Disclaimer: BLEACH punya Tite kubo


For The Dearest

Ichigo sedang duduk sambil menonton TV bersama Rukia ketika seseorang memencet bel rumahnya. Lalu dengan malas Ichigo pun membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka mata Ichigo meliha seorang pria muda berambut putih keungu-unguan berdiri di depan pintunya. Lalu tatapan Ichigo berubah menjadi marah. Pria yang berdiri di hadapannya adalah orang yang pernah membantu Aizen dan berbalik melawannya saat winter war, Ichimaru Gin.

Chapter: 2

"Mau apa kau kesini?" tanya Ichigo dingin kepada Gin. Ia tak akan semudah itu mempercayaai mantan shinigami yang telah banyak mengkhianati kepercayaan orang-orang yang mempercayainya itu.

"Uh'uh... aku dengan Chibi-taichou ada di sini," kata Gin gugup. Senyum yang bisanya menghiasi wajahnya sama sekali tak terbesit sedikit pun di wajahnya, "boleh aku menemuinya?" tanya Gin.

Ichigo melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia mengerutkan dahinya, "Untuk apa kau mencarinya? Apa kau tidak puas melihatnya menderita?" tanya Ichigo dingin, "Tapi aku tidak..." belum selesai Gin membela dirinya, Ichigo menutup pintu di depan wajahnya. Tetapi sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Gin menahannya, "Tunggu... aku datang bukan untuk menyakitinya... " kata Gin. Wajahnya terlihat sedih.

"Lalu, mau apa kau datang kesini?" teriak Ichigo marah, "Aku hanya ingin bertemu dengannya..." kata Gin mencoba membela dirinya.

"Untuk apa penghianat sepertimu bertemu Toushiro?" tanya Ichigo. Ia masih marah, "Aku..." Gin ingin menjelaskannya pada Ichigo, tetapi ia tak tahu bagaimana cara mengatakannya.

"Tunggu Ichigo..." tiba-tiba Isshin muncul dari belakang Ichigo, "Biarkan Gin masuk."

Walaupun wajahnya masih menunjukan ia marah, tetapi ia menuruti perkataan ayahnya dan membiarkan Ichimaru masuk. Setelah Gin masuk pun, Ichigo terus mengirim death glare kepada Gin.

~H~

"Jelaskan padaku, kenapa kau ada disini!" tanya Ichigo kepada shinigami berambut putih keungu-unguan yang duduk dihadapannya. Ia melipat kedua tangannya didepan dadanya dan menatap Gin dengan tatapan sinis. Sekarang ini mereka berada di ruang tamu keluarga Kurosaki.

Gin tidak lagi mengenakan shihakusonya. Sekarang ini dia mengenakan kemeja putih polos berlengan panjang yang ia lipat hingga pertengahan lengannya dan celana panjang berwarna hitam, "Uh'uh... aku sudah menerima hukumanku. Soul Society memutuskan untuk membuangku ke dunia manusia dan menyegel semua kekuatan shinigamiku," jelas Gin.

Ichigo mengangguk-anggukan kepalanya menerti, "Lalu untuk apa kau kemari?" tanya Ichigo lagi.

"Sebelum aku di buang kedunia manusia, aku dengar chibi-taichou kehilangan semua ingatannya dan di rawat oleh keluarga Kurosaki," jelas Gin. Ia terhenti sejenak seperti mengumpulan semua keberaniannya, "aku ingin kalian membiarkanku yang merawat chibi-taichou," kata Gin pelan.

Mendengar pernyataan Gin, Ichigo hampir saja tertawa, "Apa? Apa ku tidak salah dengar?" tanya Ichigo dengan nada sinis, "kau pikir aku akan membiarkanmu merawat Toushiro. "

Gin menundukan kepalanya, "Ku mohon!" mohon Gin, "Aku dengar chibi-taichou ada disini hanya sementara. Setelah ia kembali ke soul Society aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Oleh karena itu selama ia ada disini, sebisa mungkin aku ingin merawatnya."

"Untuk apa?" tanya Ichigo. Ia menatap tajam Gin, "untuk apa kau ingin merawatnya seperti itu," tanya Ichigo, "Aku..." belum selesai berbicara Gin berbicara, Ichigo memotongnya, "Apakah karena kau merasa bersalah telah menyakitinya? Apa kau mencoba memperbaiki kesalahanmu dengan merawatnya? Apa kau pikir semuanya akan kembali seperti semula bila kau merawatnya? Jangan kira kau bisa dengan mudah menghapus semua kesalahan yang telah kau perbuat..."

"Ichigo..." Ishiin memotong pembicaraan Ichigo dengan suara tinggi. Lalu Ichigo pun diam.

Sementara itu sang pria berambut ungu yang berada dihadapannya menundukan kepalanya. Wajahnya menunjukan kalau ia merasa sangat bersalah, "Gin... bisakah kau jelaskan kenapa kau ingin merawat Toushiro?" tanya Isshin dengan nada lembut.

"Aku... mungkin akan lebih baik jika aku tidak menjelaskannya. Itu yang terbaik baginya..." jawab Gin.

"Gin... ketika aku masih menjadi taichou di gotei 13, aku selalu memperhatikanmu juga Ran-chan," kata Isshin mencoba membuat Gin lebih membuka dirinya, "aku tahu kalau kau sangat mencintai Ran-chan, begitu juga Ran-chan."

Mendengar pernyataan Isshin Gin mengangkat kepalanya. Dia membuka matanya karena terkejut mantan taichou divisi 10 itu selalu memperhatikannya. Nampaklah sepasang bola mata yang berwarna sama dengan Toushiro. Hanya saja warnanya lebih pucat, "Dari yang kulihat selama aku menjadi taichou divisi 10, aku tahu kalau kau juga selalu memperhatikan Toushiro dari jauh. Dari bagai mana cara kau bersikap di hadapannya, kau seakan-akan berhati-hati bersikap dihadapnnya dan menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi kau yang seperti itu, terlihat seperti berusaha melindunginya dari sesuatu."

Isshin berhenti sejenak. Dia memperhatikan bagai mana reaksi gin terhadap apa yang di ucapkannya. Mata gin terbelalak, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tidak bisa mengatakannya. Sementara itu Ichigo hanya terdiam tak mengerti apa yang ayahnya coba katakan, "Ran-chan pernah bercerita padaku, kalau ia pernah mengandung anakmu. Tetapi kemudian bayi itu meninggal ketika ia di lahirkan, bahkan Ran-chan pun tidak pernah melihat bayinya sendiri. Setelah itu, kau seperti berusaha menjauhinya dan meninggalkannya. Tetapi kau tidak pernah benar-benar bisa meninggalkannya kan? Kau terlalu mencintainya sampai kau tidak bisa meninggalkannya walaupun kau berusaha untu melindunginya dari Aizen. kau tidak mau Ran-chan mengikutimu yang terikat oleh Aizen dan dimanfaatkan oleh Aizen kan?"

Raut wajah Gin berubah menjadi sedih. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya di pahanya, ia terlihat seperti menahan air matanya.

"Sekarang tatap diriku dan jawab pertanyaanku Gin!" kata Isshin tegas. Lalu Gin mengangkat kepalanya dan menatap Isshin dengan kedua mata emerald pucatnya, "Apa benar anak Ran-chan benar-benar meninggal?" tanya Isshin hati-hati sambil menatap mata Gin. Isshin melakukan hal itu untuk menghindari Gin berbohong saat menjawab pertanyaanya.

Mata Gin terbelalak mendengar pertanyaan Isshin, "Itu...aku..." Gin menutup matanya dan kembali menundukan kepalanya.

"Gin... tatap diriku dan jawab pertanyaanku, SEKARANG," kata isshin tegas. Ia memberikan penekenan dibagian akhirnya.

"Tidak..." jawab Gin tegas, "Anak itu tidak meninggal," kata Gin pelan. Isshin tersenyum mendengar jawaban Gin. Sementara Itu mata Ichigo terbelalak mengerti apa yang ayahnya coba katakan, "Oya-jii..." kata Ichigo tidak percaya. Tetapi Ayahnya mengangkat tangannya memberi isyarat kepada Ichigo untuk diam.

"Yang terakhir, dimana kau meyembunyikan anakmu?" tanya Isshin lagi. Kali ini suaranya lembut.

"Junrinan, distrik 1 Rokungai. Aku menitipkannya kepada seorang nenek yang tinggal bersama seorang anak perempuan kecil," jawab Gin pelan.

"Kau yang memberi nama anak itu kan?" tanya Isshin. Gin mengangguk, "Aku tidak mau Aizen menemukannya, aku memberi nama anak itu Hitsugaya, Hitsugaya Toushiro."

"Dia ada di ruang keluarga bersama Karin dan Yuzu. Pergilah dan temuinya sekarang," kata Isshin. Lalu Gin pun dari duduknya dan menuju tempat Toushiro berada.

Ichigo menatap ayahnya dengan tatapan sedih. Didalam hatinya ada berbagai macam perasaan bercampur aduk, "Aku masih tidak mengerti kenapa ia meninggalkan Toushiro di distrik 1 Rokungai," kata Ichigo kepada ayahnya. Isshin mengangkat sebelah alisnya kepada putranya, ternyata ia memang masih belum dewasa, "Gin melakukan itu untuk melindungi Toushiro," jawab Isshin.

"Tapi kenapa? Bukan kah itu malah akan menyakiti perasaan Toushiro jika ia mengetahuinya?" tanya Ichigo lagi.

"Walaupun waktu mengandung Toushiro pangkat Ran-chan di gotei 13 masih rendah, tetapi anak itu adalah anak yang lahir dari dua orang shinigami. Apa lagi Gin sendiri dikenal sebagai anak jenius yang bisa lulus akademy shinigami hanya dalam waktu 1 tahun. Bayangkan anak yang akan lahir dari mereka berdua, dia pasti mempunyai reiatsu dan kekuatan yang sangat besar," jawab isshin, "berbicara tentang siapa yang terluka, dibandingakan Toushiro sendiri, Gin jauh lebih terluka. Dia tidak bisa mendengar kata pertamanya ataupun tidak bisa melihat langkah pertamanya. Ichigo... melihat melihat perkembangan anak yang di sayanginya adalah kebahagian tersendiri bagi setiap orang tua, kau harus tahu itu," Isshin terdiam sejenak, " Aku bisa mengerti Gin kerena aku pun measakannya saat kau dan adik-adikmu lahir. Aku pun akan melindungi anak-anak yang ku sayangi walaupun aku harus terluka. Bukankah Masaki sudah mengajarkan hal itu padamu?"

Ichigo terdiam, ia mengingat saat Ibunya melidunginya dari hollow. Dia rela mengorbankan nyawanya demi melindungi dirinya, "Masih ada satu lagi orang yang sama terlukanya dengan Gin," kata Isshin sambil menghela nafasnya. Dia menatap langit-langit ruangan itu lalu kemudian bangkit dari duduknya untuk melihat Gin dan Toushiro. Begitu juga dengan Ichigo.

~H~

Gin berjalan menuju ruang tamu, ditengah ruangan itu ia melihat dua orang anak perempuan sedang menunjukan sesuatu kepada seorang anak laki-laki berambut putih. Lalu Gin pun mendekati mereka, "Boleh aku berbicara berdua dengan Toushiro?" tanya Gin kepada kedua anak perempuan dan Yuzu menatap pria berambut putih dihadapannya dengan tatapan aneh. Tetapi kemudian mereka mengangguk dan meninggalkan Gin dan Toushiro berdua.

Toushiro mengangkat kepalanya dan menatap Gin dengan kedua mata emeraldnya yang besar. Mereka terlihat begitu jernih dan polos. Lalu Gin berlutut di hadapan Toushiro dan memegang dahi sang taichou muda. Toushiro hanya diam disentuh oleh Gin, "Rupanya kau benar-benar kehilangan ingatanmu, ya?" tanya Gin sedih. Lalu ia tersenyum ironis, "kalau tidak, sekarang ini kau sudah berteriak dan menyerangku," kata Gin lagi.

Gin membuka matanya dan menatap Toushiro dengan lembut. Ia mengelus-elus rambut putih Toushiro yang lembut, "Aku sudah lama ingin melakukan ini kepadamu," kata Gin. Sekarang wajahnya juga berubah sedih, "maaf, selama ini aku tak pernah menjagamu dengan baik. Maaf, aku tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu. Maaf, aku tak pernah ada saat kau membutuhkanku," tanpa ia sadari air matanya mengalir di pipinya. Sang rubah perak yang selalu tersenyum kini menangis.

Toushiro mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Gin yang basah. Ia tak mengatakan apa pun pada Gin dan hanya menatapnya dengan mata emeraldnya yang besar, "Air mata...? ...menangis?" kata Toushiro. Suaranya terdengar begitu jernih dan polos. Berkat Karin dan Yuzu, sekarang Toushiro sudah bisa mengucapkan beberapa kata.

Gin tidak bisa membendung perasaannya lagi, dia memeluk Toushiro dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya di pundak toushiro. Ia ingin melepaskan segala beban dan perasaan yang ia tanggung sendiri selama ini. Selama ini dia selalu ingin bisa melakukan itu kepada Toushiro. Ia menatap wajahnya saat tertidu, melihat senyumnya, mendengar suaranya dan memeluknya sedekat ini. Tetapi selama ini ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Dia takut, ia takut kalau ia lebih dekat Aizen akan mengetahui rahasianya dan menyakiti anaknya yang di sayanginya. Dia bersyukur, ia masih hidup dan bisa memeluk Toushiro sedekat ini tanpa harus takut Aizen menyakit Tousiro. Ia bersyukur...

~H~

Ichigo, Isshin dan Rukia yang baru turun dari kamar Ichigo menatap Gin dan Toushiro dari kejauhan. Setelah Gin melepaskan Toushiro dan menghapus air matanya, baru lah Ichigo berbicara cukup keras untuk Gin dengar, "Aku akan mengambil tas dan mengemaskan kebutuhan Toushiro," lalu setelah itu remaja berambut orange itu naik keatas kamarnya dan mempersiapakan apa saja yang di butuhkan Toushiro.

Isshin menatap putranya sambil tersenyum, kelihatanya Ichigo sudah mulai mengerti keadaan Gin. Sementara itu, Rukia yang tak tahu apa-apa hanya menatap Ichigo sambil mengangkat sebelah alisnya.

Setelah semua kebutuhan Toushiro siap, Ichigo memberikannya kepada Gin. Setelah mengucapkan terima kasih pada keluarga Kurosaki dan Rukia, Gin menuliskan alamat apatementnya yang di sediakan oleh Soul Society kepadanya. Ia mengatakan kepada Isshin kalau soul society memberikan sedikit uang dan menyediakan apartement kecil sebelum ia menjalani hukumannya dengan di buang ke dunia manusia. Gin berjanji akan mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan Toushiro. Ia tidak mau kalau nantinya ia akan merepotkan Isshin dan yang lainnya.

"Gin... kalau kau butuh bantuan jangan ragu untuk mengatakannya padaku," kata Isshin kepada Gin yang bersiap pergi bersama Toushiro. Gin membungkukkan badanya dan berterima kasih kepada Isshin, "Terima kasih Kurosaki-san," kata Gin. Lalu kali ini giliran Karin yang berbicara, "Kalau kau membutuhkan seseorang untuk menjaga Toushiro, kami siap menjaganya, yakan Yuzu," Yuzu mengaggukan kepalanya.

"Hai...arigatou," kata gin sambil tersenyum. Ia berterima kasih atas niat baik Karin dan Yuzu.

Isshin memberikan isyarat kepada Ichigo untuk mengatakan sesuatu kepada Gin. Lalu dengan wajah merona karena malu, remaja berambut orange itu membuka mulutnya, "Hati-hati dijalan," kata Ichigo pelan. Isshin tertawa melihat wajah anaknya yang merona, "Hanya itu?" tanya Isshin.

Ichigo mengirim death glare kepada ayahnya. Lalu ia menatap Gin, "Maaf sudah mencurigaimu yang tidak-tidak," kata Ichigo. Wajahnya merona bertambah merah karena malu.

Gin membungkukan badannya kepada Ichigo, "Terima Kasih, Kurosaki-kun," katanya. Lalu setelah itu Gin menggandeng tangan Toushiro. Dan mereka pun beranjak pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Kurosaki. Dalam hati Gin berjanji akan menggunakan sisa waktu Toushiro di dunia manusia untuk merawat Toushiro dengan baik dan mengembalikan waktunya yang hilang bersama Toushiro selama ini.


Hwa... akhirnya chappy 2 kelar... XD

Gimana menurut reader... apakah bisa ngena feelingnya? =3

Kusa kesulitan dalam milih-milih katanya... gomen ya kalau feeling kurang ngena...

Yosh... kusa udah berusaha, sekarang minta reviewnya... fu fu fu... XD

Mind to review?

-kusanagi-