Two World
Part 2
HunHan (GS)
"Kita seperti dua orang dari dunia berbeda"
.
.
.
Luhan menggigil setelah mengenakan piyamanya dan segera melompat ke atas tempat tidur menyembunyikan tubuhnya dibalik bed cover. Sehun yang tengah memainkan ponsel disamping Luhan mengerutkan kening tidak suka, "Keringkan dulu rambutmu" Sehun menarik bed cover yang menutupi Luhan, namun wanita itu menahannya dengan kuat.
"Sebentar, ini dingin sekali" adu Luhan masih bersembunyi di bawah bed cover.
"Aku sudah bilang tidak perlu mencuci rambutmu" Sehun memperbaiki duduknya menatap gundukan didekat kakinya.
"Kau tahu aku tidak bisa tidur jika tidak melakukannya" Luhan yang membela diri masih bersembunyi di balik bed cover.
Sehun turun dari tempat tidur kemudian kembali beberapa detik kemudian, "Keluarkan saja kepalamu kalau begitu, kau sangat ribut jika demam"
Luhan mengeluarkan wajahnya dan menatap Sehun yang tengah duduk bersila di tempat tidur dengan sebuah bantal dikakinya dan hair dryer di tangan kanan. Sehun menepuk bantal di pangkuannya.
Luhan menggeser posisinya agar tetap berada di dalam bed cover dan kepalanya bisa berada diatas pangkuan Sehun.
"Stop!" seru Luhan saat Sehun menyalakan hair dryer. Sehun kembali mematikan hair dryer di tangannya.
"Wae?" Sehun menunduk menatap Luhan dengan bingung.
"Sisir. Gunakan sisir" cicit Luhan menghindari tatapan Sehun. Sehun bergerak ingin berdiri, namun ia kembali duduk.
"Wae?" Luhan heran karena Sehun kembali duduk. Ia bisa melihat dahi namja itu berkerut sesaat dari arah kepalanya yang berada diatas pangkuan Sehun.
"Aku rasa kau harus membiasakan diri" Luhan ikut mengerutkan dahinya, "Apanya?"
"Kau tidak bisa menghindariku terus-menerus. Aku tidak masalah dengan orang lain, tapi aku suamimu. Jika aku boleh mengingatkan" Sehun menunggu respon dari Luhan yang juga terlihat berpikir keras.
"Tapi kau tahu aku merasa triggered –"
"Aku tahu. Aku tidak memaksamu untuk berubah atau mengikuti terapi atau apapun itu. Tapi aku rasa kau tidak bisa menghindari bersentuhan denganku, selamanya" Sehun masih berusaha mempengaruhi Luhan dengan penjelasannya.
Saat pertemuan keempatnya dengan Sehun, Luhan memberitahu Sehun bahwa ia didiagnosa mengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder). Hal paling spesifik yang membuatnya terganggu adalah bersentuhan dengan lawan jenis dan kebiasaannya untuk menyusun sesuatu berdasarkan kemiripan warna yang tidak bisa dikendalikan. Hal ini yang membuat Luhan selalu memberi batas tak kasat mata saat pria yang terlibat flirting dengannya mulai terlihat mendekati.
"Aku akan berhenti saat kau benar-benar tidak sanggup" lanjut Sehun, memperhatikan Luhan yang tengah menimbang-nimbang sambil menggigit bibirnya.
"Baiklah" bisik Luhan. Wanita itu memejamkan matanya erat-erat saat Sehun menyalakan hair dryer.
Luhan berjengit kaget saat telapak tangan Sehun mulai menyentuh kulit kepalanya. Namun Luhan menahan diri dengan merapat gusinya dan meremas bed cover yang menutupi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Sehun berusaha tidak mempedulikan Luhan yang masih menutup mata erat-erat dan terus mengeringkan rambut istrinya dengan hati-hati. Namun Sehun segera menghentikan gerakannya saat merasakan tubuh Luhan bergetar, "Gwaenchanha?"
Luhan menghembuskan napas sejenak, kemudian menariknya kembali, "Hm"
Sehun melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Luhan, sambil sesekali memperhatikan Luhan yang masih memejamkan mata erat-erat meskipun buku jemarinya sudah tidak lagi memutih.
"Selesai" Sehun mematikan hair dryer dan meletakkannya benda berwarna hitam itu di samping kakinya. Luhan masih belum bergerak dengan mata tertutup.
"Jangan bergerak. Kepalaku pusing" perintah Luhan singkat. Sehun otomatis berhenti bergerak dengan tangan menggantung. Tanpa sadar ia ikut menahan napasnya, namun melepaskannya sesaat kemudian.
Luhan berusaha bangun dengan susah payah, kemudian bangkit dari tempat tidur dan pergi keluar dari kamar. Sehun menatap pintu yang terbuka dengan ragu, setelah menunggu beberapa saat, ia menurunkan bantal dari pangkuannya dan bergerak hendak menyusul Luhan. Namun gerakan itu terhenti karena Luhan kembali masuk.
"Kau baik-baik saja?" Sehun mengikuti Luhan dengan pandangannya hingga wanita itu kembali naik ke tempat tidur.
"Aku tidak tahu" jawab Luhan setelah berbaring dan menatap langit-langit, "Tapi itu tidak seburuk yang aku pikirkan. Tidak usah khawatir, tidurlah" Luhan menutup matanya, berusaha untuk tidur.
Sehun mematikan lampu dan ikut berbaring sambil menatap Luhan yang berusaha untuk tidur.
.
.
.
"Selamat siang, Sir!"
Sehun mengangkat kepalanya dan menemukan kepala Chanyeol menyembul dari balik pintu kaca.
"Ada apa kau kesini? Kau tertangkap?" Sehun tertawa dengan ucapannya sendiri dan keluar dari balik mejanya.
"Cih, apa aku hanya boleh datang ke kantor polisi sebagai tersangka?" Chanyeol masuk tanpa dipersilahkan dan duduk di sofa yang tersedia sambil bersungut-sungut.
Sehun mendengus, "Jadi apa yang membuat Tuan Park Chanyeol yang terhormat datang ke kantorku yang kumuh ini" sindir Sehun.
"Tsk! Kau ini benar-benar. Aku ingin memberikan ini" Chanyeol mengeluarkan amplop berwarna putih dari saku jasnya.
"Ulang tahun pertama putraku. Datanglah bersama Luhan" jelas Chanyeol saat Sehun membuka amplop itu.
"Kau datang jauh-jauh kesini hanya untuk mengantar ini?" Sehun menatap Chanyeol penuh selidik.
"Tentu saja.." Chanyeol memberikan senyum bodohnya, "..tidak. Aku sebenarnya ingin menanyakan ini sejak acara bulan lalu. Dan kebetulan aku punya alasan ini"
Sehun menyandarkan punggung sambil meregangkan tubuhnya, "Teh?"
"Terserah kau saja" Chanyeol membiarkan Sehun meminta dibawakan teh ke ruangannya melalui telepon.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Sehun kembali memberikan perhatiannya pada Chanyeol.
"Sebenarnya bukan hanya aku yang penasaran, Baekhyun juga ingin menanyakan hal yang sama" Chanyeol membuka percakapannya, memperhatikan Sehun yang mengangguk-angguk santai.
"Apa kau dan Luhan benar-benar menikah?" Chanyeol menatap Sehun penasaran.
Sehun menatap Chanyeol sesaat, memastikan pendengarannya tidak salah, "Aku tidak mengerti dengan 'benar-benar menikah' yang kau maksud"
"Hm, bagaimana menjelaskannya. Aku adalah salah satu dari sedikit teman laki-laki yang dimiliki Luhan dan aku sangat mengenal anak itu. Jadi aku tidak masalah dengan sikapnya yang terkesan menjaga jarak dengan orang lain karena aku tahu dia tidak bermaksud seperti itu" Chanyeol menghentikan kalimatnya saat seseorang berseragam mengantar dua cangkir teh ke ruangan Sehun.
"Tapi kau, aku merasa ada yang tidak beres denganmu" lanjut Chanyeol setelah si pengantar teh keluar.
"Wah aku merasa tersanjung kau memperhatikanku seperti itu" Sehun tergelak, "Apanya yang tidak beres?"
"Aku tidak akan menanyakannya padamu jika hanya aku yang berpikir seperti itu, Baekhyun juga merasakan hal yang sama. Bagaimana aku menyebutnya, kau terlihat lebih.. tenang. Maksudku bukan tenang dalam artian baik" Chanyeol bingung sendiri dengan penjelasannya.
Sehun mengangkat sudut bibirnya, "Aku tidak tahu seberapa besar rasa penasaranmu sampai kau datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu. Tapi, aku berterimakasih untuk itu"
Chanyeol menunggu kelanjutan kalimat Sehun. Sehun memperbaiki duduknya,
"Entahlah. Luhan wanita yang cukup sulit" Sehun mengakui.
"Dan apa alasanmu menikahinya?"
"Aku sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saat memikirkan pernikahan bersama Luhan aku sama sekali tidak merasa khawatir. Aku yakin akan menjalaninya dengan baik, tapi kemudian aku mendapati banyak hal tentang Luhan yang tidak aku pahami. Bukan mengenai pernikahan dengan Luhan, tapi mengenai Luhan itu sendiri"
Sehun meminum teh untuk meredakan kebingungannya.
"Aku tidak yakin saat aku menjawab aku mencintainya, tapi aku juga tidak punya alasan untuk tidak tertarik padanya"
"Wah aku tidak tahu jika kau adalah orang serumit ini" Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Sehun menarik sudut bibirnya, "Aku juga terkejut dengan diriku sendiri. Aku hanya, yakin jika aku tidak akan pernah bosan dengan Luhan?" Sehun sendiri mempertanyakan pernyataannya.
"Aku menyesal menanyakan ini. Kau membuatku semakin bingung! Terserah kau saja kalau begitu. Yang penting aku mempercayakan Luhan padamu" Chanyol menyeruput tehnya sambil bergidik.
"Kau terdengar seperti kakak iparku Park Chanyeol"
"Baiklah hentikan pembicaraan ini. Apa kau tidak berencana untuk memiliki anak? Kau sudah tiga puluh enam jika aku boleh mengingatkan. Aku sendiri tidak yakin masih sanggup menggendong anakku saat berusia empat puluh nanti"
Sehun mengangkat alisnya, memikirkan jawaban yang paling tepat. Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri.
"Entahlah. Untuk sementara aku nyaman dengan apa yang ada sekarang. Aku seperti memiliki teman bicara yang membicarakan hal yang tidak dibicarakan oleh teman"
Chanyeol melongo, kemudian memasang tampang sedih, "Apa yang terjadi padamu temanku? Kenapa aku semakin tidak mengenalimu? Apa kau ingin memeriksakan diri ke psikiater?" ujar Chanyeol dengan nada dibuat seprihatin mungkin.
"Hentikan Park. Menjijikkan! Kau mau aku beritahu rahasia?" Sehun memajukan tubuhnya ke depan, membuat Chanyeol melakukan hal yang sama.
"Aku belum pernah menyentuh Luhan"
Chanyeol melempar tubuhnya kebelakang sambil menutup mulut. Kemudian bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, "Kau, apa? Oh Tuhan, apa yang dilakukan Luhan padamu? Kenapa dia membuatmu menjadi Budha seperti ini? Kau yakin belum pernah menyentuhnya? Seingatku kau bukan orang yang sesabar ini" Chanyeol masih tidak percaya dengan telinganya sedangkan Sehun hanya tersenyum puas melihat reaksi temannya yang sedikit tidak waras itu.
.
.
.
Luhan memastikan bahwa kursi yang ia naikkan ke atas meja makan sudah berada pada posisi aman dengan menggoyang-goyangkannya sedikit. Setelah yakin dengan persiapannya Luhan naik ke atas meja kemudian melanjutkannya dengan naik ke atas kursi. Dengan gerakan pelan dan hati-hati Luhan meluruskan badannya dan meraih bola lampu yang tepat berada diatas kepalanya, memutar bola itu hingga terlepas, kemudian dengan tangannya yang lain Luhan memasang bola lampu yang baru dan berhasil!
Luhan berniat turun setelah menarik napas sejenak, namun,
"YA! Apa yang kau lakukan?!"
Luhan berjengit kaget dan kehilangan keseimbangannya, Luhan pasrah dan menutup matanya erat-erat saat merasakan tubuhnya melayang karena kehilangan keseimbangan.
Brugh!
Sehun mengerang kesakitan saat punggungnya menimpa lantai, namun pikirannya teralih saat merasakan Luhan gemetar di dalam pelukannya.
"Kau baik-baik saja?" Sehun berusaha bangkit dengan beban Luhan di dalam pelukannya.
Luhan tidak menjawab, tubuhnya masih gemetar dan matanya terpejam erat-erat, "Luhan, kau bisa mendengarku?" Sehun mengguncang tubuh Luhan yang masih gemetar itu. Luhan mengangguk sekali, namun matanya masih terpejam erat dan tangannya masih menggenggam bola lampu rapat-rapat. Sehun berusaha melepaskan genggaman tangan Luhan dari benda bulat itu, takut-takut bola lampu itu akan pecah dan melukai tangan Luhan.
Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangan saat Sehun berhasil melepaskan bola lampu yang digenggamnya. Sehun menepis keraguannya, dengan cepat ia menggendong Luhan dan mendudukkan istrinya di sofa terdekat, kemudian kembali ke dapur untuk mengambil minum.
"Kau sudah tenang?" Sehun masih memegang gelas berisi air putih itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mengelus punggung Luhan yang sedang menekuk lututnya dan bersandar miring diatas sofa.
"Maafkan aku mengagetkanmu" bisik Sehun menyesal. Luhan membuka matanya dan menerima uluran air minum dari Sehun. Luhan mulai bernapas dengan teratur, kemudian menatap Sehun lega,
"Aku pikir aku akan mati"
"Lain kali jangan lakukan hal-hal seperti itu sendiri. Kau bisa menungguku pulang" Sehun memulai omelannya dengan nada setengah kesal dan setengah khawatir.
"Mian. Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak akan mengulanginya lagi" bisik Luhan masih sesekali menghela napas.
"Uh?" Sehun menghentikan gerakannya, "Kau tidak apa-apa?" kali ini Sehun bertanya dengan raut bingung.
"Ya aku sudah tidak apa-apa" jawab Luhan seadanya.
"Bukan itu" Sehun menatap tangan kirinya yang menyentuh punggung Luhan dan tangan kanannya yang menggenggam telapak tangan Luhan.
Luhan berkedip beberapa kali, kemudian melepaskan tangan Sehun dengan pelan, "Mungkin karena aku sudah dalam keadaan kaget"
"Kau lihatkan? Kau bisa melakukannya! Hanya perlu membiasakan diri!" seru Sehun takjub dengan senyuman lebar.
Luhan tersenyum miring, "Kenapa kau terlihat senang sekali?", kemudian memandang Sehun curiga, "Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"
Sehun terdiam, bola matanya bergerak-gerak gelisah mencari alasan, "A-aku ingin mandi" ujar Sehun gugup kemudian kabur ke kamar. Luhan tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Sehun salah tingkah.
.
"Lu"
"Hm" Luhan menjawab tanpa menoleh, ia meneruskan kegiatan mengetik-entah-apanya di meja belajar dengan beberapa buku tebal terbuka dan lembaran kertas-kertas berbahasa Inggris di sekitar komputer jinjingnya.
Sehun yang tengah membaca buku di tempat tidur memperbaiki duduknya dan menatap punggung Luhan beberapa detik.
"Chanyeol datang ke kantorku tadi siang, ia akan mengadakan pesta ulang tahun pertama anaknya minggu depan" Sehun duduk bersila di atas tempat tidur sambil memutar-mutar buku yang ia baca.
"Hari apa?" jawab Luhan masih fokus pada pekerjaannya.
"Sabtu, jam enam sore"
"Hm"
Sehun membuka mulutnya ragu, namun ia kembali menutupnya dan menatap punggung Luhan sambil menimbang-nimbang sesuatu.
"Lu"
"Hm"
Bunyi ketukan pada keyboard terdengar beberapa saat karena Sehun tidak menjawab Luhan dengan cepat.
"Kau benar-benar tidak ingin menjadi ibu?" Sehun mengulum bibir tipisnya menunggu respon Luhan. Luhan terlihat menghentikan kegiatan mengetiknya, kemudian memiringkan kepala. Wanita itu memutar kursinya menghadap pada Sehun,
"Kau bertanya pada Xi Luhan atau Oh Luhan?" Luhan menatap Sehun penuh perhatian. Perasaan bersalah sedikit mengusiknya.
"Jika Xi Luhan?" Entah kenapa raut wajah Sehun terlihat seperti gadis tujuh belas tahun yang diajak menikah oleh kekasihnya saat ini. Penuh keraguan, tidak cocok dengan tubuh kekarnya.
"Tidak" Luhan menggeleng cepat dan pasti. Tidak butuh beberapa detik untuknya menjawab pertanyaan Sehun.
"Bagaimana dengan Oh Luhan?"
"Bukankah aku sudah pernah menjawabnya, aku akan melakukannya jika kau menginginkan. Tapi aku butuh waktu, dan kau tahu kenapa"
Sehun menunduk memainkan jemarinya, ucapan Chanyeol tadi siang kembali berputar dikepalanya.
"Jika kau tidak bisa menunggu.." Luhan menggantung kalimatnya, menunggu Sehun kembali menatap kearahnya,
"Aku bisa melepaskanmu" Luhan menunggu reaksi Sehun, tanpa ia sadari ia mengharapkan sesuatu dari jawaban Sehun.
"Kau tahu kita tidak sedang membicarakan perpisahan Lu" Sehun menunjukkan wajah tidak sukanya pada Luhan.
Luhan tertawa, "Tidak perlu tegang seperti itu, baiklah, aku menganggap kau mau menunggu kalau begitu" Luhan mengangkat bahunya kemudian kembali memutar kursi menghadap meja belajar.
"Ah!" Luhan teringat sesuatu dan kembali menghadap pada Sehun, "Apa kau kesulitan dengan itu?" Luhan memasang tampang prihatinnya.
"Apa?"
"Itu, 'adik'mu" Jawab Luhan menunjuk sesuatu dibawah selimut dengan dagunya.
"YA!" Sehun refleks menutupi adiknya dengan bantal.
"Aku kuliah kesehatan Oh Sehun. Aku lebih tahu mengenai kebutuhanmu lebih baik dari yang kau tahu!" Luhan tertawa karena berhasil menggoda Sehun.
Sehun membuka mulutnya dan menutupnya kembali, "Aish!" Sehun berbaring dengan cepat dan menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover.
.
.
"Wah ini benar-benar dingin. Awas saja jika Park Chanyeol tidak menyediakan pemanas di ruangan pestanya" Sehun menggerutu setelah turun dari mobil dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku padded jacket yang digunakannya. Bagaimana tidak dingin, ini adalah awal bulan Desember.
Luhan mengikuti Sehun sambil menggeleng-geleng, terkadang Sehun juga bisa menggemaskan.
"Sehun-a!"
Sehun memutar tubuhnya menghadap Luhan yang berjalan dibelakangnya. Ini adalah salah satu yang Sehun tidak mengerti dari Luhan, setiap berjalan berdua wanita itu selalu berjalan di belakangnya.
"Keluarkan tanganmu" perintah Luhan menunjuk saku jaket Sehun dengan dagunya.
Sehun menatap Luhan bingung walaupun tetap mengikuti perkataan Luhan, ia mengeluarkan kedua tangannya dari saku jaket. Kenapa ia merasa seperti sedang dimarahi karena bersikap tidak sopan sekarang?
Luhan memasang wajah malas, "Bukan begitu, berikan padaku" keluhnya mengerutkan dahi.
Sehun menjulurkan kedua tangannya ke arah Luhan, Luhan menatap Sehun dan telapak tangannya bergantian. Sehun sedang dalam mode waspada sekarang. Ia tidak bisa menebak jalan pikiran Luhan meskipun sudah menikah tujuh bulan.
Luhan meraih tangan kanan Sehun dan menggenggamnya, "Baby project" jelas Luhan dengan singkat saat Sehun menatapnya penuh pertanyaan.
"Ha?"
"Kau bilang ingin punya anak, bagaimana aku bisa hamil jika kau tidak menyentuhku?" jelas Luhan santai.
Sehun segera menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat, takut jika ada orang yang mendengar percakapannya dengan Luhan barusan, "Ya! Kau harus mengerem blak-blakan mu itu di tempat umum seperti ini!" bisik Sehun memperingatkan. Luhan selalu berhasil membuatnya hampir kehilangan detak jantung.
"Mwo eottae? Memangnya salah suami istri membicarakan anak" omel Luhan masih dengan ketidakpeduliannya.
"Kau hampir membunuhku, asal kau tahu! Sudahlah kaja!" Sehun menarik tangan Luhan agar yeoja itu berjalan disampingnya dan memasukkan tangan Luhan yang berada di genggamannya ke dalam saku.
"Ngomong-ngomong kenapa kau selalu berjalan di belakang?"
"Kebiasaanku. Jika aku berjalan di depan aku tidak tahu kau terjatuh"
"Apa-apaan itu"
.
.
.
TBC
Hallo! Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah menyempatkan waktu untuk beberapa halaman fict ini. Dan special thanks untuk yang meluangkan waktu lebih banyak untuk memberikan review/feedback. I read all of them tentunya.
Mengenai OCD Luhan sudah dijelaskan sedikit disini bagian spesifiknya, tapi gejala-gejala lainnya bisa ditanyakan lebih lanjut pada mbah google. He tells you everything. Ada banyak kebiasaan-kebiasaan Luhan yang menjadi bukti OCD-nya dari awal hingga chapter ini sebenarnya.
Ah, Happy Early New Year!
