Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Warning: AT, still OOC, typo(s), rush, don't like? Don't read! Chap ini cacat banget =..=

Ok, inilah pik gagal semi-canon. Hikshikshiks *pundung*

.

.

Cklek.

Ino terdiam sesaat di depan ambang pintu ruang rawat Sasuke. Seharusnya ia melihat sosok pria emo itu tengah tertidur sekarang di atas tempat tidur putih itu. Ino masuk sepenuhnya masih dengan membawa buku laporan perhari mengenai kesehatan Sasuke.

Sepi.

Ruangan ini sungguh sepi—seolah tidak ada tanda-tanda ada yang menempatinya. Lalu, kemana perginya orang yang dirawat di sini? Apa mungkin ia salah kamar? Dilihatnya juga di dalam kamar mandi ruangan ini, juga tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya kamar mandi dengan bak air penuh yang lantainya terlihat kering.

Diperhatikannya lagi setiap alat napas dan detak jantung kemarin yang sempat digunakan untuk membantu kepulihan pemuda itu. Juga tidak ada. Apa mungkin sudah dibereskan. Lalu, ada apa ini?

Ino menggaruk belakang kepalanya sesaat, lalu ia pun berbalik menuju ke luar ruangan ini untuk bertanya pada salah satu perawat penjaga. Sehari ia tidak masuk kerja malah membuatnya bingung. Mungkin juga telah terjadi sesuatu kemarin—yang tidak diketahuinya.

"Sasuke Uchiha? Entahlah aku tidak tahu dia dibawa kemana," jawab perawat yang kebetulan berjaga di pintu depan masuk rumah sakit. Jawaban dari atas pertanyaan Ino ini, sungguh membuatnya tidak merasa puas—dan ia malah bertambah penasaran.

"Ehm, begitu ya?" Ino berbalik memunggungi perawat itu dan mulai berjalan keluar rumah sakit. Dalam pikirannya sangat terasa janggal. Mengapa perawat yang jaga saja tidak tahu tentang kemana Sasuke pindah ruangan—lalu, apa mungkin ia kabur dari sini?

Kalau ia kabur, Konoha pasti gempar untuk kembali mengadakan pencarian dirinya. Itu sungguh tidak masuk akal. Mungkin dengan bertanya pada Tsunade—itu dapat membuka jawaban atas kebingungannya ini.

.

.

.

"Permisi…" Ino masuk dengan perlahan ke dalam ruangan Hokage itu—dapat ia lihat Tsunade yang sedang duduk di meja kerjanya.

"Ino, ada apa?" Tsunade mengalihkan pandangannya pada gadis berkuncir satu itu—dari segala berkas yang menumpuk tinggi di depannya.

Ino lebih mendekat ke meja kerja Tsunade, "Tsunade-sama, ada yang ingin aku tanyakan," ujar Ino berbasa-basi terlebih dahulu. "Kenapa Sasuke tidak ada di ruangannya? Aku mau memeriksanya."

"Dia sudah siuman," jawab Tsunade cepat.

"Hah, be-benarkah?" tampak raut wajah Ino berbinar-binar mendengar kabar bahagia itu. "Lalu dimana dia sekarang?" entah mengapa, saat ini Ino sangat ingin bertemu dengannya.

"Dia masih dalam perawatanku, biar aku saja yang merawatnya mulai sekarang." Tsunade kembali mengalihkan perhatiannya pada berkas-berkas tersebut. Sehingga membuat Ino merasa sudah mengganggu waktunya.

"Oh…" seketika Ino menjadi lemas karena harapannya untuk bertemu dengan Sasuke lenyap. "Kalau boleh tahu memangnya dia dirawat dimana?" ragu-ragu Ino bertanya seperti itu. Sungguh, ia sangat penasaran akan hal ini.

Belum sempat Tsunade menjawab pertanyaanya, tiba-tiba keributan terjadi di luar gedung Hokage ini. Seperti ada suara dari segerombolan orang-orang yang menuntut suatu hal kemari.

Tsunade langsung berdiri dari duduknya dan menuju ke halaman lantai dua ruang kerjanya—untuk melihat keributan—yang memang sepertinya tertuju padanya. Ia tidak ambil pusing soal ini, karena saat ia tak sadarkan diri kemarin, ini memang sudah sering terjadi. Dan sekarang untuk yang pertama kalinya Tsunade akan menghadapi mereka langsung.

Merasa penasaran Ino mengintip dari balik jendela ruang Hokage untuk melihat apa yang terjadi. Dapat ia lihat, rakyat Konoha—dan sebagiannya entah rakyat dari desa mana, menyerbu di sekeliling menara Hokage.

Sejak kapan mereka berada di bawah sana? Seingatnya, Ino baru saja beberapa menit yang lalu sampai kemari—lagipula tadi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan mereka.

"Cepat bunuh Sasuke sebelum dia sembuh!"

Salah satu dari gerombolan orang-orang itu berteriak kencang. Mendengar itu napas Ino menjadi tertohok. Ternyata tebakannya tepat, mereka terus menuntut sampai keinginan mereka terpenuhi oleh sang Hokage.

Untuk kali ini, lagi-lagi kepala Tsunade terasa berdenyut mendengar itu. "Aku sudah memutuskan dalam waktu tiga hari ini!" akhirnya Tsunade angkat bicara dengan suara lantangnya. Membuat sebagian dari gerombolan orang itu menutup suaranya.

Ino terbelalak kaget. Sungguh, ia tidak menyangka semua ini akan berlalu begitu cepat. Ia tidak menyangka Tsunade akan membunuh pria emo itu dalam waktu tiga hari! Ternyata Tsunade tega melakukannya!

"Kalian boleh menyaksikannya nanti," Tsunade berbicara lagi kepada mereka yang berada di bawah sana—berusaha membuat kepada rakyat agar percaya dan tidak terus-terusan menuntutnya seperti ini.

Tsunade benar-benar merasa tertekan melihat tuntutan-tuntutan dari mereka. Di satu sisi lain ia merasa bersalah pada dirinya sendiri. Di satu sisi lain, ia merasa bersalah pada pria emo itu. Dan juga merasa bersalah pada seluruh rakyat Konoha—bahkan seluruh dunia shinobi. Walau begitu, ia harus tegar, ia adalah Hokage dan ia harus berdiri tegap!

Detik ini Ino baru sadar. Ternyata Tsunade hanya berbohong padanya dengan berkata akan merawat Sasuke mulai sekarang, pasti sekarang Sasuke ditahan di suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh siapa saja. Kaki Ino benar-benar terasa lemas mendengar semua kenyataan pahit ini. Kakinya mundur selangkah dan di detik itu pula ia memutuskan untuk pergi dari sana—dari Tsunade dan rakyat-rakyat yang seenaknya bertindak itu.

Ino terus berlari tanpa arah, membuat air matanya yang keluar dari sudut matanya terbang di bawa angin. Apapun yang terjadi, Ino harus menghentikan semua ini sebelum terlambat dengan seluruh kekuatannya. Tidak masalah kalaupun ia harus berkhianat. Karena ia yakin, pasti ada orang yang akan mendukungnya tentang semua ini.

Pasti.

.

.

.

"Sakura! Kebetulan sekali!" Ino langsung berlari lagi tergopoh-gopoh agar sampai ke hadapan Sakura. "Ikut aku!" Ino langsung seenaknya meraih tangan gadis pink itu untuk mengikuti laju larinya.

Gadis cherry itu hanya diam dengan pandangan bingung dalam seretan Ino.

"Sakura ini gawat!" ujar Ino yang membuat Sakura bertambah bingung. Sedangkan langkah mereka tetap bergerak dengan cepat.

"Kau bicara apa sih?" padahal tadinya Sakura ingin keluar dari rumah sakit untuk menghirup udara segar. Tapi, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Ino dan menyuruhnya untuk kembali masuk ke dalam. Benar-benar sulit dimengerti.

Brak!

Dengan seenaknya pula Ino membuka pintu ruang rawat inap Naruto.

"Hei, mau apa kita ke ruang Naruto?" Tanya Sakura masih dalam penasarannya.

Kemudian mereka berdua sepenuhnya masuk ke dalam sana. Sebelum itu, Ino sempat menutup pintu ruang inap itu kembali.

Naruto hanya menolehkan kepalanya menatap mereka—dengan mie ramen yang masih membentang di antara mulut dan mangkok ramennya. Ia terkejut atas kedatangan kedua temannya pagi-pagi seperti ini.

"Naruto ini gawat!" Ino lagi-lagi berteriak tanpa sulit dimengerti—membuat Naruto menelan seluruh mie yang berada di dalam mulutnya secara paksa. Alhasil, pria blonde itu tersedat—dan ia harus memukul dadanya agar mie tadi turun dengan normal masuk ke dalam lambungnya.

"Jelaskan dulu apa yang terjadi, Pig!" Sakura melipat tangannya di depan dada dengan kesal.

"Sasuke… Sasuke dia akan dihukum mati oleh Tsunade-sama dalam waktu tiga hari ini!" beritahu Ino dengan perasaan yang bercampur aduk. Ino memandang ke arah raut di antara mereka berdua. Tidak ada respon terkejut satu pun di antara kedua anggota tim tujuh itu. Mengapa? Mengapa dengan ekspresi mereka berdua? Ino malah mengernyit bingung.

"Naruto! Hanya kita yang dapat menghentikannya. Kau mau kan!" Ino bicara lagi karena tidak ada satupun dari mereka yang merespon pemberitahuannya. Ia mendekat ke arah Naruto sembari memegang bahunya tegap—agar ia dapat memandang dua belah iris mata shappire itu lurus.

Tapi, sedetik kemudian Naruto malah menyentakan tangan Ino kasar, membuat gadis itu tersentak kaget. "Memangnya apa yang harus kita perbuat?"

"Makanya kita harus menolongnya! Dia kan teman kalian!" Ino berteriak kesal menanggapi keleletan pikiran pria blonde itu. "Kau yang membawanya susah-susah kemari, apa kau rela dia harus dihukum mati!" keringat tampak mengucur di sekitar pelipis Ino—karena efek dari berteriak-teriak tanpa kendali itu. Belum lagi udara di sekitarnya sungguh terasa panas.

"Teman?" sahut Sakura dari belakang Ino—membuat Ino kali ini benar-benar merasa jatuh. "Aku rasa seorang pengkhinat seperti itu pantas mati. Aku kira kabar apa, ternyata tentang Sasuke."

Ino benar-benar merasa heran mendengar perkataan Sakura. Tidak seharusnya Sakura mengatakan hal itu kepada 'sahabatnya' sendiri.

Ino berbalik cepat untuk menatap Sakura. "Sakura kau bicara apa sih! Kau tidak pantas bicara seperti itu!" kali ini Ino memegang kedua bahu kecil Sakura—berusaha untuk menyadarkannya. "Dia temanmu, Bodoh!" Ino benar-benar kehabisan emosi, ia hanya bisa melampiaskan emosinya dengan cara mengguncang kuat bahu Sakura.

"Dengar ya." Sakura mendorong tubuh Ino kuat—membuat gadis itu mundur beberapa langkah. "Memangnya kami peduli? Biarkan saja! Lagipula ia memang pantas… mati!"

Ino tidak menyangka Sakura melakukan hal itu padanya. Ok, mungkin ia yang duluan kasar padanya. "Kau bercanda kan?" tebak Ino sambil berusaha mengeluarkan tawanya karena baru saja mendengar lelucon dari mereka berdua. "Aku tahu kau mencintainya, kau pasti tidak rela, kan?"

"Lucu sekali, Ino! Semua orang tahu, Naruto dan aku mati-matian membawanya ke Konoha hanya ingin melihatnya mati…" Sakura diam sebentar. "Di depan semuanya," sambung Sakura tanpa ada nada bohong di raut wajahnya.

Ino membisu dan terpaku di tempat. Apa kali ini ia juga mimpi? Kalau mimpi, ia hanya berharap segera mengakhiri mimpinya, lalu bangun dan segera berangkat kerja.

Ino menghela napasnya yang sekarang entah mengapa terasa sangat berat. "Baiklah kalau begitu." Ino berusaha menahan segala gejolak emosinya kepada kedua orang yang dulu selalu menganggap Sasuke 'teman'.

"Sakura-chan, memangnya ada apa dengan Ino?" Tanya Naruto tanpa peduli pada perasaan gadis berambut kuning itu.

"Entahlah, Ino benar-benar aneh!"

Ino mencoba menstabilkan napasnya. Ah, sudah cukup! Ia tidak merasa dirinya aneh. Yang aneh justru mereka berdua. Dan ternyata ini memang bukan mimpi. Mereka berdua mungkin sangat membenci Sasuke sehingga tega bicara seperti itu. Selama ini rasanya Sakura selalu mencintainya. Dan selama ini pula rasanya Ino selalu ingin menangis melihat pengorbanan Naruto untuk Sasuke.

Kaki Ino benar-benar terasa lemas. Ia berjalan gontai menuju keluar pintu ruang inap, sia-sia ia berteriak seperti orang gila untuk meminta bantuan mereka.

Sambil berjalan ia menundukan kepalanya dalam. Sangat dalam—sehingga orang tak dapat melihat raut ekspresinya saat ini.

Langkah Ino sudah sampai di ambang pintu. Ia mencoba menahan isakkan tangisnya sembari menoleh kembali ke dalam ruang inap—berharap Sakura dan Naruto akan memanggilnya. Tapi, yang dapat Ino lihat sekarang, mereka berdua hanya memandang kosong ke arahnya.

Tidak ada harapan. Mereka bukanlah mereka yang seperti dulu. Ino sadar, setiap manusia memang pasti berubah. Dan tidak menyangka itu akan terjadi pada mereka berdua juga.

Benar-benar kecewa.

.

.

Dengan bertumpu pada kedua dengkulnya Ino menangis. Entah mengapa saat ini ia ingin menjatuhkan air matanya di atas bukit Konoha—tempat biasanya Shikamaru bersantai sambil memandang awan.

Untung sekarang Shikamaru tidak ada di sini, sehingga kali ini Ino ingin meminjam tempat ini dulu untuk hasil kekecewaannya.

Yah, ia kecewa. Sedih. Rasanya sangat pilu apalagi mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Detik ini ia sadar, perhatiannya dari Sasuke jauh lebih besar dari Sakura. Rasanya kalau sudah begini, tidak ada yang dapat Ino lakukan kecuali menangis. Ia tidak sanggup membebaskan Sasuke, sungguh.

Tiba-tiba satu pikiran terlintas di benaknya. Ino mengangkat kepalanya lalu menyeka air mata yang masih berada di pelupuk matanya. Kemudian ia mencoba berdiri dari posisi duduknya.

Dengan berdiri, ia dapat melihat seluruh penjuru Konoha dari atas bukit ini. Ino semakin melangkahkan kakinya sampai ke pinggiran bukit. Ia memandang ke bawah sana yang mungkin tingginya dapat menghancurkan apa saja yang jatuh dari atas sini.

Dengan menghela napas Ino berbalik menoleh sepenuhnya ke belakang. Apakah ia masih punya harapan dapat ditolong seseorang? Sepertinya tidak ada, Walau ia menunggu di sini, siapapun tidak akan datang kemari menghampirinya—dan mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit.

Ino melangkah mundur selangkah. Sedikit lagi saja ia mundur, ia akan sungguhan jatuh dari atas bukit ini.

Sesuatu pikiran terlintas kembali dalam benaknya. Apa ia pantas menyelamatkan Sasuke—sedangkan Sakura saja sudah tidak peduli lagi?

Tanpa pikir panjang lagi, Ino memejamkan matanya—lalu melemaskan tubuhnya. Tubuhnya hanya bisa mengikuti gerak gravitasi bumi yang membawanya cepat untuk jatuh sampai ke bawah.

Tidak ada sedikitpun niatnya untuk memusatkan cakra di seluruh tubuhnya. Tidak ada sedikitpun pikirannya untuk menyelamatkan dirinya. Ternyata seperti ini rasanya—yang pernah dirasakan Sakura dahulu ketika Sasuke memilih berkhianat dari Konoha. Berarti kemarin untuk terakhir kalinya Ino dapat melihat sosok Sasuke.

Walau di dunia ini ia tidak dapat bersama dengan Sasuke, tidak dapat menggenggam erat tangan pria itu. Tidak dapat bersamanya. Mungkin, dikehidupan lain. Ia akan bisa melakukan semua itu.

"Ino! Ino! Bangun Bodoh!"

"Apa dia baik-baik saja?"

"Sepertinya masih baik-baik saja. Ck, merepotkan."

"Hei, Ino bangun!"

Suara-suara itu terdengar sangat jelas di pendengaran Ino. Ia tidak melihat siapa yang berbicara itu, tapi ia merasakan orang itu ada di dekatnya, menyentuhnya dan menyerukan namanya.

Sekali lagi, ia merasa badannya diguncang oleh orang. "Bangun, hei!"

Ino memberanikan diri membuka kelopak matanya. Sesaat ia merasa silau dengan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Tapi, kala itu pula ia melihat sosok kedua temannya berada di hadapannya.

Astaga, ia baru ingat kalau tadi ia sempat ingin bunuh diri, atau memang sudah bunuh diri? Ia masih bingung.

Shikamaru dan Chouji membantunya untuk duduk dari posisi berbaringnya tadi. Ino memegangi kepalanya.

"Kau mau mencoba bunuh diri?"

Ino menoleh ke Shikamaru yang bertanya seperti itu. Jangan-jangan Shikamaru-lah yang menolongnya dari perbuatan yang dapat mencelakakan dirinya sendiri. Ternyata memang ia masih hidup sekarang.

Ino hanya menghela napas saja tanpa harus menjawab pertanyaan pria itu. Lagipula ia juga tidak punya jawaban yang harus dilemparkannya.

"Ada apa? Bicaralah," kali ini Chouji yang mulai mencoba membuka suara Ino.

Ino masih diam tidak mau bicara. Ia juga tidak yakin, ia akan mulai cerita darimana. Rasanya suara dalam kerongkongannya sangat susah untuk dikeluarkan…

.

.

.

Sasuke tidak ingat kapan ia bangun dari pingsannya yang berkepanjangan. Terakhir kalinya ia ingat kalau ia sedang melawan Naruto di medan perang. Sisanya ia tidak ingat lagi.

Pria emo itu memandang ke sekeliling tempatnya sekarang berada. Ia seperti berada di dalam gua, mungkin juga bawah tanah yang terdapat jeruji besi mirip sebuah tempat tahanan—yang sedikit mirip juga dengan ruang rawat inap. Di sini masih terdapat peralatan rumah sakit yang tidak sedang digunakan. Mungkin juga beberapa waktu kemarin ia sempat menggunakan alat ini—dan saat mereka mengetahui kondisinya sudah membaik, mereka melepaskannya.

Tiba-tiba suara ketukan sepatu menggema di sepanjang tempat ini. Sasuke tetap bergeming menanti siapa yang akan datang sekarang, ia yakin, yang akan datang kemari bukanlah Madara. Melainkan…

"Ternyata kau sudah bangun, Sasuke."

Tanpa menolehpun rasanya Sasuke sudah mengetahui siapa pemilik suara ini. Kalau tidak salah suara ini adalah suara wanita yang merubah dirinya untuk menjadi lebih muda.

Sasuke hanya menyeringai. "Apa tujuanmu mengurungku di sini?"

"Maaf Sasuke, kau tidak diterima lagi di Konoha. Bahkan di seluruh negri Shinobi." saat ini, Tsunade sudah berdiri di antara jeruji besi yang membatasinya dengan pria emo itu. Sedangkan pria emo itu, masih tetap duduk di atas kasur tanpa harus menatapnya.

Tidak ada respon dari Sasuke, ia hanya bergeming seolah tidak merasakan ketakutan pada hukuman yang jatuh padanya.

"Persiapkan dirimu, kau akan dihukum… mati."

Setelah itu Tsunade berbalik meninggalkan tempat ini. Ia tidak ingin berlama-lama di sini. Mungkin saja jika ia berlama-lama di sini, ia akan merasa iba pada klan Uchiha terakhir itu.

.

.

Akhirnya Ino mampu menceritakan semuanya kepada kedua teman setimnya. Dari tentang perasaannya pada Sasuke hingga perbuatan yang telah dilakukan oleh Naruto dan Sakura padanya.

Ino kembali menundukkan kepalanya menahan segala gejolak tangisan yang akan memecah lebih kuat lagi.

"Kita memang tidak bisa melakukan apa-apa, Ino." Chouji memandang miris pada sosok Ino sekarang yang terlihat jatuh.

"Aku merasa aneh pada Naruto dan Sakura," ujar Shikamaru tiba-tiba. Tadi, saat Ino mulai menceritakan tentang masalah Naruto dan Sakura, Shikamaru hanya diam sambil mencerna tiap katanya. Semua terasa janggal dan tidak masuk akal. Tidak mungkin Naruto dan Sakura rela berkata demikan mengenai Sasuke. Tidak mungkin! Itu sungguh mustahil kecuali… kecuali kalau ada seseorang yang dapat menyegel pikirannya dengan genjutsu.

"Aku rasa mereka terkena genjutsu," Shikamaru langsung mengeluarkan pendapatnya, membuat perhatian kedua temannya tertuju padanya. "Apa kau tidak merasakan itu, Ino?"

"Merasakan apa?" Ino belum paham dengan pendapat Shikamaru.

"Yah, merasakan tanda-tandanya jurus ilusi, kau bisa melepaskannya, kan?"

Benar juga, mungkin saja mereka terkena jurus itu. Tidak mungkin saja kalau tiba-tiba mereka berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu sehari.

Sayangnya ia tidak bisa melepaskan kembali jurus itu. Karena dirasakannya jurus yang menyegel pikiran mereka sangat tidak sebanding dengan kekuatannya.

Seketika itu pula Ino mendapatkan kekuatan untuk bangkit dari lobang hitam yang tidak ada ujungnya ini. Ia merasa mendapatkan kekuatan kembali atas saran dari Shikamaru. Ino mencoba menarik senyumnya. "Terimakasih, Shikamaru."

.

"Ada apa mencariku?" Kakashi berdiri berhadapan dengan orang yang baru saja mencarinya ini.

Yah, Ino-lah yang kini sedang mencarinya. Ia tidak yakin memang dengan langkah yang akan diambilnya ini. "A-aku…" Ino benar-benar tidak yakin dengan permintaan yang berada di isi kepalanya. Sebenarnya, ia ingin meminta bantuan Kakashi untuk melepaskan segel diantara Naruto dan Sakura.

"Hm?" Kakashi tetap sabar menunggu permintaan yang akan diajukan Ino. Tapi, sedetik kemudian Ino malah bilang.

"Maaf Sensei, aku… tidak jadi!" Ino langsung memutuskan untuk membatalkan permintaannya. Ia tidak mungkin seceroboh itu memberitahukan beban dalam pikirannya.

"Aku permisi , Sensei." Ino langsung membungkukkan badannya. Kemudian ia berbalik mulai menjauh dari sana dan melupakan permintaannya pada Kakashi.

Ia lupa berpikir, mungkin saja Kakashi juga ikut andil dalam penyegelan pikiran. Maka dari itu, ia tidak boleh seceroboh itu. Pasti ada cara lain selain ini.

.

.

Di atas bukit kembali para tim sepuluh ini berkumpul—setelah seharian mencari informasi di sana-sini tentang keberadaan pria emo itu. Dan Ino sungguh bersyukur masih mempunyai teman yang mempedulikannya.

"Aku baru saja mengetahui keberadaan Sasuke dari ayahku," ujar Shikamaru memberitahu. Entahlah, ia juga tidak tahu mengapa ia harus melakukan semua ini demi temannya itu. Ia juga bahkan melupakan waktu tidur siangnya hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan Sasuke. Oh, ayolah, apa ia juga memiliki perasaan pada gadis itu? Tentu saja baginya itu sangat merepotkan.

"Benarkah?" Ino benar-benar merasa terharu mendengar kabar ini. Ternyata melakukannya dengan bersama-sama lebih terasa ringan ketimbang harus sendirian.

"Aku juga!" ujar Chouji cepat.

Ah, ternyata hanya Ino saja yang tidak mendapatkan apa-apa seharian ini. Ia benar-benar tidak dapat membantu dirinya sendiri. 'Maaf teman-teman, aku tidak mendapatkan kabar apapun.' Lirih Ino dalam hati.

Kemudian mereka lebih mengambil posisi sambil berhadapan setengah duduk—dengan salah satu kaki yang terlipat di depan dada. "Dia berada di sekitar patung para Hokage."

"Benarkah? Tapi, aku tidak merasakannya dia berada di sana," raut Ino terlihat serius.

"Dia bukan berada di dalam sana," timpal Chouji.

"Yah. Tapi, di bawah tanah!"

.

.

.

Tidak ada waktu lagi bagi mereka selain malam ini. Ketiga anggota tim sepuluh ini rela keluar pada saat larut seperti ini hanya untuk membebaskan Sasuke.

Sampai detik ini, Shikamaru masih belum yakin dengan apa yang dilakukannya. Padahal selama ini Sasuke bukanlah siapa-siapanya—malah pria itu sudah dianggapnya penghianat kemarin.

Sedangkan Chouji pun begitu, ia juga tidak percaya apa yang tengah ia lakukan ini. Perbuatan ini sudah seperti melawan hukum Konoha. Bagaimana kalau sampai ayahnya tahu? Apa kata kedua orangtuanya nanti?

Ya. Mungkin alasannya adalah, demi teman, mereka akan melakukan semua ini. Bukankan Shinobi yang melalaikan temannya sama saja dengan sampah? Ok, itu hanya perkataan ayah dari Kakashi-sensei waktu itu.

Shikamaru hanya bisa menghela napas, lagi-lagi mereka bertemu di atas bukit ini. Seharusnya jam segini pria nanas itu sudah tidur. Untuk kali ini, yah sudahlah.

"Selagi aku tidak ada di tubuhku, jaga aku ya?" pinta Ino pada kedua temannya itu. Ia hanya berharap saat ia menemui Sasuke dalam wujud burung nanti, Sasuke tidak akan membunuhnya terlebuh dahulu.

Shikamaru mendengus. "Memangnya kami pernah meninggalkanmu saat kau tidak ada dalam tubuhmu?" rasanya mereka tidak pernah sekalipun membuat Ino celaka sewaktu menggunakan jurus andalannya.

"Hahah, aku kan cuma bercanda." Ino masih memaksakan dirinya untuk tertawa di depan kedua temannya, walaupun kini ia sudah merasa sangat gugup. Gugup akan apa yang akan ia lakukan. Yah, semoga saja ini adalah yang terbaik.

"Baiklah, Ino. Waktumu hanya lima menit untuk mencarinya!" ujar Chouji memberitahu. Mereka memang sudah mengetahui Sasuke berada di bawah tanah. Tapi, mereka belum mengetahui letak dimana pria emo itu berada. Maka dengan jurus Ino inilah mereka ingin memastikan tempat keberadaan itu.

Ino langsung mengumpulkan cakra-nya lalu membentuk segel di tangannya.

"Shin-tenshin no jutsu!"

Seketika tubuh Ino langsung merosot lemah, untung saja ada Shikamaru dan Chouji yang sudah siap menompangnya agar tidak sampai jatuh ke tanah.

.

Selagi Shikamaru dan Chouji menjaga tubuh Ino. Ino sekarang tengah menuju ke ruang bawah tanah yang dimaksudkan oleh kedua temannya itu.

Ternyata ruangan itu memang ada di bawah patung para Hokage. Dengan tubuh sebagai sosok burung kenari, Ino dapat menyelinap dengan gesit sampai ia benar-benar berada di ruang bawah tanah.

Entah sudah berapa menit Ino sebagai sosok burung menghabiskan waktunya untuk terbang dan mencari dimana Sasuke tengah berada. Entah mengapa, sedikitpun ia tidak bisa membaca tanda-tanda orang yang berada di sini.

Sungguh, ruangan bawah tanah ini penuh dengan belokan. Kalau begini terus waktu lima menitnya akan sia-sia. Dan kini Ino juga merasakan cakra-nya mulai menipis.

Sementara itu, sosok tubuh Ino yang tengah dijaga oleh kedua temannya mulai mengeluarkan keringat dari pelipisnya.

"Sepertinya, dia mulai kelelahan," tebak Shikamaru dengan tepat.

.

Kembali ke Ino yang berada di dalam sosok seekor burung.

Sekarang, sudah hampir empat menit ia berada di dalam tubuh burung ini. Tinggal semenit lagi, dan kesempatannya untuk menolong Sasuke akan lenyap. Kalau besok bukan hari terakhir bagi Sasuke, Ino tidak akan senekad ini.

Ia terus tetap terbang sampai ia merasa sangat kelelahan. Seharian ini ia tidak istirahat. Kemarin juga tidak istirahat. Cakra-nya benar-benar sudah melemah.

Apa mungkin ia harus menyerah sekarang? Tapi kan sayang sekali, ia sudah berada di tengah jalan.

Di saat keputusasaan itu datang, kala itu pula Ino merasakan ada tanda-tanda keberadaan Sasuke. Ino kembali terbang dengan kuat sampai ke ujung gua ini. Dan di situlah ia dapat melihat Sasuke yang tengah berbaring di balik jeruji besi.

.

Ino langsung tersentak saat kembali ke dalam tubuhnya semula. Ternyata waktu lima menitnya sudah diakhirinya. Ia langsung berdiri dari pegangan temannya.

"Kau sudah menemukannya?" tanya Chouji.

Ino mengangguk mantap. "Ayo kita ke sana sekarang." Ino langsung saja berbalik ke bawah bukit dan mulai berlari. Tapi, sekarang ia malah merasa kedua temannya tidak mengikuti langkah kakinya. Ino memutuskan untuk menoleh kembali ke arah belakang. "Kenapa kalian diam saja? Ayo!" ajaknya dengan semangat yang kuat. Saat ini ia tidak peduli apapun yang terjadi. Yang ada dipikirannya hanyalah membebaskan Sasuke.

Yah. Karena besok adalah hari yang dimaksud oleh Tsunade untuk menjatuhkan hukuman mati—maka malam ini juga Ino berniat membebaskan pria emo itu, dari balik besi-besi kuat yang menghalanginya itu, dan menghancurkan segel kuat yang tak terlihat.

Shikamaru dan Chouji hanya menghela napas.

"Aku kira kau sudah bicara padanya," ujar Shikamaru.

"Bicara apa? Aku tidak sempat untuk bicara apa-apa padanya. Aku hanya mengetahui posisinya saja. Habis jalannya penuh dengan belokan!" jelas Ino memberitahukan setiap arah di ruang bawah tanah itu.

"Kami kira kau hanya akan bicara padanya saja, dan memberitahukan dimana jalan-jalan yang cepat meloloskan diri dari sini," tambah Chouji.

"Tadinya sih begitu, tapi sekarang aku pikir lebih baik aku menemuinya langsung. Jadi, apa salahnya kalau kubantu saja ia kabur dari sana!" sebenarnya dari awal niat mereka memang seperti itu. Makanya kedua temannya ini mau membantunya. Saat sudah tahu begini, mereka menjadi enggan untuk ikut langkah.

"Maaf Ino. Kami tidak bisa."

Ino hanya bisa berdiri dengan hati yang terkejut saat mendengar kata itu meluncur dari bibir Shikamaru. Itu berarti mereka hanya ingin membantu sampai sini, begitu?

"Iya, Ino…" timpal Chouji dengan raut malah merasa bersalah. Hei, mengapa ia merasa bersalah? "Kami hanya dapat membantumu sampai sini."

Ino hanya dapat diam mendengar itu. Mengapa? Apa temannya juga baru saja terkena penyegelan otak?

"Aku yakin di sana banyak Anbu penjaga. Kalau kita nekad ke sana. Kita pasti akan dihukum."

Shikamaru benar. Mereka pasti dihukum kalau ketahuan menyelinap ke dalam bawah tanah. Dan kalau kedua orangtuanya mengetahui ini, mereka pasti akan sangat marah.

Tunggu, ini kan masalahnya. Memang seharusnya dari awal ia tidak menarik kedua temannya itu dalam hal ini. Yah, Mereka benar. Mereka tidak seharusnya terjerat ke dalam hukuman bersamanya.

Ino mengambil napas dalam lalu mengehembuskannya perlahan. "Baikah kalau begitu." Ino memberikan senyum terbaik kepada kedua temannya itu. "Kalian boleh pulang." Ino tidak marah jika kedua temannya itu tidak akan membantunya. Apapun yang akan terjadi nanti. Ia pasti dapat menghadapi.

"Jadi, kau tidak akan pulang?" tebak Chouji dengan tepat.

"Tentu saja, tidak!"

"Lebih baik kau pulang saja, Ino."

"Maaf… aku tidak akan membatalkannya."

Ino tidak mau membuang waktu lagi. Maka ia langsung berbalik dan berlari sekuat-kuatnya meninggalkan kedua temannya itu tanpa air mata setetes pun.

"Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Ino, Shikamaru?" tanya Chouji dengan raut cemas.

"Biarkan saja. Paling dia tidak akan bertahan lama."

.

.

Ino terus-terusan berlari dengan memusatkan cakra pada kakinya. Saat ini ia benar-benar mirip seperti penguntit yang akan mencuri sesuatu dari Konoha. Tanpa suara ia tetap berlari dengan kuat—agar Anbu yang menjaga di sekitar bawah tanah tidak mendengarnya.

Singkat cerita, akhirnya Ino sampai tepat di depan penjara khusus Sasuke. Ia tersenyum senang dengan napas yang ngos-ngosan. "Sasuke!" panggilnya pada sosok yang berada di dalam penjara itu. Padahal Ino berharap pria itu akan menoleh ke arahnya. Sampai detik ini pun pria itu tetap bergeming. Ino menautkan alisnya, mungkin saja pria itu sedang tertidur.

"Sasuke, aku akan membebaskanmu…" ujar Ino setengah berbisik, tapi tetap saja sedikit pun badan Sasuke tidak tergerak. Ino malah berpikir saat ini juga, bahwa Sasuke memang tidak membutuhkan bantuannya.

Benar juga, dirinya kan bukanlah apa-apa. Ia bukan siapa-siapa. Ia menyadari akan hal itu. Tapi… apakah dirinya boleh menolongnya sekali ini saja. "Sasuke aku mohon bangun…" Ino mencengkram jeruji-jeruji besi itu di kedua genggamannya. Kalau ia bisa, ia ingin masuk ke dalam melewati celah kecil di antara besi-besi itu dan juga dinding pembatas ilusi ini.

Baiklah, mungkin dengan cara menghancurkan besi-besi ini Sasuke baru akan bangun. Ia ingat, dulu ia pernah belajar dari Sakura cara memusatkan cakra pada kepalan tinjunya. Sedikit tidak yakin memang yang dirasakannya saat ini, mungkin dicoba saja dulu apa masalahnya.

Ino mulai memusatkan seluruh cakra-nya ke kepalan tangannya. Entahlah, bagaimana bisa seluruh anggota badannya mau melakukan ini, ia sadar ini tidak benar.

Baru saja Ino akan menyentuhkan tinjuannya ke besi itu—ia merasa ada yang memegang tangannya kuat—yang menghentikan pergerakannya. Sukses mata birunya membulat. Ia ketahuan.

Dua Anbu saat ini sedang memegangi kedua tangannya. Dan satu lagi memegangi pundaknya. Sekuat tenaga Ino mencoba untuk berontak, tapi di detik itu juga Anbu yang berada di belakangnya—menempelkan telunjuknya di leher belakangnya. Sekejab saja Ino kehilangan kesadarannya—membuat tubuhnya melemas jatuh merosot ke tanah.

"Ternyata ada penghianat di sini," ujar salah satu Anbu yang tadi.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera membawa tubuh Ino dan meninggalkan tempat ini dengan sekejab mata.

Setelah benar-benar terasa sepi, barulah sosok yang akan ditolong tadi berbalik dari posisinya. Sasuke hanya memandang diam pada tempat yang baru saja dipijak Ino tadi.

.

TBC

.

Maaf yah kalau masih ada kesalahan dalam pengetikan. Hehhhee. Lalu, tentang cerita, apakah enggak nyambung? *pundung*

Makasih buat riviewnya: Sukie 'Suu' Foxie, Deidei Rinnepero13, Kara is Lluvia Farron, Yamanaka Chika(Thanks for your review^^), Anasasori29, Cendy Hoseki, Ann kei, .back, vaneela(kenapa Sasu diobati? Kalo gak diobati Naruto ribut donk, betul? *jyaah), Thi3x(kita liat aja nanti, bwahahaha*plak)

-thanks for reading-