"Namaku Kamine Lenka. Umurku empat belas tahun, hobiku menggambar, dan aku menyukai buah pisang. Yoroshiku…."
Entah kebetulan atau apa, tatapan mata kami saling bertemu.
Dan saat itu juga jantung gue berdegup keras….
Kagamine Rinto's Story
Disclaimer
.
VOCALOID – YAMAHA & Crypton Future Media
Genre: Humor, Romance, Friendship, Drama
Rated: T
Summary: Hai, gue Kagamine Rinto. Umur 14 tahun dan mulai hari ini, gue udah kelas 9! Hebat kan! Biar gue kasih tau kalian. Gue suka Kamine Lenka, dan gak ada yang boleh dapetin dia selain gue.
Warning: RINTO NARSIS, bahasa jaman sekarang, (mungkin) Typo, OOC? Di fandom Vocaloid tidak ada OOC ;) Semua judul film dan merk dagang di sini bukan milik saya. Humor garing, garing, garing.
Enjoy…
DEG…
DEG…
"Rinto– "
DEG…
"Woy Rinto– "
DE–
–BHUAK
"Njirrrr!"
Sebuah tempat pensil yang terisi penuh alat tulis, berwarna abu-abu, dan terbuat dari kaleng milik Gumiya sukses mengenai kepala gue.
"SAKIT GUM!" perotes gue sambil mengelus kepala. Gue menatapnya dengan wajah kesal, kening berkerut dan mata gue menyipit tajam. Meneror manusia berkacamata yang saat ini memasang wajah datar dan seolah tak memiliki rasa penyesalan sama sekali. Atau mungkin peduli aja enggak.
"Yang bilang geli siapa? Lagian lo bengong aja." balasnya sambil membuka novel setebal sepuluh senti yang tadi berada di mejanya.
Oh.
Jadi dia sama sekali gak berniat untuk minta maaf?
Gumiya, gue kira kita sahabat.
Jika laki-laki yang menangis adalah hal yang wajar, maka gue akan nangis sekarang juga. Serius.
Melupakan kejadian ini sejenak, gue melihat lagi ke depan kelas.
Loh?
LOH LENKA MANA?!
"Kamine Lenka? Udah duduk di sebelah IA," ucap Gumiya tiba-tiba, yang herannya dia bisa menebak pikiran gue. Gumiya memang aneh bin ajaib.
"Ekspresi lo itu gampang dibaca kayak tulisan, Rinto! Jangan heran kalo gue bisa tau." lanjutnya.
Gue cengo di tempat.
Karena penasaran, gue menoleh ke arah meja Lenka. Dia duduk di belakang tempat Mikuo.
"Hai, Lenka! Aku Mikuo Hatsune. Salam kenal!" Mikuo menyapa Lenka yang baru saja duduk di kursinya, dan senyumnya mengembang sok ganteng.
"S-Salam kenal… Hatsune-san." balas Lenka malu-malu.
"Ngomong-ngomong, Ayahmu pasti pedagang sembako ya?"
"E-Eh?!"
"Soalnya kamu manis banget, kayak gula pasir. Hehe…."
"…"
Lenka diam kebingungan. Gue mengernyit ilfil.
Tuh kan, belum apa-apa, Mikuo udah SKSD. Jangan heran dengan kelakuan Mikuo. Di kelas delapan dulu, dia menggombali seluruh cewek yang ada di kelas dan sebagian cewek di kelas sebelah. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas usahanya telah berhasil membuat mereka klepek-klepek bagai ikan kehabisan air. Bukan karena kata-katanya yang manis, karena udah jelas gombalannya pait dan bikin sakit perut. Tapi karena penampilannya yang gue akui mirip karakter laki-laki di anime yang sering Rin sebut dengan ikemen. Tingginya hampir menyamai gue, mungkin cuma beda dua senti. Rambutnya berwarna hijau tosca, dibiarkan sedikit berantakan dan melebihi telinga. Dan wajahnya… lumayan. Kata Rion, adek kelas gue, Mikuo itu cakep, walaupun belom bisa menandingi gue tentunya.
Sebenernya Mikuo bukan playboy, cuma tukang modus. Mantan pacarnya baru ada satu, dan mereka jadian saat kelas tujuh, tapi gak bertahan lama. Dan sejak saat itu, Mikuo mengaku dia tidak keberatan berteman dengan para cewek, tapi kalau ditanya 'Kenapa belom punya pacar lagi?' dia selalu enggan menjawab dan mengalihkan ke pembicaraan lain.
"Rinto, kenapa lo ngeliatin gue mulu? Naksir?"
Setelah pandangan Mikuo menangkap gue yang terus-terusan melihatnya, tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang sumpah bikin geli.
Gue mengernyit. "Enggak tuh. Heran aja, makhluk tukang modus kayak lo kok bisa idup." jawab gue sekenanya. Membuat Lenka yang tadinya masih kebingungan sakarang tertawa kecil.
"Sialan." Mikuo nahan emosi.
Saat gue membalas rutukannya dengan lidah yang sengaja gue julurin dengan songongnya, sahutan Maika-sensei tiba-tiba menginterupsi.
"Hei kamu! Laki laki kuning yang pakai jepitan. Silakan perkenalkan dirimu di depan!"
Jleb!
Gue menoleh patah-patah ke arah depan dengan tampang nelangsa.
Plis Maika-sensei, rambut saya ini honeyblonde. Masa dibilang kuning sih? Dan kalimat 'yang pakai jepitan' itu kesannya seperti gue adalah cewek feminin yang sedang dikutuk menjadi laki-laki. Teganya kau Maika-sensei….
Dengan berat hati, gue menyeret kaki ke depan kelas dan berdiri menghadap temen-temen baru gue.
"Bisa dimulai." ucap wali kelas baru gue itu sebagai tanda harus memulai perkenalan.
"Um… N-Nama–Kagamine Rinto. Umur empat belas tahun. Golongan darah O. Hobi…," gue berhenti sesaat. Aduh, apa ya hobi gue? Main sepak bola? Sebenernya sih gue sering bolos latihan, mana bisa di bilang hobi. Tidur? Nanti pada envy lagi. Aha! Bilang aja hobi gue belajar, biar pada takjub.
"Ah, hobi gue–"
"MAIN SAMA ANAK AYAM…!" Kaito memotong ucapan gue seenaknya.
"HAHAHAHAHA…"
Gue shock. Semua murid 9-A tertawa nista. Termasuk Lenka dan Gumiya yang terlihat jelas menutupi wajah dan suara tawanya dengan buku. Kampret memang si Kaito.
Oke, mungkin menurut sebagian orang ini aneh, tapi…
Gue, Kagamine Rinto, cowok terkeren seantero sekolah dan kota ini,
GAK SUKA
SAMA
ANAK AYAM
Nanti gue ceritain kenapa gue bisa gak suka –banget– sama yang namanya anak ayam itu.
"B-BUKAN!" bantah gue dengan muka panik. "H-Hobi gue… belajar! Iya belajar! Ahaha–" kini tangan kanan gue refleks menggaruk kepala.
"Wah… belajar, Kagamine-san? Hebat! Kalian juga harus mencontoh dia ya…." Maika-sensei tersenyum, kemudian tepuk tangan seperti guru TK yang senang jika muridnya mengalami kemajuan.
"Iya, Sensei~" balas semuanya, yang gue yakin sangat-tidak-ikhlas.
"Lalu, kau ingin menyampaikan apa lagi?" Maika-sensei bertopang dagu sambil menatap gue.
"Um… saya rasa itu aja. H-Hehe…." Gue ketawa garing bagai keripik kentang buatannya Bibi Haku.
"Yasudah kalau begitu," ucapnya. Menurut firasat gue, Sensei hampir memberikan aba-aba untuk menyuruh gue kembali ke tempat duduk. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah seperti menyadari sesuatu.
"Eh, tapi kamu bilang, hobi kamu belajar 'kan? Saya kasih pertanyaan ya."
Tolong gueeeee!
"B-Boleh, tapi jangan susah susah ya. Sensei kan cantik, baik lagi." Jurus ngeles ditambah kedip-kedip dari gue berhasil diluncurkan. Ampuh lah buat ngeluluhin hati orang. Tahun kemarin aja Gakupo, kakak kelas gue, langsung fanboying saat gue puji begitu. Padahal guenya merinding abis.
"Kamu bisa aja Kagamine-san. Gak susah kok, soal matematika dasar," Maika-sensei membuka buku yang entah dari mana. Gue dag dig dug. Soal gampang buat guru bukan berarti gampang untuk muridnya 'kan. Bener gak gue? Bener dong.
"Ibu pergi ke toko buah untuk membeli mangga dan apel dengan perbandingan 3 : 4. Jika jumlah apel ada dua puluh buah, maka berapakah ukuran sepatu Ibu?"
"…"
Sensei, saya 'kan bukan pedagang sepatu.
"Ukurannya empat puluh seperempat," jawab gue asal. Sama asalnya dengan pertanyaan yang diberikan. Biar greget.
"Waaa! Kamu benar-benar pintar Kagamine-san! Silakan duduk.…" Maika-sensei bertepuk tangan lagi.
"Se-Serius, Sensei?!"
"Serius dong, Kagamine-san."
"Yosh! Terimakasih!" Gue kembali ke tempat duduk semula dengan senyum sumringah yang bertahan selama lima menit.
Gak lama, Maika-sensei kembali menyuruh seorang murid untuk memperkenalkan dirinya. "Kamu laki-laki keren di sebelah Kagamine-san, coba perkenalkan dirimu di depan!"
"Wah! Saya ya Sensei?!" Laki laki berambut merah muda dengan beanie hat hitam di sebelah kanan gue menyahut suruhan Maika-sensei.
"Maaf, bukan kamu! Maksud saya, sebelah kiri Kagamine-san!" jelasnya.
"Ge'er banget lo, Yuuma!"
"Abis gue 'kan juga keren, Ted!"
Gue menoleh ke sebelah kiri. Ah! Gue baru inget sebelah gue Gumiya! Jangan tanya kenapa gue bisa amnesia sesaat. Gue juga gak tau.
Gumiya mendorong kursinya ke belakang menggunakan punggung, lalu jalan ke depan kelas.
"Nah, silakan dimulai…."
Gumiya mengangguk sekali. "Megpoid Gumiya. Empat belas tahun. Golongan darah AB. Hobi membaca buku. Sekian."
"Kyaaa~"
"Asdfghjkl! Gumiya-kun!"
"Gumiya! Aku padamu~"
"Gumiya~ Pinjem duit!"
Cewek-cewek di kelas fangirling gak karuan, lengkap sama spanduk 'Daisuki Gumiya-kun' nya. Reaksi yang sangat super untuk diberikan kepada orang seperti Gumiya.
Gumiya langsung berancang-ancang kembali ke bangkunya. Kebelet mungkin.
"Megpoid-kun, kau mau kemana? Kita belom selesai ngobrol loh…." Sekarang gantian Maika-sensei yang kedip-kedip.
"Oh, saya kira sudah. Ada apa lagi?" tanya Gumiya sembari membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun. Wajah datarnya tetap setia dia pasang. Heran, ekspresi udah sama kayak papan triplek gitu apanya yang keren. Mata Maika-sensei bermasalah nih.
"Tidak apa apa. Ngomong-ngomong, Megpoid-kun mirip pemeran utama di serial drama favorit Sensei deh…"
"Terimakasih. Sensei juga mirip pemeran antagonis di serial drama favorit Ibu saya."
Jleb buat Maika-sensei.
"H-Haha, terimakasih juga untuk pujianmu, Megpoid-kun."
"Sama-sama."
"…Oh ya, ngomong-ngomong, Sensei boleh tau nomor handphonemu? Untuk jaga-jaga saja,"
Modus.
Para fangirl tadi sudah siap dengan note book mereka untuk mencatat nomor handphone Gumiya.
"M-Maaf, Sensei. Tapi boleh gak kalau nanti aja saya kasih taunya?"
"Duh… Megpoid-kun mainnya rahasia-rahasiaan. Baiklah kamu boleh duduk sekarang."
"Terimakasih…."
Dan Gumiya pun duduk kembali dengan selamat sentosa.
"Parah lo Gum, nyebut Maika-sensei mirip pemeran antagonis! Guru juga punya hati, bro!" Sebagai cowok gentle yang anti melukai hati guru, gue pun perotes.
"Loh, emang omongan gue salah apa?" balasnya dengan wajah innocent.
"…"
Sesaat kemudian gue headbang ke meja.
Berikan hambamu ini ketabahan, ya Tuhan.
"Kagamine-san, tolong jangan membenturkan kepalamu seperti itu! Nah… siapa yang akan maju selanjutnya… Cap cip cup–"
Udah kayak pilih jawaban soal ulangan pake cap cip cup segala. Gue pengalaman soalnya.
"–siapa yang beruntung!" Telunjuk Maika-sensei mengarah ke Mikuo.
"YEAH!" Mikuo maju dengan pede (dan tengilnya). "Mulai nih, Sensei?" tanyanya gak sabaran.
"Iya mu–"
"Nama Hatsune Mikuo, umur empat belas tahun, golongan darah B, zodiak Gemini, tinggi seratus tujuh puluh senti, berat enam puluh dua kilogram, nomor handphone gue ************, hobi baca komik, olahraga favorit gue basket, warna favorit hijau, makanan favorit daun bawang, minuman favorit—"
"Cukup!" teriak Maika-sensei, emosi. Sedangkan gue dan yang lainnya udah tepar di meja.
Perasaan gue yang ganteng gini kalo perkenalan gak gitu gitu amat. Siapa juga yang mau tau tinggi dan berat badannya.
"Terimakasih, Hatsune-san. Kamu boleh duduk sekarang." ucap Sensei.
"Tapi saya belom sele–"
"Duduk!"
"Y-Yah…."
Korban ke tiga, Hatsune Mikuo, duduk dengan wajah lesu.
"Halo cowok biru yang sedang makan es krim… silakan perkenalkan dirimu di depan!"
Semua menengok ke arah belakang tepatnya ke arah Kaito. Orang yang dimaksud pun ikut nengok ke belakang.
Asal kalian tau, Kaito duduk di barisan paling belakang alias gak ada siapa siapa lagi di belakangnya.
Edan.
Beberapa detik kemudian dia baru menyadari belakangnya adalah tembok.
"Nero, siapa yang Maika-sensei maksud sih?" tanya Kaito pada teman sebelahnya yang dari tadi sibuk main HP.
"Elu Kaito! Emangnya siapa lagi." jawab Nero. Tapi Kaito masih gak nyambung dan beralih bertanya ke gue.
"Emang gue yang dipanggil ya, Rinto?"
"Gak! Tembok di belakang lo tuh yang dipanggil!" Gue pasang wajah 'you don't say'.
Kaito menggeram, dan maju masih dengan es krim di tangannya.
"Silakan mulai." suruh Maika-sensei.
"Sekarang?"
"Nggak, tahun depan!"
"Oh, oke."
Maika-sensei poker face.
"Ya sekarang dong perkenalannya. Emang kamu mau nunggu sampai tahun depan?" Wali kelas 9-A itu memijat keningnya dengan tangan kanan. Udah stress duluan mengetahui ada anak muridnya yang segeblek ini.
"Oh iya, saya baru sadar." Kaito sedikit memiringkan kepalanya.
Sekarang saatnya satu kelas minum racun sama-sama. Gak, bercanda.
"Nama Shion Kaito, umur empat belas tahun, golongan darah—" Kaito mulai memperkenalkan dirinya, namun di setiap katanya selalu diiringi suara jilatan es krim yang keluar dari dirinya sendiri.
"Um… Shion-san!"
"Iya?" Kaito merespon panggilan Sensei.
"Kenapa kau makan es krim di kelas?"
Kaito mikir sebentar. "Karena saya suka. Ini rasa vanilla loh." Suara jilatan terdengar lagi. Murid-murid sampe lelah dengernya.
"Kau kan bisa memakannya nanti."
"Nanti meleleh, Sensei!"
Perempatan muncul di kening Maika-sensei.
"Kau masih ingin memakan es krimmu, Shion-san?"
"Um… Masih dong."
"Makan di luar!" perintah dikeluarkan.
Laki laki berambut biru itu terbelalak. "Ha?! Di luar tambah meleleh, Sen–"
"Di luar, Shion-san…."
"Ugh…."
Korban nomor empat, keluar kelas dengan wajah semrawut.
Tapi beberapa detik kemudian kepalanya menyembul dari balik pintu.
"Sensei, luar kelas atau luar ger–"
"TERSERAH, SHION-SAN!"
Kaito ngacir.
Memang menghadapi Kaito itu butuh kesabaran ekstra. Kalau orang-orang yang berhadapan dengan Kaito punya keinginan untuk menimpuknya dengan sepatu, baskom, atau kursi sekali-sekali—itu wajar. Maika-sensei menghela napas berat.
"Baiklah, siapa yang ingin maju selanjutnya?"
Semua diam, tidak ada yang berniat untuk tunjuk tangan. Mungkin takut untuk menjadi korban selanjutnya. Kecuali Mikuo yang udah bisik-bisik dengan teman di depannya, namun suaranya terdengar jelas. "Eh, kalo gue maju lagi boleh gak ya? Mau lanjutin biodata gue nih–"
"Gak boleh! Bisa-bisa nih kelas terjangkit ayan berjamaah!"
Mikuo manyun.
"Um… bagaimana kalau laki laki di sebelah Hatsune-san?" Maika-sensei menghidupkan keadaan lagi. Jari telunjuknya menunjuk manusia berambut coklat gelap di sebelah Mikuo.
"Maksud Sensei, saya?" Orang itu menunjuk dirinya sendiri, "Tapi saya boleh minta sesuatu gak, Sensei?"
Maika-sensei mengernyit. Ini orang baru hari pertama aja udah minta-minta. Mau jadi apa dia di masa depan kelak. "Minta sesuatu? Apa itu?" tanya Sensei.
"Sensei… mau gak jadi model buat poster di kamar saya? Temanya pantai loh! Jadi sensei bisa–"
BHUAK
Maika-sensei yang tidak terima dengan permintaan yang terkesan seenak idung itu, melempar buku matematika yang astaga-tebel-gila ke jidat sang provokator. Pastinya, siapa yang gak akan marah.
Seolah tidak punya dosa, Maika-sensei segera berancang-ancang keluar kelas.
"Mulai hari ini, Megpoid-kun menjadi ketua kelas. Pertemuan hari ini cukup sampai disini. PR dari halaman sebelas sampai halaman tujuh belas! Dikumpulkan besok!"
Gumiya mangap. Bingung karena tiba-tiba dia dipilih sebagai ketua kelas secara sepihak. Sementara itu, gue mencoba perotes atas PR yang diberikan.
"Tapi Sensei–"
"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN!"
BLAM
Pintu kelas dibanting.
Gue ikutan mangap bareng Gumiya.
"Bego lo, Mei! Permintaan sih permintaan, tapi liat noh, kita jadi punya PR segitu banyaknya!"
"Hahaha, sorry…"
"Kyaaaa! Gumiya-kun jadi ketua kelas!"
"Pssst! Maika-sensei udah pergi kan? Gue masuk ya!"
"Lu gak boleh masuk Kaito!"
Bagus. Baru hari pertama aja kelas ini udah bikin satu guru marah.
Sekarang gue agak meragukan kalo ini kelas unggulan.
oOo
"Pagi semuanya!"
"Pagi, Yohio-sensei…"
Lima belas menit kemudian, setelah Maika-sensei keluar dari kelas 9-A, Yohio-sensei datang menggantikan dengan senyum enam jarinya.
Yohio-sensei adalah guru sejarah gue dari kelas delapan. Guru coret-sok-gaul-coret ini adalah guru yang paling sering ke toilet untuk panggilan alam (mungkin). Entah makanan nista apa yang dimakannya setiap hari hingga bisa begitu.
"Bagaimana kabar kalian…?" tanyanya.
"BAIIIIK…" balas kami. Padahal sih, gak baik baik amat.
Yohio-sensei mengangguk. "Oke, hari ini kita langsung masuk ke materi saja ya!"
"Loh? Gak perkenalan dulu, Sensei?" tanya Kaito.
"Gak usah. Saya udah bosen kenalan sama kalian, haha,"
"Huuuuuuu…" Semua menyoraki. Sensei hanya tersenyum, lalu mulai berbicara lagi.
"Hari ini materi Perang Dunia ke dua. Buka buku halaman lima!"
Gue melaksanankan apa yang diperintahkan. Sebenernya masuk ke materi di hari pertama masuk sekolah lagi itu gak adil. Gak seru tau! Kalo Gumiya yang pelajaran kesukaannya emang sejarah sih udah buka buku dari tadi.
"Nah, sekarang tugas kalian adalah—" Yohio-sensei menjelaskan tentang tugas yang harus kami kerjakan, tentang kelompok yang harus dibentuk untuk diskusi, soal yang harus dijawab, dan presentasi yang akan dilakukan. Sampai pada akhirnya pembagian kelompok pun disebutkan.
"...kelompok selanjutnya; Rinto, Gumiya, Lenka, dan IA."
Gue menahan napas saking kagetnya.
Satu kelompok dengan Lenka di hari pertama masuk sekolah?
Mungkinkah ini… mimpi?
TBC
A/N:
Yosh! Halo semua! Saya balik lagi… /siapalo
Iya, saya ganti penname. Mungkin ada yang udah tau ya penname lama saya siapa /gakada
Pertama-tama, saya mau minta maaf karena cerita ini hiatus lamaaaa banget. Percaya deh, saya sempet bingung dan putus asa buat ngelanjutin. Karena pada awalnya, cerita ini asal di ketik dan gak punya alur yang jelas. Tapi sekarang nggak kok ;) Alurnya udah saya tentuin sematang mungkin. Berdoa aja supaya saya gak stuck lagi di tengah jalan huhu. Dan juga… chapter ini baru perkenalan ya. Belom ada konflik di sini.
Ada yang sadar kah kalo gaya tulisan saya di chapter 1 dan chapter 2 ini punya perbedaan yang signifikan? Humornya juga kerasa makin garing ya /banget. Untuk itu saya butuh kritik dan saran dari readers sekalian…
Yap, gak tau mau nulis apa lagi.
Ditunggu reviewnya~
-Kuzuryuuu
