Chapter 2
XOXO Class
Author: RyeoKaisoo / Park EunRim.
Cast: Member Exo.
Rated: T
Pairing: ChanKai, ChanSoo, KrisKai, etc.
Genre: Romance, School, comedy, friendship, etc.
Disclaimer: EXO punya Tuhan Yang Maha Esa, SM Ent, EXO L, orangtua dll. Tapi cerita ini punyaku ^_^! Jadi aku pinjam EXOnya ya? Inspired by Korean Drama Sassy go go go and She Was Pretty
Summary: Park Chanyeol murid tampan, kalem, pintar, dan popular di sekolahnya terutama di kelasnya, sedangkan Kim Jongin atau yang lebih dikenal Kai murid yang lumayang manis, tapi sangat badung, bodoh selalu di peringkat bawah, popular karena membuat masalah, dan namanya selalu menghiasi buku siswa. Apa jadinya jika mereka satu kelas di tahun ajaran akhir dan terjebak perasaan yang tidak seharusnya? (ChanKai lagi)
Warning: Yaoi, typo, tidak sesuai EYD, cerita pasaran, alur kecepetan dll.
"Kalau begitu… cium aku"
"Geure!"
"Aku… aku terlambat mengatakan kalau aku mencintaimu… aku sangat terlambat… hiks"
"Hiks…"
"Aku sangat mencintaimu, tapi aku terlambat…"
NO FLAME! NO BASH! NO PLAGIAT!
HAPPY READING ^_^
.
.
.
.
"Baiklah, murid paling pandai di sekolah dan salah satu murid dari kelas VVIP yang di pindah ke sini, silahkan perkenalkan dirimu" perintah pria yang berusia sekitar tiga puluhan yang berstatus guru. Jongin menatap ke arah depan, matanya membulat sempurna melihat pemuda yang sedang berdiri memperkenalkan dirinya.
"Annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida. Semoga kita semua bisa bekerja sama dan berteman" ucap pria itu yang ternyata bernama Chanyeol.
Semua ingatan Jongin terkumpul, pria yang ia tabrak tetangga barunya yang ia katai gila adalah salah satu penghuni kelasnya.
"HAH?!" Jongin menutup mulutnya tidak percaya.
Chapter 2
Jongin mematikan ponselnya lalu berjongkok di bawah meja. Sekarang Jongin benar-benar sangat malu bertemu dengan pemuda yang ia maki-maki, toyor-toyor kepalanya, dan berjanji tidak akan bertemu dengannya.
"Eoddeokhae? Eomma~~" gumam Jongin pelan, dia benar-benar malu.
"Satu persatu berdiri kecuali empat orang dari VVIP untuk mengenalkan dirinya masing-masing" perintah guru yang bernama Xi Luhan pada semua muridnya. Satu persatu mulai berdiri dari duduknya memperkenalkan diri lalu membungkuk.
"Byun Baekhyun imnida"
"Huang ZiTao imnida"
"Kim JongDae imnida, tapi kau bisa memanggilku Chen"
"Oh Sehun imnida"
Bangku di samping Sehun adalah Jongin, tapi Jongin tetap bersembunyi di bawah meja entah sampai kapan. Sehun memukul-mukul meja Jongin memberi tanda agar pemuda berkulit tan itu berdiri.
"Cepat berdiri! Songsaenim Xi mulai marah!" ucap Sehun memperingati Jongin. Jongin mengeluarkan kepalanya lalu menggeleng kuat. Sehun yang kesal dan tidak ingin kena imbas kemarahan Luhan menarik Jongin untuk berdiri lalu menghadapkannya ke depan.
Chanyeol sempat terkejut tapi ia berusaha menghilangkan rasa keterkejutannya itu dengan membungkuk pada Jongin. Jongin balas membungkuk. "Kim Jongin imnida" ucap Jongin dengan kepala yang menunduk malu. Diam-diam Chanyeol menyeringai melihat gerak-gerak Jongin seperti orang yang malu.
"Silahkan duduk di bangku yang tersisa" Chanyeol mengangguk lalu duduk di bangku yang berada di belakang D.O dan di depan Jongin. Jongin menahan nafas melihat punggung Chanyeol ada di hadapannya.
'Hah?! Dia duduk di hadapanku! Eoddeokhae?' Jongin terus menundukkan wajahnya, ingatan-ingatan tadi pagi dan kemarin berputar di kepalanya, entah kenapa Jongin seperti ini? Apa karena pemuda itu kelas VVIP? Atau… karena salah satu murid VVIP dulu pernah membuat masalah dengannya? Jongin tidak tahu, yang jelas sekarang Jongin sangat lemas saat menatap punggung Chanyeol di hadapannya.
"Sial!" gumam Jongin pelan tapi masih bisa didengar oleh Chanyeol, Chanyeol menyeringai tipis lalu menyandarkan tubuhnya di bangku, ia berbisik pada Jongin sangat pelan.
"Kau malu ya? Malu karena sudah memakiku dan menoyor-noyorkan kepalaku yang ternyata seorang murid dari VVIP. Kau malu?" tanya Chanyeol yang seperti paham ekspresi wajahnya, apa sangat jelas kalau dirinya malu saat menatap Chanyeol.
"ANNI! BUKAN BEGITU!" elak Jongin dengan suara lantang yang membuat semua murid menatap ke arahnya. Jongin yang sadar melakukan hal mencolok segera menutupi wajahnya dengan buku cetak miliknya.
"Dia satu kelas denganku?! Namja yang aku maki-maki tadi pagi" gumam Jongin nelangsa. Sehun yang melihat Jongin bertingkah seperti orang yang sedang menutupi aib. Sehun menghela nafas, ia menatap ke depan dengan malas, jujur saja Sehun bosan belajar seperti ini.
.
.
Tidak seperti biasanya Jongin memilih menyendiri di tangga darurat merenungi dan mengingat kembali wajah pemuda bernama Chanyeol itu.
"KYA! Eoddeokhae? Aku sangat malu bertemu dengannya, seharusnya aku menolak perintah Eomma pasti rasa malu ini tidak ada… KYAAA!" teriak Jongin frustasi, dengan kasar Jongin mengusap wajahnya frustasi. Sekarang saja saat bertatapan dengan Chanyeol Jongin selalu gugup dan khawatir, padahal biasanya ia pandai membantah dan berhadapan dari murid kelas lain. Tapi kali ini lain situasinya, dirinya sangat malu.
"Biarkan, lagipula kejadian tadi pagi semua salah dia" ucap Jongin menyemangati dirinya sendiri, ia segera bangun dari posisi duduknya dan berjalan keluar tangga darurat. Meskipun sudah menyemangati dirinya dan mengatakan pada dirinya sendiri agar tidak khawatir dan malu tapi tetap saja Jongin bertingkah seperti orang yang habis mencuri.
"Kim Jongin" Jongin menoleh ke belakang menemukan Sehun berlari mengejarnya lalu merangkul pundaknya. "Kau darimana?" tanya Sehun, Jongin menggeleng lalu balas merangkul Sehun.
"Ayo makan siang" ajak Jongin mengalihkan pertanyaan Sehun, Sehun mengangguk.
"Dimana yang lain?" tanya Jongin.
"Chen sedang berulah, Baekhyun juga tapi kalau Tao sedang berlatih sendiri di taman belakang" jawab Sehun, Jongin mengangguk paham. Mereka duduk di tempat biasa, mengambil nampan makanan seperti biasa, dan bertukar makanan.
"Kau tadi kenapa?"
"Maksudmu?" tanya Jongin,
"Saat Chanyeol memperkenalkan diri" Jongin memuncratkan minumannya ke wajah Sehun mendengar nama channyeol di ucapkan Sehun. Sehun membersihkan wajahnya yang basah karena hujan local yang diproduksi Sehun.
"Aku akan ceritakan"
.
.
Di sudut sekolah yang sangat sepi, seorang pria berwajah kotak nampak asik memainkan laptop yanga ada di pangkuannya dengan serius, telinganya terpasang headphone untuk berkomunikasi dengan seseorang yang lumayan jauh.
"Kau pasti sedang di sekolah" tebak orang yang berada di seberang yang menjadi lawannya bermain game ini.
"Kau sudah tahu jawabannya" jawab pria itu-Chen seadanya, ia sudah paham pasti lawannya ini sengaja bertanya seperti itu agar mengalihkan perhatiannya.
"Kalau tidak suka sekolah kenapa sekolah? Lebih baik menjadi hacker atau gamer saja, kau pandai bahkan kau pernah mengalahkan VIXI satu minggu lalu, juara bertahan 5 kali berturut-turut" Chen tertawa kecil mendengar prestasi game nya satu minggu lalu. Nama Chen langsung terkenal di kalangan gamer dan hacker Korea maupun luar negeri karena keahliannya dan baru-baru ini Chen berhasil membuka situs terlarang (porno) di Tiongkok hanya dalam waktu 2 jam.
"Orangtuaku pasti akan menggantungku kalau tahu aku menjadi gamer. Lagipula, aku tidak mau membuat mereka bersedih" ucap Chen, lawannya tertawa kecil.
"Mereka akan lebih sedih lagi kalau tahu anak mereka tidak berkembang di sekolah"Chen terdiam, fokusnya semat hilang tapi segera kembali melihat lawan yang sejak tadi ia ajak bicara menyerangnya brutal lalu game over.
"Aaa… kau sengaja mengajakku bicara?" tanya Chen.
"Tidak, aku juga game over lihatlah. Ada penyusup" elak lawannya, Chen mengernyit lalu mengecek status area game nya, kenapa jadi bertiga? Bukankah tadi hanya dua?
"Nugu?" gumam Chen pelan.
"Naega" ucap seseorang yang tiba-tiba ada di hadapan Chen lalu memojokannya di dinding. Chen membulatkan matanya mengenali pria yang sedang memojokannya ini, pria yang sama 2 tahun lalu, pria yang melaporkan dirinya pada kepala sekolah saat membobol situs sekolah untuk mengganti nilainya.
"Diam dan menyingkir" perintah Chen seraya menjauhkan tangan pria berambut blonde yang memanjarakannya.
"Kau manis juga ya" ucap pria itu membuat Chen terdiam tangannya yang masih berusaha menjauhkan tangan si blonde malah dicengkram lalu di singkirkan. Chen menahan nafasnya saat wajah pria itu semakin dekat dengannya, wajah yang lumayan tampan.
"Kau tidak mengingatku?" tanya pria itu lagi, Chen hanya diam berusaha mengingat pria yang ada di hadapannya, sepertinya tidak asing tapi ia sama sekali tidak ingat. Pria itu tersenyum menampilkan dimple simile yang pasti membuat para gadis mimisan, tapi Chen pria.
"Nuguseyo?" tanya Chen pelan, pria itu semakin mendekatkan wajahnya, lebih tepatnya ke telinganya.
"Seseorang yang hampir membuat kau digantung oleh orangtuamu" ucap pria itu di akhir seringai, ia segera menjauhkan dirinya lalu bergegas pergi membawa laptop miliknya.
Chen masih diam dengan posisi yang sama, ia berusaha mencerna perkataan pria blonde tadi. "Apa maksudnya?" gumam Chen mengingat pria itu.
"Aaa… aku ingat namja itu"
.
.
Sehun mengangguk paham mendengar semua cerita Jongin tentang Chanyeol itu, Sehun berdecak lalu bertepuk tangan.
"Wae? Kenapa bertepuk tangan?" tanya Jongin yang sengit melihat reaksi Sehun seperti itu.
"Daebak, kau bertetangga dengan murid VVIP" puji Sehun membuat Jongin kesal mendengar ledekkan, bukan pujian dari Sehun.
"YA! Hal itu tidak patut dibanggakan, dia itu memang gila sepertinya aku harus memberikan julukan padanya" ucap Jongin yang masih kesal, entah kemana tadi rasa malunya.
"Bagaimana dengan si Chan keparat? Sepertinya itu terlalu kasar" Sehun melotot kaget melihat Chanyeol berjalan menuju Jongin yang terus mengoceh soal julukan Chanyeol.
"Jong, stop!" Sehun berusaha memberhentikan ocehan Jongin tapi Jongin tidak peduli ia terus mengoceh meskipun Sehun sudah memberi tanda untuk berhenti karena ada Chanyeol tepat berdiri di belakang Jongin mendengar semua julukan yang di persiapkan Jongin.
"Si Chan babbo? Anni, anni, dia itu pintar tidak pantas disebut babbo, tapi sifatnya sangat menyebalkan. Bagaimana kalau Si Chan menyebalkan? Terlalu panjang dan aneh… kalau si Chan gila? Itu cocok untuknya" Chanyeol menghela nafas mendengar julukan dari Jongin yang menurut Jongin cocok untuknya. Sementara Sehun terus memberi tanda agar Sehun berhenti, menyilangkan tangan, menunjuk ke arah belakang Jongin tapi Jongin tidak mengerti.
"Dia itu memang pintar, banyak yang mengatakannya tampan tapi dia tidak setampan itu. Apa dia itu Choi Min Soo? Aku tidak pernah membayangkan sekelas dengan orang seperti itu yang sifatnya lebih buruk dari Taemin, memang si Chan gila cocok untuknya" Sehun terus menunjuk ke arah belakang Jongin, Chanyeol menggeleng lalu tersenyum ke arah Sehun dan dibalas senyum kikuk oleh Sehun.
"Wae? Kau suka julukkan itu, kau kenapa melihat ke belakang terus?" Jongin menoleh ke belakang melihat orang yang sedari tadi di tunjuk Sehun.
"KYAAAAAAA!" Jongin berteriak kaget melihat Chanyeol ada di belakangnya sedang menghela nafas kesal lalu mengangguk paham. Jongin menggeleng berusaha menjelaskan pada Chanyeol tapi Chanyeol tersenyum maklum.
"Anu… tad… aku… anu…"
"Gomawo, julukan yang bagus" puji Chanyeol lalu berjalan pergi meninggalkan nampan berisi makan siangnya di meja Jongin dan Sehun.
"Chanyeol… aku… anu…" Chanyeol terus berjalan tidak menghiraukan panggilan Jongin, Jongin mengacak-acak rambutnya frustasi. "Eoddoekhae? EODDOEKHAE?" jerit Jongin frustasi. Sekarang ia benar-benar malu bertemu Chanyeol dan ia berjanji akan menghindari pemuda itu.
"Eoddeokhae? Sekarang aku benar-benar malu"
.
.
Baekhyun seperti biasa membuat kegaduhan di kelasnya sendiri dengan menari dan bernyanyi dengan riasan seorang gadis serta rambut palsu, tapi masih memakai seragam SM High School pria. Seperti biasa juga, murid-murid di kelasnya maupun luar kelas pasti akan menonton dirinya.
Suho yang baru saja masuk mengernyit dan menutup telinganya mendengar suara dan benda-benda bekas yang digunakan untuk alat perkusi. Baekhyun terus menyanyi dengan teman yang melakukan rapp tidak mempedulikan tatapan tajam Suho pada dirinya.
"How about you
Im all about you
Areumdawotdeon keuttaero doragallae
Reset…"
Suho yang mendengar suara melengking Baekhyun terdiam, bisa dibilang suara boncel itu lumayan bagus, tapi tetap saja mengganggu.
"Namja itu tidak bisa diam" gerutu Suho yang mulai kejam, ia bangun dari duduknya lalu menghampiri Baekhyun dan menariknya turun dari atas kursi. Semua diam melihat Suho melakukan hal yang menurut mereka kasar pada 'Princess' mereka.
"Wae? Kau terpesona?" tanya Baekhyun, Suho membuang wajahnya jengah, ia semakin mencengkram lengan Baekhyun.
"Kau kira ini hutan? Berhentilah berdandan seperti itu dan berteriak-teriak tidak jelas seperti itu HA?!" Baekhyun mengernyit, ia melepas cengkraman Suho lalu menatapnya tajam.
"Kau ini kenapa? Aku tidak berteriak tapi menyanyi"
"Kalau kau hobi menyanyi bernyanyi di club menyanyi bukan seperti ini!" Baekhyun yang kesal karena ada orang yang mengatur hidupnya segera melayangkan jitakan.
"YA! KAU SIAPA? MENYURUHKU SEPERTI ITU HAH?" marah Baekhyun, Suho melotot kaget mendapat jitakan yang cukup keras di kepalanya. "Kalau tidak suka tutup telinga mu anak pintar! Murid kelas sebelah tidak protes aku bernyanyi seperti ini, kenapa kau protes? Tutup saja dengan earphone! Lagipula, aku tidak setiap hari melakukan ini!" ucap Baekhyun diakhiri cibiran yang membuat Suho semakin marah.
"Tidak setiap hari? Baik, aku menantangmu jika kau benar-benar hanya melakukan hal seperti ini tidak setiap hari berarti kau hanya akan melakukan ini 2 atau tiga kali. Jika kau berhasil melakukan hal ini 3 kali saja dalam satu minggu, aku memperbolehkanmu menyanyi seperti itu, tapi jika kau melakukan hal ini lebih dari 3 kali, kau harus berhenti melakukan ini. Deal?" Baekhyun diam menatap tangan Suho yang terjulur untuk berjabat tangan dengan dirinya, ia menatap teman-temannya, mereka hanya mengangguk. Kembali mereka beradu pandang tajam, Baekhyun menjabat tangan Suho dengan sengaja mencengkramnya.
"Deal" Suho menyeringai lalu balas mencengkram lebih kuat tangan Baekhyun.
.
.
Tao mengernyit melihat seseorang sedang memainkan alat-alat wushunya yang sengaja ia letakkan di atas rumput, entah siapa dia tapi kelakukan orang itu membuat Tao marah. Ditinggal di toilet sebentar saja sudah ada yang memainkan barang-barangnya.
"Nu-" Tao tidak menyelesaikan ucapannya melihat orang yang memainkan alat-alatnya itu tidak asing di matanya. 'Sepertinya aku pernah melihat wajah blasteran itu' batin Tao, ia tetap di posisinya cukup jauh untuk mengamati wajah orang itu.
Flashback
Saat itu Tao sudah menginjak tahun kedua tapi dirinya tidak suka sekolah ini, Tao tidak setuju dipindahkan ke Korea ikut dengan Kakaknya yang mengurus cabang perusahan Ayahnya di Korea. Tao tidak suka beradaptasi, makanya ia memutuskan untuk menjadi murid bodoh dan menemukan teman-temannya yang sangat solid.
"Aku malas bersekolah di sini meskipun sudah dua tahun, kenapa tidak di China saja" gerutu Tao. Seorang pria berambut pirang, bertubuh tinggi dan berwajah blasteran menghampiri Tao dan duduk di samping Tao.
"Kau sedang ada masalah?" tanya pria itu, meskipun berseragam sama dengannya Tao tetap curiga dengan pria itu.
"Annyeong" sapa pria itu pada Tao.
"Annyeonghaseyo" balas Tao sopan, siapa dia? Apa orang jahat? Sunbae mesum? Pikiran negative Tao langsung muncul, ia segera menjaga jarak dengan pria itu.
"Mau lollipop?" tanya pria itu sambil menyodorkan satu buah lollipop warna-warni pada Tao. Tao menerimanya lalu menatap curiga pria dan lollipop yang ada di tangannya ini. Apa lollipop ini di beri obat bius atau perangsang? Tao melotot dengan pemikirannya sendiri, ia melirik pria di sampingnya ini yang memakan lollipop yang sama dengannya. Bisa saja lollipop miliknya tidak diberi obat sementara punyanya diberi obat.
Tao segera berdiri dari duduknya dan begegas pergi, tapi pria itu menarik lengannya untuk kembali.
"Kau mau kemana? Aku ingin ngobrol, sepertinya kau ada masalah" ucap pria blasteran itu, Tao menggeleng.
"Ceritakanlah" ucap pria itu sekarang ia mulai memegang pundak Tao tapi rekasi Tao agak berlebihan, ia berteriak kencang, mengatai pria di hadapannya mesum terakhir menendang selangkangan pria itu cukup keras.
Flashback End
Tao menjerit tertahan mengingat orang itu, orang bernama Kris itu. "KYAAA!" Tao menutup mulutnya ia segera merangkak menuju semak-semak untuk bersembunyi. Kris yang mendengar suara teriakkan dari arah belakang menoleh, tapi mata hitamnya tidak menemukan apapun.
"Siapa? Sepertinya itu suara seseorang, siapa ya?" gumam Kris, ia beralih pada alat-alat wushu ini, Kris berpikir mungkin ini milik orang yang berteriak tadi.
Tao terus merangkak berusaha menjauhi tempat Kris tadi, semoga Kris tidak melihatnya. Tao sangat malu mengingat kejadian itu. "Chakkaman, dia Kris dari VVIP berarti… DIA SEKELAS DENGANKU!" teriak Tao lantang dan keras. Kris yang mendengar suara teriakan yang sama persis segera berjalan ke arah suara itu.
Tao memukul mulutnya sendiri, Tao kembali merangkak menajuhi tempat itu lalu menyembunyikan tubuhnya di balik semak-semak yang tinggi.
Seperti dugaan Tao, Kris ada di tempatnya tempatnya tadi.
"Kaki" gumam Kris melihat kaki yang menyembul keluar dari balik semak-semak. Kris menghela nafas lalu menghampri semak-semak itu dari belakang.
"Sepertinya aku salah dengar, lebih baik aku pergi" ucap Kris memancing orang yang bersembunyi darinya itu untuk keluar. Tao yang terlalu bodoh percaya, ia menghela nafas lega lalu keluar dari semak-semak itu.
"Kau pemiliknya?"
"KYAA!" Tao berteriak kaget mendengar suara Kris ada di belakangnya, ia menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah dan melihat Kris menatapnya dengan tongkat wushu milik Tao ada di tangan kanannya.
"Nde, Gomawo" ucap Tao dengan nada gugup dan kepala tertunduk ke bawah menerima tongkatnya kembali.
"Chakkaman" cegah Kris melihat Tao yang berniat lari, Kris menelusuri wajah Tao yang rasanya tidak asing di matanya. Kris mendekatkan wajahnya pada Tao lalu membaca name tag yang ada di seragam Tao 'Huang ZiTao'. Kris menjetikkan jarinya mengingat orang yang ada di hadapannya ini, pria yang mendang selangkangannya satu tahun lalu.
"Kau orang yang menendang selangkanganku?" tanya Kris, Tao melotot kaget karena Kris masih mengingatnya. Tao segera menggeleng kuat.
"Anniyo! Kurasa kau salah" elak Tao sambil tertawa menutupi rasa malunya, Kris ikut tertawa membuat Tao berpikir mungkin Kris percaya.
"Hahaha… Nde, aku rasa aku benar" ucap Kris kembali dengan wajah dinginnya yang masih diingat jelas Tao. Tao gelapan mendapat tatapan tajam serta wajah dingin itu.
"Anniyo! Yang menendangmu itu saudara kembarku, dia sudah kembali ke China" ucap Tao bohong, Kris menggeleng lalu memutar-mutar tubuh Tao.
"Kau Tao, Tao yang menendang selangkanganku" ucap Kris membuat Tao semakin gelagapan, tentu saja elakannya tadi kentara sekali bohong.
"Xi Songsaenim ada di belakang" ucap Tao menunjuk ke arah belakang Kris, bodohnya Kris karena dirinya tertipu oleh Tao. Tao tidak menyianyiakan kesempatan ini ia segera berlari sekencang-kencangnya menjauhi Kris.
"Aku sekelas denganmu"
.
.
Pria yang membuat Jongin merasa malu, Chanyeol sedang di perpustakaan membaca buku-buku pelajaran yang sangat tebal.
"Kau sendirian?" tanya D.O yang baru datang ke perpustakaan ia segera menghampiri Chanyeol begitu melihatnya. Chanyeol mengangguk sekilas lalu meminum soda yang ada di samping buku-bukunya. D.O tersenyum sekilas lalu memilih duduk di hadapan Chanyeol.
"Kau mau apa?" tanya Chanyeol datar tanpa mengalihkan sedikit pandangannya dari buku-buku tebal berisi rumus-rumus kimia.
"Ne?"
"Kau mau apa? Kenapa duduk di situ?" tanya Chanyeol lagi. D.O tersenyum sekilas lalu menunjukkan buku yang sedang dia baca.
"Membaca buku" jawab D.O.
"Selain itu, Do Kyungsoo?" tanya Chanyeol kali ini menatap mata bulat D.O. Dirinya sudah tahu tentang gossip yang mengatakan kalau D.O menyukainya, tapi Chanyeol tak menghiraukannya ia memilih bersikap tak acuh terhadap D.O.
"Kau sudah tahu bahkan kau sudah paham"
"Tapi aku tidak, Kyungsoo"
"Apa kau benar-benar tidak bisa belajar sedikit saja?" tanya D.O kali ini dengan mata berkaca-kaca, jujur saja ia sudah lelah bersikap biasa saja-saja dan mengalah untuk diam.
"Tidak bisa" jawab Chanyeol sambil mengenggenggam tangan D.O.
"Kau tidak bisa karena kau tidak pernah mencoba, kau tidak pernah mencoba membuka hatimu" D.O melepas genggaman tangan Chanyeol lalu berjalan keluar perpustakaan. Chanyeol menghela nafas berat, ia menyandarkan kepalanya ke belakang, dirinya benar-benar pusing dengan sikap D.O seperti itu.
Chanyeol takut untuk memulai sebuah hubungan meskipun itu hanya sebuah pacaran, trauma perceraian orangtuanya membuatnya takut untuk memulai.
.
.
Taemin menatap namja yang baru saja mengantarnya pulang sekolah dengan tatapan lembut dan manis. Namja itu- Choi Minho, teman sekelasnya yang sangat tampan dan tidak kalah pintar dengannya.
"Gomawo, Minho" ucap Taemin dengan semburat merah muda menghiasi kedua pipi bulatnya yang menambah kesan imutnya. Bisa dilihat dongsaeng Kim Jongin sedang jatuh cinta.
"Taemin, aku mempunyai permintaan" ucap Minho sambil menggenggam kedua tangan namja imut ini. "Kau mau kencan denganku?" Taemin membulatkan matanya terkejut mendengar ajakkan Minho yang menurutnya tiba-tiba. Taemin sudah menebak kalau Minho memiliki perasaan yang sama dengannya, dan ternyata benar.
"Bukan kita berdua saja, aku akan mengajak Kakak sepupuku. Seperti double date" ucap Minho, Taemin mengangguk membuat Minho bersorak senang.
"Baiklah, aku pulang dulu. Aku akan memberitahumu besok pagi dimana tempatnya, bye" Taemin mengangguk dengan senyum manis yang membuat Minho ikut tersenyum.
"Chogiyo Minho" Minho yang bersiap menaiki sepedanya berbalik mendengar Taemin memanggilnya. "Ne?" Taemin mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Minho.
"Good Night" Minho tersenyum lalu mengendarai sepedanya pulang dengan senyum dan bunga yang terus bermekaran dimana-dimana. Taemin tertawa kecil melakukan first kiss nya diusia 15 tahun, Taemin tidak menyadari sepasang mata menatapnya jengkel dan marah, pemilik mata itu-Jongin menghampiri adiknya lalu memukul punggung mungil adiknya berkali-kali.
"Appo! Appo! Kim Jongin!" adu Taemin sambil menghindar dari Jongin yang sepertinya akan semakin brutal.
"Bagus! Bagus! Kau sudah besar ya! Ciuman, ciuman, ciuman dan ciuman saja yang ada di pikiranmu! Kau tidak punya malu mencium namja di depan umum?!" marah Jongin sambil menoyor-noyor kepala Taemin, Taemin menatap Jongin jengkel lalu berteriak kencang.
"YA! Aku menyukainya, dia juga menyukaiku!" balas Taemin, Jongin berdecih, ia mencubit bibir Taemin agar berhenti berteriak.
"Bagus, kau berani membantahku! Kau memang tidak punya malu!" marah Jongin, Taemin melepas tangan Jongin yang mencubit bibirnya.
"Memang aku saja?! Kau juga tidak punya malu, kau menyebut dirimu murid SMA tapi kau mendapat peringkat paling rendah tiap semester, bahkan kau tidak ingat pelajaran SMP! Kau yang seharusnya malu, mana ada yeoja atau namja yang mau denganmu!" Jongin semakin naik pitam mendengar ejekkan dan makian Taemin yang membuatnya sangat tersinggung.
"KIM TAEMIN! KAU BILANG APA?!" bentak Jongin dengan suara lantang dan keras. "Sekali lagi kau mengataiku seperti itu aku akan mengHWAAAAK MU!" ancam Jongin dengan mulut terbuka lebar seperti ingin menelan Taemin. Taemin yang sama sekali tidak takut menginjak kaki Jongin lalu berlari masuk.
"DASAR KIM JONGIN BABBO!" maki Taemin sebelum masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jongin yang meringis kesakitan.
"Dia itu menurun dari siapa?" gumam Jongin. Dia tidak sadar kalau sikap adiknya itu sangat mirip dengannya, Jongin berjalan masuk dengan tertatih-tatih karena kakinya yang baru terinjak sangat nyeri, injakan Taemin sangat kuat.
.
Taemin menatap pantulan dirinya yang sedang mencoba beberapa pakaian yang akan ia kenakan untuk kencan pertamanya besok. Tapi ucapan Minho beberapa jam lalu membuatnya berhenti memilih pakaian.
"Double date? Aku mengajak siapa, kalau dia mengajak kakak sepupu berarti aku harus mengajak… Kim Jongin" gumam Taemin, ia melempar pakian yang hendak ia coba ke Kasur. "Kau harus membantuku"
.
Jongin menatap kaki indahnya sedih, kaki yang awalnya berwarna eksotis itu sekarang berwarna merah kebiruan karena injakan Taemin.
"Dasar! Kakiku"
KRIEET
"Hyung~~" Jongin kenal suara dan nada itu. Suara Taemin dan nada suara yang dikeluarkan jika ia ada maunya.
"Wae? Aku tidak bisa mengerjakan PR mu" ucap Jongin lalu menarik selimutnya, Taemin naik ke atas tempat tidurnya lalu menyingkap selimut Jongin.
"WAE?!" tanya Jongin kesal. Taemin memegang memar di kaki Jongin lalu mulai membasuhnya dengan air hangat. "Kau mau apa?" tanya Jongin yang jijik melihat wajah adiknya yang sok imut, wajah yang akan ditampilkan jika menginginkan sesuatu.
"Besok akhir pekan… aku akan berkencan dengan namja tadi" ucap Taemin pelan.
"Jadi?"
"Dia mengajak double date, dia akan membawa kakak sepupunya. Kau maukan?" tanya Taemin membuat Jongin terkejut, ia menyingkirkan kakinya dari tangan Taemin lalu membuang wajahnya.
"Hyung~~" rengek Taemin sambil mengguncang-guncang tubuh Jongin.
"Naega wae? Aku tidak suka kencan" tolak Jongin, Taemin cemberut mendengar penolakan Jongin.
"Jebal~~ Hyung~~" rengek Taemin dengan puppy eyes yang ia luncurkan, sebisa mungkin Jongin tidak melihat wajah adiknya segalak-galak dirinya Jongin mempunyai rasa sayang dan tidak tega.
"Hyung~~~" rengek Taemin sekali lagi. Jongin menghela nafs pasrah, kepalanya ia anggukan membuat Taemin tersenyum senang.
"Gomawo, Hyung~~"
"Nde, tidurlah" ucap Jongin lembut sambil mengusap rambut Taemin sayang. "Geure" balas Taemin lalu berlari keluar dari kamarnya dengan ceria. Jongin tersenyum kecil lalu menarik selimutnya kembali.
.
.
.
Jongin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dengan tidak sabaran, pacar namdongsaengnya ini terlambat 15 menit.
"Namjachingumu, terlambat!" ledek Jongin, Taemin cemberut mendegar ledekkan Jongin tentang Minho. Jongin bangun dari duduknya membuat Taemin terkejut.
"Kau mau kemana?" tanya Taemin,
"Toilet" jawab Jongin singkat.
.
Jongin kembali dari toilet mengernyit melihat dua orang sudah duduk di hadapan Taemin, pasti itu namjachingu Taemin dan kakak sepupunya.
"Minho, itu Hyungku namanya Kim Jongin" Jongin terkejut melihat kakak sepupu namjachingu Taemin yang bernama Choi Minho.
"Annyeonghaseyo Park Chanyeol imnida" Jongin menutup mulutnya terkejut melihat pria yang tidak asing lagi di matanya. Chanyeol tersenyum lebar melihat ekspresi Jongin yang menurutnya lucu itu. menjalaninya terlebih dulu dan perjalanan dari kisah klise dan klasik dimulai.
To Be Continue
(Next Chapter)
"KENAPA BISA KEPALA! ITU EKOR!"
"Dia sekelas dengan kita"
"Daebak"
"Chan gila itu di posisi ketiga aku pikir di posisi kedua ternyata aku salah, dia sangat angkuh, sombong, menyebalkan dan tidak tahu malu. Selain Chan gila, Chan tidak tahu malu cocok"
"SEMUA DIAM!"
"Gwenchana… Gwenchana… Gwenchana"
