Disclaimer : Aoyama Gosho

Pairing : HeijixShinichi, KidXShinichi

Warning : OOC, Typo, BL, Sho-ai.

Don't Like, Don't Read


My Diamond Is You


Jam menunjukan pukul 8 malam tepat, Ran sedang bersiap-siap di kamar hotel. "Conan, kau sudah ganti baju belum? Ayah sedang menunggu kita di lobi hotel." Ran menyisir rambutnya dengan tergesa-gesa, matanya melirik Conan yang masih berpakaian piyama keluar dari kamar mandi.

"Kau belum ganti baju juga?" Ran mendekati Conan. "Sepertinya aku demam, aku tidak bisa ikut." Ujar Conan lagi. Ran langsung menyentuh kening bocah berkacamata itu,"Tapi sepertinya kau baik-baik saja." Ran berkerut bingung sedangkan Conan mulai panik.

Tok… Tok…

Kepala Heiji muncul dari balik pintu membuat Ran kaget,"Lho? Heiji?" Heiji hanya tersenyum melihat Ran yang sedikit terkejut. "Kau tidak bersama Kazuha?" Ran berusaha menengok ke arah belakang cowok berkulit gelap itu tapi tidak ditemukan sosok cewek yang bernama Kazuha tadi.

"Kazuha sedang menunggumu di lobi bersama paman Mouri." Jawab Heiji enteng yang hanya dapat tanggapan 'Ooh' dari Ran.

"Kau tidak berangkat?" Tanya Heiji lagi, Ran hanya berkacak pinggang malas sambil melirik Conan. "Sepertinya Conan sakit, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri." Ujar Ran lagi.

"Soal itu, serahkan saja padaku. Aku akan menemani Conan." Kata Heiji lagi bersemangat. Ran menghela napas berat,"Aku terlalu banyak menyusahkanmu." Kata Ran sedikit tidak enak pada sikap baik Heiji.

"Sudahlah, kau tenang saja. Sekarang kau pergi saja duluan bersama kazuha." Heiji mendorong Ran hingga di depan pintu kamar hotel,"Eh? Ta..tapi.."

"Sudahlah, tidak perlu khawatir… Bye, selamat bersenang-senang." Heiji langsung menutup pintu kamar sebelum Ran mengucapkan ketidak setujuannya. "Dasar…" Ujar Ran lagi sambil geleng-geleng kepala kemudian pergi dengan cepat ke arah lobi hotel.

.

"Lalu?" Heiji bersender pada pintu hotel sambil menatap malas ke Conan. "Kau meneleponku saat di kamar mandi dan menyuruhku kesini secepat mungkin. Sebenarnya ada apa?" sambung Heiji lagi.

Conan tidak menjawab pertanyaan Heiji tetapi langsung mengambil botol obat dari laci disebelah tempat tidur.

"hei.. Hei… Jangan bilang kau akan berubah menjadi Shinichi." Kata Heiji sedikit khawatir. Conan tersenyum.

"Tentu saja aku harus menjadi Shinichi, disana ada pesulap itu." Conan mengambil satu tablet obat penawar APTX 4869 kemudian menelannya dengan cepat.

"Hei, Kudo…" Heiji sekali lagi sangat merasa khawatir, dia memastikan tidak ada orang di balik pintu kemudian berjalan ke arah Conan yang saat ini seperti kesakitan.

DEG…

DEG…

Conan merasakan jantungnya berontak lagi seperti sebelumnya. Terasa sangat sakit dan ngilu disaat bersamaan. Dihadapannya Heiji terlihat bingung serta khawatir.

"Ku..Kudo… kau baik-baik saja?" Heiji memegang pundak Conan.

"Uhkkk… menurutmu?..." Conan berusaha tersenyum disela rasa sakit yang mendera jantungnya.

DEG…

Siaall… kenapa terasa sakit seperti ini… rasa sakitnya terlalu berbeda dengan sebelumnya… Conan mulai merasakan tulang-tulangnya ditarik secara paksa, jantungnya berpacu lebih cepat, dan keringat mulai bercucuran dari pori-porinya.

"He.. Heiji…" Conan mencengkram erat baju Heiji menandakan dia tidak kuat menahan rasa sakit.

"Kudo…" Heiji bingung harus berbuat apa, dia tidak mungkin berlari ke luar kamar kemudian berteriak-teriak seperti cewek memanggil bala bantuan. Itu akan membuat harga dirinya hancur seketika.

"Bertahanlah…" Dengan sigap dia memeluk badan Conan dengan erat. Bocah berkacamata itu sedikit kaget tetapi karena rasa sakitnya, dia berusaha tidak menghiraukan hal sepele seperti itu, tanpa tahu kalau saat ini jantung Heiji juga berpacu lebih kencang. Kemudian…

"GWAAAAAAAHHHH…." Conan berteriak keras.

.

.

"Eh?" Ran berbalik seketika. Kazuha yang berada disebelahnya bingung.

"Ada apa?" Tanya Kazuha ketika tangannya meraih handle di pintu hotel. Kogoro menunggu mereka di dalam taxi.

"Sepertinya aku mendengar teriakan." Kata Ran sambil menggigit bibir bawahnya. Kazuha heran,"Eh? Kau mungkin berhalusinasi."

"Hooii… ayo cepat anak-anak. Kita harus bergegas." Seru Kogoro sambil melambaikan tangan dari dalam taxi.

"Ba..baik…!"Jawab Kazuha. Tangannya langsung menggandeng lengan Ran dengan cepat. "Ayo, Ran."

"Uhm.. iya." Ran menurut saja tangannya digandeng paksa oleh Kazuha. Tapi, sepertinya aku tidak berhalusinasi mendengar teriakan itu… aneh…

.

.

"Ku..kudo? Kau baik-baik saja?" Heiji sedikit melonggarkan dekapannya ketika melihat bocah berkacamata itu bertransformasi menjadi seorang cowok SMA yang seumuran dengannya.

Shinichi sedikit pusing dengan perubahan pada dirinya, tulang-tulangnya masih agak nyeri tetapi jantungnya berdetak normal. Dia tidak apa-apa.

"Aku baik-baik saja." Jawab Shinichi sambil berusaha berdiri, tetapi karena tulangnya masih tidak bisa di ajak kompromi, dia jadi agak sedikit oleng lalu terjatuh lagi di ranjang.

"Ku..Kudo.." Heiji membantu Shinichi untuk duduk. "Jangan memaksakan diri dulu. Pameran bisa menunggu." Ujar Heiji lagi.

"Tapi pencuri itu tidak bisa menunggu." Jawab Shinichi yang langsung mendapat tatapan protes dari Heiji.

"Daripada itu, lebih baik kau berpakaian dulu." Tunjuk Heiji ke arah tubuh Shinichi yang saat ini telanjang polos. "Eh.. Iya.." Sedikit malu Shinichi berusaha mengambil bajunya yang berada agak jauh dari ranjang.

"Biar aku saja." Tawar Heiji sambil mengambilkan baju Shinchi. "Terima kasih." Kata Shinichi lagi.

Heiji menyuruh Shinichi untuk tidak bergerak, jadi dia bisa memakaikan baju ke cowok yang keras kepala ini. Leher jenjang Shinichi sedikit membuat Heiji harus meneguk air liurnya. Sungguh pemandangan yang terlalu menghipnotis. "Hei, Heiji. Kau kenapa?" Ujar Shinichi yang bingung karena melihat Heiji yang terdiam sesaat.

"Ah.. anu.. tidak apa-apa." Sedikit menyembunyikan rona merah di wajahnya, Heiji memalingkan wajahnya dari tatapan bingung Shinichi.

"Menurutmu… apa aku bisa menangkap Kid?" Shinichi menatap jendela yang saat itu menampilkan langit malam. "eh? Maksudmu? Tentu saja kau pasti bisa, Kudo." Jawab Heiji penuh optimis.

Shinichi menatap cowok berkulit gelap itu dengan lembut, "Terima kasih."

Heiji menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal,"Kau ini… sudah dua kali kau bilang terima kasih padaku." Ujar Heiji tidak enak.

"Dan aku akan terus bilang terima kasih padamu." Shinichi tersenyum melihat tingkah temannya satu ini, tetapi Heiji menampilkan ekspresi yang sulit dideskripsikan,"Sekali lagi kau bilang terima kasih, aku tidak dapat menahan diriku lagi." Ujar Heiji yang membuat Shinichi kaget. "He..Heiji?"

-BRUK-

Heiji menerjang Shinichi yang berada di depannya, membuat Shinichi terbaring di ranjang dengan posisi Heiji berada diatasnya. Tangan Heiji menguci pergerakan lengan Shinichi.

"Heiji…" Shinichi sedikit kaget dengan tingkah Heiji hari ini.

Heiji menempelkan keningnya ke dahi Shinichi, kemudian menggigit bibirnya keras-keras berusaha menahan keinginannya. "Jangan membuatku menjadi hewan buas, Kudo. Karena aku pasti tidak dapat menahan diriku." Setelah berbicara seperti itu Heiji melepaskan cengkramannya kemudian berjalan ke arah pintu kamar. Membukanya kemudian menutupnya dengan pelan.

"Dia kenapa sih?" Ujar Shinichi yang tetap masih bingung dengan tingkah Heiji hari ini sambil terus mengelus bekas cengkraman Heiji di pergelangan tangannya.

Di balik pintu Heiji terduduk lemas, tangannya mencengkram erat dadanya yang mengeluarkan degupan liar. "Sial… jantungku terus berdetak tidak karuan." Kemudian mengacak rambutnya dengan wajah yang masih memerah.

XXXxxxXXX


Pameran kali ini penuh dengan orang-orang kaya. Ran dan Kazuha sedikit terlihat senang ketika menatap makanan yang disediakan oleh pihak pameran, beberapa makan mewah siap disantap di stand yang telah disediakan.

"Hei, Ran.. ayo kita coba makanan yang ini." Kazuha mencomot beberapa kue kemudian memakannya sekaligus membuat Ran tertawa seketika.

"Kau tidak perlu serakus itu'kan?" Suara Heiji membuat Kazuha tersedak. Sedikit merona, Kazuha mendelik Heiji marah. "Apa urusanmu." Ujar Kazuha tidak terima sedangkan Heiji hanya menatap cewek itu malas.

"Nanti kau bisa gendut." Ujar heiji lagi yang langsung kena tinju oleh Kazuha.

"Uhm.. anu Heiji, Conan bagaimana?" Ran menatap Heiji cemas, "Oh itu… dia kuantar ke stasiun kereta. Katanya dia ingin pulang saja ke Tokyo." Jawab Heiji tertawa.

"Tapi.. apa dia baik-baik saja? Sendirian kembali ke Tokyo?" Tanya Ran lagi agak sedikit khawatir.

.

"Dia pasti baik-baik saja." Suara Shinichi membuat Ran membeku sesaat.

Di hadapannya Shinichi tersenyum kecil, kemudian berjalan ke samping Heiji. "Conan sudah mengirimkan e-mail nya. Katanya dia baik-baik saja." Ujar Shinichi lagi.

"Shi.. Shinichi…" Ran tersenyum melihat cowok itu sekarang berada di depannya. Tangannya berusaha menggapai wajah Shinichi hingga…

-GREB- Heiji dengan cepat menghentikan tangan Ran yang ingin menyentuh cowok yang berada disampingnya ini. Kazuha melirik Heiji kesal. "Apa yang kau lakukan sih?" Ujar kazuha tidak terima.

"Ah.. maaf.." Heiji langsung melepaskan genggaman Ran. "Aku refleks, soalnya… anu.. uhm.." Heiji bingung harus mengatakan apa, dia tidak mungkin bilang kalau dia tidak suka Shinichi disentuh apalagi oleh Ran. Bisa-bisa dirinya dibantai oleh Ran atau Kazuha, atau lebih buruk lagi dia bakal dibenci Shinchi.

"Oh, Heiji…" Suara detektif Toyama menyelamatkan Heiji yang kena tatapan bingung dari Ran dan kazuha. "Hai paman, ini Shinichi Kudo yang sering kuceritakan." Heiji memperkenalkan Shinichi ke detektif Toyama.

"Kazuha dan Ran juga ada ya? Oya, mana Conan?" Tanya detektif Toyama sambil berusaha mencari sosok kecil itu.

"Ah, Conan sudah pulang ke Tokyo. Bagaimana kalau kita berbicara di sebelah sana." Tunjuk Heiji ke salah satu tempat yang penuh para polisi. "Aku masih ingin disini." Jawab Shinichi tersenyum ke arah Ran. Heiji melirik sekilas kemudian mendorong Shinichi paksa.

"Ayo disana saja." Heiji bersikeras,"Eh, tapi.." Shinichi protes lagi. "Disana saja, Kudo." Heiji menatap Shinichi tajam, membuat Shinichi terdiam.

"Maaf ya, Ran, Kazuha. Kalian disini saja dulu, ini urusan detektif dan polisi." Heiji tersenyum ke arah dua cewek itu kemudian mendorong paksa Shinichi dan detektif Toyama untuk mengikutinya.

"Hari ini Heiji aneh. Kenapa ya?" Tanya Kazuha yang hanya dapat senyuman dari Ran.

Shinichi…. Ran terus menatap Heiji dan Shinichi yang sedang tertawa dengan polisi lainnya.

XXXxxxXXX


-DOORR-

Suara tembakan membuat beberapa orang yang di sekitar pameran berteriak kaget. Para polisi yang tadi sedang asyik bercanda tiba-tiba berubah menjadi ganas sambil memposisikan senjatanya dengan sigap. Beberapa polisi di dekat permata juga menjadi waspada.

"Selamat malam Ladies and Gentleman. Terima kasih sudah datang di pertunjukanku." Suara lembut dan manja itu lagi-lagi selalu mengusik pendengaran Shinichi. Matanya berusaha menatap sekeliling berusaha melihat sosok putih itu. Tetapi nihil tidak ada tanda-tanda Kid muncul.

"Malam ini, pameran yang mewah bukan? Karena itu aku sudah menyiapkan beberapa hadiah istimewa untuk kalian semua." Beberapa kembang api terlihat meluncur dari tanah kemudian meledak di langit malam membuat para pengunjung berdecak kagum.

"Kyaaaa~ Tuan Kid. Aku disini." Suara teriakan Sonoko membuat para pengunjung yang tadi ketakutan berubah menjadi senang. Mereka sudah lama memuja Kaito Kid, hingga teriakan-teriakan pengunjung membuat gerakan polisi tersendat.

"Cepat cari di seluruh penjuru Benteng Osaka!" Teriakan Inspektur Hattori langsung membuat seluruh anka buahnya bergerak serentak. Beberapa polisi langsung berlari menuju arah stand permata dan yang lain berkeliling mencari Kid.

"Wah, mulai rusuh begini." Ujar Kogoro sambil terus memegangi Ran dan kazuha agar tidak terinjak orang-orang yang juga sedang mencari asal suara Kid.

"Tentu saja jadi begini. Aduh… siapa yang menginjak kaki ku!" teriakan Heiji membuat cowok itu kena pukulan telak di kepala oleh Kazuha. "Tenanglah sedikit, bodoh!"

"Bagaimana mungkin tenang disaat begini. Kenapa pengunjung jadi buas seperti ini. Sekeren itu kah Kid? Gahh.. menyebalkan." Geruto Heiji lagi. Ran menatap Heiji bingung,"Heiji, dimana Shinichi?"

"Eh?" Heiji kaget lalu menengok ke arah belakangnya, "Tadi dia mengekor dibelakangku. Aduuhh… jangan-jangan dia terpisah denganku." Kata Heiji sambil menggaruk kepalanya.

"Biar aku mencarinya." Kata Ran tapi langsung dihentikan Kogoro, "Jangan bodoh, Ran. Kau bisa mati di kerumunan orang-orang ini."

"Ta.. Tapi Shinichi." Ujar Ran lagi khawatir. Kogoro menghela napasnya,"Daripada bocah sok pintar itu, lebih baik menyelesaikan kalimat dari Kid ini dulu." Kogoro mengeluarkan kertas tantangan dari Kid.

"Untuk apa? Itu sudah tidak berguna." Jawab Heiji malas yang hanya dapat lirikan maut dari Kogoro. "Menurutku Kid tidak tertarik dengan permata. Tapi aku masih tidak tahu apa yang diincar Kid." Heiji mulai tertarik, dengan cepat diambilnya kertas tadi dari tangan Kogoro. Dia membolak baliknya tapi tidak menemukan petunjuk sedikitpun.

"Hei, Heiji. Coba lihat setiap huruf yang berada di depan sebuah kalimat. Apa menurutmu tidak aneh? Seperti nama 'Shinichi' ya'kan?" Ujar Kazuha sambil menunjuk mana saja huruf itu. "Kalau kalimat itu disusun secara vertikal, maka…" Kazuha mencoret-coret kertas kosong kemudian menunjukannya pada Heiji.

Mata Heiji terbelalak… tidak mungkin… pikirnya kaget.

.

S…ikap kekasih adalah memberikan hadiah bagi orang yang disukainya.

H…al itupun tidak lepas dari bunga dan permata.

I..ni karena perasaan manusia akan mudah disampaikan dengan hadiah yang mewah.

N..amun tidak semua kekasih seperti itu.

I..ngat, betapa berarti hadiah yang di berikan bagi orang yang kamu cintai?

C..iuman juga merupakan sebuah kado yang bagus.

H..adiah yang sesungguhnya bagiku adalah seperti kokohnya Benteng Osaka.

I..ringan music dan kembang api juga dapat memeriahkan hadiah kejutan itu, bukan?

.

"Sial…" Heiji meremas kertas tadi kemudian langsung berlari cepat kearah kerumunan orang.

"Hei.. hei.. tunggu! Heiji..!" Teriakan dari Kazuha tidak terdengar lagi oleh Heiji, mata dan pikirannya terus berusaha untuk menemukan Shinichi.

Orang itu… dari awal dia tidak bermaksud mencuri permata, yang diincarnya adalah Shinichi… Siaalll..! pikir Heiji lagi, kakinya terus berlari tanpa mempedulikan yang lain. Napasnya hampir habis ketika mengelilingi pameran tersebut. Teriakan-teriakan atau pujian orang-orang kepada Kid makin membuat cowok berkulit gelap itu menjadi geram.

Si brengsek itu….

.

.


"Halo.. Tantei-kun… Sedang menungguku?" Suara Kid membuat Shinichi berbalik. Mata Shinichi terus menatap cowok di hadapannya tanpa berkedip. Pakaian Kid tampak kasual, tidak memakai Tuxedo putih seperti biasanya.

Beberapa orang berkeliaran di sekitar mereka, ada yang terus memanggil Kid, ada yang berteriak-teriak panik di sekitar pameran dan masih ada beberapa yang ketakutan menghadapi amuk massa yang ingin Kid muncul.

"Kau… apa yang kau rencanakan?" Shinichi bersikap waspada, tapi Kid yang berada dihadapannya hanya tertawa kecil. "Tidak ada." Jawab kid enteng.

"A..Apa?" Shinichi terkejut, Kid terkikik geli.

"Aku tidak punya rencana apapun. Aku tidak berniat mencuri permata murahan itu." Jawab Kid sambil mengangkat kedua tangannya kemudian wajahnya menunjukkan pura-pura kecewa.

"Tsk… jangan bercanda!" Shinichi menatap Kid yang masih tersenyum padanya. "Ok, Ok… sebenarnya rencanaku adalah.."

"KUDOO…!" Suara teriakan Heiji menginterupsi perbincangan Shinichi dan Kid.

"Heiji..! Jangan kemari…!" Shinichi berusaha berteriak agar Heiji tidak ke arahnya. Di sebelahnya, Kid menyeringai kemudian…

-GREB-

Dengan sekali tarikan, Shinichi sudah berada di dekapan Kid.

"KID..!" Shinchi kaget sesaat kemudian dapat mengusai emosinya. Kid tersenyum penuh kemenangan pada Heiji, lalu dengan sekali tarikan, pakaian yang dipakai Kid berubah menjadi Tuxedo putih.

Beberapa orang yang berkeliaran disekitar mereka kaget untuk beberapa saat lalu berteriak kegirangan, membuat Heiji tertabrak oleh beberapa pengunjung yang ingin melihat Kid dari dekat.

"Brengsek! Lepaskan Kudo!" Heiji berusaha berteriak disela-sela napasnya yang terengah-engah. Kid masih memegangi erat Shinichi yang berusaha berontak.

"Aku tidak mungkin melepaskan cowok mengaggumkan ini bukan?" Ujar Kid sambil mendekatkan wajahnya ke rambut Shinichi yang lembut.

"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku sekarang!" Shinichi sekali lagi berontak tetapi Kid hanya menyeringai lagi. Bibirnya di dekatkan ke telinga Shinichi, "Kau ingin tau apa yang kurencanakan'kan? Aku ingin mencurimu dari cowok itu." Bisik Kid lagi yang tidak digubris sama sekali oleh Shinichi. "Kau gila!" Sentak Shinichi yang membuat Kid lagi-lagi terkikik geli.

"Tentu saja aku gila. Aku harus gila untuk nekat mencuri permata dan di kejar-kejar polisi seluruh dunia." Jawab kid lagi sambil menghirup dalam-dalam wangi rambut Shinichi.

"KID! LEPASKAN DIA SEKARANG..!" Heiji berteriak lantang, kali ini langsung mendapat death glare dari Kid. "Kau berisik, bocah." Mulut pistol terarah ke Heiji.

"Hentikan, Kid." Shinichi berusaha menghentikan agar Kid tidak menembak ke arah Heiji. Kid menatap lama ke Shinichi kemudian menurunkan arah mulut pistol dari Heiji.

Shinichi yang merasa lega tak menyadari senyum Kid, dengan sedikit terkejut, arah mulut pistol Kid kali ini mengarah ke leher Shinichi, "Kau pikir aku ingin menembak cowok Osaka itu? Itu cuma akan membuang peluru ku saja." Ujar Kid disela-sela tawanya. Shinichi terbelalak.

"KID!" Heiji berteriak marah. Dia tidak ingin Shinichi terluka sedikitpun.

Kid tersenyum tipis lalu mengecup lembut pipi Shinichi, "Selamat tidur, Tantei-kun."

-DOOR-

.

.

~TBC~

Waaahh.. maaf kali ini kayaknya kebanyakan HeijiXshinichi... hiks.. hiks..

Chapter selanjutnya penuh dengan Kaito KidXShinichi... hohohohoho

RnR plis?