NaruHina Story

Watashitachi

Disclaimer : Masashi Kisimot


Kakinya mengayuh tanpa lelah. Satu dua, satu dua, seirama dengan tarikan nafasnya pria itu menggerakan sepedanya. Hinga akhirnya netra biru lautnya menangkap pemandangan hijau di kejauhan. Taman kota Konoha. Pria itu tersenyum, mempercepat kayuhannya hingga sepeda itu melesat semakin cepat mendekati taman.

Naruto memakirkan sepedanya di tempat parkiran sepeda taman yang tampak sepi. Awal musim semi bukan musim yang tepat untuk berada di taman kota Konoha. Kebanyakan orang akan lebih suka pergi ke taman yang terdapat rimbunan bunga sakura bermekaran. Dan lagi pula, masih butuh setengah bulan lagi untuk bunga-bunga sakura bermekaran.

Naruto berjalan dengan nafas memburu menuju bangku taman langganannya. Memikirkan hal itu membuat Naruto ingin terkikik sendiri. Tapi ketika ia melihat gadis itu lagi, hanya senyum yang muncul di wajah tampannya.

Gadis itu lagi-lagi duduk di bangku taman yang sama. Dengan kegiatan yang sama.

Naruto mendekati gadis itu. Mendudukan diri di sampingnya dengan jarak yang aman. Ia menurunkan tas punggungnya dan bersandar penuh kelegaan di bangku taman kesukaannya. Gadis di samping Naruto menyadari keberadaan pria itu dan menangkat kepalanya dari buku sketsa yang sedari tadi ia tatap.

Kedua mata berbeda warna itu bertemu. Si gadis tanpa ragu tersenyum dan menangguk pada Naruto. Naruto juga ikut menangguk sebagai bentuk sapaan. Ini sudah kali kesepuluh mereka berdua bertemu di taman ini, dijam yang sama, di bangku yang sama, dan dengan keadaan yang sama. Gadis itu dengan buku sketsanya dan Naruto dengan peluh di sekujur tubuhnya.

Gadis itu dengan cepat memutuskan pandangannya dan kembali fokus pada gambarnya. Naruto juga mulai melakukan ritualnya yang biasa. Pertama ia mengeluarkan botol minuman sport dari ranselnya kemudian handuk berwarna orange. Ia meminum banyak-banyak cairan dingin menyegarkan dari botolnya sementara tangannya yang lain sibuk menyeka keringat.

Setelahnya ia memasukan handuk dan mengeluarkan kotak bekal dari ranselnya. Naruto tanpa basa-basi menyantap makan siangnya tanpa perlu berbasa-basi pada gadis di sebelahnya. Sudah menjadi peraturan tak tertulis bahwa mereka tidak akan saling bertukar ucap selama duduk di bangku ini.

Bukannya tak pernah mencoba. Naruto sudah pernah mengajak gadis itu berbicara ketika musim dingin sepuluh hari yang lalu. Tapi gadis itu hanya merespon dengan anggukan dan senyum tipis di bibir ranumnya. Naruto bahkan mencoba mengajaknya berbicara dilain waktu. Tapi respon yang didapatkannya selalu sama.

Gadis itu bukannya tidak sopan. Ia selalu menyapa dan mengucapkan selama tinggal melalui anggukan kepalanya. Gadis itu juga selalu merespon perkatannya walau hanya dengan anggukan singkat. Si pirang mulai berasumsi bahwa gadis itu bisu. Tapi ia sedikit ragu akan pemikirannya itu. Lama-lama ia mulai tidak perduli lagi dan memilih untuk tidak mengajak si gadis berbicara. Toh mereka hanya orang asing yang berbagi bangku.


Naruto merapatkan jaket kulit tua di tubuhnya. Hari ini bahkan lebih dingin dari musim dingin beberapa hari yang lalu. Padahal musim semi sudah tiba tiga hari yang lalu. Kuncup-kuncup bunga di taman juga sudah mulai muncul.

Kaki-kaki jenjang Naruto tiba di taman tepat ketika jam menunjukan pukul setengah dua. Dan seperti biasa, pria itu langsung mendudukan diri di bangku kesukaannya. Tapi ada dua hal yang tidak biasa. Pertama ia tidak menggunakan sepedanya. Sepeda itu bocor ketika ia gunakan kemarin ketika pulang. Dan yang kedua, gadis itu tidak ada di bangku ini.

Naruto hanya bisa menyimpulkan gadis itu tidak datang. Lagipula normal untuk gadis itu tidak datang ke taman kota di udara sedingin ini. Naruto menghela nafas ketika ia merasa heran mengapa ia kecewa. Menghentikan perasaan bodoh itu, Naruto membuka tasnya untuk mengeluarkan kotak bekalnya.

Tapi belum sempat ia mengelurkan kotak bekalnya, ia merasakan seseorang duduk di sampingnya. Dengan penuh harap, ia mengangkat kepalanya. Dan benar saja, gadis itu duduk di sampingnya dengan tas rajutan dan buku sketsa yang selalu ia bawa.

Naruto terperangah. Gadis itu yang menyadari bahwa Naruto menatapnya, memberikan senyum manis yang biasa. Naruto dengan kikuk menangguk lalu menguburkan wajahnya kedalam tas. Ketika ia sudah yakin wajahnya tertutup sepenuhnya, ia tersenyum seperti orang bodoh.

Naruto meraih bentonya. Ketika sudah yakin senyum bodoh di wajahnya sudah menghilang, ia segera menjauhkan tas itu dan meletakannya di bangku. Naruto berusaha tenang ketika memakan bekalnya.

Dari ujung matanya, ia mengamati gadis di sampingnya. Tidak seperti biasa, gadis itu tidak mengenakan jaket pink sakura kebesaran dan rok pastelnya. Gadis itu kini mengenakan kemeja putih, sweter baby pink, mantel hijau, dan celana kain kream. Naruto berpikir, apakah yang membuat gadis itu mengenakan pakaian yang sedikit berbeda hari ini.

Hari ini memang tidak biasa. Naruto menghabiskan bekalnya sembari sesekali menatap gadis di sampingnya. Gadis itu tampaknya sedang menanggambar orang-orang yang sedang mengajak anjing mereka jalan-jalan. Matanya tidak lepas dari krumunan anjing-anjing itu yang berlari di sekitar taman.

Naruto menatap rambut biru gelap yang saat ini terikat separuh yang menjadi mahkota si gadis. Biasanya gadis itu tidak repot-repot menata rambutnya dan membiarkan surai indigo itu terurai hingga pinggangnya. Naruto diam-diam dalam hati menanggap gadis itu lebih cantik dari biasanya.

Selesai memasukan bekalnya ke dalam tas, Naruto menikmati suasana santai di taman. Ia membiarkan angin dingin berhembus menyegarkan wajahnya. Gadis di sampingnya juga tetap menggambar seolah nyaman dengan udara dingin di sekitar mereka.

Ah, ternyata hari ini pun damai seperti biasa.

.

.

Naruto mengendurkan posisi duduknya dan bersender malas di bangku taman. Kadang, ketika ia duduk-duduk santai seperti ini, Naruto merasa bagai pengangguran tanpa beban. Andai saja bisa begitu. Pria itu tanpa sadar menghela nafas lebih keras dari seharusnya. Gadis yang sudah selama sebulan lebih ini menemaninya, menolehkan kepalanya mendengar helaan nafas Naruto.

Wajah berkulit tannya merona merah mendapati si gadis menyadari helaan nafasnya. Tangannya kemudian mengibas-ibas di depan wajah (yang bahkan tidak menghadap ke arah si gadis) memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.

Si gadis tersenyum dan kembali menatap objek gambarnya. Kali ini gadis itu menggambar kerumunan anak-anak yang mulai memadati taman seiring menghangatnya cuaca. Naruto juga sudah menanggalkan jaket yang biasanya ia kenakan. Ia alih-alih memilih kemeja flanel merah kotak-kotak yang melapisi kaos putihnya.

Gadis itu di sisi lain tetap mengenakan jaket kebesaran dan rok panjangnya. Naruto tersenyum. Seperti penampilan gadis itu, mereka akan tetap selalu sama.

.

.

Hari ini hujan. Naruto terkejut ia mengetahui fakta itu, dan masih mengayuh pedal sekuat tenaga menuju taman seperti biasa. Pertengahan musim seni memang selalu seperti ini di kotanya.

Naruto mengayuh, mengayuh hingga tiba di gedung toko depan taman yang memiliki teras beratap. Naruto menghela nafas. Ia meraih tas punggungnya dan mengambil handuk ketika mata birunya mendapati sosok yang akrab.

"Keh..." Naruto tersedak. Nyaris. Tapi jelas Naruto terkejut.

Gadis itu juga terlihat terkejut. Tubuh kecilnya gemetaran. Dan Naruto baru menyadari betapa kecil gadis itu ketika mereka berdiri bersisian seperti ini. Baju lavender dan rok putih tiga perempatnya sudah setengah basah. Bahkan rambut indigonya sudah lepek karena air hujan.

Gadis itu menatap Naruto, lalu membuang muka dan mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri. Gadis itu mengelus rambut gelapnya seolah malu. Naruto menatap handuk orange ditangannya.

"Kau bisa menggunakannya." Naruto menyodorkan handuk itu.

Gaids itu menatap handuk di tangan Naruto lama. Lavendernya bergulir dari handuk itu ke wajah Naruto yang kini tersenyum lebar. "Ambillah." Naruto menyodorkannya lebih dekat lagi pada tangan si gadis.

Dengan ragu-ragu gadis itu mengambil handuk di tangan Naruto. "Badanku sudah benar-benar basah. Paling tidak masih lebih berguna jika kau yang memakainya." Kata Naruto meyakinkan.

"..."

"Huh?" Apa telinganya berdenging karena suara hujan? Barusan ia seperti mendengar sesuatu.

"Gatou."

"Eh?" Naruto terkejut dengan mata melotot menatap si gadis yang kini berdiri dengan malu-malu. Wajahnya yang manis kini bersemu merah.

"Arigatou."

Naruto terkejut bukan main. Gadis itu barusan berbicara. Gadis yang selama dua bulan ini duduk di sampingnya dalam diam, kini berbicara degan suara lembut yang begitu menghanyutkan.

"Jadi kau tidak..." Naruto segera menutup mulutnya sebelum ia mengatakan sesuatu yang menyinggung gadis itu. Naruto kini berdiri kaku. Bingung. Sementara itu gadis itu mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ia pinjamkan.

Gadis itu menolehkan kepalanya, membelakangi Naruto. Naruto menggaruk belakang kepalanya. Salahnya. Dia pasti menyinggung perasaan gadis itu. Naruto kini merasa bersalah. Baiklah. Dia akan meminta maaf. Dia akan...

"Pfftt.."

Meminta maaf?

"Puh.. haha.. ahaha..."

Apa gadis itu baru saja tertawa? Menertawai apa?

Dirinya?

"Gomennasai." Gadis itu memutar kepalanya. Kini wajah cantik itu menghadap dirinya. Naruto mematung. Senyum di wajah berseri-seri milik gadis di sisinya itu benar-benar mempesona.

"Iie... Gomennasai." Naruto mengatakannya dengan mata yang tak lepas dari wajah merona si gadis.

"Untuk?" Gadis itu memiringkan kepalanya? Tawa lepasnya sudah benar-benar hilang digantikan ekpresi kebingungan.

"Yah kau tahu... Atas kata-kataku tadi." Naruto dengan kikuk menjawab.

"Aku tidak mendengar apapun yang bisa membuat anda meminta maaf." Gadis itu menjawab dengan senyum. Lalu kemudian wajahnya memerah dan ia menunduk dalam, memainkan handuk di tangannya.

"Ini pertama kalinya kita mengobrol bukan?" Naruto tidak bermaksud apa-apa ketika mengatakannya. Tapi bahu gadis itu terlonjak seolah Naruto baru saja membentaknya.

"Gomenas..." Gadis itu seolah kehilangan suara.

Membuat Naruto panik bukan kepalang. "Tidak itu... Jangan khawatir. Maaf."

"Itu... Aku juga minta maaf."

"Bukan ini salahku jadi..."

Kedua orang itu bertatapan. Naruto tidak bisa menahan dirinya. Lalu...

"Pffftt.. Ha, Hahahaha..."

Gadis itu menatap wajah tertawa Naruto. Pertama ia terdiam sebelum akhirnya ikut tertawa bersama pria yang selama ini duduk dalam diam di sampingnya.

Mereka tertawa untuk beberapa menit. Naruto menatap gadis itu dengan safirnya. Gadis itu menatap Naruto dengan amethystnya.

"Bagaimana jika kita memulai dari awal?"

"Ya, Tuan?" Gadis itu memiringkan kepalanya walau tetap mempertahankan senyumnya.

"Salam kenal. Namaku Naruto. Uzumaki Naruto." Naruto mengatakannya dengan senyum lebarnya.

"Salam kenal Uzumaki-san. Namaku Hyuuga Hinata." Hinata membungkuk sembari memperkenalkan dirinya.

"Kau bisa memanggilku Naruto."

"Kalau begitu, Naruto-san." Mereka berjabat tangan.

Hari itu hujan. Hujan pertama sejak Naruto bertemu si gadis lavender. Namun hari itu juga hari pertama Naruto mengetahui nama si gadis.

Hyuuga Hinata.


Sangat gaje. Saya merasa malu.. entah cerita macam apa ini. Menerima segala jenis kritik dan masukan. Maafkan saya soal typo yang masih bertebaran.

salam,

Hiruma Enma 01