Saya amat sangat berterimakasih buat kalian

yang sudah memberikan kritik dan sarannya.

semoga disini saya ga ada typo lagi ya:')

maafin kalo masih ada salah salah kata

CHAPTER 2 UPDATE! HAPPY READING

.

.

.

WINTER SOULMATE
inspiring from Frozen and Rise of The Guardians
Attention!
A story with different plot
QUEEN ELSA X JACK FROST
HAPPY READING
.

.

.

Author PoV

"Ratu Elsa! Ratu Elsa, ayo bangun! Persiapkanlah dirimu yang muliaaa" ketukan pintu terdengar.

Elsa mempererat selimut, kembali mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Tapi, suara ketukan pintu yang dibuat oleh pelayannya amat sangat berisik, dan mengganggu jam tidur yang Elsa miliki. Semua ini berkat pria bermata biru itu, Jack Frost.

Semalaman Elsa tidak bisa tertidur dengan pulas karena masih sangat takjub dengan apa yang dilihatnya terhadap Jack, sungguh luar biasa! Ia jadi bertanya-tanya, dari mana Jack mendapatkan kekuatan itu? Apakah dia mendapatkannya dari kutukan atau bahkan mendapatkannya karena dia merupakan orang terpilih sama seperti Elsa? Entahlah, intinya Elsa begitu takjub dengannya.

"Baiklaahh baiklaah" Elsa merenggangkan tubuhnya, mengacak rambut—mengusap kedua bola matanya dan melihat iPhone 6. Ya, rutinitas seorang remeja yang tak luput dengan ponselnya. Elsa berjalan menuju kamar mandi dengan sedikit sempoyongan karena rasa kantuk yang masih melandanya. Yang ia butuhkan hanyalah air dingin yang dapat menyegarkan kembali tubuhnya. Di genggamlah handuk kecil dari bilik baju menuju kamar mandi.

Sekitar 20 menit Elsa sudah selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya yang basah—menyisir—mengambil sehelai pita, dan menguncirnya. Kali ini rambut platinum itu dikuncir sebagian untuk memperindah penampilannya. Baju yang ia kenakan pun begitu casual, sehingga menyamarkannya sebagai orang penting di arendelle. Elsa berjalan menuju keluar kamar, dan… ya, tentu saja. Selalu ada Anna yang menunggunya

"hei Elsa" senyuman manis Anna selalu terpampang memikat.

"Hei Anna" kali ini Elsa membalasnya dengan senyuman yang mengembang. Yeah, tidak seperti biasanya. Hanya saja, hati Elsa benar benar sangat senang hari ini.

"tersenyum? Woahh, Elsa! Ini sungguh sungguh keajaiban! Ada apa denganmu?"

"hm? Tidak ada apa apa" masih dengan senyuman kecilnya

"Ohhh ayolah ceritakan padaku"

"tidak."

Mereka tiba di ruang makan kerajaan dengan para pelayan yang menyajikan beberapa menu sarapan.

"..dan kau harus tau, begitu tampannya dia dan woaah! Aku langsung terpikat dan.. dan aku jatuh cinta Elsa!"

"Ahahah benarkah? Secepat itu?"

"Entah, tapi saat kami berbincang berdua kami merasakan kecocokan satu sama lain"

Kami merasakan kecocokan satu sama lain. Entah kenapa, kalimat itu membuat Elsa kembali menampilkan wajah pemuda berambut cokelat itu, Jack Frost. Ya, cerita yang Anna ceritakan sangat mirip sekali dengan apa yang di alami Elsa. Persamaannya dengan jack, dan keistimewaannya yang sama seperti Jack, apakah…

Elsa menggelengkan kepalanya. Ayolah, yang benar saja? Baru bertemu dan langsung jatuh cinta? Tidak.

"Jadi, siapa nama pria itu?"

"Hans. Pangeran Hans"

"sungguh? Pangeran?"

"yaa, rencananya dia akan berkunjung ke pesta dansa Arandelle malam minggu nanti"

"kau mengundangnya?"

"Tentu, akan ku perkenalkan kau dengannya" Anna tersenyum.


Lantunan musik jazz bergema mengisi seluruh ruang di kamar Elsa, sepasang kaki itu bergerak mengikuti irama musik, tak lupa dengan headphone yang berada di telinganya. Kedua tangannya kembali memancarkan kilaunya. Bak serpihan berlian yang bertebaran mengisi kesunyian kamar dengan penuh pesona.

Gadis platinum itu berjalan menuju balkon kamar, memandangi setiap sudut lingkungan disekitar kerajaannya. Apakah ia akan bertemu dengan pria itu lagi? Entahlah, siapa yang tau pasti. kedua mata itu terpaku memandang tempat dimana gadis berambut platinum ini untuk pertama kalinya menatap mata cokelat gelap mendalam yang dipancarkan oleh pria itu.

Kini kedua matanya terbelalak, mengikuti satu tujuan yang ia lihat. Menatap serpihan salju yang bertebaran menuju arah hutan pinus. Jack Frost! gumamnya dengan yakin. Elsa sudah tau bahwa serpisahan salju itu adalah serpisah salju yang di hasilkan oleh pria itu.

Elsa mengendap ngendap, menghampiri pintu kamar dan membukanya. Di lihatnya koridor yang nampak kosong dan hampa. Baiklah,ini aman. Untung saja sekarang Elsa sedang menggunakan baju kasualnya, jadi ia tidak keberatan keluar istana tanpa menggunakan mantel sekalipun.

Seperti biasanya, Elsa membuat tangga simetris dengan menggunakan kekuatannya. Elsa berlari-lari kecil menuruni anak tangga itu. Kali ini, ia biarkan permukaan kaki lembutnya menyentuh salju yang begitu dingin. Tak masalah, Elsa tidak merasakan sakit karena menginjak salju yang begitu dingin. Justru sebaliknya, Elsa menyukainya.

"My Queen?" Ucapan lirih milik pemuda itu terdengar. Ya, benar. Pemuda yang tak lain adalah Jack Frost. Elsa mengerjapkan kedua matanya, sekali—dua kali—tiga… kemudian ia menggeleng. Entahlah, Elsa begitu terkejut ketika menyadari pria yang ingin ia temui sudah berada di depan matanya.

"Mr. Frost?" balas Elsa dengan suara yang sedikit terdengar serius namun ia sembunyikan melalui ekspresi datarnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya mereka mengucapkan kata yang sama.

"Aku hanya ingin… um, berjalan jalan" Ucap Jack sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku juga" Elsa mengangguk singkat.

Hembusan angin di negri bertajuk winter storm ini menerpa wajah milik kedua insan. Hening menyelimuti mereka berdua. Hanya hembusan nafas yang terdengar dari kedua belah pihak.

"Jadi… apakah yang kau hasilkan tadi butiran salju?" tanya Elsa.

"Woah, kau melihatnya?" sahut Jack

"Ya, makanya aku mengikuti mu kesini"

"Jadi itu alasan mu yang sebenarnya untuk keluar, huh?" Jack mengembangkan senyumnya.

"O-okey, secara teknis iya. T-tapi aku hanya ingin melihat butiran itu. Bukan melihat mu, Mr. Frost"

"Baiklah baiklah…" Jack tersenyum dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya.

"My Queen.." Jack melanjutkan. Ucapannya berhasil membuat sebelah alis milik Elsa menukik.

"Apa... yang kau maksud dengan kehilangan kendali?" Jack melamun menatapnya

" E-entahlah, sudah sangat lama aku tidak menginginkan kekuatan ini. Saat itu, entah apa yang merasuki ku.. tapi, tiba tiba saja aku… aku melukai adik ku dengan ini" Elsa menjelaskan dengan gemetar

Jack Frost terengah-engah begitu mendengarkan penjelasan Elsa. Ia memegang kepala nya yang begitu pusing, dan melangkah mundur menjauhi Elsa. Deru nafas cepat sang pria dapat terdengar dengan mudah oleh sang ratu. Membuat Elsa dengan sigap meraih tangan pemuda itu

"F-frost! Are you okay?" ucap Elsa dengan penuh khawatir

"N-no, just.. go away from me!" Jack masih memegang kepalanya

"W-what's wrong? I.. I can help you, Mr. Frost"

"JUST… GO—AWAY—FROM ME!" Bentak Jack.

Elsa berlari menjauhi Jack. Bentakkannya cukup membuat Elsa merasakan sakit. Air mata turun membasahi kedua pipi halus sang Ratu, untuk kesekian kalinya mempercayai seseorang adalah hal yang buruk. Sekalipun ia memiliki hal yang sama seperti mu.

Elsa masih berlari menjauhi hutan pinus dengan tangisannya yang tidak berhenti. Hal itu benar benar membuat Elsa sakit. Memang seharusnya hal yang paling tepat dilakukannya adalah menjauhi semua orang. Dengan tidak memperhatikan jalan, Elsa terjatuh di tumpukan salju yang lembut. Membuat kaki kanannya terkilir. Ia memegangi kakinya yang sakit dan sedikit merintih.

"My Queen! Where are you!"

Suara menggelegar yang dihasilkan Jack berhasil sampai di telinga Elsa. Elsa memejamkan matanya, membuatnya berhasil kembali menangis. Untuk pertama kalinya, Elsa merasakan hatinya begitu sakit. Elsa menggerakan kakinya, memaksakan dirinya untuk berdiri.

"A-aahhhh.." Elsa merintih begitu badannya berhasil berdiri. Ia melangkahkan kaki menjauhi hutan pinus.

Elsa melangkahkan kakinya, ia merasa sedikit sempoyongan karena pusing yang berada di kepalanya akibat menangis. Pengelihatannya sedikit demi sedikit mulai terlihat buram hingga akhirnya ia hampir terjatuh berkat tangan seseorang yang berhasil menopangnya.


"Di sebelah sana Tuan, kamar Ratu ada disebelah sana" ucap pelayan Istana dengan panik

Pemuda itu melangkahkan kakinya, menyusuri lorong istana dengan masih menggendong Elsa dikedua tangannya. Ia meraih genggaman pintu untuk membukanya, namun tangan halus seseorang menepak tangannya

"Biar Aku saja yang membukanya untuk mu" Gadis berambut cokelat tersenyum

"Terimakasih" pemuda itu tersenyum lirih

Ia melanjutkan langkahnya memasuki kamar sang Ratu dan meletakkannya perlahan di atas tempat tidurnya. Pemuda itu duduk berlutut memandang wajah milik Ratu dan mengelus pipinya lembut.

"My Queen… Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menyuruhmu pergi. A-aku.. aku hanya takut jika aku kehilangan kendali dan kau… kau akan terluka karena ku!" Ia menangis.

"Seharusnya aku membiarkan mu tahu akan satu hal yang aku rasakan… My Queen, maafkan aku. Saat aku bertanya tentang kehilangan kendali kepadamu, Aku… aku mengalaminya! Itu sangat menyakitkan kau tahu?" Ia masih menangis

"Saat aku kehilangan kendali, Aku.. Aku.. Mataku berubah warna menjadi hitam pekat, dan rambut ku berubah menjadi putih. Dan.. dan kau benar My Queen! Aku hampir saja emmbunuh salah satu temanku. Dan kau tahu? Aku berhasil melarikan diri menuju hutan pinus dan.."

"Dan disitu aku melihatmu! Kau adalah ketenangan ku, My Queen. Aku benar benar tidak ingin membuatmu terluka. Dan ku mohon satu hal untuk mu…" Ia meraih tangan mungil sang Ratu.

"Jangan menjauhi ku, tetaplah bersama ku My Queen. A-aku… Aku…"

"Aku mencintaimu…" mulutnya bergetar begitu mengucapkan kalimat yang sangat ingin dia sampaikan langsung kepada Ratu, tapi dalam keadaan yang tidak seperti ini. Ia menangis. Begitu menyesal dan mencintai sang Ratu setulus hatinya.

Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang Ratu, menutup pelan pintu kamarnya. Dan berjalan pergi menjauhi lorong istana kamar Ratu berada.

"H-hei…" suara hentakkan kecil berhasil membuat pemuda itu berhenti melangkah dan berbalik

"K-kau mencintainya."

"Apa?" sebelah alis pemudaitu menukik

"Kau mencintainya"

"huh?"

"Kau mencintai Elsa, benar begitu bukan?"

"Huh, bukan urusanmu, Kid!" Pemuda itu kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkannya pergi

"Kau mencintai kakak ku, Tuan!" Gadis itu meraih pundak pemuda itu dan berhasil membuatnya menoleh

"Jika ya, ku mohon.. buatlah Elsa percaya kepada dirinya sendiri. Dan tolong, Lindungilah Elsa" Gadis itu menahan tangisnya

"W-whoah, jangan menangis, kid"

"Aku bukan anak kecil kau tahu? Uhh—menyebalkan" Gadis itu cemberut, membuat pemuda yang ada didepannya terkekeh.

"Baiklah baiklah, jadi… kau adalah adiknya?"

"Ya, benar!" sahut gadis itu antusias

"Perkenalkan, nama ku Anna. Anna Grahambelle" Gadis itu mengulurkan tangannya

"A-aku.."

"Hey, apa Elsa mengundang mu?" Gadis itu kembali melepaskan ulurannya.

"Hah?" Pemuda itu menukikkan sebelah alisnya

"Baiklah, jadi kau tidak tahu ya.. Kerajaan Arendelle mengadakan perta dansa malam minggu nanti. Jadi, apakah kau ingin ikut?"

"T-tapi aku tidak.."

"Tenang saja, Aku yang mengizinkan mu ikut, Tuan" Anna tersenyum

"Apa Elsa ada?"

"Oh tentu saja. Jika kau ingin bertemu dengannya, sebaiknya kau datang tuan." Anna mengangguk dan menyarankan.

"Baiklah, aku akan datang." Pemuda itu tersenyum dan melangkahkan kakinya pergi.

"Benarkah?! Bagus! Jangan lupa jam tujuh malam tuan… maaf, siapa namamu?"

"Jack, Jack Frost" ia berbalik dan tersenyum

"Baiklah Tuan Jack, sampai jumpa! Dan terimakasih telah mengantar kakak ku" Anna tersenyum.

To Be Continued…

.

.

.

Jangan lupa letakan komentar!

Sampai sini dulu yaa J