Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo *teriak penuh putus asa*

Aku Bukan MAHO!

"Kurosaki Ichigo, ikut bersamaku! Ada yang hal yang ingin kubicarakan denganmu." Kata Byakuya dengan nada dingin. Lalu tanpa menunggu jawaban dari sang remaja berambut orange, Byakuya membalikan tubuhnya dan mencari tempat untuk berbicara.

Chapter 2

Ichigo dengan gugup mengalihkan pandangannya ke samping. Ia merasa tidak nyaman dipelototi oleh calon mertuanya di hadapannya. Sekarang ini mereka berdua sedang duduk berhadapan disebuah ruang guru yang kososng. Ichigo memiliki firasat bahwa calon ayah mertuanya akan mengintrogasinya tentang gosip Kurosaki Ichigo adalah seorang maho.

Ichigo menelan ludahnya, 'Kau tamat Ichigo!' kata Ichigo dalam hati, 'Bagaimana aku harus menjelaskan dan meyakinkan Kuchiki-sensei bahwa aku bukan maho?' tanya Ichigo dalam hati. Ia tidak mau pertunangannya dengan Rukia dibatalkan hanya karena gosip konyol itu.

"Kurosaki Ichigo, aku sudah mendengar gosip tentang dirimu." Kata Byakuya.

Deg... 'Ini dia...' kata Ichigo dalam hati. Jantungnya berdegup dengan kencang menantikan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut calon mertuanya. Keringat dingin mengalir di dahinya. Tetapi setelah beberapa detik yang menegangkan, kata-kata tajam dan dingin yang Ichigo takutkan tidak keluar dari mulut sang duda beranak satu yang sangat tampan itu. Bingung, Ichigo mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi dan ekspersi Byakuya saat itu. Tetapi kemudian ia tersentak kaget saat melihat wajah sang calon mertua sangat dekat dengan wajahnya.

"Ichigo..." bisik Byakuya. Matanya menatap Ichigo dengan sangat lembut yang membuat sang remaja berambut orange merinding dibuatnya. Lalu jari-jarinya yang panjang dan langsing menangkap dagu Ichigo. Spontan, Ichigo bangkit dari tempat duduknya dan melompat menjauhi Byakuya.

Wajah Ichigo berubah pucat dan jantungnya berdegup sangat kencang seakan-akan akan melompat dari tempatnya. Andai ia memiliki penyakit jantung, sekarang ini pasti ia sudah tewas seketika, 'OMG... masa sih, Kuchiki-sensei...' kata Ichigo dalam hati tidak percaya dengan kejadian yang baru saja menimpanya.

'Arhg... ini pasti mimpi... pasti mimpi! Jika tidak, mana mungkin Kuchiki-sensei melakukan hal seperti itu.' pikir Ichigo sambil mencubit pipinya, berharap ia terbangun ia masih berada di dalam kelasnya. Tetapi sayangnya rasa nyeri di pipinya mengatakan ia tidak sedang bermimpi.

"Kenapa kau menghindar seperti itu." kata Byakuya dengan nada dan wajah terluka. Kemudian ia berjalan perlahan mendekati sang remaja berambut orange yang melangkah mundur dengan wajah ketakutan.

Ichigo berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Ia terpojok seperti anak kucing. Dengan horror Ichigo menatap Byakuya yang semakin mendekatinya. Tiap langkah sang guru sastra membuat Ichigo semakin ketakutan, "Arg... aku hanya menyukai perempuan. Aku hanya mencintai Rukia. Jangan mendekat lagi!" teriak Ichigo histeris ketakutan sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.

"Hm... ternyata benar gosip itu tidak benar ya." kata Byakuya dengan suara darat.

"Eh?" kata Ichigo bingung sambil melihat sang guru sastra berambut hitam itu dari sela jarinya yang melindungi wajahnya. Wajah Byakuya kembali kalem seperti biasanya.

Kemudian Byakuya kembali duduk di tempatnya sebelumnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Mata abu-abunya menatap Ichigo yang masih syok dan ketakutan di pojok ruangan dengan tajam, "Aku hanya ingin memastikan apa kau maho atau bukan. Ini masalah masa depan putriku, aku harus memastikannya sendiri." jelas Byakuya.

Ichigo menghela nafasnya lega. Ia benar-benar sangat terkejut. Ia sama sekali tidak mengira Kuchiki-sensei yang dingin dan kaku akan melakukan hal itu hanya demi memastikan bahwa dirinya bukan maho.

"Jangan bilang kau benar-benar mengira aku maho!" tanya Byakuya dingin kepada sang remaja berambut orange. Ia mengalihkan wajahnya ke samping. Tetapi sayangnya Ichigo masih bisa melihat wajahnya merona kerena malu, "Kalau sampai kejadian ini diketahui Rukia, aku tidak menjamin masa depanmu, Kurosaki Ichigo." ancam Byakuya. Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

~H~

"Kurosaki-kun." Panggil seseorang ketika ia sedang berjalan di koridor menuju asramanya sambil merencanakan memberi pelajaran kepada sahabat berambut merahnya karena sudah membuatnya dikira maho akibat ulahnya. Kemudian sang remaja berambut orange membalikan badannya dan berhadapan dengan wali kelasnya, Ichimaru Gin, dan guru matematikanya, Aizen Shosuke.

"Ichimaru-sensei... Aizen-sensei." sapa Ichigo.

"Kau mau kembali ke asrama kan?" tanya Gin sambil tersenyum ramah kepada sang remaja berambut orange. Ichigo menganggukan kepalanya.

"Aku ingin minta tolong kepadamu," Kata Gin, "tolong berikan ini kepada Shiro-chan!" Kemudian sang guru berambut perak itu memberikan sebuah bungkusan kepada ichigo.

Ichigo mengakat sebelah alisnya bingung, "Shiro-chan?" tanya Ichigo. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ada anak asrama yang memiliki nama Shiro.

"Ah... maksudku Hitsugaya Toushiro." jelas Gin.

"Baiklah Ichimaru-sensei." Jawab Ichigo. Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak, 'Ha ha ha... Shiro-chan? Nama yang imut! Sangat cocok untuk bocah keparat itu.'

"Tolong sampaikan maafku padanya. Maaf aku tidak bisa menyerahkannya langsung kepadanya karena aku harus menghadiri rapat guru sekarang." Jelas Gin.

"Gin..." panggil Aizen sambil menunjukan jam tangannya. Sang guru berambut perak mengangukan kepalanya mengerti.

"Tolong ya Kurosaki-kun." Kata Gin. Lalu setelah itu ia meninggalkan sang remaja berambut orange untuk mengahadiri rapat yang akan berlangsung dalam beberapa menit lagi itu.

Ichigo mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Aizen meletakkan tangannya di pundak wali kelasnya. Ia tahu Aizen-sensei dan Ichimaru-sensei adalah teman akrab sejak mereka di bangku SMA. Tetapi ia merasa hubungan mereka berdua terlalu dekat. Ichigo merinding membayangkan kedua guru itu adalah sepasang kekasih. Hal itu ada kemungkinan sejak banyak maho di sekolahnya.

Ichigo menatap bungkusan di tangannya. Ini bukan pertama kalinya Gin menitipkan sesuatu kepada Ichigo untuk Toushiro karena kamar mereka berhadapan. Dalam hati, Ichigo bertanya-tanya kenapa Gin sering sekali memberikan sesuatu kepada Toushiro, dan bahkan bersedia mendatangi asrama siswa hanya demi mengantarkannya, 'Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?' tanya Ichigo dalam hati.

~H~

"Hoi... Toushiro." panggil Ichigo kepada sang bocah berambut putih yang sedang sibuk menulis sesuatu di meja belajarnya. Sang bocah berambut putih yang dimaksud tersentak kaget dengan perbuatan tiba-tiba Ichigo. Dengan spontan ia meremas surat yang sedang ia tulis.

"Ku... Kurosaki!" kata Toushiro wajah terkejut. Kemudian ia mengerutkan dahinya kesal, "Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu dan masuk seenaknya ke kamar orang lain, Kurosaki?"

"Chad tidak keberatan aku masuk tanpa mengetuk pintu." Jawab Ichigo tanpa rasa bersalah.

"Tapi aku keberatan." Kata Toushiro tambah kesal sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya dan mengirim detah glare kepada remaja berambut orange di hadapannya.

"Hai... hai..." kata Ichigo tidak memperdulikan death glare yang mengarah kepadanya, "Ini titipan dari Ichimaru-sensei untukmu Shi-ro-chan!" kata Ichigo sambil menyengir lebar melihat wajah sang bocah berambut salju merona sangat merah karena malu. Lalu dengan kesal Toushiro mengambil bungkusan yang Ichigo sodorkan kepadanya.

"Kau sedang ngapain sih?" tanya Ichigo pensaran melihat banyak bola kertas di atas meja sang bocah berambut salju itu.

"Bukan urusanmu!" jawab Toushiro dingin sambil membuka bungkusan dari Gin. Bungkusan itu berisi kotak makan. Diatasnya terdapat catatan kecil bertuliskan 'Maaf! Hari ini kau makan malam duluan saja ya'.

"Cis..." desis Toushiro. Kemudian ia meremas catatan kecil itu dan melemparnya ke tempat sampah. Ichigo melihat mata emerald sang bocah menjadi terlihat sedih.

"Woah... kau sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Kurotsuchi-sensei, Shiro-chan!" kata Ichigo sambil membuka buku tugas Kimia milik sang bocah bermata emerald. Guru Kimia mereka, Kurotsuchi Mayuri sering sekali memberi mereka banyak tugas dan amat sangat sulit.

"Jangan panggil aku Shiro-chan!" kata Toushiro marah. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, duduk dia diatas kasurnya dan melipat kakinya ke dadanya. Ia terlihat sangat kecewa dan marah.

Ichigo mengakat alisnya. Mereka berdua sudah sering bercanda dan berkelahi. Memanggilnya 'Shiro-chan' tak akan membuatnya semarah itu. Pasti ada hal lain yang membuat sang bocah berambut salju sangat marah seperti itu.

Ichigo lalu mendekati Toushiro dan berlutut di hadapannya, "Apa yang yang membuatmu sangat marah seperti itu?" tanya Ichigo, "Apa kau mau menceritakannya kepadaku?" tanya Ichigo. Toushiro seumuran dengan adik kembarnya. Ia sudah menganggap sang bocah bermata emerald seperti adiknya sendiri.

Toushiro membenamkan wajahnya di antara lututnya dan terdiam.

Untuk beberapa saat Ichigo menunggu Toushiro itu untuk membuka mulutnya, tetapi sang bocah berambut salju nampaknya tidak mau menceritakan sesuatu kepadanya. Lalu Ichigo menghela nafasnya, "Baiklah, kalau kau tidak ada yang ingin kau ceritakan. Aku akan kembali ke kamarku." Kata Ichigo sambil bangit dari posisisnya. Ketika ia akan pergi, Ichigo merasakan tangan kecil Toushiro menarik bajunya.

Toushiro membuka mulutnya, "Ichimaru Gin..." untuk beberapa saat Toushiro terdiam seperti sedang berpikir dan Ichigo menunggunya dengan sabar, "adalah ayahku..." kata Toushiro.

Ichigo ternganga mendengar pernyataan Toushiro. Ia tidak menyangka Toushiro dan Gin adalah ayah dan anak karena mereka memiliki nama keluarga yang berbeda. Tidak... yang lebih penting, Ichigo teringat kejadian saat ia menuju ke asrama. Gin dan Aizen terlihat mesra seperti sepasang kekasih. Berarti Ichimaru Gin adalah maho. Tapi... bagaimana mungkin Gin bisa memiliki anak.

'Argh... membingungkan!' teriak Ichigo frustasi dalam hati.

~H~

Moshi... moshi mina-san... (~^.^)~

Chapter ke dua Aku Bukan MAHO!

Di chapter pertama kusa dapet banyak repiw... XD

Kusa seneng banget dengan sambutan baik reader mengenai fic ini di chapter pertama

Yosh... apa lagi ya? XD

Owh iya... Back to Academy: Again? udah kusa publish.*plak* (Reader: udah tau!)

Yang tertarik silahkan baca dan jangan lupa repiw... *kitten eyes*

Mind to review?

-kusanagi-