tahu. Pasti kau sedang mencari pekerjaan."
"Yah, begitulah." Kyuhyun berusaha menyudahi percakapan dan tak ingin capek-capek menjawab. Dia membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa banyak bicara lagi.
Kyuhyun melempar tasnya ke atas kasur yang tergeletak menyedihkan tanpa seprai, lalu membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur itu walaupun tahu itu akan menyakitkan. Dengan seketika, debu-debu dari kasur itu berterbangan hingga membuat Kyuhyun terbatuk.
Kyuhyun duduk, mengambil botol air mineral, lalu meminum isinya. Dia menatap sekeliling
kamarnya yang tampak mengenaskan. Selain kasur tadi, di dalam kamar itu hanya terdapat lemari setinggi satu meter dan sebuah meja kecil. Ranselnya tergeletak sembarangan dengan isi yang sudah berhamburan, sementara cup-cup bekas mie tergeletak di atas meja bersama sebuah tas kecil.
Kyuhyun bangkit untuk mengambil tas kecil itu, lalu kembali duduk di kasur dan membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah handycam perak dengan model kuno. Sejenak Kyuhyun menatap handycam itu ragu, tapi lantas menyalakannya, bermaksud menonton kaset yang sudah beberapa lama mengendap di sana.
Baru sedetik setelah muncul gambar, Kyuhyun cepat-cepat mematikannya. Dia melemparkan handycam itu ke sebelahnya, lalu menjambak rambutnya kuat-kuat. Saat sedang melakukan itu, ponsel di sakunya bergetar. Kyuhyun tertegun begitu membaca nama di layar ponselnya. Eomma.
Ragu, Kyuhyun mengangkatnya. "Halo?"
"Halo? Kyuhyun? Ini eomma. Kau ada di mana sekarang?" tanya eommanya dari seberang. Kyuhyun terdiam sebentar.
"Eomma tidak perlu khawatir," tukas Kyuhyun, menolak untuk menjawab pertanyaannya.
"Kyuhyun, jawab eomma. Sekarang kau ada di mana?" desak eommanya lagi.
"Eomma, aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku benar-benar harus." kata Kyuhyun tegas. Sementara itu, eommanya mulai terisak.
"Kyuhyun, sudah lupakan. Yang terpenting sekarang kau pikirkan dirimu sendiri." Bujuk eommanya lagi.
"Eomma, aku harus menyelesaikan ini sebelum waktunya habis." Kyuhyun bersikeras. "Ini kesempatanku, eomma. Tolong jangan halangi aku."
Eommanya masih terisak. Kyuhyun baru berniat untuk memutuskan sambungan ketika ibunya berkata lagi, "Sepertinya kau tidak akan mendengarkan eomma. Tapi, tolong Kyuhyun, jangan lakukan hal-hal bodoh."
"Eomma tenang saja." Kyuhyun menjawab dengan suara dingin.
"Obatnya jangan lupa diminum..." Desakan eommanya kali ini membaut Kyuhyun benar-benar memutuskan sambungan. Dia lalu menonaktifkan ponselnya, berjaga-jaga kalau eommannya kembali meneleponnya.
Kyuhyun mengaduk isi ranselnya sampai menemukan sebuah botol pil-pil. Dia mencengkeram botol itu keras, lalu melemparnya ke dinding, membuat isinya berhamburan ke segala arah. Dia terduduk lemas di lantai menatap pil-pil yang berceceran.
Pil-pil yang kabarnya dapat menyelamatkannya.
.
.
.
.
Kyuhyun menatap sebuah bangunan dengan taman yang rindang. Kali ini, fakultas Bisnis INU. Kyuhyun tak tahu harus menunggu berapa lama, mungkin sampai fakultas ini tutup, tetapi dia harus melakukannya.
Kyuhyun duduk di salah satu bangku taman dan memperhatikan orang-orang yang sedang berdiskusi di dekatnya. Tak ada satu pun dari mereka yang wajahnya mendekati orang yang sedang dia cari. Kyuhyun mengehela napas, memasang headphone-nya, lalu mengorek saku celananya untuk mencari rokok.
Setelah beberpa jam dan menghabiskan sepuluh batang rokok, Kyuhyun memutuskan untuk menghampiri orang-orang yang lewat dan menanyainya langsung. Kyuhyun menyodorkan foto orang yan dicarinya, tetapi semua orang yang ditanyainya menggeleng tak kenal.
.
.
.
.
Kyuhyun berjalan gontai ke kamarnya yang masih tampak menyedihkan. Sebelum membuka pintu kamarnya, Kyuhyun melirik kamar Sungmin yang terlihat gelap. Kyuhyun masuk ke kamarnya sendiri dan membanting tubuhnya ke kasur, lalu langsung meringis saat sadar kalau kasur itu kadar kelentingannya sama dengan nol.
Kyuhyun mengorek saku celananya, menarik foto yang seharian tadi ditunjukkannya kepada semua orang yang lewat. Cengkeramannya pada foto itu mengeras sehingga membuat foto itu kusut, tetapi Kyuhyun tak peduli. Foto itu telah mengingatkannya pada kenangan yang tak ingin diingatnya lagi.
Suara ketuka pintu membuat lamunan Kyuhyun buyar. Penasaran, Kyuhyun bangkit dan membuka pintu. Sungmin.
"Ada apa?" tanya Kyuhyun malas. Di depannya, Sungmin nyengir.
"Ini. Dari Imo, dia takut kamu kena busung mapar." Sungmin menyodorkan nasi beserta lauk pauknya di atas nampan. Kyuhyun menatap nampan itu ragu.
"Tidak perlu, aku tidak lapar" tolak Kyuhyun akhirnya.
Ketika Sungmin baru akan mengatakan sesuatu, terdengar suara janggal dari perut Kyuhyun. Sesaat, Sungmin dan Kyuhyun sama-sama bengong.
"Terkadang, otak dengan perut kurang bisa berkoordinasi ya." kata Sungmin, setengah mati menahan tawa. Kyuhyun hanya tersenyum kecut.
"Yah, thanks." Kyuhyun mengalah dan mengambil nampan itu dari tangan Sungmin.
"Jangan lupa setelah makan piringnya dicuci ya," perintah Sungmin. Dia teringat akan pengalamannya sendiri saat lupa mencuci piring dan kena marah tantenya.
"Ya, nyonya." jawab Kyuhyun membuat Sungmin tersenyum geli.
Sebelum Kyuhyun menghilang ke dalam kamarnya, Sungmin berkata lagi, "Jangan lupa, sebelum makan cuci tangan dulu, ya!"
Kyuhyun menutup pintu, tersenyum sendiri mendengar kata-kata Sungmin. Dia menatap makanan di tangannya. Nasi goreng kimchi buatan ahjumma pemilik flat. Rasanya sudah begitu lama Kyuhyun tidak melihat nasi. Kyuhyun segera duduk dan dengan cepat menyantap nasi goreng kimchi itu seakan tidak pernah makan sebelumnya.
.
.
.
.
"Hana tak kuasa lagi manahan perih di hatinya saat melihat Younghwan pergi... Kenapa bahasaku menjadi menjijikkan seperti ini?" gumam Sungmin bingung saat membaca layar komputernya.
"Arrrggghhhh!"
Sungmin berbaring di lantai, frustasi pada karyanya yang sedari tadi belum juga beranjak dari
halaman tiga puluh sembilan, dan malah makin melantur. Sungmin menghela napas, bangkit, dan seperti biasa, melakukan senam-senam kecil untuk kembali menyegarkan pikirannya. Dia melirik jam dinding, dua belas lebih sepuluh.
Sungmin memutuskan untuk membaut secangkir susu cokelat panas untuk mengembalikan semangatnya. Perempuan itu mengambil sebotol air dan sebungkus susu cokelat, lalu membuka pintu untuk pergi ke dapur. Dia melirik ke kamar Kyuhyun yang lampunya masih menyala, lalu buru-buru kembali lagi ke kamarnya.
.
.
.
.
Kyuhyun menatap kosong layar handycam-nya. Di sana, tampak teman-teman SMA-nya sedang bersama-sama mengerjakan pentas seni. Kyuhyun menekan tombol stop, membuka kaset mini DVD-nya, lalu melemparnya sembarangan. Di kaset itu, tertempel stiker bertuliskan 'Pentas 2000'. Kyuhyun menggapai-gapai kaset lain tanpa melihat dan yang terambil adalah yang bertuliskan 'Anyang 2000'. Alih-alih langsung menyetelnya, Kyuhyun malah menatap kaset itu dingin.
"Kyuhyun..."
Kyuhyun tersentak kaget saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Kyuhyun menatap kaset di tangannya bingung. Mungkinkah...
"Kyuhyun..."
Kali ini, Kyuhyun segera melempar kaset itu. Suara itu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah dikenalnya. Tetapi, tidak mungkin...
"Kyuhyun!"
Kyuhyun menoleh ke arah pintu. Ternyata, suara itu berasal dari sana. Kyuhyun menghela napas lega, tetapi detik berikutnya, dia bingung. Diliriknya jam tangannya. Setengah satu pagi.
Kyuhyun membuka pintu dan tampang Sungmin muncul. Di tangannya, terdapat dua buah mug yang mengepul. Kyuhyun mengernyit.
"Ini.." Sungmin menyodorkan satu mug bergambar Mickey Mouse.
"Apa ini?" tanya Kyuhyun, belum mengambil mug yang disodorkan.
"Susu cokelat. Katanya, bagus untuk pertumbuhan," jelas Sungmin.
"Pertumbuhanku sudah maksimal," tukas Kyuhyun.
"Ambil saja, aku tidak mau meminum dua-duanya. Ini.." balas Sungmin. "Sudah dibikinin, juga."
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk membuatnya." Tetapi Kyuhyun menerima mug itu. "Thanks."
Sungmin mengangguk kecil sambil mengintip ke dalam kamar Kyuhyun. "Kau sedang apa? Kenapa jam segini belum tidur?" tanyanya, membuat Kyuhyun merasa harusnya dialah yang bertanya seperti itu.
"Aku tidak melakukan apapun." Kyuhyun menjawab sambil berusaha menghalangi pandangan Sungmin. "Kau sendiri? Kau tidak takut jalan-jalan sendirian hari jam segini?"
"Sudah terlalu biasa," jawab Sungmin. "Tinggal di flat ini akan membuatmu tidak takut dengan apa pun lagi."
Kyuhyun membenarkan dalam hati. Flat ini memang lebih mirip rumah hantu.
"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin tidur." Kyuhyun mengakhiri pembicaraan, tak berniat mengobrol malam malam. "Ini, thanks."
Tanpa menunggu jawaban Sungmin, Kyuhyun masuk dan menutup pintu kamarnya. Tak berapa lama, dia mendengar suara pintu sebelah ditutup. Kyuhyun duduk di kasur sambil menatap susu cokelat di tangannya. Sepertinya, dia tidak boleh terlalu baik pada Sungmin. Dia tidak membutuhkan lebih banyak masalah.
Kyuhyun menghirup susu cokeleat itu, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini Kyuhyun menyantroni beberapa fakultas di kampus INU, tetapi orang yang dicarinya tidak juga ketemu. Tak terkecuali hari ini. Lagi-lagi, dia pulang dengan tangan kosong.
Orang yang pertama kali diliat Kyuhyun di flat adalah seorang berambut gimbal. Kalau saja dia tidak berpakaian lengkap, Kyuhyun akan menyangka dia orang sakit jiwa. Itu pun, kalau hanya boxer dan kaus oblong bisa dibilang lengkap.
"Hai" sapa orang itu membuat Kyuhyun berhentu. Kyuhyun mengangguk pada orang itu. "Anak baru ya?"
Kyuhyun mengangguk lagi. Ternyata, orang itu penghuni flat ini juga. Salah satu dari lelaki yang tertinggal di flat ini.
"Namaku Gary," katanya sambil menyodorkan tangan.
Kyuhyun menyambutnya. "Kyuhyun."
"Peace, yo," Gary tiba-tiba menunjukkan gerakan memukul dada dan mengancungkan simbol Victory. Kyuhyun menatapnya bingung.
"Peace," kata Kyuhyun akhirnya sambil mengancungkan jari telunjuk dan tengahnya juga.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari atas, membuat Kyuhyun dan Gary sama-sama mendongak. Sungmin sedang menatap mereka sambil memegangi perut. Wajahnya tampak geli. Kyuhyun buru-buru menurunkan tangannya saat sadar kalo perempuan itu sedang menertawainya.
"Cuekin saja, Kyuhyun, dia pikir dia Bob Marley," ucapannya membuat Gary cemberut. Kyuhyun tersenyum sopan pada Gary, lalu naik.
"Tidak kuliah, Min?" Tanya Gary pada Sungmin.
"Tidak. Libur." jawab Sungmin, dan langsung nyengir pada Kyuhyun yang sudah sampai di lantai dua.
"Kyuhyun, kau hati-hati dengan Sungmin. Dia siap nyerang kapan saja!" teriak Ono dari bawah, membuat Kyuhyun tersenyum kaku. "Setiap malam harus kunci pintu."
"Yak, seharusnya oppa bilang seperti padaku!" balas Sungmin keki.
"Dan aku tidak ada niat untuk menyerangmu." komentar Kyuhyun sambil merogoh saku celananya dan mengambil kunci. Sungmin menatapnya sebal.
"Eh, jangan pede duluan, nanti kalau kau menyukaiku, repot tau!" sahut Sungmin membuat Kyuhyun mendengus.
Kyuhyun masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Benar sekali. Akan sangat repot baginya kalau harus menyukai seseorang. Atau, disukai.
.
.
.
.
Kyuhyun baru akan memasak air untuk mie cup-nya saat Sungmin muncul tiba-tiba dan mematikan kompor. Kyuhyun mengernyit dan menatap cewek itu.
"Disuruh makan bersama. Ayo," kata Sungmin sambil menarik Kyuhyun yang belum sempat
menyanggupi menuju rumah ahjumma pemilik flat yang letaknya bersebelahan dengan bangunan flat.
Disana, ahjumma pemilik flat beserta suami dan anak satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun, Gary, dan seorang lelaki dengan kacamata tebal yang diyakini Kyuhyun sebagai penghuni flat satunya lagi, sudah duduk manis mengelilingi sebuah meja makan.
"Aku berhasil membawa dia ke sini," sahut Sungmin ceria lalu menyuruh Kyuhyun duduk. "Ini dia anak baru yang tidak sopan. Sudah dua minggu lebih tinggal di flat, tapi belum berkenalan."
"Ishh, jangan berbicara seperti itu, siapa tahu dia sibuk," kata ahjumma atau bibinya sambil tersenyum pada Kyuhyun yang membalasnya dengan kaku.
"Iya. Nak Kyuhyun, maaf ya, Sungmin memang agak judes," timpal suami ahjumma membuat Sungmin melotot.
"Tidak apa-apa, ahjussi." jawab Kyuhyun membuat Sungmin pindah memelototinya.
"Kyuhyun, ini suami saya Hyunwoo, dan ini Jion, anak saya satu-satunya. Kau sudah mengenal Gary bukan? Nah, kalau yang ini namanya Soohyun" Ahjumma pemilik flat menunjuk kelaki yang berkacamata.
Kyuhyun mengangguk padanya, yang dibalas anggukan singkat. "Dia anak kedokteran. Sangat pintar sampai dapat beasiswa!"
Kyuhyun mengangguk-angguk kecil, benar-benar kagum pada orang yang sudah kuliah di
kedokteran, apalagi dapat beasiswa. Tak heran bentuk Agus seperti itu. Mungkin dia terlalu sibuk belajar sampai tak senpat bersisir.
"Yang bawel itu, kau pasti sudah mengenalnya. Dia banyak menyusahkanmu Kyuhyun? tanya ahjumma pemilik flat lagi. Sungmin seperti siap mengamuk.
"Lumayan," jawab Kyuhyun menbuat Sungmin benar-benar mengamuk.
"Aduh, maaf ya, kalau dia sering ribut, anaknya memang suka heboh sendiri. Tapi, sebenarnya dia anak baik." kata ahjumma pemilik flat sambil nyengir pada Sungmin yang melangkah ke dapur masih sambil mengumpat sendiri.
"Besok-besok, kalau mau makan, datang saja ke sini. Kita makan bersama." kata suami ahjumma pemilik flat.
"Kami semua biasa makan malam bareng."
Kyuhyun mengangguk ragu sementara Sungmin sudah kembali dengan setumpuk piring. Gary membantu mendistribusikannya.
"Yah, kalau begitu, ayo kita mulai makan!" sahut ahjussi lagi setelah semua orang
mendapatkan piring. "Ayo, Kyuhyun, makan yang banyak!"
Kyuhyun hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan anak-anak lain berebut perkedel jagung. Sungmin menatap Kyuhyun heran.
"Kyuhyun? Kenapa?" tanyanya membuat Kyuhyun menatapnya. "Jangan salahin kita kalau lauk pauknya habis. Di sini sistemnya seleksi alam."
Kyuhyun tertawa garing dan menggapai satu sosis goreng yang tersisa,kemudian menatap nasi di piringnya. Dia melirik orang-orang di sekitarnya yang sudah mulai sibuk makan sambil berkicau. Sudah lama Kyuhyun. Tidak merasakan suasana makan malam seperti ini. Kyuhyun tersenyun dalam hati, lalu bermaksud untuk mulai makan.
"Imo, nanti aku bantuin cuci piring," ujar Sungmin di sela-sela cerita Agus tentang ujiannya.
Mendengar itu, Kyuhyun tersentak dan menatap sendok di tangannya yang sudah setengah terangkat di udara. Sendok itu terlepas dengan sendirinya dan jatuh ke piring, membuat suara berdenting keras. Semua orang berhenti berbicara dan menatap Kyuhyun yang wajahnya pucat pasi.
"Kyuhyun? Kamu kenapa, Nak?" tanya ahjumma pemilik flat, terlihat khawatir. "Masakan ibu gak enak?"
Kyuhyun masih belum bisa menguasai dirinya. Wajahnya tegang dan dari dahinya keluar keringat dingin.
"Maaf, saya ke belakang dulu," katanya, lalu buru-buru bangkit dan pergi meninggalkan meja
makan. Semua orang saling tatap dengan pandangan heran.
Secepat mungkin, Kyuhyun berjalan kembali ke kamar flat-nya, lalu masuk kamar mandi sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Bagaimana mungkin tadi dia berpikiran untuk makan bersama keluarga itu? Bagaimana mungkin kemarin-kemarin dia juga menerima makanan dan minuman dari Sungmin?
Kyuhyun memukul dinding di depannya keras-keras. Napasnya tersengal, mulai memikirkan
dirinya yang nista itu dengan tamaknya mau merasakan sedikit kebahagiaan tanpa memikirkan akibatnya.
Kyuhyun menatap cermin kecil di depannya. Dia tahu dia seharusnya tidak memulai hubungan baik dengan siapa pun. Kyuhyun membasuh wajahnya dengan air, menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya.
Tak lama kemudian, Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan tertegun melihat Sungmin yang sudah menunggu di depan kamarnya sambil membawa nampan. Wajahnya terlihat khawatir.
"Kyuhyun, kamu gak enak badan, ya?" tanyanya sementara Kyuhyun menghampirinya. "Imo khawatir, makanya aku membawa makananmu ke sini."
"Tidak perlu," tukas Kyuhyun dingin sambil melewati Sungmin, bermaksud masuk ke kamar. Sungmin menatap Kyuhyun bingung.
"Tapi, nanti kau sakit," kata Sungmin lagi, membuat Kyuhyun berbalik.
"Apa pedulimu?" tanyanya tak sabar. Sungmin terdiam, jadi Kyuhyun mendesah. "Denger. Jangan pegi ke sini, karena aku tidak butuh. Paham?"
Kyuhyun masuk ke kamar dan membanting pintunya tepat di depan Sungmin yang masih mematung.
Kyuhyun menjambak rambutnya, lalu terduduk di belakang pintu.
Lebih baik begini. Memang, lebih baik begini
.
.
.
.
-ToBeContinue-
.
.
.
Sorry banyak typo...
.
.
.
REVIEW?
