Chapter 2
Waktu menunjukan pukul 5 sore. Jinyoung memandang jam tangan dan keluar jendela secara bergantian. Hujan dengan derasnya turun dari langit yang diselimuti oleh awan hitam menggumpal sejak bel istirahat makan siang selesai. Padahal sebelumnya ia berharap agar hujan tersebut berhenti pada saat sebelum pulang sekolah. Tapi sayangnya, kenyataan berkata lain. Hujan malah tidak berhenti dan turun dengan semakin deras. Sialnya, ia juga tidak membawa payung. Lelaki itu hanya menghela napas panjang dan menidurkan kepalanya di atas meja ㅡ menunggu hujan berhenti. Terdengar suara bising yang berasal dari turunnya hujan. Jinyoung juga mendengar tawa-tawa anak kelas yang masih bermain di kelas karena menunggu hujan berhenti sama seperti dirinya. Meskipun ada beberapa yang sudah turun untuk menunggu di lantai bawah.
Sayu-sayu kedua pasang mata Jinyoung memandang keluar jendela. Karena cuaca yang dingin saat itu membuat ia malah jadi mengantuk. Apalagi ditambah pendingin ruang kelas yang belum dimatikan. Tanpa disadari dalam sekejap ia sudah menutup matanya dan mulai menikmati tidurnya sore itu.
"Ya Park Jinyoung!"
Belum dalam hitungan menit Jinyoung terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang tidak ingin didengarnya (lagi). Suara itu...
"Kau belum pulang huh?" tanya Jaebum yang menghampiri meja Jinyoung dan berdiri di hadapannya dengan tas ransel hitam yang dibiarkan menggantung di bahunya. Sepertinya Jaebum akan pulang tanpa menunggu hujan berhenti. Jinyoung pun dengan malas mengangkat kepalanya lalu menatap lelaki itu. Sekilas ia melirik Jackson dan Yugyeom masih berada di tempatnya. Sibuk dengan gadget masing-masing.
"Bukan urusanmu" jawab Jinyoung dingin. Lalu dengan kasar ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu kelas ㅡ meninggalkan Jaebum yang menatap kepergiannya tanpa ekspresi.
"Apa lagi yang mau kau lakukan bro? Masih belum puas mengganggu si anak sombong itu?" dengan pandangan yang tidak lepas dari layar gadgetnya, Jackson tiba-tiba bertanya.
"Aku... hanya khawatir dia mengganggap sepele pembicaraan tadi siang"
"Tsk, meskipun dia memang terlihat seperti itu, tapi aku yakin dia itu orang yang penakut. Aku berani jamin dia tidak akan bermain-main dengan apa yang kita bicarakan. Jadi percayalah pada... Ya Im Jaebum! Mau kemana kau?!"
Dilihatnya oleh Jackson, Jaebum yang tengah berlari meninggalkan kelas. Begitu juga dengan Yugyeom. Ia langsung menoleh dan mendapati Jaebum berlari di depan kelas menuju tangga yang berada di ujung koridor.
ㅡ
ㅡ
ㅡ
Dengan sedikit gemetar dan ketakutan, Jinyoung melewati koridor lantai dua yang sepi dan hanya diberi sedikit penerangan. Ia dapat mendengar suara anak-anak yang berasal dari dalam kelas. Sesekali ia menolehkan pandangan ke arah kelas itu. Takut-takut jika ternyata dalam ruang kelas itu sama sepinya dengan koridor yang tengah dilewatinya. Tanpa disadari Jinyoung menggelengkan kepalanya sendiri karena telah berpikiran terlalu jauh. Ditambah pikirannya yang melayang ke pembicaraan Jaebum tadi siang. Membuatnya ingin cepat-cepat menghilang dari koridor dan tiba di rumah dengan "selamat".
Ckleekk...
Begitu ia tiba di tangga, tiba-tiba saja terdengar suara pintu dari sebuah gudang yang terletak di ujung koridor ㅡ tidak jauh dari tangga. Ia mengintip dari tembok untuk melihat suara apa yang baru saja didengarnya. Ternyata pintu gudang yang terbuka. Terlihat bayangan cahaya yang terlihat dari lantai koridor. Melihatnya mengingatkan dirinya kembali pada pembicaraan tadi siang.
Aku hanya ingin memperingatkan kau untuk tidak sekali-sekali "bermain-main" di gudang. Tepatnya gudang bawah perpustakaan
Hei asal kau tahu, kami sudah memberi tahumu untuk tidak datang kesana meskipun ada sesuatu atau gerak-gerik yang mencurigakan dari sana. Karena bukan kami saja yang celaka nantinya, tapi kau juga Jin..young-ssi!
Jinyoung lagi-lagi menggelengkan kepalanya sendiri. Mencoba meyakinkan kalau perkataan mereka hanya omong kosong belaka. Semenjak dirinya berurusan dengan Jaebum dan kedua temannya tadi pagi, Ia merasa dirinya hanya dipermainkan. Jinyoung percaya kalau mereka hanya bermaksud untuk membohonginya. Dan di dalam gudang itu tidak ada apapun yang mencurigakan.
Lelaki itu terdiam sesaat di tempatnya lalu menoleh ke kanan kiri. Sepi. Hanya ada dirinya saja saat itu di koridor. Akhirnya tanpa basa basi ia pun mulai berjalan menuju gudang setelah mengumpulkan banyak-banyak keberaniannya. Sebenarnya jika ia tidak terlalu peduli dengan ada apa di dalam gudang itu, mungkin Jinyoung sudah berada di lantai bawah menunggu hujan berhenti bersama dengan anak-anak lainnya. Tapi karena rasa ingin tahu yang melebihi rasa takutnya, Jinyoung mulai mencoba untuk memberanikan diri menghampiri gudang tersebut dengan hati-hati.
Tidak ada apa-apa Jinyoung.. tidak ada apa-apa. Jinyoung mencoba meyakinkan dirinya. Sedikit ia mengintip ke dalam ruang gudang itu, ia sudah melihat banyaknya barang-barang yang bertumpuk disana sini. Bila dilihat memang gudang itu memilki ruang yang lumayan besar. Gudang itu ternyata ditempati oleh meja-meja dan kursi-kursi tua yang sudah tidak dipakai. Tetapi di balik itu, ada ruang lagi ternyata. Tepatnya di paling belakang ruangan. Tidak berani masuk ke dalam, akhirnya Jinyoung memutuskan untuk mengangkat kepalanya tinggi-tinggiㅡmencari tahu ada apa di belakang sana.
Jederrr.. jederr..
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menghasilkan kilat menyilaukan di mata Jinyoung membuat ia menutup sebelah matanya dan menunduk karena kaget. Pasalnya, dinding belakang itu terbuat dari kaca hingga ia bisa melihat jelas kilatan petir itu. Tetapi ada yang membuat terkejut selain suara petir tadi. Ia sempat melihat bayangan seseorang yang terpampang jelas di kaca tersebut. Dan itu memberikan bukti kuat buat dirinya jika ada seseorang di dalam sana. Jinyoung menggigit bibirnya ㅡ ragu. Apakah ia harus masuk ke dalam untuk mencari tahu siapa disana atau malah meninggalkan gudang itu dan kembali besok pagi.
Kira-kira siapa disana? Pengurus sekolahkah? Atau...
"Jinyoung-ah! Hei!"
Jinyoung mendengar seseorang memanggilnya dari ujung koridor. Ia pun menoleh dan melihat Bambam berjalan menghampirinya.
"Bambam? Aku pikir kau sudahㅡ"
"Aku mendatangi ke kelasmu tapi ternyata kau disini? Sedang apa kau? Bukankah sudah diperingatkan untuk tidak datang kesini? Ayo pulang Jinyoungie!" Bambam tiba-tiba saja datang dengan menyerang Jinyoung tanpa ampun. Wajahnya menatap Jinyoung kesal. Tetapi wajar saja apabila Bambam datang dengan marah-marah pada Jinyoung karena ia sendiri sebenarnya takut bila "kejadian" yang tidak diinginkannya tiba-tiba saja terjadi (lagi). Tanpa menunggu Jinyoung membuka suaranya, Bambam langsung menarik tangan lelaki itu dengan kasar dan berjalan menuju tangga meninggalkan gudang.
"Tadi... aku melihat sesuatu disana jadi aku... tung-tunggu dulu... kau mau pulang? Kau tidak lihat hujan masih belum berhenti huh?" Jinyoung menarik tangannya dari genggaman Bambam dan berhenti.
"Aku membawa payung Jinyoung"
"Dimana payungmu?"
"..."
Menyadari tangan kirinya kosong, Bambam langsung menepuk jidatnya. Ia meninggalkan payungnya di depan kelas. Bambam mendesah. Dengan terpaksa ia harus kembali ke lantai atas untuk mengambil payungnya.
"Aish.. payungku tertinggal. Aku ambil dulu ya" ujar Bambam yang melesat menuju tangga ㅡ melewati sepinya koridor. Jinyoung hanya menggelengkan kepalanya menatap punggung Bambam yang sudah semakin jauh dari pandangannya.
"Aku tunggu di bawah ya!" seru Jinyoung. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju tangga karena merasa tinggal dirinya seorang saja disana. Entah kenapa semenjak Bambam pergi meninggalkannya di koridor beberapa detik yang lalu, Jinyoung mulai merasakan sesuatu yang tidak enak. Apalagi hawa yang berasal dari gudang yang terbuka itu membuat ia semakin tidak nyaman. Seakan lupa dengan rasa penasarannya dengan gudang itu, akhirnya Jinyoung langsung berlari menuju lantai bawah tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Jederrr.. jederr...
Lagi-lagi kilat itu menghalangi pandangan Jinyoung membuat dirinya berhenti tepat sebelum menuruni anak tangga. Dikarenakan sama seperti dinding gudang, dinding yang dipakai di sekitar tangga itu juga terbuat dari kaca. Sekejap Jinyoung menundukan kepalanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang berada di hadapannya. Terlihat olehnya seorang lelaki yang tergeletak di lantai dengan mata dan mulut yang terbuka dan darah kental yang membanjiri sekitar kepalanya. Baju seragam yang dikenakan anak itu juga berlumuran darah. Bila diperhatikan, ternyata ia terpeleset saat menuruni tangga. Pasalnya terdapat becek-becekan air di tangga yang berasal dari atap bocor. Alhasil anak itu pun jatuh dengan kepala belakang yang membentur ujung lantai. Entah karena benturannya terlalu keras sehingga kepalanya mengeluarkan darah segar. Jinyoung hanya bisa tercengang ㅡ tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Lelaki itu adalah lelaki yang sempat dilihat Jinyoung tadi saat Bambam mendatanginya. Sepertinya ia turun bersama dengan Bambam. Jinyoung benar-benar tidak menyadari ada sesuatu terjadi di tangga. Ia sendiri bahkan tidak mendengar apapun yang jatuh. Karena pendengarannya hanya dipenuhi oleh suara bising hujan diluar sana.
Secara perlahan ia memundurkan langkahnya dengan pandangan yang belum lepas dari anak itu ㅡ berniat untuk kembali ke kelas. Di dalam kepalanya tiba-tiba muncul perkataan Jackson tadi siang.
Bukan kami saja yang celaka nantinya, tapi kau juga Jin..young-ssi!
Dan kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikirannya. Jinyoung tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Mengira ia sendiri yang menyebabkan semua ini terjadi. Sesaat keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Wajahnya pun pucat pasi. Jinyoung juga dapat merasakan detak jantung yang berdegup lebih kencang dibanding saat ia mendatangi gudang tadi.
"A-a-aku tidak... HAHH!" Jinyoung berteriak karena terkejut begitu menyadari ada orang lain yang bersamanya saat itu. Ia bahkan dapat mendengar suaranya yang menggema di koridor. Tanpa disengaja ia menabrak orang yang berada di belakangnya. Jinyoung langsung menoleh dan mendapati Jaebum yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Terlihat Jaebum menatap lelaki itu tanpa berkedip. Bibirnya juga kelu. Ia... tak dapat berkata apa-apaㅡ sama seperti dirinya saat pertama kali melihat kejadian tadi yang tidak pernah dilihat seumur hidupnya. Jaebum sendiri benar-benar terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka "kejadian" itu terjadi lagi. Setelah 6 bulan terakhir, bahkan "kejadian" ini sudah tidak pernah terjadi. Tetapi sekarang...
"Ka-kau...?"
"Hei kau ingat perkataanku bukan? Kau... tidak mendatangi gudang itu kan Park Jinyoung?" tanya Jaebum hati-hati dengan menoleh ke arah Jinyoung dan menatapnya intens. Meskipun ia sendiri tidak yakin apakah Jinyoung benar-benar mendatangi gudang atau tidak. Kalau saja Jaebum tidak bertemu dengan Park Seonsangnim yang menyuruhnya membawa tumpukan buku ke kelasnya, mungkin ia akan mengetahui kepastian Jinyoung datang ke gudang itu atau tidak. Karena jika tidak, kemungkinan besar kejadian yang menimpa anak yang tidak bersalah itu tidak akan terjadi.
"Aku... Huaahh!" tanpa disadari Jinyoung memundurkan langkahnya sedikit dan hampir saja ia terjatuh ke belakang jika Jaebum tidak langsung menariknya saat itu. Dan Jinyoung pun berhamburan memeluk lelaki itu ㅡ tanpa. Jaebum yang terkejut hanya membulatkan matanya dan diam mematung. Padahal ia hanya berniat untuk menarik tangan Jinyoung, tetapi anak itu malah memeluknya. Merasa tidak nyaman dengan situasi yang diluar dugaan itu, Jaebum langsung melepas pelukan Jinyoung. Takut jika ada seseorang yang memergoki dirinya berpelukan dengan seorang laki-laki. Apalagi dengan si anak baru. Jackson dan Yugyeom yang melihatnya mungkin sudah menggodanya habis-habisan.
"Hei Jinyoung-ah! Kau kenapa? Yaa! Kau tidak apa-apa kan?"
"..." Jinyoung tidak menjawab. Ia bahkan tidak bisa berkata apapun. Tubuhnya seketika lemas dan lelah yang amat luar biasa. Ia merasa menjalani hari pertamanya di sekolah itu benar-benar melelahkan. Jinyoung hanya ingin berada di rumahnya sekarang. Dan tidak mau mendatangi sekolah itu lagi. Sesaat ia tidak dapat mendengar suara Jaebum yang terus-terusan memanggilnya. Dan samar-samar kedua matanya tiba-tiba melihat seorang lelakiㅡ memakai pakaian seragam yang samaㅡ duduk di jendela koridor yang terbuka. Lelaki itu terlihat tengah memandang dirinya dengan aneh. Jinyoung pun berusaha membuka lebar matanya ㅡ mencoba memastikan siapa lelaki itu. Karena ia yakin tidak ada seorang lagi yang berada di koridor selain dirinya dan Jaebum. Tetapi sayang, dirinya sudah terlalu lelah hingga tanpa disadari pandangannya perlahan mulai gelap. Dan Jinyoung bahkan tidak lagi mendengar suara bisingnya hujan sore itu.
ㅡ
ㅡ
ㅡ
"Kau benar sudah agak baikan Jinyoungie?" ibu Jinyoung bertanya di sela-sela makan malamnya. Jujur saja, ia sendiri terkejut bukan main begitu mengetahui kecelakaan yang tak biasa itu. Ditambah anaknya yang baru pertama kali sekolah disana membuat ibu Jinyoung malah ingin mengeluarkan kembali anaknya dari sekolah itu. Wanita paruh baya itu menatap anak semata wayangnya dengan khawatir. Karena semenjak ia kembali dari sekolah dengan Bambam yang mengantarnya, Jinyoung hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Dilihatnya Jinyoung yang sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa dimakan sedikitpun.
"Seram juga. Bukankah guru-guru ataupun pengurus disana juga tidak pernah melihat adanya atap bocor di tangga? Untung saja kau belum turun saat itu"
"..."
"Jinyoung-ah? Ya! Berbicaralah sedikit! Jangan membuat Ibu takut!" ujar ibu Jinyoung dengan menatap anaknya bingung. Jinyoung pun hanya menghela napas panjang mendengar perkataan ibunya. Ia sama sekali tidak ingin berbicara sedikit pun sekarang ini. Dia sendiri masih tidak mengerti dengan semua keadaan yang dihadapinya baru saja. Gudang, kecelakaan yang tidak biasa. Semuanya berada di luar nalar Jinyoung. Sepertinya ia butuh sendiri untuk mencoba memikirkan di balik semua yang terjadi selama seharian itu.
"Aku sudah selesai makan. Aku istirahat dulu eomma..." Jinyoung bangkit dari kursi makannya dan berjalan menuju kamarnya.
"Tapi kau belum makan apa-apa Jinyoungie! Yaa! Aish anak itu benar-benar... Hhh baiklah istirahat saja sampai kau benar-benar sudah baikan Jinyoung! Besok kau tidak usah berangkat sekolah dulu kalau kau masih butuh istirahat"
"..."
Jinyoung tidak menghiraukan perkataan ibunya yang perlahan menghilang dari pendengarannya. Karena ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri saat itu.
Ckleeekk...
Jinyoung membuka pintu kamarnya dan langsung menyalakan lampu yang sebelumnya gelap gulita di ruangan itu. Seketika ia membulatkan kedua pasang matanya melihat keadaan yang amat berantakan di kamarnya.
Apa-apaan ini?! Pekik Jinyoung dalam hati. Dilihatnya, buku-buku yang sebelumnya sudah ditata rapi dan tersusun di lemari buku, semuanya berserakan di lantai tanpa sisa satupun buku di lemari bukunya. Begitu juga dengan baju-bajunya yang masih berada di kardusㅡ karena belum sempat dirapikan setelah kepindahannya ke rumah barunya. Meja belajarnya yang juga sebelumnya rapi, kini berantakan. Tempat sampah yang berada di sudut kamarnya, jatuh hingga sampah-sampah kertas yang pernah dibuangnya pun berserakan. Padahal ia yakin sebelum meninggalkan kamarnya untuk makan malam, tidak sekacau ini.
Jinyoung menatap seisi kamar dengan heran. Mungkinkah ada pencuri yang masuk melalui jendela kamarnya? Tanpa basa-basi, ia pun berjalan menuju jendela yang sedikit terbuka menyebabkan tirai jendelanya bergoyang tertiup angin. Jinyoung juga dapat merasakan angin yang tertiup kencang memasuki kamarnya. Lelaki itu menautkan kedua alisnya melihat jendela kamarnya yang tidak berubah sedikitpun. Sebelumnya, ia memang menyempatkan membuka jendelanya sedikit sebelum ia turun untuk makan malam.
Lalu ulah siapa ini sebenarnya...?
Jinyoung menoleh ke belakang ㅡ kembali menatap ke penjuru ruang kamarnya. Tiba-tiba di ingatannya muncul kejadian tadi sore di sekolah ditambah perkataan Jackson.
Apa ini... balas dendam anak itu padaku?
Jinyoung asal mengira. Pasalnya, bila dikaitkan dengan perkataan Jackson tadi siang dan dirinya yang mengintip keadaan gudang yang sebenarnya tidak diperbolehkan, secara tidak langsung Jinyoung lah yang membunuh anak itu. Sesaat ia merasa ada yang tidak beres disini. Padahal Jinyoung berniat untuk beristirahat lebih cepat malam ini ㅡ setelah melalui hari yang sangat panjang. Tetapi setiba di kamarnya, ia malah mendapat "kejutan" yang membuat dirinya seolah lupa dengan rasa lelahnya. Belum pikirannya tentang masalah sekolah tadi terselesaikan, kini ada lagi yang membuat ia harus memutar ekstra otaknya.
Tanpa disadari angin bertiup semakin kencang. Jinyoung dapat merasakan rambut belakangnya yang mulai tertiup angin. Lalu tiba-tiba ia teralihkan pada buku-buku yang terbuka karena tertiup angin ㅡ berada di atas meja belajar yang tidak jauh dari jendela kamarnya. Sekilas ia melihat halaman yang terbuka ㅡ terlihat berwarna merah darah. Mencoba membuktikan kalau dirinya hanya salah liat, perlahan Jinyoung mendekati meja belajarnya dan membuka satu-persatu halaman yang menarik perhatiannya tadi. Dan... Gotcha! Akhirnya Jinyoung menemukan halaman itu. Tapi seketika ia membeku di tempatnya saat membaca sederetan huruf hangul yang berwarna merah darah itu. Wajahnya pucat dan tangannya yang masih memegang bukunya ㅡ bergetar.
MUNGKIN KAU SELANJUTNYA, PARK JINYOUNG!
.
.
.
.
.
TBC
(Bonus/?)
Akhirnya Bambam tiba di lantai atas dengan napas yang tidak beraturan. Karena lelaki itu tidak ingin Jinyoung kembali ke gudang itu di saat ia kembali ke kelas untuk mengambil payungnya yang tertinggal. Bambam berhenti sebentar di dekat tangga ㅡ mencoba mengatur napasnya. Setelah itu, barulah ia kembali berlari menuju kelasnya yang terletak di paling ujung. Bambam berhenti di depan kelas dan mulai mencari payungnya. Sesaat ia kebingungan melihat payungnya tidak ada di tempat payung yang biasa anak-anak taruh disana. Satu-persatu payung ia angkatㅡ mencoba mencari miliknya. Tetapi nihil. Bambam tidak menemukan payung miliknya.
"Padahal tadi pagi aku taruh disini. Kemana ya? Apa terbawa oleh yang lain?" gumam Bambam sambil terus mencari payungnya.
"Hei kau mencari ini?"
Tiba-tiba dari arah kelas XII-2, Bambam mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. Lelaki itu terdiam di tempatnya. Mencoba meyakinkan kalau ia salah dengar. Tak lama, Bambam pun menoleh dan mendapati Yugyeom tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri dengan sebuah payung berwarna biru tua di tangannya.
"Yu-yugyeom-ah..."
Dilihatnya oleh Bambam, Yugyeom memandang dirinya dengan datar. Yang dipandang pun hanya terdiam ㅡ mengontrol detak jantungnya yang kembali tidak beraturan. Samar-samar ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Bambam tidak bisa lagi menahan malunya kini. Dirinya yakin mungkin Yugyeom juga mendengarnya meski tidak terlalu jelas. Ditambah wajahnya sekarang yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Aku lupa membawa payung. Boleh aku menumpang denganmu? Hanya sampai halte depan sekolah kok."
"Eh? Memang dimana Jackson dan Jaebum? Kau tidak pulang dengan mereka?"
"Jaebum tadi mengejar Jinyoung dan entah pergi kemana. Mungkin mereka sudah pulang bersama. Jackson juga tadi meninggalkan kelas tanpa sepengetahuanku. Tsk, anak itu seenaknya saja meninggalkanku" Yugyeom kesal sendiri.
"Ta-tapi akuㅡ"
"Kenapa? Kau tak mau?"
"Ya? Bu-bukan. Bukan begitu maksudku. Hanya saja aku..."
Perkataan Bambam tertahan dan lelaki itu kembali diam. Yugyeom yang melihatnya pun hanya menghela napas ㅡ tidak tahan dengan sikap Bambam. Karena setiap ia bertemu dengan anak yang polos itu, Bambam hanya diam sambil sesekali mencuri pandangan ㅡ malu-malu. Yugyeom tahu, Bambam memang menyukai dirinya yang ternyata sudah sejak lama. Tetapi ia baru menyadari itu beberapa bulan lalu saat Bambam memberinya surat cinta di kolong mejanya. Dan bodohnya Yugyeom malah menangkap basah Bambam yang sedang menaruh surat itu di sana. Betapa malunya mungkin Bambam saat itu. Yugyeom pun jika menjadi dirinya, sudah menahan malu dan ingin melarikan diri saja rasanya.
"Hhh... Kalau kau diam saja, aku anggap kau mau. Ayo pulang! Biar aku yang membawa payungnya." Ujar Yugyeom yang mulai menarik dan menggenggam tangan Bambam tanpa menunggu anak itu berbicara lagi. Bambam pun yang terkejut karena terlalu tiba-tiba, hanya mengikuti tanpa berniat sedikit pun melepas genggaman tangan Yugyeom yang semakin erat.
"Tapi.. kalau kau mau menumpang, tidak perlu sampai mengambil payung orang lain kan? Aku pikir payungku hilang" Bambam mempoutkan bibirnya. Sudah menjadi kebiasaanya bila sedang marah, Bambam malah memasang wajah seperti itu. Membuat orang yang dimarahinya malah tidak merasa bersalah sedikitpun. Sama seperti Yugyeom. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya melihat ekspresi Bambam. Bukannya terlihat marah dan kesal, Bambam malah terlihat lucu di matanya. Itulah mengapa Yugyeom suka sekali menggoda maupun mengerjai anak itu.
Tidak mendengar respon apapun dari Yugyeom, Bambam mengangkat kepalanya dan sesaat ia mulai merasa detak jantungnya mulai tidak terkontrol kembali. Melihat Yugyeom yang tersenyum padanya, rasanya seolah waktu telah berhenti berputar. Menyadari Bambam yang tengah memandangnya, membuat Yugyeom memalingkan muka ke arah lain.
"Kalau aku tidak mengambil payungmu, kau mungkin sudah pulang dan aku juga tidak jadi menumpang denganmu"
"..."
Bambam diam dan tersenyum dalam hati. Terserah apa alasan Yugyeom, karena Bambam tidak terlalu memperdulikan sebenarnya. Entah saking bahagianya ia sampai tidak tahu harus meluapkan kebahagiaanya kemana saat itu. Kesempatan yang seperti ini tidak mungkin dilewatkannya. Dan perlahan Bambam pun lupa dengan pikirannya yang sempat melayang pada Jinyoung dan gudang itu.
Tanpa disadari ada sepasang mata yang melihat Bambam dan Yugyeom saat baru saja ia keluar dari toilet. Sesaat lelaki itu membuka lebar matanya.
"Apa-apaan ini? Setelah Jaebum dan sekarang Yugyeom juga meninggalkanku?!" Lelaki yang ternyata Jackson itu menatap jengkel punggung Bambam dan Yugyeom yang tengah membawa payung. Payung berwarna biru yang di gagangnya terdapat secarik kertas ㅡ bergoyang seiring langkah Yugyeom. Dan bila diperhatikan baik-baik, kertas itu bertuliskan YUG + BAM.
ㅡ
ㅡ
ㅡ
ㅡ
ㅡ
Ini ff gak terlalu horor sebenernya yha xD Cuma sedikit dapet inspirasi dari anime favo. Tapi karena gk terlalu bisa bikin yang horror hasilnya jadi gini bhak. Author sendiri juga orangnya penakut X'D di chapter selanjutnya mungkin kebanyakan romencenya/?
Anw thanks buat readers yang udah review 333
Moga di chapter 2, review-nya sesuai target biar bisa update chapter 3 kkk~
Buat yang nanya markjinnya mana sabar yhaa XD markjin bakal nongol di chapter 3 lol
Majimak/? ,
Thanks buat yang udah mau baca dan review chapter 1 & 2 ^^ karena review readers begitu berharga /lebay and sangat terpengaruh dengan update-an chapter selanjutnya :D
