Balasan Review :

dindra510 : Syukurlah kalau suka :') *terharu* Trimakasih sudah me-review ^^

DeShadyLady : Iya ini sudah di lanjut :D trimakasih sudah me-review ^^

jey : Iya ini sudah di next, terimakasih sudah me-review ^^

Guest : Hmm, benarkah idenya pasaran? Kalau begitu, apakah anda bisa menebak kelanjutan ceritanya? Dari awal saya sudah memperingatkan kalau tidak suka jangan di baca, atau anda tidak bisa memahami arti tulisan itu?

Khoerun904 : Iya ini sudah di Next ^^ terima Kasih sudah me-review ^^

Nurulita as Lita-san : Iya ini sudah di lanjut ^^ trimakasih sudah me-review ^^

Dango-Chan123 : Iya ini sudah di teruskan :'D wah benarkah? Sama dong kalau gitu sama saya xD.. Btw kamu baca manganya juga kah?

Yosh, terima Kasih yang sudah me-review, nge Fav, Follow, dan sudah membaca cerita saya ^^

Baiklah silahkan membaca chapter duanya~


Anata wa Dare?

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto, saya hanya meminjam nama Characternya saja.

.

.

Genre : Drama, Humor maybe.

.

.

Warning : Typo's, Gaje, OOC maybe.

.

.

Inspirasi : Anime Kaichou wa Maid-sama.

Dengan perubahan disana-sini tentunya. Tapi mungkin akan ada beberapa adegan yang mirip atau bahkan sama dengan Kaichou wa Maid-sama.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

Saya sudah memperingatkan, jika tidak suka jangan di baca, dari pada nanti menghujat cerita yang saya buat, akan lebih baik jika tekan tombol back.

.

.

Happy Reading ~

.

.


Chapter 2 : Maid?


Bruk!

"Aduh! Hei! kemana kau meli— K-kau?!" Sakura melotot melihat orang yang ditabraknya, niat untuk mendamprat orang yang di tabraknya langsung hilang seketika setelah melihat rupa dari sang korban tabraknya.

Hey! Bukannya yang menabrak itu Sakura? Kenapa harus Orang itu yang dapat uring-uringan dari Sakura?!

Sedangkan orang yang ditabrak, yang ternyata adalah Uchiha Sasuke, orang yang paling di benci oleh Sakura, Orang yang berhasil merusak mood baiknya di pagi hari ini, orang yang sangat Sakura hindari, Orang yang selalu membuat amarahnya memuncak, Orang yang— apapun itu, hanya memandang datar ke arahnya.

"Kalau jalan lihat-lihat bodoh"

1...

2...

3...

"APA KAU BILANG?!" alis sakura berkedut kesal mendengar ucapan sarkas dari mulut Sasuke. Suaranya melengking keras mengutarakan ketidak sukaan akan perkataan yang meluncur bebas dari mulut sang pangeran es di depannya.

"Bukannya minta maaf malah mengatai orang! Dasar kau pantat ayam Uchiha!" dampratnya.

Sasuke mendelik tak suka mendengar panggilan Sakura padanya, "Hn, Dengar Haruno. Aku tidak bersalah disini, kau yang bersalah karena berlari di koridor." dingin datar, pun dengan wajahnya.

Sakura menggertakkan giginya kesal, dengan cepat ia berdiri dan memandang tajam ke arah Sasuke.

"Dengar ya Uchiha, jelas-jelas Yang bersalah itu Kau! Kau! Kau berjalan tidak melihat jalan!" Sakura menuding tepat di depan wajah Sasuke.

"Ck, singkirkan tanganmu itu dari wajahku Haruno." nada dingin.

"Tidak. Kenapa? Apa harus?" dibalas dengan nada menantang.

"Haruno" desisnya tajam.

"Uchiha" tak mau kalah.

"Sakura" Menggeram marah.

"Sasuke" tak mau kalah juga.

"Aku bilang singkirkan"

"Aku bilang tidak"

Kejadian terjadi bergitu cepat, Sakura hanya bisa membelalak kan matanya tidak percaya melihat tanganya di tarik paksa oleh Sasuke hingga berada di tengah-tengah dadanya dan dada Sasuke, dan dengan kurang ajarnya Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Sakura?! WHAT THE HELL— yap! Sasuke mencium Sakura pemirsa!.

Melepas ciuman, Sasuke menatap Sakura datar. "Jangan coba-coba kau mengacungkan jari di depan wajahku lagi, Haruno Sakura." setelah mengatakan itu, Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang masih shok bukan main dengan wajah memerah dan mulut sedikit terbuka.

"UCHIHA SASUKEE! AKU MEMBENCIMU!" dan berakhir dengan teriakan sakura yang menggema di seluruh koridor kelas.

"HARUNO SAKURA!"

O-ow tamat sudah riwayatmu Sakura! Tsunade-sensei mendengar teriakanmu dan sekarang sedang berjalan menuju ke arahmu!

Glek

Mendengar namanya dipanggil dengan sedemikian rupa oleh sang guru kesayangan, Sakura menelan ludah susah payah sembari menoleh ke arah Sumber suara.

"Mampus lu Sakura!" jerit sang inner dalam hati. Ketika melihat sang dosen dengan aura hitam yang menyelimuti tubuhnya berjalan mendekat ke arahnya.

Sasuke? Hanya menyeringai di perjalanan kembali menuju kelasnya berada.


.

.

.

Anata wa Dare?

.

.

.


"Sialan kau Sasuke! Gara-gara pantat ayam sialan itu aku harus mendekam disini! Padahal sekarang sudah memasuki jam kerja paruh waktuku!" umpat dan rutuknya dalam hati.

Disinilah Sakura sekarang, mendekam di ruang perpustakaan dengan di temani berbagai macam buku tebal di meja tempatnya duduk.

Karena ulahnya tadi siang, Sakura jadi tidak mengikuti pelajaran Tsunade-sensei, dan beginilah akhirnya, mendapat tugas spesial dari sang guru dan harus di kumpulkan hari ini juga.

Bahkan Tsunade-sensei sampai repot-repot mau menemani dirinya di ruang perpustakaan, sungguh dosen yang sangat baik hati bukan? Untung saja jarak meja yang Sakura tempati berada agak jauh dari tempat yang di tempati Tsunade-sensei, jadi Sakura tak perlu khawatir kalau-kalau Tsunade-sensei mendengar gumamanya, toh itu tidak mungkin terjadi mengingat jarak duduk mereka yang jauh.

RIIIING

Suara dering ponsel berhasil membuat tubuh Sakura terlonjak kaget, ditolehkannya kepalanya pada Sumber suara, dan ternyata berasal dari ponselnya sendiri. Takut-takut Sakura melirik ke arah dosennya sebelum mengangkat telepon, setelah memastikan aman, barulah Sakura menekan tombol jawab.

"Moshi-moshi.." ucapnya.

"Sakura-chan, kau ada dimana? Sekarang giliranmu bertugas." suara lembut nan tajam dari seberang telepon mampu membuat nafas Sakura tercekat seketika.

"A-aa, maaf Ayame-nee. Aku... Sedikit mendapat masalah di kampus jadi, bisakah jadwal giliranku di ganti besok saja?" Netra sehijau daunnya melirik ke arah dosennya yang sepertinya sedikit terganggu akan percakapan yang dilakukannya.

"Tidak bisa Saku-chan, para pelanggan sangat ingin dilayani olehmu" helaan nafas sesal terdengar meluncur lelah dari mulut sang manager.

"Ta-tapi—"

"Hah! Pergilah Sakura, selesaikan itu besok" perkataan Sakura terhenti karena mendengar suara sang dosen yang menginterupsi pembicaraanya dengan sang manager tempatnya bekerja.

"Be-benarkan Tsunade-sensei?" tanya sekali lagi memastikan.

"Ya, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran" jawab sang dosen seraya menutup buku tebalnya dan membereskan peralatan— entah apa itu yang tidak Sakura ketahui di atas meja.

"Huaaaa! Terimakasih sensei! " tanpa banyak cek cok Sakura segera membereskan buku-bukunya dan melesat ke arah sang dosen untuk memeluknya erat seraya berkata,

"Kau sangat baik sensei, aku menyayangimu" di akhiri dengan kecupan di pipi sang dosen dan langsung melesat pergi.

"Ayame-nee, aku segera kesana. Tunggu aku! " dan—

Klik setelah mematikan sambungan teleponnya, Sakura bergegas pergi menuju tempatnya bekerja.

Sedangkan Tsunade hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak didik kesayangannya itu.


.

.

.

Anata wa Dare?

.

.

.


Brak!

"Ayame-nee! Maaf aku terlambat!" dengan nafas ngos-ngosan Sakura membuka — baca : membanting — pintu belakang tempat masuknya para staf di tempatnya ia bekerja.

"Ck Sakura! Pelan-pelan, kasihan pintunya nanti rusak!" Hardik sang senpai berambut merah seraya berkacak pinggang serta tatapan nyalang dilemparkannya pada sang Kouhai.

"Ehehehe, gomenasai Karin-san" ucapnya sembari tersenyum bersalah.

Menggeleng-gelengkan kepala, Uzumaki Karin segera berkata, "Sudah sana cepat ganti baju, Ayame Sudah menunggumu".

"Siap!" Dan melesatlah Sakura keruang ganti.

Sepeninggal Sakura, datanglah Ayame menghampiri Karin, "karin, Sakura sudah sampai?" tanyanya.

"Hm?" menoleh ke arah Ayame, karin melanjutkan, "Oh sudah, dia sedang ganti baju" sembari menunjuk ke arah tempat Sakura yang sedang ganti baju dengan dagunya.

Setelah mendapat informasi tentang Sakura dari salah satu pegawainnya, Ayame segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Sakura.

"Sakura..." panggil sang manager ketika sampai di depan ruang ganti yang ditempati Sakura.

"Ya Ayame-nee? Tunggu! Aku sebentar lagi selesai" sahut Sakura.

"Hmm, baiklah."

Ceklek

Suara pintu dibuka berhasil menarik perhatian sang manager dari laporan yang dibacanya, menoleh ke arah Sumber suara, senyum manis terukir di wajahnya.

"Nah sekarang, cepat lakukan tugasmu" yang tadinya sang manager tersenyum manis sekarang berganti dengan senyum sadis Yang menghiasi wajahnya.

Meringis, Sakura menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke area tempatnya bekerja.

"Ah itu Saku-chan!" ucap salah satu pelanggan tetap di tempatnya bekerja.

Memasang senyum manis, Sakura berjalan mendekat dan segera mengeluarkan nota kecil di tangannya.

"Ha'i, maaf atas keterlambatan saya, anda mau pesan apa, Goshujin-sama?"

Yap! Sakura bekerja sebagai pelayan disebuah kafe yang memiliki suasana yang berbeda dengan kafe-kafe lainnya, Maid café. Begitulah orang-orang menyebutnya, itu dikarenakan para pelayannya yang menggunakan pakaian maid atau pelayan perempuan.

"Seperti biasa capucino, cake strawberry Dan Milk shake untuk dia" jawab sang pelanggan serata menunjuk gadis kecil yang duduk di sebelahnya.

"Ho~ Sara-chan ikut kesini juga?" Sakura membungkuk kan badannya guna menatap gadis cilik yang tersenyum sumringah ke arahnya.

"Hum! Tentu saja! Aku suka dengan kue disini!" ucapnya sembari mengangguk mantap antusias membuat sang kakak dan Sakura terkekeh geli karenanya.

"Ha'i, wakarimasta, Oujou-sama." Sakura membungkukkan badanya bak pelayan yang melayani tuan Putri. Sara, gadis cilik tadi yang melihatnya pun tertawa geli.

Krincing.

Bunyi suara bel pertanda suara pintu kafe di buka membuat Sakura harus mengalihkan pandangannya ke arah Sumber suara dan berkata, " Iterashaimasen, Goshu— "

Krak!

Bunyi retakan kaca imaginer menjadi latar belakang wajah horor yang di tampilkan Sakura ketika melihat tersangka yang sudah membuka pintu.

"U-chiha Sasuke... Kenapa dia ada disini?!" pekik innernya tidak terima.

"Hn?" Sasuke menaikkan alisnya ketika melihat Sakura berada di kafe yang di datanginya, namun tak lama dan di gantikan dengan senyum menyeringai di wajah tampannya.

"Haruno Sakura eh?" ucapnya tetap dengan seringai yang mampir di bibir tipisnya.

"Huh? Paman Sasuke mengenal Saku-nee?" tanya seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh tahunan sembari melihat orang yang menggandeng tangannya.

"Tentu saja Hana, dia—"

"Ah, Selamat datang Oujou-sama" Sakura memotong perkataan Sasuke dengan menyapa gadis cilik yang datang bersama musuh bebuyutannya.

"Hum! Saku-nee kau terlambat! Aku tadi kesini bersama Ayah kau belum datang" tuding sang gadis yang menjadi pelanggan tetap di kafe tempatnya bekerja, Uchiha Hana. Itulah namanya.

Tertawa kecil, Sakura berjongkok mensejajarkan tinggi badan dengan gadis kecil di hadapannya dan berujar, "maaf, Nee sedikit mendapat masalah di kampus" sembari tersenyum lembut, tak lupa lirikan sinis ia layangkan pada orang yang datang bersama Hana.

"Nah, Nah sekarang bagaimana kalau kau duduk dulu sembari memilih pesanan ne?" tawarnya.

"Baiklah" Hana mengangguk menyetujui dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju tempat duduk yang kosong bersama Sakura. Meninggalkan sang paman yang mendengus di belakangnya.

"Baiklah Hana-chan, Nee akan pergi kebelakang untuk memberitahukan pesananmu, tunggu ya" tersenyum manis, Sakura kembali menuju meja Sara berada.

"Oh iya, Garaa, kau hanya pesan ini? Sara-chan juga?"

"Iya, aku baru makan tadi di rumah"

"Hum! Cepat ya Saku-chan" sang gadis mengangguk mengiyakan.

"Ha'i, Oujou-sana" ucapnya sembari tersenyum dan berlalu menuju dapur.

Tanpa mengetahui kalau sedari tadi, Uchiha Sasuke tengah memperhatikannya, dengan tatapan datar nan tajam, Ketidaksukaan melihat sang gadis tersenyum lembut dengan pemuda lain jelas sekali terpampang di onix gelapnya.


.

.

.

Anata wa Dare?

.

.

.


"Hahh!" sesampainya di dapur, Sakura menghela nafas panjang dan menyerahkan lembaran nota kecil yang berisi pesanan pada Koki di dapur, mangkibatkan Temari menatap bingung ke arahnya.

"Sakura? Kau.. Kenapa wajahmu suntuk begitu?" ucapnya sembari menatap geli ke arah gadis yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu.

"Diamlah Temari-san, hari ku benar-benar buruk sekarang." ujarnya sembari melepar tubuh ke arah Sofa yang disediakan di dapur.

Bukannya diam, Temari malah mengeraskan tawanya membuat Sakura menatap jengkel ke arahnya.

"Hahahaha, jangan bilang kau mendapat masalah dengan kekasih bebuyutanmu Sakura?"

"Hentikan Temari-san, dia bukan kekasihku"

"Tapi siapa tahukan? Cinta itu berasal dari kebencian. Benarkan karin?"

"Ya, kau benar Temari" Karin mengangguk setuju, menyetujui ucapan Temari.

Mendengar tanggapan Karin, wajah Sakura semakin menekuk suram, sedangkan para Seniornya malah tertawa keras melihatnya.

"Sudahlah, aku mau membuang sampah dulu" berdiri dari duduknya, Sakura segera menjinjing dua kantong hitam yang berisi sampah, dan berjalan menuju pintu belakang untuk membuangnya.

"Hei Sakura di sana ada—"

Blam.

"—Uchiha Sasuke" tanpa mendengarkan perkataan Karin, Sakura menutup pintu hingga megeluarkan debaman yang lumayan keras, mengakibatkan Temari kembali tertawa melihat tingkahnya.

"Hahaha sudahlah karin, barkan saja"


.

.

.

Anata wa Dare?

.

.

.


Sementara Sakura...

Ceklek.

"Dasar, kenapa sih mereka selalu meng— kau?!"

.

.

.

.

.

To Be Continued


Halo~ apa kabar? Semoga baik amin.

Wah-wah, udah berapa lama saya nelantarin fict ini :') /dibakar, enggak kok Saya nggak nelantarin :'D cuman kebetulan aja tugas banyak di duta jadi— ya taulah :'D

Gimana ceritanya? Apa chapternya kurang panjang?

Saya tunggu jawabannya di review ya ;)

Sampai jumpa lagi!

©Ichi N1 San