'Naruto was... worlds apart from me.'
'He was stupid, childish, sloppy, and cheerful. He was exact the opposite of a simple, cold, and anti-social man like me.'
'That's why... when he called out to me, I thought he had mistaken me for someone else.'
'My heart trembled when he called me... a friend.'
.
.
.
X – WANTED!
Disclaimer :
Chara ; Naruto © Masashi Kishimoto.
Story ; X – WANTED! © Rahma Lau.
Warning : Shounen-ai, OOC parah, abal, dll.
Pair : Sasuke x Naruto
Genre : Crime, Mistery, Friendship, Romance.
Rate : M
Summary : Seorang pencuri ulung berkeliaran setiap malam di kota Tokyo. Bermodalkan trik sulap handal, ia selalu bisa melarikan diri. Mungkinkah kali ini dia bisa tertangkap?
.
.
.
Trick 2 : Nara's Mansion, Diamond and Night Sky
[ Malam hari, Tokyo. ]
Kota Tokyo tampak sepi, sunyi. Cahaya lampu-lampu yang biasanya terang benderang di rumah-rumah kini telah dipadamkan oleh pemiliknya.
Di sebuah bangunan tinggi, terlihat seorang laki-laki berwajah tampan sedang duduk bersandar di pinggir jendela, menatap keindahan cahaya bulan yang merajalela di waktu malam.
'Rambut pirang, mata biru dan tiga garis di kedua pipinya. Tidak salah lagi, dia itu pasti―'
CKLEK!
Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunannya. Dia mengalihkan pandangannya pada sosok pemuda berkacamata yang tadi membuka pintu. Yakushi Kabuto.
"Di sini seperti biasanya," ujar Kabuto, mendekati laki-laki tampan yang tidak menghiraukannya.
"Melamun lagi?"
"Bukan urusanmu," kali ini sang pemuda tampan menjawab disertai tatapan tajam.
Kabuto membetulkan letak kacamatanya dan menyeringai senang.
"Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau sudah menemukannya, eh?" tanya laki-laki berambut putih dikuncir itu.
Si pemuda tampan hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari seseorang yang berdiri di sebelahnya ini.
Mendapati lawan bicaranya hanya diam, Kabuto mengangguk-angguk. Diamnya si pemuda tampan itu bisa berarti 'iya' atau 'kurasa'.
"Jadi, bagaimana?" tanya Kabuto, lagi.
"Apanya yang bagaimana?" bukannya menjawab pertanyaan, pemuda tampan itu malah balik bertanya.
"Setelah bertemu lagi, kau suka padanya?" Yakushi Kabuto tampak sedang melipat kedua tangannya sembari memberi pertanyaan yang telah ia perjelas.
"!"
Kaget, pemuda tampan yang masih duduk di pinggir jendela itu menatap Kabuto dengan tajam dan menusuk, lebih dari sebelumnya.
"Jangan ikut campur. Memangnya kau tahu apa?" sahutnya, ketus.
"Kau kira aku tidak tahu, ya? Aku mendengarnya. Setiap malam kau selalu mengigaukan namanya saat tidur," ujar pemuda berkacamata itu dengan sedikit mengejek. "Rupanya sejak dulu kau masih menyimpan perasaan pada temanmu itu, ya?"
Laki-laki tampan itu tidak menjawabnya dan malah menatapnya semakin tajam dan dingin.
"Hmm, tidak mau jawab," ujarnya, "Kalau begitu, seandainya kalian bertemu muka, apa kau yakin dia masih mengingatmu?" Kabuto tampak sangat menyebalkan sekarang. Dia terus memamerkan seringainya yang terkesan mengejek.
Perlahan, tangan si pemuda tampan meraih sebuah kartu di sakunya dan melesatkannya ke arah Kabuto.
SYUUTT!
PRAK!
Kartu bertuliskan 'X' itu melesat melalui si pemuda berkacamata dan tertancap cukup dalam pada dinding yang ada di belakangnya.
kartu itu ternyata menggores pipi sebelah kanan Kabuto, sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Ternyata kartu truf sang pencuri misterius benar-benar sangat tajam.
"Ah, berisik sekali, tapi kalau kau lebih berisik dari ini, selanjutnya mungkin bukan cuma goresan," ancam pemuda tampan ini dialah yang tengah menyeringai lebar. Seringai keji yang terukir manis di wajahnya entah bagaimana malah membuatnya semakin tampan.
"Tch, brengsek!" umpat Kabuto. Dia bergegas keluar dari ruangan itu, meninggalkan laki-laki itu sendirian.
Setelah suasana di ruangan itu sunyi dan tenang kembali, pemuda itu kembali menatap angin malam membuat matanya terpejam sebentar, menikmati angin malam dingin yang membelai wajahnya.
'Walaupun 10 tahun telah berlalu, tekadku tidak akan pernah berubah,' batinnya.
Dengan perlahan, ia kembali membuka matanya yang semakin bersinar terkena cahaya bulan.
"Naruto…" gumamnya, sebelum terlelap dan terjatuh dalam lubang mimpi yang sangat dalam.
…
[ Pukul 09 : 00 pagi, Tokyo. ]
"Haah. Menurutku, yang kemarin itu gagal total!" keluh laki-laki berambut pirang.
Kini, ia sedang berada (baca : duduk) di ruangan Sasuke sembari membaca koran pagi ini. Di koran tersebut terpampang artikel aksi pencurian di mansion keluarga Hyuuga yang ditulis besar-besaran.
"Tidak usah kau bilang juga, aku sudah tahu, Dobe." sahut Sasuke, dingin sambil mengamati laporan-laporan yang menumpuk di mejanya.
Tampaknya mood sang Uchiha bungsu saat ini bisa dibilang sedang tidak baik, karena terus teringat akan kegagalannya kemarin malam untuk menangkap si pencuri.
"Ini semua salahmu! Kau terlalu menganggap remeh pencuri itu!" kata Naruto, masih bersungut-sungut. "Padahal si 'X' sangat profesional, Trik sulapnya itu juga hebat sekali!" tambahnya, tiba-tiba menjadi bersemangat.
TWITCH!
Empat sudut siku-siku muncul di dahi Sasuke. Entah kenapa ia sangat kesal mendengar pujian Naruto yang terlalau berlebihan untuk pencuri―yang menurutnya―brengsek itu.
"Jangan memujinya! Itu sama saja kau mendukungnya!" ketus Sasuke, kasar.
"Masa bodoh!"
"Kau―!" pemuda berambut raven itu kelihatannya sedang menahan emosi dengan menggeretakkan giginya.
Naruto menatap anak kepala kepolisian itudengan pandangan mencela dan hanya dibalas oleh death glare terbaik dari Uchiha bungsu.
"Sudahlah! Aku mau mengerjakan semua laporan ini dengan tenang. Cepat keluar dari ruanganku, idiot!" Sasuke akhirnya jengah juga menghadapi sikap Naruto yang malah membuat moodnya tambah kacau sekarang.
"Baiklah!" ujar kembali meletakkan Koran yang tadi dibacanya dan berjalan cepat menuju pintu.
Baru juga ia ingin memutar kenop pintu, tapi―
BUKK!
Pintu telah terbuka dulu dengan debam keras. Dahi Naruto pun sukses menjadi korban keganasan sang pintu. Sasuke yang melihat kejadian memalukan itu cuma bisa tersenyum mengejek di tempat duduknya.
"Sialan! Siapa yang―"
"Uchiha," ucapan Naruto terpotong oleh perkataan seorang laki-laki berambut nanas yang tadi membuka pintu dengan agak keras.
Anak dari kepala polisi itu menatap sedikit orang yang bernama Nara Shikamaru, lalu menghela nafas.
"Haah…"
Pemuda bermata onyx sangat yakin bahwa kedatangan sang Nara tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menyerahkan beberapa laporan lagi yang tentunya harus ia kerjakan.
"Oi, Shika! Ketuk pintu dulu kalau mau masuk!" teriak pemuda yang memiliki iria mata biru layaknya batu safir dengan raut wajah yang tampak menahan kesal. Kedua tangannya kini mengelus dahinya yang berubah warna menjadi merah akibat insiden tadi.
Pemuda Nara itu menatap orang yang telah menjadi 'korbannya' dengan tatapan bosan.
"Ck, mendokusei. Kau yang harusnya hati-hati," ujar Shikamaru. Dia menguap malas dan mengulurkan tangan kanannya pada Naruto. "Sini, kubantu."
Naruto menerima uluran tangan pemuda malas itu dengan setengah hati dan berdiri.
"Cih!" Naruto mendecih lalu keluar dari ruangan Sasuke sembari menggerutu tidak jelas.
Pemuda Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Naruto yang menurutnya selalu merepotkan. Kemudian, dia melangkahkan kakinya mendekat ke meja sang Uchiha.
"Aku membawa beberapa laporan lagi," ujarnya sembari meletakkan lembar-lembar kertas yang ditumpuk di meja si pemuda berambut pantat ayam.
"Haah," Sasuke menghela nafas berat––lagi. "Apa laporan ini pun juga menyangkut pencuri misterius itu?" tanyanya.
"Sayangnya, iya." jawab Shikamaru, menatap anak kepala polisi itu dengan tatapan bosan.
'Ck! Kasus yang menyebalkan! Harusnya waktu itu aku tolak saja tawaran Tou-san untuk menangani kasus ini!' batin onyxnya menatap tajam laporan yang sekarang telah berpindah tempat di tangannya.
"Awas saja kau, pencuri brengsek!" umpatnya, frustasi.
"Hei, Uchiha. Menangkap si pencuri misterius tidaklah semudah membalik telapak tangan, kau tahu?" kata Shikamaru. Raut bosan di wajahnya tetap tidak berubah sedikit pun.
"Hn? Apa maksudmu bilang begitu, Nara?"
"Coba kau pikirkan. 'X' adalah pesulap yang handal. Dia selalu menggunakan tipu muslihat agar tidak tertangkap dan dapat melarikan diri setelah melakukan aksi pencuriannya," ujar pemuda malas itu.
"Aku sudah ta―"
"Kalau caramu menangkapnya selalu seperti itu, aku tidak akan heran kalau selamanya kau tidak bisa menangkap 'X'." kata Shikamaru, untuk pertama kalinya memperlihatkan tanda-tanda ketidaksabaran.
Pemuda tampan bernama lengkap Uchiha Sasuke itu ini tampak sedikit bingung dan melempar pandangan yang seolah-olah bertanya 'kalau–begitu, apa–yang–harus–kulakukan?' pada bawahannya tersebut.
Shikamaru sedikit bergerak dari tempatnya berdiri dan bertukar pandang tidak percaya dengan Sasuke.
Kali ini, pemuda berambut nanas itu benar-benar bisa tersenyum ketika dia berkata dengan baik hati, "Karena 'X' adalah seorang pesulap yang handal, karena itu sepertinya, kau harus menyelesaikan kasus pencuri misterius ini seperti seorang pesulap juga."
…
Darah yang berceceran di sepanjang lantai.
Potongan-potongan tubuh manusia.
Kepala-kepala yang terpisah dari tubuhnya dan masih dihiasi tatapan dingin.
Dingin dan menusuk.
Dia ketakutan dan terus berlari menuju ruangan terakhir yang belum dia datangi untuk mencari sebuah keberadaan 'seseorang'.
Saat dia masuk, pemandangan di ruangan itu pun tidak jauh berbeda dengan pemandangan yang telah ia lihat di ruangan lainnya.
Terlihat seorang bocah pirang sedang duduk dan menunduk ke bawah. Melihat jasad kedua orang tuanya yang telah tiada.
Bocah laki-laki berambut pirang itu menengadahkan kepalanya untuk melihat orang yang baru saja datang dengan matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.
Anak laki-laki itu mendekat pada bocah yang masih sesegukan dan berniat menenangkan temannya itu.
Tiba-tiba saja dia tampak kaget. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan dengan perlahan membalikkan badan, berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Tou-san... Kaa-san... semuanya mati..." ujar si pirang.
Air mata yang turun dari mata birunya semakin deras tatkala melihat temannya yang sedikit lagi mencapai pintu, hendak meninggalkannya.
"Jangan pergi!" teriakan dari si pemilik mata shappire itu tidak dipedulikannya dan dia terus berjalan ke arah pintu.
"Jangan!"
"Jangan... tinggalkan aku sendiri!"
"NARUTO!"
Pemuda tampan itu tiba-tiba berteriak dan terbangun dari tidurnya. Kedua tangannya menggenggam selimut dengan sangat erat, nafasnya memburu dan keringat bercucuran dari pelipis si pemuda. Rupanya, dia baru saja terbangun dari mimpi buruk.
"Haah... haah... haah."
Perlahan, dia mencoba menormalkan nafasnya yang tadi terengah-engah menjadi tenang dan teratur.
Laki-laki itu melihat sekeliling, tapi tidak jelas karena poninya tampak menutupi wajahnya yang tampan. Merasa terganggu, dia menyingkirkan poni yang menutupi penglihatannya dan mendapati ia telah berada di tempat tidur, di kamarnya sendiri.
'Pasti si kacamata brengsek itu yang memindahkanku kemari!' pikirnya.
Tangan kanan milik laki-laki itu bergerak perlahan untuk memijat dahinya yang sedikit sakit.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya pada diri sendiri. Mata biru tajam itu melirik sekilas jam di meja yang menunjukkan tepat pukul 10.00 pagi.
Tiba-tiba saja, dia jadi ingat akan hal yang harus dilakukannya hari ini.
'Hari ini aku harus ke sana,' pikirnya.
Laki-laki itu bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.
Dia membuka semua baju yang dipakainya setelah sebelumnya mengunci pintu kamar mandi.
ZRASHHH!
Air dari keran shower itu mulai membasahi tubuhnya yang atletis.
'Kenapa aku selalu memimpikan itu?' batinnya. Dia sudah muak harus melihat mimpi-mimpi menyebalkan itu hampir setiap malam. Mimpi itu selalu membuatnya merasakan penyesalan yang berulang-ulang.
"Brengsek!"
BUAAKKK!
X meninju dinding kamar mandi dengan tangan kanannya. Berharap dapat melampiaskan perasaan kesalnya pada dinding tak bersalah itu. Dinding itu tampak sedikit retak dan di tangan yang mulanya halus tanpa cacat kini mengalir darah merah segar.'
"Aku sudah tidak mau memimpikan ini!"
Setelah usai mandi, dia dengan cepat memakai baju putih polos di dalamnya dan mengenakan setelan jas lengan panjang berwarna hitam.
Dia berjalan menuju meja dan mengambil dua buket bunga dengan rangkaian bunga krisan, lily, gentian dan snap dragon yang telah ia pesan khusus untuk hari ini.
…
[ Pemakaman kota Tokyo. ]
Akhirnya di sinilah dia. Berdiri di depan dua buah makam yang bersebelahan. Makam itu bertuliskan nama Namikaze Minato dan yang satunya bertuliskan nama Namikaze Kushina.
Ia sedikit membungkuk untuk menaruh karangan bunga itu.
"Aku benar-benar minta maaf karena baru bisa datang sekarang," katanya. "Lagipula, baru-baru ini aku tahu tempat ini,"
"Kemarin pun aku baru bertemu dengan Naruto, anak kalian satu-satunya." gumamnya, pelan sembari mengelus satu per satu makam itu. "Walaupun cuma melihat sekilas, tapi aku tahu kalau dia tidak terlalu berubah sejak dulu," ujarnya lagi. Kali ini laki-laki tampan itu dapat tersenyum dengan lembut saat mengingat-ingat sosok si pemuda pirang.
"Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan," ucapnya, seraya berdiri dan sedikit merapikan bajunya. "Sampai nanti."
Setelah berdiri, laki-laki tampan itu membungkuk hormat pada makam keduanya, lalu dia berjalan tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
...
[ Pukul 12 : 00 siang, Tokyo. ]
"Yes! Akhirnya!" ujar Naruto, senang karena melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 12 siang. Itu berarti, waktunya makan siang!
Naruto keluar dari kantor polisi dan berlari menuju Ichiraku. Tempat makan yang terletak di sebelah kantor polisi itu menyediakan berbagai macam makanan termasuk ramen, tentu.
Beberapa menit kemudian…
Setelah kenyang, Naruto keluar dari tempat makan itu dengan senyuman khasnya.
Dia menghentikan langkah kakinya saat melihat Sasuke sedang makan siang di bangku taman yang berada dekat belakang kantor polisi kota Tokyo ini.
'Itu si Teme!' pikir Naruto. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor dan langsung menghampiri Sasuke.
"Yo, Sasuke!" sapa laki-laki berambut spike pirang itu.
Sasuke menolehkan kepalanya ke asal suara dan mendapati si Dobe itu sedang tersenyum ke arahnya.
"Hn," jawab si bungsu Uchiha, seadanya.
Naruto tampak sedikit mengernyit mendengar balasan sapaan yang terkesan dingin itu, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi seperti biasa lagi.
"Boleh duduk di sini?" tanya Naruto. Dengan seenak jidat, dia langsung duduk di sebelah si raven, bahkan tidak member Sasuke waktu untuk menjawab.
"Sudah terlanjur duduk, 'kan?" ujar Sasuke, lalu kembali makan sandwich yang ada di tangannya.
Sunyi lama.
Hanya terdengar suara orang yang sedang makan. Sepertinya, Naruto tidak ingin memulai pembicaraan.
Selesai makan dan minum, Sasuke masih diam saja sembari sesekali melirik Naruto yang sedang duduk di sebelahnya.
"Sepertinya, nanti malam, pencuri misterius itu akan mengambil permata di mansion keluarga Nara." Ucapnya sedikit gugup, tapi tetap dengan wajah datar. Karena, tidak biasanya bagi Sasuke untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Hah? Benarkah, Teme?!" tanyanya, sedikit kagum dengan apa yang sudah Sasuke ucapkan.
"Hn. 90 % yakin,"
"Kau hebat bisa tahu hal itu!" katanya, tiba-tiba jadi bersemangat. "Hei, nanti malam aku boleh ikut lagi, 'kan?"
Sedikitnya, Sasuke heran. Padahal, tadi pagi mereka bertengkar, tapi entah kenapa sekarang mereka berdua bisa sedekat ini. Suasana hati Sauke yang sedang baik, mungkin menjadi faktor utamanya.
Sasuke hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaannya.
"Oi! Jawab, Teme! Aku ini disuruh kepala polisi untuk membantumu. Jadi, aku boleh ikut, ya?" tanyanya, sedikit keras karena bungsu Uchiha itu tidak juga menjawab. "Lagipula kau ini 'kan satu-satunya teman baikku!"
DEG!
'Eh? Tadi, dia bilang... aku... satu-satunya teman baiknya?' pikirnya.
'Sial! Kenapa dia bilang hal memalukan begitu sih?!' batinnya, dingin. Walaupun begitu, hati Sasuke bergetar saat Naruto menyebut dirinya teman.
"Dasar Dobe. Tentu saja kau harus ikut," kata Sasuke, akhirnya.
"Yatta!"
Sasuke menolehkan kepala ke samping dan melihat pemuda pirang yang sedang tersenyum dengan senang karena diperbolehkan ikut. Benar-benar anak yang polos.
"Berarti kau sudah memikirkan strateginya?"
" Aku dan Nara sudah mempersiapkan rencana untuk menangkap si pencuri misterius itu."
Naruto hanya ber–oh ria mendengar penuturan Sasuke barusan.
Kemudian, dia melihat jam tangannya dan raut terkejut langsung tercetak di wajah Naruto.
"Gawat! Jam makan siang sudah habis! Harus cepat kembali ke kantor!" ucapnya, panik.
Pemuda bermata onyx memandang wajah panik Naruto. Sekilas, poninya tersibak dan dapat dia lihat jika dahin Naruto masih merah karena terbentur pintu tadi.
Sasuke merogoh kantung celananya dan mengeluarkan 'sesuatu' yang tadi dia beli. Dia pikir memar di dahi Naruto akan berkurang kalau memakai ini.
"Aku pergi duluan ya, Teme!" ujar Naruto sembari berdiri dari kursinya.
Sasuke yang melihat Naruto akan kembali ke kantor, juga segera berdiri dari kursi tersebut.
Dengan perlahan, Sasuke melangkahkan kakinya pelan, mulai berjalan dan tiba-tiba saja―
PLEK!
Tanpa berkata apapun, Sasuke berjalan melewati Naruto sembari menempelkan sesuatu yang ternyata plester itu, tepat di dahi si pemuda berambut pirang.
Anak kepala polisi itu terus berjalan menuju kantor dengan cuek tanpa berkeinginan untuk menoleh ke belakang lagi.
"Hah?" kata Naruto. Dia menggerakkan tangannya ke dahinya dan mendapati sebuah plester telah tertempel di sana.
'Ah, baiknya...'
...
[ Mansion Nara, Tokyo. ]
[ Pukul 23 : 45. ]
"Apa semua persiapannya sudah selesai?" tanya Sasuke.
Kini, dia dan Naruto ada di kediaman Nara, tepatnya di ruang tamu.
"Hoahem. Tentu saja. Seluruh penjaga sudah kuatur agar menjaga bagian luar Mansion," jawab Shikamaru sembari menguap lebar.
"Kalau begitu, kita tinggal menunggu dia datang dan menjebaknya," ucap Sasuke, lagi.
"Nih," ujar Shikamaru sembari memberi sebuah permata ungu indah yang seperti memantulkan cahaya sang bintang kejora pada Sasuke.
"Ini permata yang asli?" tanya pemuda berambut raven.
"Ya," katanya. "Sudah kupastikan kalau itu asli. Yang palsu sudah kutaruh di kotak jebakan." ujar Shikamaru menambahkan karena melihat tanda-tanda keraguan di wajah sang Uchiha.
"Kotak jebakan?" tanya Naruto, akhirnya berbicara.
Kedua orang itu menolehkan kepala mereka dan memandang Naruto yang semenjak tadi terlupakan.
"Yah. Sebenarnya kotak jebakan itu adalah sebuah alat tipuan," ujar Shikamaru, mulai menjelaskan. "Di ruang penyimpanan keluargaku telah ditaruh brankas yang ada batu permatanya, tapi itu yang palsu. Yang aslinya disimpan Uchiha. Kalau si pencuri mengambil permata palsu, otomatis kunci kotak jebakan akan aktif dan si pencuri akan terperangkap di dalamnya."
"Hoo. Tipuan yang hebat!" ujar Naruto.
"Hn. Kalau begitu, ayo cepat bersiap-siap di posisi masing-masing." ujar pemuda berambut raven, sambil berdiri dari sofa dan berjalan menuju ruang penyimpanan.
"Haah. Dasar seenaknya saja," kata si pemuda Nara.
"Kalau si Teme sih, memang sudah seperti itu sejak dulu," sahut Naruto, tiba-tiba.
Mendengar itu, Shikamaru mengalihkan pandangannya lagi pada si pemuda pirang. Tiba-tiba, mata kuaci pemuda Nara itu melihat dahi Naruto yang telah ditempeli plester.
"Aku minta maaf soal itu," katanya, tenang. Jari telunjuknya menunjuk dahi Naruto.
"?"
Naruto bingung dan melihat arah yang ditunjuk oleh Shikamaru yang ternyata adalah dahinya sendiri.
"Oh, ini," ujarnya. "Nggak apa-apa! Lagipula, bukan masalah besar!" tambah Naruto, dengan senyum lima jarinya.
Shikamaru terdiam. Dia sedikit terpana akan senyuman pemuda di hadapannya ini.
"Dasar," kata Shikamaru, sembari berdiri dari sofa dan berjalan menuju ruang penyimpanan. "Rugi aku khawatir." tambahnya, bergumam sendiri.
"Eh? Tadi kau bilang apa?" tampaknya pemuda pirang kita satu ini tidak terlalu mendengar ucapan Shikamaru tadi.
"Ck!" Shikamaru hanya bias meneluruskan berjalan dengan wajah yang kusut.
"O―oi! Tu―tunggu aku, Shika!"
…
[ Kediaman Nara, Tokyo. ][ Pukul 00.00. ]
TAP!
Kaki seorang pemuda baru saja mendarat di jendela lantai dua di Mansion Nara. Pakaiannya yang serba gelap membuat seluruh tubuhnya tampak seperti bayangan di kegelapan malam.
Dia melihat keadaan sebentar, lalu berjalan dengan santai menuju ruang penyimpanan.
KRIEET
Sang pencuri misterius yang mendapat julukan 'X' itu membuka pintu ruang penyimpanan secara perlahan dan memastikan bahwa tidak ada satu orang pun penjaga di dalam.
Saat dia melihat sebuah brankas yang terletak di sudut ruangan, 'X' langsung menghampiri sudut ruangan dan membuka brankasnya.
Ketika si pencuri memegang permata ungu yang berkilauan itu, tiba-tiba saja…
ZRAKK!
Muncul sebuah kurungan besi dari bawah lantai dan membuatnya terjebak di dalam kotak jebakan itu.
"!" 'X' pun terkejut karena dirinya kini ada di dalam posisi yang tidak menguntungkan karena terjebak di dalam kurungan besi tersebut.
Tiba-tiba, muncul sosok seseorang yang kemudian menyalakan semua lampu di ruang penyimpanan.
PYASH!
"Kaget, hm?" ujar Sasuke, tiba-tiba.
Shikamaru dan Naruto pun juga keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri sosok 'X' yang sedang dalam kurungan.
"Kali ini, kau tidak akan bisa lari lagi," kata Sasuke, lagi. Dia menyeringai dengan senangnya karena dapat menangkap si pencuri misterius. "Pencuri breng―"
BUFF!
Sosok 'X' dalam kotak jebakan seketika menghilang seperti asap. Mereka bertiga yang ada di ruangan itu sangat kaget akan apa yang tadi terjadi.
"Pencuri itu! Bagaimana bisa dia―"
"Yo!" sapa sosok seorang laki-laki yang sedang berdiri santai di belakang mereka bertiga.
Mereka bertiga serentak menoleh ke belakang dan…
SLEP! SLEP!
X melemparkan dua buah jarum yang menancap tepat di leher Sasuke dan Shikamaru. Dia menyeringai keji saat melihat dua sosok itu ambruk di hadapannya.
"Khu–khu. Coba kita lihat, siapa yang tidak bisa lari sekarang?"
Dia berjalan perlahan menghampiri sosok ambruk Sasuke dan mengambil sebuah permata ungu milik keluarga Nara yang asli. Seketika, dia menoleh pada Naruto dan mendapatinya sedang memasang raut wajah kaget bercampur takut.
"Tenang saja. Jarum ini hanya akan membuat mereka tertidur sampai pagi," ujar X, menenangkan si pemuda pirang.
Dia menyimpan permata itu di saku celana kanannya dan langsung pergi keluar ruangan tersebut, meninggalkan Naruto sendirian dengan dua sosok yang sedang tergeletak pingsan di lantai.
Setelah beberapa detik, barulah Naruto sadar akan apa yang harus dilakukannya.
'Hah! Permatanya!' batin Naruto, sambil bergegas berlari keluar dari ruang itu juga. 'Aku harus mengambilnya!'
…
DRAP DRAP DRAP
"Haah… haah… haah."
Suara langkah kaki dan deru nafas si pemuda pirang itu bergema di seluruh koridor. Walaupun lelah, dia tetap memaksakan kakinya untuk menelusuri seisi Mansion, berharap pencuri itu masih ada di dalam kediaman Nara.
'Pencuri itu tidak ada dimana-mana! Jangan-jangan dia sudah keluar dari sini!' pikir Naruto, masih berlari.
DEG!
Naruto mematung. Dia menghentikan langkah kakinya saat mendengar suatu melodi yang tiba-tiba menyeruak masuk di telinganya dan mengalun di seluruh lorong tempat dia berdiri.
"Su―suara apa barusan?" tanya pemuda bermata biru itu lebih kepada dirinya sendiri.
DEG!
'Melodi itu lagi!' batinnya, mulai takut.
Kini, Naruto mendengarkan melodi itu dengan seksama dan mulai penasaran: siapa sebenarnya yang memainkan melodi ini?
'Melodi ini… suara dentingan piano, roda-roda mesin berputar. Ini melodi yang sangat menyedihkan.' Naruto membatin dan mulai melangkahkan kakinya menuju asal suara.
Sampailah ia di sebuah pintu yang merupakan asal dari suara tersebut. Dengan takut-takut, tangan kanannya mulai memutar kenop pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Saat dia masuk dan meneliti ruangan yang tampak seperti kamar itu, mata birunya menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk dan memainkan piano yang ada di kamar itu.
"Ah, rupanya kau bisa menemukanku lagi," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
"Ka―kau…!"
The sorrowful melody that was heard from afar!
.
.
.
TBC!
Read and review with your Dying Will!
