Yosh! Chapter 2 dipublish juga akhirnya. Sesuai judulnya, cerita ini diadaptasi dari lagu dengan judul yang sama. Jadi maaf kalo ada character yg kalian suka tapi dijadikan antagonis disini. Tenang, di cerita ini ga ada unsur romance dan incest. Terima kasih buat yang udah baca dan review.
DOUZO GOYUKURI~
.
.
.
Karakuri卍Burst
By: Hikage VanaN'Ice
Disclaimer: Saat ini Vocaloid bukan milik saya
Genre: Angst, Sci-Fi, Crime
Pair: Rin and Len
Rate: T++++
Warning: Beberapa bagian di cerita ini mengandung unsur kekerasan dan adegan berdarah. Tidak dianjurkan bagi kalian yang di bawah umur dan tidak tahan membaca cerita pembunuhan. Jangan pernah mencoba adegan-adegan dalam cerita ini kecuali nyawa kalian terancam (apa-apaan ni author).
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
10 TAHUN KEMUDIAN...
Seorang pemuda berambut blonde seleher, dengan mata kanan ditutup oleh eyepatch yang mengenakan seragam hitam kebanggaan The Cryptonaziest,-organisasi yang mengatasnamakan keadilan dan kedamaian dunia serta penghapusan segala jenis kejahatan-, sekarang tengah berdiri diatas panggung eksekusi di pusat sebuah kota tua. Hari ini adalah waktu pengeksekusian seorang pemimpin tirani dari kota tersebut beserta keluarganya. Ciri khas pengeksekusian yang dilakukan oleh The Crytonaziest adalah menghapus semua jenis kejahatan sampai ke akarnya, dimana semua keluarga dan kerabat dari tersangka juga harus dieksekusi walaupun mereka tidak melakukan kesalahan. Karena menurut paham mereka kejahatan yang dilakukan para tersangka kemungkinan akan diturunkan kepada keluarga dan kerabat terdekatnya, dan untuk itu semua orang yang dekat dengan tersangka akan ikut dieksekusi.
Pemuda tersebut melihat kearah jam besar yang ada di bangunan pemerintahan kota tersebut. "5 menit lagi sebelum eksekusi." Bisik pemuda itu dalam hati. Dia kemudian mengeluarkan katana miliknya yang tergantung di pinggangnya. Dia meletakan bagian tajam dari katana tersebut di leher bagian belakang tersangka tersebut yang tengah diborgol kedua tangan dan lehernya. "Tolong, setidaknya lepaskan anak-anak dan istriku." Tersangka tersebut memohon dengan wajah memelas, tapi tidak dipedulikan oleh pemuda tersebut. Ia hanya diam menunggu lonceng berbunyi sebagai tanda dimulainya eksekusi.
TENG...TENG...TENG... CLASH! KAAK..KAAAK..KAAK..
Suara lonceng dan gagak mengiringi pengeksekusian tersebut. Pemuda tersebut sukses memenggal kepala sang tersangka sampai terlepas dari lehernya, darahnya memancar dan membasahi bagian tengah panggung. Istri dan anak dari tersangka tersebut menjerit-jerit melihat orang yang dikasihinya dibunuh dengan sadis, para penonton eksekusi tersebut hanya membisu. "AYAH!" Hegh! Teriakan anak dari sang tersangka menyadarkan pemuda tersebut yang sempat terdiam, dia teringat akan sesuatu. Dia mengangkat wajahnya dan melihat kearah anak lelaki yang meneriaki ayahnya tadi, mata mereka saling bertemu. Anak lelaki tadi memandang pemuda tersebut dengan pandangan keji tapi dibalasnya dengan tatapan yang datar tanpa perasaan. Dilihatnya disamping anak lelaki itu berdiri pula adik perempuan dan ibunya yang sebentar lagi akan dieksekusi dengan cara gantung diri.
Pemuda yang melakukan eksekusi tadi membalikan badannya, mengambil sebuah kain putih dari dalam jubahnya dan membersihkan darah yang menempel di katana tersebut. Setelah dia selesai membersihkan katananya, ia berjalan ke sisi kanan panggung dimana komandan dan asistennya berdiri. Sementara itu di sisi yang berlawanan sedang disiapkan untuk eksekusi selanjutnya yang akan dilakukan oleh Agent Meiko.
"Kerja bagus Agent Khusus Kagamine Len-kun." Puji Kaito, sang komandan. Pemuda bernama Kagamine Len itu hanya diam tidak menjawab apa-apa. Len hanya memperhatikan sisi lain panggung yang sebentar lagi akan dilakukan eksekusi selanjutnya. Agent Meiko memberikan isyarat siap kepada Komandan Kaito, ia pun memberikan izin untuk memulai eksekusi terakhir. Tanpa basa-basi, Agent Meiko melepaskan papan penyangga kaki dan ketiga orang berada diatasnya pun terjatuh dan leher mereka terjerat hingga mati.
Setelah acara eksekusi selesai, mayat dari orang-orang yang dieksekusi tadi dibakar sampai habis. Ini adalah paham lain dari organisasi tersebut, dimana inti dari kejahatan harus dibakar habis hingga kejahatannya tidak menyebar ke lainnya. Pembakaran dan api sendiri adalah simbol dari penghakiman neraka di dunia. Kaito dan pasukannya kembali ke tenda mereka untuk mengumpulkan laporan-laporan dari kegiatan eksekusi tadi. Agent Luka mendekati Kaito dan memberikan kertas laporannya ke Komandan mereka.
"Kau lihat, Luka? Bocah yang dulu kita pungut sekarang sangat berguna, dia menjadi alat penghakiman yang efektif. Itu yang dibutuhkan oleh organisasi kita." Kata Kaito dengan bangga seraya mengambil kertas yang diberikan Luka padanya.
"Ya, tapi dia masih punya kelemahan." Ujar Luka.
"Komandan, ini laporan dari anggota keamanan." Kata Len yang baru saja kembali ke tenda dan menyerahkan kertas laporan ke Kaito.
"Ya, terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Agent Khusus Len." Jawab Kaito.
"Aku ingin mengatakan ini lagi kepadamu komandan. Aku hanya akan mengeksekusi orang yang jelas-jelas melakukan kejahatan dari laporan dan bukti yang kita dapatkan. Aku tidak mau mengeksekusi keluarga atau kerabat mereka yang laporan dan bukti kejahatannya belum jelas. Kecuali di dalam pengeliminasian besar-besaran yang dilakukan terhadap organisasi illegal yang biasa kita lakukan." Len menjelaskan maksud dan kehendaknya.
"Ya saya paham, karena itu kau dapat julukan 'Agent Khusus'. Agent yang diciptakan khusus untuk menghakimi inti dari kejahatan tersebut. Terutama organisasi illegal milik Hatsune Miku, Yamaha Riech Corporation, bukan begitu?" tanya Kaito dengan wajah datarnya.
"Ya." Jawab Len dengan lantang.
DI TEMPAT LAIN, DI SEBUAH WILAYAH PERINDUSTRIAN YANG TERISOLIR
Di sebuah bangunan laboratorium tua, seorang wanita berambut hijau tosca panjang diikat ponytail dan memakai jas laboratorium sedang duduk di kursi kantor berwarna hitam. Sesekali ia duduk sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki. Melihat semua peralatan laboratorium yang tidak tersusun rapih di atas meja di sebelah kanannya. Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu laboratorium tersebut, wanita tersebut mempersilahkan orang tadi masuk.
"Ada apa, Hiyama-kun?" tanya wanita itu.
"Hasil penelitian yang anda minta sudah selesai." Jawab orang bernama Hiyama Kiyoteru yang tidak lain adalah asisten dari wanita tersebut sambil memberikan sebuah buku riset. Wanita itu menerimanya, dan membaca hasil penelitian yang menjadi projectnya saat itu. Dia tersenyum licik.
"Hohooo~ dia sudah berkembang sejauh ini ternyata. Waktunya untuk melepaskan dia di tempat percobaan pertama. Tapi sebelum itu, bawa dia kemari!" suruh wanita tadi ke asistennya. Asistennya menunduk, menandakan ia mengerti kemudian ia keluar dari laboratorium menuju ke sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti kamar isolasi. Dia mengambil sebuah kunci dari saku celananya dan membuka pintu kamar tersebut. Di dalam kamar itu, seorang gadis berambut blonde yang digulung ke belakang dan mengenakan yukata merah mini tanpa lengan ditutupi oleh jubah putih panjang. Dia dalam posisi duduk, seluruh tubuhnya diikat oleh sabuk, tangan dan kakinya diborgol, mata dan mulutnya ditutup oleh kain.
"Sebentar lagi waktunya untuk praktek di 'lapangan', tapi sebelum itu Profesor Miku ingin berbicara denganmu dulu. Aku akan melepaskan ikatanmu." Kata Hiyama. Gadis yang diikat itu mengangkat kepalanya sebagai respon. Hiyama mendekati gadis itu dan melepas sabuk yang mengikatnya satu per satu. Ketika ia melepas sabuk terakhir, BUAGH! Gadis itu menyundul dadanya sehingga dia tersungkur di atas lantai. Gadis itu berusaha melarikan diri, tapi karena tangan dan kakinya masih diborgol ia pun terjatuh.
"Cih, jangan merepotkanku. Kalau pun kau bisa melarikan diri dari laboratorium ini, organisasi kami akan selalu bisa membawamu kembali. Ingat, di seluruh organ tubuhmu sudah kami pasang alat pelacak dan juga pelumpuh. Jadi, tenanglah sedikit!" kata Hiyama yang bangkit kemudian ia mengambil kotak berisi suntikan pelumpuh syaraf dan menyuntikannya ke lengan gadis itu. Setelah si gadis lumpuh, Hiyama membuka borgol dan kain yang masih terpasang di gadis itu. Ketika kain yang menutupi matanya dibuka, terlihat mata kiri gadis itu ditutupi oleh perban. Hiyama langsung menarik kerah jubah gadis itu dan menyeretnya menuju laboratorium tempat Miku menunggu. Sesampainya di sana, Hiyama melempar gadis itu sampai tersungkur dihadapan Miku.
"Hei, hei.. Jangan kasar dengan kelinci percobaanku yang manis ini." Kata Miku sambil tersenyum licik.
"Maaf Profesor, dia tadi menyundul dadaku dan mencoba lari. Aku menyuntiknya dengan obat pelumpuh tadi." Jawab Hiyama dengan nada kesal sambil membetulkan kacamatanya yang sedikit merosot.
"Hmm, begitu. Yah, sebentar lagi dia juga akan bangun." Kata Miku sambil meletakkan kakinya diatas kepala gadis itu. Sesekali ia menginjak dan menendang pelan kepala gadis itu, memainkan kepalanya untuk membuatnya terbangun. Tak lama kemudian, ia membuka matanya yang merah menyala. Miku yang sadar dia sudah bangun, meletakkan ujung sepatu yang ia pakai di bawah dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya sehingga mata mereka saling bertemu. Gadis itu memandangnya dengan wajah yang segan.
"Bagaimana tidurmu kelinciku yang manis? Nyenyakkah? Sayang sekali sekarang aku tidak akan membiarkanmu tidur dulu karena kita punya pekerjaan hari ini. Ini adalah percobaan terakhir untukmu. Jika lulus, kau akan mendapat tempat khusus sebagai senjata manusia favoritku. Code Name-mu adalah R-1N, dan namamu adalah Rin." Ujar Miku dengan senangnya. Gadis bernama Rin itu bangun dari posisi tersungkurnya dan menyeringai.
2:30 a.m., DI PERBATASAN SEBUAH KOTA TUA...
Miku dan beberapa orang dari laboratorium miliknya kini tengah berdiri sebuah bukit memantau sebuah kota tua yang akan menjadi tempat percobaan objek penelitiannya. Kota itu selalu ramai setiap malamnya dan malam ini lebih ramai karena ada sebuah festival. Miku mengambil sebuah teropong dan melihat keadaan kota tersebut dengan teropongnya. "Sempurna." Kata Miku sambil menyeringai keji.
"Waktunya untuk berpesta anak-anak, semua orang berkumpul di pusat kota. Semua anggota yang ditunjuk akan berbaur dengan festival di kota itu. Rin, kau jadi bintang utama di acara ini, jangan sampai mengecewakanku. Kau boleh bunuh semua orang yang ada di kota. Untuk anggota lainnya, kalian urus orang-orang yang akan melarikan diri dari pesta, tapi jangan ganggu aksi Rin. PESTA DIMULAI!" teriak Miku dengan wajah penuh semangat. Anggota yang lain pun ikut bersorak dan mereka langsung menuju ke keramaian kota tersebut, sementara Miku dan Hiyama memperhatikan dari bukit itu
Rin berjalan sendiri menuju pusat kota dengan tertunduk. Dia menunggu tanda untuk memulai aksinya dari anggota lain yang berkomunikasi langsung dengan Miku. Rin melihat sekeliling dengan wajah yang malas, "Berisik!" bisiknya dengan suara pelan. Rin tidak terlalu suka keramaian, dia hanya diam berdiri di dekat monumen yang berada di tengah kota itu. Sebuah cahaya menyorot mata Rin sehingga perhatiannya teralih ke sumber cahaya tersebut. Ternyata, rekannya memberi tanda untuk memulai misi. Rin pun menyeringai.
DAR! DAR! DAR!
Sebuah suara tembakan terdengar dan seketika orang-orang di festival itu terdiam karena kaget kemudian melihat ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita tiba-tiba jatuh tergeletak penuh darah dengan luka tembak di dada dan kepalanya. Rin berdiri di depannya dengan tangan kanan penuh cipratan darah sambil memegang pistol yang ujungnya mengeluarkan asap. KYAAAAA! Orang-orang di sekeliling Rin menjerit dan berlarian panik ke segala arah. Rin memandangi tangan kanannya yang terkena darah kemudian ia tersenyum.
"Merah... Darah... Indah... Hihihihi... Lagi... Lebih banyak.. DARAH!" Rin berteriak dan mulai liar. Dia menembaki semua orang di hadapannya sambil tertawa lepas. Beberapa orang mencoba melarikan diri tapi kota itu sudah dikepun oleh anak buah Miku yang lainnya sehingga mereka terpaksa kembali ke pusat kota dan berakhir di tangan Rin. Ada pun yang mencoba menerobos, mereka langsung ditembak di tempat.
"Hancurkan! Hancurkan lagi! Semuanya! Hahahahahaha!" Rin terus menembakan peluru dari pistolnya, membunuh semua orang dan merusak pernak-pernik juga stand-stand festival di kota itu.
"Fuh, sepertinya dia sangat menikmati pestanya." Ujar Miku yang memperhatikannya dari jauh.
Jam 2:50, 'pesta' Rin dan rekan-rekannya selesai. Mereka mengumpulkan semua mayat orang yang mereka bunuh di pusat kota kecuali Rin yang hanya memperhatikan satu lentera yang masih menyala tergantung diatasnya.
"Tidak cukup... ini masih tidak cukup." Bisik Rin dengan suara pelan.
"...kau boleh membunuh SEMUA orang yang ada di kota..." Rin menyeringai ketika ingat kata-kata majikannya.
"Baiklah ini yang terakhir, kita kembali seka-[DAR! DAR!]" belum selesai berbicara, rekan satu tim Rin ditembaki olehnya.
"Kenapa kau tembaki dia? Kau penghianat!" teriak anggota tim lainnya.
"Aku tidak berkhianat. Bukankah Professor sudah bilang aku boleh membunuh SEMUA orang yang ada di kota ini?" jawab Rin sambil menyeringai dan menjilat darah yang ada di tangannya. Rekan-rekan satu timnya melangkah mundur dan langsung berlari menjauhi Rin.
"Tidak boleh, loh! Lari dariku!" Kata Rin yang langsung menembaki semua rekannya dengan sangat cepat sehingga tidak ada satu pun dari mereka dapat melarikan diri. "Fufufu.. AHAHAHAHA! MENYENANGKAN! INI MENYENANGKAN! MEMBUNUH, MENGHANCURKAN, LAGI DAN LAGI! HAHAHAHA!" Rin tertawa dengan lepas sambil menembaki tubuh mayat yang ada disekitarnya.
"Hei, hei... apa tidak masalah semua orang-orang kita juga jadi sasarannya, Profesor?" tanya Hiyama yang melihat kejadian itu.
"Tidak masalah, mereka cuma boneka yang sudah tidak terpakai. Sudah saatnya untuk dibuang. Lagi pula, aku sudah punya boneka baru yang menarik." Jawab Miku yang tengah duduk di kap mobilnya. Hiyama hanya terdiam mendengar jawaban majikannya dan kembali memantau Rin yang masih ada di kota. Ketika melihat ke arah lain, ia mendapati sebuah mobil jeep mendekati kota tempat Rin berada dan di mobil itu terpasang bendera organisasi The Cryptonaziest.
"Kita punya masalah Professor, 'Iblis Biru' dan pasukannya mengarah ke kota. Apa dia tau kita berada disini?" tanya Hiyama.
"Tidak, tidak sama sekali. Dia menuju ke kota itu karena di kota itu ada seorang pengedar obat terlarang yang akan melakukan transaksi dan dia mau mengeksekusinya langsung di tempat. Ah! Kita harus memanggil kembali boneka kita." Kata Miku yang kemudian ingat Rin masih ada di kota itu berdiam diri.
"Tapi bagaimana? Anggota kita sudah dibunuh semua olehnya, dia tidak membawa alat komunikasi, dan kalaupun aku menjemputnya tidak akan sempat." Tanya Hiyama lagi.
"Tenang saja. Selama ada peluit infrasonic ini dan jarak kita tidak lebih dari 1 km, dia akan datang menghampiri kita dimanapun kita berada." Jawab Miku sambil menunjukkan peluit berwarna perak yang ia kalungkan. Miku kemudian meniup peluit itu. Rin yang mendengar suara infrasonic dari peluit itu langsung merespon dan berlari menuju tempat Miku dengan kecepatan yang tidak lazim bagi seorang manusia. Sesampainya di tempat berkumpul, Rin, Miku, dan Hiyama langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kota itu.
Tak lama setelah Miku dan bawahannya pergi, Kaito dan pasukannya sampai di kota tersebut. Mereka semua tertegun melihat kekacauan yang terjadi di kota itu termasuk Len. Kaito dan yang lain memeriksa ke seluruh sudut kota mencari orang yang masih hidup, tapi tak ditemukan satu pun. Mayat orang kota semuanya sudah tertumpuk di pusat kota.
"Siapa yang melakukan semua ini? Hah! Jangan bilang.." terka Kaito dalam pikirannya.
"Komandan, kita menemukan ini di beberapa mayat-mayat itu." Kata Luka sambil memberikan badge dengan lambang ular bersayap yang melingkari huruf Y.
"Yamaha Riech Corporation. Ilmuan gila itu, dia pasti menggunakan orang-orang di kota ini sebagai objek percobaannya. Bahkan ia membunuh rekan-rekannya sendiri." Ujar Kaito sambil meremas badge yang ada di tangannya. Len yang mendengar itu sangat geram, ia menggertakan giginya saking kesalnya dengan perbuatan keji organisasi ilegal itu.
"Dilihat dari kondisi mayatnya, mereka pasti baru meninggalkan tempat ini. Perintahmu komandan. Haruskah kita mencari jejak mereka." Tanya Meiko yang baru saja memeriksa salah satu mayat yang ada disitu.
"Lakukan itu nanti saja. Tugas kita hari ini adalah menemukan pengedar obat terlarang itu. Cari mayatnya dan bakar bersama mayat dari anak buah ilmuan gila itu." Perintah Kaito.
"Bagaimana dengan mayat lainnya komandan?" tanya anggota lainnya.
"Kubur mereka semua dalam satu lubang. Cari tanah kosong untuk membakar dan mengubur mayat-mayat ini!" Perintah Kaito kepada semua pasukannya.
"YES SIR!" jawab seluruh anggota dengan kompak. Beberapa anggota ada yang memindahkan mayat-mayat itu, menggali lubang yang besar, dan menyiapkan bahan bakar untuk membakar mayat 'terdakwa'. Sementara itu, Len hanya berdiam diri di dekat monumen di pusat kota. Dia memperhatikan tanah di sekitarnya yang dipenuhi oleh darah dan peluru-peluru yang tergeletak disana. Len mengambil peluru itu dan meremukkannya dengan tangannya sendiri. Dari belakang, Kaito menepuk pundak Len dan berdiri di sampingnya.
"Selanjutnya kita akan memusatkan pencarian kita untuk menangkap ilmuan gila itu dan semua pengikutnya sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh lagi. Aku akan membentuk divisi baru khusus untuk mencari dan memusnahkan Yamaha Riech Corporation. Kau ikut kan, Agent Khusus Kagamine Len?" ajak Kaito kepada Len. Ia langsung menghadap ke arah komandannya dan memberi hormat sebagai tanda bahwa ia menyetujui ajakannya.
MARKAS ORGANISASI YRC, WILAYAH PERINDUSTRIAN TERISOLIR
Miku, Hiyama, dan Rin telah kembali ke markas mereka dengan aman tanpa diikuti oleh Kaito dan pasukannya. Miku langsung memeriksa catatan laporan hasil penelitian lapangan yang ia lakukan tadi dibantu oleh Hiyama. Sementara itu, Rin sedang terbaring di dalam sebuah tabung kaca yang terhubung dengan alat-alat laboratorium dan komputer pusat milik Miku. Kondisinya sedang diteliti langsung oleh Miku untuk mencocokannya dengan laporan hasil penelitian lapangan tadi.
"Sempurna! 'Boneka Pembunuh' yang aku ciptakan sudah sempurna! Kau lulus, R-1N!" kata Miku dengan antusiasnya sambil menekan sebuah tombol yang membuat tabung kaca tempat Rin terbaring terbuka. Rin yang terbaring di sana langsung bangun dari posisi tidurnya namun masih terduduk di atas mesin itu.
"Bunuh... Aku masih ingin membunuh... Belum cukup.." ujar Rin sambil tertunduk.
"Ya, aku mengerti itu. Tapi untuk sekarang kita istirahat dulu, Rin-chan." Kata Miku sambil mengelus kepala Rin.
"Aku mau...SEKARANG!" BRAK! Rin menepis tangan Miku dan menendangnya hingga ia terpental jauh dan menabrak lemari arsip dibelakangnya. Miku perlahan berdiri sambil mengusap darah yang ada di tepi bibirnya kemudian ia menyeringai. Rin mengambil pisau bedah yang ada di atas meja disebelahnya dan berlari menuju ke arah Miku hendak menusuknya. Dengan sigap Miku mengambil buku arsip yang ada dibelakangnya dan melindungi dirinya dengan buku itu sehingga pisau yang dipegang Rin tadi tertancap di buku itu. Miku langsung menggenggam tangan Rin dengan kuat kemudian menendang kuat ulu hati Rin dengan lututnya dan menghantam tengkuk leher Rin dengan sikutnya. Rin pun terjatuh dan tak berdaya, Miku menginjak punggungnya dengan kuat sehingga Rin mengeluarkan darah dari mulutnya. Miku kemudian jongkok di sebelah Rin yang sedang terbaring di lantai.
"Sudah kubilang aku mengerti apa yang kau butuhkan. Aku akan menyediakan korban untuk kau bunuh kapanpun kalau kau menuruti semua perintahku. Tapi untuk sekarang kau harus menenangkan dirimu dan beristirahat, dasar boneka yang merepotkan." Ujar Miku sambil menjambak rambut Rin yang kemudian ia lepaskan lagi. Miku mengambil suntikan yang berisi obat bius yang ada di dalam lemari kaca disebelahnya dan menyuntikan itu ke tubuh Rin. Tak lama setelah itu, Rin pun kehilangan kesadarannya.
"Maaf Professor, aku tidak sempat menolongmu." Kata Hiyama sambil menghampiri Miku dan Rin.
"Tak apa. Ini semua sesuai dengan prediksiku. Dia memang akan kehilangan kontrol diri setelah penelitian lapangan itu. Killing Desire-nya sudah mencapai maksimal, kita hanya perlu membuatnya sedikit 'nurut' kepada kita. Bawa dia kembali ke kamarnya, jangan lupa ikat dia seperti biasa." Kata Miku memberi perintah kepada asistennya. Hiyama mengangguk dan menyeret Rin keluar dari laboratorium. Setelah mereka berdua keluar, Miku duduk di bangkunya sambil menengadah ke atas melihat ke arah langit-langit laboratorium.
"Tapi meskipun begitu, sepertinya penelitian berikutnya akan ada banyak gangguan. Mengingat mereka pasti akan mengejar kami, ya kan Komandan Kaito?" Miku bergumam sendiri sambil menyeringai dan tertawa keji.
...
(TSUZUKU)
...
Akhirnya sudah masuk ke dalam cerita utamanya. Gimana menurut kalian? Jangan lupa review yak! Kalo ga review, ga aku lanjutin nih ceritanya *plak*. Chapter selanjutnya kemungkinan akan di pubilsh sekitar 2 minggu lagi, paling lama 1 bulan kemudian. Jangan kapok baca cerita-ceritaku ya.
JYA NEE~
\(^w^)/
