Chapter 1 : Protect You

CHANYEOL's POV

Jika ada yang bertanya siapa siswa paling populer di sekolah, mereka semua akan langsung menunjuk diriku. Dan jika kalian berpikir aku merasa senang dengan gelar kecil itu, kalian salah besar. Aku benci menjadi cowok populer yang katanya jago olahraga, playboy atau suka berpesta. Aku lebih suka menjadi diriku yang apa adanya – diriku yang sesungguhnya tidak pernah perduli akan tanggapan orang lain atau bahkan kepada dunia.

Sebelumnya, ketika duduk dibangku SMP aku termasuk ke dalam daftar siswa yang selalu diabaikan. Aku selalu duduk di pojok kelas dengan earphone menyupal telingaku dan tidak ada satu pun siswa yang mendekatiku. Mereka pikir aku menyeramkan dan sebaiknya mereka tidak mencari masalah denganku. Setiap aku melihat tatapan takut mereka ketika pandanganku tak sengaja bertemu dengan mereka, aku hanya tertawa dalam hati.

Karena orangtuaku bercerai dan aku memilih tinggal di ayahku, aku memutuskan untuk pindah sekolah di daerah sekitar rumah baruku. Dan anehnya, aku menjadi siswa paling populer di sekolah sekarang. Entah apa yang kulakukan, tetapi mereka menyukaiku dan menganggap semacam dewa mereka. Mungkin, semua ini berkat wajahku yang katanya tampan itu. pubertas memang merubah diriku 180 derajat.

"Chanyeol-ah, bagaimana kalau kita kencan malam ini?" Salah seorang gadis pemandu sorak tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku. Beberapa temanku langsung melirik ke arah kami berdua dan ikut menunggu jawabanku. Tentu saja aku akan menjawab..

"Maaf. Hari ini aku tidak bisa. Lain kali waktu saja." Ini sudah ketiga kalinya dia mengajakku berkencan atau lebih tepatnya mengajakku 'bermain-main' di dalam kamarnya. Apa dia tidak jenuh mendengar penolakan dariku terus-menerus? Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau berkencan dengannya.

Bukannya, karena dia bukan tipeku atau kurang cantik atau entahlah, aku hanya tidak tertarik kepada gadis semacamnya yang terlalu memikirkan berat badan serta gosip terbaru di sekolah. Wajah gadis itu langsung berubah muram. "Jadi, benar.. kau sedang menjalin hubungan dengan gadis universitas itu? Kau suka gadis yang lebih tua, huh?"

Oke, rumor darimana itu! Aku hanya terdiam menatapnya enggan memberikan jawaban. "Oke, kalau begitu untuk kali ini aku mundur. Tapi, asal kau tahu saja Chanyeol.. mereka semua menginginkan kita bersama. Kita bisa menjadi power couple sekolah ini." Aku tidak mengerti siapa "mereka" yang dia maksud dan selain itu, aku juga tidak tertarik menambah popularitasku dengan hal konyol semacam itu. Aku sudah cukup menyesali popularitasku sekarang ini.

Ketika gadis itu pergi, Minho langsung bersiul serta Sehun mengataiku idiot. "Memangnya kalau kalian berada di posisiku, kalian akan-"

"Tentu saja, Bodoh! Hara adalah gadis paling populer di sekolah." Potong Sehun.

"Dan paling seksi." Tambah Minho. Aku hanya mendengus keras lalu kembali memakan makan siangku.

"Tapi, serius Chanyeol.. rumor itu benar atau tidak? Katanya kau lebih suka gadis yang lebih tua dan katanya kau itu sex-addict." Entah darimana Sehun mendengar rumor itu. Sejauh ini, rumor itu adalah rumor paling konyol yang pernah kudengar.

"Ya, mungkin saja rumor itu benar. Siapa yang tahu kan?" Balasku ingin mengakhiri pembicaraan bodoh ini.

"Tapi, kau tahu!" seru Minho ditanggapi dengan anggukkan oleh Sehun.

Aku hanya menatap mereka berdua lalu menaruh burger yang tadinya berada ditanganku. Selera makanku hilang. Tanpa bicara sepatah kata pun, aku beranjak pergi dari meja kami dan aku dapat mendengar suara Minho yang memanggil namaku. Coba saja mereka tahu betapa muaknya diriku dengan segala popularitas ini. Aku tidak pernah mau menjadi pusat perhatian. Sesungguhnya, aku paling benci menjadi pusat perhatian.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dan aku dapat melihat berbagai macam pandangan yang tertuju kepadaku. Aku berusaha untuk menghiraukannya, namun tetap saja pandangan mereka membuatku risih.

Aku berbelok menuju aula sekolah yang hanya dipakai jika ada acara sekolah. Biasanya ruang aula dikunci dan aku perlu meminta salah satu penjaga sekolah untuk memberikanku kuncinya. Namun, kali ini ketika kucoba memutar kenop pintu. Pintu aula terbuka dan samar-samar aku mendengar suara merdu dari arah panggung.

"And there's no remedy
For memory
Your face is like a melody,
It won't leave my head
Your soul is haunting me
And telling me
That everything is fine
But I wish I was dead"

Aku berdiri di bawah kegelapan sengaja menyembunyikan diriku. Orang yang sedang menyanyi itu adalah Baekhyun. Aku tidak pernah mendengar menyanyi di acara sekolah sebelumnya. Mungkin, dia anggota paduan suara tapi karena Jongdae selalu dipilih menjadi wakil sekolah kami, mereka jadi tidak menyadari betapa bertalentanya Baekhyun. Aku menutup pintu sepelan mungkin berharap dia tidak menyadari kehadiranku. Aku menunggunya bernyanyi kembali. Namun, Baekhyun hanya terdiam di tengah panggung dan kemudian dia menangis.

Jujur saja, aku tidak begitu mengenal dirinya. Byun Baekhyun adalah cerminan diriku dimasa lalu. Bedanya aku tidak pernah di-bully seperti Baekhyun. Bukannya dijadikan objek bully, aku malah dituduh sebagai pelaku bullying. Aku tahu kalau Baekhyun bukan tipikal anak pendiam yang kuat sepertiku dulu. Dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Mungkin, dia terlalu rapuh. Seseorang harus melindunginya dan entah mengapa, aku ingin membantunya – aku ingin melindungi dirinya.

Aku berjalan keluar dari aula sekolah menuju kelasku selanjutnya. Sepanjang perjalanan, aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang terjadi di sekitarku. Bahkan, sampai pelajaran berlangsung aku masih memikirkan Baekhyun dan apa saja yang dilewatinya selama ini. Aku yakin kalau masa-masa SMA ini akan menjadi masa terberat bagi dirinya.

Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu perduli kepadanya. Padahal, aku tidak pernah mengenalnya atau bahkan mengobrol dengannya. Dia hanya salah satu anak invisible di sekolah. Namun, anehnya hanya dia yang menarik perhatian serta simpatiku.

"Chanyeol-ah, kudengar kalau Byun Baekhyun itu gay dan dia menyukaimu!" Ujar salah seorang gadis yang kupikir adalah mantan kekasih Sehun.

"Hah?"

"Kami sudah memberi dia 'pelajaran' kok, Chanyeol-ah. Jadi, kau tenang saja." ujar salah seorang pemain basket di sekolah kami. Aku tidak mengenal siapa dia. Tetapi, cowok itu seolah mengenal dekat diriku dan menepuk pundakku dengan senyum terbaik.

"Pelajaran?" Aku terdengar begitu bodoh sekarang.

"Junho meninju wajah homo itu kemarin." Ujar salah satu teman cowok bernama Junho itu. Junho tersenyum bangga kepadaku seolah aku akan berterima kasih kepadanya dan memuji tindakannya itu.

Aku hanya terdiam menatap mereka berdua berusaha mengendalikan emosiku. Aku tidak bisa mematahkan tulang hidung seseorang di pelajaran sejarah. Aku tidak ingin membuat sejarah baru di pelajaran sejarah. Aku berpaling menatap papan tulis dan reaksiku membuat mereka semua kebingungan. Mungkin, mereka sedang menunggu ucapan terima kasihku tetapi sampai pelajaran pun berakhir, aku bahkan tidak menoleh ke arah mereka.

Kelas selanjutnya adalah kelas sastra. Aku berjalan menuju kelas sastra yang berada di lantai dua. Salah seorang adik kelas bersama gerombolannya tiba-tiba mendekatiku. Kutebak gadis ini adalah the next Hara atau saingan terbarunya. Dengan wajah arogan, gadis itu menyerahkan sekotak coklat untukku. "Nih untukmu." Aku hanya tertegun menatap kotak yang dibalut pita berwarna biru laut itu. Awalnya, aku ingin menghiraukan gadis itu dan langsung berjalan melewatinya. Tetapi, ketika aku mengingat Yura yang selama ini menjadi tempat penampungan segala kado yang diberikan untukku. Aku memilih untuk mengambilnya.

"Bagaimana kalau kita kencan-"

Aku langsung berjalan melewatinya kali ini. Gerombolan gadis itu langsung mengeluarkan suara-suara aneh yang mengganggu telingaku. Aku terus berjalan dan bahkan tidak menoleh ke belakang ketika gadis itu berteriak kalau suatu hari nanti aku akan menyesali tindakanku dan aku akan mengejar-ngejar dirinya. Oh, dear, what's wrong with you? Aku bersumpah kalau aku tidak akan pernah menyesali tindakanku ini, Jalang.

Aku yakin gadis itu bahkan tidak menyukaiku. Tetapi, demi popularitas dia rela menurunkan ego-nya dan mengajakku berkencan. Aku yakin dia hanya ingin membuat Hara merasa terkalahkan kalau aku menerima ajakannya. Sungguh, aku tidak pernah mengerti dengan gadis-gadis seperti mereka. Apa popularitas adalah hal terpenting dalam hidup mereka? Apa mereka tahu setelah mereka keluar dari nereka berkedok sekolah ini popularitas mereka tidak berarti apa-apa?

Aku tahu kalau pertanyaanku begitu naïf karena sesungguhnya popularitas itu penting bagi mereka yang tidak bisa melindungi mereka sendiri – bagi mereka yang sesungguhnya lemah dan suka berlindung dibalik topeng tegar mereka. Aku mengenal salah seorang gadis populer di sekolah lamaku. Kalian tahu dia berakhir bunuh diri padahal selama ini dia selalu di kelilingi oleh banyak orang yang bisa menyukainya tanpa banyak alasan. Alasan mengapa dia bunuh diri? Simpel. Dia kesepian. Dia frustasi. Karena di belakang punggungnya, ada banyak orang yang mengharapkannya untuk mati. Dan pada akhirnya, dia sendiri lah yang mengabulkan permohonan mereka itu.

Aku berdiri di depan kelas sastra dan sepertinya aku terlambat beberapa menit. Kuketuk pintu kelas sebelum berjalan masuk ke dalam. Karena nilaiku selalu stabil di kelas sastra, Song songsaengnim terlihat biasa saja menanggapi keterlambatanku. Dia menyuruhku cepat mencari tempat duduk dan tidak mengulur waktunya. Aku melempar senyum kecil kepadanya lalu berjalan mencari tempat duduk kosong – dan satu-satunya tempat duduk kosong di kelas adalah bangku paling belakang tepat di sebelah Baekhyun. Seluruh mata tertuju kepadaku lalu kepada Baekhyun. Mereka pasti mengira aku akan merasa jijik duduk di sebelah cowok yang digosipkan menyukaiku. Namun, berbeda jauh dari presepsi mereka aku justru merasa bersyukur karena bisa duduk di sebelah Baekhyun – entah atas dasar apa aku pun juga tidak tahu.

Tatapan kami sempat bertemu, namun Baekhyun cepat-cepat menundukkan kepalanya. Aku dapat melihat bekas memar di sekitar pipinya. Ketika aku duduk di sampingnya, ia terlihat menjaga jarak denganku. Bahkan, dia tidak berani menatapku. Pelajaran pun dimulai dan mataku tidak bisa berhenti melirik ke arahnya.

Hari ini kita akan membahas beberapa sajak yang bertemakan.. "Suicide." Song songsaengnim menuliskan kata suicide di papan tulis. Aku dapat merasakan Baekhyun yang menegang di sampingku. "Suicide adalah topik paling populer bagi para penyair, penulis serta philosopher. Topik ini semakin terkenal di awal perang dunia kedua. Salah satu literatur suicide yang terkenal adalah.. Um, ada yang tahu?"

"Romeon & Juliet, Hamlet, Anna Karerina?"

"Bagus sekali, Baekhyun." Puji Song songsaengnim lalu kembali menerangkan, "Hari ini aku tidak akan membuat kalian membuat satu analisis literatur atau semacamnya. Hari ini kita akan membuat sajak tentang suicide dan membacakannya satu-persatu nanti."

Aku kembali melirik Baekhyun yang mulai menulis dibukunya. Apa yang dia pikirkan sekarang? "Kira-kira Summertime Sadness itu sajak bukan?" tanyaku tiba-tiba membuatnya nyaris terlonjak dan beralih menatapku dengan tatapan aneh.

"Kau bertanya kepadaku?" Aku mengangguk. "Um, maksudmu itu lagu Summertime Sadness kan? Ya, itu sajak. Tapi, Song songsaengnim bilang kita harus membuat karya kita sendiri kan?"

"Masa sih dia bilang begitu?" Balasku membuatnya berusaha keras untuk menyembunyikan senyum. "Aku pakai salah satu lagu Lana Del Rey saja. Wanita itu kan terobsesi sekali dengan suicide." Candaku dan kali ini berhasil membuatnya tersenyum.

"Aku juga begitu kadang." Gumamnya lalu kembali menulis dibukunya. Aku berusaha amat keras untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Sudah berapa lama sebenarnya Baekhyun seperti ini? Sudah berapa lama dia tidak memiliki teman? Sudah berapa lama dia ditindas serta diabaikan di sekolah?

Setengah jam kurang berlalu dan aku benar-benar tidak tahu harus menulis apa. Jadi, kuputuskan untuk mengambil salah satu syair lagu Lana Del Rey. Sementara itu, ketika aku melirik ke arah kertas milik Baekhyun. Kertasnya sudah penuh oleh beberapa baris sajak yang dibuatnya.

"Nah, langsung saja dimulai dari Baekhyun lalu Chanyeol." Ujar Song songsaengnim. Baekhyun langsung bangkit berdiri dan berbeda dari biasanya ia terlihat begitu percaya diri serta.. frustasi. Aku dapat melihat berbagai macam kekecewaan di dalam matanya. Jika ia ingin menangis sekarang, mungkin ia akan menangis sambil membacakan sajaknya.

Aku sangat bingung dengan dunia yang penuh dengan kebencian

Aku hanya ingin semua orang menunggu

Biarkan aku tumbuh dewasa

Biarkan dunia berjalan seperti seharusnya

Hentikan semua makian

Semua makian yang diberikan dunia

Apa ini takdirku?

Untuk selamanya menunggu sampai semua ini berhenti?

Untuk selalu berteriak dikepalaku

Pedih yang kurasa begitu dalam

Sakit, ejekan itu dan semua kebohongan

Aku sangat bingung dengan dunia yang penuh kebencian

Pedih yang kumiliki sangatlah menyakitkan

Jika saja mereka semua itu

Kalau yang kuinginkan hanya seorang teman

Tetapi sekarang aku melihat akhir dari perjalananku mendekat

Dan sekarang aku dapat meninggalkan dunia penuh teror dan kebencian

Dan aku pulang

Seisi kelas terdiam tidak ada yang berani berkomentar miring atau menertawainya. Seluruh mata tertuju kepadanya dengan pandangan penuh pertanyaan. Song songsaengnim bertepuk tangan dan tanpa banyak bicara menyuruhku untuk segera membacakan sajak jiplakanku dengan tatapannya. Aku bangkit berdiri dan membacakan sajakku.

" I feel it in the air
Telephone wires above are sizzling like a snare
Honey, I'm on fire, I feel it everywhere
Nothing scares me anymore

Kiss me hard before you go
Summertime sadness
I just wanted you to know
That, baby, you're the best"

"Chanyeol, kau menjiplak lagu, hm?" Tuduh Song songsaengnim membuatku nyengir lalu kembali duduk. Seisi kelas tertawa padahal tidak ada yang lucu serta apa yang kulakukan lebih pantas mendapat makian. Bahkan, ada salah seorang siswa yang mengacungkan jempolnya padaku. Apa mereka berpikir kalau tindakanku ini adalah suatu pemberontakan?

"Songsaengnim, maklumi saja lah.. Chanyeol kan bukan tipe orang depresi yang siap bunuh diri kapan saja." Celetuk Hara dan sejak kapan gadis itu ada di kelas ini? Seisi kelas kembali tertawa dan aku tahu kalau sindirannya itu secara langsung ditujukan kepada Baekhyun. Baekhyun semakin menundukkan kepalanya membuatku ingin menampar Hara sekalipun dia seorang perempuan.

"Kalau kau benar-benar ingin mati, mati saja lah!" Lalu, mereka kembali tertawa. Memang tidak semua anak di kelas tertawa, kebanyakan anak yang berstatus sosial biasa-biasa saja hanya terdiam berusaha menulikan telinga mereka. Aku mengepalkan tanganku tidak bisa menahan diri lagi. Namun, ketika aku nyaris berdiri dan memaki balik para bajingan itu. Song songsaengnim langsung meminta gadis berambut panjang di sebelahku untuk membacakan sajaknya.

Aku melirik ke arah Baekhyun yang menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Aku ingin memeluknya entah mengapa. Aku ingin melindunginya. Ini semacam perasaan yang aneh dan aku tidak mungkin menyukainya juga. Karena aku bukan gay.

Dan hal terakhir yang ingin kulakukan adalah menjadi gay.

.

.

Rin's note :

CHANYEOL's POV everyone and this is really short chap I know okay

Anyways, this is the ironic of teenager society now.. The popular sometimes always be the priority and fuck that, the wallflower and the loner need some attention too!

Btw, thanks for all the song that you're suggested before. I'll make a playlist for this fanfic and once again, If you want discuss something related with this fic or just anything.. You can ask me on my askfm!

P.S Yang lagi UAS semangat ya! Aku juga lagi UAS nih hiks

P.S.S sajak yang dibacakan Baekhyun itu bukan karyaku jadi source is from tumblr.. I forget the url sorry