(Intro garinx mode: on)
Aula besar Hogwarts saat itu sedang dipenuhi oleh murid-murid yang sedang makan siang. Seluruh meja hampir terisi penuh oleh makanan yang sangat menggugah selera. Heri Punten -murid muslim satu-satunya di Hogwarts- yang saat itu sedang berada di meja Gryffindor pun tak pelak ikut melahap meja, err, melahap makanan yang ada di meja.
Wuushh.. plak.. plak. plak..
Segerombolan burung hantu masuk ke aula besar dengan kecepatan tinggi dan mulai menjatuh-jatuhkan koto-, euh, surat yang dibawa di kaki atau paruh mereka. Seekor burung hantu berwarna putih transparan pun hinggap di meja Gryffindor tepat di depan Heri. Teman-teman Heri melongokkan kepala mereka ke arah Heri.
"Wow, Cool, Bro! Burung hantu-nya benar-benar hantu ya? Punya siapa tuh?" Dean Thomas tampak kagum melihat burung itu.
"Iya, dia memang sudah jadi hantu. Jadi, ceritanya tuh begini..." kepala anak-anak di sekitar Heri mulai serius ingin mendengar penjelasan Heri. "Burung hantu ini kan mati, jadi hantu deh. The End."
"Yee, kirain ceritanya tuh yang seram atau lebih seru, kok begitu saja.." protes Ron yang ternyata juga penasaran dengan cerita burung itu. "Ceritakan lebih detail, please.."
Heri memandang sekelilingnya, semua wajah di depannya seperti memohon padanya agar Heri merilis cerita nan bersejerah itu secepatnya.
"Ya sudah, aku ceritakan lengkapnya deh." ujar Heri yang membuat anak-anak di sekitarnya gembira, mereka semakin merapat ke Heri. "Jadi.. Suatu hari aku pergi ke rumah bibiku, di sana aku ketemu dengan agen majalah dan katanya aku mau dijadikan model sampul majalahnya. Tapi, bibiku menolaknya dengan alasan aku masih terlalu imut dan dalam masa perkembangan. Jadi menurutnya tunggu aku tumbuh beberapa tahun lagi, soalnya aku bakal lebih keren lagi katanya."
"Interupsi!" Hermione mengangkat tangannya. "Kok malah menceritakan cerita tentangmu sih? Bukan tentang burung hantunya?"
"Tenang itu masih intro, lagian tokoh utamanya memang aku kan? hehehe," jawab Heri santai. "Mau dilanjut?"
Semua kepala mengangguk, bahkan ayam goreng di meja pun mengangguk juga.
"Lalu, berikutnya ada lagi Agen dari film sedang mencari aktor, dan kebetulan sekali dia bertemu denganku, dia pun ingin aku ikut casting untuk film tentang penyihir kayak kita-kita ini. Bibiku yang kali ini agak tergiur bujukan agen tadi merasa harus untuk bertanya kepada orang tuaku tentang diperbolehkan atau tidaknya aku untuk ikut casting di film ini." Heri menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya lagi, "Akhirnya dia mengirim surat kepada ibuku menggunakan burung hantu nenekku yang umurnya hampir menyamainya, BEUH, ternyata di tengah perjalanan, burung itu kecapekan dan akhirnya dia numpang di salah satu burung besinya muggle atau pesawat kalau bahasa kita mah."
"Terus.. terus.." kata anak-anak serempak.
"Terus ternyata pesawat itu tuh menabrak Gedung WTC, yang katanya tuh nabrak ke situ gara-gara teroris, padahal kata burung hantu saya alias si Nurdin ini, waktu itu gedungnya meledak sesaat sebelum pesawat menyentuh gedung itu. Burung aja tahu.." Heri kembali melanjutkan setelah mendengar suara 'Ooooo' kompak di sekitarnya. "Nah, gara-gara itu tuh si Nurdin tuh ikut mati, tapi karena dia merasa urusannya belum beres, jadilah dia kembali melanjutkan misinya mengirimkan surat sebagai hantunya burung hantu, walaupun dia sudah nyasar terlalu jauh ke Amerika, tetapi dia tetap berusaha mengirimkannya."
Terdengar 'Ooooo' lagi dan beberapa komentar 'Cerita yang hebat', 'Sangat menyentuh, mengharukan!', 'Haduh, kebanyakan makan nih, jadi ingin ke toilet'.
"Nah, lalu surat itu sampai ke tangan orang tuaku dan orang tuaku pun mengijinkan aku untuk ikut casting.." (perlahan demi perlahan kerumunan murid berkurang). "Aku pun ikut casting itu, dan apa jawaban orang yang meng-casting itu?" (Hanya tinggal Neville yang mendengarkan, karena yang lain cuma ingin tahu cerita burung hantu itu saja). "Aku ditolak! Katanya sih gara-gara terlalu keren untuk jadi Harry Potter, jadilah si Daniel Radcliffe yang memainkannya.. huh!"
Tak ada lagi yang mendengarkan Heri, semua kembali ke aktivitas masing-masing. Jauh di lubuk hatinya, Heri bernyanyi 'Betapaa.. Malang Nasibku!!'
(Intro mode: off)
Di ruang rekreasi Gryffindor, Heri, Ron, dan Hermione duduk di sofa dekat perapian.
"Heri, apa isi surat yang diantar burung hantumu-yang-memang-hantu itu?" Hermione bertanya ingin tahu.
"Oh, iya.. Aduh aku lupa, gara-gara tadi keasyikan cerita.." kata Heri sambil merogoh-rogoh ke kantung bajunya. "Nah, ketemu! Untung kau mengingatkan."
"Tadinya aku yang akan mengingatkanmu, tapi keburu oleh Hermione tuh!" kata Ron beralasan.
Secepat kilat, Heri langsung membuka surat di tangannya.
'Heri,
anakku yang ca'em kayak Daddy-nya,
Hari ini 'kan sudah Idul
Adha, Dad cuma ingin mengucapkan selamat Idul Adha untukmu, sayang
sekali ya, Idul Adha kali ini kamu tidak bisa merayakannya
bareng-bareng dengan seluruh keluarga. Semoga kamu tetap senang ya
walaupun merayakan Idul Adha sendirian.
Beloved,
Ganteng
Senior'
"Ha? Idul Adha?" kata Ron, dahinya mengernyit.
"Oh, Idul Adha.. Aku tahu!" seru Hermione. "Aku pernah melihat di internet, kalau tidak salah itu 'kan film tentang salah seorang yang tadinya orang desa lalu bisa menjadi insinyur dan jadi orang sukses. Benar kan, Heri?"
"Eta mah Si Doel anak Sekolahan atuh!" ujar Heri sedikit menahan tawanya. Ron langsung terbahak-bahak setelah tahu pengertian dari Hermione salah besar, Hermione cuma mendelikkan matanya kepada Ron.
"Idul Adha yang dimaksud di surat ini tuh, hari raya umat Islam dimana bagi yang mampu mereka menyumbangkan korban sapi atau kambing untuk disembelih dan dibagi-bagikan dagingnya."
"Wow, sekalian saja kalau kau mau sembelih si Ronald ini!" kata Hermione membuat Ron langsung menelan ludahnya.
Tak terasa malam hari pun tiba, kali ini seluruh anak sudah berkumpul juga di aula besar Hogwarts. Namun, mereka heran karena tidak ada makanan satu piring pun di meja. Mereka yang lapar terlihat tak sabaran dan bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi. Heri dan teman-teman Gryffindornya juga merasakan hal serupa dimana mereka terlihat lesu dan hanya diam sambil melihat meja di depannya, menunggu kali-kali saja makanan segera muncul. Akhirnya, terdengar suara Prof. Dumbledore di depan Aula Besar untuk memberitahu hal apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Anak-anakku sekalian, kami mohon maaf dengan keterlambatan penyediaan makanan ini. Para peri rumah agak sedikit bingung mencoba-coba resep baru yang diberikan. Dan spesial kali ini, makanan yang akan disajikan adalah...." Dengan jentikan jari dari Prof. Dumbledore makanan pun muncul ke atas meja, diiringi suara murid yang ber 'Huoooo' ria. "Ada gulai kambing, kambing guling, sop kambing. Pokoknya, everything kambing, silakan kalian cicipi.."
"Sepertinya enak, SERBUUUUU!!!" teriak salah seorang anak sambil mencomot makanan di depannya, seluruh anak langsung mengikuti. Terdengar dentingan sendok, garpu, dan pisau di seluruh aula besar seperti sedang terjadi perang besar-besaran.
"O-ow!" Heri yang sedang lapar menjadi tidak berselera melihat makanan di depannya. Dia melihat ke meja Slytherin, Crabbe dan Goyle sedang berebutan mata kambing, lalu dia memandang ke meja guru dimana Prof. Flitwick sedang menyeruput sop kambing dengan nikmat di mangkuknya, kembali dia memandang berkeliling di meja Gryffindor, Seamus langsung melahap paha kambing di depannya, bahkan Hermione yang biasanya hanya makan sedikit kali ini terlihat sangat agresif melawan makanan di piringnya. Heri tak kuasa memandang berkeliling lagi, dia memang tidak suka daging kambing. Akhirnya, terpaksa dia meminum jus labunya saja, tak tanggung-tanggung dia meminum sampai 7 gelas.
"Heri, kenapa kau tidak makan?" Ron penasaran karena Heri sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Wow, kalau begitu ini buatku saja ya..." kata Ron sambil merebut daging di depan Heri. "Enak sekali lho, coba deh!"
"Arrrrghhh...!!" Heri berteriak saat disodorkan seonggok daging oleh Ron dan sesegera mungkin berlari keluar dari Aula besar, dia tidak kuat mencium bau daging kambing yang menyeruak dari daging yang disodorkan oleh Ron.
Setelah sampai di ruang rekreasi, Heri merasa lega bisa menghindari makanan yang tidak difavoritkannya itu. Dia pun duduk di atas sofa dan menganggap tempat itu tempat teraman dan ternyaman di Hogwarts. Sampai tiba-tiba...
"Halo, Heri!" sapa Neville, bau kambing dari mulutnya menguar dan membuat Heri kembali menjauh. "Tadi, kata Ron kau tiba-tiba berlari keluar aula besar, pasti gara-gara kau terlalu banyak meminum jus labu ya. Nah, berarti kau belum makan kan?"
"Err.. tapi aku sudah kenyang kok!"
Kreueuukkkk...
"Ah, tak usah berbohong... Itu aku dengar suara perutmu." kata Neville ramah. "Makanya, tadi aku berinisiatif membawakan sepotong daging kambing guling ini untukmu."
"Hah? No, thanks untukmu saja." Heri menolak, sambil sedikit menjauh dari Neville.
"Oh, iya aku lupa. Kau kan tidak suka yang terlalu hangus ya. Ya sudah deh, ini aku beri sopnya saja. Kau kan paling suka makanan berkuah."
'Sabar.. Sabar.. Ini cuma ujian saja.' Heri membatin, badannya merinding. "Makasih Neville, tapi aku beneran udah kenyang kok. Hiks.. Aku ke toilet dulu Keh!"
"OK, Heri.. Hati-hati ya!" ujar Neville.
Heri berjalan santai meninggalkan Neville dan saat dia sudah memanjat lukisan dia langsung berlari kencang menuju ke toilet terdekat. "Huah, selamet, selamet...!! Hampir saja aku muntah di ruang rekreasi tadi."
"Hosh, hosh... semoga toilet ini lebih aman dari tempat manapun.."
Brooooot.. preet.. plung.. plung...
"Weqs, suara apa itu?" Heri bertanya pada dirinya sendiri, walaupun sebenarnya dia tahu pasti, bunyi seperti itu memang wajib ada di toilet.
Brebebebet... plung.. jeleguur!!
Setelah peristiwa pembombardiran toilet itu berlangsung, bau gas keluar dari salah satu bilik toilet sumber suara orang nyetor itu. Gas tanpa warna yang berbau kambing yang bercampur dengan bau kentut langsung tercium oleh Heri. Dia sungguh tak percaya, kejadian ini terlalu cepat sehingga membuat dirinya syok, diapun pingsan.
Keesokan paginya, di kamar anak laki-laki, Heri mulai mendengar keributan di dekatnya.
"Heri, Heri.. kau sudah siuman ya!!" seru Hermione sambil mengguncang-guncang tubuh Heri.
"Biar aku saja," Ron mengambil alih. "Heri, menu hari ini kambing lagi lho!"
"Appaah?!!" Heri langsung terbangun. "Mendingan aku tidur lagi saja deh..."
"Hahahaha, tenang... tenang.. Aku cuma bercanda!"
"Tak lucu, Ron!" sungut Hermione. "Heri 'kan pingsan juga gara-gara kamu.."
"Hmm.. yeah, Heri.. Maafkan aku, telah membuatmu pingsan kemarin," kata Ron menyesal. "Aku juga kaget, ketika melihatmu tergolek pingsan di dalam toilet. Setelah Nona-Tahu-Segala ini mengambil kesimpulan bahwa kau memang tidak suka kambing maka aku tahu, akulah penyebabnya."
"Tak usah minta maaf, Ron! Kemarin itu memang hari sialku saja sepertinya..."
"Thanks, Sobat!"
"Tapi Heri kenapa sih kamu tidak berterus terang saja bahwa kau tidak suka kambing?" tanya Hermione.
"Mungkin karena aku tak menyangka di Hogwarts akan ada menu kambing, jadi aku tidak pernah memberitahu kalian. Makanya, aku kaget sekali ketika tahu menu kemarin tuh makanan-itu.." papar Heri kepada teman-temannya.
"Nah, kata Prof. Dumbledore kan kemarin tuh peri rumah telat menyediakan makanan gara-gara ada yang mengirim resep, kira-kira siapa ya?" Ron penasaran.
"Kurasa aku tahu," ujar Hermione. "Kemarin kau menjatuhkan suratmu, ketika kupungut ternyata masih ada tulisannya di belakang, Nih, aku bacakan 'NB: Dad juga mengirim daging kambing dan resep makanannya lho, supaya kamu bisa merasakan suasana Idul Adha juga di sana..' "
"Haduh, ternyata ini perbuatan Ayahku ya.. hiks.."
"Dan tadi ayahmu mengirim surat lagi nih, coba dibaca.." kata Hermione sambil memberikan surat di tangannya kepada Heri.
'Duh,
Heri maafkan Dad ya,
kemarin mengirimkan daging kambing ke sana.
Dad lupa kau kan tidak suka daging kambing.
Makanya di sini
Ibumu pas tahu langsung marah-marah sama Ayah.
Kalau begitu sekali
lagi Dad ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha ya..
Tertanda,
Your
Dad'
"Wekekeke, ayahmu lucu ya.." kata Ron usai membaca surat itu.
"Fyuh, yang penting sekarang mah masalahnya udah selese dan menu hari ini sudah bukan kambing lagi." ujar Heri lega.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan saja yuk.." ajak Hermione yang langsung diiyakan oleh Ron dan Heri.
Mereka bertiga langsung pergi menuju aula besar, Heri -yang memang belum makan malam kemarin- berjalan agak cepat, tak sabar ingin menyantap makanan di sana.
Cekklek, Heri membuka pintu aula besar. Namun, tiba-tiba... Brugh.. Neville menabraknya.
"Aduh, Heri.. Maaf, maaf.. Tidak sengaja.." Neville meminta maaf. "Wah, akhirnya kau siuman juga ya. Kupikir kau sekarang pasti lapar sekali, kalau begitu silakan masuk saja, Heri. Makanan hari ini enak-enak juga lho.. Katanya banyak anak-anak yang request menu kemarin, makanya hari ini menunya everything kambing lagi. Kau pasti sangat suka, kata Prof. Dumbledore kan resepnya dikirim oleh Ayahmu. Ayahmu baik sekali ya.. dan juga...."
Sebelum Neville meneruskan kata-katanya, badan Heri langsung lemas, syok dengan apa yang didengarnya. "Kambing lagi.. kambing lagi..!!" ujarnya sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri.
"Errr... kata-kataku ada yang salah ya?" tanya Neville polos.
"DASAR, NEVILLE!!!" teriak Hermione dan Ron bersamaan.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
