Tittle : 60 sec

Main cast : Jung Daehyun, Choi Junhong (Daelo)

Length : Oneshoot

Warning : This is YAOI (BOYXBOY) fanfiction. Typos, not EYD

.

.

60 seconds is enough for this story
You have entered my heart
I don't doubt that you have taken me in this not-so-short time
That's the kind of person you are, a story that's enough for me
I don't need a reason
You made my heart flutter and you made me find you – that first time

.

Kim Sunggyu - 60 sec

.

.

Chapter 2

Angin menyapu halus helaian rambutnya yang memanjang. Musim gugur telah datang. Duduk bersimpuh dengan tatapan kosong pada batu besar di hadapannya.

"Aku hidup dengan baik.."

Menyingkirkan beberapa daun kering yang menguning dari permukaan tanah yang menjadi teman keluhnya. Teman bercerita akan hari-harinya.

"Ayah masih saja keras padaku," mengelus batu yang sudah tergerus permukaannya oleh hujan.

"Hah~"

Matanya menerawang jauh pada awan tipis yang menarik baginya. Awan yang seakan tersenyum mengejeknya.

"Aku tidak tahu akan menceritakan hal ini pada siapa.."

"Karena ayah juga tidak akan mendengarkan lelucon anak berusia delapan belas tahun."

Junhong menarik napas. Berdehem sambil membenarkan letak duduknya. Memasang raut serius hendak berkata sesuatu.

"Aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam sini," menepuk-nepuk dadanya ekspresif. Beralih menatap jernihnya sungai yang menghanyutkan abu-abu seseorang yang meninggalkannya lima tahun yang lalu.

"Rasanya seperti sedang menunggu pengumuman kelulusan."

Ia merona.

"Tapi itu nyaman, sangat aneh!"

"Dan itu terjadi hanya ketika aku didekat seseorang..."

Junhong memandang taat.

"Ah, aku bingung~" berdengung sambil melirik pada tupai yang berlarian di sekitar pohon.

"Aku harus bagaimana?"

.


.

Bel pulang berbunyi nyaring. Junhong mengemasi barangnya dan berjalan keluar. Mencari Daehyun yang selalu menjadi penjemputnya. Namun seseorang yang tak biasa telah menunggunya.

"Hai."

"Youngjae-hyung?"

Youngjae bangkit. Mengamit lengannya dan berjalan cepat menaiki bus.

"Aku sudah ijin Daehyun bodoh itu. Dia bilang sudah waktunya kau potong rambut. Kebetulan sekali.."

"T-tapi kemana?"

Youngjae tersenyum jahil. Hanya butuh beberapa detik untuk membuat pipi Junhong menjadi mainan kesukaannya.

"Apo~" Junhong mengusap pipinya yang memerah sebagian.

"Aigoo, berhenti bertingkah seperti itu, Junhong. Aku bahkan tidak percaya kalau Daehyun belum pernah mencubitmu sampai sekarang."

Lihatlah, Ia tersenyum ragu.

"Aku harus membuatnya melakukannya. Lihat saja."

.


.

"Omo."

"A-ada apa hyung? Apa terlihat aneh?"

"Tidak Junhong, tidak! Sungguh, kau.. benar-benar...semakin menggemaskan!" Youngjae hendak menggigit tangannya sendiri melihat penampilan baru seorang Choi Junhong.

"Ya Tuhan."

"Hyung—"

"Demi Neptunus..."

"Hyung, bisakah kau berhenti?"

Junhong merasa sedikit terganggu karena Youngjae yang sedari tadi melihatnya sambil bergumam tak jelas sepanjang mereka berjalan.

Bagaimana tidak, Junhong pasti menuruti semua kemauan Youngjae—karena memang tidak bisa menolaknya—, termasuk, mengecatnya dengan warna merah marun.

"Aku berani bertaruh Daehyun akan mencubitmu habis-habisan!"

Melihat kembali Junhong yang dengan canggung mengemut lolipop merah muda yang terlihat cocok dengannya.

"Ah, tidak juga. Dia pasti tidak ingin menyakiti Junhongnya yang cantik."

"Aku ini laki-laki hyung!"

.


.

"A-ayah?"

Junhong terpaku. Ayahnya tiba lebih cepat dari perkiraan. Ia bahkan tidak berkomentar tentang rambut barunya.

"Samgyupsal ada di meja makan."

Junhong tersenyum tipis. Meskipun terkesan dingin, ayahnya adalah sosok yang perhatian.

"Ayah."

Tuan Choi masih sibuk membersihkan sepatunya.

"Tidak mengunjungi ibu?"

Gerakannya terhenti. Meletakkan sepatunya yang belum rampung dibersihkan dan enggan menatap putranya.

"Aku pasti akan mencarinya."

"Ini...sudah lima tahun dan ayah masih ingin mencarinya?"

Tangannya mengepal kuat-kuat. "Keparat itu...pasti akan kutemukan."

.


.

"Tadah!" Dengan bersemangat menyambut seseorang yang melangkah anggun dengan rambut merah marunnya.

Ia menggaruk tengkuknya. Untuk pertama kalinya merasa canggung di hadapan kawannya sendiri.

Daehyun mematung. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

"Bagaimana Jung? Bukankah dia sangat manis?" terlihat berbisik namun masih terdengar jelas oleh pemuda yang bergerak gelisah di ujung sana.

Daehyun masih menatap tak percaya pemuda yang tengah duduk canggung di sofa ruang tamunya. Sesekali memicingkan mata meyakinkan bahwa pemuda yang dibawa sahabatnya itu adalah orang yang sama dengan yang delapan jam yang lalu ia temui.

"Aku rasa aku butuh istirahat," berjalan sambil memijit pelipisnya.

"Ya! Kau belum mengganti uangku!" murka Youngjae sambil mengekor di belakangnya tanpa mempedulikan Junhong yang berkedip bingung di sana.

Daehyun dengan sigap menutup pintu dan duduk rapi di atas ranjang berselimut abu-abunya.

"Kau yakin dia itu laki-laki?" raut mukanya linglung yang kontan menahan amukan sahabatnya

Youngjae mendesis pelan. "Jangan bercanda Jung."

"Aku rasa aku sudah gila," bebaring sambil menepuk-nepuk pipinya yang sedikit menyusut.

"Kenapa? Dirimu bahkan belum memujinya sama sekali."

Daehyun mengacak rambutnya frustasi.

Youngjae bersorak dalam hati. Reaksi Daehyun bahkan lebih dari yang Ia bayangkan.

"Ayo sana, pergi temui dia~"

Daehyun mengernyitkan dahi.

"Kalau dari dekat baru percaya."

Daehyun menurut. Berjalan ragu mendekati pemuda yang disebut Youngjae sebagai Choi Junhong itu. Mata minusnya bahkan masih bisa mengenali Junhong, tapi untuk saat ini...

"Daehyun hyung? Gwenchana?"

Benar, itu suara Junhong. Daehyun dapat dengan jelas melihatnya. Dia benar-benar Choi Junhong.

"A-aku tidak. Aku tidak apa. Tenang saja. Hanya sedikit pusing," membenahi kausnya yang sedikit berantakan.

"Perlu aku buatkan kopi?"

"Tidak usah. Tidak apa Junhong-ah. Tadi Youngjae sudah memberiku obat. Tenang saja."

Youngjae menginjak kakinya di bawah sana. "A-aah, ya, kau terlihat bagus dengan rambut barumu itu."

"Dan mungkin aku akan menyerahkan urusan potong rambut pada Youngjae."

.


.

Dan benar saja, Youngjae bahkan rela menghabiskan liburannya hanya untuk menemani Junhong. Termasuk latihan dance nya.

"Yo~ lihat siapa ini," seseorang dengan rambut kecoklatan menyambut uluran tangan Junhong.

"Junhong? Wow~" Youngjae tersenyum memuji dirinya sendiri. Yoo Youngjae, hasil kerjamu membuat banyak orang berdecak kagum.

Pemuda dengan rambut keunguan memulai gerakannya. Salahkan Youngjae yang menganga karenanya.

"Junhong, kemarilah~"

Junhong seperti biasanya, mengikuti dentuman musik dan ber duo dengan kawannya. Terlihat sedikit menggoda. Oh Tuhan, lihatlah Youngjae yang masih menatap mereka tak percaya—tidak terima—

"Ya Jung Daehyun!"

Suara tesedak di seberang sana menyahutnya.

"Apa!"

"Kau yakin Junhong masih sepolos itu?"

"Haha. Maksudmu pria dengan rambut ungu itu?"

"Ah, aku tidak suka melihatnya."

"Kau pikir aku suka? Nikmati saja liburanmu Yoo Youngjae. Akan aku tutup."

"Ck. Bukan—"

"Ya ya. Aku tahu kau suka dia. Ambil dan bawa pulang. Aku banyak pekerjaan."

"Eh? Heh Jung Daehyun—"

Tuut tuut.

"Apa-apaan!"

Youngjae melirik jam tangannya sepintas. Pukul lima. Junhong masih asyik dengan teman-teman klub nya. Inikah yang disebutnya sebagai latihan.

Tak ada yang bisa dilakukan. Youngjae menatap layar ponselnya yang sunyi senyap. Sesekali melihat yang di sebut Daehyun dengan "pria dengan rambut ungu" yang belum berhenti menggoyang-goyangkan tubuhnya. Melirik Junhong yang tertawa riang entah apa yang mereka bicarakan.

Hingga mata mereka bertemu. Youngjae yang tertangkap basah memandanginya membuang muka ke arah tali sepatunya yang lepas entah sejak kapan. Berpura-pura membetulkannya dan kembali menonton manusia-manusia yang masih belum rampung latihan.

"Oi yang disana! Ingin bergabung?" pemuda bersurai cokelat meneriakinya dari kejauhan.

Ck. Tidak tahu sopan santun. Youngjae bisa saja melemparinya dengan sepatunya jika saja itu bukan teman Junhong. Lebih memilih tak menghiraukan dan kembali mengecek ponselnya.

"Ya! kemarilah~"

Youngjae berdecak kesal dan menantang untuk menurutinya berjalan ke ruangan latihan. Pria berambut cokelat itu masih saja memandanginya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Katakan apa maumu."

"Ish. Dingin sekali. Aku Changjo," mengulurkan tangannya sambil menaik-turunkan alisnya.

Youngjae tersenyum remeh. "Aku tidak menanyakannya."

"Pffttttt..."

"Ya Changjo-ya! Mungkin kau lupa sikat gigi."

"Atau mandi."

Youngjae menghela napas. Menunggu Junhong untuk mengemasi barang-barangnya dan berjalan cepat meninggalkan tempat latihan yang menurutnya adalah neraka itu.

"Hei, kau!"

"Apa lagi!"

Pemuda bersurai ungu itu berlari tergopoh-gopoh membawa sesuatu.

"Ponselmu?"

"A-ah, ya."

Memperhatikannya yang melihatnya dengan tatapan nan polos. "Terimakasih"

Membungkuk sedikit lalu membawa Junhong untuk segera pergi.

"Yah, aku bisa mati kalau berada di tempat seperti ini."

.


.

"Daehyun hyung! AKU LULUSSS!" Junhong bersorak senang. Mengibarkan jasnya dan berlari kencang memeluk Daehyun yang berdiri di daun pintu.

"Aku lulus hyung! Aku lulus..."

"Itu bagus. Kenapa menangis, eoh? Kau harus menraktirku."

Junhong menggeleng. "Aku hanya...hiks...terlalu senang..."

Daehyun mengusuk surai merah mudanya. Tersenyum sambil mengamati matanya yang sembab oleh air.

"Yah, kau harus memberi tahu Youngjae setelah ini. Kau tahu? Dia sangat merindukanmu tiga bulan ini."

Junhong mengangguk. Mencoba tersenyum meskipun air matanya tak kunjung berhenti mengalir.

"Jangan menangis, merah jambu."

Junhong menyikutnya pelan, "Berhenti menyebutku merah jambu, tuan pendek."

.


.

Daehyun mengamati Junhong yang menikmati makan siangnya. Mengunyah santai kepiting rebus hasil karyanya.

"Apa!"

"Galak sekali. Tidak takut gendut?"

Junhong menatapnya horor. Memotong makanannya dengan sedikit brutal dan melahapnya tanpa ampun.

"Kelihatannya terlalu serius belajar sampai tidak makan?"

"Sok tau."

Daehyun membenahi posisi duduknya. Menatap lebih dekat Junhong yang memasukkan satu suapan sendok penuh entah untuk keberapa kalinya.

"Kau tahu, kau jadi pemarah seperti Youngjae. Dan kau tahu? Youngjae itu pemarah seperti perempuan yang sedang datang bulan. Dan kau tahu? Perempuan yang sedang datang bulan itu seperti nenek sihir yang kelaparan. Dan kau tahu? Nenek sihir yang kelaparan itu seperti—"

"Seperti Jung Daehyun yang dari tadi berisik sekali."

Daehyun tertawa.

"Mau melanjutkan kuliah atau langsung bekerja?"

"Belum tahu."

"Atau mungkin menikah?"

"Uhuk!"

Junhong menepuk-nepuk dadanya. Daehyun sigap mengambil segelas air putih di atas lemari pendinginnya.

"Baiklah, aku anggap itu sebagai jawaban."

.


.

"Ya, dia telah berusaha keras."

"Jadi?"

"Belum tahu akan melanjutkan ke mana." Helaan napas terdengar begitu kentara.

"Mungkin sudah saatnya Jung."

"Entahlah. Kau sendiri?"

Suara di seberang sana terdengar gelisah.

"Belum ada kepastian. Ahh, dia membuatku tersiksa~"

"Bersabarlah Yoo."

"Hnghng. Kau harus cepat mengatakannya."

"Aku belum yakin."

"Kenapa? Aku rasa dia juga merasakannya."

"Bagaimana kalau tidak? Dia pasti membenciku."

"Jangan pesimis. Kau saja tanpa basa-basi mengatakannya padaku dulu."

Daehyun tersenyum hambar.

"Itu juga karena kau mudah jatuh cinta."

"Ish. Memangnya dia tidak? Apalagi kalian sudah lama dekat."

"Tapi bagaimana kalau dia sudah—"

"Dasar pengecut. Jangan berpikir terlalu jauh dan cepat katakan daripada kalah sebelum berperang."

Daehyun terdiam. Menggenggam ponselnya kuat-kuat.

"Kalah sebelum berperang itu lebih tak terhormat daripada kalah berperang."

Tidak, bukan itu yang Ia inginkan.

"Aku ada janji. Pikirkan itu baik-baik dan kau harus mengabariku."

.


.

"Oh! Himchan hyung!" Junhong mendekapya erat-erat.

"Lihat siapa ini, kau semakin tinggi, Junhong-ah," Himchan tersenyum hangat.

Junhong membungkuk hormat pada pemuda tegap yang berdiri di samping kakaknya. Mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di sofanya.

"Jadi? Ada apa?"

"Kami akan menikah minggu depan," Himchan menatap damai pemuda berparas tegas di sisinya.

Junhong manggut-manggut.

"Kau akan datang, kan?" mengeluarkan lembaran undangan dengan sampul bercetak tebal 'Bang & Chan' dari dalam tasnya.

Junhong membukanya perlahan. "Korea? Kalian menikah di sini?"

Himchan tersenyum. "Setelah dipikir-pikir, lebih banyak keluarga kami di sini."

Senyum Junhong merekah. "Choi Junhong memastikan untuk datang~"

Himchan mengeluarkan lembaran yang lain. "Berikan juga pada temanmu itu. Ah, aku lupa namanya."

"Maksudmu...Daehyun-hyung?"

"Aah, ya! Jung Daehyun itu. Tolong berikan juga padanya."

"Yes, sir!"

.


.

"Berhenti menatapku seperti itu."

"O-oh? Siapa yang menatapmu? Hanya kebetulan saja."

"Mengaku sajalah Choi Junhong... Aku ini keren, kan?"

"Menjijikkan."

"Kau sudah jatuh dalam pesona Jung Daehyun...akui sajalah~"

"Ish."

Junhong kembali melahap es krimnya yang hampir mencair. Mengamati Daehyun yang dengan rakus menghabisi es krim cappucino nya.

"Kau menatapku lagi," ujarnya santai.

"T-tidak! Aku melihat es krim mu yang hampir mencair karena dirimu banyak bicara."

Daehyun tersenyum mengejek. "Aah, aku tahu. Kau mau mencobanya kan? Dasar."

"Percaya diri sekali...punyaku lebih enak tau! Aku tidak suka kopi, tuan pendek."

"Wah, berarti benar kau melihatku.." melipat satu tangan sambil meletakkan sebelah tangannya di dahinya. "Ternyata aku ini memang tampan."

"Aku bisa saja melempar ini ke arahmu," Junhong menggoyang-goyangkan es krim rasa mint nya.

"Silahkan."

Dan benar saja, Junhong hampir saja benar-benar melayangkan 'senjata'nya jika Daehyun tidak sigap menahannya. Menggenggamnya halus dan membawanya kembali ke meja diatas tangan kirinya.

"Ya!—"

Daehyun menatapnya sejurus. Junhong yang hendak meneriakinya urung dikarenakan raut Daehyun yang tiba-tiba berubah. Tidak biasanya ia berubah serius tanpa suatu alasan yang jelas.

Daehyun menggenggamnya erat. Tak peduli es krim warna birunya yang sudah menetes beberapa kali di atas tangan mereka.

"Choi Junhong..."

Junhong menatap Daehyun yang menggantungkan kata-katanya. Menunggu dengan patuh untuk melanjutkan kata-katanya.

"Aku..."

Daehyun enggan menyambutnya. Lebih memilih melihat ke sembarang arah daripada apa yang Ia lakukan sebelumnya.

"Sebenarnya aku..."

Junhong mencari-cari kemana mata itu menjurus. Mengikuti setiap gerakan Daehyun yang gelisah.

"Aku..."

TBC


HALOOOOO

HEHEHEHE (KABORRRR)

lagi banyak tugas, mumpung libur update express sajolah yoo

maapkan kalo kurang /? abis next chap mau bikin yang lebih extreme lagi wkakakaka /digorok/

MAKASIHHH BUAT YANG UDAH BACA+REVIEEEWWW

Maap belum bias bales satu2 soalnya banyak urusan /elah

MUNGKIN DAKU LELAH.

IYA. SAMA MASALAH BAP AKHIR2 INI YANG KATANYA MAU BUBAR ELAH

DAEHYUN JUGA KAYA ABIS DITONJOK GITU KAN MEMAR SEMUA GA LUCU PLIS

YAAA MAAP ITU SEDIKIT CURHATAN HEHEHEHE (SEDIH)

POKOKNYA MAKASIHHHH BANYAK YANG UDAH SUPORT ENJEEL

RNR JUSEYOOOOO