Akhirnya chapter 1 jadi \QwQ/
Sebelumnya Mikan mau mengumumkan sesuatu OwO
Loving Rin Kagami (Mungkin udah banyak yang lupa) akan Mikan hapus dan direwrite lagi kalau Mikan ada waktu TwT
Reichi: Eh? Tapi aku masih ingin main di fic itu QAQ
Mikan: Main saja di fic lain =w=
Rechi: QxQ
Mikan ingin membuat fic tentang Alice Human Sacrifice dan Trick and Treat lagi. Entah kenapa lagunya selalu menarik inspirasi Mikan OwOa. Bahkan OC Mikan Hans, Hansel, Gretel dan Greta pun tercipta setelah Mikan mendengar lagu Trick and Treat =w=
Mikan juga mau ngucapin Gong Xi Fa Cai bagi yang merayakannya OuO
Mikan mengucapkan terimaksih pada Yami no Face, Kiriko Alicia, Arisa Amori, YamiRei28, neko-neko kawaii, dan Hithosiyahabusa yang mereview fic ini n.n
Disclaimer: Mikan tidak memiliki Vocaloid tapi Mikan memiliki Rechi dan seluruh OC Mikan X3
Chapter 1: Anak bernama Oliver
Sol Dilos, gedung senat.
Bangunan putih itu terlihat bersinar disinari bulan. Damai dan menenangkan, Seolah tidak ada satupun yang dapat mengusik ketenangan tempat ini.
Kecuali kepakan sayap seorang angelique berambut teal.
Angelique itu mengepakkan sayapnya menuju bangunan putih itu dengan cepat bagaikan peluru. Pakaiannya yang putih sedikit kotor dan wajahnya terlihat serius. Dia mendarat dengan lembut di salah satu balkon, sayapnya yang tadinya terkembang berubah menjadi kelopak-kelopak bunga dan menghilang saat dia menjejakkan kakinya ke tanah. Matanya yang berwarna teal, berubah silver saat cahaya bulan mengenainya. Tanpa membuang waktu dia segera berlari menuju pintu besar di hadapannya.
"Luka-sama, kuharap kau mengerti situasi apa yang kau bawa pada kita saat ini." angelique itu berkata tepat saat dia membuka pintu.
Angelique yang sedari tadi duduk di depan meja putih bersih mendongak mendengar perkataannya, mata birunya berubah silver sekilas saat cahaya bulan terpantul padanya. Matanya menatap lurus angelique dihadapannya dengan tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu Miku?" tanyanya.
Angelique bernama Miku itu berjalan menuju meja. Suara hentakan kakinya terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Kedua tangan Miku berada diatas meja sesampainya dia di meja putih itu. Miku menjilati bibirnya. "Maksudku, apa kau sadar akan keputusanmu? Melepaskan Skizard berkeliaran di Shallunar?" kuku kuku Miku mencakar meja. "Apa kau ingin membuat kepanikan masal?"
Luka berdiri dan berjalan menuju jendela. Gerak langkahnya anggun, tapi juga menunjukkan keangkuhan dan kekuasaan. Dia berbalik melihat Miku, mata silvernya terlihat dingin saat menjawab pertanyaan Miku.
"Miku, kau itu paranoid."
Miku tersentak mendengar perkataan Luka, perlahan pipinya memerah.
"Ramalan itu memang mengkhawatirkan, tapi itu bukan alasan memenjarakan semua skizard lalu membiarkannya mati perlahan-lahan." Luka berkata dengan wajah kaku.
"Mereka berhak untuk hidup seperti kita. Kita tidak bisa mencegah perang terjadi dengan cara keji seperti ini." Luka berkata dengan nada pelan. Dia menatap sendu bulan yang duduk di atas sana. Bibirnya terkatup dan tanpa seorang pun tahu, setitik cairan bening mengalir melalui pipi dan jatuh kelantai marmer.
Miku tak menjawab selama beberapa menit. Mulutnya terkatup rapat dan kepalanya tertunduk. Tetapi matanya menunjukkan kemarahan, kebencian dan berbagai perasaan negatif lain. Dia melihat Luka, dan berkata dengan tangan terkepal. "Baik. Tapi aku tidak akan berkata apapun jika dia ditangkap dan dieksekusi mati."
tanpa memberi penghormatan pada Luka dia berbalik dan keluar. Suara langkah kaki kemarahan terdengar di sepanjang lorong. Tapi Luka tetap diam, tidak mempedulikan sikap Miku yang tidak hormat padanya.
d==b
Villunar, rumah kecil di tengah hutan.
Seekor burung hantu dengan bulu abu-abu yang indah duduk manis di kusen jendela yang tampak rapuh. Matanya berwarna biru yang besar melihat bulan yang bersinar terang. Sesekali dia melihat sosok tubuh yang tertidur di atas ranjang.
"Berisik!" teriak seseorang diranjang itu diikuti bantal yang terlempar menuju sang burung hantu. Dengan cepat burung hantu itu terbang menghindari bantal.
Aneh, padahal burung malang itu tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.
"Aku baru pulang. Seharusnya kau bersikap baik dan membiarkan aku beristirahat, bukan mengisi kepalaku dengan omelanmu." orang itu berkata lagi.
Si burung hantu terbang menuju ranjang dengan kepakan sayap yang anggun. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi seorang gadis dengan dress abu-abu yang membalut tubuhnya. Mata ambernya menatap orang diatas ranjang dengan wajah masam.
"Seharusnya kau berbuat sesuatu. Mereka memenjarakanmu di Tartaros, penjara paling mengerikan di dunia ini hanya karena kau seorang skizard! Len, kau itu-uph!"
gadis itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi saat Len menutup mulutnya dengan tangannya. Wajahnya memerah, tapi bukan karena kehabisan nafas.
"Sudahlah Neru," Len berkata.
Perlahan dia berdiri, membelakangi Neru. Dia menatap bulan melalui jendela. Matanya yang tadinya berwarna biru berubah menjadi merah, detik berikutnya menjadi silver, lalu sedetik kemudian berubah hijau, lalu kemudian ungu dan kuning. Len menutup matanya dan mengeluarkan nafas panjang. Kepalanya tertunduk.
"Aku tidak mau menambah masalah lagi. Lagi pula aku sudah kembali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." ucapnya pelan.
Len berjalan menjauhi jendela untuk mengambil pakaiannya. Tak sedikitpun dia melihat Neru yang blushing melihatnya bertelanjang dada.
"Tapi..." Neru memprotes.
"Cukup, aku ingin mencari makanan. Kau juga sebaiknya kembali ke Experiar. Keluargamu pasti cemas menunggdumu."
Dengan 3 kalimat itu Neru pun terdiam. Dia berbalik menuju pintu keluar dan terbang keluar. Len sendiri mengambil jubahnya dan keluar dari rumah. Dilihatnya gubuk kecil itu, rumahnya untuk sekarang setelah pergi dari rumahnya dan menjadi tahanan angelique. Len mendesah dan berangkat menuju Chyoin.
"Kuharap Gaia masih gelap." gumamnya pelan.
Langkahnya terseok-seok menelusuri hutan. Jelas tidak makan selama setahun membuatnya lemah, sangat lemah. Jika saja bulan tidak bersinar terang malam ini mungkin dia tidak akan dapat menggerakkan seujung jari pun. Len berjalan menuju sebuah gerbang besar. Tingginya mencapai 3 meter, berwarna hitam kelam dengan 4 angelique berjaga di sekitarnya. Len memalingkan wajah saat salah satu angelique melihatnya. Bisa gawat jika mereka mengetahui siapa dirinya.
Len bersembunyi dibalik pohon ek besar dan mendesah. Tidak mungkin dia berada di Villunar saja, dia bisa mati kelaparan. Tapi nekat menerobos penjagaan menuju Gaia pun berbahaya, dia bisa ditangkap dan mungkin dijebloskan kembali dalama Tartaros. Atau lebih buruk. Mati.
Len menyuruk, duduk diatara akar akar pohon ek besar itu. Dalam hatinya dia merutuki takdir yang tidak adil padanya. Jika saja keturunannya tidak memiliki darah skizard. Jika saja dia hanya vampire biasa. Hidupnya pasti tidak akan menderita seperti ini jika takdir tidak begitu kejam padanya.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Len mendongak, di depannya seorang anak laki-laki melihatnya dengan senyuman manis. Anak itu memakai jaket tebal yang tidak terkancing dengan benar. Rambutnya yang blond cerah itu berantakan, poninya bahkan menutupi sebagian besar wajahnya. Matanya kirinya diperban sedangkan mata kanannya berwarna merah menyala. Anak itu tidak bertanya apapun dan Len juga tidak membuka mulutnya.
"Kau ingin ke Gaia?" tanya anak itu lagi. Len tidak menjawabnya.
"Aku bisa membantumu." kata anak itu lagi. Len tidak menyadari dia bertanya sampai dia mendengar suaranya. "Bagaimana caranya?"
Anak itu tidak menjawab, tapi tangan kirinya memegang kepala Len. Len tidak mengatakan apapun. Dia hanya melihat anak di depannya menggumamkan mantra yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Sedetik kemudian, Len berubah menjadi burung biru yang cantik. Anak itu tersenyum majin lebar dan mengelus kepala Len.
"Sekarang berpura-puralah menjadi burung yang manis dan diam." anak itu berkata seraya mengambil Len dan menempatkan Len di bahunya.
Mereka berjalan menuju gerbang dengan santai, Len sendiri harap-harap cemas melihat seorang angelique memperhatikan mereka berdua dengan tatapan menusuk. Dia sedikit meragukan trik yang dilakukan anak disampingnya ini.
"Kau mau kemana nak?" tanya seorang angelique tua. Tangannya memegang pundak anak lelaki itu. Anak itu mendongak melihat pria tua itu. Dia sangat tinggi dan besar dengan kepala botak dan jenggot berwarna putih.
"Aku ingin ke Gaia tuan! Ibuku memberikan burung manis ini sebagai hadiah ulang tahun, tapi aku kasihan padanya dan ingin melepaskannya di hutan Gaia yang terkenal indah itu." jawab anak itu polos dan ceria. Dia bahkan mengangkat Len dengan kedua tangannya dan menunjukkannxa kepada bapak tua itu.
Angelique renta itu melihat Len dengan teliti, terutama matanya, berusaha mencari kebohongan disana. Jika saja Len bisa berkeringat, pasti dia telah mengeluarkan keringat dingin yang mampu membasahi bulu-bulunya saat melihat orang itu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang dalam.
Angelique tua itu lalu tersenyum pada si anak dan mengelus rambutnya yang berantakan berwarna blond itu. Dan selayaknya anak yang polos, anak itu mengeluarkan suara yang lucu, tapi membiarkan pak tua mengacak acak rambutnya.
"Kamu anak yang manis, berhati-hatilah di Gaia." ucap orang itu.
Anak itu tersenyum dan mengangguk kecil. Dia lalu berlari dengan kedua tangannya mendekap Len di depan dada. Len menyengir dalam hati. Anak itu aktor yang hebat.
Sekejap saja mereka sudah sampai di Gaia. Mereka tidak menemukan masalah saat menuju ke sana. Bahkan para angelique penjaga tidak mempedulikan mereka. Anak itu membawa Len hingga tepi hutan, lalu merubah Len kembali seperti semula.
"Terima kasih, um..." Len melihat anak itu dengan ragu-ragu.
"Oliver. Senang sekali bisa membantumu. Kuharap kau bisa membantuku di kemudian hari." katanya sebelum beranjak pergi.
Belum genap lima langkah, Len memanggil Oliver kembali. Len menggaruk belakang kepalanya dan menunduk. Dia merasa malu mengingat sikapnya sebelumnya.
"Maafkan aku atas sikapku tadi. Na, namaku Len." ujar Len malu-malu. Tangannya terulur untuk berjabat tangan.
Selama beberapa detik Oliver tidak bergerak seinci pun. Len mulai ragu. Dia hendak menurunkan tangannya saat merasakan sepasang tangan lembut menyelimutinya.
"Senang bertemu denganmu, Len-san." Sahut Oliver dengan senyuman.
