Park Sora membuka matanya dan keadaan di sekitarnya masih saja sama. Gelap, asing dan dingin. Yang berbeda hanyalah, kini Sora sudah mulai terbiasa dengan kegelapan yang menyelimutinya. Dia mengamati ruang kelas rusak itu dan mendapati Chanyeol sudah terbangun. Duduk di atas meja kayu kuno yang menghadap jendela besar ruang kelas tersebut. Mengamati dataran mati di depannya yang hanya disinari sinar pucat bulan purnama itu. Sora mengambil jas seragam Chanyeol yang dipakainya untuk tidur tadi dan berjalan perlahan menuju kakak tersayangnya itu. Takut membangunkan yang lain meski ia sendiri tak yakin kalau teman-temannya itu 'benar-benar' tertidur.

"Oppa…." Katanya pelan. Chanyeol menoleh. Ia tersenyum kepada Sora dan langsung menggeser tempat duduknya. Mempersilahkan Sora untuk duduk di sampingnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Sora sambil mengembalikan jas seragam Chanyeol. Tangan Chanyeol sangat dingin saat ia menerima jas tersebut, membuat Sora sadar kalau selama ini kakaknya pasti juga kedinginan, tapi ia tetap saja memaksa Sora untuk menggunakan jasnya sebagai bantal agar Sora dapat menggunakan jasnya sendiri sebagai selimut.

"Aku sedang berpikir tentang apa yang sedang terjadi di dunia kita sekarang." Jawab Chanyeol. "Dan itu membuatku teringat akan masa kecil kita dulu." Lanjutnya sambil menyunggingkan senyum putus asa.

Masa kecil mereka? Yang Sora ingat hanyalah Chanyeol yang tak pernah membiarkan orang lain menyentuh Sora. Dengan rambutnya yang terkuncit lucu, Chanyeol akan mengajak Sora bermain dan akan menangis kalau Sora lebih memilih bermain dengan Barbie-nya. Dia juga akan memarahi kedua orang tua mereka bila kedua orang tuanya membelikan Sora mainan yang membuat Sora tak mau bermain dengannya.

"Kau tak pernah membiarkanku bermain dengan siapapun dulu." Kata Sora. Tawa kecil keluar dari mulutnya mengingat tingkah Chanyeol dulu. "Kau bahkan selalu menghapus semua nomor lelaki yang aku punya saat aku masih SMP." Lanjut Sora. "Dan aku juga masih mengingat semua interogasi bodohmu. Semua acting jelekmu tentang 'aku berniat melihat-lihat isi memorimu tapi berakhir menghapus semua kontak lelaki di hp-mu, maaf….' Aku tak percaya kau bisa lebih membebaskanku setelah SMA ini." Sora seakan tak bisa berhenti menceritakan kisah-kisahnya itu. Dan semakin ia mengingat perbuatan-perbuatan bodoh kakaknya itu, semakin ia merindukan dunianya. Dunia dimana ia harus memohon sambil menangis di kaki Chanyeol hanya untuk mendapat izin bermain dengan teman sesama jenisnya saat dia berusia empat tahun. Dunia dimanaChanyeol selalu memaksanya memasuki sekolah yang sama dengannya agar dia bisa memantau Sora 24 jam penuh selama satu minggu.

Sora menyandarkan kepalanya ke bahu Chanyeol. Tak menyangka kalau dia akan sangat merindukan dunia yang ia benci itu sekarang.

"Sejak kapan kau menjadi sebesar ini?" kata Chanyeol,merasa kehilangan adik kecilnya setiap bertambahnya hari.

"Jangan khawatir oppa….Aku akan selalu membutuhkanmu tak peduli seberapa tua aku nanti." Kata Sora sambil menggenggam tangan kakaknya.

"Aku akan mengeluarkanmu dari sini Sora. Kau tenang saja." Kata Chanyeol dengan tekat bulat. Tak peduli apa, adik kecil yang sangat disayangnya itu harus kemabali ke dunia nyata.

"Kitaberdua akan keluar dari sini bersama-sama oppa." Tegas Sora. Entah mengapa perkataan Chanyeol barusan membuatnya merasa kalau kakaknya itu akan mengorbankan apapun bahkan dirinya sendiri hanya untuk mengeluarkan Sora dari tempat ini. Dan Sora tak mau itu terjadi. Ia ingin keluar dari tempat ini bersama kakaknya. Ia ingin keluar dari tempat ini bersama semuanya. Ia tak ingin keluar dari tempat ini sendiri dan kesepian nantinya.

"Kita harus segera keluar dari sini….." kata Chanyeol pada dirinya sendiri.

"Kalau begitu kalian lebih baik bergerak cepat mulai dari sekarang." Suara dingin hantu itu tiba-tiba terdengar. Tak ada yang tahu sudah berapa lama hantu berambut pirang pucat itu berdiri tak jauh dari meja yang diduduki Sora dan Chanyeol. "Aku akan membantu kalian." Lanjutnya kemudian.

"Apa kita bisa mempercayaimu?" Tanya Tao yang sudah berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Hantu itu tak menjawab. Ia dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan membuka pintu kelas yang sebelumnya terkunci itu. Menyadarkan sekelompok pelajar itu kalau mereka tidak punya banyak pilihan lain selain menuruti kata hantu itu.

"Ikuti aku." Kata hantu itu dingin sambil melayang perlahan menembus Tao lalu pergi menuju koridor depan kelas.

"Sebelum itu, setidaknya kita harus tahu siapa namamu." Kata Yixing tiba-tiba.

"Heh. Bagus, sekarang kita akan berteman baik dengan seorang hantu dan tak akan pernah keluar dari sini." Kata Jongdae sinis sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan angkuhnya. Yixing melirik Jongdae tidak senang disaat hantu itu masih menunjukkan pandangan kosongnya yang tak pernah benar-benar ditujukan pada seseorang disana.

"Bisakah kita tidak menghancurkan diri kita sendiri sekarang?" lerai Luhan sambil berdiri menengahi Yixing dan Jongdae. Memecahkan ketegangan yang mulai muncul lagi di antara mereka.

"Sehun…" kata hantu itu sebelum akhirnya menghilang. Hening. Tak ada yang tahu kemana hantu itu pergi. Dan tak ada yang berani memikirkan alasan mengapa hantu itu pergi.