parody gagal- #slapped
i don't own pokesupe, and other anime and pairings mentioned here!
week 2 - tops and bottoms
.
"Jadi, di antara kalian, siapa yang ada di atas dan di bawah?"
Pertanyaan dari Yellow-senpai, yang terlihat begitu polos di antara senpai yang lain (setidaknya tidak seperti Blue-senpai), membuatnya menyemburkan jus jeruk yang sejak tadi sibuk ia minum.
Adalah sebuah rahasia umum di kalangan para pokedex holder perempuan untuk mengadakan sebuah pertemuan rutin di waktu dan tempat yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Dan mendatangi pertemuan itu adalah kewajiban, tidak peduli walaupun tempat mereka jauh—bahkan berbeda pulau tidak diindahkan. Salahkan pokedex holder perempuan tertua mereka, Blue, yang dengan semena-mena membuat peraturan ini itu di antara mereka, dan tidak ada yang berani melanggar peraturan itu.
Mungkin kecuali Yellow-senpai. Itulah sebabnya dia disebut malaikat oleh yang lain.
Namun imej mereka akan Yellow-senpai sang maji tenshi harus hancur berkeping-keping setelah pembicaraan itu juga.
Awalnya mereka hanya membicarakan hal-hal biasa—kabar di tempat mereka dan hubungan dengan teman dan omong kosong lainnya, sebelum tiba-tiba pembicaraan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih abstrak.
Dan saat itulah dia baru mengetahui bahwa senpai dengan rambut pirang panjang itu menyukai BL—atau boys love—atau homo, dan bisa menghabiskan waktu cukup panjang jika membahas tentang anime yang menceritakan tentang laki-laki yang sibuk bermain basket sambil memberikan pandangan tempat tidur (apapun itu maksudnya) atau mereka yang bermain kartu sambil mengatakan hal-hal yang ambigu.
—hingga sampai pada titik ini, dimana senpai yang dipuji-puji sebelumnya mengatakan bahwa hubungannya dengan Ruby—sahabat baiknya—terlihat seperti hubungan para laki-laki yang disukai senpai-nya tersebut.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi begitu!" masih dengan semangat menggebu-gebu, Yellow nyaris berteriak—andai mereka tidak berkumpul di tengah kafe yang ramai, mungkin dia akan melakukannya. "Kalian terlihat seperti laki-laki yang—yang—kyaaa!"
Rasanya ia ingin membanting kepalanya ke meja ketika merasakan tatapan dari pengunjung lain begitu senpainya berteriak. Dan dia benar-benar melakukannya.
"Kau kurang bersikap seperti wanita, Saph." Senpai yang lain, Crystal-senpai, menyeletuk, sambil bermain dengan anting bintangnya ketimbang menenangkan Yellow seperti Blue-senpai. "Kau bahkan lebih liar daripada Gold." Wajahnya meringis ketika menyebut Gold, seolah senpai laki-laki yang seumur dengan Crystal itu adalah nama wabah penyakit yang menjijikkan.
Sapphire akhirnya mengangkat wajahnya, masih terasa panas, dan menggerutu, "Memangnya kurang jelas kelihatan kalau aku ini perempuan?"
"Kalau kataku sih, kurang." Begitu Blue menyeletuk, kedua senpai tertuanya langsung saling bertepuk tangan. "Kau masih memberikan kesan manly, kau tahu?"
Ujung bibirnya ditarik kebawah, namun tidak ada yang mengindahkan selama keduanya terus tertawa. Crystal memberinya tatapan kasihan. Platina—adik kelasnya—tetap tidak peduli.
Setelah beberapa saat, Yellow akhirnya berdeham, terlihat sedikit tidak enak—atau tidak. "Kembali ke topik sebelumnya," dia menyandarkan dagunya di punggung tangan yang bertumpu di atas meja, mengamatinya dengan tatapan layaknya anak kecil yang penasaran. "siapa yang di atas?"
"Tentu Ruby, bukan?" Blue menyeletuk, mengabaikan tatapan tidak senang dari Sapphire—yang jelas menjadi bahan obrolan yang tidak jelas ini. "Dia laki-laki—setidaknya, kelihatannya begitu—dan dia juga lebih tinggi." Telunjuk terangkat lalu diputar di udara, "Kau tahu, height rule?"
Yellow mengangguk setuju, menggumamkan, "Height rule is absolute!"
Platina, yang sejak tadi hanya diam dan meminum tehnya layaknya seorang putri bangsawan, membanting cangkir tehnya di atas piring kecil, menimbulkan dentingan keras yang langsung menarik perhatian para senpainya. Jelas saja, itu adalah hal yang tidak sopan, dan Platina Berlitz bukanlah orang yang akan melanggar tata tertib yang dipaku dalam otaknya sejak kecil hanya karena masalah kecil seperti ini.
Sejenak Sapphire mengira adik kelasnya yang satu itu akan membelanya, namun sekali lagi harapannya kembali pupus, "Aku tidak percaya kalau height rule itu absolut." Sahutnya. Kedua manik perak menajam, namun membara. "Harus kau ketahui bahwa salah satu karakter di permainan yang kumainkan itu pendek, namun tidak pantas berada di bawah." Dan dengan sedikit nada bangga, dia menambahkan, "Oh, dan, selfcest itu indah."
Para senpai bertepuk tangan, kecuali dia (yang kini menutup wajahnya dengan putus asa) dan Crystal (yang sepertinya berusaha untuk tidak mengerti pembicaraan ini).
Crystal akhirnya berdeham, "Intinya," Manik crystal terarah padanya, menyorotkan keinginan untuk pembicaraan ini segera berakhir, "bagaimana, Saph? Kalau menurutku, Ruby tidak bisa berada di atas—apapun maksudnya itu—karena, kau tahu, sifatnya itu?"
Pernyataan Crystal membuat seluruh mata yang ada di meja itu terarah kembali padanya, menatap dengan penuh rasa penasaran, membuatnya merasakan sesuatu yang tidak enak mengganjal di tenggorokannya.
"Kalau maksudnya di atas berarti memimpin," Jari-jari bertaut di atas pangkuan di bawah meja, dan pandangannya terpusat pada jus yang sudah hampir habis. "dia bahkan tidak mengakui kalau kita punya hubungan—"
"Berarti kau." Blue memotong, kemudian terkikik. "Entah, ini mengingatkanku akan pasangan itu—apa, singa dan cihuahua ya, Yellow?—dimana yang dibawah berusaha untuk berada di atas—" Kata-katanya kemudian terpotong oleh tawanya sendiri.
Sudut bibirnya ditarik ke bawah, dan alisnya bertaut, "A-Aku sungguh-sungguh—" Nyaris dia menggigit lidahnya yang berusaha untuk tidak mengeluarkan aksennya di depan senpai dan banyak orang. Kemudian dia berdiri sambil membanting tangannya di atas meja, nyaris menjatuhkan gelas jusnya. "Akan ku buktikan kalau aku memang ada di atas—apapun artinya itu!"
Dan dia langsung berlari keluar, tidak meminta maaf pada seorang pelayan yang ia tabrak di perjalanannya, meninggalkan dua senpai dan satu adik kelas yang masih terus mengobrol dan Crystal yang tidak senang ditinggal seorang diri.
.
—dia berkata begitu, namun akhirnya malah seperti ini.
Dari balik pohon di kejauhan, dia memperhatikan Ruby yang masih sibuk merajut. Manik merah gelap di balik sepasang kacamata terlihat serius. Terkadang dia berhenti sebentar, mengambil pokegear dan mengecek waktu, dan kembali merajut.
Beberapa saat kemudian, pandangannya terangkat dan matanya mulai menyusuri ruangan—tempat persembunyian Sapphire, yang entah mengapa dihias seolah menjadi milik laki-laki itu—dan tatapan mereka bertemu. Sapphire sudah cukup kaget ketika laki-laki yang mengaku memiliki minus cukup besar di matanya bisa melihatnya dari jarak sejauh itu—dia bahkan agak kesulitan mengamatinya!
Sapphire memutuskan untuk berhenti mengamati dari jauh ketika Ruby melambaikan tangan ke arahnya, hal yang jarang laki-laki itu lakukan kecuali jika ingin meminta Sapphire menjadi model pakaian barunya, sesuatu yang ia benci. Dan benar saja, Ruby langsung menunjukkan pakaian yang baru saja ia rajut di hadapannya—dress merah muda sepanjang lutut, dengan bagian bahunya mengembang dan memiliki lengan panjang dengan ujung lebar, dan, oh, penuh frills putih. Ew.
Sejenak ia hendak mengambil langkah ke belakang, namun kemudian teringat akan ia ingin membuktikan bahwa ia yang mengendalikan hubungan mereka—tentu saja! Dia tidak bisa terus di atur oleh Ruby seperti ini! sambil menggigit bagian bawah bibirnya, dia menyunggingkan senyum menantang dan berkacak pinggang.
"Kenapa harus ku gunakan pakaian seperti itu?" Nadanya terdengar meledek, kemudian dia menunjuk ke arah Ruby, yang terlihat kelewat kaget, "Coba gunakan itu, dan aku akan selalu merawatmu seperti boneka-boneka manis yang pernah kumiliki sebelumnya!"
Oke, kalimat macam apa itu? bahkan Sapphire sendiri yang mengatakannya ingin langsung membanting kepalanya ke dinding saat itu juga.
Laki-laki itu terlihat kebingungan, dan ia memiringkan kepalanya. Lalu mengambil satu langkah ke depan—persis di hadapannya—dan mendekatkan wajah mereka hingga kening mereka menempel, membuat seluruh darah mengalir di wajahnya, sambil berkata tanpa peduli sedikitpun, "Kau tidak sakit, kan?"
Dia mendorong laki-laki itu ke ujung ruangan dengan seluruh tenaganya, dan langsung jatuh begitu kakinya tidak dapat menopang tubuhnya lagi, masih dengan wajah memerah, "K-Ka—ap—apa—"
"Lagipula," Laki-laki itu melanjutkan, menggerutu sambil berdiri, kemudian menepuk-nepuk debu tak nyata dari pakaian yang ia buat sebelumnya, "kau akan terlihat lebih manis jika mengenakan ini."
"A—"
"Karena aku membuat ini khusus untukmu."
"Ma—"
"Jadi, kenakanlah—" Ketika Ruby menoleh untuk memberikan pakaian itu, gadis itu sudah menghilang.
.
Di tengah jalan menuju rumahnya setelah setengah jam penuh dengan percakapan membara dengan sahabat-sahabatnya, Yellow merasakan getaran dari pokegear yang ada di kantungnya. Dengan sebuah gerakan kikuk, ia mengeluarkannya dari kantung celananya dan melihat sebuah pesan surat dari nomor Professor Birch—alias Sapphire, yang tidak memiliki pokegear dan menggunakan milik ayahnya.
Awalnya agak kesulitan—dia masih kesulitan menggunakan teknologi tersebut, tidak peduli berapa lama Blue dan Red mengajarkannya—namun dia dapat membuka pesan itu setelah beberapa menit mencoba, dan langsung dia menempelkan tangan yang tidak menggenggam pokegear di pipinya dan menjerit dalam hati.
.
From: Professor Birch
Subject: Aku gagal
[20xx/7/12, 16:20]
Aku tidak bisa berada di atas.
-Sapphire
