.

.

.

Mission 2: Like I Care

.

.

.

"Dia cucu rektorat di sini. Kaya, penuh pesona, dingin, dan jahil. Dan jangan lupa dengan kata 'tampan', aku saja berharap dia mau melirikku sekilas, atau bahkan jika ada kemungkinan keajaiban datang kemudian ia mau menerimaku.. ahh ottokeee.."

Melonggo, hanya itu yang bisa Luhan lakukan mendengar penuturan sahabatnya. Byun Baekhyun. Saat mereka sedang berada kantin sambil melahap makan siang.

"Dan lagi, Lu. Oh Sehun si tampan itu belum punya pacar! Kesempatan terbuka lebar kan?! Padahal ia begitu sempurna. Begitu so good, begitu so cute, begitu so –"

"Oke I got it! Kau tak perlu menjelaskannya sedetail mungkin Byun Baekhyun yang imut" ujar Luhan menahan jengah. Baekhyun hanya kembali memakan burgernya.

"Kau ini aneh Lu, kau kan yang tanya 'Baek, Baek, Oh Sehun itu orangnya bagaimana?' ya kujawab saja apa yang ku pikirkan, jadi jangan protes! Dan .. what!? Imut? Aku ini man-ly Lu, mungkin yang pantas mendapat gelar imut di antara kita ya hanya Kau!"

"Mwo! Aku ini lebih Man-ly tuan berpantat tipis!" balas Luhan tak terima

"Hah? Mana buktinya?!"

Dan saat itu juga tiba-tiba seorang Yoeja yang Luhan kenal datang menghampirinya sambil berteriak-teriak nggak nyante -_-

"Oppa! Oppa! Luhan oppa! OPPAAAAA!" seru yoeja itu yang Luhan kenal dengan nama Park Ji Yeon.

"Ah, Ji Yeon shii? Ada apa?" balas Luhan sambil berdiri dari kursinya.

"Oppa, panggil aku Ji Yeon saja, kan kemarin sudah ku bilang! Huh! Ah ya Oppa, ini tugas dari Jung songsaenim" ujar Ji Yeon sambil memberikan setumpuk kertas dan dibalas Luhan dengan anggukan sekaligus senyuman. "Gomawo Ji Yeon-ah"

"Ji Yeon-ah, Oppa ini tampan apa imut?" tanya Luhan mencoba memastikan apa yang di bilang Baekhyun tadi. Ji Yeon terdiam sambil melihat wajah Luhan dengan lekat. "Luhan Oppa, tentu saja, tampan!" dan seketika Luhan secara reflexs memeluk Ji Yeon sangking bahagianya. "Yiiippp!"

Baekhyun melihat Luhan dengan pandangan benci. 'dasar rusa sialan' batinnya. "Jongmal Gomawo Ji Yeon, saranghaeee! Muah muah" celetuk namja bersurai hitam itu sambil seraya melepas pelukannya. Ji Yeon hanya tersenyum malu, "Ah Oppa, sudah ya! Aku harus pulang. Daah oppa!" seketika Yoeja itu berjalan menjauh dari meja Luhan.

Ji Yeon memang yang terbaik! Batin luhan. Sampai ia mendengar suara yoeja itu dari pintu kantin. "Opppaaaa! Aku luppaaaa! Tugasmu sekelompok… dengan…. Oh Sehunn!"

Dan seketika wajah Luhan yang bahagia berubah masam. Siaaalllllll!

.

.

.

사랑하지마(Don't Love Me)

Mission 2: Like I Care

.

.

.

.

LUHAN PROV

.

Aku benar-benar tak habis pikir! Apa-apaan dengan namja sialan itu?! dulu ia bilang jika ia tak menginginkanku, dan sekarang? Bahkan secara sok nya ia bilang jika ia akan membuatku mengulang kata menjijikkan itu? hu..uu..uh aku begidik ngeri membayangkannya. Like hell I caree~ memang ia siapa bisa menaklukkan hatiku lagi? Setelah meminta maaf dan memutuskanku? Yang benar saja. Mungkin aku masih mau meliriknya jika ia hanya memutuskanku tanpa meminta maaf.

Helloo~ orang yang meminta maaf saat mereka putus berarti orang itu memiliki penyesalan pernah memiliki hubungan dengan mantannya. Tapi aku realistis! Tak mungkin aku akan terpuruk dengan sesuatu menjijikkan yang namanya 'cinta'.

Semenjak namja sialan itu memutuskanku dan membuangku seenaknya.

Dan semenjak oemma bercerai dengan aboeji. Atau lebih tepatnya meninggalkan aboeji yang saat itu berada di masa sulit perekonomian dan pergi dengan lelaki lain. Tak setia? Ya.. aku bahkan tak berniat untuk membelanya, meski itu oemma ku sekalipun. Aku bukan tuhan yang pemaaf, oke. Aku hanya manusia, dan manusia tak seharusnya menyerupai tuhan. Kalian tau maksudku kan.

Kemudian aku harus mengikuti Aboeji kembali ke kampung halamannya di china. Beliau membawaku ke orang tuanya. Dan setelah itu, aboeji meneruskan bisnis Lahan dan kontraktor milik kakek dan nenek sampai maju seperti sekarang ini. Dan ekonomi kami kembali sedia kala. Dan kabar baiknya wanita jalang itu tak lagi menampakan batang hidungnya. Aku bersyukur ia tak mengganggu kehidupan kami lagi.

Semenjak itu, aku tak percaya dengan kata 'cinta'

Bagiku itu hanyalah ungkapan klise, tak berbobot, dan menyedihkan.

.

.

.

.

.

.

"Luhaaannn~" aku mendengar suara yang sangat ku rindukan itu. Suara berat namun selalu terdengar manja itu.

"Ah Aboeji? Ada apa? Tidak biasanya aboeji menelponku. Hihihi" balasku sambil mengalihkan kegiatan mengerjakan tugasku dan fokus ke percakapan dengan uri aboeji yang ku hormati sekaligus ku sayangi itu.

"Aboeji kesepiaan~ Lulu seenaknya sendiri pergi ke korea dan meninggalkan Aboeji-nya di China sendirian. Hiks hiks" aku menatap datar handphonku itu dan berjalan menuju kearah Balkon.

.

"Ahjussi nugundeyo?!"

"Ya! Xi Luhan! Berani sekali kau pada appa-mu sendiri"

"Aish, sudah berkali kali ku bilang kan. Aku lebih suka memanggil Aboeji dengan kata Aboeji daripada appa. Kesannya tak menghormati"

"Pilih panggil 'appa' atau tak ku kirimi uang jajan lagi eoh?"

Aku memutar bola mataku dengan malas. Meski sudah kepala 3 tapi aboeji ku ini punya sifat yang sangat kekanakan. Badannya saja yang besar, tapi psikisnya diragukan.

"Siwon ahjussi! Anda benar-benar kekanakan!"

"Hihihi.. sudahlah, anak Aboeji ini benar-benar sudah dewasa rupanya. Bagaimana dengan kuliahmu? Tidak merasa kesusahan kan? Kau makan dengan teratur kan? Tidak terus terusan tidur malam-malam kan?"

"Tenang saja Aboeji! Kuliahku berjalan baik dan aku juga makan dan tidur teratur. Jadi Abeoji tak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri kok. Aboeji masih bekerja? Jangan lupa makan seperti yang sebelum sebelumnya, ya! Jika aboeji lupa lagi, besok ketika aku disana, aboeji akan melihat apa itu yang namanya neraka! Huwahaha!"

"Aish! Aboeji sudah makan kok. Jadi Lulu-aboeji tak perlu khawatir"

Hening.. aku tak lagi membalas ucapan aboeji karna aku juga tak tau harus berkata apa sampai akhirnya aboeji memecah keheningan.

"Luhan" serunya pelan.

"Ne, aboeji?"

"Apa kau… bertemu dengan oemma-mu?" dari nadanya aku tau aboeji agak aneh untuk membicarakan topik yang selalu ku benci ini.

"Aboeji… aboeji tak perlu khawatir. Luhan tak akan meninggalkan aboeji seperti wanita itu. dan lagi Aboeji… orang yang sudah penah pergi meninggalkan kita . . . . dia tak pantas masuk kembali di kehidupan kita…" balasku seraya memantapkan diri, sejujurnya kata-kata itu hanyalah sesuatu yang harus ku ingat dalam otakku saat bertemu dengan namja sialan itu.

"Bubye Siwon Aboeji yang kusayangi~ jangan bekerja terlalu keras ne? jaga kesehatan! Dah Aboeji, Luhan sangat menyayangi Aboeji"

Dan sebelum aboeji membalas, aku sudah mematikan sambungan itu dan terus menatap bangunan-bangunan kota Seoul ini dari balkon kamarku seraya memeluk tubuhku sendiri. Ya… orang yang sudah pernah pergi meninggalkan kita.. tak sepantasnya kembali mengusik kehidupan baru kita… ya… itu benar…

.

.

.

.

.

.

Seperti biasa, di kantin dan di meja yang sama. Aku, Baekhyun, dan uuuh orang yang minta di bilang Princess itu sedang melakukan hal rutin kami. Mengobrol. Namun kali ini tanpa makanan. Lagi pula si Princess gila itu membawa suatu game. Dia menyuruh kami berdua untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di kertas itu, hanya berbagai pertanyaan yang aneh.

"Skorku 12" ujar Baekhyun yang sudah terlebih dahulu selesai mencocokan jawabannya. Kemudian si Princess itu membuka buku yang sedari tadi ia genggam.

"Skor 11-15, pacar yang cocok untukmu adalah seseorang yang selalu terlihat rapi dan pintar" bacanya, kemudian menggerak-gerakan kepalanya mencari sesuatu.

"Aha!" celetuknya setelah apa yang ia cari ketemu. "Yang cocok untukmu itu pasti si Chanyeol itu Baek, kekekeke!"

"Mwo?! Kenapa dia!" aku membelalakan mataku saat mendengar Baekhyun berteriak. Karna aneh, Baekhyun yang aku kenal tak akan berteriak hanya karna godaan sepele yang dikatakan Princess wannabe itu.

"Well, pertama… coba lihat dia selalu rapi. Kekeke. Atau lebih tepatnya terlalu rapi, selalu memasukan bajunya kedalam celana. Dan selalu memakai kemeja. Jangan lupa dengan kacamata kotak berwarna hitam yang besar itu. rambutnya yang dipotong bagai jamur dan berwarna caramel itu, kau sangat pantas bersanding dengannya!"

"Atau bisa kau persingkat dengan kata cupu Hwang Kwanghee! Shireooo! Aku tak mau!" balas Baekhyun mulai merajuk.

Aku tersenyum,meski Baekhyun berkata begitu tapi entah mengapa matanya mengatakan hal lain. Kita sedang membicarakan sahabat yang sudah ku kenal sejak sekolah dasar oke. Dengan inisiatif aku mencoba untuk mengutarakan isi hati teman mungilku yang sedang mem-pout -kan bibirnya imut.

"Sudahlah Baek, lagipula Chanyeol itu tidak buruk-buruk sekali. Coba kau lihat sisi baiknya. Ia tinggi, kulitnya putih bersih, ku fikir ia juga imut dengan kupingnya yang mirip seperti kurcaci atau peri itu. ku dengar dia juga mahasiswa yang berprestasi. Jadi… kenapa kau harus tidak mau?" jelasku panjang lebar dengan nada sehalus mungkin. Sambil menunjuk namja yang sedang duduk agak jauh dari meja kami.

Bisa ku lihat Baekhyun menatapku penuh arti. Mungkin aku bisa mendengar jeritan hatinya. 'Luluuu gomawoo~' pasti begitu dan tiba-tiba ia memelukku. Aku membiarkannya saja.

"Tapi aku tidak setuju!" celetuk Kwanghee dengan nada tak suka. Aku memberikan pandangan bertanya wae?

"Coba lihat! Si cupu itu selalu dekat-dekat Siwan! Aku ingin menguburnya hidup-hidup!" aku melihat arah pandang Kwanghee yang mengarah pada Chanyeol yang sedang duduk dengan seorang namja. Setelah kuamati, ternyata namja itu adalah namja yang saat itu diincar Kwanghee. Now everything make sanse…

"Ya! Hyung! Kau tak boleh menguburnya hidup-hidup! Lagian Chanyeol dan Siwan itu kan hanya teman satu fakultas, Hyung!" kali ini aku melihat aneh kearah Baekhyun yang memandang Kwanghee dengan marah. Namun… whhuuuooooot?! Hyuuuunnggg?

"Mwo? Hyung?!" tanyaku, nggak nyante -_-

"Lo, aku memang belum bilang? Aku sudah di semester akhir Baby Deer, tinggal skripsi lah. Tapii…. Ya! Byun Baekhyun! Kenapa kau malah tak terima?! Katanya kau tak mau dengan namja itu hah!"

.

Baekhyun hanya diam dan kembali memelukku. Bocah ini..

.

"Ya sebenarnya aku tidak kaget sih, wajahmu juga sudah menunjukan begitu kok"

.

"Dasar hoobe sialan!"

.

"Tapi kenapa Hyun— maksudku Princess tidak kelihatan sibuk? Biasanya kan mahasiswa semester akhir terlihat sibuk mondar mandir ke ruang dosen. Biasanya…" tanyaku penasaran.

"Dia itu menunggu acara tahunan universitas kita, Lu… The Last Waltz. Hari jadi universitas ini. Baru ia mau mengurus skripsinya, dan kemudian dia jadi gelandangan.. muwahahaha!" sambung Baekhyun.

Aku sebenarnya tak peduli dengan acara apaan itu, Like Hell I Care! aku juga tak memepedulikan kedua orang disekitarku yang sedang adu mulut itu. Yang sedang kupedulikan adalah detik demi detik yang sangat kutunggu dari arlojiku ini. Sebelum…..

"Sekarang giliranmu Lu, kau dapat skor berapa?" tanya Baekhyun, dan aku hanya menyesal kenapa dari tadi tak berpura-pura ada urusan saja dari pada ikut game menyebalkan ini.

"37" jawabku lirih.

"36-39.. pacar yang cocok untukmu adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang dingin dan tertutup. Karna kau adalah orang yang ceria, maka kau akan menjadi pasangan yang serasi untuknya" usai membaca buku bodoh itu, Kwanghee gila itu menampilkan smirknya yang benar-benar menakutkan. Aku sampai begidik melihatnya.

"Yang pantas untukmu?" ia mencari seseorang, aku tau siapa yang ia cari. Karna setiap kami bertiga bercerita entah kenapa ia selalu gencar sekali mengejekku dengan namja itu. Sampai akhirnya namja yang sangaaattttt tak ingin kulihat wajahnya itu berjalan masuk kekantin dan mengambil tempat 2 meja disebrang mejaku. Demi apapun, aku bisa melihat seringai menakutkan dan tatapan mata yang menerutku membunuh itu sebelum ia duduk. Weeerrrr! Buku kudukku berdiri.

"Ah! Tentu yang paling COCOK untukmu adalah OH SEHUUN!" entah kenapa namja gila didepanku itu menekankan kata cocok dan nama namja yang ingin sekali tak ku kenal itu. atau lebih tepatnya ia berteriak sehingga semua orang di kantin yang hening ini menoleh kearah mejaku.

"MUWAHAHAHA! Tentu saja itu salah Hwang Kwanghee yang sangat cantik! Aku lebih memilih dengan nggg…." Dan saat itu juga aku melihat Kai yang berjalan masuk kearah kantin. "KAI! Tentu aku memilih Kai!" balasku dengan suara yang besar.

.

Hening

.

Sangat hening

.

Baekhyun melihatku dengan pandangan bulat seakan berkata 'apa yang barusan kau bilang?!'

.

"No! No! No! BIG NO XI LUHAN! Apa bagusnya Byun Jong In itu? dia mesum! Kau tau kan Lu?! Dia mesum! Kau tak boleh dengannya!" ujar Baekhyun histeris sambil mengoyang-goyangkan tubuhku. "Dia jorok! Dia jarang mandi! Dia hitam! Dan terlebih lagi Lu, …."

.

DIA PESEK!"

.

"Jongmal Gomawo HYUNG!" sinis Kai yang tiba-tiba sudah duduk disamping Kwanghee dengan wajah menahan amarah.

"Terus kenapa kalau dia pesek? Setidaknya dia TIDAK MEMBUANGKU kok Baek. Dan aku yakin jika Kai TAK AKAN MENJILAT LUDAH-nya sendiri" mataku menatap Baekhyun namun mulutku terus terusan mengarah ke namja bersurai coklat yang sedang membulatkan matanya itu. entah kenapa aku punya firasat buruk.

"Perasaanku saja, atau memang sekarang suasananya mencengkam?" aku tak melihat siapa yang berbicara tapi aku tau jika itu Kai.

"Aku pilih yang terakhir Kai" kali ini Kwanghee menimpali.

Aku juga sebenarnya merasakannya, udara di kantin ini terkesan menyeramkan dan sangat dingin. Tanpa pikir panjang aku berdiri, "Sudah dulu ya, aku masih ada kelas" ujarku bohong dan berjalan cepat-cepat keluar kantin.

Sampai…

.

.

GREB

.

Oh sweet nibbles!

.

.

Tangan itu menghentikan langkahku. Tangan besar yang sedang menahan tangan kiriku untuk melangkah. Dalam hati aku meurutuki nasib sialku

"Kau mau kemana rusa kecil?" tanyanya dengan nada dingin yang sangat menakutkan tepat ditelingaku.

.

"a..ak..aku…ada urusan. Lepaskan tanganmu sialan!" seruku tanpa menatapnya mencoba berani dimatanya, walau sebenarnya ngewel dihati -_-

.

"Kau bilang apa? Memilih anak hitam itu? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu dan berniat dimutilasi oleh tanganku sendiri?"

.

Oke kali ini aku bisa merasakan nada marah dan kesal dari caranya bicara. Tapi jangan lupa dengan nada menakutkannya. Kali ini kakiku lemas seketika, tamat sudah rimayatku.

.

"An..ani.. sudahlah Oh Sehun! Aku sibuk!" aku menghentakkan tanganku tapi ia masih mencengkramnya erat. "Aku bilang lepas!" sama, tapi nihil! Malah ia semakin mencengkram erat pergelangan tanganku. "Yak! Appo! Oh Sehun! Jebal, lepaskan!" aku tak melawan lagi, ini benar-benar batasku.

Genggamannya mengendur, tapi ternyata ia malah membalikkan badanku sehingga berhadapan dengannya. Tangannya langsung memegang tengkuk dan melingkar di pinggangku. Aku tau apa yang akan ia lakukan, entah dapat kekuatan dari mana aku langsung memberontak heboh.

"Yak! Yak! Oh Sehun! Lepaskan! Palliiii! Ya! Kau namja mesum! Cepat lepaskan! Yaaa! Hiih!"

Ia menatapku dengan sangat intens, buru-buru kupalingkan pandanganku kearah lain, namun entah kenapa bisa-bisanya aku kembali menatap kedua manik hitam jernih itu. "Sepertinya aku harus membuat semua orang tau"

.

"Heh?"

.

"Aku akan membuat semua orang tau, siapa yang berani mendekatimu, maka akan berurusan denganku" katanya dengan sebuah smirk. Oh god! -_-

"Dan sepertinya aku harus membuat semua orang disini tau terlebih dahulu…"

"Aku tak mengerti apa yang kau bil—"

.

Belum selesai aku berbicara, tiba tiba ia sudah membenamkan bibirnya di ceruk leherku. Bisa kurasakan ia menjilati leherku dengan perlahan, kemudian ia mengecupnya dan lama-lama bisa kurasakan ia mulai menghisapnya dalam.

.

"mmmhhhh…. Mmmmppphhhh…" sialan, desahanku yang anggun itu harus keluar.

.

Entahlah, setelah aku mendesah -_- bisa kurasakan ia semakin menjadi jadi. Ia menghisap leherku dengan ganas terkadang malah menggigit. "Ahh.. mmpphh… sehh… un… mmmpphh…."

.

Setelah desahan keduaku itu. ia melepaskan bibirnya dan agak memberi spasi jarak. Ia menatapku dengan intens. Entah kenapa aku selemah ini.

.

Kemudian ia melepaskan tubuhku, karna benar-benar lemas, aku langsung terduduk. Bisa kurasakan wajahku yang memanas. Dasar namja sialan! Aku langsung menatapnya sengit penuh amarah.

"Jangan berani sampai kau tutupi atau berniat untuk kau hilangkan! Jika aku tau bekas 'cinta' ku yang banyak itu tak terlihat sama, maka jangan salahkan jika aku membuat tanda yang lain! Kali ini baru dileher, jika kau berani melanggar… maka seluruh tubuhmu akan menjadi sasarannya Xi Luhan" jelasnya sambil berpaling pergi, tak lupa ia memberikanku sebuah wink yang lebih menakutkan karna ekspresinya sangat datar.

.

Aku yang tak tau apa-apa hanya melongo, sampai akhirnya Baekhyun menghampiriku.

.

"Semua orang melihatnya Lu" bisiknya pelan. Aku langsung melihat sekelilingku. Benar saja! Semua orang sedang menahan malu melihat adengan tadi. Sepertinya aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk kehidupan kuliah yang tentram.. hiks.

"Ya ampun Lu, tandanya banyak sekali!" kata Baekhyun.

"Tanda apa sih Bae—. MWOO?! Ya Tuhan! Kenapa ada banyak baek? Kau tau cara menghilang kannya? Aigooo bagaimana ini? Ah ah ottokee?"

"OH SEHUNNNNN!" teriakku kencang. Namja gila itu, si kampret sialan biadab bedebah itu.. aish… bagimana aku bisa berjalan dengan tenang jika nanti semua orang melihat bekas bibir yang keunguan di leherku yang putih. Sialan sialan sialan! Aku akan membalasmu! Lihat saja!

.

.

Ini bukan cinta! Bukan! Bukaaaannn! Bukkaannn! Tidak mungkin ini cinta! Lihat saja Oh Sehun! Sialan sialan sialann! Aku akan membalasmu! Lihat saja! Sarang aniya! Sarang aniya! Sarang aniya! Dia pikir dengan begitu ia akan mendapatkanku kembali?! Heh! Andwe! Andwee! Andweee! Aboejiiii~~~~ selamatkan anakmu ini! Huaaaaaa!

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.