Safe and Sound

Belgium

Horror - AU

One-Shot - 1313words (This is purely coincidence)- T

Hetalia - Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Based on true story

.

.

||Sepertinya sudah aman||

.

.

Aku melempar tubuhku ke atas kasur.

Seraya mendesah panjang, aku berguling dan memeluk bantal di atas kasurku. Hari ini melelahkan sekali, setelah seharian duduk di atas kursi kelas sembari memerhatikan guru mengoceh, ekskul dan tugas-tugas membuat tubuhku serasa ringsek.

Tapi untunglah, setelah mandi air hangat dan makan semangkuk sup hangat, tubuhku rasanya segar lagi. Sekarang yang kubutuhkan hanya istirahat yang cukup, agar besok aku bisa mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai. Sekolah kadang tak menyenangkan, tapi aku tetap harus bersekolah. Menyebalkan.

Kubalikan lagi tubuhku, kali ini menghadap langit-langit. Lampu kamar sudah seluruhnya kumatikan. Sekarang tinggal menunggu mataku tertutup dan aku terlelap saja.

Namun ponselku berbunyi, aku memiringkan kepalaku dan mengambil ponsel yang kuletakkan di atas meja. Ada satu notifikasi. Setelah mengatur kecerahan layar, aku mengecek ikon notifikasi di dalam salah satu aplikasi ponselku.

Mataku menyipit membaca pesan dari salah satu temanku. Sementara itu, suasana rumah terasa sangat hening. Hari ini -minggu ini, sebenarnya- aku hanya sendiri di rumah. Orang tuaku tengan menengok salah satu sanak saudaraku di Swiss, Kakak tengah ada pekerjaan penting yang tak bisa dibawa pulang, sementara adikku tengah melaksanakan kamp kemandirian di sekolahnya.

Sebenarnya aku tak terlalu suka ditinggal sendirian di rumah. Kalau ditanya takut atau tidak, jujur saja aku takut. Walau sering menonton film horor dan sok berani membuka situs-situs penuh nuansa mistis di internet, tetap saja aku merasa was-was kalau ada sesuatu yang terkesan tak wajar terjadi di dekatku.

Setelah selesai membalas pesan di ponsel, aku meletakkan benda kotak itu kembali ke atas meja. Membiarkan cahanya remang-remang menerangi ruangan ini. Hanya ponselku lah satu-satunya benda yang menerangi kamarku. Ibu sudah berpesan untuk mematikan semua lampu di rumah jika aku hendak tidur. Sejujurnya, aku agak keberatan. Aku lebih suka lampu dinyalakan saat tidur -walau silau dan tidur jadi tak nyaman- tapi ibu selalu mewanti-wanti kalau tidur dengan lampu menyala itu tak baik. Jadi aku mulai membiasakan diri tidur dengan lampu mati.

Mataku belum juga terpejam, beberapa kali aku mengejap-ngejapkan mata menatap kegelapan kamar. Lalu, dari posisi terlentang, aku berbalik menyamping. Kali ini menghadap ke arah cermin full-body yang menempel di lemari pakaianku. Padahal aku sudah pesan, tak boleh ada cermin di kamarku. Alasannya, karena aku takut.

Aku tak terlalu suka bercermin, apalagi berdiam di ruangan bercermin. Aku selalu merasa ada yang mengamatiku dari dalam cermin itu, padahal jelas-jelas itu adalah aku sendiri yang menatap balik banyanganku. Dari cermin di kamarku, pantulanku yang sedang tertidur terpampang. Karena cahaya yang minim, kesannya bayanganku terlihat sedikit hijau entah kenapa.

Bosan menatapi bayanganku sendiri, aku berbalik lagi, kali ini menghadap dinding putih polos kamarku.

Bantal yang ada di pelukanku terasa sangat nyaman hingga akhirnya aku mulai mengantuk. Mataku terpejam pelan-pelan, namun suara detik jarum jam dinding di kamarku membuatku kembali terjaga. Aku mendengarkan nada statis itu, biasanya tak terdengar, tapi entah kenapa karena suara itu aku jadi sulit untuk tidur.

Tapi ... Semakin kudengarkan, rasanya suara statis jarum jam itu membuatku merinding.

Tik tok tik tok tik tok tik tok-

Aku menyembunyikan wajahku di balik bantal. Terdengar biasa saja, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang bisa tiba-tiba keluar dari nada itu. Lewat nada statis itu, aku merasa sesuatu tengah terjadi. Sesuatu tengah berusaha untuk menjangkauku. Aku makin terjaga karena pikiran itu.

Ah! Ini karena aku keserangan nonton film horor!

Tok.

Aku terkesiap dan pelan-pelan mengangkat wajah dari bantal.

Eh? Suara jamnya berhenti?

Begitu juga dengan suara-suara lainnya. Rumah ini serasa sunyi senyap. Tak ada suara apapun. Kesunyian itu membuat dadaku sesak, oksigen di ruangan ini serasa ikut terhisap oleh kesunyian ini.

Aku memejamkan mataku dengan paksa, merapalkan doa-doa yang kuhapal.

Kesunyian masih memerangkap seisi rumah ini. Walau tak ada suara apapun, rasanya kalau begini malah lebih menyeramkan. Waktu serasa berhenti, tak ada suara apapun. Hingga rasanya sesuatu tengah bersiap-siap keluar dan melompat dari sudut gelap kamarku.

Lama kelamaan, rasanya rumah ini tambah sunyi.

Tak ada suara jangkrik atau serangga apapun yang biasa terdengar di malam hari. Tak ada suara lalu lalang kendaraan, tak ada suara apapun-

Tunggu, apa itu suara langkah kaki?

Sreet ... Sreet ... Sreet ...

Tubuhku kaku. Itu jelas suara langkah kaki seseorang yang tengah diseret. Arahnya dari pintu kamarku. Bukan, itu dari ruang depan pintu kamarku. Suaranya terdengar begitu jelas di tengah kesunyian ini. Seperti suara sepatu boots tentara yang diseret paksa, terdengar begitu menyeramkan.

Seretan itu makin jelas terdengar mendekati pintu kamarku yang tertutup, berhenti sejenak di depan kamarku. Nafasku berhenti, seolah takut apapun yang ada di balik pintu menyadari keberadaanku. Lalu suara langkah kaki yang diseret itu kembali hadir, kali ini menjauh dari kamarku.

Aku menghela nafas lega. Kukira ia bakal-

BRAK!

Aku hampir melonjak karena kaget. Suara itu datangnya dari pintu kamarku. Sesuatu seolah menabraknya. Sunyi lagi, lalu apapun itu kembali menabrakan diri ke pintu kamarku lagi. Berulang kali, dengan hitungan yang sama.

Brak! Brak! Brak! Brak!

Lalu berhenti.

Kembali sunyi.

Tubuhku masih tegang.

Kriiiiiiiiit! Kriiiiiit!

Kali ini suaranya berganti. Menjadi suara kayu yang dicakar-cakar. Datangnya bukan lagi dari pintu kamarku, melainkan lemari pakaianku. Sesuatu tengah mencakar-cakar bagian dalam lemariku dengan kasar. Sesekali ia menggebrak lemari itu. Sehingga rasanya pintu lemariku akan rubuh.

Suara cakar-cakaran itu masih dengan jelas terdengar saat aku mendengar suara tangisan. Di bawah kasurku. Aku menghiraukan keduanya. Lalu suara cakaran itu berhenti. Kali ini tak lagi sunyi, suara tangisan kecil terdengar jelas ada di bawah kasurku. Nafasku memburu, bingung harus melakukan apa.

Dari suara tangisan, suara sesuatu yang bergerak pelan kembali tertangkap indra pendegaranku. Aku tak bisa mendeskripsikan suaranya. Berbeda dengan suara langkah kaki yang diseret tadi, suara kali ini lebih halus dan lamban. Seperti saat kau bergerak merayap di dinding-

Merayap?

Punggungku menegang. Kurasakan sesuatu menjalar di kakiku. Dari betisku, naik ke paha, dan berhenti di pundakku. Aku menutup mata. Suara tangisan tak lagi terdengar. Sementara itu, aku merasakan belaian udara dingin terasa di leher dan pipiku. Sesuatu yang tadi menjalar di tubuhku kembali bergerak, meninggalkan tubuhku.

Tik tok tik tok tik tok.

Kubuka mataku. Suara jam kembali terdengar. Aku menghela nafas lega.

Sepertinya sudah aman.

Berharap yang tadi hanya halusinasiku saja. Tubuhku dibanjiri keringat karena ketakutan. Suara-suara tadi terdengar sangat mengerikan dan nyata. Aku masih menormalkan nafasku, sebelum akhirnya aku membalik badan.

Seharusnya aku tidak melakukannya.

Kali ini aku berhadapan dengan cermin lagi. Banyanganku lagi, awalnya aku tak menyadarinya. Tapi lambat laun aku merasa wajahku di bayangan itu makin hijau. Dan ia menyeringai. Sementara aku? Aku bahkan tak tersenyum sama sekali.

Bayanganku tersenyum makin lebar, menunjukkan gigi runcingnya. Jantungku berdebar keras. Kali ini bayanganku beringsut bangun dan terduduk di kasur, lalu tanpa diduga-duga ia menabrakan diri ke permukaan cermin dengan mata merahnya yang melirik ke arahku sementara gigi-gigi tajamnya nampak sangat berbahaya!

Aku memekik, dan buru-buru bangun dari kasur untuk menyalakan saklar lampu yang ada di dekat pintu. Tergopoh-gopoh aku bangun dan berusaha menghindari tatapan menakutkan bayanganku di cermin.

Kutekan saklar lampu, dan seketika itu kamarku menjadi terang.

Aku menghela nafas lega, kali ini bayanganku sudah menghilang dari cermin.

Eh.

Apa?

Bayanganku ... Hilang?

Tep!

Lampu mati. Aku panik. Kali ini pintu lemariku bergeser, jari-jari panjang dengan kuku tajam kehitaman nampak keluar dari lemariku. Aku terkesiap dan mundur, hendak membuka kenop pintu kamar dan segera keluar dari kamar. Namun tepat ketika aku hendak membuka pintu ...

Pintuku sudah terbuka dengan sendirinya! Mata berwarna merah menyalang nampak memandangku dari balik pintu. Pintu terbuka makin lebar, aku makin bisa melihat wajah hancur dari sosok yang membuka pintu kamarku. Aku yakin, itu adalah sosok yang tadi membuat suara seretan di luar kamarku!

Di antara kepanikanku, suara tangisan dari bawah kasur membuatku melirik ke arah bawah kasur.

Sebuah kepala menggelinding dari bawah kasurku, kepala itu penuh dengan darah, membuat lantai kamarku ikut-ikutan kotor dengan noda darah. Aku memekik dan lututku melemas.

Kepala itu lalu melayang beberapa meter di atas lantai, menghadap ke arahku.

Rongga matanya kosong, sementara bibirnya nampak robek sampai ke pipinya. Ia menarik bibirnya untuk menyeringai, dan ia tertawa.

Tertawa sangat keras sementara tubuhku jatuh ke atas lantai.

"HAHAHAHAHAHAHAHA!"

.

.

END

.

.

(Pernahkah kau mendengar suara-suara aneh di dalam kamarmu, dan kau berusaha tidur? Padahal kau tahu ada sesuatu, namun kau terlalu takut untuk percaya bahwa suara itu datang dari 'mereka'.)

XOXO,

Yacchan