Lady kembali lagi dengan fic abalnya!!
gomen, lama update. terus buat tika-chan, gomen ya saya updatenya sebelum UN. habis gemes! gomeeen =.=
tapi saya harap kamu juga bisa baca sehabis UN kan? jangan lupa review. hehe ^^
okey, happy reading :D
Disclaimer : Masashi Kishimoto dan orangtua/wali Justin Drew Bieber ^^
But the story it's mine!!
Chapter 2 : Sasuke's Feeling
"Hoi, Baka Justin!!"
"Hm? Kamu Sasuke kan? Ada apa? Lalu... 'baka' itu apa?" ujar Justin se innocent mungkin.
"Hoho, innocent banget tampang loe? Enek gue liatnya!" kata Sasuke berapi-api.
"Hm? 'enek' apaan, Sasuke?" tanya Justin supeerr innocent.
"Gaaah!! Ribet ya ngomong sama loe?! You're idiot!" Sasuke menggebuk meja saking gemesnya.
"Eh? What did you say?" Justin yang merasa ia diremehkan, mulai berbicara serius.
"Deaf," Sasuke makin ngelunjak, sementara Justin mulai tak sabar.
"Heh?!"
"You're idiot!" ulang Sasuke lagi.
"Wh-- what? What do you mean I'm idiot? Who do you think you are?!" Justin mulai rada emosi. Naruto yang mendengarnya cuma bisa ngangguk ngangguk sambil buat tatapan gue-pinter-bahasa-inggris.
"Hey! So what? If you think you're perfect, that's absolutely wrong! I'm better than you!" jawab Sasuke dengan mata berkobar. Sementara yang ada disana mulai menjauh karena ketakutan, sedangkan Naruto membuat tatapan gue-pinter-bahasa-inggris.
"Ooo yeah? Prove it!" tantang Justin. Sasuke hanya menghela nafas lalu mundur satu langkah dan…
"Hoi! Semua murid Konoha High School! Menurut loe loe semua, mending gue apa si Justin ini?!" teriak Sasuke sambil menunjuk nunjuk Justin.
Semua hening...
Pingin jawab Justin, tapi takut ditinju Sasuke. Pingin ngomong Sasuke, tapi gak ikhlas dari hati jadi gak enak.
"Uhm, aku mau ke toilet!" teriak salah satu cewek dari gerombolan itu.
"Aku nemenin kamu ya! Takut kamu lupa cebok!" tambah seorang cewek lagi.
"Aduh, aku sakit gigi, pingin ke UKS!" ujar salah seorang cewek lagi.
"Ya ampun, kenapa kamu? Aku temenin ya!" tambah teman cewek itu.
"Aku juga mau ke UKS! Aku……..…. Sakit hati!" teriak salah seorang cewek lagi yang langsung melesat menuju UKS.
Zeeeeeeettttttt!!
Dalam beberapa detik kemudian, di tempat itu hanya ada Justin, Sakura, Ino, Naruto dan Sasuke sendiri.
Krik... krik…
Sasuke hanya menarik nafas dalam-dalam, sementara Justin hanya geleng-geleng kepala sambil berdecak ria.
"Sas…" Sakura berbisik hampir tak terdengar saat melihat Sasuke dengan tampang zombie facenya.
"Udah lah, aku pergi dari sini." ujar Justin seraya pergi meninggalkan tempat itu.
"GAAAAAAHHH!!!!!!!!!!" teriak Sasuke yang membuat seisi sekolah cengo mendengarnya.
***
Teng… teng…
Bel sekolah pun terdengar, tanda pulang sekolah sudah tiba. Tanpa aba-aba lagi, Sasuke langsung berlari menuju tempat parkir sekolah dan mulai menyalakan mobil Ferrari merahnya dan melaju secepat mungkin tanpa memperdulikan berpuluh-puluh pasang mata yang sedari tadi meliriknya.
-
-
Di kediaman Sasuke,
"Justin sialan. Emang dia pikir dia siapa?" geram Sasuke di atas tempat tidurnya.
Tok! Tok! Tok!
"Sasuke!" sahut suara misterius dari luar kamar Sasuke, yang tak lain adalah anikinya, Itachi.
"Apa?! Ada perlu apa kau?!" Sasuke yang moodnya lagi kacau, berusaha untuk menjawab panggilan itu walau dengan berat hati dan suara yang tak enak.
"Buka pintunya!" teriak Itachi lagi dari luar. Sasuke yang mulai tidak tahan pun akhirnya membuka pintu dengan kasar.
Bet!
"Ada apa?!" Tanya Sasuke sewot.
"Ano…"
"Kau tahu aku sedang tidak enak badan?! Tak usah menggangguku!"
BRAK!
Baru saja Itachi akan mulai bicara, Sasuke sudah menutup (baca : mendobrak) kembali pintu yang baru saja ia buka. Itachi cengo dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke lantai bawah rumahnya. Ya, kamar Sasuke terletak di lantai 2 dengan kamar Itachi di sebelahnya. Sedangkan kamar orangtuanya ada di lantai 3, kalau lantai 1, ada dapur, ruang keluarga dan banyak lagi (A/N : Keluarga Uchiha disini adalah keluarga yang sangat berada)
Drap.. drap..
Di tempat Itachi, tepatnya di ruang keluarga Uchiha,
Itachi sedang memegang sebuah telephone tanpa kabel di tangannya yang ia arahkan ke telinganya,
"Maaf, Sakura. Sasuke lagi tidak enak badan katanya,"
***
Kring...
Alarm kamar Sasuke pun berbunyi, satu-satunya orang yang mendengar suara alarm itu pun hanya mendengus kesal lalu melempar alarm itu entah kemana dan ia kembali berbaring di kasurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
10 menit kemudian,
"Sasuke! Sudah siang! Ayo bangun! Nanti kamu telat!" terdengar suara teriakan Mikoto yang tak lain adalah Okaasannya.
"Ugh… iya iya sebentar," jawab Sasuke ogah-ogahan sambil menutup telinganya dengan bantal.
"Sasuke, udah telat nih!" Mikoto kembali mengulang kata-katanya, berharap Sasuke akan bangun dan langsung bersiap-siap ke sekolah, tapi nihil.
"Sasuke!!!!" akhirnya Mikoto mengeluarkan suara terakhirnya, diikuti dengan Sasuke yang akhirnya membuka pintu tanpa menatap Okaasannya sedikit pun, karena matanya yang masih tertutup memang. Mikoto hanya geleng-geleng kepala.
Akhirnya Sasuke mengambil handuk dan bersiap untuk mandi dengan mata yang masih seperempat terbuka.
-
Sress…
"Ugh… kenapa harus masuk sekolah sih? Males amat ketemu sama makhluk baka satu itu," ujar Sasuke ditengah kegiatan mandinya.
***
Brumm…
Sasuke membawa mobilnya dengan tak ikhlas karena memang males banget dia buat masuk sekolah dan ketemu sama… ehm, cowok pujaan sekolah yang BARU. Mengingatnya saja sudah membuat Sasuke geram.
-
Singkat cerita, sekarang Sasuke sudah sampai di sekolah, yang langsung disambut hangat oleh Naruto, sahabatnya. Tapi Sasuke malah nyuekin. Air susu dibalas air comberan. Ckckck =.=
"Teme… kamu kenapa sih? Dari kemarin monyong terus," kata Naruto sambil mengikuti apa yang sedari tadi dilakukan Sasuke. Dan terjadilah lomba monyong monyongan bibir di antara Sasuke dan Naruto.
"Hn,"
"Teme… cerita dong, ada masalah apa?" tanya Naruto.
"Hn,"
"Masalah keluarga?" tanya Naruto lagi.
"Hn,"
"Masalah dengan Itachi?" Naruto tak henti hentinya bertanya walaupun ia sadar, ia dicuekin.
"Hn,"
"Atau… dengan Sakura?" tanya Naruto lagi yang masih penasaran.
"Hn,"
"Oh! Aku tau! Pasti masalah si Just---hmph!" Belum selesai Naruto bicara, Sasuke sudah membekap mulutnya.
"Jangan sebut namanya atau kubunuh kau," Sasuke memberikan deathglare yang paling mematikan kepada Naruto sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Naruto pun hanya sweatdrop sambil ngangguk ngangguk.
Akhirnya Sasuke melepaskan cengkramannya di mulut Naruto lalu pergi menuju kelas.
"Teme~~" panggil Naruto kepada sahabatnya itu. Tapi Sasuke pura pura tak mendengar dan masih berjalan menuju kelas tanpa mempedulikan Naruto.
***
Teng… teng…
Bel masuk sekolah berbunyi. Seluruh murid KHS pun masuk ke kelasnya masing masing. Di kelas, khusunya kelas 10.B, Kakashi, sang wali kelas belum masuk. Jadi seperti biasa, rutinitas di kelas 10.B ini adalah ribut sendiri dengan acaranya masing masing.
"Hai, Sasuke," sapa Sakura tiba-tiba.
"Oh? Hai, Sakura. Ada apa?"
Naruto yang melihatnya pun hanya bisa manyun, 'Sakura saja disapa ramah begitu, sedangkan aku dicuekin.' Gumam Naruto dalam hati.
"Em, tidak ada apa-apa. Aku kira kau tidak akan masuk hari ini," jawab Sakura.
"Tidak masuk? Aku baik-baik saja, tidak ada alasan aku tidak masuk hari ini." ujar Sasuke agak kebingungan.
"Ku kira kau sakit," tambah Sakura lagi.
"Sakit?" tanya Sasuke yang masih kebingungan akan keadaan dirinya sendiri.
"Ya, kata Itachi kemarin kamu sakit." Jawab Sakura meyakinkan.
"Itachi? Tau apa ia tentang aku? Lagipula kapan kamu kamu bertemu Itachi?"
"Kemarin aku telephone ke rumahmu, kata Itachi kamu sedang tidak enak badan." jawab Sakura lagi.
"Oh, jadi kemarin Itachi memanggilku karena ada telepon darimu? Maaf, kemarin aku pusing." Sasuke menjelaskan.
"Begitu, oke tak apalah. Kamu jangan banyak pikiran, nanti kamu sakit." tambah Sakura sambil meninggalkan Sasuke dengan senyum termanisnya.
Sasuke disitu hanya bisa cengo sambil blushing, gak tau kenapa.
"Hoi, Teme! Seenaknya saja aku ditinggalin! Malah asik berduaan lagi sama Sakura!" teriak Naruto tiba-tiba, tepat di telinga Sasuke, membuat pemuda berambut emo itu tuli seketika.
"Baka Dobe! Kalau ngomong kecilin dikit volumenya napa?! Kalau aku mati, kamu gali kuburannya ya!" teriak Sasuke tak kalah kencang sambil meniup niup tangannya lalu ia arahkan ke telinganya.
"Iya, gomen deh. Habis aku kesel dari tadi dicuekin," ujar Naruto sambil menaruh kedua tangannya di depan dada sambil monyong monyongin bibir.
"Hn,"
"Tuh kan! Aku dicuekkin lagi! Kesel kesel kesel!" Naruto mulai memainkan tangannya ke atas dan ke bawah kayak banci, tanda dia sedang kesal.
"Biasa biasa biasa…" tanggap Sasuke santai. Naruto yang sudah bosan pun akhirnya kembali ke tempat duduknya, tepat di belakang Sasuke. Sementara Sasuke sedang menatap kursi disebelahnya yang kosong. Ia pun tersenyum lebar.
Tapi senyuman itu tidak bertahan lama, karena beberapa menit kemudian, seorang cowok berambut pirang agak kecoklatan masuk dan duduk di sebelah Sasuke. Sasuke hanya bisa mendengus dan manyun lalu menenggelamkan mukanya di meja tanda ia sedang bosan setengah mati. Sedangkan cowok disebelahnya (baca : Justin) membuang muka dari hadapan Sasuke, tak lama kemudian, datanglah segerombolan fans Justin yang entah datang dari mana. Sasuke pergi meninggalkan tempat itu karena terbakar rasa benci dan iri. Dan kalian tahu lah pasti apa yang terjadi pada Justin…
Di toilet (tempat Sasuke berada sekarang),
"Sial! Si baka Justin itu…!!" geram Sasuke sambil memukul wastafel yang ada di depannya.
"Akh! Tidak ada gunanya aku seperti ini. Cih!" Sasuke akhirnya berjalan keluar dari kamar mandi. Tapi yang dilihatnya diluar adalah seorang Justin yang sedang bersembunyi dari kejaran fansnya. Sasuke hanya mendengus, tak mau keluar dulu karena ia akan bertemu Justin nantinya.
"Hai, Justin. Sedang apa kau?" tanya seorang wanita berambut pink tiba tiba.
"Oh, hai. Kamu Sakura kan?" jawab+tanya Justin ramah.
"Iya, hehe. Bagaimana kamu tahu?" tanya Sakura lagi.
Sementara Justin hanya memperhatikan Sakura dari ujung kaki sampai ujung kepala, tapi Justin berhenti di wajah Sakura dan melongo seketika.
"…"
"Hello? Justin? Kok bengong?" Sakura yang merasa dicuekkin pun membuka pembicaraan.
"Oh, eh, ehehehe. Sorry Sakura," jawab Justin sambil cengengesan.
"Hh, yasudah, aku ke kamar mandi dulu ya. Dah, Justin. Senang mengobrol denganmu." Ujar Sakura sambil meninggalkan tempat Justin dan tersenyum manis. Justin hanya cengo dan blushing dibuatnya.
Sasuke yang melihat kejadian itu pun dibuat marah olehnya. Kesabarannya sudah habis, ia memukul tembok kamar mandi sekeras mungkin hingga darah mulai menetes dari tangannya…
"Laki-laki sialan! Lihat saja nanti!"
To Be Continued
Nyaaa, chap ini pendek ya? maaf, gomen, sorry!!
terus gomen lagi ya kalo ada yg salah penulisan bahasa inggrisnya di fic ini.
saya memang belagu, bahasa inggris aja gak bisa, udh ngesok =,=a
okey, saya cuma minta review dari para senpai.
arigatou :)
