Still A Secret

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, Mushi cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, a little bit humor, family

Pair : Naru(22) x Hina(17)

Warning : JealousyHina! OOCHina! Typos, OOC and many more.


Two Shot!

Sequel "Our Secret"


OoOoOoOoOoOoOO

FluffTimeProject#31#

OoOoOoOoOoOoooOOoOoOoOoO

"Jadi kita mulai dari apa saja bagian-bagian dari Generic Structure Narrative Text terlebih dahulu, karena masih ada yang tidak mengerti di sana. Tapi untuk kali ini Sensei ingin mengecek dulu siapa yang masih hapal dengan pelajaran kemarin, apa ada yang bisa menjelaskannya sekali lagi?" dengan pandangan Saphire yang menelusuri semua murid-muridnya. Kedelapan murid yang kini sudah duduk dengan rapi di ruangan.

"…."

Tidak ada yang merespon.

Kening sang Uzumaki berkerut sekilas, apa tidak ada yang paham dengan pengajarannya kemarin atau dia yang tidak pintar mengajar orang lain?

Mereka tidak mengerti, tapi kenapa semua pandangan tertuju jelas padanya? Di tambah lagi tatapan datar dan kerutan bingung yang paling banyak di keluarkan oleh murid-murid perempuannya.

Yah-

Kecuali Hinata tentunya.

"….."

Gadis indigo itu sudah hampir tiga kali menghela napas panjang, dengan kedua tangan yang memegang buku. Dirinya merasakan dengan jelas tatapan tajam keempat temannya kini.

Apa lagi masalahnya kalau bukan-

"Ano ne, Sensei,"

Hinata tiba-tiba membuka percakapan kembali, Naruto langsung semangat menjawab. "Ya?!" menatap penuh senyuman ke arah murid sekaligus istrinya tersebut.

Jii~

Kedua manik Lavender itu semakin menatapnya datar, reflek tegukan ludah sang Uzumaki lakukan. Oke, istrinya ini sepertinya benar-benar kesal. Senyuman di wajah tadi segera luntur, di gantikan keringat menetes di keningnya.

Sekilas pandangan Hinata menoleh ke arah lain, "Bisakah Sensei menjauh sedikit dariku, tempat duduk di sini sudah penuh dan tidak cukup menampung anda juga." Dengan nada sesopan mungkin, Naruto berusaha menahan kerucutan bibirnya.

Apa-apaan Hinata, kenapa malah kesal? Bukannya seharusnya dia yang kesal, kedekatan Kiba pada istrinya sangat terlihat jelas dan dia tidak bisa tinggal diam kan?!

"E..eh? Tapi kan siapa tahu ada yang tidak kau mengerti Hinata, jadi Sensei sengaja duduk di sini." Menjawab dengan cepat.

Tapi tidak cukup membuat semua orang di ruangan itu mengerti, malah tambah heran.

Shion yang mendengar perkataan Senseinya seolah tidak terima langsung saja ikut andil, "Hee, Sensei lupa ya kalau kami mengajak Hinata kan karena dia sudah mengerti semua pelajarannya, jadi siapa tahu kalau nanti Sensei tidak sempat mengajari kami semua, kita bisa meminta bantuan Hinata. Jadi sekarang harusnya Sensei duduk di dekat kami."

Sakura, Ino, dan Sara mengangguk kompak, setuju dengan perkataan gadis pirang itu.

"Iya, Sensei, kami berempat masih tidak mengerti pelajarannya. Jadi biarkan saja Hinata duduk di samping Kiba," gadis merah muda itu berujar cepat.

Naruto makin terpojok.

Hinata mendengus geli, tingkah possessive Naruto dan teman-temannya benar-benar sama.

Menatap ke arah laki-laki di sampingnya, "Nah, Sensei bisa pindah sekarang ke sana. Biarkan aku mengajarkan Kiba-kun di sini, oh atau mungkin aku bisa pindah tempat duduk di-" belum sempat berbicara, kalimatnya terpotong sempurna.

"Kiba bisa bertanya pada Sasuke dan Shikamaru kan? Jadi untuk apa kau mengajarinya,"

Semua orang di sana melongo kompak. Shikamaru menguap, Sasuke menatap curiga dan Kiba semakin menaikkan alisnya.

Guru mereka kenapa tiba-tiba aneh begini.

Gah! Sekarang dia benar-benar ingin memukul kepala suaminya ini! Kalau sudah seperti ini, Naruto dalam mode anak kecil, dia sama sekali tidak bisa menang dari sikap keras kepalanya. Tidak mau kalah, tidak mau menerima saran, dan tidak mau tahu apapun selain pendiriannya sendiri.

Mencoba tenang, dalam hati mengambil napas dalam-dalam. Jika memang Naruto tidak suka melihatnya dekat dengan Kiba, satu-satunya cara yang ampuh tentu saja.

Baru ingat bagaimana Naruto tidak suka dirinya memanggil laki-laki lain dengan suffix 'kun' dia pasrah, "Hh, baik-baik Kiba akan bertanya dengan Sasuke atau Shikamaru. Jadi sekarang aku akan mengajar Sakura, Sara, Ino atau Shion." Melirik ke arah Naruto maupun keempat gadis di sana.

Sang Uzumaki langsung tersenyum paham, keempat temannya malah seolah tidak rela.

Hah, dia benar-benar ingin pergi dari sini. Oke Hinata mengerti -sangat- kalau keempat gadis ini datang sebenarnya bukan untuk belajar tapi hanya ingin bersama lebih lama dengan Sensei mereka itu saja! Dan dia ke sini karena paksaan mereka, bukannya lebih baik biarkan saja mereka datang ke sini, sementara dirinya bisa bersantai di rumah orang tuanya, atau jalan-jalan mungkin membeli bahan makanan untuk malam ini?

Mempertahankan dirinya agar tidak lepas kendali, tanpa aba-aba gadis indigo itu langsung saja bangkit dari tempat duduknya. Berjalan pelan mendekati keempat gadis di sana.

"Nah, sekarang siapa yang mau bertanya padaku?" menanyakan pelan.

Sebelum-

"…" tidak ada yang merespon, yang Hinata dapatkan hanya cengiran kikuk dari keempat temannya. Seolah mengirimnya sinyal, dan telepati secara bersamaan.

Sakura kedip-kedip, Ino berbisik di telinganya, Shion dan Sara masih nyengir.

"Nee, Hinata biarkan kami bertanya pada Naruto-sensei ya? Gomenne, kau tahu kan sebenarnya kami ke sini gara-gara apa, hehe~" gadis pirang pony tail itu menjulurkan lidahnya sekilas, dan mencoba memberitahunya.

"…."

Yah, dan tebakannya benar.

Menghela napas panjang, ia mengangguk paham, "Ya, aku mengerti. Silahkan bertanya sepuas mungkin pada Naruto-sensei, aku akan diam di sini saja." Ikut bergumam kecil, dan di akhiri dengan tatapan berbinar keempat temannya.

Dan detik berikutnya.

Hinata bisa melihat kembali bagaimana suaminya kini di kerumuni oleh para fansgirlnya yang tidak lain adalah temannya sendiri.

Hah, 'Sabar Hinata,'

.

.

.

.

.

.

Sekarang Hinata benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di sini, diam melihat buku pelajaran di atas meja. Tangannya masih sibuk mencoret-coret tidak jelas di sana, dengan kening yang tertekuk dan untungnya tertutupi oleh poni. Suasananya memburuk saat mendengar suara-suara keempat temannya memanggil nama Naruto dengan nada memuja. Rona merah mereka masih ada, dan keempat gadis itu masih anteng duduk mengerumuni guru mereka.

Menanyakan hal-hal yang mereka mengerti, tapi apa yang ia lihat. Tepat saat Naruto menjelaskan dengan serius, keempatnya malah memandang sang Sensei tanpa henti.

Separah itukah pheromone yang di keluarkan suaminya? Sampai-sampai membuat teman-temannya tergila-gila seperti itu?

Mendengus singkat, melihat kedekatakan teman dan suaminya, membuat pikiran-pikiran aneh tak ayal melintas di pikirannya.

Membatin tanpa sadar, 'Kenapa aku tidak boleh mengajari Kiba, kalau Naruto-kun bisa mengajari teman-temanku?! Apa salahnya aku mengajari teman, aku ke sini juga karena alasan itu kan?!' kesal, mengepalkan kedua tangannya.

Mengidahkan suara ribut di seberang sana, Hinata langsung memperhatikan sosok Kiba yang kini duduk malas dengan dagu berada di atas meja. Berkali-kali menghela napas panjang, dan tidak ada bertanya sama sekali dengan kedua temannya.

Sedangkan Shikamaru yang sudah terlelap dan menyender di dinding, serta Sasuke yang fokus pada smartphonenya, beberapa kali melirik ke arah Sakura dengan tatapan cemburu bercampur kesal, mereka sudah pasti tidak ada niat untuk membantu Kiba.

'Aku tidak mau diam saja!' berteriak kecil dalam hati, melirik ke arah Naruto sekilas. Memastikan laki-laki itu tidak melihatnya.

"….."

Sampai-

Suaminya sudah di kerumuni oleh keempat temannya, melempar senyum sok keren, dan tenangnya.

Hinata kesal tanpa sadar.

Mengembungkan pipi, tanpa aba-aba gadis indigo itu mengetuk pelan meja di hadapannya. Membuat Kiba yang sedari tadi menelungkupkan wajah di sana mengadah cepat. Terkejut,

"Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyakan padaku saja Kiba. Supaya kau tidak percuma ke sini, lagipula kalau bertanya pada Naruto-sensei sepertinya akan memakan waktu yang lama." Berbisik sengaja agar hanya Kiba yang mendengar.

Pemuda coklat itu tersenyum lebar, mengangguk semangat, hendak bangkit dari posisi dan duduk di sampingnya.

Sebelum-

"Kau tetap di sana saja Kiba, aku akan menjelaskannya dari sini." Dengan senyuman polos, tanpa melihat raut kecewa dari sang Inuzuka.

Ya, Hinata juga tidak mau membuat kedatangan temannya ini sia-sia. Kepintaran Kiba yang tidak seperti kedua sahabatnya itu membuat ia harus mengajarinya juga. Sudah datang jauh-jauh tapi tidak dapat apa-apa kan dia jadi tidak tega.

Terlalu baik-

Hinata memang gadis polos yang terlalu baik. Sang Hyuuga sendiri tidak sadar maksud pemuda coklat itu ke sini. Di kiranya datang untuk belajar ternyata hanya ingin melihat wajahnya saja. Itu artinya Kiba suka dengan Hinata. Tapi sang empunya sendiri tidak sadar.

Menghela napas singkat, Kiba mengangguk paham. Mengambil bukunya yang sejak tadi tergeletak di lantai, dan menyodorkannya pada Hinata. Sengaja memanjangkan tangannya agar mencapai dan bisa di ambil oleh sang Hyuuga. Membuat tubuhnya semakin dekat dengan meja, dan memperhatikan wajah gadis indigo itu jelas.

"Aku tidak mengerti bagian ini, ini, dan ini~" bertanya dengan asal, memilih hal yang entah ia sudah tahu atau tidak.

"Oh, oke." Hinata mengangguk, salah satu tangannya sengaja terangkat dan menyampirkan rambut yang sengaja di biarkan terlepas sedikit ke belakang telinga.

Membuat Kiba mengerjap, dan reflek menatap lekat gadis itu.

Oke, Hinata benar-benar terlihat cantik sekarang. Bahkan sang Inuzuka meneguk ludahnya tanpa sadar, mengidahkan bibir sang Hyuuga yang mulai menjelaskan pelajaran dengan fokus.

Sasuke sadar dengan sikap temannya, mendengus geli. Sengaja membiarkan keduanya seperti itu dan kembali melakukan kegiatannya.


OoOoOoOoOoOoOoOoO


Keadaan Naruto sekarang~


Masih mengajari keempat muridnya, "Aku tidak mengerti yang ini Sensei~" Sara bertanya untuk yang kedua kalinya, Naruto mengangguk kecil. Memulai penjelasannya.

"Kalau yang ini apa bagian-bagiannya?" Sakura ikut bertanya.

"Hm, kalau yang itu bla-bla-bla-"

"Yang ini?"

Naruto senang kalau murid-muridnya punya semangat belajar seperti ini, tapi ada kalanya ia juga lelah di kerumuni seperti sekarang. Rasa panas mulai menjalar, sudah tiga puluh menit mengajari keempat gadis ini, dan dirinya sudah merasa sesak.

Sepertinya ia harus memberitahu mereka.

Menghentikan penjelasannya, sang Uzumaki menghela napas panjang, menatap semua murid di dekatnya dan tersenyum kecil, "Kalau kalian mengerumuni Sensei seperti ini, Sensei bisa sesak napas. Bisa menjauh sebentar." berujar sopan, membuat keempat muridnya tersentak malu dan terkikik kecil.

"A..ahaha, gomen Sensei kami terlalu semangat bertanya~" Shion menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, sedangkan ketiga temannya tertawa kikuk.

Benar saja, melihat sosok Senseinya dari dekat yang kepanasan. Keringat yang mulai menetes dari keningnya dan pakaian yang sedikit basah di bagian punggung membuat mereka sadar sepenuhnya.

'Hh, sebaiknya aku memberikan mereka cemilan kecil.' Membatin kecil, di saat keempat muridnya perlahan tidak mengerumuninya lagi.

"….."

Kedua manik yang tadinya terhalangi oleh muridnya perlahan-lahan kembali jelas. Perasaan lega yang sempat di rasakannya, langsung saja hancur seketika.

"…."

Benar-benar hancur sekaligus kaget.

Membulatkan mata, kerutan keningnya mulai terlihat.

Apa yang ia lihat sekarang?! (lagi)

Walaupun dengan meja yang membatasi mereka berdua, tapi tidak dengan tubuh murid berambut coklatnya yang sengaja di buat sedekat mungkin bahkan hampir menempel dengan meja, agar bisa berdekatan dengan istrinya lagi!

Ck, anak itu!

Berdecak dalam hati, mendecih samar. Laki-laki berumur dua puluh dua tahun itu tanpa basa-basi mengeluarkan suaranya cepat.

"Apa yang Sensei bilang tadi tentang larangan berpacaran di sini, Kiba, Hinata?" dengan nada di tekan.

Sukses menyentakkan Kiba, membuat pemuda coklat itu menjauhkan tubuhnya dari meja dan kembali duduk seperti semula.

Sedangkan Hinata-

Kedua manik Lavender itu menatap datar sang Uzumaki, kekesalannya sudah di puncak, dan dia juga punya batas kesabaran, di tambah lagi sampai kapan Naruto akan mengucapkan kalimat itu berkali-kali?! Berpacaran dengan Kiba?!

Arghh!

Dia yang biasanya polos dan pemalu juga bisa jadi gadis yang galak!

Dengan sikap tenang, "Kami hanya belajar di sini, Sensei. Tidak lebih. Jadi jangan beranggapan yang macam-macam." Mengeluarkan nada singkat, dan ikut di tekan.

Naruto meneguk ludah cepat.

Lho?

Ke..kenapa istrinya tiba-tiba mengucapkan kalimat dengan kesal seperti itu?

Masih mencoba mengendalikan ketenangannya.

"Sensei tidak beranggapan yang macam-macam, Hinata. Hanya saja, Kiba bisa bertanya pada kedua temannya kalau mau, bukannya padamu."

'Tahan Hinata, tahan!'

"Seperti yang Sensei lihat sendiri, saat ini Shikamaru tengah tidur dan Sasuke yang sama sekali tidak ada niat mengajarkan Kiba, jadi aku yang membantunya." Membalas cepat.

Naruto masih tidak mau kalah.

"Kalau mereka tidak mau, untuk apa keduanya kemari?"

"Kalau aku juga tidak melakukan apa-apa di sini, di saat teman-temanku tidak ada yang mau bertanya denganku. Untuk apa aku kemari? Lebih baik aku PULANG saja." Nada yang ketus terdengar mengalun, Naruto semakin pangling.

Keempat gadis di sana menatap tak percaya sosok gadis yang polos dan lugu itu terlihat kesal sekarang. Apa Hinata kesal karena mereka hanya menggunakannya sebagai alasan saja agar bisa belajar di sini?

Menatap gadis itu dengan bersalah, "A..aa, Hinata jangan pulang dulu."

Naruto merasakan aura mengancam dari belakang istrinya, mood gadis itu sepertinya tengah buruk. Dan dia tidak ingin membuat suasana semakin rumit di sini. Terpaksa, ia harus menahan diri untuk kali ini.

Sang Uzumaki tidak mau melihat kemarahan Hinata.

"Hh, baik-baik maafkan Sensei," dirinya segera menatap keempat muridnya cepat.

"Kalian juga Sensei tidak mungkin mengajari semuanya sekaligus, jadi bertanyalah pada Hinata, atau pada Sasuke dan Shikamaru juga bisa."

'Jangan biarkan Kiba saja yang bertanya pada Hinata!' membatin dalam hati.

Keempat gadis itu kompak menunduk lesu dan mengangguk, "Baik, Naruto-sensei."

Hinata mendengus kecil, dan sengaja mengidahkan perkataan suaminya. Ia kembali memberikan penjelasan untuk Kiba.

"Jadi untuk yang ini, Narrative Sentence generic structurenya yaitu Orientation, Compilation, Resolution dan yang terakhir Re-Orientation, nah keempat bagian ini di bagi lagi, dari sini sudah mengerti?" menjelaskan dengan seksama, dan menatap Kiba kembali.

Pemuda coklat itu mengangguk semangat, masih dengan pandangan yang entah kenapa dari tadi Hinata perhatikan tidak pernah lepas sama sekali darinya. Atau ini hanya perasaannya saja?

"Jelaskan pembagian keempatnya itu, Hinata~" dengan topangan dagu, dan perasaan rileks karena guru pirang itu tidak mengganggunya.

"Baiklah, jadi-"

"….."

"….."

Kedua orang itu terlihat asyik sekali ya? Naruto yang hendak membuang jauh-jauh perasaan cemburunya. Hinata yang polos dan tidak sadar membuatnya gemas.

Tidak sadarkah kalau Kiba itu suka dengannya?!

Dan Naruto tidak suka melihatnya!

Kedua tangannya kini mengepal tanpa sadar, bibir mengerucut persis seperti anak kecil, dan kesabarannya yang mulai hilang.

Tepat saat-

Bagaikan drama-drama di televisi, saat Hinata hendak mengambil penghapus di dekatnya dan Kiba yang dengan sengaja ikut mengambil, membuat kedua tangan mereka saling bersentuhan.

Hinata terkejut, menarik tangannya cepat.

Kiba tersenyum lebar, dengan rona merah di pipi.

Oke, itu tadi sudah membuat urat sabarnya putus seketika.

Tanpa aba-aba, sang Uzumaki bangkit dari posisinya, mengidahkan tatapan heran muridnya, dan mengeluarkan alasan selanjutnya. Dia yakin pasti berhasil menjauhkan murid coklatnya itu dari Hinata!

Mengeluarkan sosok penuh wibawa, dan senyuman pura-pura tenang, "Hinata, bisa bantu Sensei mengambil makanan di dapur sebentar?" Naruto meminta bantuan dengan pandangan keren.

Melangkahkan kaki hendak menghampiri sosok indigo di sana, gadis yang kini mengadahkan wajah dan menatapnya bingung.

Sebelum-

Hinata buang jauh-jauh wajahnya. Mendengus seolah tak peduli.

"Biar aku saja yang bantu, Sensei!" Ino yang tiba-tiba muncul di sampingnya dan berteriak kecil. Sakura, Shion dan Sara tak kalah cepat. Ketiga gadis itu sudah ambil posisi di kanan, kiri dan belakang tubuh gurunya.

Gila!

Naruto kaget setengah mati, "Eh?"

"Aku saja!"

"Aku yang duluan bicara!"

"Kalian belajar saja, biar aku yang membantu Sensei!"

"Tidak! Enak saja!"

Sang Uzumaki sweatdrop, mengangkat kedua tangannya, membentuk pose bertahan, dirinya tersenyum kikuk, "A..ano, Sensei bisa meminta bantuan Hinata untuk membantu, kalian belajar saja-"

Keempat gadis itu menoleh kompak, "Hinata sedang sibuk, jadi biarkan salah satu dari kami saja!"

Dia cengo, sejak kapan murid-muridnya jadi buas seperti ini?

"…." Terdiam kaku. Menatap bagaimana keempat gadis itu mulai melakukan permainan gunting, batu, kertas untuk pemilihan.

"Ayo mulai! Siapa yang menang!"

"Ya!"

"Gunting,"

"Batu, kertas!"

"…"

"Yes, aku menang!" Sara berteriak senang, gadis berambut merah itu tersenyum lebar sedangkan teman-temannya menatap cemberut.

"Tidak bisa di ulang lagi?" Shion bertanya tidak rela,

"Tidak! Sudah fix!" Sara menolak tegas, menatap berbinar ke arah gurunya.

"Aku yang bantu Sensei!" berujar penuh semangat, sedangkan sang Uzumaki menatap lesu. Mau tak mau menyetujui permintaan muridnya. Padahal tadi dia ingin berduaan saja di dapur bersama istrinya. Mengingat kalau tadi pagi dia tidak sempat memberikan ciuman selamat pagi, dan memeluk puas gadis itu.

"Hh, baiklah~" berjalan pelan, dengan ekor mata yang masih menyaksikan jelas bagaimana Hinata mengajari Kiba. Bibirnya semakin mengerucut kesal,

Bahkan sampai keluar dari ruang tamu dia masih bisa curi-curi pandang.

"…." Hinata merasakannya tentu saja. Bagaimana punggungnya terasa di di perhatikan sejak tadi.

'Hah, aku lelah~' mendesah dalam hati, berharap kalau hari ini cepat berakhir.

.

.

.

.

.

.

.

Berjalan ke dapur, dan hendak mengambil cemilan, dengan Sara yang mengekor di belakangnya. Gadis merah itu dengan senyum puas menilik semua sudut ruangannya. Sedangkan dirinya segera berjalan ke arah kulkas, mengambil minuman yang telah di siapkan Hinata tadi pagi.

Dan benar saja-

Gelas besar dengan minuman dingin kesukaannya sudah tersimpan rapi di sana. Berterima kasih pada istrinya karena sudah mau susah-susah menyiapkan segalanya.

"Sara, bisa siapkan gelas delapan buah untuk teman-temanmu? Gelasnya ada di rak sana, dan nampannya ada di sebelahnya." Berujar meminta bantuan pada muridnya.

Gadis merah itu mengangguk paham, "Baik, akan kuambilkan!" segera dengan cekatan mengambil gelas yang tersedia di sana.

Sedangkan Naruto, mengeluarkan minuman dingin di kulkas, sekarang ia hanya perlu mencari cemilan yang sempat di buat Hinata kemarin.

"Dimana?" bergumam tanpa sadar, entah kenapa otaknya yang suka lupa-lupaan kembali menyerang.

Mengerutkan kening dan mencoba memikirkannya, 'Dimana biasanya Hinata menyimpan kue buatannya?' membatin cepat.

Membuka setiap rak di dekatnya, terutama rak atas tempat istrinya sering menyimpan makanan.

Satu persatu ia lihat, sedikit kaget melihat banyaknya toples yang ada di sana.

'Yang mana?!'

Harus di buka satu persatu lagi?! Bisa aneh kalau Sara melihatnya seperti ini. Masa kue sendiri lupa di taruh dimana?

"Sudah selesai Sensei, apalagi yang perlu kubantu?" gadis itu ternyata sudah selesai menyiapkan gelas.

Menunggu respon gurunya.

"A..ah, oke bisa kau bawa minuman itu ke ruang tamu dulu. Sensei ingin mengambil kuenya sebentar."

Mengerjap kecil, "Oke, nanti aku akan balik lagi Sensei-" sebelum melanjutkan perkataannya, Naruto memotong cepat.

"Tidak usah, Sensei bisa bawa sendiri kuenya. Kau lanjutkan saja belajarnya."

Membuat gadis merah itu seakan tidak rela, "A..aa, Oke Sensei." Dengan hati-hati mengambil nampan berisikan gelas dan minuman.

"….."

"…."

Meninggalkan Naruto sendiri di dapur.

"Dimana kuenya?!" sedikit panik, dan segera mencari-cari kuenya cepat.

.

.

.

.

.

Sara datang dengan membawa nampan berisikan gelas dan minuman. Hinata tidak melihat kedatangan Naruto di belakang gadis itu sedikit bingung.

"Mana Naruto-sensei?" bertanya tanpa sadar,

"Katanya masih mencari kue sebentar, dan kita di minta untuk belajar lagi~" dengan suara lesu, gadis merah itu segera duduk kembali di tempatnya.

Sedangkan sang Hyuuga-

'Mencari kue?' keningnya tertekuk, alisnya saling bertautan. Merasa ada yang aneh-

Jangan-jangan-

"….."

'Tidak, tidak, aku kan sudah memberitahu letak kuenya dimana tadi pagi. Pasti Naruto-kun ingat.' Menggeleng kecil, dan mencoba mengembalikan konsentrasinya.

Mungkin dia masih mencari, oh atau menyiapkan tempatnya? Bisa saja kan?

Sebentar saja suaminya pasti datang.

.

.

.

.


Flash Back :


Menyelesaikan acara mandinya, gadis indigo itu segera keluar dari sana dengan sebuah handuk bertengger di kepalanya. Salah satu tangan mengusap agar rambut panjangnya itu cepat kering. Kedua manik menatap jam dinding di kamarnya cepat.

Pukul delapan, dia harus cepat-cepat. Dengan pakaian yang sengaja ia gunakan dari kamar mandi, Hinata hanya perlu merapikan rambut dan berhias sebentar.

Tak lupa melirik ke arah suaminya yang masih tertidur lelap memeluk bantal guling bak anak kecil sedikit membuatnya mendengus geli.

'Ingatkan aku untuk memberitahunya nanti~' berujar pada dirinya sendiri.

OoOoOoOoOoOoOoO

Memerlukan waktu beberapa menit untuk merapikan semua perlengkapan dan dirinya. Memandang kaca sejenak, mengangguk kecil.

Sekarang dia bisa pulang ke rumah orang tuanya.

Bangkit dari tempat duduk, gadis itu segera melangkahkan kakinya mendekati sang suami. Mengguncang bahu Naruto pelan,

"Naruto-kun, bangun sebentar." memanggil laki-laki pirang itu.

Sang Uzumaki menggeliat malas, menguap untuk yang kesekian kalinya, enggan membuka kedua matanya, yang ada dia hanya mengerjap saja.

"Hoahm, ada apa Hinata?" bertanya pelan.

"Aku hanya ingin mengingatkan kalau kue untuk semua temanku sudah kusiapkan,"

Mengangguk entah mengerti atau tidak, yang pasti di bayangan Hinata laki-laki itu pasti paham. "Oke~"

"Aku sudah menyimpannya di jar berwarna biru, rak atas nomor tiga. Dan untuk minumannya sudah ada di kulkas."

"Iya~"

"…"

Menggeleng kecil, tangan Hinata terangkat mengelus rambut pirang suaminya, "Kau pasti lelah Naruto-kun, aku juga sudah memasang jam weker pukul Sembilan. Kalau mendengarnya, cepatlah bangun dan bersiap-siap, oke? Jangan sampai terlambat bangun." Sedikit memperingati dan di balas anggukan singkat sang empunya.

"Kalau begitu aku berangkat dulu, jangan lupa Naruto-kun~" menjauhkan tangannya dari puncak kepala Naruto, dan kembali menyelimuti tubuh suaminya. Beranjak dari posisinya, dengan hati-hati mengambil koper miliknya, dan barang lainnya.

Hah, setelah ini dia harus meminta Naruto membawa mobil untuk menjemputnya dari rumah nanti.

Melangkahkan kaki keluar dari ruangan, tak lupa menutup pintu, dan memastikan untuk sekali lagi kalau tidak ada yang tertinggal.


Flash Back Off


.

.

.

.

.

.

Konsentrasi Hinata buyar sekejap, mengingat bagaimana reaksi Naruto pagi itu saat ia memberitahu suaminya di mana letak kue yang di simpannya.

Sudah lima belas menit berlalu dan sang Uzumaki tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Astaga, jangan bilang kalau Naruto sama sekali tidak mendengar perkataannya tadi?!

Menepuk kening dalam hati, melirik ke arah teman-temannya yang mulai heran dan khawatir dengan Sensei mereka.

"Kenapa Sensei lama sekali? Apa dia kerepotan di dapur?" Sakura bertanya pada Sara. Gadis merah itu menggeleng tak tahu.

"Sensei bilang tadi untuk melanjutkan pelajaran, katanya dia bisa membawa kuenya sendiri." Menjawab cepat.

Semua gadis di sana menghela napas kompak, sedangkan ketiga laki-laki yang kini malah asyik menyesap minuman, dan bercakap-cakap.

Dan Hinata yang panik dalam hati-

'Apa Naruto lupa?! Kenapa dari tadi tidak muncul-muncul?!' bertanya-tanya dalam hati, melirik ke arah pintu ruang tamu terus menerus.

"….."

Tidak ada yang datang.

Panik memikirkan kondisi suaminya, tanpa ia sadari handphone yang sejak tadi berada di tasnya bergetar, membuat sang empunya mengernyit heran.

Siapa yang menelponnya?

Cepat-cepat mengeluarkan dan mengangkat panggilan itu.

Sebelum-

"…"

Kedua maniknya melihat jelas tulisan yang tertera di layar sana, tatapan datar keluar.


Call : Naruto-kun.


"…."

"….."

Astaga! Suaminya ini benar-benar lupa?!

Berdecak dalam hati, sedikit hati-hati dan melirik ke arah semua teman-temannya sebentar. Apa dia harus mengangkat panggilan ini?

"…."

Dengan ide yang tiba-tiba melintas cepat ke otaknya, gadis itu mendengus pelan. Sepertinya dia harus memakai cara ini.

Wajah cantik itu kini berpura-pura kaget, mengerjap singkat, dan menatap ke arah teman-temannya, dengan tubuh yang perlahan bangkit dari posisinya.

"A…aku keluar sebentar, ada yang menghubungiku." Berujar singkat, dan betapa senangnya saat melihat reaksi teman-temannya yang biasa saja.

"Oke, oh sekalian saja lihat kondisi Naruto-sensei Hinata." Sara memberitahunya.

Nice!

Dia punya alasan yang lain lagi.

"Baiklah," mengangguk paham, berjalan keluar, dan berpura-pura mengangkat panggilan tersebut. Padahal sengaja ia matikan.

Sekarang-

Sepertinya dia harus memberitahu suaminya.

.

.

.

.

.

.

Melangkahkan kaki, masih tetap waspada kalau-kalau ada yang mengikutinya.

'Aman~' mendesah lega, tanpa menunggu lama langsung saja Hinata berjalan cepat menuju dapur. Beruntung jarak dapur dan ruang tamu sedikit jauh jadi sepertinya suaranya tidak akan terdengar sampai ke sana.

Mendengar gumaman khawatir Naruto di dalam dapur membuatnya berulang kali menarik napas.

Melongokan wajahnya dari pintu dapur, memanggil pelan sosok laki-laki pirang yang kini terlihat membuka semua jar makanan yang ada di rak atas.

Hinata sweatdrop, "Naruto-kun, kenapa kau membuka semua jar makanannya?" bertanya dan menghampiri sosok tersebut.

Sedangkan sang empunya yang reflek melihatnya, bagaikan anak kecil yang tengah kesusahan. "Hinata, kukira kau marah karena tidak mau mengangkat panggilanku~" merengek dan langsung saja memeluk tubuh istrinya.

"Aku tebak Naruto-kun, pasti lupa dimana tempat aku menyimpan jar untuk kue-kuenya kan?" bertanya sekali lagi.

Dan mendapat anggukan cepat dari Naruto, "Iya, huee. Aku sudah bongkar jar di lemari yang pertama dan kedua tapi tidak ada." masih memeluk Hinata,

Oke, sikap keren Naruto pada teman-temannya tadi langsung hancur begitu saja. Yang ia lihat sekarang hanya sosok laki-laki bak anak kecil yang merengek manja padanya.

"Hh, kau sudah memeriksa rak ketiga?"

"Belum."

Menepuk keningnya sendiri, Hinata segera mendorong tubuh kekar suaminya dari pelukan. "Aku menyimpan jar kuenya di rak ketiga, Naruto-kun." berujar cepat, menggapai rak ketiga yang ia sebut.

Membuka pintu rak itu, dan mengambil jar di sana dengan sigap.

"Ini, sekarang Naruto-kun bawa ini ke ruang tamu. Teman-temanku sudah menunggu, biar aku saja yang merapikan semuanya di sini." Memberikan jar berisikan kue pada laki-laki pirang itu, dan hendak membersihkan kekacauan yang di buat Naruto dengan cepat.

Memandang sosok istrinya yang kini sudah bersiap-siap merapikan semua jar yang terbuka akibat ulahnya. Hah, untuk yang kesekian kalinya Naruto merasa beruntung karena bisa memiliki istri cantik dan baik hati seperti Hinata.

Tersenyum kecil memandang gadis indigo itu, sebuah seringai tipis muncul tiba-tiba di wajahnya.

Tidak melihat jelas wajah Hinata tadi pagi membuat Naruto rindu pada istrinya,

"Nee Hinata~" memanggil sang empunya, beriringan dengan jar yang sengaja ia taruh kembali di atas meja,

"Ya?" menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kegiatannya.

Memudahkan Naruto untuk semakin menggoda istrinya, tanpa basa-basi laki-laki pirang itu dengan lembut memeluk tubuh Hinata sekali lagi dari belakang.

Membuat Hinata terpekik kecil, kaget sekaligus panik.

"Na..Naruto-kun, a..apa yang kau lakukan?! Jangan memelukku sekarang!" dengan nada yang gugup, Naruto tahu kalau gadis ini malu.

"Tidak apa-apa kan kalau aku memelukmu sebentar~" masih dengan seringai kecilnya, semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Hinata.

Wajah yang sengaja ia dekatkan, membuatnya bisa menghirup jelas aroma Lavender gadis cantik di hadapannya.

"Ta..tapi nanti teman-teman melihat!" masih mengelak dan mencoba melepaskan pelukan Naruto. Hinata benar-benar di buat panik. Wajahnya sudah memerah, dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

"Tidak akan, aku sudah meminta Sara untuk melanjutkan pelajaran kan? Jadi mereka tidak mungkin kemari untuk sepuluh menit kedepan~" sebuah kode yang di berikan Naruto, sukses membuat Hinata merinding.

"E..eh?! A..apa maksudnya sepuluh menit ke depan?! Hya~" sebelum menyelesaikan kalimatnya, kembali terpekik kecil merasakan Naruto yang mengecup leher serta pipinya bergantian.

"Kau tahu maksudnya Hinata,"

Berlanjut dengan kedua tangan kekar Naruto yang semakin mengeratkan pelukan, laki-laki pirang itu sukses mencium dan terkadang menjilat lembut leher Hinata. Gadis indigo semakin kewalahan.

"Na..Naruto-kun-ungh ja..jangan di sana-hyaa~" napas terengah, wajah memerah, masih memberontak sebelum Naruto kembali melakukan sesuatu.

Sang Uzumaki tanpa aba-aba membalikkan tubuhnya, membuat ia dengan jelas melihat bagaimana ekspresi suaminya. Menyeringai lebar dan tidak perlu menunggu lama-

"Ini hukuman karena kau sudah membuatku cemburu tadi~" dengan nada sing a song, Naruto langsung melumat bibir istrinya, Hinata tidak siap dan reflek membuka mulut saat laki-laki itu menggigit pelan bibirnya.

"Na..Naruto-kun, ja..jangan-ungh~" melenguh, tenaganya seolah habis untuk mendorong tubuh kekar itu menjauh darinya.

Naruto melepas ciumannya singkat, menjulurkan lidah memandang wajah Hinata, "Kau benar-benar membuatku marah Hinata~"

"Ta..tapi kan-"

Sang Uzumaki kembali mengecup bibirnya, membiarkan saliva mengalir pelan dari ujung bibir sang gadis indigo.

.

.

.

.

Berniat untuk melanjutkan lebih lama kegiatan mereka, perkiraan Naruto tentang sepuluh menit kedepan itu langsung hancur seketika saat mendengar suara keempat muridnya memanggil namanya.

Hinata terkesiap, reflek mendorong dada Naruto, melepaskan ciuman mereka.

"Ah! Teman-teman datang, kan sudah kubilang jangan melakukannya Naruto-kun!" berbisik kesal, mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arah dapur.

Cepat-cepat merapikan baju, manghapus saliva yang mengalir di bibir, wajah memerah dan rambut yang sedikit berantakan. Begitu juga Naruto, meski pandangan enggan masih ada, laki-laki pirang itu segera merapikan diri setelah melihat deathglare istrinya.

Hinata kembali melakukan kegiatannya, merapikan jar yang sempat terbengkalai tadi, dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

Sampai-

"Naruto-sensei?" saat keempat temannya dengan kompak melongokan wajah dari balik pintu dapur, tentu saja kaget melihat keberadaannya di sana.

"Hinata juga di sini ternyata,"

"Kenapa Sensei lama sekali mengambil kuenya?" semua bertanya-tanya.

Naruto sedikit panik, tertawa kikuk, dan menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, "A..ahaha, tadi Sensei sepertinya lupa di mana menyimpan kuenya, jadi harus mencari-cari sebentar."

Sakura dan ketiga temannya segera mendekati guru mereka, "Sekarang sudah ketemu kan Sensei? Apa perlu kami bantu untuk merapikan semuanya juga?" kompak menyumbangkan bantuan.

Hinata langsung menyela, "Biar aku saja yang merapikannya, kalian belajar saja lagi, ya kan Sensei?" memberi kode pada suaminya.

Naruto mengerjap pelan, "O..oh, iya kalian kembali saja dulu ke ruang tamu."

Shion menatap laki-laki pirang itu lekat, "Kalau begitu Sensei juga, ayo~" mengajak sang Uzumaki untuk ikut.

"E..eh? Ta..tapi Sensei harus-" berniat menolak, inginnya sih diam di sini lebih lama. Tapi kalimatnya langsung terpotong.

"Tidak apa-apa Sensei, aku bisa merapikan ini semua. Lagipula kalau tidak ada yang mau bertanya padaku lagi, menghabiskan waktu di sini tidak masalah~" mengeluarkan pernyataan mutlak.

Sukses membuat Naruto bungkam, 'Hh,' menghela napas panjang dalam hati.

"Baiklah, arigatou Hinata atas bantuannya~" dengan nada enggan dan di tanggapi senyuman singkat gadis itu.

"Ayo Sensei, biar aku yang membawakan jar makanannya." Sara menawarkan diri lagi, dan untuk kesekian kalinya keempat gadis itu saling berebutan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah beberapa jam Naruto mengajari murid-muridnya, hari yang semakin sore membuat laki-laki itu harus menghentikan kegiatan belajarnya sekarang.

"Sudah pukul lima, kita sudahi saja untuk hari ini ya." Memandang ke arah murid-muridnya yang mengangguk puas. Senyum lebar terpampang di wajah mereka.

"Oke, Sensei!" berteriak kompak, semangat mereka terisi kembali karena bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama guru tampan mereka.

Sementara untuk ketiga pemuda di sana, mereka menghela napas panjang, lega dan malas, Shikamaru apalagi. Pemuda nanas itu sudah terlelap tidur dan kali ini di bangunkan paksa oleh Kiba serta Sasuke.

Hinata juga ikut lega, dalam hati berteriak banzai. Karena dia lelah batin dan fisik hari ini. Sifat cemburu Naruto dan dirinya entah kenapa keluar dengan ganas.

Menyesap minumannya yang masih tersisa,

Sebelum mendengar perkataan Ino yang sedikit membuatnya kaget.

"Ngomong-ngomong kue yang Sensei berikan tadi enak sekali lho, Sensei buat sendiri atau beli?" semua gadis di sana mengangguk setuju.

Hinata hampir tersedak, Naruto mengerjap kaget.

"A..ah! I..itu Sensei beli..ya Sensei membelinya!" menjawab cepat.

"Hee dimana? Aku ingin beli juga!" Sakura ikut bertanya.

"I..itu Sensei kurang tahu, karena yang membelikannya bukan Sensei." Tertawa kikuk.

Perkataan Naruto layaknya ranjau, sukses membuat keempat gadis di sana memandang curiga, "Siapa yang membelinya Sensei?" bertanya kompak.

Hinata melihat wajah panik suaminya, bahkan tak jarang melirik sekilas ke arahnya. Dia harus membantu Naruto-

"Oh, apa mungkin ibu Sensei yang membelikannya? Sebagai hadiah mungkin?" dia pura-pura bertanya.

"…."

Hinata kedip-kedip sebentar-

Naruto paham-

"Ah! Iya..ahaha kuenya ibu Sensei yang membelikan. Kau hebat Hinata bisa tahu~"

Tersenyum sopan, "Aku hanya menebak, Sensei."

Ber-oh ria, mereka mengangguk paham. "Kami kira siapa~" mendesah lega, giliran Naruto yang bingung.

"Memangnya kenapa?" bertanya polos.

Keempat muridnya gugup bersamaan, "Ahahaha! Ti..tidak ada apa-apa kok, Sensei. Kami hanya penasaran saja kok, ahaha, iya kan teman-teman?" Sara melirik ke arah temannya.

"I..iya! Ahaha~"

Hinata tepuk kening dalam hati.

'Syukurlah mereka tidak menanyakan lebih jauh~'

Dan Hinata lebih bersyukur lagi kalau kedua jenius Nara dan Uchiha karena terlalu sibuk cemburu dengan gadis yang mereka sukai, jadi tidak mencurigai keanehan di sini lebih dalam.

Hh, Kami-sama masih cinta padanya~

.

.

.

.

.

.

"Kalau begitu kami pergi dulu Sensei, Arigatou karena sudah mau menyempatkan waktu untuk mengajari kami~" keempat gadis itu menunduk singkat, begitu juga Hinata dan ketiga teman laki-lakinya.

"Tidak apa-apa Sensei malah senang kalau punya murid yang mau belajar keras seperti kalian~" berujar dengan senyuman kerennya.

Sakura serta Ino mengadahkan wajah, menatap sebentar guru mereka, salah satu dari keduanya bertanya singkat, "Ka..kalau nanti kami ada yang tidak mengerti lagi, apa kami boleh ke sini Sensei?"

Naruto terdiam, "….."

Sebelum sempat menjawab-

"Hoahm, ayo pulang Ino aku sudah mengantuk." Shikamaru mengamit lengan Ino dan menarik pelan gadis pirang itu, mengidahkan teriakan kecil sang Yamanaka.

Begitu juga Sasuke-

"Hn, pulang Sakura." Dengan nada mutlak, menarik tangan sang Haruno membuat sang empunya tersenyum kikuk ke arah Naruto.

"Kami pulang dulu, Sensei!" berpamitan sekali lagi, sebelum akhirnya keempat orang itu menghilang dari sana, beriringan dengan Shion, Sara dan Kiba yang menyusul teman-teman mereka.

"Kami juga, Sensei!" berujar penuh semangat, dan melambai singkat ke arah guru mereka.

Meninggalkan Hinata di sana sendiri, gadis itu juga hendak beranjak pergi sebelum tangan Naruto menariknya pelan.

Membuat sang empunya berbalik menatap suaminya.

"Kau tidak usah pulang saja Hinata, barang-barangmu bisa di ambil besok kan?"

Menggeleng kecil, "Kalau aku tidak ikut pulang mereka bisa curiga Naruto-kun,"

Tidak bisa menolak permintaan istrinya, mendesah panjang sebelum akhirnya mengangguk paham, "Hh, baik-baik tapi ingat jam delapan nanti akan kujemput, hari ini biar aku saja yang memasak untuk makan malamnya~" dengan senyuman lebar,

Sukses membuat Hinata yang mendengarnya membulatkan manik, "Naruto-kun yang masak?" bertanya sekali lagi.

"Ya, hari special untuk istriku yang sudah mau susah payah menyiapkan segalanya hari ini~"

Tarik garis bibir gadis itu lakukan, jarang-jarang kalau ia merasakan makanan buatan Naruto. Karena pada dasarnya sang Uzumaki sedikit anti dengan yang namanya memasak. Tapi sekarang-

"Oke, aku tunggu Naruto-kun!" tersenyum kecil, dan segera mengecup pipi tan suaminya.

"Hati-hati di jalan,"

"Um! Aku pulang dulu sebentar ya."

Merasakan usapan lembut di puncak kepalanya, "Ha'I Ha'I, cepatlah pulang supaya aku bisa menjemputmu~"

"Ha'I, jaa nee Naruto-kun." melangkahkan kaki menjauh dari suaminya, melambai singkat sebelum akhirnya gadis itu ikut menghilang dari balik dinding pagar.

"….."

Membiarkan Naruto sendiri di sana-

Mendengus geli, menyaksikan senyuman lebar yang di perlihatkan istrinya.

Yah, untung saja tadi tidak ada yang tahu tentang rahasia mereka.

"…."

Dan untuk kali ini, sepertinya Naruto harus bisa menolak permintaan murid-muridnya tadi. Dia tidak bisa terus menerus meminta Hinata untuk pergi ke rumah orang tuanya kan?

Selain itu-

'Hah, cepatlah jam delapan~'

Naruto tidak bisa berlama-lama jauh dari istrinya, bangun pagi tanpa Hinata itu benar-benar membuatnya tidak bisa mengatur diri sendiri seperti biasanya.


THE END~


A/N :


Yap, sesuai janji Mushi apdet lagi :3 huaaa sorry Mushi buat adegan romensnya sampai segini aja wkwk :v entah napa suka aja kalau NaruHina diem-diem nyembunyiin hubungan mereka O/O

Dan buat yang nanya kenapa fic ini di buat 2 chap, chapter ini jumlah kata 5K dan kalau di gabung jadi 7K lebih dan Mushi enggak suka banyak-banyak gitu wordnya, wkwk :3 soo terima aja yaa yang penting sekarang udah kelar kok fic ini.

Karena chap ini sudah kelar, jadi Mushi ga bakal buat lanjutannya lagi :3 biarlah rahasia ini jadi milik mereka sendiri. Mau lanjutin fic yang lain dulu :v jadi tidak tahu kalau Mushi bakal buat atau enggak gimana kejadiannya Naruto bisa nikah sama Hinata.

Yah, kalian bayangkan saja sendiri, sesuai deskripsi yang sudah mushi kasi tahu di fic Our Secret #tampar# muahaha :v


Fic ini tidak ada Mushi edit jadi mungkin akan ada banyak typo bertebaran :v


Arigatou atas respon kalian yang super sekali! XD Mushi harap cerita ini sesuai dengan keinginan kalian :3


Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~