Winter in Tokyo by Ilana Tan
Chansoo Remake Versions
GS story
MUSIM dingin sudah tiba dan menyelimuti kota Tokyo. Angin bertiup agak kencang malam ini. Do Kyungsoo mengibaskan rambut panjangnya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaket dan sweter tebalnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir cokelat panas, dan makan ramen1. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan. Dingni-dingin begini memang paling enak...
"Hei!"
Kyungsoo terlompat kaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak menatap wanita dengan rambut pendek dicat pirang manyala yang sudah berdiri di sampingnya. Begitu mengenali wanita itu sebagai Park Sandara, tetangganya yang tinggal di apartemen lantai bawah, Kyungsoo menghembuskan napas lega.
"Sandara Oneesan2," Kyungsoo mendesah sambil memegang dada. "Oneesan membuatku terkejut setengah mati."
Park Sandara mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. "Kau terlalu gampang terkejut."
"Oneesan tahu aku selalu merasa waswas kalau berjalan sendirian di jalan sepi," kata Kyungsoo. "Dan aku punya alasan bagus untuk itu."
Kyungsoo mengeluarkan dua buku dari tas tangannya yang superbesar. Dua-duanya buku klasik terkenal. "Dua buku ini baru masuk hari ini, jadi aku orang pertama yang membacanya."
Ia bekerja di sebuah perpustakaan umum di Shinjuku dan ia sangat menyukai pekerjaannya. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang.
"Oneesan mau membacanya?" tanyanya pada Sandara yang menatap kedua buku itu dengan kening berkerut. "Akan kupinjamkan kalau aku sudah selesai."
Alis Sandara terangkat tinggi dan ia melotot ke arah Kyungsoo. "Buku bahasa Inggris? Yang benar saja," katanya. "Kau tahu benar bahasa Inggris-ku sekadar yes, no, thank you, I love you. Terlebih lagi, aku tidak suka membaca buku. Otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami manga3."
Kyungsoo tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. "Hari ini Oneesan pulang terlambat," katanya.
Sandara mengangguk. "Ya, tadi ada janji dengan teman," sahutnya ringan. "Oh, Hanbin pasti hampir mati kelaparan sekarang. Dia sudah meneleponku sejak tadi dan bertanya kapan aku pulang. Entah kapan anak itu bisa dewasa dan berhenti merecoki kakaknya ini. Aku sudah tidak sabar menunggunya lulus kuliah dan menjadi pengacara. Saat itu aku yang akan merecokinya."
Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung apartemen mereka. Sebenarnya bangunan yang disebut-sebut sebagai gedung apartemen itu tidak benar- benar mirip gedung apartemen dalam bayangan kebanyakan orang. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki dua apartemen yang berhadapan. Tidak ada lift, hanya ada tangga yang tidak terlalu lebar.
Di lantai dasar, apartemen 101 ditempati oleh sepasang suami-istri tua bernama Osawa, yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung. Apartemen di seberang mereka, nomor 102 ditempati oleh kakak-beradik Park. Park Sandara berumur 28 tahun-tiga tahun lebih tua daripada Kyungsoo-dan bekerja sebagai penata rambut di Harajuku, sedangkan adik laki-lakinya, Park Hanbin, adalah mahasiswa jurusan hukum.
Kyungsoo sendiri menempati apartemen 202 di lantai dua. Apartemen 201 saat ini kosong. Saat Kyungsoo pertama kali pindah ke gedung apartemen ini lima tahun yang lalu, penghuni apartemen 201 adalah seorang arsitek muda yang sudah cukup lama tinggal di sana, kemudian tahun lalu sepasang suami-istri muda menggantikan si arsitek.
Pasangan suami-istri itu menempati apartemen di seberang apartemen Kyungsoo selama setahun dan bulan lalu mereka memutuskan untuk membeli rumah kecil kemudian pindah.
Walaupun gedung itu sudah tua, kondisi apartemen di sana sama sekali tidak buruk. Ruangannya cukup luas kalau dibandingkan dengan apartemen lain pada umumnya, fasilitasnya memadai, dan biaya sewanya termasuk murah. Tidak mungkin menemukan apartemen seperti itu di pusat kota Tokyo.
Setiap apartemen di sana memiliki susunan yang sama: dapur, ruang duduk yang mengarah ke balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu bilik kecil khusus untuk kloset, satu kamar mandi kecil yang dilengkapi dengan mesin pemanas air, dan dua kamar tidur yang juga berukuran kecil. Apartemen 101 dan 201 memiliki balkon menghadap ke utara, sedangkan balkon apartemen 102 dan 202 menghadap ke selatan. Selain itu semua penghuni apartemen di sana adalah orang- orang yang menyenangkan dan Kyungsoo sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen 102, Sandara berbalik menghadap
Kyungsoo.
"Oh ya, apakah aku sudah tahu penyewa baru apartemen 201 sudah datang?" Mata Kyungsoo melebar. "Benarkah?"
Sandara mengangguk. "Aku sendiri belum pernah melihat orang baru itu, tapi Hanbin melihatnya tadi pagi." "Laki-laki?" tanya Kyungsoo.
Sandara mengangguk lagi. "Kata Hanbin, orang itu datang sendirian dan langsung masuk ke apartemen 201. Tidak keluar lagi sejak saat itu. Aneh, bukan?" Kening Kyungsoo berkerut samar. "Bukankah Hanbin-kun pergi kuliah pagi tadi? Bagaimana dia bisa tahu orang itu keluar lagi atau tidak?"
Sandara menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangan. "Hanbin memang pergi kuliah, tapi Nenek masih ada di rumah saat itu," katanya, merujuk pada Nenek Osawa yang tinggal di seberang apartemennya. "Nenek juga tahu ada orang yang masuk ke apartemen 201 tadi pagi dan sepanjang hari Nenek sudah memasang mata dan telinga. Orang itu tidak keluar-keluar sampai sekarang."
"Begitu?" gumam Kyungsoo sambil merenung. "Mungkin Kakek Osawa tahu siapa yang menyewa apartemen itu."
"Kurasa tidak," sahut Sandara. "Kata Nenek, orang yang sejak awal datang untuk melihat keadaan apartemen dan mengurus semua tentang masalah sewa-menyewa bukan laki-laki ini. Mungkin dia memakai jasa agen atau semacam itu."
"Oh..."
Sandara mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. "Baiklah, aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Kyungsoo."
"Selamat malam." Kyungsoo melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus sarung tangan.
Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.
Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Kyungsoo. Bagaimana kalau penyewa baru itu jatuh sakit? Kyungsoo cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah. Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Osawa sedang tidak memerhatikan.
Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong? Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan? Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!
Kyungsoo menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi...
Kyungsoo maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia menyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang. Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.
Apakah ia harus memanggil Kakek Osawa? Rasanya tidak enak mengganggu
Kakek malam-malam begini. Tapi...
Kyungsoo masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.
"Aduh, aduh, aduh... Kepalaku, aduh, pantatku..." Kyungsoo mengerang sambil mengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasa ibunya.
Dua-tiga detik kemudian, Kyungsoo tersadar kembali dan langsung mendongak. Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Kyungsoo tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di koridor meneranginya.
Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan lusuh. Kyungsoo tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Kyungsoo juga tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?
Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. "Kau tidak apa-apa?"
Kyungsoo tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.
Park Chanyeol terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak. Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Tokyo menguras tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan penerbangan jauh.
Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.
Chanyeol memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.
Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Chanyeol. Ia tidak mau menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang.
Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan.
Chanyeol baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawal celah pintu. Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah pintu itu bergerak-gerak. Niat awalnya mencari minuman batal. Ia berbalik, menghampiri pintu, dan memasang telinga.
Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia menarik pintu itu membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan seorang wanita.
Chanyeol membuka pintunya lebar-lebar dan mengerjapkan mata, silau karena dihadapkan pada terangnya lampu di koridor. Kemudian ia melihat seorang gadis berambut hitam panjang tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan. Sepertinya sentakannya membuka pintu membuat gadis itu terjatuh. Dan sudah pasti gadis itulah yang memekik tadi. Kini gadis itu mengucapkan serentetan kata yang tidak dipahaminya.
Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap Chanyeol. Mata gadis itu terbelalak kaget. Sesaat Chanyeol merasa gadis itu bukan orang Jepang. Mata gadis itu besar dan bulat, tidak seperti mata orang Jepang pada umumnya, apalagi tadi gadis itu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang sudah jelas bukan bahasa Jepang. Chanyeol bingung. Otaknya masih bekerja lebih lambat daripada biasa.
"Kau tidak apa-apa?" Chanyeol mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar serak di telinganya sendiri. Dan ia mengatakannya dalam bahasa Jepang. Apakah gadis itu mengerti?
Ia tidak sempat mendengar jawaban gadis itu, karena mendadak keadaan sekelilingnya menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka, lalu berbagai seruan yang terdengar tumpang-tindih.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Suara apa itu?"
"Siapa yang berteriak?"
"Ada pencuri? Pencuri?"
"Kyungsoo-chan? Kaukah itu?"
"Kyungsoo Oneesan?"
"Hanbin! Ayo, kita naik."
"Mana tongkat bisbolku?"
"Pakai dulu jaketmu."
"Jaketku?"
"Bu, kau tunggu di sini saja."
"Hati-hati!"
Dalam sekejap mata, tiga orang bermunculan di depan Chanyeol. Ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata memandang dua pria dan satu wanita yang menyerbu koridor sempit di lantai dua itu. Mereka balas menatapnya dengan heran. Kini, selain gadis bermata besar yang masih terduduk di lantai, ada seorang pemuda bertubuh kurus berambut agak gondrong yang megacungkan tongkat bisbol, seorang wanita berambut pirang pendek, lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih.
"Kyungsoo, apa yang terjadi?" pekik si wanita berambut pirang sambil menghampiri gadis yang terduduk di lantai. "Kau baik-baik saja?"
Gadis yang dipanggil Kyungsoo itu melongo sesaat, lalu cepat-cepat menjawab, "Oh,Sandara Oneesan. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Oke, gadis bernama Kyungsoo itu bisa berbahasa Jepang, pikir Chanyeol tanpa sadar. Sepertinya dia memang orang Jepang.
Si pemuda kurus dan berambut gondrong membantu Kyungsoo berdiri dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram tongkat bisbol dengan erat. Ia menatap Chanyeol yang masih tertegun. "Anda siapa? Kyungsoo Oneesan, apakah orang ini macam-macam terhadapmu?"
Chanyeol terkejut. Nah, tunggu sebentar! Macam-macam? Tunggu dulu...
"Sabar, Hanbin," sela orang tua berambut putih yang berdiri di samping si pemuda yang mengacungkan tongkat bisbol. Kakek tua itu menatap Chanyeol dengan mata disipitkan, lalu berkata pendek, "Tolong perkenalkan dirimu, Anak muda."
Chanyeol menelan ludah. Tenggorokannya sakit dan ia ingat tadi ia belum sempat minum. Ia berdeham sejenak, lalu berkata datar, "Nama saya Park Chanyeol. Saya baru pindah ke apartemen ini."
"Oh? Si orang baru?" tanya pemuda yang tadi dipanggil Hanbin. "Tadi pagi aku melihatmu datang."
Chanyeol melihat tongkat bisbol yang tadinya terangkat tinggi itu kini diturunkan. Ia berkata, "Saya baru tiba di Tokyo dengan pesawat pagi tadi. Karena tidak enak badan saya langsung tertidur begitu tiba di apartemen. Saya minta maaf karena tidak sempat memperkenalkan diri lebih awal."
"Sudah kubilang orang baru itu tidak keluar-keluar sejak masuk tadi pagi," kata wanita berambut pirang yang berdiri di samping Kyungsoo. Wanita itu bertanya lagi dengan nada curiga, "Lalu sejak tadi pagi kau tidur terus di dalam?"
"Benar," sahut Chanyeol.
"Lalu apa yang terjadi di sini?" Si kakek tua kembali bertanya sambil memandang Chanyeol dan Kyungsoo bergantian.
Perhatian Chanyeol kembali terarah kepada Kyungsoo yang terlihat serbasalah. Gadis itu bersedekap dan mengangkat bahu dengan salah tingkah. "Kakek, itu... Itu, ehm... Maksudku, aku hanya khawatir," katanya terbata-bata. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari orang-orang di sana masih menunggu penjelasannya, karena itu ia melanjutkan, "Aku dengar dari Sandara Oneesan," ia menatap wanita berambut pirang itu sekilas, "sudah ada yang menempati apartemen 201 dan orang itu belum keluar dari kamar sejak pagi. Dan aku tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Jadi kupikir...," suaranya semakin lirih dan ia tersenyum kikuk, "...mungkin orang itu sakit, atau, eh, jatuh pingsan."
Chanyeol berusaha menahan senyum mendengar penjelasan gadis itu.
"Lalu ketika aku sedang mencoba mendengarkan suara dari balik pintu, orang-eh, Park-san tiba-tiba membuka pintu dan membuatku terkejut. Dan aku terjatuh." Kyungsoo berdeham di akhir penjelasannya. "Begitulah."
Seketika itu juga suasana tegang di koridor lantai dua mencair.
"Ya ampun, Kyungsoo. Kau membuat kami kaget sekali tadi," kata wanita berambut pirang yang bernama Sandara sambil mengguncang lengan Kyungsoo.
"Maafkan aku," gumam Kyungsoo lirih sambil membungkuk beberapa kali, lalu melirik Chanyeol sekilas dan membungkuk badan lagi.
"Sebaiknya kita saling memperkenalkan diri," kata Hanbin sambil memandang Chanyeol. "Namaku Park Hanbin dan ini kakakku, Park Sandara." Ia menunjuk wanita berambut pirang yang kini tersenyum manis kepada Chanyeol.
"Kami tinggal di bawah, di apartemen 102," Sandara menambahkan.
Chanyeol membungkuk dan menyambut uluran tangan kakak-beradik Park. "Mohon bantuannya."
"Anak-anak ini biasanya memanggilku Kakek Osawa," si kakek tua memperkenal- kan diri sambil tersenyum lebar. Walaupun kulitnya sudah keriput, Kakek Osawa ternyata masih memiliki deretan gigi yang rapi. "Aku tinggal bersama istriku di bawah."
Setelah itu pandangan semua orang terarah kepada Kyungsoo yang tetap diam. Kyungsoo tersadar dan buru-buru membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan agak tergagap, "Namaku Do Kyungsoo. Salam kenal. Aku minta maaf soal... soal kejadian tadi."
Chanyeol tersenyum. "Tidak usah dipikirkan. Aku juga minta maaf karena membuatmu terkejut."
"Selamat bergabung bersama kami, Park-san," kata Kakek sambil menepuk bahu Chanyeol. "Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu-ragu mengatakannya."
Inilah pertama kali Chanyeol menginjakkan kaki kembali di Tokyo setelah pindah ke New York bersama keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ia kembali bukan karena rindu pada kampung halaman. Ia hanya ingin pergi jauh dari New York untuk sementara waktu. Dan Tokyo adalah kota pertama yang terlintas dalam benaknya.
Kini Chanyeol memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya.
Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.
1 Mi Jepang yang berbentuk tipis, berbeda dengan udon yang bentuknya lebih bulat dan besar.
2 Panggilan untuk wanita yang lebih tua, kakak.
3 komik
TBC...
Sebuah remake dari novel, favoritku... aku ingin berbagi betapa menyenangkannya aku membaca novel ini. Dan hanya karena alasan itulah aku me-remake cerita ini...
Semoga kalian menyukainya, sama seperti aku yang begitu menikmati semua proses me-remake cerita ini...
Aku tak mengubah apapun kecuali nama tokoh yang aku pikir perlu, mohon bimbingannya semua...
