Langkah kaki terburu-buru memijaki hijaunya rerumputan lembut disebuah hutan bernama Namimori. Kening secerah matahari menyoroti mulus kulit miliknya hingga bersinar terang disela-sela aktivitasnya, kakinya tetap berlari menelusuri pepohonan lebat yang kadangkala menghalangi jangkauan penglihatannya. Sudut matanya melirik ke arah sungai mengalir deras membawa kelopak dedaunan terbawa arus.
Terdapat burung-burung berkicauan selagi dirinya menubruk batang pohon hingga membuat sarang rumah mereka jatuh bersamaan telur-telur. Giannini menelan ludah, terpaksa harus menaiki pohon tersebut demi meletakan kembali tempatnya. Jemari tangannya mengapit dahan-dahan diatasnya erat, takut terjatuh gara-gara ulah ceroboh.
Bisa gawat bila jatuh diketinggian lebih 2 meter, otot-ototnya akan terasa ngeri ditambah tulang tak menjamin tetap kokoh tanpa retak.
Pelan-pelan Giannini menduduki bebatangan pohon kuat menopang bobot badannya. Hembusan nafas lega tercipta nyaman begitu burung biru menghinggap pada pundak miliknya. Seketika Giannini terkekeh menyadari usahanya tidak sia-sia untuk memperbaiki sarang-sarang burung.
Karena terlena keasyikannya merawat burung semanis lolipop—Giannini sampai lupa bahwa ia mempunyai tugas yang lebih penting daripada mengerjakan pekerjaan rumah kesehariannya dulu—langsung melompat dari tempat dimana ia duduk—Giannini segera mengeluarkan sinyal ponsel, melacak keberadaan manusia disekitar.
"Beruntung aku membawa handphone ini..., mou—Reborn-san jahat sih." Ungkap sang pitak berjongkok dihadapan danau bersih berwarna biru tua, menunjukan kedalamannya mencapai belasan meter.
Pemandangan sekarang sungguh memikat mata, memanjakan keindahan alam murni yang masih utuh tidak dihapus oleh pemerintahan kota. Oh, jangan tanyakan kenapa alasannya hutan Namimori dibiarkan hidup sampai sekarang—lupakan soal Hibari.
"Sekarang..., aku perlu mengelilingi hutan. Semoga saja aku bertemu dengan Vongola-Vongola generasi ke—entah yang keberapa.. asalkan mereka muncul!"
Mustahil jika harapan itu akan terkabul, siapa tahu Tuhan memiliki rencana baik untuknya? Mengabulkannya sangat mudah hanya dengan jentikan satu jari setelah mendengar bunyi semak-semak bergerak mencurigakan.
Giannini awalnya tidak memperdulikan arah dedaunan kecil itu bergerak, namun pikirannya semakin terusik—penasaran akan dibalik dalang penggerakan daun tersebut.
"Tertangkap kau!"
—Tumitnya reflek melompat menerjang kemana semak-semak tumbuh, tak berpikir ulang bagaimana resiko-resiko bila mendekati tanaman itu. Bisa-bisa dibalik sana merupakan beruang liar yang tak disengaja dilepas pemerintahan? Habislah kau.
Kedua kelopak matanya tertutup rapat, tak berani membukanya untuk melihat kejadian sebenarnya. Giannini terasa memeluk seseorang—hangat? Jangan bilang kalau dirinya menindih manusia?
"A-awh! Sumimasen!"
Giannini menarik diri menjauhi korban penindihan barusan, secepat kilat menyambar bumi—ia membungkuk serendah sepatu yang dipakainya, berharap lawan pembicaraannya mampu memaafkan kesalah pahaman ini. Salahkan kenapa Giannini terlalu nekat melakukannya.
"Jahat sekali, lihat—kelincinya kabur."
"Ehh?" Giannini mengangkat kepalanya tegap-tegap, melihat ketujuh orang tengah berkumpul di tengah hutan dengan ekspresi waspada. Pakaian yang mereka kenakan cukup berbeda—semi formal?
Glek—
Pistol hitam mengkilap tertodong jelas didepan pelipis miliknya. Giannini tercekat, tak bisa bergerak sebebasnya setelah pria berambut merah jambu menodongnya pistol. Tolong jelaskan sekarang juga! Sebenarnya mereka siapa? Kenapa aku harus ditodong seperti ini? Berpikir ulang—pakaian berbeda, formal, aura mafia—waspada?
"Masaka—" Giannini membulatkan iris sekelam langit malam, membiarkan imajinasinya berterbangan dalam memori masa lampau. "Kalian—adalah pengikut Vongola Primo, 'kan?!"
Alis G berkedut sesudah menanggapi respon Giannini, sialnya pria besar ini mengetahui identitas aslinya. Musuh kah?—bersiap menekan pelatuk. "Siapa kau, gendut?" G menengadahkan dagunya—mengintimidasi Giannini.
"A-ah, begini. Tolong dengarkan baik-baik.." Giannini menarik nafas dalam-dalam, masih gugup saat melihat Alaude bersiap mengeluarkan senjata.
Hatinya gugup seketika jantung miliknya berdetak kencang melebihi iringan awan nan melintasi langit sebiru laut. Suhu tubuhnya mendadak mendingin begitu mengetahui keadaannya tidak memungkikan untuk mereka agar percaya langsung padanya. Belum lagi Vongola Primo beserta guardiansnya dicap sebagai orang cupu—tradisional. Masih belum tahu peningkatan negaranya sendiri.
Di era sekarang tidak ada lagi orang memakai jubah-jubahan seperti yang dipakai Giotto. Giannini semakin bingung bagaimana ia harus menjelaskannya dari pertama—ia tahu situasinya tak bersahabat, Dewi Fortuna sekarang tak memihaknya. Tapi, tidak ada orang yang gagal jika terus berusaha.
"Apa kami harus percaya, hah?" G memajukan wajahnya, meneliti Giannini apakah dia berkata bohong atau tidak.
Alaude mengalihkan perhatiannya sekejap setelah mendengar desahan halus mengusik pendengarannya. Memerintah segenap perhatian miliknya terarah pada Giotto—sedang berusaha bangun dari istirahatnya nan panjang.
"Tunggu G, tidak usah memperlihatkan senjata. Kita dengarkan dia, aku yakin—dia tidak membekali barang-barang berbahaya." Knuckle—pendeta asam namun sangat bergairah demi mencari ilmu untuk pengetahuan keagamaan membela Giannini.
Ia membungkuk meraih ponsel Giannini yang jatuh dan menyerahkannya, diduga barang tersebut dianggap sebagai barang biasa yang ada di jaman dahulu—padahal ceritanya beda.
"Fuu~, manusia lemah ternyata—boleh kuambil tubuhnya?" Daemon Spade melirik sekilas keadaan Giotto. "—tapi tidak seindah tubuh GiottoKu."
Refleksi, G melotot mengikuti letak Daemon berdiri. Lancang sekali berbicara seenaknya, berhubungan Daemon menyebut-nyebut Giotto—ini sangat memalukan baginya karena membiarkan Daemon berkata seenaknya seperti sekarang. Giotto ialah manusia paling suci dari yang lain—masih polos tanpa bercak kemesuman sepertinya.
Sudah sebagai tugasnya untuk menjaga kepolosan Giotto dari orang lain, khususnya Daemon. Lebih baik mati ketimbang melihat Giotto berada didekapan Daemon maupun Alaude—oh lupakan posisi mereka sekarang. Sejak tadi, Alaude tidak mau melepaskan Giotto. Terus nyaman mendekap Giotto agar tidak direbut oleh orang lain, itu cukup menyindirnya.
Seolah-olah memfokuskan raganya kepada Giannini, G meregangkan otot-ototnya. Menurunkan pistolnya ke bawah seraya duduk didepan Giannini agar menyetarakan ketinggian.
"Jelaskan padaku, gendut." G menyuruhnya tanpa ada penolakan membuat Giannini mau tak mau harus mengiyakan apa yang diperintahkan olehnya.
"Ini berawal dari barangku yang kubuat, gara-gara itu kalian terseret kemari—ke masa depan dimana Sawada Tsunayoshi menjabat sebagai Vongola generasi ke-sepuluh setelah Kyuudaime. Jangan terkejut karena perkembangan di Jepang sangat pesat, perlu kuingatkan—kalian akan dianggap orang aneh jika berpakaian seperti itu. Bagaimana jika datang ke rumah Vongola? Disana akan mendapatkan jawaban sesuai keinginanmu,"
Giannini menggaruk kepalanya yang tak gatal, berasa bersalah mengingat usahanya begitu menghancurkan mental Vongola Primo. Entahlah—ini sudah takdir.
"Jika kau berbohong—" Alaude menuruni Giotto perlahan ke belakang pohon—guna mengistirahatkannya disana. Ia memperlihatkan dua borgol dikelilingi warna ungu pekat sambil mempertahankan ekspresi ketajamannya.
"—Aku tak akan segan membunuhmu."
Begitulah perkataan dari mulut sexy milik Alaude, sang penjaga awan generasi pertama, sekaligus pemimpin Intel Prancis—kebetulan dijamannya ia direkrut oleh Amerika selama 2 tahun. Namun kali ini Alaude harus mengabaikan tugas-tugasnya disana, mengingat dirinya kembali hidup—atau berpindah jaman cukup jiwanya terganggu.
Menyaksikan hutan lebat yang terawat—Alaude bergumam pelan menganggumi beberapa bunga-bungaan tumbuh menempel dipermukaan tanah lembut ditutupi ribuan rerumputan.
"Nh—"
Alaude menoleh.
—Mendapati siluet pirang kesayangannya terbangun berangsur-angsur. Kelihatannya masih mengumpulkan kesadarannya tetapi matanya sepenuhnya terbuka. Bibirnya hendak mengucapkan sepatah kata—namun gerakannya terhenti ketika Asari Ugetsu menggelengkan kepalanya. Memperingati Giotto agar tidak bicara.
"Melihat bos kami sudah bangun. Antarkan kami ke penginapan Vongola." Alaude menghampiri kemana Giotto terduduk lemas, masih memandangi Alaude keheranan.
"Ha-ha'i!"
Pertemuan pertama Gianni antara Vongola generasi pertama mengakibatkan seluruh mentalnya kian menipis seiringnya waktu berdetik tak berhenti. Seutas rasa bangga terbesit dalam benaknya, ia mampu menciptakan sesuatu bohong menjadi kenyataan. Suatu saat nanti—bagaimana jadinya ia membuat barang-barang lain?
Seperti ramuan cinta? Atau obat perangsang hingga seseorang akan bergairah menginginkan sentuhan sensual dari sesama jenis. Pikirannya memang sangat melenceng dari pembicaraan barusan, tetapi Giannini tak bisa menghentikan ide buruknya.
Kira-kira Reborn akan memberi respon seperti apa?
Terutama untuk Tsunayoshi—
Vongola 10st and 1st © Leenalytte
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Pairing: [1827/Hibari KyouyaxSawada Tsunayoshi], Yamamoto TakeshixGokudera Hayato, [AG/AlaudexSawadaIeyasu/Giotto], slight(Mukuro RokudoxsSawada Tsunayoshi), slight(Daemon SpadexSawada Ieyasu/Giotto), Ugetsu AsarixG, and other pairs.
Rated: 15+ (akan bertambah seiringnya alur berjalan)
Warning: Typo (untuk berjaga-jaga), EYD, Hurt, Drama, Fighter, semi-Canon/semi-AU, Romance, Lemon(?), BoysLove, Yaoi, Shounen Ai, and others
Don't like Don't read and Happy reading.
Chapter 2: A Thousand Challenges
Burung kuning berperawakan amat kecil terbang menyanyikan lagu kebangsaan sekolah Namimori seraya mengepakan sayap kecilnya berkali-kali. Bibir monyong miliknya tak henti berucap sebelum bertemu majikan tersayang, hewan itu berbelok menuju arah atap sekolah—biasanya majikannya sedang tertidur disana ketika waktu istirahat sudah dimulai. Tebakannya ternyata benar, Hibird—meletakan kaki mungilnya disudut pundak Hibari, memastikan masternya terlelap tidur atau belum.
Kebiasaan Hibari ialah mengistirahatkan setengah inderanya di sini, menghabiskan sisa-sisa waktu luangnya untuk menikmati kecantikan penampakan langit pagi hari. Tidak terlalu buruk sepanjang hari menunggu bel kedua berbunyi lantang demi menunggu tugasnya dilaksanakan. Pukul 11 siang nanti akan diadakan patroli dadakan, menghambat murid berandalan beraksi.
Biasanya sering dilakukan aksi kekeran dilorong sepi dekat ruang kesehatan, pernah terjadi perampasan uang secara paksa oleh pelajar preman jadi-jadian. Mengingat kejadian itu berulang dalam tali memori—Hibari mengerjap kedua matanya. Hibird sudah pulang dan tertidur.
Sontak jari telunjuknya terulur meraih pipi chubby Hibird, terdengar lucu. Hibari tersenyum tipis menyadari Hibird menyukai setiap sentuhan miliknya, tak heran penjaga lainnya menganggap Hibari pecinta hewan sehingga seenaknya memutuskan pekerjaan nanti sebagai dokter hewan.
Anehnya Hibari tak berminat memasuki kedokteran di bidang kehewanan, ia ingin lebih lama lagi—selamanya berada dikeluarga Vongola. Hangat layaknya pelukan Ibu—sejujurnya Hibari belum tahu siapa kedua orang tuanya, tapi mengetahui jiwanya sekeras baja ia sudah terbiasa dalam kesendirian. Bukan Hibari namanya bila begitu saja langsung menangis tanpa menahan emosi.
Ya, sekarang Hibari tidak tahu cara memperlihatkan keaslian emosinya. Marah, menangis—seolah-olah menunjukan ekspresi yang sama padahal beda emosi—menjadi sulit untuk diperlihatkan. Hibari telah menjadi orang kaku bahkan tidak mengenal arti kebahagian maupun berpikiran mengenai cinta.
Diumurnya yang menginjak remaja dewasa seharusnya menghabiskan waktu-waktunya bersama teman seahkrabnya, bukan bertarung atau menghancurkan niat-niat preman. Ada baiknya membantu ketentraman kota Namimori karena ulahnya—namun Hibari perlu teman, membutuhkan beberapa tempat cerita agar melepaskan emosi sejujurnya.
Tetapi ia terlalu membenci mengakuinya sehingga Hibari berubah kejam, meski samar-samar terlihat khawatir saat Tsunayoshi bertarung melawan Byakuran habis-habisan. Terbesit benang menggoresi hatinya ketika dirinya tak bisa membantu Tsunayoshi membunuh Byakuran beberapa bulan lalu. Sungguh kesal, tapi sekarang Hibari sudah bisa mengatasinya.
Kini semuanya aman, tak terjadi apapun. Kembali hidup normal.
Kecuali orang-orang pengganggu yang tanpa ijin memasuki area faforitnya—Tsunayoshi beserta ketiga temannya berkumpul didepan pintu masuk sambil membawa bekal makanannya masing-masing.
Serentak Hibari terbangun, memaksakan kehendaknya untuk bangun menghampiri mereka berempat.
"Ada apa perlu apa kalian kemari?" Hibari memasukan sebelah lengannya ke dalam saku celana, mengamati gerak-gerik Tsunayoshi yang menurutnya mencurigakan. Ditambah semu-semu kemerahan tercetak pada wajah manisnya.
"Tch, justrul itu pertaanku, Hibari! Kenapa kau bisa ada disini?" Gokudera tak mau kalah berusaha menunjukan sisi kejantanannya sebagai tangan kanan Juudaime tersayang.
"Hn," Hibari memejamkan mata.
"S-sudahlah Gokudera-kun, Hibari-san tidak salah—memang kebiasannya dia ada disini." Akhirnya Tsunayoshi angkat bicara, berniat membela sosok yang diam-diam ia cintai.
Ryouhei menaikan alisnya, mengepalkan kedua tangannya erat—menangkap udara sembari memperagakan kuda-kudanya. Ia melirik Yamamoto kemudian tertawa setelah menangkap raut cemburu diwajahnya—mungkinkah Yamamoto tidak sudi melihat GokuderaNya terus bertengkar dan mengabaikan dirinya?
"Wao,"
Hibari menyeringai tipis, melangkah melewati Tsunayoshi—sebelumnya Hibari sempat menyentuh jemari hangat milik sang Decimo, menautkannya singkat dan terpisah.
"H-Hiee!" Kalut dalam keterkejutan, Tsunayoshi membalikan badannya. Ingin melihat punggung tegap Hibari pergi menghilang dari pemandangannya. Entah kenapa ia merasa bersalah, ataukah ini hanya imajinasinya sendiri? —Hibari-san terlihat kesepian?—menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
Berhenti memikirkannya, Tsuna! Kau harus fokus untuk ulangan tes besok!—mendadak pikirannya kembali semula, Tsunayoshi duduk dahulu untuk memulai makan siangnya, diikuti Gokudera memilih tempat disamping bos kesayangan, jangan lupakan Yamamoto terus menghimpit Gokudera ke ujung jeruji penghalang atap dinding.
"Berhenti mendesakku, bodoh!" semprot Gokudera tak rela.
Yamamoto tersenyum menutupi matanya. "Tidak boleh?"
"Tentu saja! Itu mengangguku, sialan! Pergi sana!" serunya melemparkan tatapan tajam seperti biasa.
Tsunayoshi tersenyum kecut mendengar adu mulut pertengkaran antara Gokudera dan Yamamoto, mereka berdua hampir melakukannya disetiap waktu. Meskipun begitu, akan tetapi mereka terlihat akhrab jika disatukan dalam pertarungan, seperti dalam medan tempur Gamma anggota Black Spell Millefiore.
Sumpit cokelat tergenggam erat mengapit makanan kesukaannya, membawanya ke dalam mulut dengan pikiran melayang ke arah Hibari. Kenapa aku harus mencintainya?—mengunyah diam.
"Sawada!" Ryouhei berteriak, nyaris membuat Tsunayoshi tersedak.
"Y-ya Onii-san?" ulang Tsunayoshi mempertanyakan.
"Bisa kau antarkan ini ke ruangan Komite Kedisiplinan? Aku lupa memberikan buku ini padanya barusan, Sawada bisa kan kesana?" Ryouhei tersenyum gagah, memberikan buku tebal ke hadapannya.
Tidak mau membuat Ryouhei kecewa akan jawabannya, Tsunayoshi hanya bisa menerima apa yang diminta Ryouhei, tidak salahnya membantu teman sekaligus kakak ipar—coret, sedang kesusahan.
Kakinya pun berdiri bersiap menyusul Hibari ke ruangan, biasanya jam sekarang Hibari akan berpatroli—kemungkinan besar tidak ada diruangannya. Baguslah, ia bisa bebas dari kecaman kamikorosunya.
"Engh? Juudaime pergi kemana?" Gokudera bertanya. Menyadari keberadaan Tsunayoshi sudah menghilang.
Ryouhei tertawa. "Saking asyiknya kencan, kalian melupakan Sawada, hahaha Kyokugen sekali!"
Gokudera mendecakan lidah, terasa kelu ingin berprotes mengingat dirinya memang menginginkan kesehariannya bersama Yamamoto adalah kencan buta yang diam-diam ia anggap.
"Dia sedang mengembalikan buku senpai, iya 'kan?" Yamamoto menutup bekal bentonya, melapisi kotak tersebut dengan kain biru tua bermotif bintang-bintang.
"Iya, aku malas kesana sekarang!" Ryouhei menaiki tangga ke atas—guna melihat pemandangan lebih tinggi. Gokudera menepuk jidat miliknya sendiri, memutuskan kembali berbincang dengan Yamamoto tersayang.
Ruang Komite Kedisiplinan, [10.50 AM]
Koridor ditelusuri bebas menyebabkan bunyi gesekan sepatunya menggema dalam ruangan. Satu persatu kelas dilewati cepat gara-gara menggunakan setengah tenaganya untuk buru-buru sampai didepan pintu bertulisan Komite Kedisiplinan, sempat takut jika tiba-tiba penerima tamunya lebih menyeramkan daripada Hibari Kyouya.
Tapi mustahil ada orang yang sangat mengerikan apalagi melebihi kesadisan Hibari. Segera Tsunayoshi membuang semua imajinasinya jauh-jauh yang tak berguna, demi keselamatan dirinya sendiri—ia harus mempersiapkan mentalnya matang-matang sebelum mengetuk pintu.
Yosh—tidak apa-apa, Tsuna. Kau bisa!—baru saja punggung tangannya hendak menubruk pintu tersebut—mendadak suara baritone terdengar dari arah belakang, Tsunayoshi nyaris menjerit namun langsung ditahan begitu mengenali suaranya.
"H-Hibari-san!"
Lawan bicaranya bergumam pelan, melirik benda yang dipegang Tsunayoshi. Mengerti akan arah tatapan Hibari—Tsunayoshi memberikan kertas-kertas bacaan menggunakan kedua tangannya. Ia takut dihabisi langsung olehnya, kebetulan badannya masih terasa pegal setelah peperangan penyegelan Mare Ring bulan lalu.
"Herbivore,"
"I-iya Hibari-san?"
"—Kemari," Hibari membuka pintu ruangan Komite santai, berjalan mendahului letak Tsunayoshi tidak memperdulikan rasa canggung dialami sang Decimo disana. Ia masih terpaku, mencerna satu kalimat perintah padanya.
Takut-takut Tsunayoshi mengikuti Hibari dari belakang, ia menutupi pintunya kemudian tatapannya menghadap menatap Hibari tengah duduk di atas sofa hijau nan empuk. Tangannya menepuk kursi disamping tubuhnya, menyuruh Tsunayoshi duduk ditempat yang sudah ditunjukan.
"E-Eh? T-tapi Go-kudera-kun—etto... ano, aku punya—"
"Berani melawanku, Sawada Tsunayoshi?"
Skakmat.
Sebuah tetesan keringat keluar mencair berjatuhan disudut pelipis mulus miliknya. Kakinya dilangkahkan tergugup-gugup menghampiri sofa—dimana Hibari duduk. Berbicara dengan orang yang disukai terkadang membuat pikiran kita melayang kemana-mana, tak sempat menyembunyikan rasa malu dilubuk hati gara-gara orang itu.
Kenapa juga dirinya harus mencintai sosok sadis seperti Hibari? Memberinya kasih sayang, harapan ataupun pengertian pun tidak pernah—tapi kenapa perasaannya terus bertambah?
Tsunayoshi akhirnya menuruti apa yang diperintahkan Hibari untuk duduk disampingnya. Dia menenggak ludah dengan terpaksa, terdengar sangat canggung melihat reaksi Tsunayoshi. Jemarinya saling bertaut, bingung harus membuka topik apa agar memecahkan keheningan dalam ruangan.
Reborn—tolong aku!—terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga Tsunayoshi tak sadar bahwa telapak tangan milik Hibari menyentuh rambutnya—mendorong kepalanya agar bersandar di atas pundak si penjaga awan.
"Hi—bari-san?"
"Tidur." Hibari menoleh kearahnya, memandangi sorot mata Tsunayoshi yang secerah matahari tenggelam meninggalkan indahnya bumi.
"Tapi aku perlu belajar, belum lagi tugasku belum terselesaikan—H-Hiiee!"
Perkataan Tsunayoshi tidak dilanjutkan sesudah menyaksikan tonfa dibalik gakuranya. Dengan helaan nafas, matanya terpejam membiarkan beban kepalanya ditahan oleh pundak Hibari. Parfum melekat pada bajunya sangat wangi, sampai-sampai Tsunayoshi betah menciuminya.
"Akan kubangunkan setelah bel berbunyi, beristirahatlah disampingku." Ungkap Hibari mengambil buku di atas meja kaca, membaca tulisan demi tulisan tertera dihadapannya.
Tsunayoshi pasrah, ia tertidur pulas tak menyadari seringai tipis terpasang samar pada bibirnya. Hibari puas, bisa ditemani oleh pemimpin Mafia. Setidaknya rasa kesepiannya terobati ketimbang harus menggalau melampiasi amarahnya dengan bertarung bersama anak-anak preman.
Seandainya rasa malu itu menghilang, sesegera mungkin aku akan mengungkapkan perasaan sejujurnya padamu, bahwa aku—menyukaimu.
"Juudaime! Woy, kau melihat Juu—maksudku Tsunayoshi Sawada?"
Kyoko Sasagawa menggeleng, bingung menonton reaksi Gokudera—begitu gelisah. Apa yang terjadi sebenarnya? Simpel, keberadaan Tsunayoshi menghilang saat disuruh oleh Ryouhei untuk mengembalikan buku ke—brengseknya otak Gokudera tidak bekerja dalam situasi genting seperti ini, dirinya tidak tahu ke tempat siapa Tsunayoshi mengembalikan buku tersebut.
Yamamoto mencekal pergelangan tangan Gokudera, memerintahnya tak langsung agar beristirahat sejenak selagi berbincang bersama Kyoko. Hana Kurokawa berdecak betapa menjengkelkannya perkataan sekaligus bahasa Gokudera yang dianggap tidak sopan. Gadis bersurai hitam menggendikan bahu, menunjuk-nunjuk Gokudera tak bersahabat.
"Soal Sawada aku tidak tahu. Jangan ganggu kami, ayo Kyoko." Hana menarik lengat Kyoko—menjauhi keberadaan Yamamoto dan Gokudera sedang bersusah payah menangkap oksigen sebanyak mungkin, dari tadi mereka berdua terus berlari mengelilingi koridor mencari bosnya berada.
"Kuso! Oi yakyuu baka, kau kembali saja ke kelas, bel sudah berbunyi." Gokudera menyandar dibalik dinding sedingin udara dimusim salju, ia berdecak memikirkan Juudaime kesayangannya tiba-tiba menghilang.
Yamamoto menggeleng, "tidak—akan kubantu mencari Tsuna," bersikeras dirinya menolak.
"Ck, kita berpencar saja. Kau kesana, sementara aku ke sebelah lapangan. Mengerti, hah?" tanya Gokudera memastikan otak kecil Yamamoto langsung menyerap.
"Oke, ayo kita cari sebelum sensei masuk—"
—Anehnya Yamamoto tidak menyelesaikan perkataannya melainkan melihat Hibari yang sudah berdiri tegap dihadapannya.
"Nee kimitachi, apa yang kalian lakukan bergerombol di koridor? Ingin kugigit sampai mati?" Hibari memperlihatkan kuda-kuda cara bagaimana ia bertarung, kedua tonfanya sudah disiapkan terlebih dahulu tanpa mengenakan gakura. Are? Kemana baju kesayangannya?
"Teme Hibari! Jangan seenaknya mengganggu urusanku! Aku sedang mencari Juudaime!" Gokudera membalas tatapan tak suka kearahnya.
Menyusul Yamamoto meleraikan emosi Gokudera, menepuk-nepuk punggung milik surai silver agar berhenti menyemprot Hibari.
"Sudahlah, Gokudera. Oh, kau tahu dimana Tsuna? Kami bingung dia dimana," Yamamoto tersenyum kecil, melingkarkan tangannya di pinggang Gokudera seenaknya. Langsung saja, Gokudera berjengit kaget—alhasil kedua pipinya memanas, yang pasti disadari oleh sang pelaku.
"Saa," Hibari berjalan meninggalkan Yamamoto dan Gokudera, kembali melakukan patroli agar mendisiplinkan seluruh murid Namimori.
Gokudera menunduk, berusaha menendang semua pikiran kotornya sekarang. Gugup—Gokudera menepis lengan Yamamoto, ia berbalik hendak mencari lagi keberadaan Tsunayoshi.
"Cih,"
Yamamoto tahu sebenarnya Gokudera malu ketika dirinya menyentuh hal yang tidak seharusnya disentuh. Baru saja menyentuh punggungnya Gokudera sudah sensitif seperti itu? Apalagi nanti tidak tersengaja menindihnya? Dan menyentuh—berhenti. Yamamoto menghela nafas berat memandangi langit biru beririsan awan disampingnya.
Awan dan langit selalu bersama tak terpisahkan, melindungi langit sesuai keinginannya. Mengingat Hibari yang bersifat mandiri, Yamamoto jadi tahu akan suatu hal. Apakah Hibari memiliki rasa sama untuk melindungi Tsunayoshi?
"Gokudera—" Yamamoto memasukan jemarinya didalam saku celana, mengintrupsi langkah Gokudera.
"Hah?" balasnya cemberut, membuat Yamamoto terkekeh.
"Menurutmu—apa Hibari ingin melindungi Tsuna?"
Alis Gokudera berkerut jelas menyebabkan kening-keningnya ikut mengerut. Untuk apa Yamamoto berpikiran seperti itu? Sudah jelas tidak, dilihat sifatnya sangat berbeda dari lain. Selalu sendiri tak mau melibatkan orang lain.
"Tidak mungkin orang itu ingin melindungi Juudaime, heh kau membelanya?"
"Bukan bukan, hanya penasaran. Jadi selama ini Hibari ikut peperangan bahkan rela terluka dan membiarkan Namimorinya hancur hanya untuk kesenangan mencari lawan yang kuat?"
Gokudera berhenti sejenak, berpikir kembali kebenaran mengenai tekad Hibari sebenarnya. Memang iya Hibari sangat membantu karena dialah orang terkuat, tetapi—dirinya sulit menerimanya.
"Aku tidak mau tahu, sekarang yang terpenting adalah menemukan Juudaime! Berhenti berpikir orang lain, ayo!"
"Iya sayang, kau cerewet sekali." Yamamoto bercanda, mengacak-ngacak rambut Gokudera dan mencari bersama-sama. Meninggalkan ide untuk berpencar barusan.
Beginilah kisah benang merah mengenai Yamamoto dan Gokudera. Dipenuhi konflek, ditambah sifat Gokudera terdorong tsundere, sulit menerima kenyataan.
Apakah Yamamoto sanggup menahan perasaannya? Ataukah Gokudera orang pertama yang akan mengatakannya?
[3:00 PM]
Matahari mulai tenggelam meninggalkan suhu pancaran panas, langit-langit di atas berubah orange perlahan menggelap diikuti awan-awan menutupi sinar-sinarnya. Waktu sekarang sebagian orang-orang pulang dari jam kerja, langsung berpelukan dengan anggota keluarga. Sembari melepaskan penat-penat beban, mereka kadang kala menyalakan televisi sekedar mengisi waktu kosong.
Atau makan bersama keluarga di meja yang sama, mereka mencintai momen-momen ini. Tidak seperti apa yang dilakukan Tsunayoshi sekarang—terbaring di atas sofa empuk dengan gakura di atas dadanya. Ia mulai terbangun, mengerjap matanya berkali-kali.
Kesadarannya masih samar, Tsunayoshi memegangi kepalanya seraya memperbaiki posisinya. Dia melihat-lihat ruangan disekeliling, sangat rapih. Seketika ingatannya kembali teringat beberapa waktu lalu, dimana dirinya di—
"H-hiee! Jam berapa sekarang?!"
Buru-buru Tsunayoshi mengecek jam dinding, jarum jamnya menunjuk ke arah angka 3—jadi dirinya tertidur selama berjam-jam disini? Kenapa Hibari-san tidak membangunkanku?!—menghela nafas berat.
"Eh? Ini gakura milik Hibari-san?" tangan Tsunayoshi mencengkram blazer milik cloud guardian, dia menciumi aroma wanginya seraya bangkit berdiri berjalan menggapai gagang pintu dengan sedikit sempoyongan.
Merasa gerakan reflek, Tsunayoshi tiba-tiba ingin mengunjungi ke tempat atap sekolah. Jika ia bertemu dengan Hibari, akan dikembalikan gakuranya.
Sesampainya disana, Tsunayoshi membuka pintu—melihat-lihat sosok yang ia cari. Bingo! Hibari terlelap tidur bersama burung kecilnya. Seketika jantungnya berdegup kencang, dia memberanikan diri mendekatinya meski hatinya berkata lain.
Tsunayoshi menyelimuti setengah badan Hibari dengan gakuranya, ia tersenyum—jemarinya naik, hinggap menyentuh helaian lembut milik Hibari.
"Selamat tidur, Hibari-san."
Grab!—
Cengkraman kuat menahan pergerakan Tsunayoshi, ia langsung menatap Hibari—masih tertidur. Namun seringai tipis melukis diwajahnya, Hibari tampak bangun dan menyadari keberadaan Tsunayoshi yang menganggu tidurnya.
"Apa yang kau lakukan, hn?"
"A-ah! A-anu, aku hanya mengembalikan jas ini padamu, Hibari-san—tidak bermaksud untuk melakukan hal lain...," cicit Tsunayoshi.
"Dan menyentuhku, eh?" Hibari membuka irisnya, menampakan sepasang bola mata berwarna biru tajam disaksikan secara langsung didepan Tsunayoshi.
"T-tidak! Aku..., hanya menyentuh rambutmu.."
Hibari menyibak gakuranya agar dikenakan kembali dibalik punggungnya tanpa memasukan kedua lengannya. Sorot matanya menatap Tsunayoshi datar lama sampai-sampai Tsunayoshi hampir salah tingkah.
"Tidak pulang?"
Tsunayoshi tersenyum canggung. "Aku akan pulang sekarang,"
"Begitu ya."
Hibari melepaskan cengkraman dari pergelangan tangan Tsunayoshi, kini tangannya beralih mengusap kepala Hibird, burung kesayangannya. Sang Decimo berdiri, membungkuk badannya rendah untuk berpamitan pulang.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, Hibari-san. ..H-hati disekolah,"
"Hn," Hibari ikut berdiri, menyentil kening Tsunayoshi menggunakan jari-jarinya, setelah itu—langsung melenggang pergi meninggalkan Tsunayoshi yang masih terpaku ditempat. Hal itu membuat Tsunayoshi ingin menjerit.
Ini mimpi, 'kan?—diam-diam senyuman tulus terlukis. Tsunayoshi baru tahu arti cinta, ternyata rasa ini sangat menyenangkan dan menantang—rasanya untuk menyukai Hibari semakin tinggi.
Tanpa berpikir lama-lama, Tsunayoshi segera meninggalkan tempat belajar. Disepanjang perjalanan pikirannya terus terusik mengerah ke arah Hibari, terutama saat tangan Hibari memaksa kepalanya untuk bersandar dipundaknya. Ia benar-benar terkejut, tapi hatinya sangat senang?
Selang beberapa saat—Tsunayoshi sampai didepan rumahnya. Namun yang membuat hatinya terkejut adalah begitu banyak sekali sepatu-sepatu tak dikenal, melihat model sepatu semuanya formal—Tsunayoshi menelan ludah.
Tou-san pulang? Atau—alih-alih mencari kebenaran, Tsunayoshi mengendap-ngendap mengintip dari balik jendela, ia menyipitkan matanya sambil mendengar suara candaan Reborn bersama Giannini.
Penasaran akan apa yang terjadi, Tsunayoshi langsung melihat dengan mata sendiri dan—berteriak.
"V-V-Vongola Primo?! Disini?! Bukankah mereka sudah mati?!"
Niat awal Giotto yang ingin meminum teh buatan Nana terhenti setelah mendengar jeritan Tsunayoshi. Senyuman tipis terlukis, Giotto menyimpan gelasnya di atas meja—menghampiri Tsunayoshi diluar. Dari sana, Alaude memasang wajah tak suka—menyoroti pergerakan Giotto.
"Selamat sore, Decimo." Giotto tersenyum, menyambut kedatangan Tsunayoshi seramah mungkin.
"K-ko-kon-konbanwa—err... Onii-sa—maksudku Primo-san." Jawab Tsunayoshi membungkuk, dia mengalihkan pandangannya menyadari tatapan Alaude yang menyeramkan.
Giotto terkekeh menanggapi respon Tsunayoshi, ia mengajak Decimo untuk makan bersama melihat Nana terus membuat masakan untuknya dan penjaganya. Tapi Tsunayoshi masih terkejut, butuh jawaban yang akan menjelaskannya.
"Tidak harus terkejut, Decimo. Kami manusia, bukan hologram. Seperti yang dilihat olehmu, aku hidup kembali." Jelas Giotto singkat. Tapi karena Tsunayoshi bodoh—ia tetap bersikeras mengerti situasi.
Baru saja Tsunayoshi akan bertanya lebih banyak—tangan Giotto tiba-tiba digenggam Alaude dari belakang.
Pria itu! Wah—Auranya mirip Hibari-san—meneguk ludah paksa.
"Masuk, diluar dingin." Titah Alaude seraya memaksa Giotto agar menuruti keinginannya.
"Kenapa? Aku sedang menyambut Decimo, kau cemburu, Alaude?"
"Diam. Kau sudah berani membantahku?" Bukannya membalas pertanyaan Giotto melainkan malah balik bertanya. Sejujurnya Tsunayoshi sekarang hanya berdiri mematung memandangi pertengkaran suami ist—lupakan.
Bibirnya bergetar, saking takutnya—Tsunayoshi nyaris hilang keseimbangan jika saja Mukuro Rokudo tidak menahan pinggangnya.
"Oya oya, kau sudah pulang, Tsunayoshi-kun?" Mukuro berbisik lembut ditelinga si langit, ia terhibur akan ekspresi Tsunayoshi yang mendadak memerah.
"Kenapa M-Mukuro ada disini?!" Tsunayoshi segera mundur, menjauhi Mukuro.
"Arcobaleno itu yang mengundangku kemari,"
"Sou da! Reborn dimana?!"
Mukuro tersenyum mesum—"Dia ada didalam,"
Setelah mendapatkan jawaban, Tsunayoshi langsung memasuki rumahnya. Disana banyak sekali penjaga-penjaga generasi pertama tengah meributkan makanan, ditambah Lambo dan I-pin yang berisik. Salut, Alaude bisa tahan demi menjaga Giotto.
"Reborn! Jelaskan padaku! Kenapa m-mereka ada disini?!" Menuntut jawaban. Tsunayoshi menarik Reborn ke ruangan yang sepi, sekarang dia butuh penjelasan.
"Aku akan menjelaskannya setelah seluruh penjagamu berkumpul dirumahmu, hitung-hitung membagikan tempat tinggal." Reborn menyesap kopinya, menatap ekspresi Tsunayoshi yang sedikit menghiburnya.
"Haa? Apa maksudmu dengan membagikan tempat tinggal?!"
"Dame-Tsuna, kau memang payah. Sudah, panggil saja mereka sekarang."
Hari ini sangat melelahkan, dikejutkan beberapa berita panas membuatku nyaris pingsan mendengarnya. Aku melihat Primo-san beserta penjaganya, aneh..—menuruti perkataan Reborn, Tsunayoshi segera mengambil ponselnya, memanggil satu-persatu penjaga kesayangannya.
Kau seperti bintang. Cantik seperti langit biru disiang hari—tapi terlalu jauh untuk digapai.
"Begitulah ceritanya." Jelas Reborn sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, wajah kegembiraan Yamamoto dan Ugetsu terpancar bahagia karena bisa mendapatkan banyak keluarga Mafia sekarang. Hibari mengasingkan diri, berdiri diambang pintu sambil mendecakan kesal sesudah melihat Mukuro seenaknya menyentuh pundak Tsunayoshi.
Gokudera menunjuk G tidak percaya, "R-Reborn-san! Jadi aku akan berbagi kamar kosongku dengannya?!"
G mendesis, ia memutarkan kedua bola matanya. "Urushe, siapa sudi yang ingin tinggal dirumahmu," tambahnya kesal. Namun Ugetsu mencubit pahanya sehingga G terpaksa tidak melanjutkan aksi protesnya.
"Arcobalone," Alaude menatap Reborn tajam. "Aku akan tinggal dengannya?"
Reborn mengangguk. "Apa ada masalah, Alaude? Berhubung sifat kekuatanmu awan, otomatis kau akan tinggal dengan Hibari."
"To the Extreme! Ayo kita membangun semangat muda bersama, Ryouhei!" mata Knuckle berbinar bahagia, diikuti teriakan Ryouhei.
Daemon menghela nafas. "Aku berpisah dengan Giotto? Sayang sekali, padahal selama hidupku aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya selagi tidur diranjang yang sama."
Giotto memalingkan wajah, menyembunyikan rasa malunya. Refleksi, Alaude memberi death glare gratis kearah mereka berdua.
"Lampo dan Giotto akan tinggal dirumah Tsuna, besok kita akan bicarakan masalah ini. Sekarang, kalian beristirahatlah. Mereka para generasi ke-sepuluh akan menunjukan jalannya." Reborn menjelaskan.
Tsunayoshi diam-diam melirik Hibari, tak disangka-sangka pandangannya bertemu—membuat pipinya kian memerah.
Giotto terkekeh kemudian beranjak pergi. "Decimo, aku ingin memakai kamar mandi. Boleh kan?"
Tersadar akan posisinya sekarang, Tsunayoshi mengalihkan perhatiannya. "Ah ya. Err—panggil saja aku Tsuna..., sesukamu saja." Ujarnya sopan.
"Baiklah, tapi aku lebih suka memanggilmu Decimo. Dan panggil aku Giotto,"
"Terima kasih, Giotto-san." Tsunayoshi mengangguk.
Sementara Alaude dan Hibari—
Mereka saling tatap sekaligus memberikan tatapan tajam nan mengerikan. Tak sabar menghabisi lawan masing-masing di malam hari, sepertinya mereka akan menghabiskan waktunya untuk bertarung satu sama lain agar semakin kuat. Hitung-hitung latihan, kan?
Daemon dan Mukuro sibuk berbincang mengenai faforit uke, mereka membagi-bagi sebuah buku bergambar yang menceritakan hubungan sesama jenis. Cepat atau lambat, mereka akan seperti saudara.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?
Alaude tidak akan membiarkan GiottoNya disentuh—apalagi Hibari yang perlahan-lahan memperlihatkan sifat posesifnya terhadap Tsunayoshi. Belum lagi Mukuro dan Daemon terus saja menjahili Tsunayoshi plus Giotto.
G yang terperangkap terus dalam benang cinta kepada Giotto hanya bisa memperhatikannya dalam diam. Ugetsu menghampiri, merangkul beban kesedihan yang dirasakan G.
Reborn yang lama-kelamaan menjadi setuju hubungan mereka. Hingga suatu saat nanti akan menyuruh Giannini membuat ramuan sesuatu—
Mampu kah tali hubungan Vongola 10st dan 1st bersatu?
To be Continue
AN: Terima kasih sudah membaca cerita saya. Terus berikan saya komentar, review, beserta favnya agar cerita ini tetap berjalan sesuai apa yang readers-san inginkan.
[Maaf bagian chapter 1 ada kesalahan cara penulisan karakter Giannini, sekali lagi maaf atas ketidak nyamanan para readers-san. Cukup salahkan saya yang sangat ceroboh ini, semoga kedepannya tidak ada lagi typo, saya malas untuk memeriksanya satu-persatu, terlalu banyak kegiatan disekolah]
Salam manis,
-Leenalytte-
