Selamat Datang!

Saya datang membawa chapter kedua. Maaf kalau saya telat updetnya.

Di chapter ini Grimmjow dan Neliel akan muncul.

Semoga kalian menyukainya dan saya ucapkan selamat membaca!^^'


Summary:

Kesepian menyelimuti seorang pemuda bernama Ulquiorra Schiffer. Meskipun ia hidup lebih dari kata berkecukupan, ia merasa selalu ada kekosongan dalam kehidupannya. Meskipun begitu ia tidak pernah menunjukkan rasa kesepiannya itu pada orang lain. Apakah pemuda yang dijuluki Pangeran Es ini akan menemukan hal yang bisa mengusir rasa kesepiannya dengan adanya kehadiran gadis pemilik senyuman matahari seperti Orihime Inoue?


Bleach

Tite Kubo

(Bukan punya Lan)

Rate T

Genre

Romance & Friendship

Pairing

Ulquiorra Schiffer & Orihime Inoue

(Grimmjow Jeagerjaquez & Neliel Tu Oderschvank)

The Lonely Prince

Neary Lan


Bab 2

Guests A Trouble Maker

Hari yang cerah. Mungkin sebagian orang akan mengatakannya seperti itu. Tetapi bagi seorang pemuda berkulit pucat dengan mata hijau emerald indahnya, hari cerah adalah hari yang biasa. Ya, hari yang biasa. Tidak ada kata spesial untuk pergantian hari seperti hari ini. Ia akan menjalani harinya dengan caranya sendiri. Menatap lurus ke depan tanpa melihat persimpangan-persimpangan yang ada. Menyambut hari tanpa senyuman dan hanya wajah datar tanpa ekspresi yang akan selalu ditunjukkannya. Itulah cara khas Sang Pangeran Schiffer.

Hari yang cerah menyambut kediaman Keluarga Schiffer. Pagi ini Ulquiorra sedang sarapan seorang diri di ruang makannya yang besar. Ruang makan mewah yang bernuansa layaknya ruang makan kerajaan-kerajaan di Eropa. Meja makan panjang yang bertaplak kuning emas menghiasi ruang makan tersebut dan berbagai macam peralatan makan berkualitas tinggi terletak di atas meja makan. Hidangan di atas meja makan sungguh menggugah selera. Roti yang empuk dan lembut dengan berbagai macam selai yang tersedia, nasi goreng yang baunya sangat harum, telur mata sapi juga tersedia, dan tidak lupa segelas susu yang siap menemani sarapan pagi Sang Pangeran Schiffer.

Siapa pun yang akan disediakan sarapan seperti ini pasti akan merasa senang dan melahapnya dengan penuh semangat. Namun, bagi Ulquiorra sarapan seperti ini adalah hal yang paling malas untuk dilakukannya. Jangankan untuk memasukan selembar roti ke dalam mulutnya, duduk di meja makan seorang diri saja sudah membuatnya ingin segera beranjak dari tempat duduknya. Meskipun selalu memiliki pemikiran seperti itu tetapi ia tidak pernah melakukannya sekalipun. Hanya sebatas pemikiran tanpa ada tindakan langsung.

Ulquiorra hanya menatap dengan malas semua hidangan yang ada di meja makan. Ia merasa sama sekali tidak bernafsu untuk menyentuh semua makanan yang disediakan untuknya tersebut. Ulquiorra melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat delapan belas menit. Masih ada empat puluh dua menit lagi untuknya segera berangkat ke sekolah. Ia menghela nafas dan bertopang dagu dengan sebelah tangannya. Kepala Pelayan Aaroniero datang menghampiri Ulquiorra yang sedang memandang kosong ke arah meja makan. Ulquiorra menyadari kehadiran kepala pelayannya ini yang sekarang sedang tersenyum ramah padanya.

"Selamat pagi, Tuan Muda." Kepala Pelayan Aaroniero mengucap salam pada Ulquiorra dengan tersenyum ramah.

"Hm." Hanya itu yang dapat dijawab Ulquiorra sebagai balasan dari salam Kepala Pelayan Aaroniero. Matanya masih memandang malas ke arah meja makan.

"Tuan, apa tidak sebaiknya Anda sarapan meskipun hanya sedikit saja." Kepala Pelayan Aaroniero mencoba membujuk Ulquiorra. Kepala pelayan berambut raven hitam yang mirip Ichigo ini sudah mengetahui sekali kebiasaan Ulquiorra yang tidak pernah menikmati waktu sarapannya.

Ulquiorra memutar bola matanya dan menatap si kepala pelayan yang selalu tersenyum ramah padanya itu. Kemudian mata emeraldnya mengalihkan pandangannya dari kepala pelayan muda itu ke arah meja makan. Ulquiorra mengambil gelas susu yang terletak disebelah kanannya. Ia mengangkat gelas susu tersebut dan memain-mainkan gelasnya seolah-olah sedang memain-mainkan gelas anggur.

"Kepala Pelayan Aaroniero," panggil Ulquiorra tanpa menoleh pada si kepala pelayan.

"Ya, Tuan," jawab kepala pelayan berambut raven hitam itu.

Ulquiorra menghela nafas sesaat. Tangannya masih memain-mainkan gelas susu tersebut.

"Kamu tahu 'kan kalau aku tidak suka susu?" Ulquiorra bertanya dengan suara dinginnya.

Kepala Pelayan Aaroniero mengangguk lemah. "Ya. Saya tahu, Tuan. Apa Tuan ingin saya menggantinya dengan minuman yang lain?"

"Bawakan aku secangkir Black Coffee," ujar Ulquiorra sambil meletakkan kembali gelas susu di tempatnya semula.

"Baik, Tuan." Kepala Pelayan Aaroniero mengangguk.

Kepala Pelayan Aaroniero memanggil seorang pelayan wanita. Ia menyuruh pelayan wanita tersebut untuk membuat secangkir Black Coffee yang diinginkan Ulquiorra tetapi ia juga membisikkan sesuatu di telinga pelayan wanita itu. Ulquiorra hanya melihat tanpa mempedulikannya sedikit pun. Tidak lama kemudian pelayan wanita itu kembali dengan membawa nampan berisi secangkir Black Coffee dan roti berselai. Pelayan wanita itu meletakkan secangkir Black Coffee dan roti berselai di hadapan Ulquiorra. Setelah pekerjaannya selesai, pelayan wanita itu membungkuk pada Ulquiorra dan Kepala Pelayan Aaroniero, kemudian kembali ke dapur.

Ulquiorra menatap bingung pada secangkir Black Coffee dan roti berselai yang ada di hadapannya. Ia mengangkat sebelah alisnya melihat roti berselai. Setahunya ia sama sekali tidak meminta untuk dibuatkan roti berselai. Mata emeraldnya kembali melirik Kepala Pelayan Aaroniero yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tepat di sampingnya. Kepala pelayan itu hanya memasang wajah dengan senyum ramah yang selalu terlukis di bibirnya. Sepertinya Kepala Pelayan Aaroniero menyadari Ulquiorra menatapnya dengan pandangan kebingungan.

"Anda tidak keberatan, 'kan Tuan?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero tiba-tiba.

Ulquiorra tidak menjawab pertanyaan Kepala Pelayan Aaroniero. Ia memilih untuk diam. Tangannya mengambil cangkir kopi dan menyeruput kopi yang kelihatannya masih panas. Itu terlihat dari uap panas yang mengepul di sekitar cangkir kopi. Ia kembali meletakkan cangkir kopi dan dengan ragu-ragu menyentuh roti berselai yang disiapkan bersamaan dengan kopi. Sebelum roti itu masuk ke dalam mulutnya, ia melirik Kepala Pelayan Aaroniero lagi.

"Kepala Pelayan Aaroniero," panggil Ulquiorra dan Kepala Pelayan Aaroniero menoleh padanya, "kamu menyebalkan," kata Ulquiorra menyambung ucapannya tadi.

Ulquiorra mengatakannya dengan dingin dan tanpa ada ekspresi yang tergambar jelas di wajahnya. Kepala Pelayan Aaroniero yang mendengarnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesal atau marah, melainkan tetap memasang senyum ramah andalannya.

"Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Muda," jawabnya singkat. "Lagipula itu roti dengan selai mocha kesukaan Anda, bukan?" tambahnya lagi.

Tuan Muda Schiffer tidak menghiraukan perkataan Kepala Pelayan Aaroniero. Ia memilih untuk segera menghabiskan roti yang sedari tadi dipegangnya dan secepatnya menyelesaikan kegiatan sarapannya. Tak lama roti yang dimakan Ulquiorra sudah habis dan hanya tersisa sedikit di piring. Ulquiorra menyeruput kopinya. Kepala Pelayan Aaroniero masih setia berada di sisi Ulquiorra dan memperhatikan apa yang dilakukan Tuannya.

"Apa Tuan ingin berangkat ke sekolah dengan mobil? Saya akan menyuruh supir untuk segera menyiapkan mobil," ujar Kepala Pelayan Aaroniero.

Ulquiorra meletakkan cangkir kopinya. "Tidak perlu. Aku akan pergi dengan berjalan kaki." Ulquiorra bangkit dari kursinya dan mengambil tas sekolah yang terletak di kursi sebelahnya. Ia berdiri tepat di hadapan Kepala Pelayan Aaroniero. "Aku hanya tidak ingin ada orang yang tahu tentang kehidupanku. Satu hal lagi, jangan izinkan kedua orang itu masuk ke rumah ini. Aku percayakan rumah ini padamu, Kepala Pelayan Aaroniero."

"Baik, Tuan. Saya mengerti," sahut kepala pelayan bermata aqua green ini sambil membungkuk hormat.

Ulquiorra berlalu meninggalkan Kepala Pelayan Aaroniero dan berjalan menuju pintu depan. Diliriknya kembali jam tangannya. Jarum jam kini menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh enam. Masih ada waktu baginya untuk berjalan kaki menuju SMU Karakura sebelum bel di sekolah tersebut berbunyi. Kepala Pelayan Aaroniero menatap punggung Ulquiorra yang berlalu sambil tersenyum tipis.

"Dasar Tuan Muda. Kali ini alasannya tidak suka susu," gumam Kepala Pelayan Aaroniero.

oOo

Bel masuk SMU Karakura belum berbunyi. Ulquiorra datang tepat pada waktunya dan sekarang ia sedang santai melangkahkan kakinya menuju kelas. Tangan kanannya dimasukkannya ke dalam saku celana dan tangan kirinya memegang tas sekolah. Pandangannya lurus ke depan dengan memasang wajah dingin tanpa ekspresi. Tanpa disadari oleh Ulquiorra bahwa beberapa pasang mata mengarah padanya. Mereka memandangi sosok pemuda berkulit putih pucat dan bermata emerald ini dengan kagum dan misterius. Tetapi pemuda dingin seperti Ulquiorra sudah pasti tidak menghiraukan pandangan mereka semua dan tetap terus melanjutkan perjalanannya.

Hm, sampah.

Orihime baru tiba di sekolah. Ia berjalan dengan terburu-buru karena mengira dirinya hampir terlambat ke sekolah. Ketika ia sedang berjalan menuju kelasnya, ia melihat seorang pemuda yang sepertinya dikenal olehnya. Orihime berjalan mendekati pemuda berambut hitam tersebut dan menyapanya.

"Selamat pagi, Schiffer!" sapanya sambil tersenyum manis.

Pemuda berambut hitam yang ternyata adalah Ulquiorra terkejut melihat Orihime yang kini sudah berada di sampingnya. Gadis berambut orange itu tersenyum sangat manis sehingga membuat Ulquiorra terdiam melihatnya. Terdiam bukan karena terpesona melainkan terdiam karena kemunculan Orihime yang tiba-tiba. Ulquiorra tidak membalas sapaan Orihime dan memilih untuk berlalu menuju kelas. Orihime mencoba mengejarnya.

"Tunggu aku, Schiffer!" panggil Orihime sambil berlari-lari kecil mengejar Ulquiorra.

Ulquiorra tidak mempedulikan Orihime yang berusaha menyusulnya. Hingga tanpa disadarinya Orihime kini sudah berada di sampingnya lagi. Ulquiorra berhenti dan Orihime pun juga berhenti. Ia menatap Orihime.

"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Ulquiorra dingin dan tanpa ekspresi.

"Ng, tidak ada yang kuinginkan dari Schiffer," jawab Orihime polos. Senyuman manis tadi masih dilayangkannya pada Ulquiorra. Sayangnya senyuman Orihime itu tidak akan bisa meruntuhkan topeng dingin Ulquiorra.

"Kalau tidak ada yang kamu inginkan dariku, jangan ikuti aku." Ulquiorra berkata dengan sarkastik. Ia tidak peduli Orihime akan tersinggung atau tidak mendengar ucapannya.

Sebelum Ulquiorra kembali melangkahkan kakinya, Orihime berkata sesuatu yang membuatnya berhenti melangkahkan kakinya. Orihime membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

"Tujuan kita searah, jadi tidak ada salahnya 'kan kalau kita berjalan bersama menuju kelas?" pinta Orihime. Sebenarnya Orihime sangat ragu untuk mengatakannya mengingat Ulquiorra pernah mengacuhkannya ketika ia mengajak pemuda bermata emerald itu berkenalan.

Ulquiorra menatap malas gadis berambut orange yang berdiri di hadapannya. Jujur ia merasa kurang menginginkan pertemuannya dengan Orihime di pagi ini dan bertanya-tanya mengapa harus gadis bermata abu-abu ini yang menyapanya. Sebelum mengatakan sesuatu kepada Orihime, ia menghela nafas sesaat.

"Jangan berharap banyak dariku." Ulquiorra kembali mengeluarkan kata-kata tak menyenangkannya. Mata emeraldnya menyiratkan ketidaksukaannya terhadap Orihime.

Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ulquiorra membuat Orihime membulatkan mata abu-abunya. Ia tidak menyangka Ulquiorra akan berkata seperti itu. Seharusnya ia telah memikirkan apa akibatnya meminta sesuatu hal yang mustahil untuk dikabulkan seorang pemuda dingin seperti Ulquiorra. Pemuda yang dilihatnya sejak kemarin tak pernah menunjukkan ekspresi lain selain datar. Pemuda yang dingin bagaikan es Kutub Antartika yang tak akan semudah itu mencair. Tidak untuk saat ini.

"Begitu, ya? Maaf, kalau aku mengatakan hal yang aneh-aneh pada Schiffer," ujar Orihime sambil menundukkan kepalanya. Entah malu atau kecewa yang jelas ia lebih memilih menundukkan kepalanya daripada harus menatap wajah Ulquiorra.

Ulquiorra mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dapat dilihatnya beberapa murid yang melirik mereka dengan pandangan aneh sambil sesekali berbisik. Ulquiorra memang tidak dapat mendengar apa yang mereka bisikkan, tetapi ia dapat menduga bahwa ini dikarenakan gadis berambut orange yang belum mau untuk mengangkat kepalanya. Dari sudut pandang orang lain ia terlihat seperti sedang membuat seorang gadis kecewa walaupun itu sebenarnya benar. Ulquiorra tidak ingin orang salah paham lebih jauh, maka ia berlalu meninggalkan Orihime sendirian.

Setelah Ulquiorra pergi Orihime baru mengangkat kepalanya. Ia tidak menemukan Ulquiorra dimanapun. Itu berarti Ulquiorra sudah berjalan menuju kelas terlebih dahulu. Orihime bergegas menuju kelas. Selama berjalan ia merutuki dirinya yang sudah membuat Ulquiorra kesal padanya, meskipun ia menyangsikan apa yang dilakukannya itu salah atau tidak.

Huh, Schiffer sepertinya kesal lagi padaku. Bodohnya dirimu, Orihime. Apa yang kamu pikirkan sampai berani mengajaknya berjalan bersama menuju kelas?

Orihime sudah sampai di kelas. Wajahnya terlihat sedikit lesu. Tatsuki langsung berlari menghampirinya.

"Selamat pagi, Orihime!" sapa Tatsuki sambil merangkulnya.

"Pagi, Tatsu…" ucapan Orihime terpotong.

"Kenapa kamu lama sekali datangnya?" Tatsuki bertanya tanpa mendengarkan terlebih dahulu sapaan selamat pagi dari Orihime. "Dan kenapa dengan wajahmu? Wajahmu lesu sekali." Tatsuki merasa aneh ketika melihat wajah lesu Orihime.

"Ah, aku tidak apa-apa." Orihime langsung memasang senyum palsu agar Tatsuki tidak mencemaskannya berlebihan. Ia memutar otaknya cepat untuk mencari alasan. "Tadi pagi aku bangun kesiangan dan kupikir aku akan terlambat. Aku takut dihukum dan saat berjalan menuju kelas aku memikirkan apa hukuman untukku jika seandainya aku terlambat. Untungnya aku tidak terlambat," ujar Orihime berbohong sambil tersenyum palsu lagi.

Orihime berharap setidaknya kali ini Tatsuki mempercayai ucapannya. Tatsuki sedikit menimbang-nimbang alasan dari Orihime dan meragukannya. Melihat senyum palsu yang dipaksakan Orihime untuk meyakinkannya ia memilih untuk mempercayai alasan sahabatnya itu.

"Ternyata begitu. Aku pikir kamu sakit atau ada masalah. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu katakan saja padaku, jangan sungkan-sungkan," kata Tatsuki. Orihime hanya mengangguk. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Tatsuki yang sangat mengerti dirinya.

"Ichigo!" panggil seorang gadis pendek yang tak lain adalah Rukia. Rukia sedang mengejar Ichigo yang melarikan diri darinya. "Kembali kau, kepala jeruk!" pekik Rukia.

"Tidak mau!" balas Ichigo. "Nanti kau akan memukulku. Siapa yang sudi dipukul olehmu, pendek" ejek Ichigo yang terus berlari. Rukia menggeram mendengarnya.

"Aku pasti akan menghajarmu, kepala jeruk!" Rukia semakin bersemangat mengejar Ichigo.

"Coba saja kalau kau bisa!" tantang Ichigo. Rukia menerima tantangannya.

Lagi-lagi pasangan ribut Ichigo dan Rukia kembali membuat keributan. Agenda harian mereka memang tidak pernah absen sekalipun. Semua murid hanya tertawa melihat Ichigo dan Rukia yang saling kejar-kejaran. Tatsuki menghela nafas sementara Orihime hanya tersenyum melihat tingkah dua temannya itu.

"Huh, apa mereka berdua itu tidak bisa untuk tidak ribut dan bertengkar satu hari saja?" gerutu Tatsuki. "Kalau kamu punya pacar jangan bertingkah seperti mereka, ya, Orihime." Tatsuki menepuk pundak Orihime. Orihime hanya tersenyum.

Orihime dan Tatsuki berjalan menuju tempat duduk mereka. Tak sengaja Orihime melirik Ulquiorra yang duduk tepat di belakang tempat duduknya. Pemuda dingin itu sedang membaca buku dengan tenang seolah tidak mendengar suara apa pun disekitarnya. Orihime berpikir mungkin suara pertengkaran Ichigo dan Rukia terdengar seakan-akan seperti alunan musik klasik di telinga Ulquiorra. Mata emerald Ulquiorra tak sengaja melihat mata abu-abu Orihime, buru-buru Orihime memalingkan wajahnya dan segera duduk di kursinya. Tatsuki hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.

oOo

"Ayo kita makan siang di atap, Orihime!" ajak Tatsuki ketika bel istirahat berbunyi.

"Ayo!" sahut Orihime bersemangat.

Tatsuki melirik Ulquiorra yang sedang berkutat dengan buku tebalnya dan kembali menatap Orihime. Ia mendekati telinga Orihime dan membisikkan sesuatu.

"Kamu tidak mencoba mengajak Schiffer?" bisik Tatsuki perlahan agar tidak terdengar Ulquiorra. Orihime membelalak kaget mendengar bisikan Tatsuki. Tatsuki menggeleng melihat Orihime yang tampak terkejut mendengar pertanyaannya. "Kenapa wajahmu seperti orang kaget begitu?"

"Ah, tidak ada apa-apa. Ayo cepat kita ke atap, dari tadi aku sudah lapar." Orihime mengelak. Ia menarik tangan Tatsuki agar menjauh dari Ulquiorra.

"Eh, jangan tarik-tarik aku seperti ini, Orihime!" sahut Tatsuki. Orihime tidak menghiraukannya, melainkan hanya tersenyum saja. Tatsuki semakin tidak mengerti dengan tingkah Orihime yang terkesan aneh.

Orihime dan Tatsuki segera berlalu keluar kelas. Dari balik bukunya Ulquiorra memperhatikan tingkah kedua gadis tadi. Ia menghela nafas dan kembali melanjutkan membaca buku. Tiba-tiba handphonenya berdering. Ulquiorra mengambil handphone yang terletak di saku celananya. Ia melihat ada nama seseorang yang tertera di layar handphonenya. Tanpa ingin mengetahui apa yang ingin disampaikan si penelepon padanya, Ulquiorra langsung mematikan handphonenya. Ia menyimpan handphonenya kembali ke dalam saku celananya.

"Sudah tiga belas kali mereka menelepon. Apa sebenarnya mau mereka?" gumam Ulquiorra di sela-sela bacaannya.

oOo

Semua murid kembali menerima pelajaran selanjutnya. Kali ini pelajaran Bu Ochi. Bu Ochi memberi tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok, tetapi kali ini hanya ada dua orang dalam satu kelompok. Tugasnya adalah setiap kelompok yang terdiri dari dua orang tersebut harus membuat suatu ringkasan dan mendiskusikan dengan teman sekelompoknya.

"Baiklah, aku akan membagi kalian semua menjadi beberapa kelompok dimana dalam satu kelompok terdiri dari dua orang. Kalian mengerti!" seru Bu Ochi.

"Mengerti, Bu!" sahut semua murid serempak.

"Baiklah, Kurosaki sekelompok dengan Kuchiki." Bu Ochi membaca daftar nama kelompok yang pertama.

"Apa? Aku sekelompok dengan si pendek ini?" Ichigo berdiri sambil menunjuk Rukia. Rukia menjadi kesal mendengar ucapan Ichigo. Bu Ochi hanya menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu 'sekelompok dengan si pendek', kepala jeruk?" Rukia mengulang pertanyaan Ichigo dengan kesal. "Kau pikir aku mau sekelompok denganmu?" balas Rukia.

"Tch!" Ichigo membuang muka. Ia tidak menghiraukan Rukia. Rukia hanya melotot padanya.

"Hei, hei, pasangan serasi," panggil Bu Ochi, "aku yang memutuskan kalian berdua dalam satu kelompok. Lagipula Kurosaki, sebenarnya kamu senang 'kan sekelompok dengan Kuchiki?" Bu Ochi bermaksud sedikit menggoda Ichigo.

Ichigo dan Rukia terbelalak tak percaya dengan ucapan gurunya barusan. Mereka saling pandang, kemudian malah membuang muka sambil memasang wajah cemberut. Meskipun cemberut ada semburat merah sedikit terpancar di pipi mereka berdua. Ichigo dan Rukia pun memilih untuk diam karena menyadari tanda-tanda dari Bu Ochi yang akan semakin bersemangat menggoda mereka.

"Diammu aku anggap 'iya', Kurosaki," sahut Bu Ochi tersenyum. Ichigo hanya bisa diam dengan memasang wajah cemberut. Ia merasa checkmate oleh kata-kata Bu Ochi. "Nah, aku akan membacakan kelompok selanjutnya." Bu Ochi kembali membacakan daftar nama untuk kelompok selanjutnya.

Hampir semua murid telah mendapatkan teman sekelompok mereka. Tetapi Orihime dan beberapa anak lainnya belum mengetahui dengan siapa mereka akan sekelompok. Orihime melirik Tatsuki yang mengeluh karena teman sekelompoknya adalah Keigo. Gadis tomboy itu tidak bisa membayangkan jika mereka harus bekerjasama. Sementara Keigo sedikit takut dengan Tatsuki yang mengingatkannya pada Mizuho, kakaknya yang galak. Sekarang hanya tinggal enam murid lagi yang belum disebutkan namanya dan Orihime termasuk di dalamnya.

"Yang selanjutnya adalah," Bu Ochi kembali membaca daftar nama, "Inoue sekelompok dengan Schiffer," lanjutnya dan kembali melihat daftar nama selanjutnya.

Orihime senang namanya telah disebutkan tetapi ia terkejut mendengar nama teman yang sekelompok dengannya. Schiffer. Ulquiorra Schiffer. Berarti dia akan sekelompok dengan pemuda dingin itu. Orihime mencoba melirik pemuda yang duduk tepat di belakangnya. Sesuai dugaan Orihime, pemuda pucat itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tetap tenang dengan buku pelajaran yang sedang dibacanya. Orihime tidak meliriknya lagi karena takut Ulquiorra akan menyadarinya dan menganggapnya sebagai seorang pengganggu lagi.

Pengganggu. Sejenak ia berpikir apa nantinya Ulquiorra bersedia bekerjasama dengannya. Memikirkannya saja membuat perutnya melilit. Pemuda itu terlalu mengacuhkannya. Tetapi ia mencoba untuk menepis pemikiran sepihak itu. Belum tentu Ulquiorra akan berpikiran sama dengannya atau mungkin itu memang benar. Ia siap menerima segala kemungkinan. Lagipula ini hanya sekedar tugas, bukan ajakan dansa.

Ulquiorra memang tidak peduli siapa yang akan menjadi teman sekelompoknya. Kalau pun harus memilih ia lebih suka mengerjakan tugas tersebut seorang diri. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis berambut orange yang duduk tepat di hadapannya itu yang terpilih menjadi teman diskusinya. Jujur Ulquiorra cukup kaget. Namun, seperti biasa tidak akan ditunjukkannya ekpresi itu pada orang lain terutama pada Orihime. Yang dapat dilakukannya sekarang hanya menghela nafas sesaat dan melanjutkan membaca bukunya. Menunggu hingga bel pulang akan berbunyi nantinya.

"Baiklah, anak-anak. Semua sudah mendapat kelompok dan tugas tersebut dikumpulkan paling lambat minggu depan. Kalian mengerti?" Bu Ochi mengakhiri penjelasannya.

"Mengerti, Bu!" sahut semua murid serempak. Tepat ketika semua murid menyahut bel pulang berbunyi. Bel yang menandakan berakhirnya waktu semua murid berada di sekolah.

"Jangan lupa dengan tugas kalian," pesan Bu Ochi sebelum beranjak keluar dari kelas. Semua murid hanya mengangguk.

Semua murid bergegas menyusun buku-buku mereka dan beranjak keluar kelas. Orihime juga sibuk menyusun buku-bukunya. Tatsuki menepuk pundak Orihime hingga ia harus menoleh kepadanya.

"Orihime, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Ada latihan di klub," ujar Tatsuki.

"Tidak apa-apa, Tatsuki." Orihime hanya tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Sampai besok!" Tatsuki melambaikan tangannya pada Orihime sebelum ia berlalu meninggalkan kelas. Orihime tersenyum. Ia kembali menyusun buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas.

Orihime baru menyadari bahwa Ulquiorra masih berada di kelas. Diliriknya pemuda itu sedang menatap layar handphonenya. Orihime ingin sekali menanyakan tentang tugas kelompok mereka pada Ulquiorra, tetapi ia bingung harus mulai dari mana dulu. Ia hanya menatap Ulquiorra yang sibuk berkutat dengan handphonenya. Dapat dilihatnya jemari pucat pemuda itu sedang memainkan tombol-tombol di handphonenya. Ulquiorra memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku celana. Ia menatap ke depan dan baru menyadari bahwa Orihime sedang menatapnya. Mungkin ia melamun. Ulquiorra mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Ulquiorra membuyarkan lamunan Orihime.

Orihime langsung tersadar. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud…" Kata-katanya terpotong oleh ucapan Ulquiorra.

"Aku tahu kamu akan berkata seperti itu." Ulquiorra kembali berkata dengan nada dingin. Orihime menundukkan kepalanya.

"Ng, Schiffer," panggil Orihime. Ulquiorra kembali menatapnya. Orihime berusaha untuk menatap mata emerald yang indah itu. "Ba, bagaimana dengan tugas kelompok dari Bu Ochi?" tanyanya dengan gugup. Entah kenapa sejak kejadian tadi pagi ia merasa gugup dan sedikit canggung bila berhadapan dengan Ulquiorra.

Ulquiorra hanya terdiam. Wajahnya datar ketika menatap Orihime. Orihime mencoba menunggu jawaban darinya. Terbesit dipikirannya bahwa mustahil Ulquiorra akan menjawab pertanyaannya atau yang lebih parah adalah tidak menganggap dirinya sebagai teman sekelompoknya. Ulquiorra memang tidak menjawab pertanyaan Orihime, ia malah membuka tasnya untuk mengambil buku dan pena. Ulquiorra menuliskan sesuatu di buku tersebut. Orihime hanya memperhatikannya saja.

Ulquiorra telah selesai menuliskan sesuatu di bukunya. Ia merobek kertas pada bagian yang ditulisinya. Robekan kertas itu diserahkannya pada Orihime. Orihime tidak mengerti tetapi ia menerima robekan kertas itu. Dapat dilihatnya tulisan-tulisan tangan Ulquiorra yang cukup indah untuk seorang laki-laki tertera di robekan kertas itu.

Perumahan Las Noches

Blok V No. 4

"Itu alamat rumahku," ujar Ulquiorra singkat. Ia memasukkan kembali buku dan pena ke dalam tasnya. Orihime menatapnya. "Kamu bisa datang hari minggu ini jam sebelas," katanya datar.

Usai berkata demikian Ulquiorra segera berlalu meninggalkan Orihime. Meninggalkan gadis berambut orange itu yang masih terpaku menatap robekan kertas darinya. Orihime ingin memanggilnya, namun sayang Ulquiorra sudah tidak terlihat lagi berada di kelas. Orihime hanya menghela nafas.

"Apa aku harus ke sana?" tanya Orihime pada dirinya sendiri. Keraguan jelas terpancar di wajah cantiknya.

oOo

Hari minggu pun tiba. Seorang gadis cantik berambut orange dan bermata abu-abu sedang berdiri di depan pagar sebuah rumah megah. Matanya sesekali menatap robekan kertas di tangannya dan rumah megah tersebut secara bergantian. Entah bingung atau tidak ia tampak seperti orang bodoh yang memandang rumah megah di hadapannya tersebut dengan pandangan tidak percaya. Tidak percaya dan ragu.

Meskipun terlihat ragu ia mencoba untuk menekan bel rumah megah tersebut. Tangannya sedikit bergetar ketika menekan bel. Ia mencoba menunggu hingga seseorang akan datang untuk membuka pagar besar berwarna hijau ini. Warna hijau yang tak jauh beda dengan warna mata pemuda yang memberikan robekan kertas berisi alamat rumah yang menuntunnya hingga sampai di depan rumah megah ini.

Apa benar ini rumahnya?

Tak lama pagar itu bergerak tanda ada seseorang yang membukanya. Seorang pria yang membuka pagar hijau tersebut. Pria itu tersenyum pada gadis orange ini dan ia membalas senyumannya. Pria itu menuntun gadis berambut orange bernama Orihime itu menuju rumah megah yang tadi hanya dapat dilihatnya sekilas dari luar pagar. Setelah Orihime sampai di teras rumah tersebut, pria yang menuntunnya tadi berlalu meninggalkannya. Ia berpesan agar Orihime menunggu saja di teras. Orihime mengucapkan terima kasih kepada pria tersebut.

Orihime memandang takjub melihat taman luas yang mengelilingi rumah megah ini. Mata abu-abunya berbinar ketika melihat ada patung air mancur yang sangat indah menghiasi taman. Ia benar-benar takjub. Kalau halaman rumahnya saja seindah ini entah bagaimana pula dengan isi dalam dari rumah ini. Pasti ia akan merasa tercengang melihatnya. Orihime masih berdiri di teras sambil tetap memandang taman. Tak lama ia mendengar langkah kaki yang menuju ke arahnya. Orihime mencoba melihat siapa sosok yang akan datang. Seorang pria muda berambut raven hitam dan bermata aqua green indah muncul di hadapannya. Ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya dan dasi kupu-kupu hitam yang melekat di lehernya serta celana yang juga berwarna hitam. Dengan penampilan seperti itu Orihime mengakui pria itu cukup tampan, tetapi ia kaget karena pria itu sekilas mirip dengan Ichigo. Orihime sampai beberapa kali mengucek matanya untuk memastikan pria di hadapannya tersebut bukan Ichigo. Pria itu tersenyum ramah padanya.

"Selamat datang di Kediaman Schiffer, Nona." Pria itu menyambut kedatangan Orihime. Ia menunjukkan senyumannya yang sekilas juga mirip dengan senyuman Ichigo. "Apakah Nona yang bernama Orihime Inoue?" tanyanya ramah.

Orihime mengangguk kecil. "Iya. Saya Orihime Inoue."

"Baiklah, Nona. Silakan masuk," ujarnya sambil menuntun Orihime untuk masuk ke rumah megah tersebut.

Kini Orihime sudah berada di dalam rumah. Ia tercengang ketika melihat isi dalam rumah ini yang sangat luar biasa. Tentunya sangat luar biasa untuk orang sepertinya. Mata abu-abunya tak henti-hentinya menjelajahi isi rumah. Ia benar-benar kagum seolah-olah seperti datang ke sebuah istana. Pria muda disebelahnya hanya tersenyum melihat Orihime yang terlihat mengagumi isi dari rumah ini. Ia membawa Orihime ke ruang tamu dan mempersilakannya untuk duduk.

"Nona," panggilnya. Orihime menoleh kepadanya. "Saya belum memperkenalkan diri saya kepada Anda. Nama saya Aaroniero Arruruerie, saya Kepala Pelayan Keluarga Schiffer." Pria itu mengenalkan dirinya.

Kepala pelayan? Pria tampan ini seorang kepala pelayan? Namanya juga aneh, tetapi dia keren.

"Baiklah, Nona, silakan Anda menunggu di sini. Saya akan memberitahukan kedatangan Anda kepada Tuan Muda. Saya permisi dulu." Kepala Pelayan Aaroniero membungkuk pada Orihime kemudian berlalu meninggalkannya.

Tuan Muda? Maksudnya Schiffer, ya?

Orihime yang ditinggal sendirian di ruang tamu hanya diam saja. Yang dapat dilakukannya hanyalah menatap takjub segala isi rumah itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemilik rumah megah ini adalah pemuda pucat bermata emerald itu. Ulquiorra Schiffer. Pemuda dingin yang menjadi teman sekelompoknya.

Ini rumah Schiffer? Rumahnya sangat indah.

Orihime masih sibuk mengamati segala isi rumah ini. Ia tak menyadari akan ada seseorang yang datang ke ruang tamu. Dan orang itu bukanlah Ulquiorra, sang pemilik rumah.

oOo

"Nona Orihime Inoue sudah datang, Tuan," lapor Kepala Pelayan Aaroniero.

"Hm." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Ulquiorra. "Lalu, apa kamu membiarkan kedua orang itu masuk ke rumahku, Kepala Pelayan Aaroniero?" tanya Ulquiorra.

"Maafkan saya, Tuan. Mereka bilang hanya sekedar ingin berkunjung di akhir pekan."

"Pantas saja aku merasakan ada gangguan di telingaku." Ulquiorra berkata dingin.

"Saat ini mereka ada di taman belakang. Anda tidak ingin menemui mereka, Tuan?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero.

"Mereka yang akan menemuiku. Lebih baik kamu siapkan teh untuk gadis itu," ujar Ulquiorra sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Baik, Tuan." Kepala Pelayan Aaroniero membungkuk kemudian berlalu keluar dari kamar Ulquiorra.

oOo

"Ulquiorra!" panggil seseorang yang baru tiba di ruang tamu. "Kau di sini, ya, Pangeran?" tambahnya dengan suara yang keras. Matanya menjelajahi segala sudut ruang tamu.

Orihime langsung menoleh ke asal suara keras yang tiba-tiba terdengar di ruang tamu ini. Ia melihat seorang pemuda bertubuh tinggi, berambut biru dan bermata biru safir seolah senada dengan rambutnya dan tentunya berwajah tampan sedang berjalan ke arah Orihime. Pemuda itu mengenakan jaket putih dengan hiasan garis hitam di kedua sisi lengannya dan mengenakan baju biru serta celana jeans hitam. Tangan kanannya tampak menggenggam sebuah pedang kayu yang biasa digunakan untuk bermain kendo.

Pemuda itu berjalan mendekati Orihime. Ia menatap Orihime dengan pandangan aneh seolah merasa tidak pernah melihat gadis itu di rumah ini. Orihime pun juga menatapnya dengan bingung seolah bertanya siapa gerangan pemuda tampan itu.

"Siapa kau?" tanya pemuda berambut biru itu pada Orihime. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tambahnya lagi.

"Ng, saya…" Ucapan Orihime terpotong olehnya.

"Apa kau calon pelayan baru di rumah ini? Manis juga, siapa namamu?" Ia mencoba tersenyum.

"Bu, bukan. Nama saya Orihime Inoue. Saya bukan calon pelayan, saya teman sekelasnya Schiffer." Orihime mencoba menjelaskan. Pemuda berambut biru itu mengangkat sebelah alisnya.

"Maksudmu Ulquiorra? Kau teman sekelasnya?" ulang pemuda itu. Orihime mengangguk membenarkan. "Ada urusan apa teman sekelas Ulquiorra kemari?"

"Ng, kami mendapat tugas kelompok, jadi…" Ucapan Orihime terpotong lagi.

Si pemuda berambut biru tertawa. "Tugas kelompok? Si Pangeran itu sekelompok denganmu?"

Orihime tidak tahu siapa yang dimaksud dengan Pangeran, tetapi otaknya berputar cepat dan mengerti siapa yang dimaksud pemuda itu. Ia hanya mengangguk saja. Orihime sebenarnya ingin tahu siapa pemuda berambut biru ini karena sepertinya ia mengenal baik Ulquiorra. Ia ingin bertanya tetapi pemuda itu sudah membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Tidak bisa kubayangkan dia akan kerja kelompok dengan seorang gadis manis sepertimu." Nada bicaranya terkesan mengejek. Ia tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, apa kau melihat Pangeran, maksudku Ulquiorra kemari?" tanyanya serius.

"Maaf, saya tidak melihatnya karena saya baru saja datang," jawab Orihime sekedarnya. Itu benar karena ia sama sekali belum bertemu dengan Ulquiorra. Kepala Pelayan Aaroniero juga belum kembali.

"Begitu? Baiklah aku akan mencarinya di tempat lain. Aku ingin pemanasan dulu dengannya sebelum ia mulai belajar. Ini akan menjadi pemanasan yang menarik." Pemuda berambut biru itu menyeringai. "Sampai nanti, gadis manis," katanya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruang tamu.

"Sebenarnya dia siapa, ya?" Orihime bertanya pada dirinya sendiri.

Orihime menatapnya dengan bingung. Sejenak ia berpikir pemuda itu aneh apalagi dengan ia membawa-bawa pedang kayu. Seperti ada seseorang yang ingin dilawannya dan kemungkinan besar orang itu adalah Ulquiorra. Kepala Pelayan Aaroniero kembali menghampiri Orihime. Senyum Ichigo masih terlukis di wajahnya.

"Maaf, terlalu lama menunggu, Nona," ujar Kepala Pelayan Aaroniero. Orihime hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa, Tuan," sahut Orihime.

"Kalau begitu mari ikut saya. Tuan Muda sudah menunggu Anda." Kepala Pelayan Aaroniero menuntun Orihime agar mengikutinya. Orihime hanya mengangguk dan ia berjalan mengikuti Kepala Pelayan Aaroniero untuk bertemu dengan Ulquiorra.

oOo

Orihime sudah sampai di depan pintu kamar Ulquiorra. Kepala Pelayan Aaroniero membukakan pintu dan mereka masuk ke dalam kamar Pangeran Schiffer. Orihime kagum melihat kamar Ulquiorra yang tak kalah indahnya dengan ruangan lain.

I, ini kamar Schiffer, ya?

"Tuan, Nona Orihime Inoue sudah tiba," lapor Kepala Pelayan Aaroniero. Ulquiorra yang sedang berada di balkon langsung berbalik dan menghampiri mereka.

"Kamu boleh pergi," perintahnya. Kepala Pelayan Aaroniero mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar Ulquiorra.

Orihime menatap Ulquiorra. Ia terpesona melihat penampilannya. Kemeja putih lengan pendek dan celana hitam melekat di tubuh pucatnya. Ulquiorra terlihat tampan meskipun wajahnya tetap datar.

"Silakan duduk." Ulquiorra mempersilakan Orihime untuk duduk di sofa. Orihime menurut. "Lebih baik kita mulai sekarang saja. Aku ingin tugas ini cepat selesai," tambahnya.

"Ba, baiklah Schiffer." Orihime buru-buru membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa buku serta pena. Ulquiorra berjalan ke rak buku dan mengambil beberapa buku, kemudian buku-buku itu diletakkannya di meja.

"Mungkin buku-buku ini bisa membantu," katanya dingin. Orihime mengangguk kecil.

Mereka mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Ochi. Bekerja dalam diam padahal tugas ini menuntut agar mereka saling berdiskusi. Orihime mengerti kalau Ulquiorra mungkin tidak mau terlalu banyak bicara. Tetapi ia merasa tidak nyaman juga bila hanya bekerja dalam diam seperti ini. Diam-diam ia melirik Ulquiorra yang sedang sibuk menuliskan sesuatu di buku.

"Kamu menatapku lagi?" Pertanyaan Ulquiorra mengejutkan Orihime. "Ada yang ingin kamu katakan padaku?" Ia menatap Orihime. Orihime menjadi salah tingkah dan bingung harus berkata apa.

"Ah, maaf. Ng, aku merasa sejak tadi kita hanya diam saja tanpa ada berdiskusi," ujarnya ragu-ragu.

"Maksudmu kamu ingin kita saling berbicara dan bertukar pikiran?" tanya Ulquiorra. Orihime menggeleng. "Aku bisa saja menyelesaikan tugas ini sendirian tetapi itu tidak kulakukan. Kedatanganmu kemari sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita melakukan tugas ini bersama."

"Begitu, ya," ujar Orihime lemah. Ia tersenyum palsu. Ternyata meskipun Ulquiorra memintanya datang ke rumahnya bukan berarti mereka akan benar-benar bekerja kelompok seperti yang dibayangkannya.

Ulquiorra dan Orihime kembali terdiam. Mereka kembali mengerjakan tugas itu dalam kediaman. Orihime benar-benar tidak menyangka bahwa Ulquiorra benar-benar mengacuhkannya. Ia merasa sesak jika terus berlama-lama seperti ini. Dia memang merasa seperti itu tetapi melihat kehidupan Ulquiorra yang ternyata di luar dugaannya, ia merasa semakin penasaran pada Ulquiorra.

Tiba-tiba Orihime teringat pada pemuda berambut biru yang ditemuinya di ruang tamu. Ia ingin sekali menanyakan siapa pemuda itu pada Ulquiorra, tetapi rasanya mustahil Ulquiorra akan memberitahunya. Dengan ragu-ragu Orihime membuka mulutnya untuk bertanya pada Ulquiorra.

"Ng, Schiffer," ujarnya pelan. Ulquiorra menatapnya. "Ng, tadi aku…"

Tiba-tiba pintu kamar Ulquiorra terbuka dengan keras sehingga membuat Orihime menghentikan kata-kata yang akan diucapkan selanjutnya. Seorang pemuda berambut biru memasuki kamar Ulquiorra dan ia berjalan menghampiri Ulquiorra dan Orihime. Wajahnya menyeringai melihat Ulquiorra. Ulquiorra menatapnya dengan tenang seolah tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran si pemuda. Orihime terkejut melihat pemuda itu. Dengan cepat pemuda berambut biru itu mengayunkan pedang kayu yang dibawanya kepada Ulquiorra.

"Rupanya kau di sini, Pangeran," seringainya. Pedang kayu yang diayunkannya hampir mengenai Ulquiorra.

Ulquiorra menangkis dengan cepat pedang kayu yang hampir mengenai wajahnya dengan pedang kayu yang entah darimana didapatkannya. Pemuda berambut biru menyeringai senang dengan reaksi cepat Ulquiorra.

"Kau tetap hebat seperti biasanya, Pangeran. Aku tidak mengerti darimana kau mendapatkan pedang kayu itu," ujarnya.

Ulquiorra hanya diam saja sambil tetap mempertahankan pedang kayunya. Ia menahan serangan dari pemuda berambut biru. Orihime sedikit ketakutan melihat kedua orang tersebut. Ia mundur ke belakang. Rasanya ia mengenal pemuda berambut biru itu.

"Hanya kebetulan atau kau memang sudah mengantisipasinya, Pangeran?" tanyanya lagi. Ulquiorra masih diam. Wajahnya memang datar tetapi sorot matanya terlihat tajam. "Sampai kapan kau akan bertahan seperti ini?" ujarnya.

"Grimmjow!" panggil seorang gadis berambut hijau yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ulquiorra.

Ulquiorra, Orihime dan pemuda berambut biru menoleh kepadanya. Ia berlari menghampiri mereka dan dengan cepat ia melayangkan pukulannya tepat di atas kepala pemuda berambut biru.

"Sudah kubilang jangan ganggu Ulquiorra!" katanya setelah memukul kepala pemuda berambut biru yang dipanggilnya Grimmjow. Grimmjow memegang kepalanya yang dipukul si gadis.

"Aduh, sakit," keluhnya sambil mengusap-usap kepalanya. "Apa yang kau lakukan, Neliel?" tanya Grimmow kepada gadis berambut hijau yang dipanggilnya Neliel. Orihime dan Ulquiorra hanya terdiam. Orihime terkejut dan bertanya-tanya dalam hatinya siapa gadis cantik itu.

Siapa dia? Cantik sekali.

"Sudah kubilang, 'kan? Jangan ganggu Ulquiorra!" sahut Neliel sambil bertolak pinggang.

"Aku tidak mengganggunya! Aku hanya ingin mengajaknya bertarung." Grimmjow memberi alasan.

Neliel memukul Grimmjow lagi. "Bodoh!" serunya. "Ulquiorra sedang belajar, kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Kak Aaro tadi?"

"Sakit, Neliel," geramnya sambil memegang kepalanya lagi. "Mana aku tahu kalau si Aaro bilang seperti itu."

"Bagaimana kamu mau dengar? Baru tiba di rumah ini saja kamu sudah sibuk mencari-cari Ulquiorra." Grimmjow cemberut mendengar perkataan Neliel.

"Tch! Menyebalkan!"

Neliel menoleh pada Ulquiorra yang masih duduk tenang di sofanya seolah menikmati adu mulut Grimmjow dan Neliel. Neliel juga melihat ada orang lain di kamar Ulquiorra selain ia dan Grimmjow. Ia menatap Orihime sesaat dan kembali menatap Ulquiorra. Ia bermaksud memeluk Ulquiorra.

"Jangan peluk aku, Neliel," tolak Ulquiorra. Neliel cemberut sementara Grimmjow hanya menahan tawanya.

"Baiklah kalau begitu. Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Neliel lembut.

"Aku akan baik-baik saja selama si bodoh itu tidak mengacungkan pedangnya lagi," Ulquiorra kembali berkata dingin. Ia menatap Grimmjow dengan tajam. Grimmjow yang merasa dirinya disebut-sebut langsung membalas tatapan tajam Ulquiorra.

"Apa maksudmu, Ulquiorra? Kau menantangku?" Grimmjow menggeram kesal. Pedang kayu sudah siap untuk dilayangkan kembali ke muka pucat Ulquiorra. Ulquiorra tidak bergeming. Neliel melerai mereka.

"Sudah Grimmjow. Jangan mulai lagi." Neliel memperingatkan. Dengan terpaksa Grimmjow menurutinya. "Anak manis," katanya sambil tersenyum manis.

"Jangan sebut aku manis!" Grimmjow menggerutu.

Grimmjow berdiri di samping Neliel dengan wajah cemberut. Ulquiorra tetap duduk tenang di sofanya. Orihime menatap mereka bertiga dengan bingung. Neliel menatap Orihime, ia menghampiri gadis tersebut.

"Kamu siapa?" tanya Neliel ramah.

"Sa, saya teman sekelas Schiffer," kata Orihime gugup. Ia menundukkan kepalanya.

"Oh, jadi kamu teman sekelas Ulquiorra yang dikatakan oleh Kak Aaro. Manis juga, siapa namamu?" tanya Neliel lagi.

"O, Orihime Inoue," jawab Orihime masih tetap menundukkan wajahnya.

"Jangan menunduk seperti itu, angkat wajahmu," pinta Neliel. Orihime menurut. Ia mencoba menatap mata abu-abu kecokelatan Neliel. "Maaf, ya, kalau kamu sampai ketakutan seperti ini. Kamu membuatnya takut, Grimmjow." Neliel menoleh kepada Grimmjow. Grimmjow mengangkat alisnya.

"Kenapa aku yang disalahkan? Si Pangeran itu juga membuatnya takut." Grimmjow menunjuk Ulquiorra.

"Jangan acungkan jarimu padaku, bodoh," ujar Ulquiorra.

"Apa kau bilang, Pangeran?" Grimmjow menggenggam erat pedang kayunya.

"Jangan mulai lagi, Grimmjow." Grimmjow terpaksa menuruti lagi perkataan Neliel. "Maaf, ya, Orihime. Mereka berdua memang selalu seperti itu. Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namanku Neliel Tu Oderschvank, kamu bisa memanggilku Neliel atau Nel. Yang berambut biru itu Grimmjow Jeagerjaquez, biasanya aku memanggilnya Grimmy, tetapi dia akan marah kalau kupanggil seperti itu."

"Aku tidak suka panggilan itu, Neliel." Grimmjow mencibir.

"Grimmjow sepupunya Ulquiorra tetapi mereka berdua tidak pernah akur. Sedangkan aku adalah kakaknya Ulquiorra, inginnya begitu." Neliel tertawa kecil.

Orihime tidak mengerti maksud Neliel. "Inginnya?"

"Dia bukan kakak kandungku," sahut Ulquiorra cepat.

"Neliel cuma teman kami sejak kecil dan dia selalu menganggap dirinya adalah kakak Ulquiorra. Sayangnya Pangeran tidak suka diperlakukan sebagai adik olehnya." Grimmjow tertawa mengejek. Wajah Neliel memerah.

"Jangan bicara seperti itu, Grimmjow." Neliel menatapnya kesal. "Kalau begitu salam kenal, ya, Orihime."

"Sa, salam kenal juga Kak Neliel." Orihime menunduk.

"Kamu memanggilku kakak? Senangnya!" kata Neliel, matanya berbinar-binar. Orihime hanya tersenyum tipis.

Sepertinya dia senang kupanggil begitu.

Ulquiorra menatap bosan semua orang yang berada di kamarnya. Ia merasa ketenangannya menghilang dan tugas kelompoknya bersama Orihime menjadi terbengkalai.

"Mau sampai kapan kalian berada di kamarku?" tanya Ulquiorra dingin. Pertanyaannya itu dilemparkannya pada Grimmjow dan Neliel yang seharusnya memang tidak berada di kamarnya.

"Maaf, Ulquiorra. Kami pasti membuatmu kesal lagi. Kedatanganku dan Grimmjow hanyalah sekedar berkunjung di akhir pekan saja. Aku sudah memperingatkan Grimmjow untuk tidak membuat keributan, tetapi dia mengabaikan kata-kataku." Neliel menjelaskan dengan tenang.

"Ya, kalian selalu membuat keributan dan menghilangkan ketenangan di rumahku. Apa kalian berdua bisa keluar dari kamarku?" gumam Ulquiorra sambil bertopang dagu. "Tinggalkan aku dan gadis itu berdua," perintahnya.

"Baiklah Ulquiorra. Ayo Grimmjow, kita keluar. Sampai nanti Orihime," sahut Neliel sambil tersenyum pada Orihime. Orihime membalasnya.

Neliel menarik tangan Grimmjow. Awalnya Grimmjow menolak tetapi Neliel memberinya tatapan tajam, maka lagi-lagi ia terpaksa menuruti Neliel. Grimmjow hanya menuangkan semua kekesalannya di dalam hati.

Ulquiorra menghela nafas melihat dua orang itu telah meninggalkan kamarnya. Ia berjalan mendekati Orihime. Gadis berambut orange itu terkejut melihat Ulquiorra yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Mata emeraldnya menatap mata abu-abu Orihime.

"Kamu masih ingin melanjutkan kerja kelompok ini atau ingin mengakhirinya sekarang?" tanya Ulquiorra. Orihime menggeleng.

"Ng, aku masih ingin melanjutkannya," gumam Orihime.

"Kalau begitu kembali ke tempat dudukmu dan cepat selesaikan tugas ini sebelum kedua pengacau itu kembali lagi. Kamu mengerti?" Ulquiorra menekan kata-katanya. Orihime menurut.

"Ba, baiklah Schiffer," ujarnya pelan.

Ulquiorra kembali ke sofa dan membuka-buka buku pelajaran. Orihime juga kembali duduk di sofa untuk menyelesaikan tugas kelompoknya bersama Ulquiorra. Tugas kelompok mereka menjadi terbengkalai gara-gara kemunculan tiba-tiba Grimmjow dan Neliel. Orihime merasa kedua orang itu menarik. Neliel yang cantik dan terlihat baik serta Grimmjow yang mudah emosi jika berhadapan dengan Ulquiorra. Entah kenapa Orihime merasa Ulquiorra tidak terlalu menyukai Grimmjow dan Neliel. Orihime bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Ulquiorra tidak menyukai mereka berdua dan sayangnya ia tidak menemukan jawabanya.


Senyum…

Aku tidak pernah memperlihatkan hal itu pada orang lain

Membuat sebuah lengkungan dari kedua sudut bibirku

Hal yang sangat mustahil dilakukan oleh orang sepertiku

Apa jadinya jika wajah datar tanpa ekspresiku tiba-tiba memperlihatkan hal itu

Aku tidak akan pernah bisa membayangkannya

Hal itu memang sulit untukku tetapi tidak untuk orang lain

Apa peduliku pada hal tak berguna itu

Tidak akan ada yang menuntutku jika aku tidak melakukannya

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Aku akan tetap mempertahankan topeng dinginku

To be continued...


Akhirnya selesai juga.

Sepertinya chapter ini cukup panjang. Bagi yang menyukai Grimmjow dan Neliel, mereka berdua sudah saya munculkan. Untuk selanjutnya mereka akan selalu muncul *Grimm dan Nel: Tentu saja!*.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih sudah mereview fic saya. Itu membuat saya semakin bersemangat untuk membuat fic ini menjadi lebih bagus lagi. Terima kasih juga sudah membaca fic ini hingga akhir.

Review please and see you in the next chapter!^^'