- Previous Chapter

"Apa yang dipikirkan Kagura, aku tahu kalau seseorang menerornya. Ini tidak bisa dibiarkan." Gumam Tae setelah mengantar Kagura sampai pintu depan rumah. Ia mengernyitkan dahi. "Tunggu, siapa yang berambut cokelatjangan-jangan"

.

.

.

"Selamat pagi Kagura" sapa Kamui—kakaknya. Kagura hanya mengangguk lemah. Mukanya masih lebam. "bagaimana luka memarmu? Sudah baikan?"

"Lebih baik, setelah Aniki mengompresnya semalam" Kagura ingin berterima kasih. Kamui sangat sibuk di tempatnya kuliah, tapi menyempatkan diri menengok Kagura di kamarnya kemarin malam, terperanjatlah ia melihat muka adiknya membiru. Mata sipitnya melebar, ia membuat suara gaduh di tangga, berlari menuju kulkas.

"Apa kamu mau bercerita kenapa bisa mendapat luka seperti itu?" Kamui menatap adiknya sendu.

Kagura menerawang. Papi dan maminya juga harap-harap cemas ingin mendengarkan. Anak bungsunya baru saja pindah sekolah dan sudah mendapat sambutan luar biasa seperti ini? Apakah dia dibully? Ataukah dia memang sedang apes dan tertimpuk benda berat?

"Aku ada jadwal piket kemarin, aku membersihkan lemari, lalu tanpa sengaja tersenggol dan aku tertimpa beberapa buku berat, dan sebuah globe"

Ketiga anggota keluarganya bernafas lega. Ada kekhawatiran di benak mereka kalau Kagura akan dibully—seperti di film-film.

"Terima kasih untuk makanannya, aku berangkat" Kagura buru-buru merapikan piring dan keluar rumah.

"Hufh, setidaknya hari ini aku selamat, aku harus menghindari pertanyaan itu lain kali" Kagura keluar dari pagar rumahnya. Ia berjalan menuju stasiun kereta. Padat sekali. Jelas, ini jam kerja.

Tiba-tiba, iris birunya dikejutkan sesosok laki-laki berseragam sekolah mendekat, masuk ke dalam kereta. "Orang ini kan?" Kagura menjerit dalam hati. "Kumohon jangan mengacau di kereta, kuharap dia tidak melihatku, atau keadaan akan jadi sangat mengerikan!"Kagura melepas cepol rambutnya dan memasukkannya ke dalam tas. Cepol ini benar-benar mencolok, pikirnya. Beberapa orang menatapnya seakan bertanya-tanya, mengapa ia melepasnya, padahal Kagura akan cantik sekali mengenakannya.

"Apa kau murid di Kabuki Koukou? Murid pindahan?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangnya. Dengan gemetar Kagura menoleh.

"Anak yang kemarin? Bagaimana dia bisa bertanya seperti itu? Setelah memukulku tidak karuan, sampai lebam dan menjadi bahan pertanyaan orang-orang di sekitarku"

"Uh, huh" kepala Kagura otomatis mengangguk.

"Apa kau baik-baik saja? Kamu gemetaran" anak itu menatap Kagura lekat. Sorot matanya tajam sekali, tapi tampak tulus dan begitu baik, "bagaimana bisa?" Kagura tidak mengerti.

Sepanjang perjalanan, Kagura tidak bisa berhenti gemetaran, ia benar-benar takut.

Keluar dari kereta, tubuhnya seketika lemas dan, kau tahulah.

Kagura pingsan.

.

"Oi, Kagura, Kagura?" Tae berjingkrak-jingkrak ketika Kagura mulai membuka matanya. "Dasar, bikin khawatir saja, tahu begitu tidak usah masuk sekolah saja"

"Uh, maafkan aku, Anego, kenapa aku di sini?" tanya Kagura linglung.

"Kamu pingsan di stasiun, Okita-kun yang membawamu ke sekolah"

"Hah? Pingsan di stasiun? Dan siapa itu Okita-kun?"

"Oh, jadi kamu tidak ingat ya kalau kamu pingsan" Tae berkacak pinggang, sok berfikir. "Hnm, kamu juga belum tahu Okita-kun ya, Pangeran Sadis dari Alam Sadis, kelas 2-7, pantas sih kalau kamu belum tahu"

"Pangeran Sadis dari Alam Sadis?" Kagura keningnya berkerut. Siapa gerangan makhluk ini? Jika dia disebut pangeran, mari simpulkan bahwa dia keren, ganteng, dan menawan. Lalu, sadis? Mungkin dia terlalu sok kuasa dengan orang yang menyukainya, seperti di film-film drama?

Kagura memandang keluar jendela. Bunga wisteria ungu dan putih berjajar di pinggir lapangan sekolah, sebentar-sebentar ia bisa mendengar suara air mancur yang ada di setiap pojok lapangan. Kabuki Koukou benar-benar punya lingkungan yang indah, batinnya. Seandainya hari-harinya di sini menjadi lebih baik, bukan dengan perlakuan kasar seorang siswa yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Apa masalahmu, he, Shimura?" dasar panjang umur. Pangeran Sadis dari Alam Sadis datang, menyeruak dari balik kelambu berbau obat-obatan.

"Okita-kun?" Tae buru-buru membalikkan badan. Kagura membelalakkan mata.

"Oh hai, kau sudah siuman ya" yang disebut Pangeran Sadis dari Alam Sadis tersenyum.

"Makhluk ini membawaku ke sekolah, dari stasiun? Padahal dia kemarin, kan, menghadangku di toilet, bahkan menghajarku?" Kagura semakin tidak mengerti. Setelah kemarin ia sempat berfikir bahwa kehadirannya ke Kabuki Koukou menimbulkan kutukan mematikan bagi dirinya sendiri, mengapa Dewa Kematiannya malah muncul di hadapannya dan tersenyum?

"Kukira dia marah karena aku menyapanya di kereta tadi, Shimura,"

"Oh, jadi, Kagura pingsan karena mendengar suara sadismu. Dasar narsis" Tae berdecak. "tahu saja ada anak baru yang cantik. Kagura, ini Okita-kun, Okita Sougo"

"Apakah yang ia lakukan beberapa waktu ini juga ia lakukan pada orang lain sehingga ia disebut Pangeran Sadis dari Alam Sadis? Tapi, kenapa ia ramah sekarang, kenapa? Orang ini siapa dan kenapa? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Baik, akan kutanya dia"

"Anu… Okita-san, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Di kereta"

"Sebelumnya?"

"Sama sekali. Aku baru melihatmu di kereta tadi pagi. Mempertimbangkan seragammu dan wajah yang asing, berarti kau murid baru"

"Sikapnya juga biasa saja. Apa dia ini orang lain? Padahal aku ingat sekali wajah orang yang memukuliku kemarin, ya ini orangnya, tapi kenapa ia jadi begini? Apa ini cuma kedoknya saja?"

"Nah, Kagura, kamu perlu istirahat, aku harus kembali ke kelas, jika kamu butuh sesuatu, ada perawat di sini, ya kan Tsukuyo-sensei?" Tae sedikit berteriak.

"Jangan keras-keras, Tae-chan, kamu pikir ini lapangan basket?" yang dipanggil sedikit sensi.

Tae terkikik dan meminta maaf. Disusul gelak tawa seisi ruang kesehatan. Tae memang begitu. Dia selalu ceria dan bersemangat.

"Aku baru saja memperingati Tae-chan dan kalian semua ikutan ramai," desah Tsukuyo-sensei sembari membetulkan tusuk konde rambut pirangnya.

"Ayo Sadis, kau akan mengganggu Kagura di sini" Tae melirik Sougo dengan tajam.

Sepeninggal Sougo dan Tae, Kagura bangkit dari tempat tidur dan mendekat ke Tsukuyo-sensei. Ia masih bisa merasakan kepalanya pening. Aneh, padahal sudah sarapan dan istirahat cukup. Apa gara-gara pukulan mematikan kemarin?

"Sensei, kenapa Okita-kun disebut Pangeran Sadis dari Alam Sadis? Apa dia jahat kepada orang-orang? Apa dia suka membully seseorang?" Kagura mendekat ke meja Tsukuyo-sensei.

"Pfft, tidak, euh, antara iya dan tidak sih, kalau jahat seperti yang kau tanyakan, tentu tidak, Okita-kun itu baik. Yah, kalau Pangeran Sadis… aku sering dengar dari anak-anak kalau dia jual mahal sekali, jika berkompromi dengannya kadang harus dengan syarat aneh, kadang dia juga suka jahil—tanpa pandang bulu. Kalau anak perempuan yang bercerita, dia disebut sadis pasti karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Okita-kun"

"Jadi dia tidak jahat? Tidak pernah dipanggil kepala sekolah karena kelakuan kriminal? Bullying?"

"Kamu ini bicara apa," Tsukuyo-sensei tertawa. "tidak ada cap buruk dari sekolah, dia bukan orang yang seperti itu"

"Apakah mungkin ia pernah melakukan, er, semacam bullying tapi mengancam korbannya agar tidak melapor?"

"Meskipun dia sadis, tapi kalau seseorang tidak melakukan apa-apa padanya, mana mungkin ia begitu, yah, tapi rasanya aneh ketika aku berpendapat begini, Okita-kun kadang tidak segan juga"

Kagura terdiam. Apa mungkin begitu ya. Korban Sougo tidak bisa melaporkan tindakan Sougo karena diancam. Tapi bagaimana dengan dirinya? Sougo tidak mengancamnya sama sekali. Tunggu, Tsukuyo-sensei bilang apa tadi? Kalau seseorang tidak melakukan apa-apa padanya, mana mungkin ia begitu…

"Jadi apakah aku melakukan sesuatu?"

Kagura jadi teringat hari pertamanya di Kabuki Koukou. Ketika jam istirahat makan siang, ia sedang merapikan rambutnya di toilet, tiba-tiba seorang siswa menghampirinya dan menamparnya. Tapi ketika Kagura hendak menanyakan apa maksudnya, siswa itu buru-buru pergi setelah meninggalkan segaris pandangan kebencian.

Dua hari kemudian, Kagura mengumpulkan angket ekstrakurikuler ke ruang guru. Ketika keluar dari ruang guru, siswa yang sama menarik tangannya, membawanya pergi ke kebun sekolah, lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur di tanah becek. Seragamnya basah dan berlumpur, membuat Tae—yang saat itu sudah menjadi teman baiknya, bertanya-tanya. Kagura berdalih dengan alasan ia tersesat ketika berusaha mencari gerbang depan, dan terpeleset di kebun.

Kekerasan ketiga yang dialami Kagura adalah ketika ia dipukuli hingga mukanya biru, oleh… Sougo?

Kagura sangat yakin Pangeran Sadis dari Alam Sadis itu yang melakukannya, tapi, penjelasan Tsukuyo-sensei barusan membuatnya berfikir ulang. "Tentu saja orang sadis bisa melakukan tindakan sadis apapun selama mereka senang, tapi Okita-kun, ah, ini menyebalkan."