"Hei, Mo."

"Iya."

"Cerita sesuatu, dong."

"Ini jam dua pagi dan kamu menyuruhku bercerita."

"Suaramu nggak jelas. Gimana gimana?"

"Ini jam dua pagi dan kamu menyuruhku bercerita. Aku harus pelan-pelan ini ngomongnya, wajar kalo kamu nggak dengar."

"… Di sana jam dua pagi?"

"Oh. Oke. Kamu lupa."

"Sori. Aku lupa."

"Di sana jam berapa emangnya?"

"Dua belas siang."

"Hoo."

"Aku ngebangunin kamu, berarti?"

"Iya."

"Sori. Yaudah, besok-besok kutelepon lagi—"

"Eh! Nggak usah, gapapa. Aku terlanjur bangun juga, nih. Kamu tutup, kita nggak teleponan lagi selamanya."

"Haha. Oke, oke."

"Jadi … kamu lagi apa di sana?"

"Lagi mau cari makan."

"Makan siang?"

"Bukan. Sarapan."

"Ckck. Sarapan kok jam segitu."

"Kamu cerita sesuatu dong, Mo."

"Cerita … cerita apa?"

"Apa aja."

"Aku nggak punya cerita apapun. Hidupku lagi datar-datar aja."

"Apa aja, serius deh. Kejadian hari ini kek, apa kek."

"Hmm. Coba kupikir dulu … Oh. Ini. Tadi aku nonton di bioskop. Pas lagi antre tiket, ada ribut-ribut di depan konter popcorn."

"Nonton apa?"

"Film lokal. Sendiri, nggak ada temen yang bisa diajak. Nah, jadi ada ribut-ribut di depan konter popcorn . Ternyata ada mbak-mbak pegawai bioskop nabrak seorang customer, cola tumpah, makanya si customer mencak-mencak nggak karuan."

"Lalu?"

"Ya jadi tontonan. Aku juga curi-curi nguping gitu. Setelah ribut lima menitan, tiba-tiba mereka berhenti, si mbak diem dan si customer juga diem, lalu mereka salaman."

"Kok?"

"Ternyata itu si customer lagi nge-vlog dan butuh adegan cekcok sama pegawai bioskop."

"Haha, kasian orang-orang yang udah kepo lagi ada masalah apa."

"Sori nggak lucu. Lagi nggak bisa melucu."

"Aku emang nggak nyuruh kamu melawak, kan, Mo."

"Fine."

"Terus, cola yang tumpah tadi gimana?"

"Dipel sama si customer bersama dua temennya. Risiko lah, mereka yang minta sendiri."

"I see."

"…"

"…"

"Udah, gitu aja ceritanya."

"Hmm. Iya. Coba cerita yang lain lagi."

"Emm. Apaan coba."

"Terserah."

"Dell."

"Hmm."

"Kamu homesick, ya?"

"… Mungkin."

"Duh, cup cup."

"…"

"Besok aku naik gunung. Nanti kukirimin beberapa foto, deh."

"Jangan yang ada kamunya."

"Yaah. Padahal rencananya mau kukirimin selfie-ku."

"Nggak usah. Lagi nggak berminat."

"Kejam! Oke, lagian aku emang cuma bercanda."

"Aku juga cuma bercanda."

"Bercanda bagian mananya?"

"Kirim fotomu sekalian juga gapapa."

"Wah, kenapa tiba-tiba?"

"Sori."

"Ya ampun Dell, kamu homesick parah?"

"Nggak, Mo. Bukan itu."

"Terus?"

"…"

"Kamu kangen aku, ya!"

"Aku tutup, ya."

"Woe! Dell!"

"Hati-hati supaya nggak kepleset pas naik gunung."

"Curang! Hayo, tebakanku pasti—"

Tut. Tut. Tut.

"—benar … Asyem ditutup beneran."