Best Partner

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

WARN: Jika ada kemiripan cerita dan alur. Itu hanyalah unsur ketidak sengajaan. Karena fict ini pure karya saya.

TYPO/GAJE/OOC/EYDancur.

.

.

.

A/N: Ooh ya, pengertian shinigami disini, gak sama ya sama yang ada di anime Bleach, ataupun black buttler. Aku cuma, ngambil konsepnya sebgai dewa kematian. Jadi maklum klo sdikit berbeda. Kebanyakan adalah karangan author aja;-)

Thanks buat yang udah review...

Dan please jangan jadi silent reader...:-!

.

.

.

.

.

Aku bertemu dengan bermacam-macam orang dalam dunia ini. Menilai, dan menentukan siapa yang baik dan tidak. Banyak yang membenci, dan menilaiku rendah. Itulah sifat alami manusia. Tapi, Neji berbeda. Mungkin karena separuh dalam darahnya adalah darah seorang Shinigami. Tapi tetap saja, dia manusia seperti diriku. Aku tidak tau, akan jadi baik atau buruk. Yang pasti, ketika aku memutuskan untuk membantunya, maka aku akan bersamanya hingga akhir. Hari ini, aku melihatnya begitu frustasi. Tidak bisa dipungkiri, Neji hanyalah manusia biasa yang memiliki hati. Aku tau, seberat apa pekerjaannya kali ini dibanding dengan ketika ia masih memiliki bola kekuatan miliknya.

Maka dari itu. Pencarian bola kekuatan itu akan segera dimulai.

.

.

.

.

AUTHOR POV

"Kau siap?" tanya Neji menoleh ke arah Gadis bermanik hazel yang berdiri tepat dibelakangnya. Bukannya menjawab, Tenten justru memandang ngeri bangunan tua didepannya sembari bergidik takut. Didalam sana, Tenten melihat banyak sekali arwah bergentayangan. Ia takut karena ini pertama kali baginya. Tetapi, Tenten tentu tidak bisa lari begitu saja. Keinginan Neji, membuatnya tetap bertahan. Yeah, karena keinginan Neji itu baginya sangat romantis.

"Kau pasti tau tempat apa ini?" tanya Neji ikut memperhatikan sumber tujuan Tenten.

"Yang ku tau, dan yang kau tau mungkin saja berbeda 'kan?" jawab Tenten menelan ludahnya kasar. Sekarang ia benar-benar takut. Mungkin saja, Neji akan memaksanya masuk seorang diri, dan mengambil sesuatu semacam bola kekuatan itu didalam sana. Atau lebih buruknya lagi, ia tidak akan bisa keluar dengan keadaan baik-baik saja. Tenten bergidik ngeri, ia meremas ujung tali tasnya kasar. Neji yang melihat sikap Tenten, segera memberikan selembar foto usang kearah gadis itu.

"Dulu, tempat ini sangat populer. Sebuah perpustakaan kota yang menyimpan banyak sekali sejarah, termasuk dengan sejarah tentang Shinigami. Tetapi, perpustakaan ini ditutup 10 tahun yang lalu, karena sebuah kejadian yang tidak mengenakan. Ada rumor yang mengatakan bahwa setiap orang yang berkunjung melihat sosok perempuan yang bergentayangan. Sosok itu bisa saja melukai manusia, dan berbuat jail. Maka dari itu, perpustakaan ini dituntut, dan ditutup." jelas Neji, melirik ke arah Tenten yang tampak sedang memperhatikan foto yang diberikannya. Sebuah foto lama yang menampakkan keadaan perpustakaan itu sebelum ditutup.

"Kau tau maksudku?" tanya Neji, membuat Tenten mengangkat wajahnya.

"Jika mungkin saja rumor itu benar. Maka, kita harus berhati-hati?" tebak Tenten, membuat Neji mengangguk mantab.

"Aku yakin, kau melihat nya juga. Para arwah yang bergentayangan didalam sana. Mereka tidak bisa menyentuhmu. Tapi ada baiknya berjaga-jaga karena kemungkinan itu tetap ada. Mereka mungkin akan melukaimu menggunakan benda mati yang bisa tersentuh. Tujuan kita sederhana, mengambil buku sejarah Shinigami, dan pergi dari tempat ini. Jadi, apa kau siap?"

Ujar Neji, sekali lagi melirik kearah Tenten yang menghela napasnya panjang. Gadis itu mengangguk mantab.

"Sebenarnya aku tidak yakin. Tapi, ayo kita selesaikan." balas Tenten tersenyum simpul. Merasa mendapat jawaban iya dari Tenten, Neji mengangguk, sembari berjalan mendekati pintu masuk perpus tua itu. Perlahan tapi pasti pintu usang itu berdecit pelan. Belum sampai pintu itu terbuka sepenuhnya, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar amat sangat keras. Membuat Neji maupun Tenten menutup telinganya sesaat. Neji menengok ke arah Tenten yang tampak ketakutan. Entah darimana suara itu berasal, tapi Tenten yakin itu bukan hal baik.

"Tetaplah disampingku," bisik Neji pelan. Gadis itu mengangguk sembari meraih ujung baju Neji.

"Kita pergi sekarang," Ujar Neji berjalan memasuki perpustakaan tua itu. Tenten merasakan degup jantungnya meningkat cepat ketika melihat beberapa kertas diatas sebuah meja itu mendadak berterbangan tidak karuan. Bahkan, beberapa arwah berwajah menyeramkan itu seperti tengah berlari ke arahnya sembari memajukan kedua tangannya seolah hendak mencekiknya. Cukup membuat bulu kuduknya berdiri.

"Keluar dari sini!" Teriak arwah-arwah itu kencang. Tenten terkejut, ketika melihat salah satu arwah tiba-tiba saja mencokel matanya sendiri. Membuat gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada Neji, dan menutup matanya reflek.

"Kau takut?" tanya Neji, dibalas oleh gelengan kecil Tenten. Gadis itu kembali membuka matanya ragu.

"Sebagian dari mereka adalah arwah-arwah yang tidak mau diistirahatkan. Dan mungkin mereka sudah tidak asing lagi ketika melihatku. Tetaplah tenang, dan kita akan segera menyelesaikan ini," ujar Neji sembari mengedarkan pandangannya.

"Terserah apa katamu, tapi ayolah!" pekik Tenten takut. Lagi-lagi degupan jantungnya memompa dua kali lebih cepat, ketika ia melihat para arwah itu berbuat hal menjijikan, dan menakutkan seperti tadi. Bahkan tak jarang, arwah itu terkekeh kearah Tenten sembari mengacungkan sebilah belati berlumuran darah.

"Aku membawamu kesini karena aku butuh bantuanmu. Seorang Shinigami dilarang membaca legenda tentang shinigami itu sendiri. Jika aku melakukannya, maka sama berarti melanggar sebuah peraturan. Jadi bisakah kau mengambilkan buku itu untukku?" Suara Neji segera membuat Tenten mengalihkan perhatiannya. Gadis itu menatap Neji tajam. Dia ketakutan, dan sekarang pemuda itu memintanya melakukan sesuatu hal yang mungkin saja bisa membuat dirinya sendiri terluka?

Mendapat tatapan tajam dari Tenten, buru-buru membuat Neji mengoreksi perkataannya.

"Tenang saja, aku akan ada dibelakangmu, memastikan jika roh-roh jahat itu tidak akan menyentuhmu," kata Neji cepat. Tenten terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"Kata Senpai, buku itu berada dirak paling belakang. Buku itu berada tepat digaris paling atas." ujar Neji berjalan dibelakang Tenten. Sesekali pemuda itu ikut mengedarkan pandangannya, siapa tau letak buku itu telah berubah semenjak seseorang yang dipanggilnya Senpai melihatnya.

Tenten berjalan sesuai interuksi Neji. Matanya menyipit begitu melihat sebuah buku tua yang tampak mencurigakan itu diantara tumpukkan buku dirak paling atas.

"Apakah itu," tanya Tenten berjalan mendekat.

"Mungkin saja," jawab Neji, membuat Tenten berjalan mendekat kerak paling belakang. Tangannya telulur ke atas hendak mengambil buku itu. Tiba-tiba, tumpukkan buku itu berjatuhan ke arah Tenten. Matanya membulat sempurna. Sontak membuat Neji segera mendorong Tenten menjauh. Gadis itu tersungkur ketanah, melihat sosok arwah perempuan berwajah menyeramkan itu berlari ke arah Neji.

"Neji!" Teriak Tenten, membuat Neji hendak menoleh kebelakang. Tapi terlambat karena arwah itu lebih dulu mencekik leher Neji menggunakan seutas tali bewarna merah. Tenten terbelalak, gadis itu diam mematung. Belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba saja, Neji berteriak padanya dengan sangat keras.

"Pergi dari sini!" teriak pemuda itu ketika melihat beberapa arwah perempuan berlari kearah Tenten yang masih kebingungan. Alih-alih mendengarkan Neji, gadis itu justru diam memperhatikan arwah itu mencekik Neji dengan brutal. Tenten membungkam mulutnya sendiri tatkala darah yang keluar dari leher Neji, dijilat oleh arwah itu. Bak tengah menjilati lelehan eskrim.

"Sekarang!" Teriaknya lagi, Tenten menoleh ke arah belakang, mendapati arwah jahat itu tengah terkikik menyeramkan semakin mendekatinya.

"Tapi buku itu?" tanya Tenten memperhatikan Neji yang tengah berusaha melepaskan diri dari arwah yang masih mencekik lehernya kasar.

"Dan kau?" sambungnya gagap.

"Aku tidak akan mati! Sebaiknya cepat pergi dari sini!" bentak pemuda itu kesal. Karena Tenten masih saja berdiri ditempatnya, padahal arwah-arwah itu tengah mendekat ke arahnya.

Benar-benar merasa tidak tau harus berbuat apa. Tenten justru tetap diam diposisinya. Mencari cara untuk menyelematkan Shinigami itu dan melarikan diri bersama. Seperti mengingat sesuatu Tenten segera mengambil ponsel dari dalam tas dan menyalakan lampu senter. Mengarahkan sinar itu tepat ke arah mata si arwah yang langsung membuat arwah itu melepaskan cekikannya demi menutupi kedua matanya.

Tenten menatap panik ke arah Neji yang tersungkur ke tanah. Pemuda itu terbatuk, sembari memegangi luka dilehernya yang semakin parah.

"Neji!?" ujar Tenten berjalan mendekat. Dengan cepat, Neji menggandeng tangan Tenten berniat kabur dari perpustakaan itu. Tapi lagi-lagi sakit dihatinya kembali terasa. Neji tersungkur sejenak, ini benar-benar aneh. Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi di situasi genting seperti ini. Bermodalkan tekad tipis, Tenten pun menarik tangan Neji paksa. Tak lupa gadis itu mengambil sebuah buku yang telah tergeletak dilantai, dan menerobos puluhan arwah itu cepat.

"Aku tidak akan meninggalkan partnerku terkena masalah." gumam Tenten sembari berlari bersama Neji.

Mereka berdua berlari menjauhi arwah-arwah yang sempat mengejarnya ketika mereka keluar dari perpus kota itu. Tenten melepaskan genggamannya pada Neji. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah sembari melirik ke arah Neji yang langsung terduduk diatas tanah.

"Maaf aku menyentuhmu, dan mungkin itu melukaimu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan partner ku ditengah-tengah misi 'kan?" ujar Tenten masih mengatur napasnya. Ia menatap Neji yang terdiam seolah tengah memikirkan sesuatu.

"Kau terluka. Apa kau baik-baik saja?" tanya Tenten memastikan. Pemuda itu mengangkat wajahnya, sembari menatap buku yang berada digenggaman Tenten dalam.

"Mereka tau, jika bola kekuatan itu tidak ada padaku. Untuk itulah mereka bisa menyerangku dengan mudah. Tanpa bola kekuatan itu, aku hanyalah manusia biasa," ujar Neji membuat Tenten ikut terduduk disamping pemuda itu.

"Apapun itu, kita berhasil. Mengerikan memang, tapi itu sangat menyenangkan. Aku hampir lupa, kapan terakhir kali aku merasa tertantang dan tegang seperti tadi," ucap Tenten menyerahkan buku itu ketangan Neji yang masih gemetar. Pemuda itu menarik tatapannya ke arah Tenten yang tengah tersenyum puas.

"Kita semakin dekat dengan bola kekuatan itu 'kan?" ujar Tenten menepuk pelan pundak Neji.

"Ini aneh. Aku selalu merasakan sakit ketika menyentuhmu. Tapi, ketika kau menyentuhku, serta menarik tanganku seperti tadi. Itu tidak menyakitkan sama sekali." ujar Neji, membuat Tenten mengerjap.

"Jawabannya karena kau Shinigami," tebak Tenten asal.

"Tanpa bola itu, aku sama sepertimu," jawab Neji membuat pikiran Tenten semakin bingung.

"Aah, apapun itu, yang jelas kita sudah menemukan buku ini. Kita akan menyelidikinya secepat mungkin. Jadi ayo kita pulang, dan mengobati lukamu. Setelah itu kita bisa memeriksa ini dirumah," ujar Tenten beranjak dari duduknya. Berjalan pergi disusul dengan Neji yang masih memegangi lukanya.

"Sakit," gumamnya, menatap Tenten yang sudah dulu berjalan didepannya.

Gadis itu berjalan senang sembari tersenyum puas. Tadi itu menakutkan sekali, tapi entah kenapa Tenten merasa benar-benar hebat. Apakah ia pantas menjadi seorang pahlawan? Jika bola milik Neji ketemu, maka secara tidak langsung Tenten adalah pahlawan bagi hubungan Neji dan kekasihnya. Ia tidak sabar, melihat bagaimana Neji akan berterimakasih berkat dirinya nanti.

Tenten mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia melirik ke arah beberapa pasangan yang tengah bermesraan ketika mereka melewati taman kota disenja itu. Tenten terhenti disebuah jembatan dekat taman itu. Menyaksikan sepasang kekasih yang tengah tertawa bersama di pinggir danau sana.

"Lihatlah Neji, kau mungkin akan bisa seperti itu lagi nanti," kekeh Tenten sembari menatap ke arah Neji yang tampak serius memperhatikan kedua insan dibawah sana.

"Gadis itu, akan mati besok," ucap Neji pelan, sontak membuat Tenten terkejut.

"Apa? Tapi, apa kau yakin? Mereka terlihat sangat bahagia bersama," sanggah Tenten, berpikir Neji hanya bergurau.

"kebersamaan tidak menjanjikan apapun. Takdir lah yang harus lebih dipercayai." ucap Neji, tiba-tiba membuat Tenten diam. Gadis itu memaku tatapan sendunya pada kedua manusia yang saling berbagi senyum dibawah sana. Seolah hatinya, ikut merasa tersakiti, mendengar perkataan Neji barusan.

"Berapa orang?" tanya Tenten tanpa menoleh ke arah Neji.

"Apa?"

"Berapa orang yang sudah kau bunuh?" lanjut Tenten, ikut membuat Neji memperhatikan sumber tatapan Tenten.

"Aku tidak menghitungnya. Tapi jawabannya lebih banyak dari perkiraan mu," balasnya, Tenten menatap Neji tidak percaya. Sorot matanya berubah menjadi sendu. Serta tatapannya seolah sulit diartikan.

"Kau takut padaku?" tanya Neji.

"Ya! Kau mengerikan. Bagaimana bisa kau bersembunyi dibalik penampilanmu ini?" kekeh Tenten sedikit mengejek. Sesaat yang lalu, Tenten berpikir Neji adalah orang yang baik. Tapi, membuat orang yang bahagia bersedih, itu sama seperti gadis-gadis disekolahnya yang mengejek nya gila. Kejam.

"Maksudmu karena aku tampan?," balas Neji percaya diri. Pemuda itu, menatap ke arah senja yang hampir saja menghilang berganti dengan bulan.

"Apa kau masih bisa bercanda, di tengah pekerjaan mu sebagai seorang pembunuh?" tanya Tenten sarkastik. Entahlah, yang jelas ia merasa sedikit terbebani dengan pekerjaan Neji.

"Pembunuh, dan seorang Shinigami itu berbeda."

"bagiku itu sama saja. kalian sama-sama membunuh 'kan?"

"shinigami berbeda dengan pembunuh. Kami hanya mengambil jiwa manusia yang sudah ditetapkan dalam takdir. Sementara pembunuh, mereka merenggut nyawa secara paksa dengan alasan yang berbeda pula," balas Neji tak terima jika dirinya disamakan sebagai seorang pembunuh.

"Hari sudah larut. Kita masih memiliki banyak hal yang perlu diselesaikan. Daripada, memikirkan nasib pasangan itu saat ini," sindir Neji, ketika melihat Tenten masih memperhatikan kedua pasangan itu sendu.

'Kematian. Mereka benar-benar melakukan ini tanpa memandang atau menilai mana orang yang hidup dengan bahagia, atau tidak. Mereka tidak adil,' batin Tenten, menarik tatapannya pada langit malam yang ikut tampak murung. Dosakah, jika ia membenci apa itu takdir?

.

.

.

.

.

.

.

"Dibuku ini tertulis jika, seorang Shinigami memiliki pilihan ketika mereka telah bekerja selama 3 tahun. Dan jika pilihan mereka adalah berhenti menjadi seorang shinigami, maka bola kekuatan itu akan dipaksa keluar dari tubuh orang itu?" Ucap Tenten membacakan isi dari buku itu didepan Neji yang tengah duduk diatas sofa. Pemuda itu mengangguk mantab, mendengarkan Tenten yang tampak sering kali mengernyit bingung.

"Dan setiap Shinigami memiliki simbol dilengan bagian kanannya. Apabila shinigami itu melanggar peraturan maka simbol itu akan memudar seiring berjalannya waktu. ketika simbol itu menghilang. Maka shinigami itu bukanlah lagi shinigami, melainkan manusia biasa. Eeh? Aku tidak pernah melihat simbol itu," ujar Tenten, menoleh ke arah Neji.

"Aku menutupinya dengan sarung tangan. Kau lihat, inilah simbol Shinigami itu," kata Neji melepas sarung tangannya, dan menunjukkannya pada Tenten. Simbol itu terlihat seperti Tiga segitiga yang terhubung satu dengan yang lainnya. Tenten mengernyit, gadis itu menarik tatapannya pada Neji.

"Apa kau pernah melanggar peraturan? Simbol ini sedikit memudar,"

"Tidak. Mungkin karena bola kekuatan itu tidak ada padaku, makanya simbol itu perlahan-lahan memudar. Dan seiring berjalannya waktu, jika kita tidak cepat menemukan bola itu maka, simbol ini akan menghilang. Dan aku bukan lagi seorang shinigami." ujar Neji mengambil kesimpulan. Tenten hanya memandang sekilas, sebelum akhirnya kembali terfokus pada isi buku itu.

"Tunggu! Disini tertulis, jika bola itu bisa saja secara tidak sengaja keluar dari tubuh pemiliknya. Kemungkinan yang paling masuk akal adalah, ketika shinigami itu bertemu dengan manusia. Bersentuhan, ataupun memiliki hubungan khusus dengan manusia. Dan kemungkinan kedua adalah, bola itu menghilang karena shinigami itu gagal melakukan pekerjaannya. Dan yang terakhir, bola itu bisa saja pecah atau hancur, jika shinigami itu secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang memiliki banyak kemiripan dengannya. Bisa jadi bola itu menganggap, pemiliknya adalah orang lain itu. Mereka memecahkan diri mereka, dan masuk ketubuh orang itu ketika tidak sengaja shinigami itu berpapasan." Tenten mengerutkan alisnya, sembari menutup buku tebal itu. Ia memandang Neji sembari terkekeh.

"Kau paham sekarang?" tanya Tenten, menatap ke arah Neji yang tengah berpikir keras. Pemuda itu memejamkan matanya kemudian menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa.

"Aku bekerja menjadi Shinigami selama hampir tiga tahun. Tapi, kenapa baru sekarang aku tau tentang pekerjaanku ini," gumam Neji, sementara Tenten meletakkan buku itu diatas meja.

"Aku harus segera menemukan bola itu. Jika tidak aku tidak akan pernah tau isi dari lembar paling akhir buku kematianku. Dan, ketika itu terjadi, maka aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi." lanjut Neji membuat Tenten tersenyum manis. Menggeser duduknya, semakin mendekat ke arah Neji. Tenten ikut menyenderkan tubuhnya disamping pemuda itu. Membuat Neji melirik ke arah Tenten tatkala lengan mereka tak sengaja bersentuhan.

"Apa?" tanya Neji bingung.

"Bersyukurlah, karena kau dipertemukan denganku. Kau tau, aku adalah type orang yang setia kawan. Aku orang yang bertanggung jawab. Jadi ketika, aku memutuskan membantumu, maka itu akan tetap terjadi hingga akhir. Jadi jangan meremehkanku, dengan memasang wajah cemasmu itu. Semuanya akan baik-baik saja, kau percaya pada takdir 'kan?" ujar Tenten sembari memasang tanda V pada tangannya. Ia tersenyum manis, hingga membuat Neji ikut tertawa.

"Arigatou,"

"Seharusnya akulah yang berterimakasih. Karena semenjak kau tinggal disini, aku tidak lagi kesepian," balas gadis itu asal. Tenten menoleh ke arah Neji yang terdiam. Mata mereka bertemu untuk sesaat. Apakah, Tenten mengatakan hal absurd barusan? Apakah, ia juga secara tidak langsung menunjukkan sikap yang tidak baik?

"Apa aku salah bicara?" tanya Tenten, tak digubris oleh Neji. Pemuda itu menatap Tenten dalam. Pandangan yang begitu meneduhkan, sempat membuat Tenten terkejut, ketika tiba-tiba tali rambutnya lepas. Membuat helaian rambut yang selama ini selalu ia cepol terurai bebas begitu saja. Tunggu! Ternyata tidak lepas dengan sendirinya. Nejilah yang melepas tali itu dengan sengaja. Tenten terpaku, didepannya Neji tengah menatapnya dengan mata berbinar.

"Neji?"

"Rambutmu... sangat mirip dengan nya..."

.

.

.

.

.

'Getaran ini menyiksaku. Dadaku, jantungku. Terasa mati rasa karena tatapannya,'

.

.

.

.

To Be Continue...

Aneh ya? Sebab author gak jgo bikin alur yg bagus.:'(

Haaha, okedeh. Chap duanya udah di update!

Silahkan bertanya pada kolom review klo gak jelas ya...

Author pasti bales lewat PM kok!

Ditunggu ya minna!

Ja nee!