Taehyung bahkan tak ingat kapan pertama kali ia bertemu dengan Jungkook.
.
.
.
Chapter 1 : About Jungkook
.
.
.
"Taetae~ Bagaimana harimu di universitas?" Sambut Seokjin saat Taehyung baru saja pulang dari kampus.
"Jin-hyung― Aku sudah hampir sebulan kuliah, dan kau terus menanyakan hal yang sama."
Memang tahun ini Taehyung baru saja lulus dari sekolah menengah dan melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan Seokjin, sebagai seniornya.
"Hehe. Padahal rasanya baru saja kemarin kau lulus sekolah menengah." Ujar Seokjin menyenggol Taehyung dengan menggunakan sikunya. Taehyung hanya tertawa kecil merespon tingkah sepupunya yang layaknya saudara kandungnya sendiri. Taehyung bersyukur ia memiliki Seokjin, sebagai keluarganya yang paling menyayanginya, selain orang tua Seokjin.
"Ah ya, Jin-hyung― Akhir pekan ini, kami akan menonton di bioskop. Apa kau mau ikut juga? Sepertinya Namjoon juga ikut."
"Benarkah? Aku ikut, aku ikut~ Aku merindukan Namjoon, sudah lama aku tidak bertemu dengannya~" Seokjin langsung tersenyum lebar saat Taehyung menyebut nama Namjoon.
"Sudah lama apanya? Baru saja kemarin bertemu―"
Seokjin memang selalu bersikap antusias begini setiap ada hal yang menyangkut Namjoon, teman sekelas Taehyung saat masih berada di sekolah menengah, sekaligus― Ehm, kekasih Seokjin.
.
.
.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Seokjin masuk kedalam kamar Taehyung tanpa mengetuk pintu dan langsung duduk di pinggir ranjang, menatap Taehyung yang kini tengah bersiap-siap.
"Tentang hari ini― Hanya kalian bertiga dan Namjoon?" Bertiga― Yang dimaksud Seokjin adalah, Taehyung dengan Jimin dan Hoseok. Mereka bertiga sudah berteman dekat sejak sekolah menengah, bahkan kini mereka memilih universitas yang sama, meskipun dengan jurusan yang berbeda.
Taehyung membalikkan tubuhnya untuk menatap Seokjin sekilas, "Tidak." Jawab Taehyung singkat sebelum akhirnya kembali berujar,"Hoseok mengajak seorang perempuan juga. Entahlah."
Seokjin sudah mengerti dengan sikap Taehyung yang begini. Taehyung selalu beranggapan setiap perempuan selalu menggilainya, dan Taehyung sama sekali tidak bisa menolak. Mengingat seberapa banyak kekasih Taehyung hingga kini.
"Jadi, ada Hoseok dan Jimin.. Biar kutebak, Yoongi juga datang?" Yoongi, kekasih Jimin, sekaligus teman sekampus Seokjin. Kini Seokjin mengerti alasan Taehyung mengajaknya. Taehyung tak pernah akur dengan Yoongi, meskipun Seokjin berteman baik dengan Yoongi sekalipun.
.
Siang hari telah menjelang. Taehyung dan Seokjin akhirnya tiba di sebuah kafe tempat pertemuan yang sudah mereka janjikan sebelumnya, yang kemudian mereka disapa oleh Jimin dan Namjoon yang sudah tiba lebih dulu. Jangan lupakan Yoongi yang duduk tepat disebelah Jimin, menatap sinis kearah Taehyung.
Seokjin segera mengambil posisi duduk disebelah Namjoon, disusul dengan Taehyung yang duduk disebelah Seokjin setelahnya.
"Jadi, dimana Hoseok dan―" Taehyung bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika yang ditunggu sudah tiba.
"Jungkook!"
"Kookie!"
Taehyung sedikit kebingungan saat Namjoon dan Jimin menyapa err― Perempuan yang berdiri disamping Hoseok.
"Kalian saling mengenal?"
"Apa maksudmu? Tentu saja kami saling mengenal." Ujar Jimin, membuat Taehyung semakin bingung. Bagaimana bisa teman-temannya mengenal perempuan yang tak dikenal Taehyung?
"Whoa, tunggu dulu, Tae. Jangan bilang kau tak mengingat Jungkook?" Ujar Namjoon kemudian. "Jungkook sekelas dengan kita saat kelas 1, bodoh!"
"Ketika kelas 2, ia pindah keluar kota dan sekarang ia baru saja kembali dan― Ehm, siapa sangka sekarang ia berpacaran dengan Hoseok?" Timpal Jimin. Jimin dan Namjoon tertawa kecil, disusul dengan Jungkook yang juga ikut tertawa, meskipun lebih terdengar seperti tawa yang dipaksakan.
"Kalian ini―" Hoseok kemudian beranjak menarik sebuah kursi, mempersilakan Jungkook duduk terlebih dahulu, kemudian duduk disebelahnya. "Kami tak berpacaran, sebenarnya." Jelas Hoseok, disahuti dengan anggukan Jungkook.
"Terserah saja. Ngomong-ngomong, Kookie, kau semakin cantik saja ya~" Jimin sedikit menggoda Jungkook, disaat bersamaan terdengar helaan nafas Yoongi. Setelahnya Jimin segera menoleh kearah Yoongi, "Hei, aku hanya bercanda, hyung~"
"Tak usah hiraukan Jimin, Jungkook. Walaupun yang dikatakannya memang benar, aku bahkan hampir tak mengenalimu." Jelas Namjoon, "Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu?"
.
Suasana di kafe menjadi riuh karena kehebohan sekumpulan manusia ini. Jimin dan Namjoon masih sibuk memperebutkan perhatian Jungkook, dengan Hoseok yang sedari tadi berusaha membuat kedua temannya agar diam, Jin dan Yoongi yang bercakap-cakap, sementara Taehyung sedari tadi hanyut dalam lamunannya dan menatap Jungkook dalam diam.
Taehyung masih memikirkan penjelasan Namjoon sebelumnya. Bagaimana ia bisa melupakan sosok Jungkook? Ia begitu yakin bahwa ia tak pernah bertemu dengan Jungkook sebelumnya. Meskipun jujur saja, Taehyung memang menyadari sesuatu yang tak asing dari Jungkook, entah apa pun itu. Yang lebih penting, Jungkook jelas-jelas tidak melirik kearahnya sedikitpun, meskipun ia sedari tadi menatap Jungkook dengan tatapan intens. Baru kali ini ada perempuan yang sanggup tak menatapnya sedikitpun.
Hidangan demi hidangan yang sudah mereka pesan sebelumnya akhirnya tiba, membuat keributan mereka mulai meredam.
"Oh ya, bagaimana dengan kekasihmu, Tae?" Hoseok berujar disela menikmati parfait pesanannya, membuat beberapa mata memandang kearah Taehyung, seolah ingin mendengar jawaban juga.
"Tak ada perubahan." Taehyung berkata jujur, meskipun ia tahu bahwa jawabannya membuat Yoongi mendecak karenanya. Jawabannya menjelaskan semuanya, mereka semua yang berada ditempat tersebut kecuali Jungkook, langsung mengerti jawaban Taehyung.
"Sebaiknya kau segera mengakhirinya, Tae."
"Kau tidak mencintai mereka, kan?"
"Kau tidak pernah berniat untuk serius dengan salah satunya?"
Komentar demi komentar mereka lancarkan kepada Taehyung, agar setidaknya Taehyung menjalin hubungan serius dengan satu perempuan saja. Tapi hal tersebut tergolong mustahil bagi Taehyung, yang ia yakini bahwa ia sama sekali tak mencintai semua kekasihnya. Karena selama ini, ia tak pernah memperjuangkan seorang perempuan. Para perempuan itu yang selalu mengejarnya terlebih dahulu dan memujanya, sementara Taehyung sama sekali tak bisa menolak. Beberapa perempuan yang mengetahui bahwa Taehyung memiliki banyak kekasih hanya memiliki dua kemungkinan; memutuskan Taehyung dan berpisah, atau merelakan dirinya menjadi satu dari sekian banyak kekasih Taehyung.
"Tapi mereka mencintaiku." Jawaban singkat Taehyung kemudian membuat Yoongi menghempaskan gelasnya dengan kasar.
"Sebaiknya kita bergegas, kita mau menonton kan?" Ujar Yoongi dengan suara beratnya, yang kemudian membuat atmosfir diantara mereka berubah menjadi mencekam. Hingga akhirnya mereka menghabiskan seluruh hidangan masing-masing dan beranjak menuju bioskop.
.
.
.
Berakhir dengan mereka yang kemudian berpencar karena perbedaan pendapat saat memutuskan film apa yang akan mereka tonton. Seokjin yang bersikeras untuk menonton film anak-anak, Jimin yang bersikeras untuk menonton film romantis, dan Taehyung yang bersikeras untuk menonton film action.
Maka mereka memutuskan untuk menonton film yang berbeda, daripada terus berdebat seperti ini. Namjoon yang tentu saja menemani Seokjin, Yoongi dengan Jimin, dan Taehyung dengan Hoseok dan Jungkook. Setelah film berakhir, mereka berjanjian untuk menemui satu sama lain didepan bioskop.
.
"Ah, sial. Bangkunya sudah banyak yang dipesan."
"Hei, hei. Ada dua bangku kosong disini, Hoseok." Taehyung menunjuk kearah dua bangku yang dimaksud.
"Lalu, Jungkook bagaimana?"
"Ah, benar juga." Taehyung hampir saja lupa bahwa Jungkook bersama mereka.
"Tak apa kalau begitu, didepannya ada satu bangku kosong. Kita disini saja." Setelahnya Hoseok langsung memesan tiket untuk mereka bertiga dan segera masuk kedalam studio.
Ketika mereka masuk kedalam studio yang dimaksud, baru saja Taehyung menyadari bahwa bangku sendiri itu diperuntukkan Hoseok, sementara Taehyung duduk berdua dengan Jungkook.
Ia tak pernah merasa secanggung ini sebelumnya. Bukannya tak pernah menonton bioskop dengan kekasihnya, hanya saja biasanya kekasihnya selalu cerewet dan mengajaknya bicara. Terlebih lagi, ini pertama kalinya ia menonton film action dengan perempuan. Bahkan tadinya Taehyung sempat mengira bahwa Jungkook akan memilih film romantis, seperti pilihan perempuan pada dasarnya.
Berusaha untuk mencairkan suasana, Taehyung meraih popcorn miliknya dan menyodorkannya kearah Jungkook, "K-kau mau?"
"Ah ya, terimakasih." Jungkook menerima tawaran popcorn milik Taehyung sebelum akhirnya bertanya, "Kau kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Tanya Taehyung, matanya masih tertuju pada tangan mungil Jungkook yang menggenggam beberapa popcorn.
"Tatapanmu sejak di kafe tadi― Mengerikan." Jawab Jungkook disela tawa kecilnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk diam karena film sudah akan dimulai. Sementara Taehyung masih bertanya-tanya karena perempuan disebelahnya sama sekali tidak terpesona dengannya, atau apapun itu.
.
.
.
Siapa sangka, Taehyung langsung mengakrabkan diri dengan Jungkook setelah film berakhir. Mereka tak hentinya membahas film yang baru saja mereka saksikan. Bahkan mereka keluar dari bioskop tanpa menunggu Hoseok yang masih berada di kamar mandi.
"Whoa, kau langsung dekat dengan Kookie?" Jimin yang keluar dari bioskop bersamaan dengan mereka menatap Taehyung dan menghernyitkan dahinya, "Kau tak berniat untuk memacarinya juga kan?"
"Memangnya tidak boleh? Aish, bicara apa kau ini." Taehyung menggelengkan kepalanya pelan. Jangan bercanda, Jungkook bahkan tidak menunjukkan ketertarikan pada dirinya sama sekali, bagaimana bisa mereka berpacaran? Lagipula, ini kali pertama Taehyung menemukan perempuan yang tidak tertarik padanya, terlebih lagi perempuan kali ini ternyata memiliki selera yang bagus― Dalam menonton film, tentunya.
Mereka langsung dihadapkan dengan Seokjin dan Namjoon yang ternyata sudah berada diluar bioskop terlebih dahulu. "Yo, dimana Hoseok dan Yoongi-hyung?"
"Yoongi-hyung masih di kamar mandi. Dan kedua orang ini sepertinya terlalu sibuk untuk menyadari bahwa Hoseok juga masih di kamar mandi." Celoteh Jimin kemudian.
Namun memang benar yang dikatakan Jimin, Taehyung benar-benar melupakan keberadaan Hoseok saat ia sedang berbincang dengan Jungkook.
"Bagaimana film kalian?" Ujar Taehyung berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Menyenangkan! Benar kan, Joonie?" Seokjin memekik riang kemudian memeluk lengan Namjoon, sementara Namjoon hanya mengiyakan sembari menguap. Mereka langsung mengetahui bahwa Namjoon tertidur saat film berlangsung. "Bagaimana dengan kalian?"
"Yah, filmnya―" Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Yoongi dan Hoseok keluar dari bioskop bersamaan.
"Menunggu lama?" Ujar Yoongi kemudian dijawab dengan gelengan pelan Jimin.
.
Setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa sore hari telah menjelang.
Hoseok memutuskan untuk segera pulang, mengingat ia memiliki beberapa urusan yang harus ia selesaikan. Sementara Yoongi dan Jimin memutuskan untuk berpencar dengan Namjoon dan Seokjin, melanjutkan 'kencan' mereka. Taehyung baru saja akan segera pulang, jika saja Hoseok tidak meminta tolong padanya untuk mengantar Jungkook terlebih dahulu.
.
Baru saja beberapa langkah mereka berjalan berdua, Taehyung sudah merasa begitu canggung. Apa yang harus dikatakannya untuk memecah keheningan? Ia terus berpikir keras untuk mendapatkan bahan pembicaraan sebelum akhirnya Jungkook yang terlebih dahulu mengeluarkan suara.
"Hei kau tak apa? Kau terlihat aneh."
"Hah? Oh, tidak. Tidak apa." Jawab Taehyung.
Jungkook hanya menghela nafas saat mendengar jawaban Taehyung, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "Kau tak perlu bersikap seperti ini. Santai saja, kalau bersamaku. Kau boleh menganggapku laki-laki, kalau kau mau."
Taehyung sedikit tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan Jungkook. Baru kali ini ada perempuan yang berkata seperti itu padanya.
"Oke, apapun itu, aku hanya sedikit bingung. Kau berbeda dengan perempuan lainnya yang pernah kutemui." Ujar Taehyung. Jungkook hanya tertawa kecil kemudian, membuat Taehyung tanpa sadar tersenyum saat menatap wajah Jungkook.
"Oh ya, apa kau benar-benar tak mengingatku?" Tanya Jungkook saat menyadari Taehyung tengah menatapnya.
"Euh.. Maaf.." Memang, Taehyung merasa tidak asing dengan sesuatu di wajah Jungkook, walaupun ia tak begitu yakin apa itu.
"Wajar saja kalau kau tidak ingat. Sudah dua tahun lebih kita tidak bertemu dan― Aku tahu kau orang populer, pasti mudah bagimu untuk melupakan seseorang." Jelas Jungkook, sedikit menghernyitkan dahinya. Taehyung dapat menyadari bahwa Jungkook sedikit kecewa dengan jawabannya tersebut.
"Yang jelas, kita memang pernah saling mengenal sebelumnya kan?" Taehyung menggigit bibir bagian bawahnya sendiri.
Jungkook tersenyum kemudian mengangguk pelan, "Dulu kau memanggilku dengan sebutan 'babi'."
"HAH?!" Taehyung menghentikan langkahnya kemudian, membulatkan matanya, pikirannya membawanya mengingat masalalu.
"Mengingat sesuatu, hm?"
Kini ia mengingatnya, perempuan disampingnya ini adalah satu dari sekian banyaknya perempuan di kelas Taehyung saat baru saja memasuki sekolah menengah. Satu-satunya perempuan yang sama sekali tidak tertarik pada lelaki, terutama Taehyung. Satu-satunya perempuan yang mencintai makanan lebih dari apapun. Taehyung tidak terkejut hanya karena ia mengingat Jungkook secara tiba-tiba. Yang membuatnya terkejut adalah, Jungkook dimasa sekolah menengah adalah sosok perempuan gendut, pendek, dan berkacamata. Alasan mengapa Taehyung menyebutnya dengan sebutan 'babi'.
Taehyung menatap Jungkook dari ujung kaki hingga ujung kepala berkali-kali, tak percaya dengan penampilannya kini yang berubah begitu drastis. Tak bisa dikatakan cantik, namun tak jelek juga. Namun perubahan tentu saja terlihat jelas. Kini penampilan Jungkook dengan rambut sebahu, hidung mancungnya, tubuh langsing yang termasuk tinggi untuk ukuran perempuan. Benar-benar berbeda dengan seseorang dimasa lalu yang disebutnya 'babi'. Satu-satunya yang tak berubah hanyalah gigi kelincinya yang tak asing bagi Taehyung.
"Aku.. Aku tak menyangka babi bisa berubah menjadi kelinci dalam waktu sesingkat itu." Taehyung menggelengkan kepalanya, pangling. Sementara Jungkook hanya tertawa renyah.
Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan lagi dengan perbincangan yang tak lagi terasa canggung. Jarak rumah Jungkook cukup jauh sebenarnya, namun dengan perbincangan mereka membuat jarak tak lagi berarti.
.
.
.
Seokjin tiba di rumah hampir larut. Setibanya di rumah, ia langsung bergegas menuju kamar Taehyung. Pintu yang dibuka secara tiba-tiba mengagetkan Taehyung yang masih terjaga, terlebih lagi Seokjin yang tiba-tiba tertawa.
"Aku tak percaya kau melupakan gadis babi-mu!"
"Aish, hyung―" Taehyung mengacak surainya kemudian. Ia baru saja menyadari dulu ketika masih di sekolah menengah, ia sering menceritakan kepada Seokjin tentang teman sekelasnya yang lebih tertarik dengan makanan ketimbang pesona dirinya.
"Tapi dia tak terlihat seperti babi, menurutku. Kau terlalu berlebihan." Timpal Seokjin, masih sedikit tertawa disela kalimatnya.
"Memang. Dulu dia tidak seperti itu, hyung! Percayalah!"
"Setidaknya dia tak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kekasihmu yang lain. Dia cukup manis." Ujar Seokjin mengacak surai Taehyung kemudian.
Nah, itu dia. Daripada 'cantik', kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan Jungkook adalah 'manis'.
Taehyung masih saja melamun ketika Seokjin mencuri kesempatan untuk melirik ke layar handphone Taehyung yang berada di genggamannya.
"Wow! Mengerikan sekali, raja playboy satu ini!" Menyadari bahwa Seokjin mengintip layar handphonenya yang memang sebelumnya ia gunakan untuk mengirim pesan singkat kepada Jungkook, Taehyung langsung mematikan handphonenya.
Seokjin mengambil posisi untuk duduk di sebelah Taehyung yang tengah duduk di atas ranjangnya, kemudian menepuk pundaknya, "Aku tahu, kau merasa Jungkook itu berbeda kan?" Taehyung mengerti dengan perkataan Seokjin, namun ia tak tahu harus menjawab apa.
"Kalau iya, ku harap kau tidak memperlakukannya seperti kekasihmu yang lain." Sesaat setelah melanjutkan kalimatnya, Seokjin beranjak dan keluar dari kamar Taehyung. "Selamat tidur, Tae~"
.
.
.
Taehyung bangun terlambat pada pagi harinya, beruntung Seokjin mau mengantarnya dengan mobil, memperkecil kemungkinannya untuk terlambat. Pada hari itu Seokjin memiliki jadwal kuliah siang, jadi ia tak perlu terburu-buru seperti Taehyung sekarang ini.
Setibanya di universitas, Taehyung melangkahkan kaki terburu-buru. Meskipun ia sama sekali tidak terbilang terlambat. Hanya saja, seseorang memintanya untuk datang cepat hari ini. Hampir saja Taehyung mencapai ruang kelasnya, ia menabrak seseorang yang tengah membawa tumpukan buku hingga tumpukan buku yang sebelumnya ia rangkul berjatuhan begitu saja. Refleks Taehyung langsung berlutut dan meraih satu persatu buku, "Ah, maafkan―" Kalimatnya tertahankan ketika ia menyadari bahwa sosok yang ditabraknya, adalah Jungkook.
"Oh? Aku baru tahu kalau kita satu kampus―" Kalimat yang diucapkan Jungkook kemudian berlanjut menjadi sebuah perbincangan, membuat Taehyung lupa alasannya terburu-buru sebelumnya.
Hingga akhirnya Taehyung menyadari sepasang mata menatap keduanya dengan sinis, Taehyung membalas tatapan matanya dan mereka berdua saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Sedetik kemudian, seorang perempuan yang bertukar pandangan dengannya kini berjalan mendekat.
"Aku hanya memintamu untuk melupakan kekasihmu yang lain dan bersamaku hanya sehari saja, dan kau sudah memulai pagimu bermesraan dengan perempuan lain? Oh, siapa dia? Apakah dia mainanmu yang baru?" Sebuah tamparan keras melayang tepat di pipi Taehyung, sebelum akhirnya perempuan itu melangkah menjauh. "Kita putus."
Perlakuan dan kalimat yang sudah sering Taehyung dengar. Sudah sewajarnya Taehyung tak terkejut. Justru malah Jungkook yang terkejut atas kejadian yang sebelumnya ia saksikan. Terlebih lagi, entah mengapa kata 'mainan' yang sebelumnya diucapkan oleh perempuan tadi sedikit mengganggunya.
"Abaikan saja, yang tadi. Sebaiknya kita segera masuk, kelas akan segera dimulai."
.
.
.
Kelas sudah berakhir dan Taehyung memutuskan untuk mengajak Jungkook makan siang. "Sebagai permintaan maaf karena sudah membuatmu menyaksikan adegan tak menyenangkan, bagaimana kalau kutraktir kau makan siang?"
"Hm. Boleh juga." Taehyung tertawa kecil mendengar respon positif dari Jungkook. Ia merasa senang karena setidaknya ia mengetahui satu hal yang tidak berubah dari Jungkook. Fakta bahwa perempuan dihadapannya tidak mungkin menolak makanan.
Maka kini mereka berada di sebuah restoran cepat saji. Ide untuk mengajaknya makan di kantin kampus adalah hal terburuk, mengingat mungkin saja ia akan bertemu dengan kekasihnya yang lain dan kejadian pagi tadi akan terulang lagi.
Jungkook memesan banyak sekali jenis makanan, membuat Taehyung tak bisa menghilangkan senyuman yang terpatri di wajahnya tiap kali melihat Jungkook yang begitu semangat menyantap makanannya. Namun, senyumannya langsung menghilang ketika tiba-tiba saja ia teringat akan suatu hal.
"Jungkook?" Pemilik nama menoleh kearah Taehyung yang memanggil namanya.
"Aku memikirkannya sejak tadi malam― Kau benar-benar berpacaran dengan Hoseok?" Pertanyaan Taehyung membuat Jungkook tersedak, dengan segera Taehyung menyodorkan minuman kearahnya. Setelahnya Jungkook minum terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Taehyung.
"Tidak, kami tidak berpacaran. Tapi―" Jungkook menahan kalimatnya, untuk menatap wajah Taehyung sekilas.
"Tapi?"
"― Aku pernah berpacaran dengannya. Begitulah." Saat itu Taehyung merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya. Entah apapun itu, ia tidak mengerti.
"Lalu, kenapa kalian putus?"
"Ah― Saat itu aku menyukai orang lain dan aku merasa terlalu jahat jika aku terus membiarkannya bersamaku. Jadi aku memutuskannya. Sudahlah, lagipula itu sudah lama sekali." Jelas Jungkook, sembari melahap cheese burgernya
Taehyung terpaku. Jungkook hanya menyukai orang lain dan merasa begitu jahat kepada Hoseok. Sedangkan Taehyung menjalin hubungan dengan lebih dari satu perempuan tanpa memiliki sedikitpun perasaan terhadap mereka. Kini Taehyung merasa ia adalah orang terjahat di dunia.
".. Sudah lama? Selama apa?" Pertanyaan demi pertanyaan Taehyung keluarkan untuk mengetahui Jungkook lebih jauh. Mengingat ketidak peduliannya terhadap Jungkook semasa sekolah menengah.
"Heh. Saat masih di sekolah menengah." Suara Jungkook sedikit lucu, karena kini mulutnya dipenuhi cheese burger yang ia kunyah.
Tapi tunggu dulu, saat masih di sekolah menengah? Itu artinya ketika Jungkook belum pindah sekolah dan― Ia masih berwujud babi. Tapi, bagaimana bisa― Oh astaga. Taehyung tak dapat mempercayainya.
Sulit untuk mengakui, bahwa hubungan yang dijalin Hoseok didasari oleh sebuah ketulusan.
"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Hoseok di koridor kampus. Kami sedikit berbicara kemudian ia mengajakku untuk pergi menonton saat akhir pekan." Jungkook berujar setelah ia menelan seluruh cheese burger yang sebelumnya ia kunyah dan melanjutkannya lagi, "Walaupun ia tak mengatakannya, aku tahu bahwa ia mengajak kalian semua agar pertemuan kami tak berakhir dengan sebuah kencan canggung."
Kini Taehyung mengerti. Memang Hoseok yang semula mengajak mereka untuk menonton bersama. Mengajak mereka semua seperti itu― Dan juga ia yang membiarkan Jungkook duduk bersamanya saat di bioskop. Yah, Taehyung dapat mengerti hubungan 'mantan kekasih' yang bisa berubah menjadi secanggung itu.
Namun entah mengapa Taehyung terus bertanya dalam hati, tentang keraguannya, bahwa Hoseok masih menyimpan perasaan terhadap Jungkook. Sejujurnya, ia sedikit terusik.
.
.
.
Beberapa hari setelahnya, Jungkook berkumpul dengan ketiga temannya di kantin kampus, seperti biasa.
Mereka yang semula sibuk dengan kegiatan masing-masing― Namjoon dengan handphonenya, sudah pasti sedang bertukar pesan singkat dengan Seokjin― Jimin dengan game di handphonenya― Hoseok dengan laptopnya sedang membuka sebuah situs― Dan Taehyung yang hanya menatap Hoseok, hingga akhirnya Hoseok membalas tatapannya, "Apa?"
"Hoseok, apakah kau masih menyukai Jungkook?" Pertanyaan yang terlalu berterus terang di lontarkan oleh Taehyung kepada Hoseok, membuat Hoseok kesulitan bernafas secara tiba-tiba, seperti seekor ikan yang terdampar di daratan.
"Whoa, apa? Hoseok, kau benar-benar berpacaran dengan Jungkook? Kupikir kau bergurau." Jimin menyahut, meskipun matanya masih tak teralihkan dari handphonenya.
"Ck. Itu sudah lama sekali. Kenapa tiba-tiba kalian jadi sok peduli? Padahal saat di sekolah menengah, kalian hampir tak mengenal Jungkook." Desis Hoseok kemudian.
"Oke, aku tak membantah. Aku memang hampir tak mengenal Jungkook. Aku bahkan sudah lupa bagaimana wujudnya ketika masih di sekolah menengah, sejujurnya." Timpal Namjoon, disahuti dengan anggukan Jimin.
"Apa? Kupikir hanya aku yang melupakan Jungkook―" Taehyung kini paham mengapa hanya ia yang tak melupakan Jungkook sebelumnya, sementara kedua temannya ternyata hanya berpura-pura mengenal Jungkook.
"Ketika aku mengatakan bahwa aku mengajak seorang perempuan, hanya kau yang terlihat tak peduli. Makanya aku tak memberitahukan padamu, Tae." Hoseok kembali fokus kearah layar laptopnya, sebelum akhirnya kembali berujar, "Tae, apa pendapatmu tentang Jungkook?"
"Hah? Maksudmu?"
".. Tidak. Ketahuilah bahwa hanya orang di kelas yang mau berbicara dengan Jungkook ketika sekolah menengah. Itu berarti hanya kau dan aku."
Taehyung baru menyadari bahwa Jungkook di masa sekolah menengah hampir tidak memiliki teman. Ia bahkan tak pernah melihatnya berbincang dengan teman perempuannya yang lain, mengingat seluruh perempuan di sekolah terlalu sibuk untuk menggilai seorang Taehyung. Ia selalu menyendiri, dengan hanya ditemani oleh makanan, tentunya.
Hoseok tiba-tiba saja menutup laptopnya dan berdiri, "Aku punya beberapa urusan lagi. Aku duluan, ya." Ujarnya kemudian berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan Taehyung.
.
.
.
Menyadari bahwa Hoseok belum menjawab pertanyaan Taehyung tentang perasaannya terhadap Jungkook.
Taehyung berbaring diatas ranjangnya sembari menatap langit-langit kamar, untuk apa ia peduli terhadap perasaan seseorang? Entahlah.
.
.
.
Sudah berbulan-bulan berlalu. Taehyung semakin akrab dengan Jungkook. Ia bahkan lebih sering menemui Jungkook ketimbang kekasihnya yang lain. Dalam kurun waktu tersebut, Taehyung sudah putus dengan beberapa kekasihnya ketika mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Taehyung yang tengah berduaan dengan Jungkook. Meskipun itu adalah sebuah kesalah pahaman, tentunya. Taehyung merasa lega karena setidaknya terlepas dari mereka. Tapi, kenapa ia harus merasa lega?
"1 September? Ulang tahunmu?" Tanya ketika ia menyadari alamat email Jungkook yang beserta deretan angka, 0109.
"Iya." Jawab Jungkook tersenyum kemudian, menyadari hari ulang tahunnya sudah sangat dekat, hampir seminggu lagi. "Kalau kau kapan ulang tahun?"
Taehyung sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab jujur, "Entahlah. Aku tak ingin mengingatnya. Aku tak ingin merayakannya lagi."
"Eeh? Kenapa begitu? Itukan hari kelahiranmu yang diberikan oleh ibumu!"
"Justru itu, aku membenci ibuku."
Jungkook tidak mengerti apa yang terjadi diantara Taehyung dengan ibunya. Yang ia tahu pasti, tidak baik bersikap seperti itu, terlebih kepada seorang ibu yang sudah melahirkannya. "Kalau kau membenci ibumu, berarti kau membenciku juga."
"Hah? Tidak mungkin." Taehyung menggeleng, membantah ucapan Jungkook. "Terserah, tapi aku tetap tidak ingin mengingat ulang tahunku."
"Hu. Payah." Jungkook menggembungkan kedua pipinya setelah mendengar jawaban Taehyung.
"Tapi, barusan kau menyamakan dirimu dengan ibuku. Apakah itu berarti kau akan menjadi ibu bagi anak-anakku nanti? Hehe." Gurau Taehyung kemudian menarik kedua sudut bibirnya keatas, menunjukkan sebuah senyuman.
"Menjijikkan." Jawab Jungkook singkat, sembari mencubit kuat lengan Taehyung hingga ia mengaduh kesakitan.
Mereka berdua terlalu sibuk dengan dunia mereka ketika berdua seperti ini, bahkan tak menyadari Hoseok melintas dibelakang mereka, menatap keduanya dan tersenyum kecut― Seolah sedang berusaha merelakan sesuatu.
.
.
.
Setelah kelasnya berakhir, Taehyung bergegas menuju perpustakaan untuk menemui Hoseok. Tidak seperti biasanya, Hoseok memintanya untuk berbicara empat mata, tanpa Jimin maupun Namjoon.
Setelah ia mendapatkan sosok yang dicarinya, ia duduk berhadapan dengannya di sebuah meja yang disediakan di perpustakaan.
"Aku akan segera mengatakannya, karena aku punya beberapa urusan yang harus kuselesaikan lagi." Ujar Hoseok menatap lurus kearah Taehyung. "Apa kau menyukai Jungkook?"
".. Apa maksudmu?" Taehyung tak memahami kalimat yang pernah Taehyung pertanyakan kepada Hoseok sebelumnya.
"Aku dapat mengetahuinya hanya dengan melihatnya saja. Kau berbeda ketika bersamanya, ketimbang bersama kekasihmu yang lain. Semacam, ekspresimu yang terlihat lebih jelas ketika bersamanya, ketimbang ekspresimu yang selalu kau tahan ketika bersama kekasihmu yang lain."
Taehyung tak dapat menyangkal kalimat Hoseok. Memang benar yang dikatakannya. Ia memang merasa lebih nyaman bersama Jungkook ketimbang kekasihnya yang lain. Ia menyadari, bahwa Jungkook berbeda.
Menyadarinya pun, ia tak bisa melakukan apapun. Ia selalu menahan diri, mengingat kemungkinan bahwa Hoseok masih memendam perasaan terhadap Jungkook.
"Aku.." Taehyung tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Bahkan meskipun ia menyadari perasaannya sekalipun, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Jangan menahan diri." Ujar Hoseok seolah bisa membaca pikiran Taehyung. "Pergilah untuknya Taehyung, buktikan padaku bahwa kau tak selamanya mempermainkan perempuan. Satu hal yang pasti, aku tak akan memaafkanmu kalau kau mempermainkan Jungkook." Tegas Hoseok sebelum akhirnya beranjak pergi dan meninggalkan Taehyung sendirian.
.
.
.
Maka hal pertama yang dilakukan Taehyung ketika menyadari perasaannya terhadap Jungkook adalah― Ia segera memutuskan kekasih-kekasihnya yang lain.
Meskipun berakhir dengan wajahnya yang berubah menjadi babak belur.
.
"Kau pantas mendapatkannya. Bajingan." Kalimat terakhir yang diucapkan oleh kekasih terakhirnya.
Taehyung sama sekali tidak menyesali perbuatannya, karena setelahnya ia berpapasan dengan Jungkook saat ia berjalan menuju klinik kampus.
"Biar kutebak, kau habis putus dengan kekasihmu?" Jujur saja, Jungkook kebingungan saat mendapati jawaban Taehyung justru malah mengangguk dan tersenyum senang, sebelum akhirnya memeluk Jungkook erat, membuat sosok perempuan tersebut kebingungan karenanya.
"Aku sudah bebas, Jungkookie~"
.
.
.
"Jungkook, apa pendapatmu kalau aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?" Tanya Taehyung di sambungan teleponnya dengan Jungkook.
"Hm? Biasa saja." Jawab Jungkook singkat. Ia sudah tak lagi terkejut dengan kalimat Taehyung. Setelah Taehyung putus dengan semua kekasihnya, ia jadi sering menggoda dan menggombali Jungkook.
"Oh ya? Kenapa?"
"Hm, kenapa ya? Kupikir kau memang selalu berkata begitu kepada semua perempuan." Jungkook berujar, berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Aish, aku tak menyangkal. Tapi aku sama sekali tidak tulus kepada mereka, sungguh."
"Lalu? Kau tulus kepadaku?"
"Kau akan tahu jawabannya kalau kau keluar ke balkon kamarmu." Ujar Taehyung tertawa pelan dibalik sambungan telepon.
Jungkook sama sekali tak mengerti apa maksud Taehyung. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan bulan dapat terlihat dengan jelas. Apa Taehyung ingin agar dirinya melihat kearah bulan dan melancarkan beberapa kalimat gombalan usang? Ah, terserah saja. Jungkook tetap mematuhi perintah Taehyung untuk keluar ke balkon kamarnya dan mendongak keatas. "Sudah, lalu?"
"Hei, aku tidak menyuruhmu untuk melihat kearah bulan? Lihat kebawah~"
Mata Jungkook terbelalak kaget, hampir saja menjatuhkan handphonenya. Taehyung, berada di bawah. Dengan lilin menyala di jalanan depan rumah Jungkook yang sudah diatur letaknya hingga cahaya mengukir sebuah tulisan.
Happy birthday, cutie. I Love You.
Jungkook melirik kearah jam di handphonenya, 00:01. Hari sudah berganti. Sekarang tanggal 1 September, hari ultang tahun Jungkook. Taehyung memberikan kejutan yang benar-benar diluar dugaannya.
"But, why?" Tanya Jungkook penuh keraguan.
"Because you're cute, cutie."
"Is it just because I'm err― Cute?"
"No. I fell in love with you. Not for how you look, just for who you are. Well, although you look cute too." Taehyung sedikit tertawa pelan disela kalimatnya.
"Ehm, okay."
Hening. Namun Taehyung tahu, sambungan telepon belum terputus, sebagaimana ia masih dapat merasakan bunyi nafas Jungkook yang tak beraturan.
"I'm confused."
"Hm? Why?" Lagi-lagi, Taehyung tertawa pelan, "You don't have to answer it, if you don't want to." Sejujurnya, Taehyung takut akan penolakan. Mengingat selama ini ia tak pernah menyampaikan perasaan terlebih dulu.
"Well, wanna know the truth?"
"What?"
"I also have the same feeling for you."
Oh, sialan.
Taehyung memberi jeda untuk keheningan. Membiarkan dirinya menarik nafas sebanyak-banyaknya, sebelum akhirnya memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suara.
"I'm not a romantic guy―" Demi apapun, Taehyung berani bersumpah bahwa ia merasa darahnya berdesir lebih cepat, begitu pula dengan jantungnya. Ia kembali menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia kembali berujar,
"― So would you be mine?"
"WAIT. UH."
Hening.
"YEAH, I WOULD. BYE." Sedetik kemudian, Jungkook mematikan sambungan telepon dan mengirim pesan singkat kepada Taehyung.
"Sebaiknya kau pulang, ini sudah larut, bodoh."
Taehyung tersenyum membaca pesan singkat tersebut, sebelum akhirnya langsung membalasnya, "Aku diusir? Huhu. Baiklah. Sekali lagi, selamat semakin tua. Jangan tidur terlalu larut― Eh sekarang sudah larut ya― Yasudah. Pokoknya aku mencintaimu."
.
.
.
TBC
