A BLESSING IN "DISGUISE"
Ro-Kat
.
.
RATE: T-T+
10 Agustus 2018
ROMANCE/DRAMA (Hitsu Ruki)
WARNING: AU, OOC, typo(s), cliché, boring af (but I'm trying my best here lol), strong pop-culture references, may include links for song and picture sources, romance yang lambat, alur cerita yang muter muter ga jelas, bahasa campur aduk
.
DESCLIMER: Tite Kubo's
.
CHARACTERS
Hitsugaya Toshiro
Kuchiki Rukia
Inoue Orihime
Hinamori Momo
Abarai Renji
Ukitake Jushiro
Matsumoto Rangiku
.
.
.
PART 2
Daydreaming
.
Oh tentu saja tahu ia tahu namanya. Toshiro bukan sembarang aktor. Ia aktor dan musisi remaja yang cukup dikenal di Karakura setidaknya 5 tahun terakhir. Sebelum ia menempuh pendidikan di Seireitei selama 2 tahun, ia cukup banyak bermain film dan juga beberapa kali mengeluarkan single bergenre alternatif indie pop bersama dengan teman satu bandnya, Renji. Ya, tentu ia tahu namanya.
Mungkin
Pikir Toshiro. Sedikit ge er.
Ketiganya bersama dengan Ukitake dan Rukia berjalan ke depan rumah, masuk ke dalam rumah bergaya modern-traditional Jepang tersebut melalui pintu depan dan langsung berkumpul di ruang utama yang lengkap dengan tatami dan juga meja kotatsu kecil di tengahnya. Di sana ia bertemu dengan aktor perempuan satu lagi bernama Hinamori Momo, yang akan berperan sebagai Himawari, duduk bersimpuh sambil membolak balikkan scriptnya.
"Oh, Kuchiki-san! Kau sudah datang!" sapanya saat melihat Rukia masuk ke dalam ruangan dan langsung tersenyum padanya. Hinamori pun berdiri dan memeluknya. "Sudah lama tidak bertemu!" katanya
"Iya sejak di Club ya." ucap Rukia sambil ikut memeluk Hinamori.
"Aku tidak menyangka kau benar akan ikut menemani kami di sini! Aku senang sekali! Maaf aku tidak menyambutmu dari luar tadi… aku… tidak kuat dingin"
"Haha, santai saja." Kata Rukia. "—dan aku salut sekali padamu mau berani bergabung untuk bermain film bergenre ini… setelah mendengar semua yang terjadi padamu, Hinamori." bisiknya sambil melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Hinamori. Hinamori pun mengangguk pelan dan memberikan senyuman tipis pada Rukia.
Renji langsung menimpali, "Oh, kalian pernah satu Club?"
"Iya, Club Performance Art di pusat Karakura," jawab Hinamori. "Aku dulu pernah bergabung di club itu dan menjadi murid Kuchiki-san."
"Oh? kau dulu katanya pernah berlatih di sana juga kan, Toshiro?" tanya Renji sambil mengambil posisi duduk di ruang utama itu. Toshiro meresponnya dengan anggukan saja, ikut duduk bersila di tatami, menopang dagunya dengan tangan sambil membuang muka ke arah shoji perantara halaman dan teras/hall tempat ia duduk tadi. Ukitake memberikan satu tepukan mantap dan langsung mengajak Rukia untuk segera memimpin pertemuan ini.
"Baiklah, ayo segera kita mulai sesi readingnya. Kita punya waktu dua hari penuh untuk memperdalam karakter, scene, dan sebagainya. Cukup bukan?" tanya Ukitake pada Rukia
"Lebih dari cukup, semua sudah mengerti isi scriptnya kan? Jika belum, ini saat yang baik untuk bertanya." kata Rukia pada keempat aktor yang berada di dalam satu ruangan dengannya itu. Ketiga aktor mengangguk bersemangat, membuka buka sekali lagi isi script untuk memastikan. Kecuali satu, Toshiro yang bahkan tidak mengangguk. Wajah malas dan mengantuk terpampang jelas di wajahnya yang masih saja mengalihkan muka ke arah halaman. Rukia tentu menyadarinya. Ia kemudian menghela nafas berat, "Ukitake-san," bisik Rukia pada Ukitake yang berdiri di belakangnya, "Apa boleh sesi readingnya ditunda dulu setidaknya sampai besok?"
"Oh? Kenapa?" Tanya Ukitake keheranan, Rukiapun menaruh kertas naskah di samping pipi kanannya, dan membisikan sesuatu pada Ukitake.
"Saya ingin lebih mengenal keempat aktor ini saja, agar latihan kami berjalan lebih santai, dan… agar saya tidak memberi kesan terlalu menggurui mereka." Bisiknya. Memberikan jeda sebentar, "Saya rasa mereka aktor yang sudah cukup berbakat, tidak akan perlu berlebihan bagi saya untuk melatih mereka."
"Begitu ya?" kata Ukitake disertai senyuman, "Baiklah kalau begitu, kuserahkan semua padamu ya, Kuchiki-san. Semangat ya kalian!" ujar Ukitake. Ia pun keluar dari ruang utama tersebut sambil mengepalkan tangan guna memberi tanda semangat pada keempat aktor utamanya.
.
Berlima mereka duduk bersimpu dalam diam untuk beberapa menit. Saling berpadangan dan bingung satu sama lain. Rukia membolak balik isi naskah dan membacanya cepat, seperti memeriksa kembali adegan utama apa saja yang harus lebih ia tekankan untuk dilatih.
Toshiro masih melihat Rukia, memperhatikan seluruhnya dari Rukia. Termasuk mata violetnya yang—yah— memang cantik itu. Memang, keberuntungan atau entah kesialan bagi seorang yang pendiam atau tertutup seperti Toshiro, selain matanya, ia dapat memperhatikan hal-hal terkecil dari seseorang yang bahkan orang lain tidak tahu. Seperti contoh, ia begitu memperhatikan bekas luka kapalan pada jari-jari kedua tangan Rukia.
'Oh… pasti pemain bass.' gumam Toshiro dalam hati setelah mentelaah sendiri pemikirannya.
Ia yakin betul karena seorang gitaris biasanya memiliki satu tangan kapalan, yaitu pada jari-jari kanan saja atau kiri saja jika orang tersebut gitaris lebih banyak menggunakan pick. Berbeda dengan seorang bassist yang rata-rata menggunakan seluruh jari jemari pada kedua tangan mereka. Kemudian, matanya kali ini tertuju pada kaos band Radiohead yang Rukia pakai. Ia terdiam sesaat, menyadari sesuatu, dan menelan ludah.
"Apa lihat-lihat?" tanya Rukia pada Toshiro. Semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada Toshiro. Rupanya Rukia sedaritadi sadar jika Toshiro sudah lama memperhatikannya.
"Oh," gumam Toshiro, "Tidak." Ia membuang muka, walaupun sebenarnya ia sedikit malu telah ketahuan.
"Kau suka kaosku?" tanya Rukia.
"Hah?"
"Kulihat kau dari tadi melihat kaosku. Kau suka kaosku?"
Toshiro bengong, ditemani diamnya ketiga rekan aktornya yang lain. Ia menghela nafas berat dan berkata, "Tidak, aku pernah punya kaos yang serupa dengan milikmu. Karena itu dari tadi aku memperhatikannya." Ia terselamatkan oleh alasan payahnya itu. Walau memang benar Toshiro pernah memiliki jenis kaos yang sama dengan yang sedang dikenakan Rukia.
"Oh ya?" kata Rukia sambil melihat kaosnya sendiri. "Kau suka Radiohead?"
Toshiro terdiam sebentar setelah mendengar pertanyaan spontan dari Rukia barusan. Ia melirik ke arah Renji yang sepertinya juga menunggu-nunggu jawaban dari Toshiro. "… Suka." Jawabnya, akhirnya.
"Oh." Respon Rukia pendek. "Menarik," tersisip senyum kecil di bibirnya sambil kembali membaca naskah.
Toshiro hanya bisa bersyukur ia tidak ketahuan dari tadi melihat paras Rukia seluruhnya. Bisa gawat. Ia sendiri heran mengapa ia melakukan itu. Sudah lupakah kalau ia sedang dilanda ketidak inginan untuk berada di sini yang teramat sangat? Tenang Toshiro, hanya karena ia cantik, bisa bermain musik, dan memakai kaos band tidak membuatnya lebih istimewa, keberadaanya juga tidak membuatmu sedikit lebih bersemangat menjalani ini semua, tidak sama sekali. Pikirnya.
.
.
10 menit pertama terasa cukup lama. Apalagi mereka hanya saling berdiam diri dan tak mengucapkan sepatah katapun. Rukia menutup kertas naskahnya yang sudah ia coret-coret sebagai penanda ini dan itu. Kemudian ia tersenyum nyengir seakan ia mendapatkan jawaban yang sudah lama ia cari. Matanya langsung tertuju pada Inoue.
"Inoue," panggil Rukia, sambil menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja kotatsu, "Hal hal apa yang paling kau sukai? Maukah kau berbagi cerita pada kami?"
"O—Oh? Te—Tentu saja!" Inoue terlihat kagok. "Ngggg… Aku suka menjahit, dan suka sekali menggambar!" jawabnya senang dan bangga. mata Rukia lalu terbelalak kaget, bahkan sepertinya yang paling kaget diantara mereka semua. Inoue lalu meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah map berisikan gambar gambar berwarna. "Seperti ini gambarku! hehehe" Semua orang yang berada di dalam satu ruangan dengan Inoue hanya bisa terheran-heran dan uh, lebih tepatnya tidak terkesan pada gambar Inoue yang bisa terbilang aneh. Ia menggambarkan dirinya sendiri sebagai robot yang akan menyelamatkan dunia. "Eh… tidak bagus ya?" tanyanya bernada sedih setelah sadar tidak ada satupun dari mereka yang memberikan komentar berarti.
"Ba—bagus kok, Inoue-san" jawab Hinamori terbata bata, takut mengecewakan lawan bicaranya. "Ya kan?" Hinamori menoleh (baca: menyerang) ke kedua rekannya, Renji dan Toshiro, yang akhirnya mau tak mau ikut mengangguk tegas tapi canggung.
"Benarkah? Masa sih… ? sepertinya kalian tidak terkesan…"
Rukia mengambil gambar Inoue dari tangannya dan berdecak kagum. Matanya berbinar-binar seakan baru menemukan harta karun. "BA—BAGUS SEKALI INOUE!" serunya, dan sepertinya ia tidak berbohong.
"A—" Renji sampai kehabisan kata-kata karena kaget.
"Benarkah? Kuchiki-chan menyukainya?" tanya Inoue disertai senyum sumringah.
"Suka sekali! kapan-kapan kita harus menggambar bersama ya!" kata Rukia sambil menyerahkan tangannya ke tangan Inoue untuk bersalaman dengan gaya panco, plus mata yang masih berbinar, sama berbinarnya dengan Inoue yang bersemangat sekaligus terharu. Lalu ketiga orang lainnya? Mereka hanya bisa bengong, menerka-nerka apakah yang Rukia lakukan barusan adalah benar atau hanya sekedar omong kosong.
Setelah hampir dua menit Rukia memperhatikan gambar Inoue itu dengan seksama dan penuh perasan, Rukia mengembalikan gambar itu kepada Inoue dan kembali bertanya padanya, "Lalu, apalagi yang kau suka selain itu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Eh? Ngg… Ah!" Inoue kembali bergumam pelan. Tapi pipinya tiba-tiba bersemu merah, "… karena kami masih pasangan baru, aku bersemangat sekali untuk memasakkan kekasihku makanan rumahan."
Rukia tersenyum lebar mendengar jawaban Inoue yang gemblang tapi malu-malu itu. Begitu pula dengan ketiga orang lainnya, bahkan termasuk Toshiro memberikan senyuman tipis untuk Inoue. Kepolosan seorang Inoue sepertinya mampu meredakan rasa canggung di 10 menit pertama tadi.
"Yah…" Inoue tiba-tiba menghela nafas lesu, "Walaupun aku tahu, masakanku terbilang enak juga tidak. Bentuknya saja aku tidak bisa membuat dengan bagus, apalagi rasanya…" Lanjutnya. Ia sadar betul bahwa kemampuan memasaknya memang tidak pernah baik. Dan sebelum Hinamori dan yang lain berusaha menghibur Inoue, Renji sudah lebih dulu menepuk punggungnya dan berkata,
"Tapi pacarmu beruntung sekali ya, punya kekasih yang mau memasakkan." ucap Renji. Mata Inoue terbuka lebar, sontak kaget terlihat di mukanya. Inoue memperhatikan Renji yang duduk di sampingnya itu dengan seksama. "Masakan pacar mau bagaimanapun mau itu tidak enak atau aneh sekalipun pasti masih dianggap istimewa oleh sang kekasih, tidak mungkin tidak. Apalagi kalau yang memasak tulus melakukannya. Jadi—" Renji menepuk pundak Inoue pelan, "—Kau jangan tidak percaya diri begitu, Inoue, Hehe."
Lagi lagi keempat orang di dalam ruangan itu tersenyum mendengar percakapan sederhana diantara Inoue dan Renji ini. Inoue senang sekali mendengar pernyataan Renji yang begitu bijak barusan dan ia pun langsung mengelus punggung Renji sebagai tanda terima kasihnnya "Terima kasih Abarai-kun. Kuharap ia benar-benar merasa seperti yang kau katakan barusan ya…" Katanya tak kalah lirih.
.
Prok prok prok
Rukia menepuk tangannya pelan.
"Bagus, berarti kalian sudah paham dengan peran masing-masing ya?" ucap Rukia masih bertepuk tangan.
"Eh…?" semua aktor merespon dengan keheranan.
"Kenapa memasang wajah seperti itu? Aku kan hanya mengetes kemampuan kalian." Kata Rukia, sambil menaruh satu tangannya kembali ke dagu. "Inoue—Irie, dengan sifat kekanakannya yang lembut, serta Abarai—Reiji, yang diam diam menaruh hati pada Inoue—Irie tapi ia masih bisa berperan sebagai seorang sahabat yang bijak? Luar biasa kalian, terlepas entah apakah itu sifat dan sikap kalian yang sebenarnya. Aku tidak tahu. Namun jika iya, maka itu lebih bagus lagi."
"Ehh?" masih dengan tampang heran dari ketiganya. Hinamori hanya terkikik kecil seakan memang sudah tahu ini adalah trik pembelajaran kecil dari Rukia.
"Kau sudah tahu dengan semua ini, Hinamori?" tanya Renji
"Tentu saja aku tahu, memang begitu salah satu cara Kuchiki-san mengajar akting jika di Club. Ia akan mengetes kemampuan pendalaman akting kita hingga ke "alam bawah sadar". Seperti apakah karakter-karakter yang diberikan kepada kita itu dapat memberikan dampak di kehidupan sehari-hari atau tidak" Jawab Hinamori.
"Eh? Lalu bagaimana dengan Toshiro?" tanya Renji, merasa Toshiro belum mendapatkan pembelajaran akting dari Rukia.
"Aku sudah mengetes kemampuan menjawabnya yang acuh tak acuh itu." Jawab Rukia pendek.
"Kapan?" tanya Toshiro bingung.
"Yang tentang kaos Radiohead-ku tadi."
"Lalu Hinamori?" tanya Renji.
"Hinamori mantan muridku, aku sudah tahu kemampuan aktingnya." Jawab Rukia santai.
"EEh—!~" tiba tiba Inoue berseru, "Be—Berarti Kuchiki-chan tadi tidak benar benar menyukai gambarku?" tanya Inoue ragu-ragu, matanya sudah berkaca-kaca dan wajahnya memelas.
"Oh tidak, kalau itu benar kok!" jawab Rukia dengan mata berbinar. Lagi."Kita harus benar-benar menggambar bersama ya nanti!" Dan sebelum Renji, Hinamori, dan Inoue tertawa senang mendengar jawaban Rukia barusan, Toshiro tiba-tiba beragrumen,
"Tapi ini terlalu kebetulan bukan?"
Rukia yang mendengar pertanyaan Toshiro barusan membalikkan pertanyaannya, "Apa maksudmu kebetulan?"
"Semua ini," tukasnya. "Renji dengan sikap bijaknya, dan Inoue-san dengan sifat kekanakannya, bukankah ini semua kebetulan bagaimana masing-masing dari kami memiliki sifat dan sikap yang sama dengan peran yang akan kami mainkan?"
"Oh," respon Rukia, "Seperti yang sudah kukatakan barusan, aku tidak tahu dan tidak ikut mengambil posisi casting, terlepas jika itu memang sifat dan sikap kalian yang sebenarnya. Tapi jika kau penasaran, coba tanyakan pada si penulis naskah dan director yang meng-casting kalian."
"Penulis naskah dan Casting director?" Tanya Toshiro, "Maksudmu—"
Suara derap kaki kencang seseorang dari arah hall tengah semakin membesar seraya ia membuka shoji ruang utama tempat dimana mereka berlatih itu, ia berseru "SELAMAT SORE, ANAK-ANAK!"
"Hhhhh…" Toshiro menghela nafas, "… Sudah kuduga."
Rukia tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya, "Iya, beliau ini penulis naskah, serta casting director yang merekrut kalian semua. Sekaligus… seniorku."
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan kalian semua secara langsung!" ia menunduk hormat sampai seluruh rambut pirang panjangnya berjatuhan.
"Matsumoto…" desah Hitsugaya merasa risi.
"Apa kabar Toshiro-kun? Lama sekali tidak bertemu ya!" Matsumoto menggosok-gosok rambut jabrik putih Toshiro sampai lebih berantakan dari yang seharusnya.
"Eh? Jadi beliau casting director yang mengcasting kita?" tanya Inoue pada Hinamori, "Di email tidak menyebutkan nama karena langsung lewat Ukitake-san sih. Siapa tadi namanya?"
"Matsumoto Rangiku, casting director, penulis naskah SOUL dan juga pendiri Club Performance Art kami." jawab Hinamori sambil tersenyum.
.
.
.
"Kau pasti sengaja kan, Matsumoto?" tanya Toshiro sambil melipat tangannya di dada, geram, bersandar di shoji teras/hall perantara ruang utama dan halaman.
"Ah tidak, kata siapa? Hahaha" Matsumoto tertawa paksa.
"Pasti kau yang menyuruh nenek untuk memaksaku ikut dalam jerumusmu ini. Aku kan sudah bilang kalau tidak mau lagi bermain film atau segala macam tetek bengeknya ini, aku harus bilang berapa kali lagi sih?" Toshiro menyesal setengah mati tapi tahu betul bahwa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia lalu membuka sedikit shoji di belakangnya agar udara dingin bisa sedikit masuk, paling tidak agar kepalanya tidak terasa panas karena murka dan karena adanya penghangat ruangan.
"Yah tidak apa-apa kan Toshiro-kun... anggap saja refreshing." Kata Matsumoto menggodanya
"Aku yakin tidak hanya itu saja maumu, aku sudah menduganya dari awal."
Matsumoto hanya terdiam, ia lalu tersenyum, "Sudahlah… lagipula hanya sepanjang musim dingin ini saja kan?" lanjut Matsumoto. Kali ini Toshiro yang diam saja.
Kemudian, tak jauh dari sana, Inoue keluar dari ruang utama dan bergabung dengan Matsumoto dan Toshiro,
"Kalian akrab sekali, memangnya sudah lama berteman?" tanya Inoue, lagi-lagi penasaran melihat keakraban kedua insan tersebut.
"Iya dia aktor kesayanganku~" jawab Matsumoto bersemangat sambil memeluk Toshiro tanpa batas.
"Apa-apaan sih kau! Minggir! " Toshiro berusaha melepaskan pelukannya dari dada Matsumoto yang besar itu sebelum ia tidak bisa bernafas.
"Wah, dia bisa berteriak?" Kata Rukia yang baru saja masuk ke dalam ruang utama sambil membawa makan malam bento untuk keempat aktor. "Kukira dia tidak akan mengeluarkan suara lebih tinggi dari suara kelelawar."
"Hahaha, kau belum tahu, Kuchiki-san. Jika ia mulai berteriak, seteru lokasi syuting akan hancur olehnya." Kata Matsumoto masih menggoda Toshiro yang berada di dekapannya.
"Woy—lepaskan aku Matsumoto!"
"Dia ini katanya memang aktor kesayangan Matsumoto-san," jelas Rukia pada Inoue dan juga Renji yang sepertinya masih kebingungan dengan pernyataan Matsumoto barusan. "Sesuai yang kudengar dari Matsumoto-san sendiri—yang memang sering sekali bercerita— ia dulu pernah bermain di salah satu film pendek keluaran Club kami, dan Matsumoto-san langsung jatuh cinta pada kemampuan aktingnya. Semenjak itu Matsumoto-san sering mengajaknya berlatih akting, hingga kemudian sekarang menjadi akrab." Rukia menjelaskan sambil membagikan dua kotak bento kepada Renji dan Inoue. "… Itu kenapa aku juga jadi tahu siapa namanya. Padahal aku baru saja mengajar di sana setelah ia sudah tidak lagi menjadi bagian dari Club. Tapi… hmm…" Rukia tiba-tiba mengernyitkan dahinya pada si rambut merah itu, "… Bukannya kau temannya ya, Abarai? Kok sepertinya tidak tahu?"
"O—Oh aku? aku tidak terlalu memperhatikan hal hal yang bersangkutan dengan pekerjaan pribadinya, hahaha…" jawab Renji sedikit terbata-bata.
Rukia bergumam kecil sambil masih mengerutkan dahi, "Hoo… Begitu ya?"
"Toshiro kalau tidak kutanya juga tidak cerita sih. Orangnya tertutup. Tapi kami benar bersahabat kok hehe." Tukas Renji. Rukia lalu mengangguk kepalanya pelan seperti mengerti bagaimana orang tertutup memang biasanya bertingkah. "… Apa kau pernah bertemu dengan Toshiro sebelumnya?" tanya Renji lagi sambil membuka kotak bento makan malamnya dan bersiap untuk makan.
"Oh tidak, ini kali pertama. Sewaktu ia bermain film pendek di Club, aku belum masuk untuk bergabung menjadi pengajar di sana. Namun setelah lama di Club, aku beberapa kali mendengar cerita-cerita dari Matsumoto-san tentang mengapa ia sangat suka pada bocah itu."
"B—Bocah katamu?" geram Toshiro yang sepertinya mendengarkan Rukia membicarakannya dari tadi walau ia berdiri di ujung ruangan.
"Lho, bukannya memang ia lebih muda dariku?" tanya Rukia pada Matsumoto.
Matusmoto terkikik kecil, "Hahaha, tidak Kuchiki-san, sebenarnya umurmu dan dia itu sama."
"Oh, kukira lebih muda. …" Rukia mengambil jeda sebentar, "… habis dia pendek."
"A—Apa katamu barusan!?" marah Toshiro dengan mata iblis, murka sekali pada gadis yang beberapa jam lalu dia kagumi kekerenannya, namun sekarang lenyap begitu saja. "HE—HEI!"
"Tenang, ini makan dulu bentonya biar tidak marah-marah." Rukia menyerahkan kotak bentonya pada Toshiro. Muka Toshiro langsung merah padam karena malu.
"A—Siapa yang marah-marah!?" tanyanya kelabakan sendiri. Rukia hanya nyengir usil dan hendak pergi meninggalkan ruangan. Hinamori yang tidak berdiri jauh darinya berjalan masuk ke ruangan sambil membawa nampan berisi susu susu hangat.
"Susu hangatnya di taruh di sini?" tanya Hinamori langsung menaruh gelas gelas tersebut di atas meja kotatsu.
"Terima kasih Momo-chan~! Susu buatanmu selalu enak!" seru Matsumoto yang berlari kecil dan langsung memeluk Hinamori dari samping.
"Wah, iya, kudengar juga begitu, Hinamori." Kata Rukia disertai senyuman, "Terima kasih ya, sekarang sudah, tidak usah repot-repot. Istirahatlah."
"Ah tidak seenak itu, Kuchiki-san, hehe, dan tidak apa, aku senang kok membantu. Anda saja yang sebaiknya beristirahat." Kata Hinamori tersenyum manis sambil masih membagikan minuman sesaat setelah Matsumoto berhenti memeluknya dan kembali mendekati Toshiro yang masih tenang bersandar di tempatnya.
"Begitu ya?" kata Rukia ikut tersenyum pada gadis kecil ini. "Oh ya… omong-omong pembagian kamarnya sudah jelas belum? Aku akan sekamar dengan Matsumoto-san, dan para crew wanita di kamar pojok depan, Ukitake-san akan satu kamar dengan para crew pria di sampingnya, kemudian sisanya untuk kalian nanti atur sendiri ya." pesan Rukia menjelaskan kembali pada para aktor. Semua berseru dan mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu." Sambil mengambil segelas susu hangat yang digenggam Hinamori.
"Mau kemana Kuchiki-san?" tanya Hinamori
"Mau mencari udara segar, dan aku harus segera menulis lagu untuk adegan utamanya." jawab Rukia sambil menunjuk ke arah kamarnya sendiri. Ia memantabkan langkahnya untuk berjalan keluar dari ruang utama, dan membuka shoji kamarnya.
"Udara segar?" tanya Inoue, "Di luar bukannya sedang bersalju? Kan dingin sekali"
"Oh tidak apa kok, dia memang suka dingin," jawab Matsumoto, "… Seperti kau ya, Toshiro-kun? buktinya kau membuka sedikit shoji ini agar ada sedikit udara dingin yang masuk."
Hitsugaya tidak menggubris pernyataan Matsumoto, ia hanya memejamkan matanya dan kembali bersadar sambil melipat tangannya.
"Hihi… Tapi, Toshiro-kun…" bisik Matsumoto tiba-tiba tersenyum sumringah "Terima kasih sudah mau bermain di film low-budget kami ini ya. Kau memang tidak berubah, selalu humble."
"…Kau bicara apa sih Matsumoto…" kata Toshiro, membuka matanya sedikit.
"Yah… walau aku tahu kau terpaksa haha,"
Toshiro menghela nafas berat, "Sudah, jangan dibahas lagi. Aku mengerti maksudmu…" ucapnya
.
.
.
Sepertinya yang sudah dibicarakan tadi, rumah penginapan sederhana para crew dan cast SOUL ini berada di tengah-tengah sebuah pekarangan kecil. Rukia duduk di hall/teras pojok kiri rumah. Lebih tepatnya tepat di perantara kamarnya sendiri dan halaman. Ia memainkan gitar elektriknya yang berwarna putih itu, tidak dicolok dengan apapun sehingga masih bisa mengeluarkan suara string yang halus, sambil menulis lirik dan chord di sebuah notes kecil. Ia juga sesekali menghembuskan nafasnya dari mulut untuk melihat kabut-kabut kecil keluar dari mulutnya. Ia senang dengan udara dingin, ia senang musim dingin, dan ia senang dengan salju. Hal itu memberinya kenyamanan tersendiri. Sambil meneguk susu hangatnya sedikit demi sedikit, dan gitar yang masih berada di atas pangkuannya, Rukia kemudian menyalakan ponselnya, bermaksud untuk mencari referensi nada-nada untuk lagu yang akan ia tulis . Ia memakai earset warna putihnya, dan mendengarkan lagu, Daydreaming, oleh Radiohead.
.
.
Dreamers, they never learn
Beyond, beyond the point
of no return
.
Rukia memejamkan matanya, menghayati setiap isi lirik dan suara denting piano. Namun entah mengapa hatinya terasa sakit.
.
.
And it's too late
The damage is done
.
Penyesalan memang akan selalu datang belakangan, dan semua sudah terlambat. Tidak bisa diperbaiki lagi. Rukia membuka matanya cepat, menghela nafas panjang, dan…
"… Hei, kau suka es atau salju?" tanya Rukia tiba tiba. Ia sadar kalau ada langkah yang mendekatinya dari balik tembok. Itu Toshiro, dan karena itu Toshiro langsung terkejut. Ia bermaksud untuk duduk di teras sebelah barat rumah karena ia tahu ia tidak akan bisa menikmati malam jika ia harus duduk di teras ruang utama yang masih dipenuhi oleh orang-orang tadi, dan itu nyaris ia urungkan sebelum Rukia tahu keberadaannya.
"… Es" jawab Toshiro pendek, ia berjalan mendekati Rukia dengan langkah pelan. Sedikit heran dengan pertanyaan Rukia yang begitu random.
"Sudah kuduga."
Toshiro terpaku dengan pernyataan Rukia barusan. Omong kosong apa ini pikirnya. "… Apanya yang sudah kau duga?"
"Kalau kau suka es. Kau sekeras es dan tentunya sedingin es." Kata Rukia memberi kesimpulan sendiri.
"Kau bicara apa sih?" kata Toshiro kesal, "Ada apa memangnya dengan pertanyaan random-mu itu?"
"Hanya penasaran, kau juga suka dingin sepertiku. "
"… Orang aneh." Ucap Toshiro merasa malas dan hendak berjalan lurus meninggalkan Rukia dan segera angkat kaki dari sana.
"Aku memang orang aneh." Rukia tersenyum jahil, menoleh ke belakang, melihat Toshiro yang dari hanya berdiri di sana. "Kemari,duduklah." Rukia menepuk-tepuk lantai kayu di sampingnya.
"Tidak ingin." Jawab Toshiro tak acuh,
"Mau pinjam?" Rukia menawarkan gitarnya untuk Toshiro, siapa tahu ia ingin bermain juga.
"Tidak."
dan Rukia kembali mengalihkan pandangannya kembali ke depan, ke halaman. "Nah kan." ucapnya.
"Apa?"
"Kau sekeras es dan sedingin es."
"Memangnya tidak boleh ya?" kata Toshiro masih dengan nada kesal. Sepertinya semakin malas dengan keadaan yang menimpanya sekarang, berbicara dengan gadis aneh yang mengganggunya.
"Aku tidak bilang tidak boleh." Jawab Rukia kalem.
Toshiro mengendus keras, kemudian mereka saling diam. Tidak saling berpandangan. Kedua mata mereka hanya melihat pemandangan halaman dan salju-salju kecil yang berjatuhan dari langit. Diikuti suara musik dari balik telinga Rukia yang terdengar cukup keras bernaung diantara mereka. Toshiro sendiri sebenarnya heran mengapa ia memutuskan untuk berjalan memutar ke arah barat rumah ini dan berdiri di belakang Rukia seperti sekarang. Seakan ia memang sengaja kemari untuk berbicara dan bertemu dengannya.
Sial, jangan-jangan ia memang berpikir begitu? Aku tidak mau ia berpikir aku ke sini untuk melihatnya.
"Jangan ge er, aku kemari bukan karena ingin bertemu denganmu." Kata Toshiro dingin mengucapkan apa yang sesuai dengan pikirannya barusan. "Aku juga suka udara dingin, aku tidak tahan berlama-lama di dalam ruangan yang ada penghangatnya. Tadinya aku mau duduk di teras depan ruang utama, tapi di sana terlalu ramai."
"Aku kan tidak bilang apa-apa." Kata Rukia pendek.
Muka Toshiro memerah, semerah tomat karena malu. Sudah ia duga di sini sebenarnya ia yang ke ge er an, rasa takut Rukia merasa ge er padanya ternyata malah tertangkis ke dirinya sendiri. Rukia lalu tekekeh kecil seakan mengerti bagaimana rupa Toshiro yang berdiri di belakangnya sedari tadi.
"Kenapa ketawa?" tanya Toshiro masih malu.
"Kau memang cocok sekali memerankan peran utama ini ya." Kata Rukia, sarkas.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Ya karena sikap dan sifatmu itu—"
"Hhh… " Toshiro hanya bisa menghela nafas, "Terserah kau lah. Kuanggap saja itu pujian"
"Hahaha", Rukia meresponnya dengan tawaan kecil. Namun kemudian teringat akan sesuatu. Ia pun dengan lugas bertanya, "Oh ya… kudengar kau sudah tidak ingin bermain film dan segala tetek bengeknya ini, … Kenapa?"
"Bukan urusanmu." Jawab Toshiro, judes.
"Begitu ya?" respon Rukia ikut dingin, seraya menyeruput susu hangatnya lagi.
Diam seribu bahasa kembali menyerbu. Tidak ada satupun yang ingin memulai pembicaraan. Termasuk Rukia yang sepertinya memang sudah tidak ingin memaksa Toshiro untuk membuka suara atau bahkan bercerita padanya. Rukia kembali mendenting-dentingkan gitarnya, memainkannya dengan pelan, cocok sekali dengan suasana salju yang menemani keduanya saat ini. Dan entah mengapa itu memberikan Toshiro rindu tersediri, bukan pada sosok sang pemain, namun dengan suara dentingan melody gitar yang menghujam jantungnya.
Toshiro kemudian memejamkan mata. Mendengarkan aluran gitar yang dimainkan Rukia. Indah. Benar-benar Indah.
Eh?
Apa?
Indah?
Tidak, Toshiro tidak boleh bilang ini indah. Aku sudah "pensiun". Bukan begitu katanya?
Toshiro menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk angkat bicara dari pada diam.
"Aku sudah tidak tertarik." Jawab Toshiro pendek. Rukia sampai menoleh lagi ke belakang, berhenti memainkan gitarnya, dan memerhatikan seksama wajah Toshiro. "Aku sudah tidak tertarik lagi dengan dunia hiburan. film, musik, atau apalah, semuanya itu."
"Oh benar, kudengar kau juga pernah satu band dengan Abarai."
"Iya," ucap Toshiro, "…Dulu."
"Oh… Padahal aku ingin sekali mendengarkan karya-karya musikmu." Kata Rukia, wajahnya kembali memperhatikan suasana malam di hadapannya, sambil kembali memainkan gitar.
"Musikku tidak cukup bagus untuk dipamerkan."
"Oh ya? Bukankah segala sesuatu memang tidak akan pernah cukup?"
Toshiro tidak menjawab.
"… Tidak cukup… atau kau memilih untuk merasa bahwa itu tidak cukup?" tanya Rukia lagi.
Namun Toshiro tetap tidak mengucapkan sepatah katapun. Lebih tepatnya bingung harus menjawab apa. Rukia pun berhenti memainkan gitarnya sekali lagi, dan berkata "…Padahal kalau kau mau, kau bisa saja yang menulis lagu untuk adegan utamamu sendiri nanti dari pada aku kan?"
"Tsk, sudahlah," tangkis Toshiro kesal, "Jangankan aku mau pamerkan hasil karya musikku atau bahkan menulis lagu—mendengarkan musik dari manapun—maupun sekedar kaset saja aku sudah tidak pernah."
"Wah, separah itu kah?" tanya Rukia pelan, "… Sayang sekali"
"Inti dari semua yang kulakukan sekarang adalah aku hanya ingin benar-benar cepat menyelesaikan syuting ini. … dan oh asal kau tahu saja kalau tidak karena terpaksa aku tidak akan berada di sini"
"Ooh… Begitu ya."
"Kau juga tak akan tertarik mendengar alasanku yang sebenarnya mengapa aku memutuskan untuk memilih tidak terlibat lagi dengan dunia itu."
"Itu asumsi dari mana?" Rukia masih terus bertanya dengan santai. Tidak perduli jika Toshiro kesal menghadapi setiap pertanyaannya yang menyebalkan. Dan itu tepat, Toshiro sama sekali sudah tidak ingin menanggapi pertanyaan Rukia yang semakin lama semakin membuatnya panas.
"Hei, perempuan, dengar ya—"
"Apa album Radiohead yang kau suka?" tanyanya memotong pembicaraan Toshiro. Toshiro sontak kaget, dan JUGA kembali mengeluh,
"Sudah kubilang aku tidak—"
Rukia menoleh tegas ke arah Toshiro, memperhatikan mata hazelnya tanpa berkedip. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Membuat Toshiro seakan tak bisa menolak pertanyaan tersebut karenanya. Ia mengerutkan dahi, memejamkan mata, dan berkata,
"Hhh… baiklah,… OK Computer." Jawabnya malas.
"Ah iya, album klasik terbaik mereka sepanjang masa."
Toshiro hanya diam dan bertingkah tak acuh,
"Benar kan?" tanya Rukia lagi.
Dan Toshiro lagi lagi hanya menghela nafas, "Yeah, progressive, relevant, profound, and genuinely popular…" jawabnya, "Tapi mungkin album itu juga adalah album mereka yang tersuram."
"Benar, dan itu cukup menjelaskan semua mengapa kau suka OK Computer,"
"Hah? Kenapa?"
"OK Computer itu album yang bisa memainkan emosi pendengarnya. Tentu saja kesedihan akan menjadi kata utama yang kau lontarkan setelah kau mendengar album itu."Kata Rukia,"… tapi kurasa, kesedihan tidak akan selamanya menjadi suram."
Toshiro hanya tertegun mendengar pernyataan Rukia barusan. Ya benar, kesedihan juga meliputinya. Tentu ada alasan tersendiri yang lebih menohok mengapa ia memutuskan untuk ingin sekali keluar dari dunia hiburan yang ia gandrungi sebelumnya. Mengetahui apa yang ia lakukan sekarang hanyalah paksaan.
"Bukannya aku bermaksud sok bijak, aku juga tidak yakin bahwa aku benar dan tahu apa yang sedang kau lalui. Aku juga tahu betul bahkan ini bukan hakku juga untuk ingin tahu. Namun kesedihan akan selamanya menjadi sebuah kesedihan jika kau menemukan silverlining dari semua itu" Ucap Rukia, "… Karena sesungguhnya. tidak semua yang terlihat buruk sebenarnya buruk. Seperti OK Computer, bukan begitu? "
Toshiro tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan tanda mengiyakan.
"Terdengar klise memang, dan tentu saja kau boleh menikmati kesedihanmu, seperti Radiohead saat menciptakan OK Computer. Namun Radiohead pun tahu, tidak semua album yang mereka ciptakan akan terus dalam tempurung kesedihan," kata Rukia. "Album-album mereka berikutnya kemudian berubah seiring berjalannya waktu, semakin lebih eksperimental, keluar dari zona nyaman, dan berani. " Rukia memberi jeda sebentar, "… dan aku begitu menghargai kemauanmu untuk ikut bermain dalam film ini. Terlepas itu adalah paksaan atau tidak, paling tidak kau tidak kabur."
"Tentu saja, mau dikata apa aku jika aku kabur begitu saja setelah sudah menginjakkan kakiku di sini?" kata Toshiro cepat.
"Iya, oleh karena itu aku anggap ini adalah bagian dari eksperimenmu… Selamat datang kembali ya." Rukia, ia tersenyum begitu manis pada Toshiro, begitu percaya dengan perkataannya sendiri. Toshiro hanya bisa terdiam, beberapa garis kecil di pipinya muncul, entah karena apa. Karena perkataannya? Bisa jadi. dan ia hanya bisa menundukan kepalanya setelah melihat Rukia berkata seperti itu.
Oh. Apa hanya sekedar tersipu malu karena senyumannya?
Entahlah, tapi yang jelas ia sedikit terkesan.
"Maaf ya aku banyak bicara. Itu tadi hanya "tafsiran"ku saja." Kata Rukia lagi, sadar diri kalau ia yang dari tadi lebih banyak mengeluarkan suara dari pada Toshiro.
"…Kalau kau? … Album apa yang kau suka?"tanya Toshiro balik, tidak menggubris pernyataan maaf Rukia yang menurutnya tidak ada artinya, karena sesungguhnya ia tidak merasa keberatan jika Rukia banyak bicara detik itu. Rukia tersenyum tipis, mengetahui akhirnya tidak hanya dia saja yang dari tadi bertanya pada lawan bicaranya.
"Oh aku suka semua album mereka. Mereka jenius. Tapi mungkin In Rainbows favoritku."
"Haha, album mereka yang paling "hippie" dan bahagia?"
"Hahaha lucu bagaimana kau mendeskripsikannya, tapi iya. Kurasa In Rainbow adalah album mereka yang paling tenang, santai. menenangkan, namun di satu sisi juga sangat blak-blakan dan tegas."
"Pantas."
"Hm?"
"Blak-blakan? Sepertinya itu memang kau." Kata Toshiro, mengambil kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Haha… mungkin kau benar."Rukia mengendus pelan, senyum simpul muncul di wajah putihnya. Seperti mengartikan sesuatu yang lain. Toshiro sedikit peka dengan itu, tapi ia memilih diam saja. Rukia mengendus kecil, memalingkan wajahnya ke langit hitam penuh salju berjatuhan, memandangnya untuk beberapa saat sampai ia kembali memberikan satu pertanyaan lagi untuk Toshiro,
"Hei,…"panggilnya, dan Toshiro hanya melirik. "… Apa kau yakin, dari semua jawaban yang telah kau berikan tadi, kau sudah tidak tertarik lagi dengan dunia musik?"
Hati Toshiro langsung mencelos. Tidak marah, tidak merasa terganggu, hanya mencelos. Ia tentu tidak bisa menjawab pertanyaan Rukia barusan karena ia tahu ia tidak siap dengan jawabannya sendiri. Rukia hanya tersenyum, kemudian berdiri dari teras, mengangkat gitarnya, membawa notesnya yang berisikan scribble chords, dan berjalan melewati Toshiro,
"Mau ke mana?" tanya Toshiro, dengan nada sedikit khawatir yang tak bisa ia sembunyikan walaupun ia berusaha tutupi dengan nada dingin sekalipun.
"Haha, kau penasaran?" goda Rukia. Tapi rupanya tidak begitu.
Toshiro malah kelabakan sendiri, "A—Apa-apaan sih? Aku kan hanya bertanya."
"Kau pasti senang kita mengobrol seperti ini." Rukia nyengir usil. "Besok kita bertemu lagi di teras ya"
"Hah?"
"Buktinya kau mau terus berada di sini. Padahal kau tahu dari tadi aku memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menurutmu menyebalkan."
Sadar betul bahwa kalimat Rukia tersebut benar, Toshiro merasa harus cepat memberikan alasan bodoh lagi,
"A—Aku kan sudah bilang kalau aku tidak tahan di dalam ruangan yang ada penghangatnya."
"Haha, iya aku tahu, aku hanya bercanda. Ini sudah malam, aku perlu istirahat. Sebaiknya kau juga." Jawab Rukia. Tapi sebelum ia membuka penuh shojinya, ia memutar arah, berdiri di hadapan Toshiro, "… Ah, Ini minumlah, kau belum minum kan?" Rukia memberikan segelas susu hangatnya yang masih berisi separuh itu kepada Toshiro. "Itu bagus buat pertumbuhanmu."
"? He—Hei, apa maksudmu!?" kata Toshiro nyaris berteriak,.Rukia hanya terkekeh dan masuk ke dalam kamarnya. "HEI, PEREMPUAN! KAU BAHKAN MASIH LEBIH PENDEK DARIKU!"
"Ssssstt… berisik sekali sih Toshiro-kun! Ini sudah malam!" teriak Matsumoto yang sedang membeber futonnya bersiap untuk tidur.
"Maafkan dia, Matsumoto-san." Kata Rukia disertai tawa kecil kepada senior sekaligus teman sekamarnya dalam dua minggu kedepan itu.
"H—hah? Ini semua kan gara-gara kau." Bisik Toshiro kesal.
"Selamat malam, Hitsugaya." Senyum Rukia seraya menutup shojinya pelan.
Toshiro hanya bisa memandang shoji di hadapannya itu dengan mata hampa dan kebingungan. Ia menghela nafas ,
"Menyebalkan." Bisiknya.
Namun mau tak mau ikut tersenyum tipis.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Sekian Part 2!
Terima kasih yang sudah menyempatkan waktunya untuk review, yang ada akun fanfiction sudah saya balas di PM masing-masing ya! :D
Untuk Yumii dan Guest (lol): Terima kasih banyak! Ini sudah ditulis lanjutannya!
.
Sebelumnya, seperti yang sudah ditulis di warning, memang akan ada banyak pop-culture references (dan akan semakin banyak nanti di chapter-chapter selanjutnya). Sehingga mungkin untuk beberapa orang akan menjadi membosankan... (Tapi Radiohead itu band bagus lho, coba didengarkan kalau sempat hehe) monggo kalau mau mendengarkan lagunya di Youtube: (Daydreaming - Radiohead) watch?v=TTAU7lLDZYU
Kemudian kalau mau mendengarkan playlist khusus di Spotify. Kalau ada waktu boleh dicari, nama playlistnya : "a blessing in disguise" hehe.
Oh kemudian, untuk adegan yang Rukia memberi Toshiro susu dan bilang "Itu bagus buat pertumbuhanmu." saya terinspirasi dari fanfiction buatan dei-ryuu yang judulnya THE TRUTH ABOUT FOREVER. Di sana ada juga adegan yang sama persism, yaitu: Rukia, penulis, memberi segelas susu untuk Toshiro, teman kost barunya.
Terima kasih :)
Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
