Naruto © Masashi Kishimoto

Smile of our Happiness written by RenJeeSun

Rated: T

Genre: Romance, Friendship, Family.

warning: AU, BL, Shonen-ai, Yaoi, Gaje, OOC, typo bertebaran, dll.

*Setting waktu hampir bersamaan di setiap chapter.

Well, if you Don't like, don't read

.

.

::A::C::NG::J::S::

.

Warna langit telah berubah, menandakan hari yang beranjak petang. Kini seorang lelaki dengan penampilan resmi, sehabis pulang dari pekerjaannya, keluar dari sebuah mobil mewah, dan langsung memasuki sebuah gedung apartement.

Setelah sampai pada salah satu apartement di sana, lelaki tersebut langsung memasukinya. Dia berjalan masuk dan kemudian menemukan seseorang yang sangat di kenalnya sedang duduk santai di sebuah sofa, di tangannya terdapat sebuah buku entah apa, dan juga sedang memakai sebuah kacamata baca.

Lelaki bersurai coklat panjang yang baru memasuki apartement tadi ikut menghempaskan dirinya di sofa, tepat di sebelah lelaki berambut merah. Dan mengambil sebuah remot TV, lalu menyalakan TV flat yang berada di hadapan mereka berdua.

"Sebaikanya kau membersihkan dirimu dulu, daripada langsung bersantai seperti ini," ujar pemuda berambut merah datar, tidak melepas pandangannya dari buku yang dibacanya.

"Sebentar saja, Gaara," sahut pemuda berambut panjang—Hyuuga Neji—pada kekasihnya. Jangan heran jika Neji bisa berada di apartement Gaara, karena sejak setahun yang lalu Neji dan Gaara memang telah tinggal bersama, namun dengan melalui berbagai kesepakatan yang mereka tentukan.

"Omong-omong, apa akhir pekan nanti, kau ada kelas, Gaara?" tanya Neji.

Gaara melirik sekilas ke arah Neji. "Tidak ada," jawabnya singkat dan kembali membaca.

"Hem … kalau begitu, ini," kata Neji, seraya menyerahkan sebuah amplop putih.

Gaara tanpa bicara apa-apa menyambut amplop tersebut. Tak berapa lama matanya sedikit melebar saat melihat isi dari amplop tersebut. Selama beberapa saat Gaara hanya memandangi undangan di tangannya dalam diam.

"Sasuke sendiri yang tadi memberikannya padaku," jelas Neji tanpa ditanya.

"Dan aku yakin Naruto belum tahu mengenai hal ini."

Neji mengernyit bingung. "Dari mana kau tahu, Gaara?"

"Karena biasanya akulah orang yang akan pertama kali Naruto kabari jika terjadi sesuatu," jawab Gaara kalem.

Neji menatap Gaara sejenak, lalu mengalihkan tatapannya pada layar TV yang kebetulan kini sedang menampilkan sebuah acara musik, di mana seorang laki-laki pirang yang sangat mereka kenal sedang tampil.

"Oh," respon Neji singkat.

Gaara menoleh ke samping hanya untuk melihat tampang datar Neji, saat mendengar nada tak biasa dari respon singkat Neji. Mata Gaara sedikit menyipit, ketika melihat rahang Neji yang mengeras.

"Aku pikir kau sudah cukup dewasa untuk tidak berpikir macam-macam tentang aku dan Naruto," sindir Gaara, yang tahu bahwa kekasihnya ini sedang cemburu.

Neji mendengus. Menurutnya ini tidak ada hubungannya dengan kedewasaan atau apa pun. Apalagi saat melihat kekasihmu lebih memerhatikan orang lain daripada dirimu sendiri. Lagi pula Neji masih merasa kedekatan Gaara pada Naruto itu sedikit tidak wajar. Yah, walaupun dia tahu bahwa Naruto telah menjadi milik Sasuke. Tapi, perasaan masa lalu tentang pernyataan 'cinta' Gaara waktu itu belum sepenuhnya bisa hilang. Neji bahkan tidak pernah menyinggung masalah itu sedikit pun. Takut jika akan berakibat tidak baik bagi hubungan mereka.

"Aku tidak mengerti, mengapa anak yang terlihat bodoh itu, bisa membuat kau dan Sasuke begitu menyayanginya," kata Neji mengungkapkan uneg-unegnya, tatapanya hanya tertuju pada layar TV.

"Jangan melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja, dia tidak sebodoh yang kau pikirkan," sahut Gaara.

"Apa maksudmu?" Kali ini Neji mengalihkan pandangannya pada Gaara.

"Menurutmu, siapa yang membuatmu berpikir bahwa Naruto itu bodoh? Dan membuatmu lupa bahwa dia sekarang telah lulus kuliah karena mengikuti program akselerasi?"

Neji terdiam, dia memang melupakan hal itu. Naruto memang mengambil program loncat kelas, ketika dirinya telah memulai debut di dunia hiburan, dengan alasan tidak ingin sampai mengganggu pendidikannya. Dan jika ditanya siapa yang membuatnya berpikir bahwa Naruto itu bodoh, maka satu-satunya orang yang patut dipersalahkan adalah kekasih dari makhluk pirang itu sendiri.

"Sasuke?" jawab Neji dengan nada bertanya. Ya, karena selama ini memang Sasuke-lah yang sering memanggil Naruto dengan sebutan 'dobe'.

Gaara mengangkat bahu sekilas, "Lalu menurutmu, lebih bodoh mana? Orang yang sering terlihat melakukan hal-hal bodoh atau orang yang telah dibodohi oleh orang yang dianggapnya bodoh?"

"Sebenarnya apa maksudmu, Gaara?" Neji balik bertanya, tidak mengerti arah pembicaraan Gaara. Dan entah mengapa ia merasa pertanyaan Gaara seolah menyindir dirinya.

Kali ini Gaara menghela nafas kecil, "Mengapa kau terus berprasangka yang tidak-tidak pada Naruto? Apa kau tahu, jika bukan karena dia mungkin aku tidak akan bersamamu saat ini."

Gaara tahu, selama ini Neji memang masih sedikit tidak percaya dengan perasaannya, terlihat dari sikap Neji yang kadang sering menghindari topik pembicaraan tentang adiknya itu. Gaara juga sebenarnya masih bingung, mengapa Neji masih bersikap kekanakan seperti itu. Dan saat ini juga, Gaara berpikir untuk membuat Neji menghilangkan pikiran konyolnya itu. Well, sedikit banyak Gaara lelah juga dengan sifat cemburu Neji.

Neji hanya diam, masih menunggu penjelasan Gaara.

Gaara menutup bukunya dan melepas kacamata baca yang dikenakannya, lalu meletakkannya di meja. Emerald Gaara menatap lurus lavender di depannya, "Mengapa kau belum bisa percaya bahwa apa yang aku rasakan ini, sama dengan yang kau rasakan?"

Gaara meraih tangan Neji dan meletakkannya di dada kirinya, sama seperti yang Neji lakukan padanya empat tahun lalu. "Bisakah kau tidak berpikiran buruk padaku dan percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?"

Kali ini Neji tertegun. Karena bisa merasakan detak jantung yang berdegup cepat di bawah telapak tangannya, dan juga sedikit tidak percaya bahwa kata-kata seperti itu bisa Gaara lontarkan dengan mulusnya. Padahal sejak mereka menjalin hubungan ini, Gaara jarang mengatakan bahwa dia mencintai Neji. Bahkan saat empat tahun lalu pun Gaara hanya mengatakan bahwa dia menerima Neji sebagai kekasihnya, tanpa kata cinta terucap.

Entah bagaimana Neji mengungkapkan perasaanya saat ini, yang jelas hati Neji saat ini sedang bersorak kegirangan, mendengar penuturan Gaara barusan. Namun, mungkin karena terlalu senang Neji hanya bisa terdiam.

Melihat Neji yang hanya diam, Gaara berinisiatif mendekatkan wajahnya pada Neji dan kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Neji. Neji mengerjapkan matanya, saat Gaara melepaskan sentuhannya pada bibirnya.

"Jadi, apa sekarang kau percaya?" tanya Gaara dengan tatapan dibuat sepolos mungkin. Neji hanya bisa mengangguk dengan senyum cerah di bibirnya, dan dia membawa Gaara ke dalam pelukan eratnya.

"Aku percaya Gaara! Arigatou … aku berjanji tidak akan meragukan perasaanmu lagi," kata Neji dengan riangnya.

Namun sayang sekali, tanpa Neji ketahui perlahan seringai iblis melengkung di bibir Gaara. Andai Neji tahu, bahwa sesaat tadi Gaara hanya mempraktekkan apa yang tertulis di buku yang barusan dia baca.

Hei! Jangan berharap Gaara si pemuda stoic yang hampir menyamai Sasuke bisa merangkai kata semanis itu. Dan kebetulan, itu adalah sebuah novel yang bercerita tentang sepasang kekasih yang belum bisa mempercayai perasaan mereka. Kali ini Gaara berpikir untuk berterima kasih pada Naruto yang tanpa sengaja meninggalkan novel tersebut di apartement-nya. Hingga bisa membuat dirinya menghentikan Neji dari sikap kekanakannya yang sering berperasangka tidak baik mengenai Naruto dan dirinya.

Tapi tidak semua yang dikatakannya tadi itu hanya pura-pura, dia memang mengutip kata-kata yang ada di dalam novel itu, namun semua yang dirasakan pada Neji adalah sebuah kebenaran. Hanya saja Gaara terlalu sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Dan hal itulah yang sering membuat Neji salah paham.

"Tapi Gaara, apa kau bisa jelaskan, mengapa Naruto bisa membuatku tidak bisa bersamamu?" tanya Neji kemudian.

"Oh, itu," ujar Gaara seraya melepaskan pelukan Neji. "Karena Naruto-lah yang membuatku sadar bahwa aku menyukaimu."

;;flashback;;

Empat tahun lalu.

Di ruang musik.

"Hei, Gaara-nii, apa kau menjalin hubungan dengan Neji-senpai?" tanya Naruto sambil memainkan biola di tangannya.

Gaara menatap Naruto datar. "Tidak," jawabnya singkat.

Naruto balik menatap Gaara, "Begitukah? Tapi dia menyukaimu, benar tidak?"

"Dari mana kau tahu?" tanya Gaara dengan mata sedikit menyipit.

Naruto mengedikkan bahunya. "Mudah saja. Sikapnya, cara bicaranya, dan juga tatapannya padamu. Dan semua perhatian yang dia tunjukkan hanya untukmu. Ah, lalu juga tatapan membunuh yang selalu dia tujukan padaku," kata Naruto dan sedikit tampang geli saat mengucapkan kalimat terakhirnnya.

Namun Gaara hanya diam.

Naruto meletakan biolanya di meja, kemudian menopang kepalanya dengan satu tangan dan kembali bertanya. "Apa aku salah?" tanyanya dengan tampang datar, namun penuh keyakinan.

Gaara menggelengkan kepalanya dan mendengus geli, "Well, bisa beritahu aku ke mana Naru-chan yang selalu disebut 'dobe'?"

Naruto memutar kedua bola matanya bosan, "Kau tahu jika aku tidak sebodoh itu."

"Tentu saja, kau hanya terlalu polos dan … ceroboh," kata Gaara santai dengan tatapan meremehkan.

"Ck, jangan selalu menganggapku anak kecil, dan bisakah kau tidak mengalihkan pembicaraan?" sewot Naruto.

"Kau sendiri? Bagaimana bisa kau dekat dengan Sasuke?" tanya balik Gaara.

Ekspresi Naruto berubah kesal, "Dekat kau bilang? Apa yang kau sebut dekat itu ketika dia sering menghinaku?"

Gaara mengangkat bahu, "Tapi sepertinya dia menyukaimu."

"Dan kau menyukai Neji-senpai," ujar Naruto tidak nyambung dan merupakan sebuah pernyataan yang tak ingin dibantah.

Tapi membuat Gaara menatapnya tajam, lalu Gaara menghembuskan napas berat. "Sekarang, siapa yang mengalihkan pembicaraan, eh?"

Terkadang Gaara tak habis pikir, bagaimana mungkin bocah yang terlihat polos, suka seenaknya dan terlihat bodoh ini, bisa membaca perasaanya dengan begitu mudah. Dan untuk masalah Sasuke sendiri, Gaara sudah menyerah untuk bertanya, karena dengan sikap Naruto seperti ini saja, itu menandakan bahwa Naruto tidak akan mengatakan apa pun padanya.

"Jika kau sudah tahu, buat apa kau bertanya?" ujar Gaara sedikit kesal. Ya, setelah pernyataan yang dikatakan Naruto barusan Gaara jadi berpikir tentang perasaanya selama ini, dan dia memang mengakui bahwa dia memiliki perasaan khusus pada Neji. Hanya saja selama ini dia tidak terlalu yakin dengan apa yang dirasakannya. Hingga tadi pernyataan Naruto seolah benar-benar meyakinkannya.

Naruto terkekeh kecil. "Lebih menarik kalau kita mengetahuinya langsung dari orang yang bersangkutan, bukan begitu Gaara-senpai?" katanya dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil saat Naruto bisa melihat sedikit semburat merah menyapu pipi Gaara.

"Sekarang aku tahu, mengapa kau menjadi adik dari Kyuubi," kata Gaara menggeleng pasrah.

Naruto nyengir, "Kau tahu, hidup dengan Kyuubi sejak kecil itu sudah cukup banyak mempengaruhiku."

"Kurasa tidak hanya Kyuubi yang mempengaruhi," gumam Gaara sambil mengacak rambut Naruto.

"Hmm?"

"Dei-nii. Seharusnya dia juga ikut dipersalahkan."

Naruto tergelak mendengar perkataan Gaara. Tidak salah jika Gaara mengatakan bahwa Deidara juga ikut membawa pengaruh untuk Naruto, entah buruk atau baik. Karena Deidara sendiri juga memiliki sifat jauh di luar logika dibalik sikap ramahnya. Jadi mungkin itu juga yang menyebabkan Naruto terkadang sering melakukan tindakan-tindakan tak terduganya. Yah, Seharusnya Gaara tidak heran lagi, karena sifat Naruto itu tidak lepas dari orang-orang yang suka dianggap kelewat jenius nyaris gila yang selalu bersamanya sejak kecil.

"Oh, ya, Gaara-nii. Mau melakukan permainan yang seru?" Mata Naruto tiba-tiba berbinar antusias.

Gaara mengerutkan kening, "Permainan?"

"Hu-um." Angguk Naruto cepat, "Err- tapi, tidak bisa disebut permainan juga sih … aku hanya ingin membuktikan apa yang Ibuku katakan dulu, memang benar atau tidak."

"Memangnya, apa yang bibi Kushina katakan?"

"Hem … Ibuku bilang, kita bisa melihat sesuatu yang menarik jika kita membuat orang yang kita sukai, eum … kesal?" tanya Naruto tak yakin.

"Huh? Pemikiran macam apa itu?" sahut Gaara heran.

Naruto mengangkat bahu, "Oleh karena itu, aku juga ingin tahu."

Sesaat mereka diam dengan pemikiran masing-masing, hingga Gaara yang membuka suara terlebih dahulu. "Lalu bagaimana caranya?" tanya Gaara lagi, lama-lama ia penasaran juga.

Naruto memasang pose berpikir sesaat dan kemudian menatap Gaara ragu, "Membuatnya cemburu…?"

Mereka berdua saling menatap satu sama lain selama beberapa saat. Lalu, "Interesting," gumam Gaara kemudian, seringai tipis terlihat di bibirnya. "So? Kapan kita mulai permainannya?" tanyanya. Yang langsung ditangapi Naruto dengan senyum cerah.

Lagi pula, menurut Gaara, sedikit pembalasan terhadap apa yang dilakukan Neji padanya, tidak ada salahnya dilakukan, bukan?

;;flashback off;;

Neji hanya menatap Gaara intens selama beberapa saat hingga Gaara yang juga menatapnya tiba-tiba saja mengalihkan pandangannya. Karena mendadak entah mengapa, Gaara merasakan fisarat buruk. Dia merasakan udara di sekitarnya menjadi lebih dingin dari biasanya, dalam artian tidak baik untuknya. Dan tanpa mengucapkan apapun Gaara berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke mana pun asal tidak berada di dekat Neji sekarang.

Tap!

Namun sayang, Neji tidak membiarkan hal itu terjadi dengan menahan lengan Gaara. Dan Gaara hanya bisa diam sambil menatap lurus ke arah TV yang masih menyiarkan acara yang di hadiri oleh Naruto. Namun Gaara dapat merasakan tangannya yang di genggam Neji mulai berkeringat.

"Ah, jadi itu alasannya, mengapa kalian terlihat sangat 'akrab' selama beberapa hari waktu itu (seminggu sebelum festival)? Dan seolah mengabaikan aku? Lalu, saat Naruto menghilanglah kau berhenti mempermainkanku. Dan mengatakan bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama padaku, begitu ya?" gumam Neji seraya manggut-manggut dengan wajah tenang, dan memasang pose pura-pura berpikir. Sama sekali tidak memedulikan Gaara yang memucat. "Kau tahu, bagaimana perasaanku saat itu? Kesal, marah, kecewa dan sakit secara bersamaan," lanjut Neji sambil menghela nafas kecil, sedikit mendramatisir.

Gaara sama sekali tidak menanggapi. Namun dalam hati ia merasa was-was.

Neji menyeringai dan tiba-tiba ia langsung saja menghentakan tangan Gaara dengan kuat hingga Gaara kembali duduk dan langsung menghadapnya. "Dan … kau pasti tahukan, Gaara? pembalasan itu biasanya lebih menarik," katanya.

Shit!

Tanpa bisa dicegah Gaara menelan ludahnya gugup dan merasakan cengkraman Neji di lengannya semakin erat. Dan Gaara hanya bisa menyesali apa yang diceritakannya tadi. Ck, entah mengapa mendadak Gaara merasa ia ketularan kebodohan adiknya itu.

"Nah, Gaara … sebaiknya kau memilih hukumanmu sendiri. Tidak bisa berjalan selama tiga hari atau … seminggu?" ujar Neji.

Gaara menatap horror Neji ketika dia bisa lavender di depannya berkilat mengerikan. Seperti ingin memakannya bulat-bulat. Tentu saja Gaara tahu jika itulah yang diinginkan Neji saat ini. Yah, dan sepertinya firasat buruk Gaara terbukti sudah. Lagi-lagi Gaara hanya bisa melontarkan beragam kutukan untuk sang kekasih dalam hati, yang kini telah membungkam mulutnya dengan ciuman agresifnya.

Satu hal yang betul-betul Gaara mengerti hari ini. Balas dendam itu teramat sangatlah tidak baik.

Err— Gaara, ke mana saja dirimu? =_="a

Namun ketika Neji hendak melanjukan kegiatan mereka lebih jauh, mendadak Gaara melakukan penolakan. "Ne—ji… mmph! Stop!"

"Ck, apa?" protes Neji dengan nada tak suka saat Gaara mendorongnya namun tidak cukup kuat hingga hanya memberikan sedikit jarak di antara mereka.

"Besok aku ada kelas," kata Gaara singkat. Gaara benar-benar bersyukur saat kesadarannya kembali dari berbagai macam sentuhan Neji yang selalu menghanyutkannya itu. Dan maaf saja, dia tidak ingin mengajar dengan keadaan menahan sakit dan juga lelah besok.

Neji menatapnya sejenak. "Tidak," jawabnya tak mau berkompromi.

Gaara hendak membuka mulutnya menyanggah Neji namun sudah terlebih dahulu Neji kembali membungkam Gaara dengan bibirnya. Yang tentu saja mendapat protes keras dari Gaara. Dan untuk kedua kalinya pemberontakan Gaara berhasil, walau dengan susah payah.

"Neji," panggil Gaara dengan nada hampir berupa rengekan. Dan itu sudah cukup membuat Neji berhenti. Karena Ini pertama kalinya Neji mendengar nada itu dari Gaara. Neji kemudian mendesah pelan karena hasratnya tertahan, namun akhirnya dia menuruti keinginan Gaara.

"Satu syarat, Gaara," ujarnya yang masih belum mau melepaskan Gaara begitu saja. Gaara tak berkomentar. Dia hanya sekilas menyipitkan matanya, namun dalam hati sudah bisa menebak apa yang akan Neji ajukan sebagai syarat.

"Menikahlah denganku," kata Neji dengan tegasnya dan bukan sebuah ajakan, melainkan pernyataan yang hampir seperti tuntutan mutlak.

Seketika Gaara memutar bola matanya bosan. Ck, tepat seperti apa yang dipikirkan Gaara. Asal tahu saja bukan hanya sekali Neji melamarnya. "Tidakkah kau tinggal bersamaku itu cukup?" kata Gaara, yang berupa penolakan atas ajakan Neji tersebut.

"Kau tahu, bahwa itu tidak akan cukup, Gaara," sahut Neji sedikit kesal.

Ya, dia kesal karena hal ini juga bukan pertama kalinya Gaara menolak lamarannya. Bahkan Neji sudah melamar Gaara sejak satu tahun yang lalu. Namun jawaban yang sama selalu di terimanya. Bahwa Gaara belum ingin menikah dengannya. Karena bagi Gaara sendiri mereka berdua masih terlalu muda untuk terikat hubungan pernikahan. Tapi untuk Neji sendiri usia bukanlah masalah untuk kapan mereka berdua memulai pernikahan. Karena Neji hanya ingin Gaara menjadi miliknya secara legal (?). Memangnya ada yang salah dengan itu?

Gaara tidak juga berkomentar; membuat Neji lagi-lagi mendesah frustasi. "Berapa lama Gaara?" tanya Neji kemudian.

"Sepuluh tahun," jawab Gaara ringan—sangat ringan yang langsung mengerti maksud Neji.

Neji menatap Gaara tak percaya. Sepuluh tahun? Apa Gaara serius ingin menerima lamarannya sepuluh tahun lagi? Ck, memangnya masih ada jaminan dia masih hidup sepuluh tahun lagi? Apa Gaara lupa jika dirinya bukan vampire yang memiliki kehidupan abadi?

"Enam bulan," tawar Neji, layaknya nawar baju di pasar.

Gaara mengernyit, "Sembilan tahun," sahut Gaara tak mau kalah.

"Astaga, Gaara! Kau tahu? Aku bukan vampire yang dapat hidup abadi. Dan kenapa aku berpikir kau seperti vampire yang takut menghilangkan kehidupan manusiawiku?"

Gaara mendengus. "Haha. Lucu sekali," tanggap Gaara tak minat dengan gurauan Neji yang mengingatkannya tentang cerita cinta segitiga antara vampire, manusia, dan werewolf.

"Oh~ Ayolah Gaara, apa salahnya menikah saat kau masih muda? Lagi pula, Naruto juga akan menikah minggu depan," bujuk Neji.

"Sayangnya, aku bukan Naruto yang sebodoh itu untuk menikah sekarang."

"Bukannya tadi kau mengatakan Naruto itu pintar?"

"Ya. Tapi juga tidak lebih pintar dariku."

Neji menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas berat, "Ok, Gaara. Satu tahun untuk masaku."

"Lima tahun, itu batasku. Terima atau tidak sama sekali," kata Gaara yang kali ini tak ingin memperpanjang perdebatan.

Neji sedikit melebarkan matanya. "What? Tid—Oke Gaara," ujar Neji pasrah yang tadinya ingin menolak. Dan kemudian hanya keheningan melanda mereka yang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Namun mendadak suara dering ponsel memecah keheningan tersebut. Yang ternyata berasal dari ponsel Gaara dan menandakan sebuah pesan singkat masuk. Gaara meraih Ponselnya yang di letakan di meja. Dan hal tersebut juga menarik perhatian Neji, apalagi saat Gaara beberapa kali meliriknya ketika membaca pesan di ponselnya.

"Siapa?" tanya Neji.

"Naruto."

"Apa yang dikatakannya?" Neji mengernyit ketika melihat emerald di depannya berkilat ragu.

"Bukan hal penting," jawab Gaara cepat—terlalu cepat. Hingga Neji menatapnya curiga.

"Berikan padaku," ujar Neji menadahkan tangannya, meminta Gaara membiarkannya melihat pesan tersebut.

Gaara menatap ponsel dan tangan Neji bergantian. Lalu mengembuskan napas kecil dan memberikan ponselnya pada Neji. Neji menerima ponsel tersebut dan kemudian membaca pesan yang dikirim Naruto. Tak berapa lama kemudian senyum miring terlihat di bibirnya dan Gaara berusaha mengacuhkan hal itu dengan menonton TV.

"Gaara, kurasa sekarang aku mengetahui alasan, mengapa banyak orang yang menyayangi makhluk pirang ini. Dan sepertinya aku juga mulai menyayanginya. Haa~ dia benar-benar pembawa kebahagian bagi orang-orang di sekelilingnya. Benar begitu 'kan Gaara?" kata Neji menatap Naruto yang berada di layar TV dengan senyum puas.

"Selamat untuk kebahagianmu," sahut Gaara sarkatis nan sinis.

Namun Neji mengabaikan nada sarkas itu dan malah tersenyum lebar. "Jadi Gaara, tak mungkin 'kan kalau kau menolak permintaan adik tersayangmu?" kata Neji berbisik di telinga Gaara, hingga membuat tubuh Gaara meremang. "Lalu … bagaimana kalau kau menerima hukumanmu kali ini tanpa protes? Toh, kau pun tahu. Tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi besok," tambahnya dengan seringai yang kembali muncul. Dan seketika Neji pun melaksanakan hukuman tersebut, membuat Gaara kali ini hanya bisa berpasrah diri. Karena dia tahu, tidak mungkin kali ini Neji akan melepaskannya begitu saja.

Jika Neji merasa bahwa kali ini dia mulai menyayangi Naruto, maka hal sebaliknya yang Gaara rasakan terhadap Naruto. Mendadak ia ingin mengutuk adiknya itu.

.

From: Naru-chan

To: Gaara-nii

Gaara, besok sebaiknya luangkan waktumu, batalkan semua jadwalmu. Kiba mengundang kita merayakan kelulusannya besok.

PS: Hari ini Sasuke melamarku. ^^

PSS: Bagaimana jika kau juga menerima lamaran dari Neji? Kurasa menikah muda bukan hal yang buruk. 8D Dan aku harap pernikahan kalian bisa aku lihat secepatnya. ^_^

Bye~

Your Otouto… ;)

.

::A::C::NG::J::S::

End Part of NejiGaara.

::A::C::NG::J::S::

.


Eum, well… hanya ini yang ada di kepala Ren…

Jadi langsung aja…

Kritik dan saran? Perlu dilanjut atau tidak, nih?

Review? ^^