II

Kertas dan Bunga

Warning: spoiler untuk ending


Origami adalah keahlian Lailah—merupakan sebuah fakta yang bisa dipahami dengan mudah bila melihat pilihan senjata seraph itu. Selain itu sang seraph yang bersangkutan acap kali membuat berbagai origami artistik di kala senggang saat shepherd mereka dan squirenya beristirahat, sekedar pengisi waktu dan menghilangkan bosan.

Mikleo dan seraph lainnya cukup suka melihat Lailah bekerja. Tangannya dengan cekatan melipat dan menekuk lembaran kertas hingga menjadi bentuk yang sama sekali lain. Kadang Edna menantang Lailah untuk membuat bentuk tertentu yang dipenuhi oleh si seraph api dengan senang hati—walaupun origami naga yang terakhir agak berlebihan menurut Mikleo.

Lailah sendiri sempat mengajarkan Mikleo origami. Ia bisa membuat beberapa bentuk, kendati tidak serapi milik Lailah. Sorey pernah minta diajari, tapi shepherd itu menyerah setelah beberapa percobaan yang berakhir membuat bangau yang tak pernah bisa simetris. Mikleo sendiri belakangan ini berkutat dengan origami baru yang diajarkan Lailah, origami bunga.

Sorey pernah bercanda saat melihatnya. Katanya andaikan membuat surat dengan bentuk seperti ini, pasti orang-orang tak akan menyangka kalau di dalamnya tertulis sesuatu yang penting karena bentuknya seperti pajangan. Saat itu Mikleo hanya tertawa hambar dan menyanggah karena kalau surat ditulis dalam bentuk begitu, bisa-bisa nanti tulisannya tak terbaca karena lipatan kertasnya.

.

.

.

.

.

.

'Sorey,'

.

.

.

.

.

.

.

Itu sudah terjadi seratus tahun lalu.

.

.

.

.

.

.

.

'Lailah dan Edna berhasil membersihkan wilayah Plitzerback Wetland dan Lhitwerg Woods dari hellion. Zaveid juga bilang dia sudah separuh jalan mengurus volgran forest. Aku baru selesai dengan Mabinogio Ruins. Kami merencanakan bertemu di Camlann sebentar lagi.

Apa kau bisa merasakannya? Aku tidak tahu karena selalu berkutat dengan hellion, tapi baik Uno maupun Sindra bilang rasanya mereka bisa bernapas jauh lebih lega dari biasanya. Lailah sudah mendapatkan shepherd baru. Dia masih hijau, tapi kurasa Lailah akan bisa mendidiknya.

Dia akan jadi shepherd yang hebat, Sorey. Aku bisa merasakannya. Dia sepertimu. Usahamu tidak akan sia-sia. Perlahan, tapi aku yakin semuanya akan berbalas.

Aku merindukanmu. —Mikleo'

Mikleo meletakkan pena dan sekali lagi membaca kalimat yang ditulisnya. Dia meniup kertas itu pelan, berusaha membantu mengeringkan tintanya. Ia tersenyum puas saat melihat tinta hitam itu tidak menembus permukaan kertas berwarna biru sebelum mulai melipatnya. Tangannya bergerak dengan terlatih hingga kertas itu menjadi origami bunga. Mikleo lalu memberikan mananya pada origami itu, menyimpannya seperti dia menyimpat tongkatnya.

Pada akhirnya, dia mengikuti ucapan setengah bercanda Sorey. Edna menertawakannya saat ia melakukan itu pertama kali. Tapi dia tetap saja melakukannya, apalagi ketika Lailah bilang ini sedikit membantu. Mikleo selalu menuliskan surat pendek, melipatnya menjadi bunga, lalu menyimpannya dengan mana. Berkali-kali, setiap ada kesempatan, lalu ketika dia mampir ke Elysia untuk mengecek segel Camlann dan mengunjungi Sorey, dia meletakkan semuanya dalam rumah Sorey.

Mikleo sendiri tidak yakin apakah semua bunga-bunga kertas itu akan dibuka dan suratnya dibaca. Dia sendiri tak yakin apa tujuannya atau sampai kapan dia akan melakukan semua ini. Tapi sementara itu, dia akan tetap melanjutkan hal ini. Setidaknya, meskipun tak berguna dan menghabiskan kertas, dia bisa menumpahkan semua perasannya dan memorinya tak akan tergerus waktu.

Dan mungkin, suatu saat nanti dia bisa duduk dan membuka semuanya, lalu membaca isi surat itu dan menertawakan kemelankolisannya dulu. Mungkin bersama kawan-kawannya, mungkin sendiri. Atau mungkin bersama orang yang seharusnya menerima surat itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua ratus tahun dan dua ratus sembilan belas ribu seratus empat puluh empat origami bunga kemudian, dua seraph datang ke Elysia. Bergandengan tangan dengan senyum sumringah. Dua bulan kemudian, beribu lembar surat sudah terbaca dan tertumpuk rapi. Seraph yang lebih muda meletakkan kertas terakhir di atas tumpukan kertas beraneka warna dan beraneka kondisi.

"Wow," gumamnya. "Aku tidak percaya butuh waktu dua bulan menyelesaikan semua ini."

"Dua bulan untuk jatah sekian tiga ratus tahun lebih sedikit, kubilang sudah termasuk cepat," sanggah seraph satunya. "Oh iya, ini yang terakhir."

Di atas tangan seraph itu ada sebuah origami bunga. Seraph yang lebih muda mengambilnya dan membukanya dengan senang.

Di dalamnya tertulis; 'Selamat pulang kembali, Sorey'