Park Jaehee Present
Cast :: KyuMin – HaeHyuk, etc. Lenght :: ? Genre :: Fantasy, romance. Warning :: Genderswitch, DLDR.
.
.
.
Lelaki yang memliki sejuta senyuman mempesona itu tak hentinya memperhatikan satu sosok wanita yang tertidur di sampingnya dengan cemas, entah apa yang muncul dalam mimpi wanita itu hingga terus bergerak gelisah dengan keringat yang membanjiri daerah dahi dan lehernya.
"Sayang…" Donghae –lelaki itu kembali membangunkan Hyukjae. Kembali khawatir karena wanita itu tetap tak bergeming. "Sayang… Sayang… !" Donghae menepuk pipi Hyukjae dikala wanita itu mengeluarkan lenguhan-lenguhan menyedihkan.
"Jangan… Tolong… Jangan!" Hyukjae terbangun dan langsung memposisikan tubuhnya duduk di atas ranjang.
"Hiks…" Donghae yang awalnya terjerumus dalam lembah keterkejutan segera merengkuh tubuh mungil Hyukjae dan membawa kepala Hyukjae terbenam di dadanya, membiarkan wanita itu melepaskan keluh kesahnya sehingga di saat Donghae bertanya, Hyukjae telah siap untuk menjawab.
"Tolong. Jangan lakukan itu lagi" ujar Hyukjae seraya meremas dengan erat piyama bagian belakang Donghae yang tentu saja membuat lelaki itu semakin terheran.
"Apa maksudmu, sayang", Donghae melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Hyukjae, mengusapkan ibu jarinya dengan lembut sekaligus menghapus lelehan air mata di pipinya.
Hyukjae menarik napas lebih dalam untuk menetralkan perasaannya. "Donghae~ah. Aku mohon jangan lakukan itu lagi. Cukup aku saja yang merasakan betapa sakitnya itu. Aku mohon~". Hyukjae kembali memeluk tubuh Donghae. " Katakan pada sahabatmu, Donghae~ah. Jangan ganggu kehidupan kami lagi. Cukup aku… Hiks"
Donghae mengusap punggung Hyukjae dengan penuh kasih sayang, berharap wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu berhenti menangis karena tanpa disadari rasa bersalah itu kembali muncul dan membuat Donghae mengingat suatu hal yang menjadi bagian terburuk dalam hidupnya. Jika Hyukjae sakit maka Donghae akan merasakan hal yang lebih menyakitkan dari itu. Sakit di tubuhnya tak seberapa sakit jika dibandingkan dengan sakit pada batinnya.
"Percayalah. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi meski nyawaku yang menjadi taruhannya. Semuanya untukmu, Hyukie~"
.
.
.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Sungmin merebahkan tubuhnya di atas hamparan kasur yang baru saja di gelarnya. Maklum saja karena rumah yang ditempati Sungmin bukanlah rumah yang mewah melainkan sebuah flat kecil yang beberapa bulan ini ditempatinya bersama sang adik.
Meski kini dia berada di dalam rumah. Akan tetapi pikirannya masih tertuju pada hal yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu… Sungmin mendesah frustasi. Setelah beberapa bulan ini ia hidup tenang. Kenapa harus bertemu dengan mereka lagi? Tubuh Sungmin kembali bergetar saat teringat sorot mata tajam itu. Hari yang Sungmin perkirakan menjadi hari yang indah itu terhapus begitu saja. Akan tetapi, Sungmin masih tetap bersyukur. Indera penciumannya masih setajam dulu. Ia masih dapat merasakan perbedaan itu dan pada akhirnya Ia bisa selamat kembali meski Sungmin tak yakin jika kaum itu tak bisa melacak keberadaannya.
Hari ini… Mulai hari ini Sungmin harus kembali berhati-hati. Ia harus menjaga diri terlebih Sungmin punya satu tanggung jawab besar yang harus dipikulnya. Satu-satunya cara adalah ia harus segera pergi dari tempat … Sungmin yakin jika sang Adik akan bingung mengapa mereka tak pernah hidup menetap karena pada kenyataannya hanya Sungminlah yang tahu.
"Eonnie~ya". Sungmin kembali pada kesadarannya dan tersenyum pada adiknya yang baru saja muncul dari balik pintu kamar. "Ada apa, Wookie~ya?" Tanya Sungmin sambil membelai lembut rambut Ryeowook –adiknya.
"Tidak. Aku hanya bingung saat melihat sepatu Eonnie di depan. Apa hari ini Eonnie tak bekerja?". Sungmin kembali tersenyum mendengar rentetan ucapan adiknya. Ia mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman berbicara dengan Ryeowook.
"Hari ini Eonnie dapat sedikit masalah. Mungkin Eonnie perlu istirahat sebentar". Ryeowook terkejut lalu meletakkan punggung tangannya pada dahi Sungmin. "Apa Eonnie sakit?"
"Aniyo. Eonnie baik-baik saja" jawab Sungmin sambil berdiri lalu berjalan menuju almari di sudut kamar. "Ah, saat Eonnie pulang, Eonnie tak melihatmu. Kau di mana Wookie~ya?" Tanya Sungmin dengan padangan yang masih fokus mencari baju santai di almari.
"Eo? Aku? Tadi aku pergi ke pasar sebentar untuk membeli bahan makanan"
"Pasar? Pasar mana?". Sungmin menghentikan kegiatannya yang sedang mengganti pakaian lalu memandangi wajah Ryeowook dengan seksama.
"Hanya pasar di ujung kompleks sebelah kanan. Seperti biasa, aku pergi ke toko Kim Ahjumma"
"Omo~! Tidak terjadi apa-apa kan di sana? Apa kau bertemu dengan seseorang yang mencurigakan?". Sungmin berjalan mendekati Ryeowook dan memeriksa setiap bagian tubuh gadis itu.
"Aniyo. Nan gwenchana. Tadi aku hanya tak sengaja bertemu dengan Han Halmonie bersama Han Harabojie"
"Benarkah?". Sungmin kembali bertanya karena ia merasa ada hal yang di tutupi Ryeowook darinya.
"N-ne~", jawab Ryeowook meski ia gugup dan ragu melihat tatapan Sungmin yang berbeda.
"A-aah… Syukurlah. Eonnie mohon. Mulai hari ini jika kau menginginkan sesuatu katakan saja pada Eonnie. Jangan pergi sendiri dan jangan berbicara dengan orang asing jika kau merasa tak nyaman. Arraseo?"
"Memangnya kenapa Eonnie?"
"Aniyo~. Cukup ikuti permintaan Eonnie" –karena Eonnie tak ingin kehilangan dirimu. Eonnie hanya memilikimu, Wookie~' lanjut Sungmin dalam hati. 'Mianhae~. Eonnie belum dapat menjelaskannya padamu sekarang, Wookie~ya. Eonnie tahu, kau pasti sulit menerima ini nantinya'
"N-ne"
.
.
.
Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam itu masih setia berdiri di seberang jalan sana. Ini sudah satu jam Ia berdiri di sana memandangi sebuah rumah sederhana. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan kepergiannya. Tiba-tiba langit berubah menjadi mendung dan angin tertiup begitu kencang.
"Lee Sungmin~", suara bisikan kecil itu kembali terdengar. Meski dengan volume kecil namun mampu membuat burung-burung pergi meninggalkan tempatnya. "Akhirnya aku menemukanmu. Tunggu aku dan siapkan dirimu karena aku akan segera membalasnya"
.
.
.
.
TBC/END
.
.
.
Annyeonghaseyo~ yeorobun… Jarak waktu yang sangaat panjang. Sebenarnya dulu aku punya niatan buat lanjut ini tapi tiba-tiba blank dan mood nulis menghilang. Memutuskan untuk menjadi reader.
Setelah sekian lama, aku dapat sedikit waktu. Maaf. Ini pasti mengecewakan dan aku gatau kapan akan lanjut lagi. Ini hanya hobby dan aku punya kewajiban yang lebih penting dari ini.
Thanks to:
Deviyanti137, Heldamagnae, WineKyuMin137, nova137, ChoLee.137, PaboGirl, princess kyumin, wuhqn, pumpMin,
PJH
