Alright, sorry for taking so long for this chapter. Makasih karena kalian milih Run Away buat jd chaptered :) Buat yg minta Rate M ... eumm ... kita liat aja nanti.
Run Away Fact : Mereka kabur bareng pas umur mereka 21 tahun yaps. So Dramione kembali bersatu, after 23 years apart :"")
WARNING! : INCEST
Disclaimer : I wish I own them, but they're belong to Master J.K. Rowling. Excluding Ares, Orion, and another OC that you'll find out.
I didn't gained any commercial advantages :)
.
.
"Pagi, Mrs. Evans," sapa seorang anak kecil kala menghampiri pagar mungil rumah minimalis bertingkat dua yang termasuk besar untuk ukuran sebuah desa.
"Pagi, Stefan." Dengan senyuman, perempuan yang disapa Mrs. Evans itu menghentikan kegiatan berkebunnya sejenak. "Ada yang bisa kubantu?"
Stefan tersenyum riang seraya mengangguk. "Aku mencari Ares dan Orion. Apa mereka ada di rumah?" tanyanya sopan.
"Sayang sekali, Stef. Ares dan Orion baru saja memasuki TK mulai hari ini. Jadi mereka takkan ada di rumah hingga siang."
"Begitu, ya," desah anak kecil itu kecewa. Tapi senyum kembali mengembang di wajahnya saat ia mulai angkat bicara. "Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa lagi, Mrs. Evans."
Mrs. Evans tersenyum simpul. Ia kembali berjongkok guna melanjutkan kegiatannya yang sempat terinterupsi tadi.
Hidup yang damai. Mrs. Evans menatap ke arah desa yang terletak agak jauh dari rumahnya senang. Menetap dan menjadi bagian dalam komunitas masyarakat memang bukanlah keputusan yang buruk, malah menyenangkan.
Berkebun, bersosialisasi, bermain, belajar, dan hidup dalam kedamaian bersama keluarga kecilnya. Kebahagiaan yang tak dapat dijelaskan Mrs. Evans dengan kata-kata.
Mrs. Evans bahagia dengan segala yang dimilikinya sekarang.
.
.
Keriuhan kecil terdengar dari pekarangan kediaman Evans bersamaan dengan deruman mobil yang perlahan meredup.
Tawa riang khas anak kecil menghiasi kesunyian yang sebelumnya meliputi rumah itu.
"Daddy, kita harus melakukannya sekali lagi!" seru anak berambut pirang platina seraya bergelayut manja di lengan pria yang ia sebut Daddy.
"Jangan seperti anak kecil, Antares," salak seorang yang seumuran anak kecil itu dari belakang. Siapa pun bisa melihat dengan jelas kemiripan antara keduanya. Yang membedakan hanyalah rambut Antares yang pirang platina, sedangkan anak itu berambut brunette.
"Kita memang masih kecil, 'Acha'," ledek Antares seraya memeletkan lidahnya pada saudara kembarnya.
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Oke, oke. Hentikan perdebatan kalian, kids," lerai pria yang tak kuasa menahan senyumnya melihat tingkah polah kedua anaknya.
"Dan berhenti mengejek nama Orion, Ares." Sang Ibu keluar dari rumah dan langsung menyambar Ares dengan kata-kata halus namun penuh peringatan.
"Baik, Mummy." Ares mengerucutkan bibirnya sebal. Ia paling tidak suka mendengar ocehan Mummy-nya yang terkadang lebih membela Orion daripada dirinya. ia memang sayang pada Orion, tapi ia lebih senang lagi jika dapat membuat saudara kembarnya itu marah padanya karena hal-hal sepele.
Keluarga kecil itu memasuki rumah mereka diiringi ocehan Ares yang kembali membaik dan beberapa celetukan kecil Orion terhadap cerita saudaranya. Kadang menyetujui dan menimpali, kadang membenarkan beberapa kesalahan dalam cerita Ares.
Siang yang dipenuhi dengan tawa dan celotehan anak kecil itu berakhir dengan kuapan lebar kedua anak kecil yang telah kelelahan menjalani harinya. Mrs. Evans akhirnya menidurkan keduanya.
"Bagaimana harimu?" tanya Mrs. Evans pada pria yang tengah membuka setelan kerjanya tanpa niat membantu sama sekali.
"Menyenangkan," ujarnya seraya tersenyum kecil. "Ares tak pernah berhenti berbicara sejak aku menjemputnya di TK."
"Oh, anak itu menuruni sifatmu." Mrs. Evans tertawa kencang melihat wajah merengut pria di hadapannya.
"Dan Orion menuruni sifatmu, Miss Schiel." Pria itu tersenyum simpul. Mempertemukan kelereng kelabu perempuan di hadapannya dengan permata biru safir miliknya.
"Thank you, Mr. Evans." Ia berjalan mendekati Mr. Evans dan menatap mata biru milik pria itu lekat-lekat. "Bukankah lebih baik jika kau melepaskan lensa kontak itu sekarang, Scorpius?"
"Alright. Tapi kau tahu, Rose? Kadang aku menyukai mata biruku saat bercermin. Terlihat sangat cocok dengan rambutku." Scorpius menarik sudut bibirnya, membentuk seringai yang beberapa tahun terakhir ini jarang diperlihatkannya di depan umum—tapi tidak di depan Rose tentunya.
Rose tersenyum simpul. Ia juga diam-diam menyukai lensa kontak yang selalu dipakai Scorpius setiap saat—kecuali sedang berdua bersamanya. Karena baginya, itu membuat satu lagi perbedaan jelas pada diri mereka.
"Aku menyukai rambutmu." Scorpius membuyarkan Rose dari lamunannya. "Terlihat benar-benar cocok. Dan kau mengingatkanku pada Mother."
Rose tak menjawab. Sejak mereka memutuskan untuk pergi dari dunia sihir dan tinggal di Skotlandia, Rose rasa akan jauh lebih baik mewarnai rambutnya menjadi cokelat gelap, seperti rambut yang dimiliki Astoria Greengrass.
"Rose?" panggil Scorpius pada Rose yang tak terdapat fokus pada matanya.
"Kau tahu, Scorp?" Rose menatap mata Scorpius yang telah menjadi biru kelabu kembali. "Keputusan kita untuk menetap di sini sepertinya adalah hal yang baik."
- Flashback -
Sudah nyaris setahun mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sejak 'melarikan diri' dari dunia sihir. Bukan hal yang mudah bagi mereka tentunya. Scorpius hanya mengandalkan tabungan pribadinya yang—walaupun sangat banyak—akan habis suatu saat nanti jika mereka hidup seperti ini terus menerus. Setidaknya Scorpius harus memiliki pekerjaan tetap.
"Scorp." Rose berjalan mendekati Scorpius yang tengah duduk santai di sofa flat mereka. Gadis 'Weasley' itu menelusup di bawah lengan kekar Scorpius, mencari posisi nyaman bagi dirinya bergelung dibalik kehangatan tubuh saudaranya.
"Hm?" gumam Scorpius seraya menarik Rose lebih dekat pada dirinya. ia mematikan televisi yang tengah ditontonnya. Tak ada yang lebih menarik baginya ketimbang menikmati momen seperti ini bersama Rose.
"Apa kita akan hidup seperti ini terus hingga kita tua?" Rose menggumamkan apa yang selalu mengganjal hatinya selama ini.
"Apa maksudmu?" Scorpius mengerutkan keningnya bingung. "Tentu saja kita akan hidup seperti terus, Rose. Hanya kita berdua."
"You didn't get it. Bukan itu maksudku. Apa kita akan hidup seperti ini terus? Hidup dengan terus berlari dari siapa pun yang berkemungkinan mengenal kita? Hidup dalam pelarian?"
Rose mendongak, sekedar ingin menatap manik biru kelabu Scorpius yang selalu menjadi favoritnya. Ia tahu Scorpius mulai lelah dengan semua ini, dengan pelarian mereka.
Scorpius menghela napasnya. Rose dan segala macam hal yang memenuhi pikiran gadis itu adalah kejutan hidupnya. "Apa kau berusaha mengatakan kau menyesal? Apa kau menyesal pergi bersamaku?"
"Terkadang ..." Rose menggantungkan kalimatnya ragu, berbagai macam hal berkecamuk dalam benaknya.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkannya."
"Terkadang aku berpikir, apa keputusan kita ini benar? Apa kita telah melakukan kesalahan sejak awal? Apa seharusnya kita kembali pada hidup kita yang dulu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu memenuhi diriku tiap kali kita harus berpindah tempat karena merasa terancam."
Scorpius mengelus helaian cokelat Rose dan menemukan beberapa helai pirang di antaranya. Sedikit pengingat akan ikatan darah yang tak bisa terhapus.
"Aku tahu kau lelah, Scorp. Jangan berusaha menyembunyikannya dariku karena itu tidak berguna. Aku tahu dirimu."
"Lalu apa maumu sekarang? Kita sudah terlalu jauh untuk kembali." Scorpius tak bisa menyembunyikan sarkasme yang terdengar jelas dari setiap katanya. Lebih baik menunjukkan sedikit sarkasme dibandingkan ia harus menunjukkan pada Rose bahwa ia takut.
"Aku takkan meminta untuk kembali. Sudah terlalu terlambat. Tapi kita tak mungkin terus mengisolasi diri dari kehidupan sosial di sekitar kita," ujar Rose menyampaikan pendapatnya dengan suara yang sedikit teredam karena wajahnya tenggelam di dada Scorpius.
"Teruslah bicara. Aku tak memiliki apapun untuk kukeluarkan."
"Kau harus memiliki pekerjaan tetap di antara para Muggles, lalu kita akan memiliki rumah minimalis dengan pekarangan bunga kecil dan kebun milikku di belakang rumah." Rose tersenyum manis mengingat akan impian yang sejak kecil selalu dimilikinya.
"Kau ingin hidup seperti itu?" Oh, Rose bahkan bisa merasakan senyum Scorpius yang mengembang di pucuk kepalanya.
"Perempuan mana yang tidak ingin?" Rose menjauhkan kepalanya dari Scorpius dan menatapa pemuda di hadapannya dengan sedikit memohon.
"Baiklah, baik. Akan kuurus masalah itu," ujar Scorpius menyetujuinya. Ia tertawa pelan menatap ekspresi Rose yang lucu. "Tapi dengan beberapa syarat."
"Apa?" Rose mengerucutkan bibirnya. Scorpius terkadang meminta hal-hal aneh darinya.
"Jangan lupakan beberapa anak kecil yang berkeliaran di dalam rumah." Pemuda pewaris nama Malfoy itu menarik sudut bibirnya, memperlihatkan seringai andalannya pada Rose.
Singkatnya, Scorpius mencium Rose dengan ganas lalu menggendong perempuan itu ke pangkuannya.
Ia menurunkan tali tank top yang digunakan Rose dan menariknya turun. Memperlihatkan payudara montok gadisnya.
"Aah ... Scorp," desah Rose pelan saat mulut Scorpius dengan nakalnya menjilat dan menciumi payudaranya.
Rose menarik kepala Scorpius menjauh dengan paksa lalu menatap mata Scorpius. Ada nafsu di dalamnya.
"Hmmm ..." ia bergumam pelan, "aku akan mempertimbangkannya." Lalu melumat bibir Scorpius tak kalah ganasnya.
- Flashback End -
.
.
.
.
.
To Be Continue ...
.
.
*wink* *wink* *wink* Hahaha, jangan terlalu serius bacanya. Karena diriku ini masih polos, makanya cuma segitu :3
RnR?
