SOLILOKUI

[Mikasa Ackerman]

{ii – Mr. & Mrs. Ackerman: mereka yang hidup dalam kenangan}

.


Aku ingin pulang.

Tapi, ke mana aku harus pulang?

Langit segelap mata Ibu dan gerimis turun tak ada henti seperti air mata yang jatuh melintasi pipi—air mata siapa? Kau menggenggam kehampaan. Segalanya seperti mimpi di siang bolong; mengenai kekejaman hidup, kebinatangan manusia, dan betapa banyak hal biadab lain yang kau saksikan selama hidupmu. Dalam satu waktu, kebahagiaanmu raib.

Pada suatu sore;

Aku menjahit lambang klan pada sapu tangan Ibu

Ibu tersenyum sendu

Seakan sudah memiliki firasat;

Mengenai kesedihan yang sebentar lagi datang mengetuk pintu

Apa kiranya yang dapat kau lakukan—selain berbaring pasrah melihat setan-setan berkerumun membicarakan uang dan uang dan uang atas hasil dari perburuan mereka; memburu klan terakhirmu, memburu Ibu, memburumu dan membunuh Ayah. Kau seperti menyaksikan pemandangan yang biasa kau saksikan; kupu-kupu yang mati digigiti belalang, dedaunan yang layu digigiti ulat, bebek yang mati ditembak Ayah (dan kau berbahagia atas hal itu, menantikan makan malam lezat dengan mengorbankan hewan yang entah bagaimana kehidupannya).

Katakan pada penyair;

Yang kejam bukanlah waktu,

Tapi hidup.

Sebab, kehidupan ini pada hakikatnya hanya mengajarimu untuk bertarung agar tetap hidup, meski itu berarti kau harus membunuh kehidupan lain. Setelah mati, tak ada lagi yang perlu dipertarungkan—tapi setelah mati, tak ada lagi hidup, tak ada lagi Ibu dan Ayah yang berbaring nyaman di sudut ingatanmu, tak ada lagi dunia yang kejam sekaligus indah ini. Setelah mati, kau hanya akan berakhir menjadi bangkai; seperti Ibu, seperti Ayah, pada suatu sore sebelum gerimis turun.

Aku kedinginan, Ibu

Aku kelaparan, Ayah

Aku ingin pulang

Tapi, ke mana aku harus pulang?

Dunia ini sudah tak lagi menyediakan rumah bagi kita untuk berbahagia

Aku rindu, Ibu

Aku rindu, Ayah

Aku ingin pulang

Tapi bukan ke pusara tempat kalian berbaring tenang

Kembali;

Pada dunia yang kejam ini,

Aku akan tetap hidup dan pulang pada kenangan indah kita

Di pedesaan kecil, di perkebunan, di ladang, di ruang tamu

Tempatku terakhir kali menjahit bersama Ibu

Tempatku terakhir kali bercengkerama dengan Ayah

Tempatku terakhir kali berada di rumah dan bahagia.

Dari atas dinding maha besar, kau melihat senja yang perlahan tenggelam; menyimpan rapi kenanganmu bersama mereka; Ayah, Ibu. Kau jadikan degup jantungmu sebagai kunci untuk membukanya; membuka kenangan itu.[]


5:10 PM – August 22, 2017

Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime. I don't take any profit from this fanwork.