Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo
LOST: Memory
Chapter: 2
Seperti hari-hari sebelumnya, Matsumoto Rangiku, fukutaichou divisi sepuluh gotei tiga belas dengan langkah setengah malas menuju kantornya. Hari ini pun sang fukutaichou datang terlambat karena bangun terlalu siang. Ia yang seharusnya datang pukul setengah tujuh, hari ini datang pukul setengah dua belas. Sang fukutaichou tahu, pasti kali ini taichounya akan mengamuk dan membekukannya dengan Hyourinmaru.
"Uh'uh... taichou..." kata Matsumoto gugup sambil membuka pintu kantornya, "maaf hari ini aku datang terlambat," ia menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya bersiap menerima naga es meluncur kearahnya. Tetapi setelah dua menit berlalu, serangan naga es tidak kunjung datang. Yang lebih anehnya, tak terdengar sedikitpun suara sang taichou berambut putihnya. Biasanya akan terdengar teriakan kesal menggemparkan Seireitei setiap kali ia datang terlambat. Tetapi kali ini tak sedikitpun suara terdengar, "Uh'uh...taichou?" tanya Matsumoto bingung sambil membuka matanya. Ia mendapati ruang kantornya kosong.
Toushiro tak terlihat di manapun dalam ruangan itu. Biasanya jam-jam seperti ini Toushiro duduk di mejanya, mengerjakan tugasnya sambil mengerutkan dahinya dan menggumamkan 'fukutaichou malas' dan 'contoh Isane-fukutaichou'. Matsumoto lalu mencari taichounya di balik tumpukkan dokumen yang menggunung. Ia khawatir sang taichou diterjang longsoran dokumen itu dan terkubur hidup-hidup di dalamnya. Tetapi ternyata sang taichou tidak ada di bawah tumpukan dokumen itu. Kemudian Matsumoto pun mencarinya di bawah meja taichounya. Kemudian ia mendapati sebuah catatan kecil di tengah-tengah meja dan di antara tumpukan dokumen yang sudah selesai di kerjakan. Catatan kecil itu bertuliskan namanya di atasnya.
For: Matsumoto Rangiku aka fukutaichou paling malas sepanjang sejarah gotei tiga belas.
Membaca tulisan itu, Matsumoto pun mengerutkan dahinya dan bergumam 'Aku tidak semalas itu'. Lalu ia pun membuka catatan kecil itu dan membaca isinya.
Aku pergi kencan dengan Karin dan akan kembali pukul tujuh. Sebelum aku kembali, kerjakan SEMUA tugas bagianmu (punyaku sudah ku kerjakan SEMUA). Kalau sampai aku kembali dan melihat ada SELEMBAR pun tugas yang belum kau kerjakan, aku akan MEMOTONG SETENGAH GAJIMU selama SATU TAHUN.
Tertanda: Hitsugaya Toushiro
Selesai membaca catatan itu, Matsumoto jaw drop. Detik kemudian terdengar teriakan histeris menggema di seluruh penjuru Seireitei, "TIDAK! TAICHOU!"
~H~
Sementara itu di dunia manusia...
"Hachiu!" Toushiro bersin. Lalu dengan tatapan aneh, gadis berambut hitam di sampingnya menatapnya, "Ada apa Toushiro? apa kau kena flu?" tanya Karin dengan nada mengejek. Pangeran es kena flu? Jangan bercanda, "Tentu saja tidak, bodoh!" jawab Toushiro kesal sambil mengusap-usap hidungnya, "kelihatanya ada seseorang yang sedang membicarakanku," tetapi gadi berambut hitam di sampingnya tetap menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "Hai...hai..." kata Karin dengan nada mengejek.
Sekarang ini Toushiro dan Karin sedang berada di taman sebuah taman di kota karakura. Cuaca sangat panas untuk ukuran musim semi yang sejuk. Untuk menghindari sengatan cahaya matahari terlalu banyak mereka berdua berlindung di bawah pohon sakura yang bunganya sedang bermekaran. Mereka duduk di sana sambil memakan es krim dan memperhatikan anak-anak kecil yang bermain, "Ah... es krimnya meleleh," kata Karin sambil menjauhkan tangannya yang memegang es agar lelehan esnya tidak menetes ke bajunya.
Toushiro menangkap lengan Karin yang memegang es, dan menjilat lelehan es krim dari tangan Karin. Sepontan, muka Karin merona, "To...Toushiro..." protes Karin, "Itu kotor kan?"
"Rasa vanilla ya, aku baru tahu kalau kau suka vanilla" kata Toushiro sambil menjilat jarinya tertempel lelehan es krim dari tangan Karin. Es krim miliknya sudah habis beberapa menit yang lalu. Setelah memastikan tidak ada lelehan es yang masih menempel pada jarinya. Toushiro menyengir nakal kepada Karin, "ternyata rasanya enak juga. Aku minta lagi ya," kata Toushiro sambil menangkap tangan Karin lagi yang memegang es krim dan melahap habis es milik Karin.
"Ah... curang!" protes Karin dengan nada kesal. Ia mengerutkan dahinya kepada Toushiro, "pada hal aku menyukai rasa es krim itu."
"kalau kau mau, rasanya masih tersisa di dalam mulut ku. Apa kau mau?" tanya Toushiro sambil menyengir nakal kepada Karin. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Karin. Lalu wajah Karin pun merona kembali. Tetapi ia tidak mengelak dari Toushiro. Ketika bibir mereka hanya berjarak beberapa cm saja, tiba-tiba ada sebuah batu kecil melayang ke kepala Toushiro. Dengan spontan Toushiro menjauh dari Karin dan melihat ke sekelilingnya. Tetapi ia tidak menemukan orang atau makhluk mencurigakan lainnya yang menimpuk kepalanya dengan batu tadi.
"Ada apa Toushiro?" tanya Karin bingung melihat pacarnya seperti kebingungan melihat kekiri dan kekanan seperti mencari sesuatu atau seseorang, "Uh, tidak apa-apa," kata Toushiro sambil mengusap-usap belakang kepalanya. Timpukan batu tadi cukup keras untuk membuat kepalanya benjol. Untung batunya kecil, kalau lebih besar sedikit lagi kepalanya bisa bocor.
Karin mengangkat sebelah alisnya. Lalu kemudian dia bangkit dari duduknya dan membersihkan debu yang menempel pada celana jeans hitamnya. Tidak seperti kencan sebelumnya, kali ini Karin berpakaian seperti biasanya. Ia mengenakan kaus putih polos ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang dilapis cardigan lengan panjang berwarna hitam panjang mencapai pertengahan pahanya juga sepatu kets berwarna hitam dengan hiasan garis berwana ungu. Agar tidak menggangu, rambutnya yang panjang ia ikat kebelakang. Sementara itu, Toushiro sendiri mengenakan kaus putih lengan panjang dengan gambar naga cina hitam yang di memanjang dari pundak sedelah kanan hingga ke dadanya. Sama seperti Karin, ia juga mengenakan celana jeans berwarna hitam dengan hiasan rantai di pinggang sebelah kanannya dan sepatu basket berwarna putih dengan garis dan sol berwarna biru.
Toushiro menatap Karin, "Ayo kita pergi, ada tempat lain yang ingin kukunjungi," kata Karin sambil mengulurkan tangannya kepada Toushiro. Lalu dengan malas Toushiro menerima uluran tangan Karin dan bangkit dari duduknya. Sebenarnya dia enggan berpindah dari bawah pohon sakura yang sejuk karena cuaca hari ini sangat panas, dan ia sangat membenci panas. Tapi demi Karin akhirnya dia beranjak dari tempatnya yang nyaman, dan mengikuti Karin yang menariknya dengan bersemangat.
~H~
Sementara itu... di semak-semak tak jauh dari pohon sakura tempat Karin dan Toushiro berlindung dari panas sebelumnya, dua sosok terlihat kasak-kusuk mencurigakan. Satu sosok yang bertubuh lebih kecil terlihat sedang memiting sosok yang bertubuh jauh lebih besar darinya ketanah sambil membungkam mulutnya. Setelah Karin dan Toushiro pergi, sesosok yang lebih kecil itu melepaskan sosok yang lebih besar darinya.
"Puah... aku tidak bisa bernafas," kata sosok yang lebih besar sambil dengan rakusnya mengisi paru-parunya dengan oksigen. Kelihatannya selain membungkam mulutnya sosok yang lebih kecil itu juga tanpa sengaja menutup saluran masuk udaranya. Lalu ia mengirim death glare kepada sosok yang lebih kecil darinya, "apa kau berniat membunuhku, Rukia?"
"Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena sudah menahanmu agar tidak melompat keluar, bodoh!" kata Rukia kesal sambil mengirim death glare kepada Ichigo, "Kalau Karin tahu kau menguntitnya saat kencan, dia pasti akan membunuhmu!" kata Rukia sambil melipat kedua tanganya di depan dadanya. Dia mengerutkan dahinya kesal.
"Uh'uh...iya juga... terima kasih Rukia," kata Ichigo sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Lagi pula kenapa kita harus menguntit Hitsugaya-taichou dan Karin saat kencan? Karin sudah dewasa, dia tidak perlu diawasi lagi," kata Rukia. Ia merasa Kasihan kepada Karin yang mempunyai kakak overprotectif seperti Ichigo. Sebenarnya bukan hanya kali ini Ichigo menguntit kecan Toushiro dan Karin. Ia sudah berkali-kali menguntit mereka dari belakang untuk memastikan Toushiro tidak melakukan 'sesuatu' kepada Karin. Untuk itu ia memesan alat khusus dari Urahara untuk menyembunyikan reiatsunya sehingga Toushiro dan Karin tidak menyadarinya. Dan Rukia sendiri mengikuti Ichigo untuk mencegahnya melakukan hal bodoh yang bisa menggacaukan kencan Toushiro dan Karin, "Aku hanya ingin memastikan si pendek itu tidak melakukan sesuatu kepada adikku," kata Ichigo sambil mengepalkan tangannya dengan penuh semangat membara.
"Hitsugaya-taichou tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk kepada Karin," kata Rukia membela kekasih calon adiknya.
"Tadi dia mau mencium adikku," kata Ichigo dengan nada berbahaya. Rukia sweat drop mengingat Ichigo sangat mirip dengan kakaknya. Byakuya hampir saja membacok Ichigo dengan Senbonzakura ketika ia melihat Ichigo mencium dirinya, 'Apa semua kakak laki-laki selalu beraksi berlebihan seperti itu ketika melihat adiknya dicium seseorang?,' tanya Rukia dalam hati. Kemudian ia menyadari Ichigo bangkit dari duduknya, "Hei, kau mau kemana?" tanyanya kepada Ichigo.
"Tentu saja aku mau mengikuti mereka lagi, bodoh!" jawab Ichigo sambil keluar dari semak-semak. Tetapi kemudian Rukia menjegal kakinya hingga ia jatuh ketanah, "O...oi..." protes Ichigo ketika ia merasakan kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan.
Rukia menggunakan bakudo ke satu, sai, untuk mengikat Ichigo, "Sudahlah, kita biarkan saja mereka," kata Rukia sambil menduduki punggung Ichigo yang meronta mencoba melepaskan diri dari bakudonya.
~H~
"Apa masih ada lagi yang ingin kau beli?" tanya Toushiro ketika Karin selesai membayar benda yang dibelinya, "Sudah selesai," kata Karin sambil memeluk bungusan didadanya dengan senang. Toushiro mengangkat sebelah alisnya melihat ekspresi bahagia kekasihnya. Karena penasaran akhirnya ia bertanya kepada Karin apa yang dibelinya, "kelihatanya kau sangat senang. Seberanya apa yang kau beli?" tanya Toushiro ketika mereka keluar dari toko. Lalu karin membuka bungkusannya dan memperlihatkan apa yang di belinya.
Mata Toushiro melebar melihat sebuah handuk kecil untuk olah raga berwarna biru muda dengan rajutan gambar anak perempuan berambut hitam dan anak laki-laki berambut putih yang mirip dengannya dan Karin. Di bagian ujungnya juga nampak inisial nama mereka 'T' dan 'K'. Nampaknya toko tadi melayani pemesanan membuat rajutan nama dan gambar, "Lihat! Bagus kan? Aku menemukan toko itu ketika aku mencari toko yang menjual handuk kecil untuk olah raga. Karena sepertinya menarik, aku memesannya," kata Karin sambil tersenyum.
"Bagus sekali," kata Toushiro sambil mempehatikan rajutan gambar di tengah handuk kecil itu. Ada sebuah gambar hati di antara gambar anak laki-laki dan perempuan itu. Lalu Karin mengeluarkan satu lagi handuk dari dalam bungkusannya yang mirip dengan handuk sebelumnya, perbedanya handuk itu berwarna hijau, "Aku juga memesannya satu untukmu," kata Karin sambil menyerahkannya kepada Toushiro, "dengan ini baik aku dan kau bisa terus mengingat satu sama lain dimanapun kita berada," Karin menolehkan wajahnya kesamping, wajahnya merona sangat merah.
Toushiro mengambil handuk itu dari tangan Karin , "Terima kasih Karin," kata Toushiro sambil tersenyum lembut. Matanya terlihat sangat lembut. Melihat hal itu, wajah Karin bertambah merona menjadi merah padam, "Ha.. ha... ha... itu bukan masalah," kata Karin gugup sambil memukul punggung Toushiro sangat kencang. Lalu ia membalikan tubuhnya agar Toushiro tidak bisa melihat wajahnya yang merona. Sementara itu, Toushiro sendiri mengelus-elus punggungnya yang mendadak encok sambil menggumamkan, "Pacar yang sadis."
~H~
"Ah~ Toushiro...Lihat ada photo box," kata Karin sambil menarik tangan Toushiro menuju photo box itu. Toushiro mengerutkan dahinya, "Hah? Lagi?" tanya Toushiro dengan nada garing. Ini bukan pertama kalinya Karin mengajaknya foto bersama di photo box. Ia kurang menyukai tempat yang semit seperti photo box, apa lagi bersama gadis yang ia cintai karena hal itu membuat jantungnya berdebar-debar sangat kencang dan wajahnya menjadi merona. Dalam jarak yang sangat dekat, Karin tidak mungkin tidak menyadari wajahnya merona. Setelah itu Karin pasti akan menggodanya habis-habisan.
"Iya... cepat masuk," kata Karin sambil menendang Toushiro masuk kedalam photo box. Setelahselesai memilih bingkai, dengan Karin berkata, "Ayo... Toushiro, cepat pasang pose yang imut, "Ha...ha... imut ya?" kata Toushiro garing sambil mengerutkan dahinya, 'bagaimana mungkin, aku, taichou divisi sepuluh yang dijuluki pangeran es, berpose dengan imut? Jangan bercanda! Itu bisa merusak imageku dan reputasiku sebagai taichou divisi sepuluh yang dingin yang sudah kubuat selama ratusan tahun,' kata Toushiro dalam hati.
~H~
Sementara itu, Ichigo yang sudah berhasil melepaskan diri dari bakudo Rukia kembali menguntit kencan Karin dan Toushiro. Ia melarikan diri dari Rukia setelah menggunakan lem khusus yang ia beli dari Urahara untuk mengelem rok Rukia di semak-semak sehingga ia tidak bisa mencegahnya menguntit Karin dan Toushiro lagi. Ichigo mengepalkan tangannya kesal saat ia melihat Karin menyerahkan sesuatu kepada Toushiro dengan wajah merona, "Sial si kuntet itu," kata Ichigo dengan nada berbahaya. Orang-orang di sekitarnya bisa melihat hawa hitam mengelilinginya, "Karin tidak pernah memberikan sesuatu kepadaku selain hadiah ulang tahun. Tetapi si kuntet itu mendapatkannya. Kurang ajar!" kata Ichigo sambil meremas tinjunya, "Lihat saja... ketika ia kembali ke Soul Society, akan ku buat si kuntet itu tidak bisa dikenali lagi," kata Ichigo dengan nada berbahaya. Orang-orang di sekitarnya bisa melihat bayangan lucifer di atas punggung Ichigo.
Kemudian, wajah Ichigo berubah merah karena marah saat ia melihat Karin mendorong Toushiro masuk kedalam photo box, "Argkh... mereka masuk kedalam ruang sempit itu berdua," teriak Ichigo marah. Dalam kepalanya ia membayangkan Toushiro melakukan sesuatu yang buruk kepada Karin, "tak akan kubiarkan si kuntet itu menyentuh adikku. Akan ku buat ia menderita seribu tahun kalau ia menyentuh adikku seujung jari pun," kata Ichigo dengan nada pembunuh berdarah dingin sambil menuju photo box.
Tetapi ketika ia hampir mencapai photo box itu, tiba-tiba terdengar suara yang membuat bulu kuduk Ichigo berdiri mendengarnya, "I~ chi~ go..." panggil seseorang dengan nada berbahaya. Lalu Ichigo membalikan tubuhnya dan melihat seorang dewi kematian bertubuh mungil berdiri di belakangnya dengan reiatsu meluap-luap berbahaya. Sang dewi kematian menatapnyadengan tatapan yang bisa membuat nyali sang dewa kematian berambut orange itu menciut hanya dengan melihatnya.
'Sial Rukia... cepat sekali ia lepas dari lem itu,' kata Ichigo dalam hati. Ia mengumpat Urahara yang memberikan produk tak bermutu kepadanya. Seharusnya dari awal ia tidak pernah mempercayai produk buatan pemilik toko permen mencurigakan itu dan membelinya begitu saja tanpa memeriksanya terlebih dahulu, 'sial... pada hal harganya mahal sekali,' kata Ichigo kesal mengingat ia sudah mengeluarkan uang banyak hanya demi produk tak bermutu itu.
"Berani-beraninya kau mengelem rok baruku kesemak-semak terkutuk itu," teriak Rukia kesal sambil melayangkan tinjunya kearah wajah Ichigo.
Saat Rukia melayangkan tinjunya Ichigo terpaku ditempatnya karena terlalu takut melihat death glare Rukia bahkan untuk menghindari bahaya yang menuju kearahnya. Lalu dengan sukses mendaratlah sebuah pukulan telak ke mata kiri Ichigo yang membuat Ichigo terpelanting ke belakang, dan menabrak photo box di belakangnya.
~H~
"Toushiro... ayo senyum..." selesai Karin berbicara cahaya blitz pertama muncul. Itu lah photo pertama mereka hari ini dan masih ada empat lagi. Lalu Karin bergeser lebih dekat lagi dengan Toushiro dan merubah posenya. Dengan setengah terpaksa akhirnya Toushiro mencoba tersenyum kepada Kamera sambil merangkul pundak Karin.
Dua...tiga... dan ketika photo keempat, tiba-tiba saja photo box itu berguncang dan membuat Toushiro dan Karin di dalamnya ikut terguncang.
Mata Toushiro terbelalak merasakan bibir karin menyentuh bibirnya, begitu juga dengan Karin. lalu cahaya blitz terakhir pun muncul. Mereka terfoto saat mereka berciuman. Lalu mereka pun menjauh dengan wajah amat sangat merona.
Karin dan Toushiro menyadari ada suara berisik yang sangat familiar dari luar. Saat mereka mendengarkannya baik-baik, mereka menyadari suara itu adalah milik Ichigo dan Rukia. Lalu dengan amat sangat marah Karin melompat ke luar dan mendapati Rukia yang sedang mencoba membunuh Ichigo, "Rukia-nee tolong hentikan," kata Karin dengan nada datar. Lalu kedua shinigami di hadapannya menatapnya dengan wajah horror.
"Biar aku saja yang melanjutkannya," kata Karin dengan nada berbahaya sambil meremas tinjunya. Lalu dengan damai Rukia melepaskan tunangannya untuk dibantai oleh adiknya sendiri.
~H~
"Dasar Ichi-nii bodoh..." protes Karin. Sekarang ini dirinya dan Toushiro berada dibukit Karakura sambil menatap matahari tenggelam. Setelah puas menghajar Ichigo, Karin meninggalkannya untuk dirawat oleh Rukia. Walaupun setelah itu Karin yakin Rukia akan memukulinya lagi karena sudah merusak rok barunya. Kecuali, nyawa Ichigo akan selamat jika tiba-tiba ada chappy lewat dihadapan mereka sehingga Rukia lebih tertarik untuk menangkap chappy itu dari pada memukulinya.
Karin menolehkan kepalanya kearah kekasihnya yang sedang menatap hasi foto dari photo box tadi dengan wajah merona. Karin membuatnya jadi dua, sehingga masing-masing dari mereka memegang satu. Lalu wajah Karin pun ikut merona mengingat foto terakhir mereka adalah saat mereka berciuman, "Toushiro?" panggil Karin. lalu dengan panik Toushiro meremas foto itu dan memasukkannya kedalam saku celananya,"Uh'uh... ada apa Karin?" tanya Toushiro gugup.
"Minggu depan sekolahku akan mengadakan pesta olah raga. Apa kah kau bisa datang?" tanya Karin.
Toushiro mengingat-ingat jadwalnya minggu depan. Ketika ia yakin tidak ada rapat taichou atau urusan penting lainnya, Toushiro menganggukan kepalanya, "Baiklah aku akan datang," kata Toushiro. Lalu dengan wajah ceria Karin melompat kearahnya dan memeluknya, "Terima kasih Toushiro."
Toushiro sedikit terkejut saat tiba-tiba Karin melompat kearahnya dan memeluknya. Tetapi kemudian ia menganggkat tangan kanannya dan mengelus-elus rambut panjang Karin.
~H~
Tetapi kelihatanya kali ini apa yang mereka rencanakan tidak akan berjalan baik seperti biasanya. Sebaik apa pun mereka menjaga rahasia, nampaknya hal itu tidak menjamin rahasia mereka tidak akan di ketahui oleh Soul Society. Pasalnya, keesokan harinya seluruh taichou dipanggil untuk menghadari rapat darurat. Lalu tanpa curiga Toushiro dan taichou lainnya menghadiri rapat tersebut.
"Taichou sekalian... " kata Soutaicou membuka rapat, "seperti yang kalian ketahui hukum Soul Society adalah hukum yang dibuat untuk menjaga keseimbangan Soul Society dan dunia manusia. Baik itu adalah shinigami terendah maupun bangsawan, hukum Soul Society adalah hukum absolut yang harus dijalani oleh semua shinigami tanpa mengenal status mau pun jabatan," Soutaichou terdiam sejenak. Ia membuka sebelah matanya dan menatap seluruh taichou yang hadir dalam rapat itu satu persatu.
"Namun aku sangat kecewa karena ada salah seorang dari kalian yang melupakan hal itu, dan menjalin hubungan dengan manusia yang merupakan salah satu larangan dalam hukum Soul Society," mendengar hal itu, wajah Toushiro dan beberapa taichou yang menghadiri rapat itu berubah pucat. Mereka tahu pasti siapa yang soutaichou maksud. Selama ini mereka sudah mengetahui hal itu dan tetap menutup mulut mereka untuk melindungi Toushiro. Tetapi nampaknya ada seseorang yang tidak menyukai Toushiro dan menyampaikannya pada soutaichou, "Apa jawabanmu, Hitsugaya Toushiro-taichou?"
~H~
Hai.. mina... setelah sekian lama akhirnya kusa bisa update fic ini juga...
Gomen ya... /
Karena kemungkinan cerita ini akan menjadi cerita yang panjang seperti seri sebelumnya, maka kusa akan mulai inti cerita ini dari cahpter depan
Yupz... Toushiro udah ketahuaan, kira-kira bagaimana ya nasib Toushiro dan Karin setelah ini?
Hukuman apakah yang akan di berikan soutaichou kepada Toushiro?
Temukan jawaban anda di chapter selanjutnya... mua ha ha...XD
Mind to treview?
-kusanagi-
