"Aku menyukaimu, menikahlah denganku dan jadilah ibu dari anakku, Gintoki."
LOADING
PROCESS
FILE TRANSFER
COMPLETE
"AAAAAPPPPAAAAAAA?!"
.
GINTAMA
1 PLUS 1 is 3 Love is Countless (is BACK!)
HijiGin
Hijikata Toushiro x Sakata Gintoki
RATED : T
WARN : MPREG, SHOUNEN AI,OOC
AN : I DONT GIVE A ..!.. TO MAKE YOU HAPPY WITH MY STORY.
Buat yang baca dan ngeliat review yang nyakitkan mata ngga usah itu dihiraukan orang yang ngeflame2 saya. Saya paham betapa susahnya sekarang nyari kerjaan saat ini, jadi dia sedang berwirausaha untuk jualan drama murahan di kotak review. Dan buat anda yang ngeflame-ngeflame saya, anda berharap saya butthurt? anda berharap saya berenti nulis? anda berharap saya kena troll murahan anda? anda berharap saya suudzon dengan shipper lain?
It's not gonna happen dude.
Saya berterima kasih pada reader yang masih perduli dengan saya, dan sebaiknya kalian ngga usah mbela-mbelain saya dari troll murahan macem ntu. Saya juga ngga ambil pusing ama troll murahan yang nggak jelas yang cuma kepengen orang lain emosi emosi. Semakin kalian ladeni semakin dia muncrat. Udah nikmatin aja cerita saya. Kita disini tujuannya senang-senang kok, bukan tawuran adu bacod pake keyboard.
Ya walaupun saya cukup kecewa fandom Gintama sudah ternodai dengan komentar ngga mutu macem itu. Tapi yah inilah internet. Kita juga harus memaklumi ada orang yang sedikit (atau banyak) yang memiliki kelainan seperti reviewer junk seperti itu.
Tapi...
BODO AMAT
Reply:
Terima kasih pada siapa saja yang menyempatkan diri untuk membaca karya saya, dan saya tidak berterima kasih pada yang ngeflame saya :D
Hijikata Rinki : Buat dirimu sayang, semoga lekas sembuh!
UchiHarunoKid : Masama sayang :3 Udah ngga usah dipikirin tu, hahaha.
Guest : Yep, rewrite. Tapi tetep pakek draft yang lama kok! Biarin aja, memang sekarang nyari kerjaan itu sulit. Jadi dia bikin kerjaan sendiri dengan cara ngeganggu orang.
Nozuki0107 : Oke lanjut~!
.
.
2nd Month (April)
"Baiklah, aku pergi dulu ya, Gintoki. Aku nanti akan cepat pulang. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Pamit si suami di depan pintu geser rumah sewa Kedai Otose di lantai dua.
Pria berkimono putih bercorak gelombang biru itu mengangguk. "Ya. Hati-hati di jalan ya, Hijikata-kun."
Mendengar namanya masih ditempeli embel-embel –kun di belakangnya, membuat pria penyuka mayo itu sedikit cemberut. Mata cantik berwarna ruby milik Gintoki memperhatikan ada yang berubah dari wajah tampan suaminya. "Hijikata-kun?"
Navy itu melirik ke arah istrinya yang masih menatap heran. "Kenapa kau masih memanggil namaku dengan suffix –kun? Itu terdengar seperti aku ini masih bocah tahu." Protes Hijikata yang merasa sudah dewasa dan sudah berhasil membuahi uke-nya. Dia merasa sebagai seme sejati, dipanggil dengan imbuhan –kun menurunkan satu derajat ke-seme-annya. Dia ingin dipanggil dengan sebutan yang lebih manis begitu. Papa, sayang, kakanda, abang, atau sebutan yang manis lainnya.
Gintoki tertawa kecil. "Orang lain bisa memanggilmu dengan sebutan Oni no Fukucho, Hijikata-san, tapi untukku, kau adalah Hijikata-kun. Satu-satunya orang yang bisa memanggilmu dengan nama itu, adalah aku, istrimu."
PLOF!
Mendadak pipi Hijikata mengembung dan berwarna merah.
Dia tidak bisa menolak senyuman Gintoki yang masih beraura bunga-bunga lengkap dengan latar pemandangan rerumputan hijau menghampar di belakangnya.
.
.
Markas Shinsengumi.
Diruangan kerjanya, Hijikata sedang membaca buku laporan yang barusan diserahkan Yamazaki Sagaru, orang yang bekerja di bawah perintahnya langsung. Sudah penat rasanya kepala pria bersurai hitam legam itu melewati tiga puluh menitnya dengan membaca buku itu. Bagaimana tidak penat, yang dia baca itu buku kasus-kasus yang masih ditangguhkan perkaranya dan sampai saat ini belum selesai.
Hijikata merupakan tipe orang yang mengerjakan sesuatu sampai tuntas dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan. Jadi kalau melihat masalah-masalah yang tidak diselesaikan dengan tepat waktu membuatnya sakit kepala. Itu sama saja dengan menumpuk pekerjaan, pikirnya.
"Yamazaki, kasus penyalah gunaan obat-obatan ini kok belum rampung?" Tanya Hijikata yang masih memijat-mijat kepalanya.
"Yah, itu 'kan baru kasus bulan lalu, Fukucho," jawab Yamazaki Sagaru dari luar yang membawakan teh ke dalam ruangan atasannya itu. "Lagian waktu itu Komandan lagi ada rapat bersama dengan Tot-san, dan Hijikata-san waktu itu lagi izin dua hari untuk menemani danna yang lagi di rumah sakit."
Ah... ini kesalahannya.
"Maaf, ini salahku." Tanpa gengsi Hijikata meminta maaf pada bawahannya. Kasus itu belum selesai karena semua petinggi Shinsengumi termasuk dirinya sendiri sibuk waktu itu. Maklum, ini kehamilan pertama Gintoki. Jadi untuk meninggalkan si uke-nya yang sedang hamil membuatnya khawatir kalau tiba-tiba Gintoki tidak enak badan atau yang lainnya. "Apakah transaksinya sampai saat ini berlangsung?"
Anpan mania itu mengangguk.
"Kalau begitu, tetap lanjutkan penyelidikan. Dua atau tiga hari lagi kita akan melakukan penggerebekan kepada mereka." Dari duduk bersilanya, Hijikata hendak pamit.
"Loh mau ke mana Fukucho?"
Dengan cueknya Hijikata melewati Yamazaki yang masih ber-seiza ria dengan teh yang masih utuhnya. "Mau nengok Gintoki sebentar."
"Fukucho—"
.
.
Yorozuya Gin-san
Di rumahnya, Gintoki sedang sibuk membalik halaman per halaman majalah JUMP miliknya. Buku favorit istri Hijikata Toushiro itu adalah satu-satunya hiburan kalau dirinya sedang senggang. Yorozuya masih beroprasi sampai saat ini. Setelah menikah, Hijikata membatasi ruang gerak Gintoki. Bukan berarti Gintoki tidak bisa melakukan aktifitas di Yorozuya, hanya saja Hijikata memintanya untuk tidak bekerja berlebihan mengingat dirinya saat ini kehamilannya menginjak bulan ke dua.
TING-TONG
'Wah ada pelanggan!'
Seru Gintoki dalam hati. Sudah beberapa hari ini dia tidak ada satupun mampir di Yorozuya miliknya. Satu kedatangan pelanggan, membuat wajah Nyonya Hijikata itu berseri. Dia pun bangkit dari sofa biru bututnya menuju ke pintu depan.
"Ya, tunggu sebentar!"
Berlari kecil untuk menyambut calon pelanggan, dia membukakan pintunya. "Selamat datang di Yorozuya Gin—" wajah yang berseri-seri itu seketika berubah jadi kecut saat dia tahu siapa yang berada di ambang pintu. "-san..."
"Sayang, papa pulang!" Sambut Hijikata di depan pintu dengan wajah penuh sumeringah ngga pakek dosa.
Gintoki langsung menarik kerah seragam suaminya tanpa ragu. "Ngapain lo pulang lagi?"
"Eh? A-A-Aku hanya ingin mengambil barangku yang ketinggalan kok!" Hijikata tahu istri peraknya ini sedang dalam mode Shiroyasha dilihat dari tatapan matanya itu. Dan itu bukan pertanda yang baik.
"APANYA YANG KETINGGALAN LAGI?! INI UDAH KE LIMA BELAS KALINYA ELO PULANG NGAMBILIN BARANG-BARANG ELO! ELO MAU PINDAHAN?! LAMA-LAMA KESEL, GUE SLEDING JUGA KEPALA LO!"
Amuk Gintoki kesal pada suaminya yang membuatnya jengkel di kehamilannya yang menginjak bulan kedua saat ini.
Seperti yang dicerocoskan Gintoki tadi, ini adalah kelima belas kalinya pria sekaligus suaminya yang menjabat sebagai Wakil Komandan Shinsengumi pulang ke rumah. Dengan alasan bermacam-macam tentunya. Yang pulang kebelet BAB dan toilet di Shinsengumi rusak, yang pemantik apinya ketinggalan, yang mayonesnya ketinggalan, untung aja itu poni bentuknya V alay tetep nempel di kepalanya, kalau nggak mungkin dia akan mengalami krisis identitas.
.
.
Markas Shinsengumi
Dengan wajah sembab, Hijikata sedang merenung di pojokan ruangan pribadinya. Mengunci lutut, menghadap ke pojokan, di temani awan abu-abu di atas kepalanya. Yamazaki yang merupakan tipe orang yang setia pada pekerjaan dan atasannya pun meringis prihatin melihat Wakil Komandan Shinsengumi itu dalam kondisi bermuram durja.
Apalagi kalau bukan karena dia lagi-lagi diusir oleh Gintoki karena mungkin si istri muak si suami selalu pulang setiap lima belas menit kalau Hijikata sedang ada waktu luang.
"Ng... Fukucho...?" Yamazaki berhati-hati memanggil atasannya tersebut.
Hijikata tidak menjawab. Dia asyik menggambar sesuatu dengan jarinya di atas tatami.
Setelah pernikahannya dengan Sakata Gintoki, entah kenapa Hijikata Toushiro yang perangainya keras kini berubah kembali menjadi anak remaja labil. Yah persentase perubahan itu tidak terlalu drastis sih. Dulu Hijikata yang cuek bebek, kini jika menyangkut masalah Gintoki dia sangat amat peka. Bahkan kadar kepekaan perasaan Hijikata melebihi alat testpack yang katanya keakuratannya bisa sampai 99,99%.
Yamazaki hanya bisa menghela nafas.
Sebenarnya tidak salah juga Gintoki kesal kepada suaminya yang selalu pulang untuk menengoknya itu. Karena mungkin Nyonya Hijikata berpikir kalau Hijikata pulang terus itu akan mengganggu pekerjaannya di Shinsengumi. Di sisi lain bukan salah Hijikata juga kalau dia terlalu mengkhawatirkan keadaan Gintoki yang saat ini dalam keadaan mengandung. Apalagi dari puluhan juta kesempatan untuk laki-laki bisa mengandung adalah satu dari sekian juta dan Gintoki adalah orang yang beruntung bisa memiliki anugerah itu.
"Fukucho, Anda harus bisa mempercayai kalau danna baik-baik saja di rumah." Yamazaki berusaha menyemangati Hijikata yang berada di pojokan. "Danna bukan merasa terganggu kalau Anda datang ke rumah untuk menengoknya. Tapi mungkin danna juga mengkhawatirkan Anda."
Lagi-lagi pria bersurai hitam itu hanya diam tanpa menyahut.
"Dia tidak ingin pekerjaan Anda terganggu. Dia juga memberi perhatian pada Anda, Fukucho."
Seketika kepala Hijikata memutar 90 derajat. Dengan wajah lusuh dan menyeramkan. Sampai-sampai Yamazaki hampir terjungkal ke belakang karena dia ingat adegan filem horor Exorcist yang kepalanya bisa muter 180 derajat itu.
"Astagfirullah, Fukucho! Sa-saha anjeun?!" (AN: Bahasa Sunda = Siapa kamu?)
Lalu wajahnya berubah menjadi sembab masih basah dengan air mata dan wajahnya yang sedikit membengkak karena setengah jam yang lalu dia kena bogem ama Gintoki.
"Be-benar kah? Gintoki? Perhatian padaku?"
Akhirnya Hijikata sudah mau duduk di atas bantal duduknya setelah merajuk di pojokan karena tadi dia dimarahi oleh Gintoki. Dia menceritakan keluh kesahnya kepada inpektur yang sering dia jadikan lampiasan kekesalannya kalau ada masalah itu.
Yamazaki yang seumur-umur bekerja pada Hijikata itu paham betapa sayangnya Hijikata pada Gintoki. Walaupun terkadang reaksi kimia yang terjadi antara kedua laki-laki itu jika bertemu tidak terlalu baik, namun jodoh siapa yang tahu. Sebelumnya dirinya, yang merupakan asisten pribadi dari Hijikata Toushiro pun tidak menyangka kalau laki-laki itu mempunyai perasaan pada orang yang biasa dipanggilnya danna itu.
"Padahal aku hanya pulang lima belas menit sekali ke rumah, tapi dia menganggapku itu mengganggunya..."
Yamazaki berkomentar dalam hati. 'Ya iyalah Fukucho, bisa-bisa itu pintu rusak elu keluar masuk teros cuma mau nengokin danna. Gua juga kalo jadi danna juga kesel keles.'
Merasa ada yang mengomentari dirinya, alis Hijikata menukik. "Kau mau bilang sesuatu?"
Kepala Yamazaki menggeleng cepat.
Bener, rasa kepekaan Hijikata ngalah-ngalahin kepekaanya testpack!
"Ba-bagaimana kalau Anda membelikan danna ponsel?" Usul Yamazaki cepat.
Alis menukik itu kembali normal. "Ponsel?"
Bawahan setia itu mengangguk. "Ya. Kalau misalnya danna punya ponsel 'kan Fukucho bisa menghubungi danna kapan saja gitu. Tanpa mengganggu danna di rumah."
"Ponsel ya..."
.
.
::Tiga hari Kemudian::
Yorozuya Gin-san
/"Gintoki, apa kau tidak apa-apa? Apa di rumah baik-baik saja?/
Suara Hijikata berada di seberang sana. Di susul oleh ledakan bom yang memekakkan telinga si penerima telpon, yaitu Gintoki.
"OOYY! BERHENTI NELPONIN GUE SAAT ELO LAGI TUGAS, BAKA YAROU!"
Ternyata suara Gintoki yang kesabarannya sudah habis jauh lebih memekkakkan telinga daripada suara bom yang baru saja diledakkan anggota ekstrimis Joui barusan. Sampai-sampai pria bergelar julukan Oni no Fukucho itu menjauhkan ponsel baru miliknya dari telinganya.
Saat ini, Hijikata sedang bertugas untuk melakukan penggerebekan penggelapan obat-obatan dan penyalagunaan obat terlarang yang dilakukan di markas ektrimis Joui yang kasusnya tempo hari belum selesai. Tapi persetan dengan tugasnya, calon ayah itu tetap melakukan kebiasaanya yang tidak hilang-hilang walaupun sudah didamprat oleh istrinya beberapa hari belakangan ini.
/"Tapi aku mengkhawatirkanmu, Sayang."/ Dengan tangkas pria berseragam Shinsengumi itu menangkis serangan-serangan pasukan Joui yang akan dia tangkap sesaat lagi.
"SAYANG MUKE ELU AMPLAS! INI UDAH BERAPA PULUH KALI ELU NELPONIN GUE HARI INI?! GUE KAGAK BISA KERJA GARA-GARA ELO NELPONIN MELULU!"
Marah. Kali ini bukan kata-kata manis yang keluar dari mulut Gintoki.
Jelas dia marah, ini sudah yang kesekian kalinya Hijikata menelfonnya dalam selang waktu jeda lima menit sekali. Semenjak Hijikata memberikan ponsel pada Gintoki, dia jarang pulang ke rumah tidak seperti kemarin-kemarin. Tapi tetap sama saja tidak ada perubahan yang berarti bagi suami yang bekerja pada pemerintahan Edo tersebut.
Penyakitnya tetap sama.
Terlalu mengkhawatirkan keadaan Gintoki.
Menanggapi emosi istrinya yang meletup-letup, di ujung sana Hijikata tersenyum lembut. /"Aku sudah bilang padamu sebelumnya 'kan? Kau tidak perlu bekerja. Biar saja aku yang bekerja."/
"Ta-tapi...!"
/"Karena... Tugas seorang ayah adalah untuk bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya di rumah." /Sabetan katana Hijikata mampu melumpuhkan musuh yang akan menyerangnya dari belakang. Seakan ada mata lain yang mengawasi pergerakan musuh itu. Dengan mudah Hijikata melindungi dirinya dari samurai-samurai yang bekerja untuk teroris itu.
Setelah semua penjahat itu dibereskan, dengan bangga dia berkata. /"Kau hanya perlu hidup, demi aku, dan juga calon anak kita."/
Gintoki yang berada di Yorozuya pun terkesima dengan perkataan suaminya barusan. Dia tidak lagi bisa menaikkan intonasi suaranya kepada suaminya yang terdengar tulus dan sungguh-sungguh itu. Tapi dia teringat sesuatu. "Hari ini ponsel siapa yang kau pakai pulsanya untuk menelfonku?" Tanya Gintoki dengan nada suara datar.
"E...Eh itu..."
R.I.P PULSA HAPE YAMAZAKI SAGARU
Tidak ada yang bisa menghalangi seorang Oni no Fukucho untuk bisa mengetahui keadaan istri tersayangnya.
Termasuk jika batre ponselnya habis, dia akan segera meminjam ponsel Yamazaki, atau Gorilla, atau siapapun yang berada di sekitarnya untuk dia pinjam untuk menelfon Gintoki. Dia mewajibkan untuk menyimpan nomor ponsel istrinya di ponsel anak buahnya.
Selain hambatan batre hape, dia juga sering kehilangan sinyal. Dia sering memaksa anak buahnya untuk mencarikan sinyal di atas atap markas Shinsengumi dengan memerintahkan mereka untuk berdiri seharian di atas sana untuk mencari… sinyal.
Seandainya sinyal dapat diborgol dan ditahan…
.
.
To Be Countinued
