(Warning: This chapter contain sexual content)

.

.

.

A new email received

Sebuah notification dari email pribadinya muncul pada layar henfon canggih yang dia abaikan sejak sore hari, mengingat kerjaannya yang menumpuk bahkan hingga larut malam begini. Tangan kanannya terjulur mengambil benda tipis yang sekarang menjadi terang karena adanya pesan itu.

'Lihat apa yang kudapat hari ini…'

Cuplikan pesan yang terlihat di menu emailnya mengundang kernyitan dahi Yifan. Dengan segera jempol jari besarnya meng-klik pesan tersebut, yang ternyata ada attachment berupa gambar menyertai.

"OH SHIT! Beraninya dia berpose seperti pelacur kelas atas begitu." Gambar yang termuat dalam email yang diterima Yifan adalah foto Zitao sedang menungging diatas kasur, kedua tangannya masing-masing menarik dan membuka lebar lubang kemerahan dengan cairan putih yang terlihat meninggalkan bekasnya dari celah pantat hingga ke sprai, serta memasang ekspresi sayu seperti sedang horny kekurangan penis-penis besar.

'…bagaimana kalau Paman menerima tawaranku waktu itu?'

.

.

.

.

VORACIOUS

Huang Zitao, Oh Sehun, Wu Yifan

Boys' Love / Explicit Sex / NC-21 / OOC / Pedophil / Smut / Threesome / Toys

Semuanya milik yang punya kecuali cerita punya aku

'Zitao suka berbagi, apapun termasuk berbagi kehangatan di ranjang kekasihnya. Sekaligus ranjang Daddynya. Dan bermain lembut bukanlah gaya mereka.'

.

.

.

.

"Daddy perlu kujemput tidak? Sehun juga sedang free hari ini."

Hari yang ditunggu pun tiba, Yifan siap terbang kemana si pelacur kecilnya itu berada. Bahkan saat mendengar Zitao menelfonnya saja, bulu romanya sudah merinding dan otaknya tidak bisa berfikir rasional. Benar-benar ajaib!

Sejak hari dimana Yifan mendapati gambar Zitao yang mengundang nafsu itu, berjalan 3 hari berikutnya dia harus puas merasakan kelicinan tangannya sendiri. Tidak mudah menahan nafsu disaat posisinya sedang jauh dengan Zitao. Penisnya harus bisa beradaptasi dengan kekasaran pijatan Yifan dan bersabar menanti tempat yang seharusnya bisa dia singgahi.

"Tidak perlu Zi, Daddy masih ada urusan. Ya sudah, sampai nanti ya sayang." Henfonnya segera ia matikan, langkahnya dipercepat saat pemberitahuan sudah menyapa sejak Zitao menelfon.

'Sehun tentu saja free. Mana mau dia melewatkan tawarannya sia-sia'

.

.

.

Sebuah toko medium dipinggiran tengah kota yang cukup mencolok dengan nuansa merah hitam, mendisplay manekin-manekin utuh dengan pakaian yang cukup normal, dimana tempat inilah yang dari dulu Yifan ingin kunjungi. Mau tau toko apa?

Di desain seperti toko baju pada umumnya, namun didalamnya juga menjual berbagai macam sex toys, blow up dolls atau sex dolls, kondom, bondage items, vibrators, lubes, buku tutorial sex dan bahkan ada dancer pole. Malah sebenarnya baju-baju di bagian depan hanyalah kedok belaka.

That's right! An adult gift shop. They've everything you need to spice up your sex life!

Perasaan Yifan senang bukan kepalang, matanya berbinar penuh makna memandang takjub pada apa yang tersaji di depannya. Backwall, sebuah rak yang disetting menempel pada dinding itu menata mainan-mainan berbagai warna, ukuran dan kegunaan dengan apik.

Yifan mendekati backwall yang memasang berbagai macam dildo dalam kemasan kaleng tembus pandang. Matanya mulai menjelajah pada satu persatu benda terbungkus itu, mengamatinya jeli-jeli hingga menemukan satu yang menarik. Sebuah dildo jumbo bervibrator sewarna dan berbentuk menyerupai penis asli bahkan lengkap dengan dua bola yang menjadi batas dildo tersebut.

'Angled shaft means targeted g-spot stimulation' Aha! Inilah yang dicari Yifan, segalanya terpenuhi dalam satu benda: panjang, bisa bergetar, dan mirip penis asli. Yifan tidak sabar untuk memasukkannya paksa pada lubang Zitao nanti.

"Permisi… ada yang perlu dibantu Tuan?" Sebuah suara mengagetkan fantasi sesaat Yifan, kepalanya ia tolehkan ke asal suara, menjumpai seorang pramuniaga yang terlihat polos dan sepertinya masih dibawah umur. Belum sempat menjawab, si pramuniaga membawanya ke sudut lain didalam toko. Saat mengikuti langkah lelaki didepannya ini, Yifan mengedarkan pandangan ke seluruh toko yang ternyata sedang sepi pengunjung.

"Nah, ini adalah buku menu berisi apa-apa saja yang tersedia disini. Ada keterangan cara pakainya juga bila anda masihlah minor, Tuan." Senyum lelaki itu terkembang saat menyebut kata 'minor' pada sosok Yifan. Mana mungkin dengan perawakan tegap, gagah dan tampan Yifan bisa dikatakan minor?

"Terima kasih, dan interupsi satu hal. Aku-bukanlah-minor!" Yifan membuka satu persatu halaman pada buku menu yang mirip seperti majalah pada umumnya. Matanya fokus membaca daftar isi yang sebagian besar cukup menyita kewarasannya juga.

"Hehehe… aku bercanda Paman. Pasti pasangan Paman sangatlah cantik, sexy dan nakal. Paman saja sampai mampir ke tempat ini." Goda lelaki itu dengan satu alisnya terangkat, kemudian tangannya membolak-balik buku menu yang sempat dia ambil dari dalam laci meja dibawahnya itu.

"Yah begitulah, dia cu—"

"Paman, kusarankan membeli paket ini saja. Dijamin puas! Paman bisa pegang kata-kataku." Pramuniaga itu menyela omongan Yifan dengan tutur kata yang cepat dan semangat, sambil menyodorkan buku menu bertitle 'DESTROY HIS ASS' di halaman agak akhir. Disitu tertulis paket lengkap dengan harga tercantum pada sebelah gambar barang yang dimaksud.

"Itu edisi terbaru kami, Paman. Sudah banyak yang memesan, dan beberapa review dari customers yang sudah mencoba sungguh positif."

.

.

.

Hari ini Zitao dan Sehun berjalan-jalan layaknya pasangan kekasih yang normal, kecuali sebuah dildo bening kecil panjang dilengkapi vibrator yang menempel pada celana dalam Zitao, dan remotenya itu dipegang oleh Sehun yang terkadang dinyalakan tiba-tiba pada level maksimal. Kurang baik apa coba kekasihnya itu?

Karna Zitao tidak mau menanggung resiko terlalu besar, dia mengajak Sehun menonton bioskop yang menayangkan film action. Seat yang dipilih Zitao berada di pojok kanan atas, menghindari berdekatan dengan orang lain agar tidak menganggu saat desahannya mengalun selama film diputar nanti.

"Rileks saja sayang." Tangan Sehun sedari tadi mengelus lembut paha Zitao sejak memutuskan tempat mana yang akan mereka duduki. Gggrrr! Bunyi getaran dildonya sampai ke telinga Sehun. "Euungghh se.. hun matikan du- lu nggh…" Yang hanya dibalas smirk dan kecupan singkat pada hidung Zitao.

Satu persatu orang-orang mulai menduduki seat mereka dan untungnya dihari kerja ini masih banyak tempat kosong, begitupun dengan satu deretan dan deretan depan dari seat yang mereka duduki juga kosong. Zitao merengek manja pada Sehun supaya memperhatikannya, bukan malah sibuk menyemil popcorn.

"Huuun… turun akh kan pleaseee.. volumenya! Hun-ah!" Lubang Zitao tidak kuat menerima getaran ini terus-menerus. Seseorang harus menggeplak kepala berpasir Sehun agar setidaknya paham keadaan kekasihnya. Kedua tangan Zitao tak henti memegang erat pinggiran kursi dengan mata yang terpejam menahan pergerakan dari bawah tubuhnya.

Zitao bersumpah akan mencincang habis benda panjang kebanggaan kekasihnya bila tetap mempertahankan volume maksimal pada dildonya. Apalagi dengan adanya cock ring yang disumpalkan Sehun setelah percek-cokan panjang. Zitao lebih memilih dihajar habis penis-penis berukuran monster ketimbang menikmati waktu berharganya dengan sex toys.

"Oh Sehun sialan, matikan dildo ini atau kita putus! Euuunggghh… shit!" Kerah baju Sehun ia tarik-tarik paksa hingga kekasihnya tersedak popcorn yang baru dikunyahnya.

"Uhuuk uhuuk, yah bitch jangan berkata sembarangan!" Zitao tersentak mendengar bentakan Sehun ditengah percakapan serius pemain film yang baru saja dimulai. Secara tiba-tiba tangannya ditarik paksa, Sehun menggandengnya terlalu erat dan menarik tubuh linglung Zitao keluar begitu saja, mengundang tatapan tak peduli orang-orang sekitar.

Sehun baru melepas genggaman tangannya ketika keduanya sudah berada di parkiran, tak lupa ia menekan tombol off pada remote kecil yang dibawanya. "Kau ini apa-apaan ha, kenapa kekanakan begini?!" baru saja Sehun mendudukan dirinya pada kemudi namun cerocosan Zitao sudah mengudara.

Tak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya yang biasanya lembut selain di ranjang itu juga. Tinggal mematikan remotenya saja apa susah, kenapa malah menariknya keluar dengan paksa, dia kan ingin menonton film itu juga. "Jangan kau ulangi perkataanmu didalam tadi, aku tidak suka mendengarnya." Ucapan Sehun sungguh kaku dan dingin bahkan menoleh pada Zitao saja tidak, jemarinya sibuk menstarter mobilnya dan meninggalkan pelataran parkir dengan kencang.

"Maafkan aku… Kau juga keterlaluan tadi, tidak taukah kalau lubangku sangat sakit?!"

"Perhatikan nada bicaramu. Kita lihat punishment apa yang cocok untuk pelacur kecil ini."

"Terserah kau sajalah."

.

.

.

Wu Yifan sudah mendapat kirimannya siang tadi, satu set perlengkapan untuk menghukum Zitaonya yang nakal. Kotak cokelat berukuran sedang tersebut ia bongkar dan mulai diperiksanya satu persatu. Sedikit banyak Yifan paham dengan kegunaan beberapa mainan ini, hanya saja apa salahnya membaca buku panduan. Padahal sebelumnya dia membantah bukanlah seorang minor.

Semua ide telah tersusun rapi dalam otaknya, tinggal mengkonfirmasinya ke Sehun dan membujuk Zitao saja. Yap, Yifan akhirnya menyetujui tawaran Sehun yang selalu ia tolak mentah-mentah. Sehun sudah lama mengajaknya threesome dengan Zitao, tentu ia tidak sudi melihat secara langsung tubuh seksi anaknya dinikmati oleh orang lain. Namun ternyata Yifan ingin mencoba hal baru juga, penasaran bagaimana rupa Zitao bila daerah kenikmatannya dieksploitasi serentak.

"Dengar, kau hanya tinggal bilang iya dan semuanya beres. Bu—" Ucap Yifan sebelum disela suara manis dari line seberang. "Daddy? Daddy kenapa tidak menelfonku saja langsung, Sehun sedang ke ka—"

"Zi… tao? Oh tutup saja telfonnya sayang, Daddy tiba-tiba ada perlu. Bye cantik!"

"O-oke bye bye Daaad."

Zitao mengernyit heran, beberapa detik lalu saat henfon kekasihnya berdering dan menemukan 'WU FUCKING YIFAN' sebagai caller id-nya, ia langsung mengangkat panggilan itu dan mendengar suara serius sang Daddy. Ini aneh, pertama, kenapa Oh Freaking Sehun kekasihnya memberi nama yang begitu kurang ajar pada kontak Daddynya. Kedua, apa hubungan bilateral mereka sepertinya cukup misterius.

Suara pintu berderit menyentak perhatian Zitao kearah seseorang yang terlihat segar keluar dari sana. Sehun melihat guratan samar di dahi kekasihnya itu, sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dia bertanya "Kenapa sayang? Kau terpesona padaku ya hahaha, kekasihmu ini memang tampan."

"Cih, kurus kering begitu kau bilang tampan. Tadi Daddy menelfonmu, entah apa yang dia bicarakan pokoknya serius sekali nada bicaranya."

"Begini-begini kau selalu puas dengan permainanku kan, dasar pecandu penis."

"Pembobol lubang perawan diam saja deh."

"Eh apa tadi, Paman Wu menelfon? Ckck tidak biasanya." Sehun akan memungut henfonnya yang tergeletak di kasur setelah dilempar Zitao, ketika tangan kekasihnya menghalangi. "Daddy bilang ada urusan mendadak Hun-ah."

'Sepertinya setelah ini akan ada pesta besar hahaha'

.

.

.

"Ehmm… emmhh… ehm…hm"

Terlihat seseorang mencoba berontak dari posisi sulitnya kini. Berada ditengah ruangan terang yang kosong tanpa ada perabotan apapun kecuali king size bed, meja kerja berukuran sedang di pinggir ruangan dan sebuah sofa merah berseberangan tepat menghadap kursi yang mengikat seseorang tadi.

Keadaannya terikat di kursi empuk yang hanya cukup untuk satu orang. Kedua tangannya menyatu di belakang kursi terlilit tali yang mirip tali tampar, begitupun kakinya dilebarkan sedemikian rupa yang masing-masing terkangkang hampir mendekati dadanya dan terjerat tali-temali pula. Mempertontonkan dengan apik daerah-daerah terdalamnya pada dunia.

Penglihatannya ditutup dengan masker hitam lalu mulutnya disumpal bola berwarna merah dengan kaitan hitam memutari kepala. Dia mengenakan lingerie seksi berbentuk korset yang hanya menutupi sampai separuh dada, putingnya yang mungil itu terpampang jelas begitu saja. Kaki jenjangnya terbalut lace stocking hitam hingga setengah pahanya dilengkapi garter belt, sabuk seperti suspender yang berguna untuk menarik stocking agar tidak melorot, yang menyatu dengan bawahan korset tadi. Juga sepasang stiletto merah darah ikut dipakainya. You're so nasty babe!

Lelaki terikat itu bagaikan sebuah hidangan di jamuan pesta besar, diperhatikan sedemikian rupa oleh 2 lelaki tampan yang gagah menggunakan setelan jas hitamnya lengkap dengan pantofel yang mengkilat di sofa seberang. Satu lelaki diantaranya merekam sang hidangan yang sedari tadi tidak berhenti bergerak-gerak.

"Diamlah slut. Jaga stamina saja, foreplay bahkan belum dimulai." Suara bass salah seorang laki-laki menginterupsi pergerakan Zitao, seseorang yang diikat di kursi dan dijadikan hidangan bagi 2 pria tampan.

"Eeeuuunggghh…"

"Sepertinya pelacur kita ini tidak sabar untuk disentuh Paman hahaha." Kamera perekamnya ikut bergoyang kecil saat Sehun mendengungkan tawa keras hingga menusuk telinga Zitao.

Zitao merasa takut akan keadaannya sekarang, tak pernah terpikirkan olehnya kalau Daddy dan kekasihnya berencana untuk menyetubuhinya bersama. Bukannya dia tidak suka, hanya saja dengan masing-masing akan terasa lebih private dan ekslusif.

"Sehun, sebutkan rules kita pada permainan ini." Itu suara Daddynya, dia bisa mendengarnya jelas dengan mata tertutup begini. Zitao merasa permainan kali ini akan memberatkan dirinya dan sangat menyenangkan bagi mereka.

Sehun berdehem sebentar, "Disini kita berperan sebagai bos dan a whore. A whore harus menuruti semua perintah si bos tanpa bantahan apapun. Tidak ada kata kunci dan tidak ada safeword."

Tidak! ini tidak adil, tapi apa yang bisa diperbuat Zitao dengan keadaannya yang seperti tersangka begini. Zitao ingin protes mendengar penuturan kekasihnya, terutama kalimat yang terakhir. Safeword selalu ada setiap kali dia bercinta dengan Sehun maupun dengan Daddynya, meski yang mereka lakukan hanyalah BDSM ringan.

Sebuah benda panjang menyentak keterdiaman Zitao, memaksa masuk ke dalam lubangnya yang tentu saja masih sempit, tidak ada foreplay apapun dari mereka. Sungguh kejam, dia tidak pernah sekalipun bermain kering seperti ini. Punishment kali ini benar-benar menyebalkan.

"Ehmmmhh…" 'Mereka benar-benar ingin menyiksa lubangku'

"Maaf cantik, lubangmu harus kita paksa menelan dildo besar ini tanpa pemanasan." Geraman keluar dari mulut bergag-ball Zitao, pantatnya coba ia goyang-goyangkan menghalau usaha entah siapa itu yang mendorong paksa benda terkutuk kedalam tubuhnya.

"Fuck! Jangan banyak bergerak asshole, aku tau lubangmu itu juga ingin merasakannya." Cekikikan kedua lelaki ber-jas itu semakin menggetarkan hati Zitao. Dia tidak mau seperti ini sungguh, bagaimana nasibnya nanti setelah digagahi 2 orang berjenis pikiran sama itu. Apa dia sanggup men—

"EUUUNGGHH… hmmm…" Sakit sekali, benda itu akhirnya masuk keseluruhan membobol paksa dirinya. Dia ingin berteriak, tapi tolong enyahkan gag-ball itu dari mulutnya dulu. Dua orang tercintanya sungguh tega melakukan hal ini kepadanya. Sebegitu parahkah kesalahan Zitao hingga dia harus menerima konsekuensi ini?

Ggggrrrrr!

'Selalu bervibrator oh God ampuni'

"Well, whore kita ternyata sudah pasrah dengan keadaannya Hun. Mau mencoba sesuatu padanya hm?" Tawar Yifan baik, dia mulai menikmati permainan yang dirancangnya ini.

Yifan kembali duduk ke sofa dengan gerakan santai dan berwibawa. Cukup menyaksikan apa yang akan diperbuat Sehun pada anak tercintanya saja, menunggu gilirannya tiba. Yifan tiba-tiba tersenyum kecil mengingat bagaimana semua ini bisa terealisasi, meski Zitao tidak berada diposisi yang menguntungkan.

Bukan masalah siapa yang diuntungkan sekarang, dia mengerti betul perihal kesukaan Zitao. Beberapa saat lagi pasti anaknya itu akan mendesah tak karuan dan memelas ingin ditusuk benda-benda besar nan panjang ke dalam lubangnya. Bagaimana pun juga, Zitao bukanlah anak yang baru melakukan seks 1 atau 2 kali. Sudah tidak terhitung berapa banyak penisku dan penis Sehun membombardirnya. Kegiatan seperti ini sudah berlangsung sejak setahun lalu, baik untuk Sehun maupun untukku.

Sehun perlahan meletakkan kamera perekamnya diatas meja, memposisikannya dengan benar sebelum mengecek apa semua daerah di ruangan ini bisa dicapai kameranya. Kemudian dengan senyum terkembang, dia menghampiri kekasihnya yang benar-benar membuatnya ingin langsung klimaks saja. Bagaimana tidak, Zitao didepannya ini bagai seorang Aphrodite penebar feromon seksual yang sanggup meluluhkan semua tingkat kesadarannya.

Melihat Zitao memakai outfit bak wanita jalang tadi saja sudah membuatnya horny sekali, namun akalnya masih sehat untuk menahan diri dari pesona kekasihnya. Dia mati-matian untuk tidak langsung menyergap Zitao dan membawanya untuk diri sendiri. Kesepakatan dengan Paman Wu tidak mungkin ia khianati karna dia sendiri yang menawari itu, meski di hati kecilnya terselip rasa tidak rela.

Satu sentakan pada masker penutup mata dan satu lagi pada gag-ball dimulut Zitao, Sehun menyingkirkan dua benda yang menurutnya mengganggu itu. Dilihatnya dengan seksama Zitao sepertinya ingin meneteskan air mata mencoba menyesuaikan diri dengan terangnya keadaan sekitar.

"Keluarkan desahan sluttymu untuk kami. Kau dengar itu kan sayang?" Dengan itu Sehun membawa sebuah nipple clamp—penjepit puting dengan rantai yang menghubungan penjepit di kedua puting tersebut, yang apabila rantai ditarik akan sekaligus menarik kedua puting itu, dan menjepitkannya pada puting mungil kekasihnya.

"AAAARGHH dasar keparat kalian! Lepaskan aku—"

"Eit eit, seorang pelacur professional tidak membentak tuannya. Cukup mendesah dan beri kami layanan terbaikmu." sela omongan Sehun cepat. Tangannya mendorong dildo yang telah bersarang di lubang tanpa foreplay kekasihnya semakin dalam.

"Sehun, pasangkan cock ring bening padanya. Pelacur itu tidak bisa dijinakkan ternyata." Sehun memberikan smirk kearah Zitao sebelum menghampiri kotak cokelat diatas meja. Dia menemukan 3 cock ring dengan warna bening tapi berbeda bentuk. "Yang mana Paman?" seraya menunjukkan 3 benda itu kearah Yifan.

"Terserah kau saja, yang paling membuatnya tersiksa."

"Hun-ah jangaaan, a-aku benci benda itu aaahhh menghambatku aaah…" Suara memelas kekasihnya malah menjadi panggilan fuck-me-harder baginya. Alarm untuknya sudah berbunyi, dimana ekspresi memelas Zitao tertampilkan di wajah cantiknya itu.

Zitao menggeleng ke kanan ke kiri, matanya menyiratkan kekalutan akan cock ring yang mulai dipasang di pangkal penisnya. Percuma saja memohon-mohon pada seseorang yang telah terkabuti nafsu. Zitao mulai mencoba menikmati apa yang mereka perbuat pada tubuh terikatnya.

Mulut Sehun membungkam bibir merekah Zitao, menaikkan hasrat kekasihnya agar ikut menikmati permainan ini. Dengan lihai bibir cherry kekasihnya itu dilumatnya bergantian antara yang atas dan bawah sambil menyesapnya keras. Satu tangannya menarik kasar rantai yang mengikat diantara puting Zitao, menyebabkan bibir yang tertutup rapat itu menganga menghadapi rangsangan tiba-tiba di putingnya. Yang langsung dimasuki lidah Sehun menyapa ruang hangat Zitao, menjelajah pada setiap incinya, kemudian menarik ulur lidah Zitao dan melilitnya keluar.

Tangan Sehun masih tak henti menarik-narik rantai hingga putingnya tertarik semakin jauh. Zitao ingin melampiaskan gejolaknya dengan meremas rambut Sehun namun terhalang ikatan menyebalkan itu. Pertarungan lidah keduanya menyebabkan saliva mereka tercampur, karna Zitao posisinya dibawah maka saliva tersebut lebih banyak mengalir turun kearahnya hingga melewati bibirnya. Mereka masih bertahan saling membelit lidah, saat Sehun merasa kekasihnya mulai melemahkan aktivitas lidahnya dan melepas pagutan mereka.

Sehun kemudian beranjak dari posisinya yang mengangkang diatas kursi yang diduduki Zitao, seraya tersenyum pada kamera perekam seakan ada orang yang sedang menyaksikan langsung rekaman tersebut.

Yifan sangat terangsang melihat kedua pasangan tersebut bertarung lidah. Dia ingin segera merasakan mulut hangat Zitao melingkupi penisnya, memasukkannya bulat-bulat hingga menyentuh kerongkongannya. 'Shit! Kapan aku bisa berhenti berpikir kotor tentangnya'

Sehun membungkuk kearah penis Zitao, menggenggam batang lunak yang sudah keras itu pelan lalu menjilati lubang di kepala penis kekasihnya yang mulai mengeluarkan cairan kental tersebut. Desahan Zitao mengalun keras saat seluruh penisnya dilahap habis Sehun. GGGGGRRRRR!

"AH FUCK! Lepaskan cock ring—mmmppphhh." Mulut Yifan membungkam cepat bibir seksi anaknya. Sengaja ia naikkan level getaran pada dildo jumbo di lubang Zitao menjadi maksimum, agar manhole itu semakin terbuka lebar karenanya. Sebagian fantasinya terealiasasi juga melihat Zitao pasrah akan segala titik rangsangannya yang diseruduk bersamaan.

Zitao tidak bisa mengekspresikan kenikmatan yang diterimanya secara serentak begini. Selagi lidahnya bertarung dengan lidah sang Daddy dan lubang keringnya dipaksa menelan dildo yang bergetar maksimal, Sehun melakukan pekerjaan melebihi porsinya. Penisnya dijilat, dikulum dan disesap habis oleh mulut berpengalaman kekasihnya. Sensasinya sungguh menakjubkan!

Dildo hitam di anusnya itu mulai dimaju-mundurkan Sehun dengan perlahan, mulutnya tetap mengerjai penisnya yang sepertinya ingin segera klimaks. Zitao menggeram ditengah-tengah pergulatan lidah dengan Daddynya, desahan itu lolos seketika setelah bibirnya terlepas dari pagutan. Tangan Yifan kemudian menarik-narik rantai di kedua putingnya, menyebabkan desahannya makin keras memenuhi ruangan.

"Kita keinti saja, penisku ingin segera dimanja oleh lubangmu slut." Sehun menghentikan jilatannya, meninggalkan desahan kecewa dari mulut Zitao apalagi dildo itu juga ditarik paksa darinya. Yifan membuka segala ikatan di tangannya, sedang lilitan tali pada kedua kakinya dilepas Sehun dengan cepat. Kedua kakinya sudah terasa kaku sejak saat Sehun memberinya french kiss, Zitao hanya duduk saja merilekskan kakinya menanti kedua lelaki itu melepas setelan mereka.

"Punish me! I've been a really bad boy." Seru Zitao tiba-tiba, kedua irisnya terpanah melihat tubuh Daddy dan kekasihnya tanpa penutup apapun bersamaan. Dia sungguh merasa excited sekarang, lubangnya seketika gatal sekali ingin dimasuki benda panjang lagi.

"I've been waiting for this all time."

"Menungging, buka kakimu lebar-lebar." Perintah Yifan segera dilakoni Zitao. Posisinya menungging, tangannya ia tumpukan pada kursi empuk yang dipakai untuk mengikatnya tadi. Pantatnya semakin menonjol dan terlihat bulat dengan tunjangan stiletto merah itu. Nipple clamp yang menjepit putingnya dilepas Sehun kemudian digantikan oleh lidahnya yang menjilat dan menyesap benda mungil kecoklatan itu.

"Aaahhh Hun-ah lebih keras menyusunya sayang." Mendengar Zitao horny begitu, Yifan yang berniat akan memasukkan batang kebanggannya dalam sekali sentak mengurungkannya. Mungkin mendengar permohonan Zitao lebih mengasyikkan. Kepala penisnya masih ia usap-usapkan dari celah pantat Zitao keatas lubangnya, melewati bentuk garis celah itu berulang-ulang, matanya sedikit melirik kearah kamera diatas meja dan mengatakan fuck tanpa suara.

"Fuck me hard pleaseee..." Tingkah bitchynya mulai keluar, pantatnya ia dorong-dorong kebelakang menemui sang penis agar menyapa lubangnya segera.

Plak! Plak! "Ouwwhh~" Tamparan sang Daddy keras sekali di pantat kanannya. Namun elusan lembut di area tamparan tadi membuatnya mendesah kembali. "Such a naughty slut!"

Penis monster Yifan memasuki anus Zitao dalam satu dorongan kuat, berhasil menubruk g-spotnya dengan tepat. Zitao mendesah kuat setelahnya, menarik rambut Sehun keras hingga kekasihnya itu menghentikan geraknya di sekitar lehernya yang mulai dipenuhi tanda kemerahan.

"Hun, langsung saja masukkan punyamu sekarang!" Sehun tanggap dengan perintah Paman Wu, dia segera berdiri sekalian menyentak tubuh menungging Zitao menjadi tegak, dan memposisikan tubuhnya berada didepan kekasihnya. Lehernya seketika dipeluk erat Zitao yang masih menerima dorongan dari penis sang Daddy. Kaki kanan Zitao ia tarik hingga pahanya menyentuh perut berkorsetnya. "Persiapkan dirimu, kita tidak suka bermain lembut ingat."

Zitao berusaha mengalihkan fokusnya pada kamera perekam yang tak sengaja tertangkap matanya tadi. Kepala penis Sehun mulai memasuki anusnya, yang sebenarnya sudah penuh akan penis monster Daddynya. "Eungghh-mmpph" Kepala Zitao tertarik kebelakang saat mulut sang Daddy memagutnya paksa, meski tangannya masih tetap berada di leher Sehun.

Dengan perlahan batang keras Sehun memasuki lubang yang benar-benar tanpa cela itu, padahal hampir setiap hari dia menggagahi Zitao dengan bantuan toys. Sungguh sempit dan nikmat apa yang dirasakan penisnya setelah bisa tertanam sepenuhnya didalam sana. Lubang Zitao sepertinya terbuka paksa karena itu dan otot-ototnya belum bisa beradaptasi langsung dengannya jadi penis Sehun seakan diremat kuat oleh jepitan anus Zitao.

"Kalian terlalu besar, sa-kiiitt…" Air matanya menetes tanpa diminta, manholenya sangat amat penuh dengan dua penis berukuran monster itu. Belum bisa menyesuaikan diri dengan bertambahnya batang Sehun, Yifan sudah mulai menggerakkan penisnya dari belakang. Sehun kemudian ikut memaju-mundurkan punyanya juga, tidak memberi kesempatan Zitao untuk bersiap barang sebentar saja.

Desahannya seketika terlontar bebas saat kedua penis itu saling mengisi kekosongan yang ada. Saat penis Daddynya tertarik mundur, maka penis Sehun yang menghantam dindingnya hingga ke dalam-dalam. Begitu seterusnya hingga dirinya terkulai diatas pundak Sehun, yang langsung ditarik ke belakang oleh sang Daddy agar menyandar padanya.

Yifan menciumi pipi gembil itu berulang-ulang dan menggigit leher penuh kissmark Zitao sebelah kanan. Sehun tidak mau kalah, bagian leher sebelah kiri kekasihnya ia penuhi dengan kissmarknya lagi. Zitao hanya dapat merasakan kenikmatan yang tiada tara, bahkan sepertinya dia lelah mendesah terus-menerus sedari tadi.

"Rougher please… oh ooohhh yes terus…" Desahan demi desahan Zitao mengalun lantang ke seluruh ruangan, menambah panasnya kegiatan mereka. Bunyi dorongan-dorongan penis saling bertabrakan hingga pangkalnya menyentuh titik dalam Zitao juga ikut mewarnai desahannya bersama.

"OOOOHH MYYYY… disana iya oohh disana.. te-khan lag-i ooooh." Sehun menghentikan dorongannya, ia menekan ujung penisnya pada g-spot Zitao, sedang Yifan masih terus semangat menggenjot lubang anaknya itu. Tangan Sehun yang tidak memegangi kaki Zitao ia bawa ke penis kekasihnya dan mulai mengurutnya dengan cepat mengimbangi tempo tusukan penis Paman Wu.

"Cock ring Hun! Lepasss." Sehun tuli akan permintaan Zitao, dia semakin mempercepat gerakan naik-turun tangannya pada penis kekasihnya. Penisnya sendiri mulai merasa ingin memuntahkan cairannya akibat gesekan dari penis Paman Wu. Nafas Zitao makin memburu dan pendek-pendek mendekati klimaks.

"AAAAHHHHHHH."

Zitao kembali lemas ke pelukan Sehun setelah berhasil klimaks, cock ringnya sudah ditarik paksa oleh Sehun sebelumnya. Dia masih belum bisa meraup nafas dengan tenang saat kedua penis itu sama sekali belum memunculkan tanda-tanda ingin menyemprotkan isinya.

Tubuhnya kembali terguncang hebat, Sehun mulai menggerakkan penisnya kembali dengan semakin brutal. Hentakan dari Daddynya juga tak kalah kasar didalamnya dan ia ikut mendesah keras lagi karenanya.

Beberapa menit kemudian, Zitao merasa lubangnya yang sudah sangat penuh malah semakin penuh lagi. Kedua penis itu secara bersama makin membesar berdesakkan di lubangnya, ingin mengambil alih lubangnya untuk sendiri. Karna dorongan dari salah satu penis keduanya berhasil menyentuh g-spotnya, Zitao mulai kelabakan mendesah. Desahannya yang semakin slutty itu meningkatkan gejolak kedua penis itu untuk segera klimaks.

"Aku—aaaaaahhhh…" Ketiganya klimaks bersamaan, lubang Zitao tersemprot cairan putih kental mereka dalam jumlah yang banyak hingga turun mengalir ke sela-sela pahanya yang sudah lemas itu. Yifan kemudian menggendong Zitao dan membaringkannya ditengah ranjang, disusul Sehun yang ikut berbaring di sebelah kiri Zitao.

"Hari ini benar-benar menakjubkan."

"Kau benar Paman, ini pengalaman terhebat."

"Kau dua kali lipat lebih cantik dengan keadaanmu sekarang Zi."

"Aku benci memakai pakaian wanita seperti ini, kau tau!"

"Hei, pelacur tidak diperbolehkan membentak majikannya."

"Hentikan! Ini sudah selesai. Aku mau tidur."

Sehun mematikan kamera perekamnya setelah puas menampung cukup banyak oksigen kedalam parunya. Biar besok saja menontonnya bersama Zitao dan Paman Wu sekalian. Sebelum memutuskan untuk merebahkan diri dalam satu kasur itu, dia mengambil henfonnya didalam celananya tadi. Yifan juga ikut mengabadikan Zitao dengan ponselnya.

"Sstt Paman, bisa rentangkan kakinya dan tekuk salah satunya naik." Sehun berbisik ke telingan Yifan, agar tidak membangunkan Zitao yang baru saja pulas tengkurap. Yifan menghampiri kaki Zitao, menarik keduanya menjauh dan menekuk satu kaki kanannya keatas hingga lelehan cairan putih itu terlihat jelas dibelahan pantatnya. Bahkan lubangnya yang memerah itu terlihat sangat jelas bagi mereka.

"Great! Untuk koleksi pribadi kita Paman hahaha." Keduanya terkekeh pelan tentang foto Zitao, yang pasti suatu saat bisa diandalkan untuk menggertak atau menyuruh Zitao melakukan sesuatu hal.

"Sebenarnya aku belum terlalu puas, kau tau kan penis kita belum merasakan kehangatan mulutnya."

"Nanti kita bisa susun rencana lagi, Paman. Dengan foto ini apalagi."

.

.

.

.

Hari-hari setelah Zitao menikah, dirinya tak ubah seperti bitch diluaran sana yang semakin kecanduan dengan seks. Suaminya melarang dirinya memakai baju bawahan dan dalaman apapun, bahkan boxer atau celana dalam sekalipun. Zitao hanya diperbolehkan memakai loose t-shirt panjang saat dirumah.

Seperti sekarang ini, saat Zitao sedang sibuk di dapur tiba-tiba suaminya menarik-narik kaos panjangnya yang hanya sebatas pantat itu. Zitao yang paham maksud lelakinya, segera menghentikan acara memotong sayurnya dan melepas tali apron yang dikenakan. Kemudian dengan bantuan suaminya dari belakang, pakaian satu-satunya yang menghalang tubuh Zitao dicopot dan kembali mengenakan apronnya. Sudah menjadi kebiasaan saat Zitao memasak, hanya apron saja yang dipakainya.

Kegiatannya sebagai ibu rumah tangga juga tidak mampu menghentikan kekeras-kepalaan sang suami. Mau menyapu, ngepel, membersihkan kolong tempat tidur, mengambil barang di loteng, semuanya tetap dia lakukan dengan memakai satu macam pakaian saja yaitu kaos. Tentu saja, setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada saja tangan-tangan nakal yang menggerayangi pantatnya atau langsung menusukkan jarinya kedalam lubang Zitao.

"Zi, cepat sedikit memasaknya. Kutusuk lubangmu dengan enam sumpit, tau rasa kau."

"Sayang, kau mau kita menggagahimu sekarang ya. Jangan menungging begitu."

Mau cepat selesai bagaimana, Zitao bahkan baru memotong-motong sayuran dan menunggingkan tubuhnya karna mengecek keadaan kompor sudah menyala dengan benar atau belum. Kedua lelaki itu kalau belum disumpal makanan atau tidak diberi jatah memang selalu ribut mengomel padanya.

"Kalau kalian mengoceh terus, langsung berangkat kerja saja sana!"

"Bagaimana kalau rekaman threesome kita, aku sebarkan di kantor hmmm."

.

.

.

THE END

.

.

.

.

.

.

A/N

Asdfghjkl ngetik nc susah amat dah, suka sedih kadang gak ngerti harus gimana wakakak (emang abal kok akunya jadi gausa alasan lol). Kalo gak hot sori banget yaps /kemudian baca ayat kursi/

Makasih banyak cantik-cantikku yang udah review sebelumnya memeda lah pokoknya buat kalian:

Harumi Shiba0068, AprilianyArdeta, LVenge, Aiko Michishige, daunj97, Huang Minseok, rtf69, medya ulfa, Xyln, limei wu, AulChan12, November With Love, she3nn0, luphbepz, Guest, anis l mufidah.

Di review lagi dong cantik? smooch*